Kenapa Ngeblog? Setiap Jiwa Butuh Kebebasan

Belum lama ini saya dan anak-anak jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Kami memasuki salah satu outlet yang menyediakan perkakas serba ada, termasuk peralatan tulis. Cukup lama langkah kami terhenti di sana. Anak-anak sibuk melihat-lihat aneka hiasan dinding yang cantik-cantik. Saya sendiri tengah berdiri memandang jejeran diary yang sampulnya lucu, unik, dan sedap sekali dipandang mata.

Dulu saya nggak pernah sempat mempunyai diary. Duh, rasa sayang deh kalau uang jajan dipakai untuk membeli diary. Kalau ditanya kepengen atau nggak, pasti jawabannya iya. Pernah sih sekali-kalinya punya tapi isinya malah biodata teman semasa SD yang diakhiri dengan pantun. Hampir semua teman menuliskan pantun yang sama. Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang boleh kita berjumpa lagi. Ada yang begini juga?

Seiring berjalannya waktu, saya sudah melupakan tentang diary. Tapi saya jadi senang bercerita juga. Cerita tentang masa kecil, masa sekolah, pertama kali bekerja, pertama kali gajian, wah … banyak pokoknya. Semakin bertambahnya pengalaman hidup, semakin banuak juga yang kepengen saya ceritakan ke teman-teman.

Tapi mengingat liku-liku kehidupan yang sedikit berbeda, saya mulai menyaring nih urusan doyan berceritanya. Ada orang-orang yang saya percaya untuk tahu cerita itu tapi kelihatannya mereka nggak tertarik. Ada juga orang yang ingin tahu tapi sayanya yang nggak percaya. Kalau saya saya diam saja, jadinya nggak asyik. Di mana dong saya melepaskan kebutuhan mengucapkan 20 ribu kata yang lazim banget dilakukan setiap perempuan?

Tahun 2018 ini bisa dibilang tahunnya saya mulai merenovasi rumah di dunia maya. Rumah di dunia nyata belum perlu direnovasi memang saya belum punya, hahaha …

Apa sih rumah di dunia maya itu? Apalagi kalau bukan blog pribadi? Saya mau ada tempat yang saya bisa banget merasakan pulang. Bebas mau mengatur interiornya, perabotannya, dan harapannya banyak tamu yang datang berkunjung agar rumah tersebut penuh berkah, senantiasa diluaskan rezekinya.

Blog pribadi ini sendiri sudah saya miliki sejak lebih dari lima tahun lalu. Pesan nama domain pada seorang teman dan dia urus semuanya. Mulanya saya nggak paham kenapa harus ngeblog. Nggak ngerti bagaimana asyiknya. Buat saya kala itu, menulis bukan kebutuhan. Sesukanya saya, semaunya saya. Bahkan kalau hari ini saya membuka kembali tulisan-tulisan yang lalu, beuh malu sendiri. Kok dulu saya bisa menulis pakai gaya norak begitu, ya?

Tapi itulah hidup. Selalu ada perjalanan yang harus dilalui termasuk menghidupkan kembali blog ini. Menjadi suatu kebahagiaannya tersendiri saat pulang, bebas bereksplorasi, bebas bercerita tanpa saya merasakan pegal di lidah.

Nggak kebayang deh kalau seluruh cerita yang pernah tertuang di dalam tulisan, saya ceritakan ke teman-teman secara verbal. Whoaaa … Bakal habis puluhan jam dan nggak kebayang capeknya.

Ada satu kepuasan tersendiri saat berhasil menyelesaikan satu tulisan di blog. Senang bisa meluapkan perasaan, pemikiran, maupun imajinasi. Beban pikiran pun bisa terangkat barang seons dua ons. Nggak usah banyak-banyak, khawatir berat badan saya ikutan terangkat hahaha …

Dulu saya ngeblog untuk galau-galauan, sekarang saya ngeblog untuk meraih kebebasan. Tentunya kebebasan yang dapat dipertanggungjawabkan, ya. Sebagai rumah maya, tulisan di dalam blog ini akan punya jejak abadi. Saya mau ekspresi kebebasan ini akan menjadi salah satu peninggalan bagi anak-anak saat saya sudah tiada. Meskipun saya suka bercerita kepada mereka, tapi ada tulisan-tulisan yang belum pernah saya ceritakan karena pertimbangan usia.

Maka, di usia blog yang sudah memasuki masa Taman Kanak-Kana,, saya nggak mau lagi menyia-nyiakan rumah maya ini. Rumah ini harus senantiasa berisi kebahagiaan, komitmen, dan keinginan menghibur dan menginspirasi setiap tamu yang berkunjung.

My blog, my virtual home, my paradise.

#Day1

#BPN30DayBlogChallenge2018

#BloggerPerempuan

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

2 thoughts on “Kenapa Ngeblog? Setiap Jiwa Butuh Kebebasan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.