Writing by Experiences; Tahukah Kamu Ini Nikmat Banget?

Hidup saya itu terkadang terlalu datar. Tahu kenapa? Sebab saya terlalu sering mengalokasikan perasaan pada sesuatu secukupnya saja. Ups, ini pagi-pagi sudah membahas urusan perasaan, ya? Namanya juga perempuan yang cara berpikirnya memang dominan mengandalkan perasaan dibandingkan logika. Para perempuan, cung!

Source: Pexels

Tapi betul lho, saya suka cokelat. Apalagi mengetik tulisan sambil mengulum cokelat. Beuhh … Rasanya jari bisa terus mengetik tanpa mikir. Tapi ya sudah, suka saja. Nggak punya merk cokelat yang favorit banget. Apalagi kalau ada sponsornya, yakz. Tulisan ini nggak mengundang proposal permintaan sponsor cokelat ya, cuma mengandung. Unsur tersirat biasanya sedikit menaikkan gengsi dibandingkan yang tersurat, ya kan? #IbuIbuNgeles

Saya suka musik. Tapi saya nggak punya penyanyi atau band favorit atau jenis musik yang disuka. Enak di telinga, ya sudah, suka. Beberapa tahun ke belakang saya malah kudet banget urusan musik. Ada yang didengarkan, nggak ada yang sudah. Pasrah.com

Source: Pexels

Saya suka membaca. Tapi kalau ditanya penulis favorit siapa dan judul buku favoritnya apa, saya nggak bisa jawab. Buat saya semuanya punya ciri khas masing-masing. Apalagi punya pengalaman menulis meskipun masih seuprit membuat saya tahu banget bagaimana lika-liku menciptakan ide ke dalam tulisan. Dikira gampang? Kalau menulis itu gampang, mungkin semua mahasiswa yang tengah mengambil mata kuliah skripsi nggak akan lama-lama membawa skripsinya ke meja sidang.

Begitu juga saat menulis. Saya bisa menikmati kegiatan menulis fiksi maupun non fiksi. Dalam non fiksi, saya membebaskan hati juga. Mau menulis review, reportase, artikel, selama saya memahami pasti saya bisa menuliskannya dari hati. Saat menulis fiksi pun begitu. Bisa menuangkan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, ke dalam suatu cerita, pasti rasa tulisannya juga bakal lezat-lezat saja. Intinya sih saya nggak suka dipaksa saat menulis.

Ini bukan soal sudah mendekati deadline lalu saya nggak mau menulis kalau mood-nya nggak keluar, ya. Bukan itu.  Tapi ini soal nyambung nggaknya isi kepala saya dengan konten yang dimaksud. Jadi saya nggak akan pernah menuliskan sesuatu yang saya nggak paham demi apapun itu. Dijamin hambar rasanya.

Source: Pexels

Sebagai orang Sensing – yang tentunya amat sangat mengandalkan panca indera – saya akan merasa sangat nyaman manakala menuliskan cerita yang berdasarkan pengalaman. Ya dong, melihat sendiri, mendengar sendiri, merasakan sendiri, pastinya tulisannya itu betul-betul akan mengalir dari hati. Soal kualitas – at least dari sudut pandang pribadi – saya jadi lebih percaya diri.

Memperoleh kesempatan untuk hadir di suatu event, jadi berkah luar biasa buat saya. Bisa mendengarkan materi dengan melihat pembicaranya, mendengarkan langsung, termasuk memerhatikan bahasa tubuhnya, itu membantu saya banget untuk merekam isi dari suatu event. Lho sampai ke bahasa tubuh segala diperhatikan? Memang begitu.

Source: Pexels

Biasanya itu memudahkan saya mengingat, misalnya saat pembicara A membahas soal ini atau itu, bibirnya sambil tersenyum, tangannya terangkat, kaki kanannya maju ke depan. Nah, begitu deh cara ingatan saya merekam suatu cerita dan peristiwa. Terdengar ajaib nggak, sih? Atau ada yang seperti itu juga? Kalau ternyata saya sendirian berarti saya masuk kategori manusia langka, makanya harus dilestarikan, bukan disakiti #Oups.

Merasa sangat nyaman menuliskan cerita berdasarkan pengalaman, membuat saya nggak mau melewatkan sisi saya sebagai perempuan dan ibu. Pastinya saya punya kisah sendiri sebagai perempuan, baik diri sendiri maupun tentang saya bareng teman-teman. Selalu ada yang menarik dari perempuan untuk diceritakan. Tentang bagaimana kami berpikir, berteman, sampai berkreasi dalam menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri.

***

Sebagai ibu apalagi, rasanya saya maunya bercerita terus tentang hubungan orangtua dan anak. Tentang bagaimana mereka tumbuh, belajar, dan kegembiraan mereka di sekolah. Kalau diperhatikan, saya nggak pernah membahas masa-masa bayinya anak-anak. Kenapa? Sebab saya nyaris nggak punya pengalaman penuh bersama mereka. Kalau ditanya tahapan perkembangan mereka dulu pun saya nggak ingat. Duh, ibu macam apa ini? Iya sih, dulu saya sibuk bekerja, berangkat gelap dan pulang gelap banget. Berangkat dengan segambreng bekal makanan dan pulang dengan enam botol ukuran 200 ml terisi penuh buat oleh-oleh baby di rumah.

Ketika saya merasa nggak punya pengalaman cukup, bahkan terhadap anak sendiri pun saya nggak akan berani menuliskan. Feel-nya itu lho, nggak ngena!

Maka, saat ada yang bertanya tema tulisan apa yang menjadi favorit saya, well … saya sudah punya jawabannya, sih. Saya akan dengan senang hati menuliskan tema apapun yang saya pernah punya pengalaman di dalamnya. Sesederhana itu? Yes, nggak usah bermewah-mewahan karena Marc Zuckerberg pun senantiasa tampil sederhana. Eh, lho?

Kalau kamu sendiri, bagaimana? Jangan nyontek jawaban saya, ya … Hihihi …

#Day2

#BPN30DayBlogChallenge2018

#BloggerPerempuan

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

18 thoughts on “Writing by Experiences; Tahukah Kamu Ini Nikmat Banget?”

  1. Kok sama mbak. Karena suka aja gt ya sama lagunya, bukunya, tp nggak pernah halal siapa yang nyanyi atau siapa yg bikin buku. Hehe

    Salam kenal mbak,
    Ghina

  2. Hhhh … tenang mbak, yang jaga killer. Gak berani nyontek saya.
    Btw kalo saya karena pemula, masih campur lah niche nya.
    Lahh nulis aja, ya sesempatnya.
    Tapi buat nulis bagi saya yang penting … heppy, hihihi.

  3. Wah mba sensing ya . Kalau saya feeling ekstrovert hahaha. Bener bangettt mba. Mending kita menulia sesuatu yang berasal dari hati agar tulisannya nggak hambar dan ada nyawa dalam setiap tulisan kita. Kalau kita nulisnya hambar apalagi bagi orang lain yang bacanya. Iya, kan. Jadi mendingan nulis sesuatu yang nyaman di hati kita

  4. Menulis sesuatu berdasarkan pengalaman memang akan lebih memberi nyawa pada tulisan. Tulisan menjadi lebih hidup dan lebih enak untuk dibaca…*please, saya gak nyontek, bu guru….

  5. Nah, ini. Betul, Mbak. Kalo nulis dg Tema yg dekat dengan kita itu kok rasanya sreg ya. Menjalani sendiri kejadiannya apalagi. So, tema favorit di blog saya juga yg saya kuasai, banyak… alhasil gado2 deh 🙂 Yang penting tetap bermanfaat ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.