The Power of Punya Blog dengan Nama Sendiri

Meskipun sejak dulu saya nggak pernah terpikir untuk mempunyai blog, tapi saat ditawari memiliki blog saya nggak terpikir menggunakan nama blog selain nama sendiri. Tahun-tahun sebelumnya, kepala saya ini sudah dipenuhi masukan untuk punya blog yang isinya mau jualan. Ini hasil ketemu dan masuk kelasnya Mas Ali Akbar yang kala itu membranding dirinya sebagai Pakar SEO. Dulu beliau itu cerita punya banyak bisnis yang masing-masing punya blog sendiri dengan nama sesuai bisnisnya, misalnya jualanminyak.com, jualdaunsirsak.com, jualberaskarungan.com. Kurang lebih seperti itu, deh.

Source: Pixabay

Meksipun inginnya menjadikan blog sebagai sumber penghasilan tapi di masa itu saya sama sekali nggak berniat ikut-ikutan pasang nama sejenis. Buat saya hard selling banget dan itu bukan saya. Menurut saya blog itu selayaknya bayi yang mestinya disematkan nama sendiri dengan arti yang bagus dan indah.

Dalam tahapan ini mungkin pikiran saya sudah sedikit lebih waras dibandingkan jaman kuliah dulu yang alamat emailnya pakai nama “nonekece@blablabladotcom” itu. Sok banget menyembunyikan identitas entah untuk alasan apa. Ini masa-masa masih khilaf suka berjam-jam menghabiskan waktu di warung internet sambil cekikikan di Yahoo Messenger. Ya, mungkin karena tahu ya, siapapun di seberang sana yang diajak bicara juga tengah menyembunyikan identitasnya. Biar satu sama! Impas!

Dan, akhirnya sejak lebih dari lima tahun lalu, saya bisa memiliki blog dengan nama sendiri. Kalau ini sudah nggak galau lagi, saya sudah tahu alasan menginginkan menggunakannya:

Personal Branding

Blog saya itu isinya saya banget. Isinya berdasarkan pengalaman dan pemikiran saya. Gaya bahasanya saya banget. Koleksi fotonya sampai ke pose dan ekspresinya juga saya banget. Bisa dibilang, keseharian saya ya seperti di blog itu.

Di dalam blog itu saya menceritakan saya sebagai diri sendiri, ibu, dan sahabat. Juga menyalurkan pendapat dan pemikiran saya tentang sesuatu. Asli dari kepala dan pengalaman sendiri.

Bersama sahabat …

Jadi saat orang mengetik nama saya di internet, saya ingin orang langsung menemukan saya melalui blog ini. What the blog says, is what I say. Sederhana saja, sih.

Mudah Diingat

Saya ini seorang pengingat yang baik. Mudah sekali buat saya mengingat apa-apa yang pernah saya tuliskan. Mengisikan formulir berisi biodata orang lain, saya bisa hapal identitas orang itu sampai berhari-hari kemudian.

Membaca berulangkali juga memudahkan saya mengingat isi dari sebuah buku. Yah, yang namanya orang Sensing memang begitu, sih. Remembering by repetition.

Satu lagi, saya juga lihai mengingat hal-hal istimewa dari sesuatu atau seseorang yang buat saya istimewa. Kalau ini, saya mengandalkan panca indera banget. Misalnya, mendengarkan orang itu berbicara sambi memerhatikan ekspresi dan bahasa tubuhnya. Ini efektif banget untuk mengingat segala sesuatu tentang orang ini. Salah satu alasan yang menjadikan saya cukup kesulitan belajar dari mentor melalui kelas online. Saya nggak mendengar suaranya dan nggak melihat orangnya.

Nggak kehitung botol yang sering tertinggal di mana-mana.

Tapi adakalanya saya ini sembrono banget. Lupa meletakkan barang-barang seperti jarum pentul yang ternyata sudah menempel di kerudung, pulpen yang daritadi sudah dipegang di tangan, atau kacamata yang sudah nangkring di atas kepala. .

Jadi, saya mau membantu diri saya juga dengan menggunakan nama blog yang mudah diingat. Apalagi dulu saya jarang sekali mengakses blog itu. Sesukanya, semaunya, belum menjadikan menulis sebagai suatu kebutuhan. Bagaimana coba kalau saya lupa? Itu belum ditambah dengan kemungkinan lupa password dan username-nya.

Nah, salah satu caranya ya menggunakan blog dengan nama sendiri. Nggak mungkin kan, sama nama sendiri lupa? Ihiy …

Memudahkan Memperoleh Pekerjaan

Berhubung masih berstatus sebagai baby blogger yang tengah dalam masa belajar tengkurep, saya nggak paham apakah memiliki blog dengan status TLD dengan nama sendiri akan memudahkan dalam memperoleh pekerjaan atau nggak. Tapi buat saya, menggunakan nama sendiri artinya kita tengah berkomitmen terbuka kepada siapapun yang membacanya. Ini lho, diri kita yang sebenarnya. Nggak ada yang ditutupi, nggak ada yang disembunyikan.

Source: Pixabay

Ibaratnya orang yang tengah menjalani sesi wawancara kerja, saya memberikan informasi sesuai dengan identitas dan apa yang saya cantumkan di dalam CV.

***

Well, saya sangat puas bisa memiliki blog dengan nama sendiri. Wah, bisa panik saya kalau blognya tiba-tiba susah diakses. Mau protes ke pihak yang menyewakan hosting juga segan. Kenapa? Soalnya di usia blog yang ibarat manusia sudah masanya masuk Taman Kanak-Kanak ini, saya nggak pernah membayar apapun yang seharusnya blogger bayar untuk memperpanjang kepemilikan nama domain sekaligus sewa hostingnya. Jadi jangan pernah tanya saya soal harga karena saya nggak tahu, hahaha …

Eh kok bisa gratis? Anggap saja rezeki ibu-ibu manis dan baik hati, ya.

#Day3

#BPN30DayChallenge2018

#BloggerPerempuan

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

5 thoughts on “The Power of Punya Blog dengan Nama Sendiri”

  1. Langsung kepo di kalimat akhir: ga bayar domain dan hosting. Wuih 🙂
    Btw, Kalo saya pake nickname sebagai nama domain, tapi tagline blog tetap ada nama saya. Semua penjelasannya Ada Di postingan #BPNChallege Day 3 juga, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.