Mengenal Warna Lain Dunia Keuangan lewat Hadirnya Fintech dalam FintechXBlogger Day

"Pengen buka warteg, Mbak. Tapi nggak ada modal. Pinjem ke bank, susah. Saya kan cuma dagang gini."

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh seorang pedagang sayuran yang saya jumpai. Layaknya bisnis, dagangan nggak selalu habis terjual. Bagi pemilik usaha kelontong, mungkin lebih mudah. Barang-barang yang tersedia di toko biasanya lebih awet. Bahkan, banyak yang telah dicantumkan batas kadaluarsanya oleh produsen.

Sementara bagi pedagang sayuran, dagangan nggak habis hari ini, bisa berpotensi layu bahkan membusuk. Dulu semasa saya masih anak-anak, ada sekelompok pedagang sayuran yang di sore harinya bahu-membahu memasak sayuran hasil dagangan mereka yang tidak habis untuk dijual di warteg milik mereka. Langkah yang bagus. Dengan demikian, tidak ada barang dagangan yang terbuang karena layu atau busuk.

Tetapi saat itu, seperti yang tadi saya sebutkan, mereka berdagang dengan berkelompok karena berasal dari daerah yang sama di Jawa Tengah. Modal yang terkumpul sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk membuka warteg. Seingat saya, warteg tersebut pun baru berdiri bertahun-tahun setelah mereka berdagang.

Hal serupa belum dapat dilakukan oleh pedagang sayuran yang baru-baru ini saya temui. Maklum saja, mereka hanya berdagang kecil-kecilan di komplek perumahan. Jangan lupa, ada saja pembeli yang bayarnya nanti-nanti. Begitu ditagih, mangkir terus. Duh, kasihan …

Source: Pixabay

Itu baru satu contoh kasus. Di luar sana, masih ada orang-orang yang ingin membangun usaha tetapi nggak bisa memperoleh modal karena profesi mereka sebagai sopir transportasi online, asisten rumah tangga, tukang kebun, dan lain-lain yang nggak disertai dengan slip gaji seperti layaknya karyawan sebuah perusahaan. Siapapun tahu, mengajukan pinjaman ke bank, data pendukung yang diperlukan banyak sekali, salah satunya slip gaji.

Belum lagi kebutuhan mendadak karena ada anggota keluarga yang sakit dan segera membutuhkan pertolongan, keluarga di kampung halaman terkena musibah dan harus segera mudik, sampai kebutuhan pendidikan. 

Meminjam ke saudara, teman, atau tetangga, belum tentu ada. Meminjam ke bank juga sulit. Terjebak pinjaman kepada rentenir, seperti masuk ke mulut buaya. Lantas, apa dong solusinya?

Sambil mengecek pergerakan harga saham melalui aplikasi yang terinstall di ponsel, ada sebuah pesan masuk. Saya dimasukkan ke dalam group baru berjudul FintechXBlogger. Wah, asyik! Dapat kesempatan hadir di event FintechXBlogger yang diadakan oleh Ruphiah.

Bicara soal Fintech, rasanya dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah akrab banget dengan hal ini. Mungkin disadari, mungkin juga nggak. Sebagai pengguna setia transportasi online dan maunya bayar dengan aneka promo, pastinya saya lebih memilih mengisi saldo OVO (untuk Grab) dan Go-Pay (untuk GoJek). Ini bagian dari Fintech, kan?

Sebagai investor dan pengelola sebuah lembaga pelatihan analisa saham, pastinya saya akrab dengan software dari salah satu sekuritas yang saya unduh di ponsel. Ini biasa saya gunakan untuk memantau pergerakan harga saham termasuk bertransaksi. Bertahun lalu, proses jual beli saham dilakukan secara manual dan saya nggak bisa membayangkan repotnya seperti apa.

 

Seiring dengan kemajuan teknologi, transaksinya sudah dilakukan secara online melalui aplikasi. Tentunya jauh lebih praktis dan memudahkan. Informasi yang pernah saya baca, transaksi jual beli saham secara online, merupakan salah satu bagian dari bisnis di dalam Fintech.

Tapi saya penasaran banget sama Fintech yang kegiatannya memberikan pinjaman online. Apalagi kalau bukan karena maraknya kasus pinjaman online yang kabarnya sampai membuat peminjam diteror oleh pihak pemberi pinjaman.

Betul separah itu nggak, sih? 

Makanya, saat diundang untuk menghadir event FintechXBlogger Day ini, saya sangat antuasias. Berharap banget bisa memperoleh informasi yang valid dan obyektif mengenai pinjaman online. 

Apakah Fintech itu?

Secara sederhana, Fintech merupakan singkatan dari Financial Technology - sebuah inovasi di bidang jasa keuangan.

Kalau inovasi nggak mungkin merugikan dan menyesatkan dong, ya. Nah, kepala saya nih masih belum move on dari kasus peminjam pinjaman online yang katanya diteror habis-habisan itu.

Sudah deh, daripada bingung dan menduga-duga saja, baiknya saya hadir lalu duduk manis dan menyimak informasi dari sumber terpercaya.

BloggerXFintech Day diadakan pada hari Minggu, 24 November 2018 lalu di Intro Jazz Bistro & Cafe, di kawasan BSD, Tangerang Selatan. Acara ini diselenggarakan oleh Fintech Indonesia bekerjasama dengan Ruphiah dan Asosiafi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Delapan sponsor yang berasal dari perusahaan startup Fintech juga turut hadir memeriahkan acara. Pastinya dihadiri juga oleh teman-teman blogger dan kalangan umum.

Bapak Sunu Widyatmoko selaku Wakil Ketua AFPI sekaligus CEO Dompet Kilat hadir sebagai pembicara pertama. Disampaikan oleh beliau bahwa Fintech merupakan platform yang mempertemukan pihak yang mempunyai yang dengan pihak yang membutuhkan uang. 

Jadi Fintech yang menyediakan layanan pinjaman online, nggak sama dengan bank ya, teman-teman. Pinjaman online ini sendiri di dalam Fintech disebut dengan peer to peer (P2P) lending. Jangan khwatir, karena transaksinya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aih, tenang jadinya.

 

Bukan bank tapi memberikan pinjaman layaknya bank, kira-kira kehadiran Fintech dengan P2P lending ini akan menggeser kedudukan bank sebagai lembaga keuangan pemberi kredit nggak, ya? 

Banyak sekali kalangan masyarakat yang sudah begitu akrab dengan teknologi android tetapi nggak punya akses menuju pinjaman perbankan. Saat ini, siapa coba orang yang nggak mempunyai ponsel? Apalagi android dengan harga terjangkau banyak beredar di pasaran. Jadi, era sudah berubah. Dulu ponsel hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Sekarang, siapapun bisa punya. 

Jadi punya ponsel bukan berarti banyak uang. Apa sih maksudnya nggak punya akses ke pinjaman perbankan? Salah satunya karena nggak bekerja di sektor formal , kalau mengajukan pinjaman ke bank, sehingga nggak punya yang namanya slip gaji. Sudah tahu dong, ya, kalau mengajukan pinjaman ke bank, mereka selalu meminta slip gaji sebagai bukti bahwa calon debitur mempunyai penghasilan tetap. Ini penting untuk memperhitungkan kemampuan membayar. 

Belum lagi, ada banyak tahapan yang harus dilalui dalam mengajukan pinjaman ke bank. Persyaratan banyak dan proses panjang. Ada banyak dokumen hitam di atas putih yang harus dilampirkan sebagai bahan pertimbangan. Di P2P lending, proses mudah dan cepat. Bahkan bisa cair dalam hitungan hari atau bahkan jam. Wow!

Lalu, bagaimana Fintech bisa mempercayai calon debitur dengan dokumen stand dan waktu yang begitu cepat. Bagaimana dengan proses reviewnya? 

Jadi, di Fintech, perusahaan tetap melakukan screening data calon debitur tetapi melalui teknologi digital. Contohnya apa? Kalau teman-teman pernah mempunyai KTA, pihak bank biasanya mengirimkan sms atau email setiap bulan untuk mengingatkan tanggal jatuh temponya nasabah. Nah, rekam jejak digital inilah yang mereka gunakan. Hayo, pastikan kamu punya rekam jejak yang bagus, ya.

Kalau begitu, keberadaan Fintech dengan P2P lending ini nggak semenyeramkan yang diberitakan di luar sana, ya. Sebaliknya, Fintech malah menghadirkan solusi. Peminjam juga harus patuh pada ketentuan yang berlaku, tentunya. 

Fintech = Solusi

Disiplin membayar = Wajib

Di sesi kedua, ada Bapak Kuseryansayah selaku Ketua Harian Aftech. Beliau menyampaikan bahwa saat ini ada begitu banyak kebutuhan kredit yang diperlukan masyarakat tapi nggak bisa diatasi oleh perbankan. Kenapa, coba? Karena mereka nggak punya rekening tabungan. 

Kebutuhan kreditnya pun nggak tanggung-tanggung. Ada 1000T credit gap yang harus dicarikan jalan keluarnya. Untuk itulah, Fintech dengan P2P lending-nya hadir. 

Berdasarkan Peraturan OJK No. 77/POJK.01/2016, batasan maksimal pinjaman dana dengan P2P lending adalah Rp 2 Milyar. Meskipun banyak perusahaan startup yang sudah membatasi dengan memberikan pinjaman antara Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta saja. Ini memang menyasar kaum menengah ke bawah yang membuuthkan modal kecil namun cepat. 

Perwakilan dari perusahaan-perusahaan startup Fintech juga turut hadir dan memberikan penjelasan mengenai pelayanan jasa keuangan yang diberikan oleh mereka. 

Beragam pertanyaan disampaikan dan dijawab dengan sangat jelas dan lengkap baik oleh narasumber Bapak Sunu, Bapak Kuseryansyah, maupun teman-teman dari perusahaan sponsor. Legaaa, karena yang sebenarnya terjadi nggak sama dengan yang saya bayangkan. 

Turut hadir dalam acara itu perwakilan dari CashWagon, RupiahPlus, Aktivaku, UangMe, Cashcepat, Pinduit, KreditPro, dan Taralite, sekaligus sebagai sponsor acara BloggerXFintechDay ini. 

Buat teman-teman yang membutuhkan pinjaman sesuai ragam di atas, saya sarankan kontak langsung, deh. Supaya memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai kebutuhan keuanganmu yang sebenarnya. 

Masing-masing perusahaan startup sudah mempresentasikan layanan jasa keuangan mereka. Kita bebas memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Ada yang berfokus ke pinjaman tunai, pinjaman bisnis, take over KPR, sampai pinjaman pendidikan. Bunganya mulai dari 0%-1,5% dengan tenor pinjaman dibayar lumpsum paling cepat 10 hari – 14 hari kerja. 

Jadi, keberadaan Fintech sama sekali nggak memberikan warna buruk di dunia ekonomi. Malah membantu. Tinggal kita yang harus bijaksana menyikapi. Apabila sudah diberikan pinjaman, maka wajib disiplin membayar untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan. 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

8 Comments

  • Arie Rahma December 13, 2018 at 6:26 pm Reply

    Di tempat saya ga ada ojeg online, ga ada sebangsa kartu kredit atau apa. Mungkin karena di kampung kali yah. Nah, fintech ini juga ngga tau ada nggak nya.

    • melinase December 26, 2018 at 8:29 am Reply

      Selama masih bisa mengakses internet di android, Fintech pasti bisa dipakai. Nanti tergantung Fintechnya yang mana, menyesuaikan dengan kebutuhan nasabah.

  • Nyknote December 13, 2018 at 8:02 pm Reply

    Pernah dengar sih kalau pinjam di online gitu katanya bunganya tinggi dan kalau telat byr bakal dijejar-kejar. Owh rupanya mb Melina sdh menjawabnya. Thx mb

    • melinase December 26, 2018 at 8:31 am Reply

      Banyak Fintech yang nggak terdaftar di OJK jadi mereka sesuka hati ya sama nasabah. Dari teman-teman Fintech yang hadir kemarin, mereka menentukan bunga 0-1,5% dengan tenor pembayaran paling lama 14 hari. Bunga lebih besar baru akan dikenakan saat sudah melewati batas waktu. Sama-sama disiplin saja sebenarnya.

  • liesdiana yudiawati December 13, 2018 at 9:48 pm Reply

    Meminjam biasanya bunga atau bagi hasilnya besar. Kl g terpaksa bgt lbh baik dihindari

    • melinase December 26, 2018 at 8:32 am Reply

      Yes, alangkah lebih baiknya kalau bisa nggak meminjam ya, Mbak. Tapi saat benar-benar butuh, pastikan jangan sembarangan meminjam.

  • Nanik K December 14, 2018 at 4:12 am Reply

    Iya mbak, lagi ramai dibicarakan di Radio Suara Surabaya beberapa hari yg lalu, mengenai pinjaman online itu.
    Bunganya harian mbak, jika tdk bs menuaikan kewajiban membayar di mulai per tgl jatuh tempo.
    Bahkan semua orang yg ada di list ponselnya dihubungi oleh pihak penagih.
    Smg Fintech bukan spt itu, ya!

    • melinase December 26, 2018 at 8:33 am Reply

      Sebenarnya nggak seperti itu. Bunga harian akan dikenakan saat nasabah nggak bisa melunasi sesuai jangka waktu yang diberikan. Rata-rata pinjaman diberikan lumpsum dalam 10-14 hari. Bunganya malah ada yang 0%. Kembali ke nasabahnya juga, sudah disiplin atau belum.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.