Museum Affandi dan Tentang Cita-Cita

Halo teman-teman, sudah lama banget saya nggak menulis di blog ini. Kalau dikira-kira, sudah hampir satu bulan lamanya. Kangen? Tentu saja. Tapi kemarin-kemarin saya memang tengah fokus menikmati liburan bersama anak-anak. Setelah itu dihujani pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Baiklah, tugas utama diprioritaskan dong, ya.

Bagi teman-teman yang berstatus sebagai ibu rumah tangga, pastinya punya banyak waktu bersama anak-anak. Bagi ibu bekerja macam saya, waktu bersama anak-anak itu mahal banget harganya. Iya sih, sejak awal tahun 2018 saya memang memutuskan untuk bekerja dari rumah. Tapi bekerja ya, bukan memutuskan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Itu sebabnya, saat di rumah, saya tetap punya waktu-waktu tertentu yang anak-anak nggak boleh mengganggu. 

Sesekali menulis ditemani The Red Wolf, a Singaporean Chrysanthemum Tea.

Membahas piknik, sejak bergabung bersama banyak teman-teman di komunitas blogger, rasanya saya merasa ada yang kurang kalau datang ke suatu tempat tapi pulang dengan tangan hampa alias nggak membawa cerita. 

Makanya, ketika Senin kemarin saya terjadwal berangkat ke Yogyakarta untuk urusan pekerjaan, kepala saya sudah muter-muter. Mikir mau kemana nih yang saya bisa eksplor lalu menjadi tulisan. Sudah terbayang, di sana saya bakalan fokus dengan agenda pekerjaan. Ada juga sesi berkumpul bareng teman-teman yang rasanya sayang kalau dilewatkan. 

Berhubung saya sedang ingin menikmati sesuatu dengan cara santai, rasa-rasanya museum jadi pilihan yang tepat. Mulailah saya mencari museum terdekat dari bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Ada satu museum yang langsung menarik minat saya. Museum Affandi.

Uwow ...Nggak sampai 15 menit dari bandara. (Google)

 

Sesuai informasi dari Google Map, jarak dari Bandara Adisutjipto ke museum ini cukup dekat. Saya memilih penerbangan di pukul 13.00, dengan pertimbangan di pagi harinya masih bisa mengantarkan anak-anak ke sekolah. Dengan estimasi perjalanan udara sekitar 55 menit saja, museum masih buka dan saya punya cukup waktu untuk menuju lokasi. Anak-anak aman, pekerjaan aman, jalan-jalan aman. Sempurna!

Kenapa Museum Affandi?

Dari sekian banyak museum yang ada di Yogyakarta, kenapa saya memilih museum ini? Selain jarak yang terjangkau dari bandara, membaca nama Museum Affandi langsung mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu saya sangat mengagumi beliau. Kenapa? Tentu saja karena menjadi pelukis pernah menjadi salah satu cita-cita. Karena Affandi dan Basuki Abdullah, saya pernah ingin menjadi pelukis.

Museum Affandi; tampak luarnya benar-benar membuat penasaran. (Affandi)

Saya juga mupeng ingin mengikuti painting activity for adult yang informasinya sih, gratis. Kan asyik banget. Pastinya lagi, saya ingin menikmati satu persatu lukisan karya beliau, Pelukis yang menginspirasi seorang bocah TK untuk menjadi pelukis gitu, lho.

Tapi sayang, rencana tinggal rencana. Penerbangan yang seharusnya terjadwal pukul 13.00 dan tiba di Yogyakarta pukul 14.10, nyatanya mundur. Kami baru berangkat pukul 14.30 dan tiba di Yogyakarta pukul 15.30. Saya masih harus sholat dulu dan sudah nggak sempat lagi singgah ke museum karena tiba di sana kemungkinan sudah tutup. Sedih? Lumayan. Sesedih dulu nggak berhasil menjadi pelukis terkenal. Eaaa …

Kenapa Ingin Menjadi Pelukis?

Berhubung saya belum berjodoh menikmati keindahan lukisan-lukisan Affandi di museumnya, sesuai judul, kita membahas cita-cita saja, ya. Kalau ada yang bertanya alasan ingin menjadi pelukis, jawabannya sederhana, “Karena saya suka menggambar.”

Meskipun kenyataannya saya hanya bisa menggambar pemandangan yang sudah mainstream banget (sadar diri, nih), seperti pegunungan dengan sedikit cekungan di puncaknya, persawahan dengan pematangnya, sungai berair jernih, jalan berliku dengan pedagang yang menaiki sepeda melintas di atasnya, pohon kelapa, rumah petani lengkap dengan ayam, bebek, dan ikan, gulungan awan putih, langit biru, matahari, dan segerombolan burung yang terbang tinggi. 

Ya sesederhana itu. Intinya suka menggambar. Bahkan dulu saya menggambar boneka dari kertas – ada yang menyebut boneka BP – dari tangan sendiri, lho. Saya meminta wadah bekas kotak rokok ke warung, lalu menggambarnya sendiri, termasuk pakaian dan aksesoris si boneka. 

Ada yang masih ingat mainan ini? (2.bp.blogspot.com)

Beberapa kali membeli boneka ini, saya mendapat bagian yang dikaitkan dari pakaian ke leher seringkali nggak pas, makanya dulu saya kesal, lalu memutuskan membuat sendiri. Masa kecil saya lumayan kreatif dan rajin, ya? Jadi pengen buat lagi, deh, hihihi …

Perjalanan Cita-Cita

POLWAN

Pertama kali bersekolah di TK 0 Kecil – dulu bukan TKA A dan TK B – saya jatuh hati pada profesi polwan. Bagi saya mereka seperti ibu peri baik hati yang mau membantu kami, bocah-bocah kecil menyeberang jalan menuju ke sekolah. Bayangkan coba, mereka begitu sabar mengatur arus lalu lintas, kemudian menggandeng tangan-tangan mungil kami sampai tiba di seberang jalan.

Ibu peri di jalan raya (Source: Banyuwangitimes

Seiring berjalannya waktu, saya nggak mau lagi bercita-cita menjadi polwan. Alasannya sederhana, “Nggak mau panas-panasan, ah, nanti item.”

Padahal sih warna kulit aslinya memang sudah gelap, eh eksotis.

PELUKIS

Beranjak dari Polwan, kemudian saya ingin menjadi pelukis. Alasannya ya karena suka menggambar. Tapi cita-cita ini pun nggak bertahan lama. Waktu itu saya tahunya pelukis yang terkenal cuma Affandi dan Basuki Abdullah. Mungkin ada yang lain tapi saya nggak tahu.

 

Pameran lukisan anak sanggar Affandi (Source: Antaranews)

Sedangkan, saya maunya harus terkenal. Setiap menggelar pameran, saya maunya acara itu diliput oleh media, mau koran, majalah, televisi, terserah, deh. Masa sudah capek-capek melukis tapi nggak ada yang meliput? Kecil-kecil sudah bermimpi jadi orang terkenal, boleh dong?

ILMUWAN

Sejak kecil, saya suka belajar. Bagaimana, dong, tinggal di mess dalam sebuah pabrik, tanpa tetangga, tanpa teman-teman, nggak punya televisi, nggak punya mainan, saya mau ngapain lagi, coba? Duh, ini belajarnya karena nggak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan. Terpaksa tapi jadi suka. 

Berhubung saya suka belajar, ceritanya cita-cita beralih yang lebih berbobot. Mendukung hobi belajar juga, kan? 

Marie Curie, ilmuwan perintis bidang radiologi (Source: GEHealthcare)

Cita-cita ini terinspirasi dari Marie Curie, ilmuwan wanita yang bersama suaminya, berhasil menjadi penemu radium. Sayangnya Marie nggak mengetahui bahaya zat radioaktif yang mengintai dari kegiatannya mengisolasi radium. Dia terlalu sering melakukan kontak langsung dengan unsur-unsur tersebut. Radiasi dari sinar radium memberikan efek negatif bagi tubuhnya. Marie mengidap anemia dan menghembuskan napas terakhir di tahun 1934. (Wikipedia)

Saya suka belajar, suka menjadi pintar dan ingin terkenal seperti Marie Curie. Tapi saya nggak mau mati karena hasil penelitian saya sendiri. Harap dicatat, ya, saat itu saya baru berusia tujuh tahun dan belum mengerti kalau setiap yang hidup pasti mati, hihihi … Jadi, cita-cita menjadi ilmuwan pun akhirnya saya coret.

PEMBACA BERITA

Berpindah tempat tinggal ke kota Tangerang, melihat saya menemukan banyak hal baru. Ketika di Semarang nggak mempunyai televisi, di Wonogiri ada televisi tapi hitam putih dan hanya sebatas TVRI, begitu di Tangerang, saya mempunyai televisi berwarna dengan stasiun baru. Ada salah satu acara yang saya suka, yaitu Seputar Indonesia. Anak kelas tiga SD, sukanya nonton berita. Sebenarnya saya nggak menyimak isi berita sepenuhnya. Tapi ada sosok yang saya kagumi di sana. Siapa lagi kalau bukan pembaca beritanya, Desi Anwar?

Pembaca berita favorit di masa kecil (Source: WRI-Indonesia)

Bagi saya, dia pintar dan terkenal. Saya mau seperti dia. Desi Anwar membuat saya mencatat cita-cita baru, menjadi News Anchor atau pembaca berita. Sejak saat itu, saya semakin rajin menonton Seputar Indonesia dan membaca koran dengan intonasi seperti layaknya pembaca berita. Persis seperti Desi Anwar.

Waktu berjalan, siaran televisi semakin berkembang. Ada banyak wajah-wajah baru yang muncul. Mereka cantik-cantik. Desi Anwar buat saya tetap menarik, pintar, dan terkenal. Tapi dia nggak cantik. Akhirnya saya nggak lagi mengidolakannya. Sssttt … Tapi ada satu rahasia yang mau saya beritahu. Sampai saat ini, saya masih terbiasa membaca berita baik di media cetak maupun media sosial, seperti gayanya pembaca berita betulan. Iya, membacanya sambil bersuara. Ah, ini gara-gara Desi Anwar.

ARSITEK

Tinggal di rumah yang kecil, sederhana, saya memimpikan punya rumah bagus, bertingkat, cantik buat berfoto, membuat saya ingin merancang rumah sendiri. Membaca sana-sini, kemudian saya tahu, ada profesi bernama arsitek. Ini mimpi sejak kelas empat SD dan baru menghilang beberapa tahun lalu. Awet luar biasa. Sayangnya, saya nggak lulus UMPTN di jurusan Teknik Arsitektur. Andai lulus, jurusan ini pun terbilang mahal untuk keluarga saya. Tapi mimpi menjadi arsitek ini entah kenapa bersemanyam lama sekali di hati saya.

Seperti cita-cita sebelumnya, saya mau menjadi arsitek yang terkenal. Rancangan rumah karya saya masuk ke dalam majalah, itu yang saya mau. Tentu maunya ada banyak orang yang membacanya sehingga rancangan saya semakin dikenal masyarakat luas.

Cita-Cita Saat Ini

Jadi orang sukses, bermanfaat bagi bangsa dan agama, ah … buat saya ini bukan cita-cita, tapi kewajiban. Iya, dong, hidup sebisa mungkin harus membawa manfaat bagi orang banyak. Dengan beragam cita-cita yang silih berganti semasa kecil, apa dong cita-cita terakhir saya?

Well, sebenarnya kalau mengevaluasi kembali cita-cita yang pernah saya inginkan dulu, sepertinya intinya sih saya ingin jadi orang terkenal, ya, hahaha … Iya, lho. Mungkin itu sebabnya saya antuasias sekali dengan media sosial, rajin menulis status di Facebook, memperbarui feed di Instagram, dan menulis di blog (iyaaa, tahu sudah lama nggak menulis) lalu dibagikan kemana-mana.

Semua cita-cita saya sudah dicoret dari daftar. Bahkan cita-cita menjadi arsitek yang bertahan belasan tahun itu pun akhirnya sirna. Kuliah di jurusan apa, bekerja di bidang apa, satu sama lain saling nggak nyambung. Masih perlu kah saya punya cita-cita? Toh, tanpa cita-cita yang tercapai saya masih bisa hidup, kan?

Tapi motivasi untuk maju bisa jadi menurun andai saya berhenti mempunyai cita-cita. Sejak cita-cita menjadi arsitek melayang, saya sudah menyusun mimpi baru. Di usia 35 tahun saya ingin mempunyai karyawan yang berasal dari tim sendiri. Alhamdulillah, sudah terlaksana meskipun di dalam usaha yang masih terbilang mungil. Saya mau jadi pebisnis, membesarkannya, melakukan inovasi di dalamnya, menambah daftar karyawan dan rekanan, membuatnya semakin dikenal orang. Eh tuh kan, ujung-ujungnya mau terkenal, hahaha …

 

Family time itu wajib

Ke depan, saya mau tetap produktif sampai sisa usia, baik dari karya maupun penghasilan. Nggak perlu bergantung pada siapapun, malah sebisa mungkin bisa terus memberi. Itu sebabnya, mempunyai ketrampilan itu penting. Bisa dibilang ini cita-cita tak bernama. Yah, anggap saja belum saya beri nama. Mungkin nanti. Sekarang, berkarya dulu saja sebanyak-banyaknya. Biar tetap punya warisan buat anak-anak. Ya materi, ya karya.

Akhirnya, rencana mengunjungi Museum Affandi menyeret saya kembali ke masa lalu. Berbincang tentang cita-cita, berubah, berganti, tetapi teteup … ujungnya ingin terkenal, hahaha …

Kalau teman-teman, pernah bercita-cita menjadi apa?

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

11 thoughts on “Museum Affandi dan Tentang Cita-Cita”

  1. Awalnya pengen jd pramugari alasan sederhana pengen jalan2 naik pesawat gratis dan senang dg seragamnya. Trus pengen jd psikolog krn anak perempuan plg besar adik dan teman sering curhat. Akhirnya kesampaian wlpn hy sebagai guru BK.

  2. Welah, dekat banget sama kosanku ini mah. Dulu pas masih ngekost di depan Ambarukmo tiap hari lewat sini. Lama-lama pindah yang dekat UGM. Btw soal cita-cita, aku juga agak bergeser kok, tapi dari kecil memang nggak punya cita-cita yang bersifat kedinasan gitu. Karena cita-citaku yang pertama itu punya kebun bunga, di depannya ada toko bunga dan cafe, hehehehe. Padahal aku gak suka merawat bunga.

  3. wah cita-citanya banyak banget. Museum Affandi dekat sama kampusku UIN Sunan Kalijaga. Dulu zaman masih di kampus, suka nongkrong di depannya. Mau masuk ke dalam museum, belum kepikiran. Kalau foto-foto, pernah tidak ya? lupa. Ketahuan kan umur berapa kala itu?

  4. Hehe… Orang bilang kita berencana Allah yang punya kuasa. Maksud hati ingin ke Museum Affandi, jdwal terbang yang mundur teratur. Sampai akhirnya kebawa ingatan masa anak-anak tentang cita-cita. Sekian cita2 bergonta-ganti smpi pd titik cita2nya yang keren …Jadi orang sukses, semoga terkabul… Aamiin…

    1. Betul banget, Mbak. Tapi teteup kan bisa jadi bahan tulisan. Aaahhh, Allah memang Maha Baik. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Matur nuwun, nggih. Doa yang sama untuk dirimu, Mbaaak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.