Sekali Dayung Banyak Orang Terjumpai di Surabaya

Siang itu saya memandangi Schedule Board yang belum lama selesai dibuat dari tangan sendiri. Sederhana banget, sih. Hanya mengandalkan papan styrofoam, kertas tak terpakai, spidol, paku, dan obat nyamuk bakar. Tapi buat saya sih sudah cukup manis. Entahlah, biarpun punya banyak buku agenda, rasa-rasanya saya butuh mempunyai Schedule Board ini agar lebih leluasa terlihat. Apalagi kegiatan di tahun 2019 ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Iya sih, ini dalam rangka membangun bisnis agar lebih baik, meningkatkan pendapatan, sekaligus mengembangkan kapasitas diri.

Salah satu jadwal tertera di sana adalah perjalanan ke Surabaya pada 12-14 Januari 2019. Saya selalu merasa senang setiap kali akan melakukan perjalanan keluar kota. Berasa sibuk, ahay. Ish, padahal aslinya saya sibuk betulan.

KENAPA SURABAYA?

Mendengar kata Surabaya, saya antusias sekali bisa kembali ke kota ini. Bagi saya, Surabaya nggak seistimewa Semarang (iyalah, kan kota kelahiran), Solo (namanya juga kampung halaman), Yogyakarta (kota ini selalu bikin orang ingin balik lagi dan lagi), dan Bandung (kota ini dan orang-orang di dalamnya, jago banget bikin saya jatuh cinta). Ini lebih kepada saya nggak punya hubungan emosional dengan orang-orang di dalamnya. Tapi kok bisa antusias? Iya, saya ingin melihat Surabaya yang konon katanya saat ini sudah memiliki wajah berbeda.

Bayangkan, saya yang suka berjalan kaki ini, menyusuri pagi di Surabaya sambil melihat-lihat sekitar, memotret, dan bertemu orang-orang baru. Kadang-kadang saya suka sok akrab menyapa orang lebih dulu. Kadang-kadang, ya, mungkin sesuai suasana hati juga. Maka, demi mendukung rencana jalan kaki keliling kota ini, berbagai persiapan sudah dilakukan. Ini dia:

TIKET PERJALANAN

Saya datang ke Surabaya dalam rangka bekerja. Satu rekan kerja berangkat dari Cilacap. Kegiatan akan kami laksanakan pada hari Minggu, 13 Januari 2019. Rencananya, kami baru akan bertemu pada Sabtu malam atau Minggu pagi di acara. Berhubung saya sudah tahu bahwa Surabaya itu panas, maka berangkat pada pagi-pagi sekali menjadi pilihan tepat. Yes, saya memilih penerbangan di pukul 05.30 pagi dari Soekarno Hatta. Selain itu, harga tiket penerbangan yang ini, paling murah. Mendukung banget, kan?

Saya harus sudah meninggalkan rumah pada pukul 02.00 atau selambat-lambatnya pukul 02.30. Naik Damri menuju bandara, dan butuh waktu untuk berjalan kaki ke dalam mengingat bandara ini luas. Kalau mau santai, ya berangkat awal, begitu kan?

BARANG BAWAAN

Berhubung saya masuk kategori pelupa, urusan barang bawaan juga harus dipersiapkan dengan baik. Pelupa yang seperti apa? Ya bayangkan saja, deh. Saya bisa lupa meletakkan kacamata di mana padahal ada di atas kepala, lupa jarum pentul di mana padahal sudah menempel di kerudung, sampai harus datang ke bank lima sampai enam kali dalam setahun dalam rangka mengurus kartu ATM baru karena saya lupa terakhir meletakkannya di mana. Yang menjadi sumber masalah adalah, gonta-ganti tas. Jadi, saya maunya bisa membawa satu tas saja saat bepergian.

Tapi sayangnya, untuk urusan pekerjaan, nggak bisa. Laptop jadul tapi lancar jaya milik saya tentu harus tetap berada di dalam ransel beserta dengan kabel charging-nya. Saya membawa pakaian paling nggak dua stel + baju tidur dan berkas-berkas pekerjaan, botol minum, kotak makan, dan sendok. Kalau semuanya masuk ke dalam ransel, selain tampak sangat gendut, pastinya juga berat. Ini akan menyakiti punggung saya dan melanggar batasan maksimal masuk kabin, yakni  7 kg. Saya nggak suka melanggar peraturan ini. Akhirnya pakaian dan berkas pekerjaan masuk ke dalam koper.

Pastinya bakal repot sekali kalau saya harus memasang dan melepaskan ransel dari tubuh untuk proses check ini. Jadi saya memilih membawa sling bag. Uang, kartu, ponsel, power bank, dan aneka kabel charging masuk ke dalam sini. Sudah terbayang, saat mendarat di Surabaya, saya menitipkan koper di apartemen yang sudah direservasi, mengeluarkan laptop dan kabel charging dari ransel, dan berjalan kaki dengan membawa ransel dan sling bag. Tentunya lengkap dengan botol air minum, kotak makan, dan sendok.

OUTFIT

Kegiatan training yang kami adakan bernuansa santai. Jadi saya bisa suka-suka mengenakan pakaian apa sepanjang sopan. Jadi, sepatu kets sudah siap saya kenakan. Pastinya jalan keliling kota lebih nyaman mengenakan outfit yang kasual, ya.

ITU RENCANANYA, FAKTANYA?

Manusia memang hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang Maha Berkehendak. Perjalanan kami berjalan sangat lancar pagi itu. Nggak ada masalah berarti selain beberapa orang yang sempat ingin maju check in tanpa mengantri tapi mundur begitu melihat tatapan membunuh dari mata saya. Ya ya ya, nggak semua teguran harus menggunakan lidah kita. Maaf banget, saya nggak suka orang-orang yang nggak mengerti cara hidup di fasilitas publik. Antrian pagi itu panjang sekali dan tiba-tiba mereka menyeruak masuk begitu saja? No no no, tatap mata mereka dalam-dalam, deh.

Kami mendarat di Surabaya pukul 06.45. Sesuai pengecekan sebelumnya, jarak dari bandara Juanda ke apartemen cukup dekat. Benar, saya sudah tiba di sana pukul 07.30

Begitu keluar dari bandara, perasaan saya sudah nggak enak. Sudah merasakan hawa panas yang begitu menyengat. Ini adalah salah satu hal yang nggak mudah untuk saya toleransi. Mungkin karena terbiasa dengan udara kota Bogor yang meskipun sekarang sudah mulai panas juga, tapi semilir angin sangat terasa. Ini boro-boro, udara seperti diam pada tempatnya.

Tapi saya nggak menyerah, tetap melanjutkan rencana berjalan kaki meskipun nggak bertahan lama. Bukan capek, tapi nggak kuat dengan panasnya. Akhirnya saya menyerah, masuk ke salah satu outlet makanan, lalu memesan minuman. Dalam hati sih dongkol dan tapi sekaligus bertanya-tanya, “Bisa ketemu siapa saja ya, di Surabaya?”

Meet Up Bareng Mbak Dira Indira

Akhirnya, “cari muka” deh dengan menghubungi teman-teman blogger yang memang banyak yang tinggal di sekitar Surabaya dan Sidoarjo. Yes, satu orang mau berangkat ke Malang bareng keluarganya tapi mau menyempatkan diri mampir ke apartemen.

Bareng Mbak Dira, salah satu mentor blogging kesayangan dan Musa sholih.

Tamu istimewa pertama yang saya temui adalah Mbak Dira, salah satu mentor blogging kesayangan. Whoa, bahagia tak terkira ya beliau yang sebenarnya mau berwisata bareng keluarga, mau menyempatkan diri mampir, makan siang, dan ngobrol bareng. Ada Musa juga, putra beliau, anak istimewa yang InsyaAllah akan menjadi cerdas dan sholih. Aamiin.

Penampakan Mbak Dira ini jauh dari yang saya bayangkan. Tapi humble-nya berasa banget. Senyuuum terus. Terima kasih ya, Mbak. Begitu foto ini jadi, saya baru sadar, Mbak Dira tampil rapi, eh saya malah pakai kostum rumahan. Kalau menurut Mbak Dira, “Namanya juga jadi tamu hotel,” dan saya bisa bersombong ria, “Namanya juga yang punya apartemen.” #NumpangTapiSombong

Belum puas ngobrol sama Mbak Dira, tapi kami harus berpisah, nih. Semoga lain waktu bisa ketemu lagi dan diskusi lebiiih banyak.

Meet Up Bareng Mbak Wiwid Vidianarti & Mbak Sendy Winduvitri

Selesai Mbak Dira pergi, saya mondar-mandir lagi di kamar. Baru ingat, masih ada tugas Blog Walking di Pasukan Blogger yang belum diselesaikan. Tanggung, sekalian dong ya diselesaikan mumpung nganggur. Begitu selesai, bingung lagi mau apa. Berselancar di Facebook, lalu membaca postingan Mbak Wiwid Vidianarti – salah satu teman blogger dari Denpasar. Beliau sedang ada di Surabaya dalam acara “Writing & Healing – Menulis untuk Menyembuhkan Jiwa”. Menghadirkan penulis buku Mbak Sendy Winduvitri dan Mas Raditya Riefananda.

Langsung deh saya membuka aplikasi transportasi online. Cek jarak dan lokasi. Yeay! Ternyata dekat. Segera meluncur kesana. Tanpa janjian. Masa bodo, deh. Pokoknya saya harus ketemu atau bakal jenuh sekali diam di kamar. Sampai lokasi, sempat salah masuk area. Ballroom JATIM Expo sedang ada acara pameran pendidikan. Duh, masa sih ada di sini? Bocah-bocah sekolah yang masih unyu-unyu.

Nggak menyerah, saya menyisir lokasi JATIM Expo, celingukan di setiap kafe, daaan itu dia! Ketemu kan akhirnya. Rupanya mereka ada di Toffee Coffee – sebenarnya ada di flyer tapi saya nggak baca dengan teliti. Tempatnya berdinding kaca, jadi saya dadah-dadah ke Mbak Wiwid dari luar. Dia nggak sadar, sibuk terpaku ke acara. Beruntung, ada salah satu peserta yang sempat melihat saya dadah-dadah dan akhirnya memanggil Mbak Wiwid untuk saya. Begitu pintu terbuka, whoaaa … kami beraksi seperti Teletubbies. Berpelukaaan …

Akhirnya, saya yang saat itu ‘kesepian’, nekad kesini, dan duduk lebih lama dari yang direncanakan. Menyimak cerita dari Mbak Sendy – perempuan dengan bipolar – dan caranya menerima takdir itu lalu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kisahnya menyentuh jiwa banget. Di akhir acara, saya dapat dua buku gratis, yeay! Kebangetan memang untungnya. Tamu tak mendaftar yang tiba-tiba malah dapat buku gratis, terus sempat-sempatnya minta berfoto bareng terus.

Semakin mensyukuri karunia yang dimiliki diri sendiri deh, saat berada di acara itu. Terima kasih, Mbak Sendy dan Mbak Wiwid! Barakallah …

Meet Up Bareng Mak Kinan

Ini orang pertama yang langsung menghubungi begitu saya bilang mau ke Surabaya. Nama aslinya sih, Nanik Kristiyaningsih, tapi lebih akrab dipanggil Mak Kinan. Namanya dibalik saja ya, saudara-saudara. Jadi rencana awal sih mau ketemunya sama Mak Kinan ini. Tapi doi masih bekerja, pulang sore, jadilah saya selingkuh ya sama teman-teman yang lain.

Mak Kinan baru tiba di apartemen di malam hari. Ngobrol bareng sambil saya menyetrika pakaian. Maklum, sewaktu mau berangkat, pakaian dari jemuran langsung disamber masuk koper.

Baru ketemu pertama kali, tapi kami ngobrolnya sudah ngalor-ngidul. Berasa sudah kenal tahunan. Kami nggak sempat foto bareng karena Mak Kinan menolak. Alasannya karena saya sudah terlihat ngantuk banget. Bayangkan coba, saya ditolak! Terlalu memang Mak Kinan ini, ya. Untung datangnya bawain oleh-oleh, kalau nggak, ya nggak apa-apa juga, sih, hahaha …

Makasih oleh-oleh enak ini, Mak Kinan …

Kapan-kapan ketemunya jangan di jam menjelang saya tidur, cobaaa? Biar masih seger, cakep buat foto bareng, wkwkwk … #KecewanyaCukupSekaliAja

Meet Up Bareng Lilo

Di keesokan harinya, saya dipertemukan dengan Lilo-nya Kla Project. Bayangkan coba, sekelas artis menyambut tamu-tamu agung #Tsah untuk diajak ke studio rekamannya. Wow! Ini pertama kalinya saya masuk ke dapur rekaman. Keren banget isinya. Jadi pengen nyanyi tapi khawatir yang punya studio terkejut dan memilih mengevakuasi kami keluar, bhuahahaha …

Foto Bareng Lilo, eh bukan ya ternyata … Cuma mirip.

Coba perhatikan deh interior studio rekaman ini. Material dari kayunya ternyata memang khusus didesain untuk mendukung kualitas suara. Berfungsi juga sebagai musik akustik. Keren, ya. Saya terpukau karena ini memang pertama kalinya. Kalau masuk studio musik tempat teman-teman suka ngejam sih sering, ya.

Sebenarnya malam itu, Mas Lilo ini masih mau mengajak makan malam bareng, menikmati rawon kalkulator. Katanya sih, saking cepatnya si pedagang menghitung total belanjaan pengunjung hanya dengan bibirnya. Penasaran, tapi saya sudah ngantuk banget. Akhirnya, memilih pulang duluan.

Jadi, Mas Lilo ini nama aslinya Didi, nama bekennya Didi Tjwan. Beliau ini pemilih studio musik Win’s Recording Studio di kawasan Surabaya Barat, sebuah studio rekaman musik terbesar di Surabaya. Salah satu artis yang pernah melakukan rekaman di sini adalah Nella Kharisma. Saya beneran nggak tahu orangnya yang mana. Cuma sering dengar aja.

Terima kasih ya, Mas, sudah memberikan pengalaman baru buat saya. Terima kasih banyak juga buat rujak cingur dan tahu campurnya. Enak dan mengenyangkan banget. Kapan-kapan lagi, ya? #EhMintaDitimpuk

Jadi, perjalanan bekerja ke Surabaya ini, juga memberikan pengalaman pribadi yang menyenangkan banget. Ketemu banyaaak teman-teman baru. Semoga menjadi teman-teman yang saling mendukung dalam kebaikan.

Di Surabaya ini, sekali dayung, banyak orang terjumpai. Terima kasih, Surabaya!

 

 

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

8 Comments

  • liesdiana yudiawati January 16, 2019 at 6:11 pm Reply

    Wah pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Asyik bisa ketemuan dg blogger top dalam satu kota.

    • melinase January 17, 2019 at 3:10 am Reply

      Ini aslinya sih aku yang maksa ketemu, Mbak, hahaha … Mumpung udah mendayung, kaaan?

  • fuatuttaqwiyah January 17, 2019 at 3:38 pm Reply

    senangnya ketemu banyak teman. saya masih belum ke mana-mana nih.

    • melinase January 17, 2019 at 3:39 pm Reply

      Sekalian kerja, Mbak. Kalau nggak dalam rangka kerja mungkin aku juga belum ada rencana ke Surabaya. Hihihi, semoga kita juga bisa ketemu, yaaa …

  • Nyk note January 17, 2019 at 6:36 pm Reply

    Sudah ke Srbaya ntar giliran ke Malang yaa… Kita mit ap juga mb hihi… Secara blogger Malang juga bnyk lho… Sukses dehh.. Ditggu kbrnya mba Mel…

    • melinase January 18, 2019 at 4:09 am Reply

      Agak deg-degan nih karena Malang itu kota baru buat Profita. Belum banyak yang kenal. Kalau nggak memenuhi kuota, sepertinya baka;l geser dulu ke Bandung, huaaa …

  • Titis Ayuningsih January 21, 2019 at 2:00 pm Reply

    Wah, asiknya bisa sambil silahturahmi juga. Seru ya mbak, meet up gitu hehe

    • melinase January 22, 2019 at 4:32 am Reply

      Alhamdulillah, seru banget, Mbak. Kami ngobrol yang ringan-ringan saja, sih. Tapi paling nggak lebih mengakrabkan diri daaan ya itu tadi ketemu saudara baru.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.