Working Mom Memutuskan Bekerja dari Rumah? Baca Ini Dulu, Yuk …

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, anak-anak ribut membahas cita-cita. Iya, cita-cita mereka yang sudah berulangkali berganti itu. Sama seperti mereka, dulu saya juga berulangkali berganti cita-cita. Sudah pernah baca tulisan saya di sini, kan? Museum Affandi dan Tentang Cita-Cita

Maka, ketika semua cita-cita itu surut, saya pernah berkata kepada diri sendiri, “Saya mau jadi wanita karir. Bekerja di gedung bertingkat, mengenakan pakaian yang bagus, sepatu berhak tinggi, mengendarai mobil sendiri.”

Tercapai? Ya, antara tercapai dan tidak. Setelah bolak-balik Bogor-Jakarta-Tangerang-Bekasi, mengajar di berbagai lembaga pendidikan dan bahasa, akhirnya takdir membawa saya bekerja di sebuah perusahaan. Pada kenyataannya, saya memang bekerja di gedung bertingkat meskipun cuma lima lantai.

Sebenarnya saya bekerja di perusahaan kecil. Karyawan hanya 50 orang saja. tapi saya belajar banyak dari sini. Enam tahun bekerja di sana, akhirnya saya memperoleh tawaran kenaikan jabatan. Di tahun ke-7, posisi tertinggi perusahaan sudah berada di tangan saya. Rasanya bagaimana? Antara senang, bangga, terharu, sekaligus was-was karena semakin tinggi posisi, semakin besar tanggungjawab, semakin banyak waktu tercurah untuk tim, di sisi lain, semakin sedikit waktu bersama anak-anak.

Kenangan ngantor tahun 2014

Hingga akhirnya, masa-masa yang nggak mudah dihadapi datang. Saya harus mengambil keputusan cepat, mengundurkan diri dari perusahaan. Seorang klien pernah berkelakar, “Kamu seperti artis saja. Meninggalkan karir saat tengah berada di puncak.”

Meninggalkan karir yang sudah di atas sama sekali nggak mudah. Kehilangan pendapatan, wibawa, rasa hormat dari orang-orang sekitar, termasuk kebiasaan bertemu para relasi. Ada sisi emosional yang kelak seringkali membuat saya tertekan dan ingin kembali. Meskipun sesama manusia, tapi nggak bisa dihindari, posisi seringkali membuat kita nyaman karena aman dilihat orang.

Kalau ada pertanyaan apakah saya sudah bisa menerima menjadi ibu bekerja dari rumah seutuhnya? Jawabannya belum. Buktinya beberapa bulan lalu saya masih ingin kembali ngantor. Padahal saya masih sempat banget kerja sambil jalan-jalan.

Pulang rapat, besoknya yuk jalan-jalan dulu.

Cari apalagi? Toh di rumah juga berpenghasilan, kan? Iya, tapi aroma dunia bekerja terkadang masih suka datang menggoda. Beda banget bekerja di rumah dan di kantor meskipun sama-sama berpenghasilan.

MEMUTUSKAN RESIGN, SUDAH TEPAT KAH ALASANNYA?

Dunia menawarkan jalan hidup yang berbeda-beda pada setiap manusia. Ada perempuan yang memang harus bekerja karena menjadi tulang punggung. Ada juga yang bekerja hanya untuk mengaktualisasikan diri. Ada lagi yang memang bekerja menjadi kesepakatan berdua dengan pasangan. Nah, tapi kalau kemudian perempuan bekerja ingin mengundurkan diri, bagaimana?

Dear Ladies, yang saat ini tengah galau ingin mengundurkan diri dari pekerjaan kantor, yuk perhatikan apakah sudah cukup siap untuk mundur?

A. Alasan Gaji

Mengundurkan diri karena gaji dirasa nggak cukup besar? Gaji nggak naik-naik? Perusahaan pelit?

Perusahaan menggaji karyawan dengan menyesuaikan UMR, jabatan, performa kerja, dan tentunya kemampuan perusahan itu sendiri. Kalau perusahaan dirasa nggak cukup mampu membayar mahal karyawannya, mungkin boleh dipertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru.

Tapi, tentunya evaluasi diri sendiri juga ya, teman-teman, sudah layak kah kita menerima gaji sesuai yang diinginkan? Sering datang terlambat, acapkali menyusahkan rekan kerja, tugas selalu melewati deadline, berulangkali terlibat cekcok dengan karyawan lain, hmmm … bagaimana perusahaan mau mempertimbangkan kenaikan gaji?

B. Ketidakcocokan dengan Rekan Kerja

Dulu saya dengar istilah bahwa teman kita yang sesungguhnya adalah teman sejak masa sekolah, bukan teman kerja. Teman yang kita peroleh dari dunia kerja, seringkali nggak murni ingin berteman. Adakalanya harus sikut-sikutan untuk memperoleh wajah di hadapan atasan. Ini pendapat yang nggak sepenuhnya bisa saya terima. Di kantor dulu, ini sama sekali nggak terjadi. Entah kalau di kantor lain, ya.

Beda kepala, beda pendapat, sudah biasa (Source: Pixabay)

Kalau ini terjadi dan membuat teman-teman ingin mengundurkan diri, harus diingat juga bahwa kita nggak bisa ‘klik’ dengan semua orang. Nggak ‘klik’ bukan berarti bermusuhan. Mungkin hanya sebatas menjalin hubungan dengan rekan kerja, bukan teman berbagi cerita.

C. Ketidakcocokan dengan Atasan

Nggak merasa cocok dengan rekan kerja, mungkin bisa saja melakukan aksi diam seribu bahasa. Tapi kalau nggak cocok dengan atasan, bagaimana dong?

Pernah dengar bahwa atasan perempuan dan laki-laki punya karakter yang berbeda?

Atasan perempuan suka pada karyawan yang saat bertemu menyapanya dan memuji penampilan atasan tersebut. Ucapan “Selamat pagi, Bu. Hari ini kelihatan segar. Menang tender ya, Bu?” atau “Selamat siang, Bu. Mau saya bawakan berkasnya? Sepertinya itu berat” bukan hal yang aneh disampaikan kepada atasan perempuan. Nggak ada kesan ‘mencari wajah’ karena pada dasarnya perempuan suka dipuji dan diperhatikan.

Source: Pixabay

Berbeda dengan atasan laki-laki yang lebih nggak suka berbasa-basi. Mereka lebih suka kita menunjukkan hasil kerja dibandingkan sekadar ucapan salam dan obrolan yang nggak jelas.

Sudah mencoba cara tersebut tapi tetap saja nggak merasa cocok pada atasan? Well, mungkin boleh dipertimbangkan kembali. Kalau ketidakcocokan itu masuk dalam kategori minor, mungkin bisa diabaikan. Tapi kalau berpotensi merugikan seperti mengandung unsur SARA dan kekerasan, mengundurkan menjadi pilihan yang tepat.

C. Ingin Berbisnis dari Rumah

Ini banyak dilakukan oleh perempuan yang sudah berkeluarga. Meninggalkan pekerjaan karena ingin berbisnis dari rumah. Kalau niatnya memang ingin berbisnis secara benar, tentu akan sangat membantu apabila bisnis itu sendiri sudah dimulai jauh sebelum teman-teman mengundurkan diri. Iya, sebab membangun bisnis nggak bisa simsalabim jadi dalam sehari. Apalagi kalau teman-teman berharap memperoleh keuntungan banyak untuk kehidupan sehari-hari dari bisnis ini. Bisa-bisa, bisnis belum terbangun, keuangan sudah kolaps duluan. Seperti ini juga yang sudah saya lakukan. Memulai bisnis saat masih berkantor di perusahaan orang.

Jadi, sangat disarankan membangun bisnis saat masih bekerja, lalu mantap meninggalkan pekerjaan kantor ketika bisnis tersebut sudah stabil.

BEKERJA DARI RUMAH, HARUS BAGAIMANA?

Sudah mempunyai bisnis yang stabil, lalu sudah selesaikah semuanya? Menurut saya sih belum. Bekerja dari rumah berbeda jauh dengan bekerja di kantor. Ada banyak waktu luang, kan? Kalau seperti saya, bekerja dari rumah, artinya menghemat 4-5 jam waktu di perjalanan. Jadi saya punya waktu luang 4-5 jam di rumah. Asyik, ya? Asyik banget tapi kalau kita terlena malah jadi nggak produktif. Lho, bisnisnya ikutan jadi nggak produktif, bagaimana coba?

Makanya, bekerja dari rumah pun mesti ada kiat-kiatnya. Beberapa kiat di bawah ini, boleh lho kalau mau diaplikasikan.

Bangun Pagi

Meskipun nggak perlu berangkat bekerja selepas Subuh, bangun pagi itu hukumnya tetap wajib. Bagi muslim, ada kewajiban menunaikan ibadah sholat Subuh dan jangan melewatkan waktu bermunajat saat sholat Tahajud. Nggak diburu waktu bekerja, ibadah sholat mestinya bisa lebih leluasa, tenang, dan khusyuk.

Pepatah jaman dulu, bangun pagi itu mendatangkan rezeki, bangun siang rezeki dipatok ayam. Faktanya, ini betul sekali. Dengan bangun pagi, kita sudah mengikhtiarkan diri untuk siap dengan rezeki yang Allah turunkan dari langit. Semakin siang, Allah bisa saja nggak melihat itikad kita, ya kan?

Lagipula, bangun siang itu nggak enak juga di badan. Malah terasa capek, pegal, bawannya nggak bersemangat.

Mandi Pagi

Sudah bangun pagi, jangan mandi siang-siang dong, ya. Mandi pagi itu banyak banget manfaatnya. Mulai dari menyegarkan tubuh, melancarkan sirkulasi darah, mengurangi stress, meningkatkan kekebalan tubuh, dan masih banyak lagi.

Bayangkan saja deh, di saat udara kian hari kian menghangat dan kita menghindari mandi pagi, apa coba rasanya tubuh ini? Gerah, lengket, duh … boro-boro ya mau semangat beraktivitas.

Sarapan pagi

Terbiasa sarapan sejak jaman sekolah, saya bisa kehilangan konsentrasi saat nggak sarapan di waktu pagi. Otak serasa susaaah banget diajak kerjasama. Mau menyimak, berpikir, mengingat, susah banget. Jadi, sarapan ini wajib banget. Atau, saya bisa nggak ‘dong’ seharian. Gawat, kan?

Sarapan roti atau nasi, buat saya sama saja (Source: Pexels)

Mencatat Agenda Kegiatan

Buku agenda menjadi salah satu hadiah yang saya suka. Terpakai banget, sih. Apalagi, dengan banyaknya kegiatan, kalau nggak dicatat satu persatu, saya bisa lupa. Memang sih, saya juga terbiasa mengingat dengan memasang jadwal di kalender ponsel. Tapi efeknya beda, lho.

Segini banyak, gratis semua, hihihi …

Buat saya, menulis itu ya seperti haditsnya sendiri, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Jadi saya seperti tengah mengikat informasi itu dengan menuliskannya. Ada yang begini juga?

Selain menuliskannya di buku agenda, teman-teman bisa juga lho membuat papan jadwal sederhana seperti yang saya lakukan. Pasang di tempat strategis, sehingga mudah dilihat, mudah diingat, jadi kitanya kecolek terus, ya.

Bikin sendiri biar seru …

Kalau saya pribadi, sengaja memasang papan jadwal tersebut dan mencantumkan jadwal bepergian saya kemana, naik apa, nomor perjalanan berapa, dan berangkat pukul berapa. Supaya keluarga saya tahu kalau nanti terjadi sesuatu. Mmm, tentunya doanya selalu aman, lancar, dan selamat hingga kembali ke rumah.

Menyisipkan Hobi

Pernah nggak mendengar istilah “mengerjakan hobi yang dibayar?”

Nah, pekerjaan saya ini nggak bisa dibilang sebagai hobi, jadi saya mesti menyisipkan hobi saya di situ agar pekerjaan terasa lebih menyenangkan. Seperti apa, sih? Yuk, saya bagi di sini, ya:

  • Ngemil

Sepertinya sih semua orang doyan ngemil, ya. Buat saya, ngemil adalah salah satu cara kita mensyukuri karunia Tuhan yang sudah menganugerahkan kita gigi #Ups. Ngeles banget. Jadi begini, saya memang mudah lapar dan mudah kenyang. Makanya, menyediakan cemilan itu penting. Nggak mungkin kan saya sebentar-sebentar makan makanan berat. Beuh, bisa endut. Padahal biarpun saat ini saya terbilang kurus, nggak mau juga berat badan melebihi 53 kg.

Keripik apel yang crunchy …

Daaan, ngemil memicu rasa haus yang ujungnya akan membuat saya mengonsumsi lebih banyak air putih. Tetap ada manfaatnya, kaaan? Bisaaa aja cari alasannya, ya, hihihi …

  • Olahraga

Saya lumayan suka berolahraga. Olahraga itu bisa memperlancar sirkulasi darah dalam tubuh sehingga membuat badan lebih segar dan nggak mudah mengantuk. Nah, mengantuk nih menjadi salah satu godaan saat bekerja di rumah, lho. Bayangkan saja, kerjanya di kamar, dekat dengan tempat tidur, bantal, guling, yang suka banget dadah-dadah minta didekati.

Biasanya saya memang menyempatkan diri tidur siang, sih. Bukannya manja, tapi karena butuh. Tidur siang barang 30 menit gitu, deh. Apalagi saya sudah bangun sekitar pukul 01.00 dini hari. Jadi wajar kalau tengah hari merasakan kantuk yang luar biasa.

Tapi gimana dong, kalau sudah tidur siang eh tetap mengantuk juga? Saya sediakan dumbell di bawah meja kerja. Gunanya apa? Buat olahraga, pastinya. Cukup dengan dua variasi gerakan, masing-masing dua set, setel musik, bisa membuat berkeringat, hilang deh ngantuknya.

  • Berdandan

Sebagai perempuan yang nggak ahli melukis wajah, dulu saya sering duduk mengamati teman yang tengah berdandan. Dianya sampai nggak enak hati karena saya pandangi terus. Sampai kemudian dia bilang, “Saya sih dandan buat senang-senang aja, Bu. Biar nggak ngantuk.”

Waktu dipraktekkan, eh ternyata betul. Jadi kalau seharian bekerja di rumah terus ngantuk, dandan aja, yuk. Cukup mengoleskan lipstik, bedak tabur tipis-tipis, poles lipstik secukupnya. Manjur, deh.

  • Menulis

Pekerjaan di rumah kantor saya cukup berat. Iya, menganalisa pergerakan suatu saham. Otak betulan dipakai sampai maksimal. Sakit kepala? Sering, hehehe … Makanya, saya melakukan tugas lain yang sekiranya bisa membuat hati saya bahagia juga. Apa sih itu? Mengisi konten website dan membuat flyer jadwal pelatihan.

Mengisi konten website sekaligus menyalurkan hobi menulis, kan? Sesekali menulis di Profita Institute ini menjadi penyeimbang banget, lho. Begitu juga dengan membuat flyer untuk agenda kegiatan pelatihan kelas kami. Mengombinasikan warna, menempeli gambar, wah, warna-warninya bisa menciptakan semangat baru.

Girly pinky begini sih, flyernya …

Serius dalam Berbisnis

Ini yang terakhir tapi sangat-sangat penting. Serius dalam berbisnis membuat kita terus bergerak maju, termotivasi untuk mencapai target terdekat, menjauhkan kita dari rasa bosan, jenuh, karena melakukan aktivitas yang itu-itu saja. Seriuskan bisnismu, dengan cara-cara berikut ini:

  • Rutin Berkomunikasi dengan Tim Kerja

Tim kami hanya terdiri dari dua orang saja, ditambah satu orang karyawan. Mereka berdua tinggal berlainan kota dengan saya, berkantor di kantor di kota tempat mereka tinggal. Bekerja sendiri, nggak ada yang mengawasi, lekat dengan kesempatan untuk bermalas-malasan. Makanya, komunikasi dengan tim rutin kami lakukan. Melalui komunikasi tertulis maupun panggilan suara dan video, untuk membangkitkan motivasi bahwa tim kerja kami nyata, saling mendukung, saling mengingatkan, dan yakin kami akan berkembang jauh lebih besar daripada saat ini.

  • Selalu Menyusun Rencana Baru

Sebagai sebuah lembaga yang masih kecil saja, kami nggak akan kemana-mana kalau sudah puas dan nyaman dengan kegiatan saat ini. Itu sebabnya, kami selalu berupaya menyusun rencana-rencana baru. Ini membuat otak bekerja lebih baik, karena terus diajak berinovasi. Bisnis yang begitu-begitu saja akan sangat membosankan, motivasi menurun karena nggak ada tantangan. Jadi, seringkali tantangan itu harus diciptakan, lalu dihadapi bersama.

  • Bersinergi dengan Pihak Lain

Banyak orang pintar yang akhirnya nggak menjadi apa-apa karena maunya sendirian. Pada akhirnya sulit menerima pendapat orang lain karena sudah merasa lebih. Padahal, bertumbuh itu nggak bisa sendirian, butuh lingkungan, butuh komunitas. Sebab ilmu pengetahuan terus berkembang dan dari lingkungan yang positif, ide-ide baru seringkali bermunculan.

Begitu juga sebuah tim kerja. Ada hal-hal yang bisa dan harus kami lakukan sendiri, tapi ada juga yang kami sangat membutuhkan keterlibatan pihak lain. Jadi, bersinergi untuk lebih baik, kenapa nggak? Jangan ragu, malu, atau malah sombong, untuk membangun hubungan baik dengan pihak lain.

  • Jangan Lupa Berbagi

Mempunyai bisnis, berpenghasilan, jangan lupa berbagi. Saya dan tim selalu saling mengingatkan tentang ini. Berbagi pada keluarga, orangtua, dan anak-anak yang belum beruntung. Semoga dengan berbagi, semakin meluaskan rezeki. Aamiin.

  • Semua karena Yang Maha Kuasa

Sebagai manusia biasa, tim kami saling mengingatkan bahwa setiap keberhasilan selalu ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Ini bukan semata hasil kerja keras kami, tapi karena ada Dia yang memberikan jalan. Ini penting sekali agar setiap kali bisnis berkembang, nggak diiringi dengan kesombongan.

I am a happy working mom from home.

Nah, buat teman-teman perempuan bekerja yang ingin memutuskan mengundurkan diri untuk bekerja dari rumah, yuk disiapkan dengan seksama. Eh, jadi seperti Proklamasi, ya. Tapi ini benar-benar harus diperhatikan. Apalagi nih, ya, kalau teman-teman memang ingin bekerja dari rumah ini menjadi sarana sumber penghasilan utama.

Bekerja dari rumah atau bukan, setiap perempuan selalu punya kesempatan berkarya. Selamat berkarya, perempuan Indonesia!

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

27 Comments

  • Yanti Ani January 18, 2019 at 9:01 am Reply

    Komplit benget ya Mbak, cocok ini bagi saya sebagai referensi sebagai ibu rumah tangga yang ingin tetap punya penghasilan sendiri

    • melinase January 18, 2019 at 9:41 am Reply

      Hai, Mbak Yanti. Terima kasih sudah mampir, ya. Yes, ditimbang-timbang dulu ya kalau mau bekerja dari rumah. Aslinya, tetap ada kelebihan dan kekurangan dibandingkan bekerja di kantor.

  • Dewi Apriliana January 18, 2019 at 12:06 pm Reply

    Memutuskan menjadi full time mom, atau bekerja dari rumah, itu pasti keputusan yang memerlukan pikiran panjang seperti itu. Saya sendiri sebagai ASN tidak mudah untuk memutuskan bekerja dari rumah. Untung tempat kerja saya tidak jauh dari rumah, dekat dengan sekolah anak-anak juga jadi tidak sampai menghabiskan waktu jam-jam an di jalan gitu.
    Sukses ya, mbak semoga sukses bekerja dari rumah.

    • melinase January 21, 2019 at 9:58 am Reply

      Sangat panjang, Mbak. Ingin mengundurkan diri sejak tahun 2012, eh baru terlaksana di tahun 2017. Lima tahun lho, pikir-pikirnya, hahaha … Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Sukses juga untuk dirimu ya, Mbak …

  • Meirida January 18, 2019 at 2:26 pm Reply

    Setuju nih, aku juga kalo kerja di rumah gayanya kayak lagi ngantor aja. Pake baju rapi, pake wewangian, dan beneran lho feelnya jadi beda.

    • melinase January 21, 2019 at 9:59 am Reply

      Iya kan, ya. Ada saja sih yang bilang, ngapain di rumah rapi-rapi? Ah, nggak tahu aja. Ini bikin menciptakan mood yang bahagia.

  • steffifauziah January 18, 2019 at 4:24 pm Reply

    sama saya pun bahagia kerja di rumah eheh. biar suami aja yang kerja diluar ~
    aku resign kantor malah sebelum nikah hehe, gak betah bosnya enggak enak, wkwk.
    tapi Alhamdulillah setelah nikah suami support banget untuk kerja dirumah aja, hihi. Bahagianya kita mba ~

    • melinase January 21, 2019 at 10:09 am Reply

      Alhamdulillah kalau masih ada pasangan ya, Mbak. Sebagai single mom, aku tuh kemarin rasa tertekannya besar banget. Anak-anak membutuhkan aku di rumah, tapi di sisi lain aku harus tetap menghasilkan. Whoaaa, riuh pokoknya, hahaha …

  • Haeriah Syamsuddin January 18, 2019 at 5:14 pm Reply

    Point pertama menjadi pertimbangan utamaku ketika memutuskan resign. Gimana rasanya gak punya duit sendiri setelah bertahun-tahun menikmati yang namanya gajian setiap bulan. Alhamdulillah, semua bisa dilewati. Kini, Saya masih tetap bisa pegang duit hasil sendiri dari menulis. Alhamdulillah

    • melinase January 21, 2019 at 10:42 am Reply

      MasyaAllah … Janji Allah memang pasti ya, Bund.

  • hani January 19, 2019 at 9:59 am Reply

    Karena saya begitu lulus menikah trus hamil. Jadi weeee…memilih kerjaan yg bisa disesuaikan dng kondisi ibu rumahtangga.
    Belum pernah kerja kantoran tepatnya…

    • melinase January 21, 2019 at 10:34 am Reply

      Nah, sekalian aja nggak pernah kenal kerja kantoran, Bun. Biar nggak berat ninggalinnya, hahaha …

  • Eni Rahayu January 19, 2019 at 2:46 pm Reply

    setuju banget mbak, harus menyiapkan diri sebaik mungkin lah ya. Sayapun dulu ketika mau resign juga memikirkannya setahun. Sudah mantul barulah saya ambil keputusan untuk resign. Tidak mudah memang karena harus menyiapkan segala kondisi baik fisik maupun mental

    • melinase January 21, 2019 at 10:34 am Reply

      Aih, ternyata banyak juga mantan perempuan bekerja yang merasakan kondisi serupa.

  • Rita January 19, 2019 at 5:11 pm Reply

    Nice reading…ringan tp berbobot..

    • melinase January 21, 2019 at 10:33 am Reply

      Alhamdulillah … Terima kasih sudah mampir, Mbak Rita …

  • Dhika suhada January 19, 2019 at 6:43 pm Reply

    Mbak Melina keren banget. Ya pengalamannya, tulisannya juga semangatnya. Saya pun akhirnya memutuskan di rumah dan sekarang sedang mencoba untuk bisa bekerja dari rumah. Semoga lancar semua usaha kita ya mbak. Terus berbagi 🙂

    • melinase January 21, 2019 at 10:35 am Reply

      MasyaAllah … Padahal aslinya jatuh bangun, hahaha … Yakin lah rezeki bisa dijemput dari mana saja. Yuk, semangat terus ya, Bund …

  • fuatuttaqwiyah January 19, 2019 at 9:26 pm Reply

    aku juga baru resign. Sekarang menikmati hari-hari di rumah. Bisa bebas jalan-jalan.

    • melinase January 21, 2019 at 10:35 am Reply

      Beuh, kalau yang ini resign untuk jalan-jalan. Aku mah terus nyangkul, dong, hahaha …

  • Nyk note January 20, 2019 at 8:38 pm Reply

    Mb Melina yahud… Enteng Sana sini ngerjaun bisnis sambil Menulis plus traveling. Menikmati hidup banget. Sukses y mb..

    • melinase January 21, 2019 at 10:36 am Reply

      Beuh … iyalah enteng, kan aku nggak sampai 50 kg. Upppss, ketahuan deh slimnya.

  • Viedyana January 25, 2019 at 2:57 pm Reply

    Uwiiih detailnya kegiatan tiap hari….mantep…saya pun rindu ngantor lagi tapi apalah daya izinku tak kunjung di approve…will be 7 years this april

    • melinase January 25, 2019 at 3:02 pm Reply

      Whoaaa … Karyawan kesayangan ini pasti. Dulu aku gitu, Mbak. Pertama kali mengajukan mundur di tahun 2012, eh baru disetujui di tahun 2017. Bosnya mikirnya lamaaa, wkwkwk …

  • Ghina January 26, 2019 at 2:17 pm Reply

    Kok saya malah sedang ingin kerja ya mbak, setelah menikah blm menikmati ruang kantoran sepenuhnya, hanya sempet nyicip kantor bentar saat jd guru. Seperti ads sensasinya sendiri ya kantoran tuh.

    • melinase January 30, 2019 at 4:55 am Reply

      Cobain aja biar nggak penasaran, hahaha … Pastinya yang pernah kerja kantoran – apalagi dalam kurun waktu lama, bakal merasakan kehilangan berat. Ya iya sih, seperti kehilangan dunianya gitu.

  • STIFIn Learning Workshop; Menemukan Kunci Kebutuhan Agar Belajar Terasa Asyik - Melina Sekarsari February 12, 2019 at 9:08 am Reply

    […] Working Mom Memutuskan Bekerja dari Rumah? Baca Ini Dulu, Yuk […]

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.