Review Buku: Great Mom, Strong Son Karya Bety Kristianto dan Jessica Valentina

“Mama, ini gimana ya cara nempelinnya?” Sulung mendekati saya suatu sore. Saya yang ketika itu tengah membereskan rumah, menengok ke arahnya. Melihat benda yang berada di tangannya, saya seketika mengerinyitkan dahi. Perasaan mulai tak enak.

“Nempelin apa, Mas?” Sulung masih memasang wajah serius sambil memutar-mutar benda hitam panjang di kedua tangannya.

“Ini, nih. Dia lepas terus.” Saya sedikit panik. Tapi berusaha tetap tenang. Di kepala saya, seperti sudah terekam bahwa benda-benda yang memiliki banyak komponen untuk kemudian disatukan saat akan digunakan, nggak akan kenapa-kenapa kalau sekedar lepas. Mungkin bautnya ada yang longgar, tinggal diputar supaya kencang. Beda kalau patah, sudah patah, ya nggak bisa diapa-apakan.

“Coba sini Mama lihat.” Sulung mengulurkan benda itu kepada saya. Pekerjaan rumah yang memang sudah hampir selesai, saya selesaikan sebelum akhirnya kami berdua duduk berhadap-hadapan. Menuntaskan tripod kesayangan – satu-satunya tripod yang saya punya – yang kata sulung tabungnya ada yang terlepas.

Huhuhu … Nggak bisa dipasang lagi.

Sore itu saya menghabiskan waktu lebih dari 30 menit lamanya hanya untuk memutar, melepas, memasang lagi, memutar lagi, sampai benar-benar dalam kondisi pas. Sempat terbersit, mungkin memang kondisinya nggak sekencang yang diharapkan. Akhirnya saya tes dengan meletakkan ponsel pada pengapitnya. Hasilnya, miring terus. Tiang tripod dan ball head hanya bisa terpasang, bukan terkunci alias terpasang sempurna.

Saya melemparkan tatapan sedih pada sulung. Dengan wajah polos, dia malah memberi usul, “Beli lagi yang baru aja, Mama.”

“Uangnya mana?” Mulailah bola matanya berputar-putar, bibirnya tersenyum-senyum jahil, sambil jari-jemarinya memainkan rambut ikal yang mulai gondrong.

“Harga tripod Mama ini sama dengan harga 15 susu kotak besar yang biasa Mas minum.”

Matanya seketika terbelalak lama. “Pakai uang jajanku aja, Mama.”

Sore itu kami menyudahi episode tripod yang rusak dengan memasukkannya ke dalam cover dan boksnya. Kami bertiga – ditambah dengan bungsu, bahu-membahu membereskan pakaian yang sejak tadi pagi saya bongkar semuanya ke atas kasur. Kelelahan, sulung tertidur tanpa sempat makan malam.

ANAK LELAKI SERING ‘MERUSAK’, KENAPA?

Itu bukan pertama kalinya tangan sulung yang notabene anak laki-laki ‘merusak’ benda-benda di rumah. Pegangan laci meja kerja patah karena dia injak. Maksudnya sederhana saja, mau berayun dengan satu kaki di pegangan laci, satu tangan berpegangan pada lemari, satu kaki dan tangan lainnya mengayun di udara. Dikira pintu metromini kali, ya?

Maskara milik Budhe-nya pun rusak tak berbentuk. Diulek-ulek pakai jarinya. Nggak semua hal yang dia pegang menjadi rusak. Tapi saya lebih seringnya melihat dia menggunakan benda itu dengan cara yang nggak semestinya. Buku-buku saya misalnya, diturunkan dari rak, hanya untuk dijejerkan dengan lego. Buku-buku itu, kalau nggak jadi atap, ya jadi dinding bangunan yang dia buat.

Kalau belum gondrong, nggak mau potong rambut.

Atau, kali lain, dia memainkan pipa sambungan vacuum cleaner, lalu ujungnya dia masukkan tongsis. Saat mau bepergian dan sibuk mencari tongsis, siapa juga yang tahu kalau tongsisnya ada di vacuum cleaner, di bawah kolong meja makan? Saya nggak akan mencari tongsis sampai ke meja makan, dong.

Energinya seperti nggak habis-habis untuk melakukan ini dan itu. Kegiatan ‘merusak’ dan memainkan sesuatu yang seringkali nggak lazim. Tapi seperti itulah anak laki-laki. Persis sama dengan yang dijelaskan dalam salah satu parenting book yang baru-baru ini saya baca, “Great Mom, Strong Son”, karya sahabat baik, Bety Kristianto dan Jessica Valentina.

ANAK LELAKI CEPAT BOSAN

Membaca buku “Great Mom, Strong Son” ini, sedikit banyak seperti membuka kembali film-film kehidupan anak lelaki saya di rumah. Salah satunya bahwa mereka cepat bosan.

Nggak usah aneh memang kalau segala macam yang saya ceritakan di atas itu benar-benar terjadi. Begitulah anak lelaki.

Sulung selalu penasaran pada benda-benda di sekitarnya.

Apa benar sapu ijuk cuma bisa dipakai menyapu?

> Gimana kalau aku jadikan titian seperti di sekolah?

Apa benar gembok cuma dipakai mengunci pagar?

> Gimana kalau aku pakai mengunci tasnya Mama?

Apa benar setrika cuma bisa untuk menggosok pakaian?

> Gimana kalau aku jadikan mobil-mobilan?

Yes, dia bosan dengan benda-benda yang dia sudah tahu itu untuk apa. Akhirnya mulailah kebosanannya disalurkan dengan ‘mengoprek’ segala benda di rumah menjadi sesuatu yang kemudian membuat mamanya ingin berteriak, “Oh, tidak!”

“Great Mom, Strong Son”, mengupas sisi kehidupan anak lelaki. Bab 1-nya saja sudah sangat menarik. Membahas tentang karakter anak laki-laki, hormonnya, fisiknya, cara berpikir, dan sifat mereka. Membaca buku ini cukup menguras waktu saya. Nggak seperti membaca novel yang dalam hitungan jam sudah habis. Pokoknya, nggak sah kalau membaca novel sampai berganti hari. Tapi itu nggak terjadi dalam buku ini. Sulit dicerna kah isinya? Sama sekali nggak.

Saya memang sengaja membaca dengan santai. Membaca buat saya adalah bersenang-senang. Membaca parenting book juga salah satu cara orangtua bersenang-senang. Maka, saya benar-benar menikmati kegiatan bersenang-senang ini. Untuk apa tergesa menyelesaikan? Apalagi, ada saja bagian dari buku ini yang membuat saya harus berhenti, berpikir, kemudian mencetuskan sesuatu.

> “Anak gue banget, nih.”

> “Nah, iya! Memang begini, nih.”

> “Yaelah, sama persis kayak anak gue.”

> “Oh, pantesan anak gue begitu, ya?”

Wajar sekali karena buku ini ditulis oleh dua perempuan yang sama-sama berpengalaman melahirkan dan mengasuh anak-anak lelaki lengkap dengan segala kapal pecah yang mereka ciptakan. Buku ini lahir dari pengalaman yang nyata adanya. Kedua penulis mengalami, saya mengalami, tapi saya tetap memperoleh sesuatu di dalamnya.

KENAPA MESTI MEMBACA “GREAT MOM, STRONG SON?”

Setuju nggak kalau dalam hidup kita nggak pernah boleh berhenti belajar? Saya sih yes, nggak tahu Mas Anang Moms sekalian. Kalau ada parenting book yang mesti dibaca oleh orangtua, “Great Mom, Strong Son” adalah salah satunya. Kenapa? Ya iyalah, penulisnya kan teman saya, sama-sama berstatus sebagai ibu dengan anak lelaki, Mbak Bety Kristianto sudah pernah menerbitkan parenting book juga dengan judul “Smart Mom, Happy Mom” dan Cicik Jessica Valentina punya latar belakang psikologi. Mantap!

Dari sisi informasi, ini dia alasan Moms harus membaca buku ini:

A. Setiap Orangtua Membutuhkan Informasi

Menjadi orangtua – seperti yang kita tahu – nggak pernah ada dalam kurikulum sekolah. Padahal, perjuangannya luar biasa. Tentu saja hasilnya juga istimewa. Nggak tanggung-tanggung, anak menjadi salah satu jalan orangtua memperoleh pintu surga. Nah, berarti harus benar-benar dong cara mengasuh dan mendidiknya? Bagaimana caranya? Setiap orangtua membutuhkan ilmu, membutuhkan informasi. Ini bisa diperoleh dari mana saja. Belajar dari orangtua kita – meskipun mungkin berbeda sudut pandang, mengikuti parenting class/session/workshop yang belakangan semakin banyak diselenggarakan, maupun lewat bahan bacaan. “Great Mom, Strong Son,” adalah salah satunya.

Tahu nggak sih, Moms, lewat buku ini saya jadi mengerti alasan sulung seringkali mengenakan kemeja sekolahnya dengan posisi miring. Iya, miring. Kancing paling atas dia pasangkan dengan lubang kancing kedua dari atas. Saat memeriksa sebelum ke sekolah, saya seringkali harus mengelus dada dulu. Duh, adiknya sudah siap, kakaknya malah pasang kancingnya ngaco.

Alasannya sederhana, “Anak Perempuan Lebih Baik dalam Menggunakan Tangan.” – Hal. 75

B. Gaya Bahasanya Sederhana dan Mengalir

Cung siapa yang sering merasa rempong saat di rumah? Bangun paling awal, berkutat di dapur, menyiapkan anak-anak ke sekolah, lelah mencuci lalu menjemur pakaian, bermesraan dengan pakaian kering dan setrika, membereskan rumah beserta mainan anak-anak yang terlempar kemana-mana, wuih! Lelah? Sudah pasti.

Mau membaca, tapi kepala sudah penuh dengan urusan domestik?

Tenang, “Great Mom, Strong Son” ini gaya bahasanya sederhana banget. Mengalir dan diiringi gemericik air, eh ini kalau Moms bacanya di tepi sungai atau dekat kolam ikan, ya? Nggak butuh otak cerdas deh untuk memahami bahasa buku ini. Anggap saja sedang ngobrolin soal anak bareng teman-teman semasa sekolah atau ibu-ibu para orangtua murid. Langsung pada nyambung kan, biasanya?

Iyes, kedua penulis lihai bercerita dan berbagi tanpa menggurui.

C. Tipis Padat Berisi

Lho, gimana ceritanya tipis kok padat berisi? Sshhh, kita nggak sedang membahas bentuk tubuh ya, Moms. Please, jangan belok fokus. “Great Mom, Strong Son” secara keseluruhan hanya terdiri atas 160 halaman saja. Buat saya, buku ini termasuk dalam kategori tipis karena rata-rata buku yang saya baca paling nggak terdiri atas 200 halaman ke atas.

Tapiii … Jangan salah. Isinya padat berisi. Kalau cuma menceritakan pengalaman pribadi sih, bagian awal tulisan sudah mewakili, ya. Tapi saya nggak memberikan jalan keluar kan ya, Moms. Cuma curcol thok, wis. Halah, jadi keluar kan bahasa Jawanya.

Jadi, “Great Mom, Strong Son” itu tuntas membahas lengkap apa-apa saja yang anak lelaki kita punya. Berdasarkan apa? Tentunya berdasarkan ilmu psikologi. Jadi, Moms jadi tahu latar belakang anak lelaki berkarakter sedemikian rupa, bahwa yang terjadi di kehidupan nyata memang benar adanya, termasuk langkah-langkah yang mesti dilakukan orangtua untuk menjadikan mereka super di masa depan.

Orangtua jadi tercerahkan, nggak ada kekhawatiran atau kepanikan, dan bisa menyiapkan strategi agar mereka siap menjadi kepala keluarga yang membanggakan di masa depan.

D. Surat Cinta

Di bagian akhir, saat kedua penulis menyisipkan surat cinta untuk putra-putra mereka, saya terharu sampai meneteskan air mata, lho. Bisa merasakan banget, curahan hati seorang ibu sekaligus doa untuk buah hati tersayang. This is a part of the book I love the most. Daaan, saya jadi kepengen menuliskan surat cinta juga dong, buat unyil-unyil di rumah.

…………………………………….. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ………………………………………………

“Great Mom, Strong Son” menyentuh sisi keibuan saya yang sempat hilang terbawa arus Jagorawi dunia kerja. Dunia seringkali menempa kita dengan beragam ujian. Diperlukan jiwa-jiwa yang kuat dan super untuk menghadapinya. Membaca buku ini, yuk kita siapkan jagoan di rumah menjadi calon-calon kepala keluarga yang kuat dan super.

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

 

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

16 Comments

  • Dwi January 23, 2019 at 9:43 am Reply

    Jadi pengen punya anak cowok, hehe… Kayanya kakak iparku harus tahu buku ini secara punya 2 jagoan… thanks sharingnya mba.

    • melinase January 23, 2019 at 11:37 am Reply

      Semoga diijabah, Mbak … Seru banget pastinya. Rumah dan baju kotor terus, hahaha. Kuy-lah ajak kakak ipar beli juga. Atau, Mbak Arum aja deh yang menghadiahkan, hihihi …

  • Dawiah January 23, 2019 at 6:36 pm Reply

    Saya sudah menduga kalau buku kedua perempuan cantik ini pasti keren. Tulisan-tulisan di blognya saja keceh badai. Salamin ya sama mereka berdua.

    • melinase January 24, 2019 at 12:17 pm Reply

      Cicik Jessica aku nggak kenal, Bunda. Salamnya disampaikan ke Mbak Bety aja, yaaa. Eh, disalaminnya lewat group kita juga, hahaha …

  • Nurdiah January 24, 2019 at 6:45 am Reply

    Sayangnya enggak punya anak laki laki, tapi anak perempuan saya juga begitu kok…banyak energi

    • melinase January 24, 2019 at 12:18 pm Reply

      Anak perempuanku juga lincah, Mbak. Tapi cenderung lebih rapi. Kalau anak lelaki aduhai rasa penasarannya luar biasa banget. Segala macam benda dibongkar, hahaha …

  • Dian Restu Agustina January 24, 2019 at 9:26 am Reply

    Aku sudah baca dan setuju dnegan ulasan di atas.
    Buku ini padat berisi dan beneran..hasil pengamatan nyata di keseharian bagi yang memiliki anak laki-laki.
    Jadi ya berasa seperti apa yang kita alami juga .
    Buku dan review yang sama-sama ketjeee!

    • melinase January 24, 2019 at 12:18 pm Reply

      Apalagi yang meninggalkan komentar di sini, lebiiih ketje lagi.

  • innaistantina January 24, 2019 at 1:33 pm Reply

    waaa aku baru nunggu buku ini juga mba
    eh belum bayar ding
    wkwkkw

    tapi memang ya mb
    punya anak laki ituuuu
    sesuatuuu
    menyelami pola pikir
    dan juga tingkah lakunya
    keaktifannya yang WOW

    inilah kenapa
    jadi ibu anak laki
    kudu always setronggg
    xixixiixii

    happy parenting mb!

    • melinase January 24, 2019 at 3:38 pm Reply

      Seru abis, yaaa. Aku tiap hari dong jadi kuda keliling kamar. Untung nggak minta keliling rumah meskipun rumahnya juga iut-imut aja, hahaha …

      Happy parenting too ya, Mbak …

  • f January 24, 2019 at 11:18 pm Reply

    jadi ingat sama keponakan yang nggak bisa diam. Tetapi ada kalanya dia bisa mengerjakan sesuatu yang luar biasa. Tergantung bagaimana mengarahkan.

    • melinase January 25, 2019 at 2:59 pm Reply

      Setiap anak itu istimewa, Mbak. Selalu ada hal-hal mencengangkan yang dia bisa lakukan tanpa kita pernah menduga sebelumnya.

  • Nyk note January 25, 2019 at 7:46 am Reply

    Seru ya kayaknya punya anak cowok. Secara anakku cewek semua hehe. Keren deh baca ulasan buku “great mom strong son”. Padat dan berisi bnget…thx mb reviewnya

    • melinase January 25, 2019 at 3:01 pm Reply

      Anak cewek asyik banget kalau diajak gegayaan. Kalau anak cowok diajak seru-seruan. Jangan diajak pepotoan, manyun abiiisss, wkwkwk

  • Meirida January 25, 2019 at 2:43 pm Reply

    Wah, buku wajib utk yg punya anak laki-laki nih ya. Cocok deh utk aku yg baru melahirkan jagoan. Ntar aku pesen sama si mbok ah. Makasih reviewnya mbak. Menarik.

    • melinase January 25, 2019 at 3:02 pm Reply

      Yuhuuu … Pas banget ini, sih. Hayuk ah, bawa bukunya ke dalam kamar, qiqiqqi …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.