Suka Berpetualang di Alam Bebas? Yuk, Menjelajahi Suaka Elang Loji – Taman Nasional Gunung Halimun Salak

 

Tahun 2019 ini ceritanya saya sedang dilanda kangen yang teramat sangat. Kangen apa? Mendaki! Meskipun tergolong ke dalam kategori pendaki manja, yang namanya capek ngos-ngosan saat pendakian itu betul-betul punya sensasi luar biasa. Semakin berkeringat, saya semakin bersemangat. Tapi, sudah lama banget nih, saya nggak mendaki. Sepanjang tahun 2017-2018, kosong! Kesian banget, kaaan? Nggak punya teman, nggak tahu mau kemana, jadi saja terus muncul pertanyaan di kepala, “Jadi kapan mendakinya?”

 

Nah, sebagai penawar kangen berpertualang di alam bebas menjadi pilihan paling masuk akal saat ini. Alam bebas ya, bukan sekedar alam terbuka. Akhir tahun lalu sempat cari-cari info dan saya langsung klik dengan lokasi ini. Selama Desember 2018 hingga Januari 2019, anak-anak sudah terlalu sering saya tinggal keluar kota. Jadi, episode petualangan hari ini harus bersama mereka. Tentunya, lokasi juga harus disesuaikan dengan anak-anak dong, ya.  

PILIHAN WISATA ALAM BEBAS, KEMANA YA?

Salah satu enaknya tinggal di Bogor adalah dekat dengan wisata alam. Saya lebih suka kotor-kotoran di alam bebas dibandingkan jalan-jalan di mall. Stress gitu malah bawaannya. Untuk destinasi wisata alam, Kabupaten Bogor menjadi surganya. Jangan di kota, ya. Pusat kulineran dan factory outlet, boleh lah dipuaskan di kawasan kota. Nah, buat yang suka berpetualang di alam bebas, menjelajahi salah satu tempat di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) bisa menjadi pilihan.

Kali ini, saya memilih mengajak anak-anak berpetualang ke Suaka Elang Loji. Di sini, kita bisa menikmati menikmati hijaunya alam sekitar, persawahan, menuju ke camping ground. Lalu melanjutkan perjalanan dengan pendakian terjal yang butuh perjuangan menuju Curug Cibadak. Selain itu, ada jembatan gantung dan tentu saja tempat penangkaran elang. Selain itu, saya memilih tempat ini karena memang belum pernah kesini, wkwkwk … Alasan yang jujur tapi memprihatinkan padahal lokasinya nggak jauh-jauh amat dari rumah.

Seperti biasa, yang namanya anak-anak kalau mau jalan-jalan selalu heboh. Masih di rumah, tapi sudah cerita sana-sini kalau mau pergi jalan-jalan. Saya minta mereka tidur malam lebih awal supaya tetap segar saat melakukan perjalanan. Kami berangkat di hari Minggu. Sebenarnya, saya sudah merencanakan berangkat di hari Sabtu. Tapi ternyata ada jadwal parenting class di sekolah yang nggak mungkin saya tinggalkan karena ini menjadi kelas wajibnya orangtua murid di sekolah anak-anak. Tapi wajib nggak wajib sih, saya sebisa mungkin hadir. Kapan lagi coba dapat ilmu dalam mengasuh dan mendidik anak. Lokasinya dekat karena di sekolah. Jalan kaki pun cukup 10 menit saja. Jadi akhirnya, perjalanan kami undurkan ke hari Minggu.

MENUJU SUAKA ELANG LOJI

Suaka Elang Loji berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Taman Nasional ini sendiri membentang luas mulai dari Sukabumi, Bogor, hingga Banten. Suaka Elang Loji berlokasi di Desa Cijeruk, Kab. Bogor, Jawa Barat. Paling mudahnya, pasang Google Map saja, deh. Masukkan lokasi Penangkaran Elang Loji atau Suaka Elang Loji. InsyaAllah sampai lokasi. Babang GrabCar saja ketemu dengan bermodalkan map, masa kamu nggak? Wkwkwkwk …

Kami tiba di lokasi pukul 08.30. Cukup banyak orang yang sudah tiba di pos pendaftaran. Sebagian membawa tenda untuk berkemah. Duh, saya jadi kepengen kemping juga. Sayangnya nggak bawa tenda. Bisa menyewa sih, tapi perlengkapan kempingnya nggak ada. Apalagi besok anak-anak masuk sekolah. Ya sudahlah, kapan-kapan saja. Tiket masuknya Rp 10.000 saja untuk berkunjung. Kalau mau membuka tenda, membayar Rp 20.000 saja. Murah, kan?

Di pos pendaftaran ini, kami menyempatkan diri memesan segelas teh manis hangat buat putri bungsu. Biasa deh, doi suka pusing kalau naik kendaraan roda empat. Setelah sedikit merasa lebih baik, kami memulai perjalanan. Bismillahirrahmannirrahiim …

Kami melalui jalur pemukiman penduduk terlebih dulu sebelum menuju camping ground. Jaraknya sekitar 1,5 km. Kalau waktunya sih tergantung, ya. Tergantung apa? Tergantung stamina dan keinginan berfoto ria. Iyalah, pemandangannya di sana-sini hijau dan cantik banget. Anak-anak sempat jalan duluan di depan sampai nggak terlihat oleh pandangan mata saya. Eh, saya malah berhenti-berhenti buat foto.

Gayanya keren. Aslinya istirahat ambil napas.

Kami tiba di camping ground sekitar 45 menit kemudian. Anak-anak jalannya ngebut. Termasuk bungsu yang sempat mabuk, eh ternyata begitu memulai perjalanan malah mesinnya jadi panas dan wuzzz … tiba di sana lebih dulu. Kami beristirahat sekitar lima menit di pos jaga di camping ground. Membiarkan anak-anak minum dulu barang seteguk dua teguk dan mengunyah sepotong kecil kebab. Saya memang bilang supaya mereka makan dan minum secukupnya saja. Kalau terlalu kenyang, nanti malah susah jalan.

Saya sendiri nggak minum atau ngemil. Sengaja supaya badan tetap ringan diajak jalan? Aish, sudah ringan nih badan. Maksudnya mau ngirit karena sampai ke atas nanti nggak akan ada penjual makanan, wkwkwk …

Camping ground di sini cukup luas. Saat kami melintas, wah, penuh oleh tenda yang rata-rata diisi anak-anak muda. Deuh, saya juga masih muda, sih. Tapi bukan anak-anak lagi, gimana dooong? Tahu nggak sih, waktu saya melintasi tenda kuning itu, hidung saya kembang kempis mencium aroma ikan asin yang tengah digoreng. Jadi lapaaar … Hahaha …

Jadi pengen buka tenda kan, nih?

Camping ground di sini bernama Bumi Perkemahan Suaka Elang – Taman Nasional Gunung Halimun Salak. 

Kenapa suaka elang? Seperti yang tadi saya bilang, di kawasan ini terdapat tempat penangkaran elang. Lokasinya nggak terlalu jauh dari camping ground. Kami akan mampir kesana saat perjalanan turun saja. Sekarang mau lanjut dulu ke air terjun.

Tanda-tanda yang harus diperhatikan dan dipatuhi pendaki.
Cuma 900 mdpl. Yuk ah, lanjuuut!

Kalau saya perhatikan, pengelola Suaka Elang Loji ini sangat memerhatikan kenyamanan dan keselamatan hutan sekaligus pengunjung. Papan-papan petunjuk dipasang di tempat-tempat strategis sehingga sangat memudahkan kita dalam mencari arah.

Setelah tanda ini, kita langsung memasuki kawasan hutan yang cukup lebat. Informasi yang kami peroleh, kerapatan hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini paling bagus se-Indonesia. Kondisi ini menjadi tempat hidup yang sangat baik bagi satwa-satwa seperti elang jawa, macan tutul, owa jawa, dan aneka reptilia. 

Sebagian burung elang yang tidak mampu bertahan hidup di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, dipindahkan kesini karena kondisi hutannya lebih rimbun. Kalau beruntung, kami bisa saja menemui kawanan elang yang terbang di atas hutan. Tapi, suasana hutan gelap karena tertutup dedaunan. Nanti saja, saat perjalanan pulang.

Kami datang saat musim hujan dan nyaris sepanjang perjalanan anak-anak harus mengenakan jas hujan. Kalau saya sih, ala preman banget. Berjalan pakai jas hujan itu ribet banget kan, ya? Andaikan kami datang saat cuaca cerah, nggak yakin juga bisa melihat sinar matahari merangsek masuk ke dalam hutan. Karena ya itu, hutannya rimbun pisan.

Mendaki sambil hujan-hujanan, tetap bahagia.

Rute dari desa ke camping ground cukup terjal, tapi rute dari batas akhir camping ground menuju air terjun jauh lebih terjal. Jalanannya terus menanjak, berbatu, dan licin. Butuh stamina yang sangat baik untuk melaluinya. Perjuangan dimulai, kawan!

Di luar dugaan, anak-anak ternyata jauh lebih kuat. Mereka bergerak sangat cepat sampai saya tertinggal jauh di belakang mereka. Agak ngeri juga karena kami tengah berada di dalam hutan. Berkali-kali saya mencoba memanggil agar jarak kami jangan sampai terlalu jauh. Ya memang ada pengunjung lain, sih. Tapi tetap saja khawatir, ya. Namanya juga emak-emak.

Anak-anak itu ya, MasyaAllah … terus saja menanjak sambil berlari. Khawatir juga kan, kalau energi mereka habis di sini. Karena jarak kami sudah terlalu jauh dan nggak boleh berteriak di dalam hutan, jadilah saya yang ngebut mengejar mereka. Capek? Bangeeet! Tapi senang luar biasa.

Jalanan berbatu mendaki dari desa menuju camping ground

Berhubung saya mesti mempercepat langkah dalam rangka mencapai jarak terdekat menuju anak-anak, nggak sempat mengambil gambar tentang betapa terjalnya medan menuju air terjun. Pokoknya, jalan hanya bisa dilalui satu orang saja. Sisi kanan hutan lebat, sisi kiri jurang. Batu-batuannya besar-besar jadi kita sebenarnya tengah memanjat batu. Banyak yang berlumut jadi ekstra licin. Dibayangin sendiri dulu aja, ya, wkwkwkw …

Setelah tanda HM 800, akhirnya saya mendengar suara gemericik air. Artinya apa? Yes, kami sudah mulai dekat dengan aliran sungai. Artinya juga, air terjun sudah semakin dekat. Yeay! Semakin semangat! Go, go, go!

Oiya, mengenai HM 800 tadi, jadi setiap 100 meter, pengelola memberi tanda dalam satuan HM. Makanya tertera HM 100 sampai dengan HM 800. Ini jadi penyemangat banget buat para pengunjung yang lelah dan mulai kehilangan semangat. Eh, tinggal 100 meter lagi, nih! Asyik! Kira-kira begitu, ya.

Alhamdulillah … Sampai juga kami di air terjun. Sudah di sini pun masih harus berjuang berjalan di antara bebatuan. Curug Cibadak bukan termasuk air terjun yang tinggi. Mungkin karena posisi kami juga sudah berada di ketinggian yang lumayan, ya. Curug ini bentuknya berundak-undak. Kami naik ke kolam yang paling atas karena posisinya lebih aman untuk anak-anak.

Airnya, khas pegunungan banget. Bersih, dingin, segaaar. Duh, saya tuh ya, sebentar-sebentar makan – maklum lapar habis mendaki, lalu sebentar-sebentar cuci tangan. Enak banget sih rasanya saat air menyentuh kulit kita. Duduk-duduk dan main air di sini, betah banget rasanya. Apalagi sambil mendongakkan kepala, merinding … betapa Maha Baik-nya Allah menciptakan alam seindah ini untuk kita semua.

Kami mungkin belum akan beranjak kalau putri bungsu belum menggigil kedinginan. Jadi, mari kita turun saja ya, Dek. 

Kami bertiga turun dalam keadaan basah-basahan. Saya membawa baju ganti di dalam carrier, tapi anak-anak sudah mengerti aurat jadi mereka risih juga kalau berganti pakaian di air terjun. Bersembunyi di balik bebatuan besar pun juga nggak mau. 

Kami akan berganti pakaian di camping ground, sekalian makan siang dan menunaikan ibadah sholat. Saya mengenakan outfit yang cocok, semuanya fit dry jadi cepat kering di badan. Anak-anak nih yang kasihan. Soalnya pakai bahan katun semua. 

Kami berjalan turun dengan ekstra hati-hati karena kondisi bebatuan yang licin. Beberapa kali terpeleset tapi aman karena nggak sampai keseleo. Buat yang pernah mendaki, sebenarnya jalan menuju turun itu lebih berat dibandingkan saat naik. Beban seperti terkumpul di lutut. 

Akhirnya tiba di camping ground dengan selamat. Alhamdulillah …

Pakaian sudah kembali kering dan bersih, perut terisi, saya dan anak-anak kembali melanjutkan perjalanan. Saat melintasi tangga menuju pos jaga ke arah camping ground tadi, saya melihat ada jembatan gantung di sisi kiri pos jaga. Bagaimana kalau kita menantang keberanian dengan melintasi jembatan itu? Kira-kira ada apa ya, di sana? Informasi yang kami dapat sih, kalau kami beruntung bisa melihat elang terbang di atas jembatan. Kan nggak ada halangan rerimbunan hutan tuh, ya. Yuk, mari …

Yuhuy! Jembatannya goyang-goyang, nih.

Sayang sekali, meskipun sudah berjalan pelan sambil kepala mendongak ke atas sampai jembatannya bergoyang semakin kencang, kami belum juga menemukan elang melintas di atas jembatan. Yah, sayang banget. Tapi mungkin lebih baik begitu, sih. Kalau sampai kami melihat elang itu kemudian berteriak kegirangan, apa nggak semakin bergoyang kencang tuh jembatannya? Wkwkwkw … Jadi, cukup berfoto saja di sini buat kenang-kenangan sekalian pamer sama pembaca blog ini #Eh.

Selanjutnya kita kemana lagi? Masih ada satu area yang bisa kita tuju di kawasan ini, apalagi kalau bukan penangkaran elang? Ya, sesuai dengan namanya, Penangkaran Elang Loji ini memang mempunyai penangkaran khusus untuk beberapa jenis elang. Cara mencapainya mudah saja, kita kembali turun ke arah jalan saat berangkat tadi. Nanti ada petunjuk jalannya, kok. Tuh, pengelola di sini tuh apik banget, deh. Saya suka, saya suka!

Jangan membayangkan penangkaran yang luas banget gitu ya, teman-teman. Di kandang penangkarannya sendiri hanya ada lima kandang. Beberapa kandang hanya dihuni satu ekor elang saja, beberapa lainnya dihuni dua ekor elang. Di kandang, ada elang hitam, elang ular bido, dan elang berontok. Elang-elang yang masuk ke dalam penangkaran adalah spesies yang sudah nggak bisa lagi bertahan di alam liar. Sebagian besar dari mereka disita dari pemilik pribadi. Elang termasuk satwa liar ya, teman-teman. Saat dia nggak dilepas ke alam bebas, kemampuannya untuk bertahan hidup di alam liar menjadi lemah. Kasihan, ya? Makanya, yuk kita biarkan satwa-satwa liar hidup di habitat alaminya dengan bebas.

Akhirnya, selesai sudah petualangan kami seharian ini. Buat teman-teman terutama yang suka berpetualang di alam bebas seperti ini, cobain deh datang ke Suaka Elang Loji – Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Tapi ada beberapa informasi yang bisa saya sampaikan. Yuk, disimak.

DO's

  1. Mengenakan outfit yang nyaman. Sebisa mungkin mengenakan sepatu atau sandal gunung (dengan kaos kaki) atau sepatu kets yang di bagian bawahnya bisa menahan licinnya jalan. Daerah ini lebih sering diguyur hujan. Informasi yang pernah saya dengar, kawasan ini hanya memiliki tiga bulan cuaca cerah di sepanjang tahun. Jadi bisa dibayangkan ya, kalau tempatnya lembap dan licin. Untuk celana, hindari mengenakan bahan denim karena berpotensi merusak kulit. Untuk atasan, kalau punya kaos fit dry jauh lebih bagus karena cepat menyerap keringat dan kemudian kering.
  2. Membawa perlengkapan berpetualang seperti pakaian ganti, makanan, jas hujan, topi, air minum, obat-obatan pribadi, dan sandal jepit untuk berwudhu. Ingat, warung terakhir hanya ada sebelum area parkir. Ini pun hanya warung kecil yang menjual makanan dan minuman ringan.
  3. Ini jadi benda wajib banget untuk mengabadikan momen perjalanan kita. Pastikan batere penuh atau membawa power bank yang sudah terisi penuh juga. Di hutan kan nggak ada colokan listrik, ya.
  4. Berjalan dengan santai. Nikmati betapa indahnya alam sekitar kita. Berjalan santai juga membantu menghemat tenaga. Kan mau berpetualang bukan mau balapan. Bagi yang cepat pusing, ada baiknya membawa bekal sebotol teh manis panas untuk menambah energi. Membawa madu juga sangat bagus.
  5. Mengabadikan setiap momen di sana karena belum tentu kembali lagi, kan?
  6. Beramah-tamah dengan orang-orang di sekitar. Siapa tahu ada waktu-waktu kita membutuhkan bantuan mereka, kan?
  7. Membawa kendaraan pribadi. Teman-teman nggak akan menemukan angkutan umum dari desa ke terminal terdekat di daerah Cihideung. Jadi kalau mau nyaman, silakan membawa kendaraan pribadi. Kemarin pulangnya saya menyewa mobil ke penduduk setempat sampai terminal Cihideung dengan membayar Rp 80 ribu. Wow! Nah, dari terminal Cihideung, naik angkutan umum No.04A sampai ke depan Bogor Trade Mall. Tarifnya Rp 6.000 saja. Kalau sudah di depan Bogor Trade Mall sih gampang. Ini berada di jalan utama kota Bogor, kok.
  8. Tetap mematuhi peraturan yang ditetapkan pengelola ya, teman-teman. Peraturan tersebut dibuat untuk keamanan dan keselamatan bersama, tentunya.

DONT's

  1. Seperti layaknya alam bebas, hormatilah sekitar kita. Jangan mengucapkan kata-kata kasar, jorok, atau menyumpah.
  2. Saat mulai memasuki kawasan hutan (selepas camping ground), jangan bicara dengan suara keras atau malah berteriak. Di dalam hutan ada banyak satwa yang mengandalkan suara sebagai petunjuk jalan pulang menuju sangkar. Saat ada suara kita yang terdengar, ini akan merusak suara yang mereka jadikan petunjuk. Akibatnya, mereka bingung dan akhirnya tersesat nggak bisa menemukan jalan pulang. Kasihan, kan?
  3. Jangan membuang sampah sembarangan. Ingat untuk selalu membawa sampah kita turun. Apalagi kalau ada di antara kita yang membawa snack dengan kemasan berwarna mencolok. Hewan-hewan di sini sangat peka terhadap warna. Mereka akan sangat tertarik melihat warna-warna terang, mengira itu makanan, kemudian memakannya. Akibatnya, mereka tercekik kemasan makanan tersebut lalu akhirnya sakit dan mati. Nah, jangan sampai tingkah laku kita merugikan makhluk Tuhan yang lainnya, ya.
  4. Jangan sekali-kali melanggar petunjuk yang jelas terpampang, ya. Misalnya, nekat mendirikan tenda di luar area camping ground. Mau didatangi kera atau malah macan tutul ke dalam tenda?

Alhamdulillah, petualangan kami sangat menyenangkan meskipun singkat saja. Saya senang, anak-anak juga senang. Meskipun kami sempat terlunta-lunta karena nggak tahu mau pulang naik apa, wkwwkwkwk …

Kapan-kapan kami mau melanjutkan petualangan ke alam bebas lainnya. Sepertinya di lain waktu, perlu membawa tenda lengkap dengan perbekalan masak-memasak, nih.

Bagaimana dengan teman-teman, suka berpetualang di alam bebas juga? Yuk, berbagi cerita di sini.

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

19 Comments

  • Lidha February 1, 2019 at 10:52 am Reply

    waw pepohonan itu… masyaAllah.
    hunting foto pohon yang begitu yg saya incar sejak lama.

    • melinase February 1, 2019 at 3:42 pm Reply

      Aih, suka foto pohon yang mana memangnya? Jadi penasaran nih aku hihihi …

  • Nurdiah February 2, 2019 at 7:51 am Reply

    Mbak…seru bangets nih…emang ada macan tutulnya ya, berasa serem serem gimana. Seperti kalo ke gua kapur wonosari. Masih ada macannya juga.
    Sayangnya si elang sudah tidak keluar pagar…bener bener seperti buring dalam sangkar

    • melinase February 2, 2019 at 6:18 pm Reply

      Sepertinya kalau macan tutul masuk ke hutan yang lebih dalam lagi. Tapi memang ada sih, katanya. Iya tuh, elangnya kasihan banget. Gimana dong, jiwa predator mereka udah lemah sih, huhuhu …

  • Kholifah February 2, 2019 at 4:44 pm Reply

    Petualangan yang sangat menyenangkan, Mbak Melina. Saya suka, saya suka.
    Jadi kangen bertualang lagi… #sambil ngebayangin.

    • melinase February 2, 2019 at 6:17 pm Reply

      Sangat menyenangkan. Aku mau lagi, ah. Kemana, yaaa? Hahaha …

      Jangan ngebayangin aja, yuk barengan sama aku hihihi …

  • Yasinta Astuti February 2, 2019 at 9:40 pm Reply

    Seru banget, ga sabar pengen io dan ia segede gini jadi bisa diajakin jelajah kemanaaaa gitu.
    Dan mbak mel kok kaya adek kaka ini mah, licik ahh :p

    • melinase February 2, 2019 at 9:54 pm Reply

      Ia jangan buru-buru gede, ihhh. Ntar baju rajutnya nggak sempat dipake, wkwkwkwk …

      Yang kayak adeknya anakku atau akunya? #Eh emaknya mabok hahaha …

  • Profita Institute February 3, 2019 at 4:37 am Reply

    It’s an amazing journey, I’m sure!

    • melinase February 3, 2019 at 4:38 am Reply

      Yes, of course laaah …

  • fuatuttaqwiyah February 3, 2019 at 6:49 pm Reply

    jalan-jalannya bikin mupeng. serunya jalan bertiga sama anak-anak yang kuat dan luar biasa. Tenaganya itu lho.

    • melinase February 3, 2019 at 7:15 pm Reply

      Orangtua seringkali khawatir apakah anaknya sanggup menempuh jarak jauh, terjal, dan tinggi. Faktanya, orangtua yang akhirnya khawatir apakah sanggup menyusul anaknya yang sudah jauh di depan, hahaha …

  • STIFIn Parenting Workshop; Sudah Sejauh Mana Orangtua Siap Mengantarkan Putri-Putrinya ke Gerbang Kesuksesan? - Melina Sekarsari February 4, 2019 at 9:03 am Reply

    […] Suka Berpetualang di Alam Bebas? Yuk, Menjelajahi Suaka Elang Loji; Taman Nasional Gunung Halimun Sa… […]

  • Dawiah February 4, 2019 at 5:22 pm Reply

    Dan saya cemburu lihat keseruan keluarga ini, hihihi…
    Mau juga seperti itu, tapi sekarang anak-anak sudah dewasa dan jauh dari rumah. Hiks
    Eh kok malah curcol sih.

    • melinase February 4, 2019 at 5:52 pm Reply

      Wah, membaca curcolannya Bunda aku semakin ingin menciptakan petualangan seru lainnya bareng anak-anak. Kalau sudah jauh dari rumah seperti anak-anak Bunda, kan jadi tinggal membaca ulang tulisan-tulisan yang kutinggalkan di sini. Membayangkan mereka semakin bertambah besar kemudian jauh dari rumah, kok sedih, ya? Hiks hiks.

  • nusa penida tour February 14, 2019 at 12:56 pm Reply

    wah kayanya seru ya naik gunung. mau ngajak istri sekarang lagi hamil 4 bulan, kalo udah lahiran kasian dede masa di tinggal. harus cari waktu yang tepat.

    • melinase February 14, 2019 at 2:16 pm Reply

      Wah, kalau itu harus bersabar dulu ya, Mas. Jadi suami siaga dulu, hahaha …

  • Himawan Sant February 14, 2019 at 4:53 pm Reply

    Akhirnyaaaa .. keinginan kak Melina bisa hiking lagi kesampaian …, beruntungnya anak-anak juga punya minat yang sana dengan kak Melina,ya
    Jadi anak ibu kompak gitu 🙂

    Aku kebayang jalur trekkingnya yang licin mengingat itensitas hujan wilayah Bogor itu gede banget, dikit-dikit hujan.

    • melinase February 15, 2019 at 5:33 am Reply

      Haai … Iyaaa, akhirnyaaa. Sekarang mau lanjut nge-camp, ah. Alhamdulillah banget mereka juga suka kegiatan di alam bebas. Tepatnya aku biasakan sih. Banyak belajar dari alam itu bagus. Iyaaa, kalau di Suaka Elang Loji, nggak musim hujan pun ya memang sering hujan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.