STIFIn Parenting Workshop; Sudah Sejauh Mana Orangtua Siap Mengantarkan Putri-Putrinya ke Gerbang Kesuksesan?

Belum lama ini seorang teman bercerita pada saya. Tentang aturan di rumahnya yang seringkali menjadi seperti kalimat “I Love You” yang dirangkai susah payah di atas pasir, namun kemudian hilang tersapu ombak. Menghabiskan tahun-tahun dengan bekerja, karena alasan keluarga, akhirnya dia memutuskan kembali ke rumah. Keputusan mengasuh batita yang seringkali tak sempat diajak bermain sebelum pergi bekerja. Dia membiarkan rumah berantakan. Memilih mengajak batita beraktivitas fisik di luar rumah sambil bercerita. Sebuah cara menjalin ikatan antara ibu dan anak yang indah, ya?

Pagi beranjak siang, siang menuju sore, matahari tenggelam lalu malam datang. Rangkaian “I Love You” tadi tersapu ombak yang pulang. Siapakah ombaknya? Yes, suaminya sendiri, ayah dari putranya. Seharian berhasil melepaskan sang putra dari gadget, namun saat sang ayah pulang, gadget kembali diberikan.

Senjata sakti orangtua (Source: Pexels)

Ada banyak ombak seperti itu di luar sana. Orangtua seringkali menjadikan gadget sebagai pengganti dirinya saat tubuh terasa lelah tapi sang buah hati masih menyimpan energi besar untuk diajak bermain. Harus mau mengakui, dulu saya juga begitu. Kepala penuh dengan beban pekerjaan di kantor, bahu pegal membawa tas besar dengan banyak isi, kaki pegal berdiri di kereta dari Stasiun Pasar Minggu hingga Stasiun Bogor, dan masih banyak alasan lain yang semakin menjadikan diri saya sebagai manusia yang ingkar dari doa.

Apa hubungan dari ingkar dan segala kelelahan itu?

Hai Para Orangtua, Dulu Pernah Meminta Apa dari Sang Maha Pemberi?

Jauh-jauh hari, anak-anak sudah kegirangan mendengar kata hiking. Ya, sejak Desember lalu saya sudah merencanakan perjalanan pendakian ke air terjun bersama mereka. Sekitar seminggu sebelumnya, rencana pendakian tersebut nyaris gagal. Saya menerima pesan dari leader Level 1 di sekolah bahwa Sekolah Islam Ibnu Hajar mengundang kami para orangtua untuk menghadiri workshop STIFIn Parenting. Acara akan diadakan pada hari Sabtu, 26 Januari 2019. Persis di hari yang sama dengan rencana pendakian kami. Ingin mengundurkan ke hari Minggu tapi sebenarnya selama ini saya menghindari anak-anak berlelah ria di hari itu. Maksudnya sih supaya Senin tetap bisa bersekolah dengan bugar. Tapi karena saya nggak ingin bolos di acara orangtua ini dan menunda pendakian ke minggu depan rasanya terlalu lama, akhirnya perjalanan pendakian yang kami undurkan ke hari minggu. Selisih satu hari saja. Anak-anak bisa menerima. Mereka tahu ibunya suka belajar, wkwkwk … Anak-anaik baiiik …

Cerita tentang perjalanan pendakian kami bisa dibaca di sini, ya …

Suka Berpetualang di Alam Bebas? Yuk, Menjelajahi Suaka Elang Loji; Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Hujan terus-terusan mengguyur sejak seminggu terakhir. Termasuk pagi itu. Saya dan teman-teman orangtua murid lainnya saling bertukar kabar di group. Saya tentunya memastikan juga bahwa acara tetap berjalan, kami semua tetap hadir, tiba terlambat nggak masalah, meskipun sayang sekali kalau sampai ketinggalan materi.

Setibanya di sana, MC yang digawangi oleh Ibu Ratna – perwakilan dari Sekolah Islam Ibnu Hajar, sudah mulai menyapa para orangtua. Aula Mesjid tampak belum terlalu ramai. Baru ada segelintir orangtua yang duduk di atas karpet terhampar. Panitia sudah hadir di meja pendaftaran. Siap mendata orangtua yang hadir lengkap dengan menawarkan pulpen dan kotak konsumsi. Alhamdulillah, dapat snack. Setuju kan ya kalau hujan itu membawa tetesan rindu rasa lapar? Khusus kopi dan teh, peserta boleh mengambil sendiri. Saya memilih kopi hitam karena kombinasi hujan dan makanan seringkali menciptakan hawa ngantuk.

Selesai membuka acara, artis pembicara yang ditunggu-tunggu akhirnya maju ke depan. Seperti biasa, Miss Hiday menyapa kami dengan suaranya yang lantang dan bersemangat. Membuat pagi yang terus saja dikunjungi tetesan hujan terbebas dari sensasi ingin membenamkan kepala di atas bantal.

Ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada kami para orangtua.

“Masih ingat doa saat Bapak Ibu semua masih lajang?”

Ingin memperoleh jodoh yang shalih/shalihah.

“Setelah Allah berikan jodoh, doa apalagi yang disampaikan?”

Ingin lekas diberikan dititipkan janin di dalam kandungan.

“Setelah mengandung, doanya apalagi?”

Ingin diberikan putra-putri yang shalih shalihah.

“Setelah putra-putri shalih shalihah lahir apa yang terjadi?”

Anak dititipkan.

“Sama siapa? Sekolah? Mbak pengasuh?”

Pertanyaan demi pertanyaan yang disambut suara grrrr dari seisi ruangan.

“Lantas, apa arti doa kita selama ini?”

Keluarga bahagia. Ini kan, doa kita? (Source: Pexels)

Dear Orangtua, Bagaimana Peranmu di Rumah?

Semua orang berhak mengambil keputusan dalam hidupnya, termasuk dalam hal mencari nafkah. Ada yang cukup suami saja yang bekerja, suami istri bekerja, atau ibu harus bekerja karena berstatus sebagai single mom. Namun, mengantarkan anak menuju gerbang keberhasilan tetap menjadi keharusan dan tentunya keinginan orangtua juga, bukan?

Di workshop ini, Miss Hiday mengingatkan kembali kepada kami para orangtua tentang peranan pentingnya dalam keberhasilan anak-anak di masa depan. Sehubungan Sekolah Islam Ibnu Hajar mengusung konsep STIFIn, maka kelas wajib orangtua juga diisi dengan konsep mendidik anak sesuai STIFIn. Miss Hiday menjelaskan bahwa STIFIn bukan hanya membantu orangtua fokus pada cara mendidik anak, melainkan juga memerhatikan kebutuhan orangtua untuk menjadi sumber energi bagi anak.

Siapkan orangtuanya, baru membenahi anak-anaknya.

Seperti cerita tentang rangkaian “I Love You” dan ombak tadi, di setiap rumah, seringkali ada kerancuan peran pemimpin dalam pengasuhan. Satu membangun, satunya lagi merusak. Entah ayahnya atau ibunya. Hal ini akan membuat anak bingung.

Siapa di sini yang melarang putra-putrinya mengonsumsi es krim tapi kakek dan neneknya malah membelikan dengan senang hati? Tinggal bersama orangtua, saya juga mengalami hal serupa. Anak-anak sudah saya beri ketentuan untuk mengonsumi mie instant seminggu sekali saja. Tapi ibu saya di rumah memberikan mie instant kapan pun anak-anak menginginkan. Aturan rusak? Iya, banget, huhuhu #MalahCurhat

Tapi memang itu yang terjadi ya, Moms and Dads, anak-anak sering mencari sosok ‘malaikat pemberi jajanan’ di luar kita sebagai orangtuanya. Dulu saya nggak begitu sih, karena kakek saya gualak, wkwkwk …

Intinya, dalam pengasuhan, orangtua seringkali bingung ada di posisi apa perannya di rumah. Padahal, di dalam rumah kita wajib ada Parent Leader sebagai sosok pemimpin dalam pengasuhan anak. Ini berbeda dari kepala keluarga, ya.

Tentukan Parent Leader di Keluarga Kita

Untuk pertama kalinya, saya – nggak tahu ya kalau teman-teman orangtua murid yang lain, mengenal pendekatan pola asuh, sebagai berikut:

  1. Pendekatan Mengalir vs Terdesain
  2. Pendekatan Intervensi vs Pembiaran

Tahu nggak sih, padahal informasinya ada di dalam buku I Know You. Saya sempat baca sih, tapi belum mudeng. Alah, ngeles aja emak-emak ini, yes. Yuk, kita belajar sama-sama di sini.

Pendekatan Mengalir

  • Mengalir
  • Membiarkan anak mengalir tanpa perencanaan
  • Setiap kejadian pada anak ditanggapi secara reaktif
  • Menyelesaikan masalah anak demi keperluan saat ini
  • Memberi keleluasan pada anak pada pengaruh luar
  • Membiarkan anak memilih sendiri teman mainnya

Pendekatan Terdesain

  • Terdesain
  • Merencanakan program anak secara cermat
  • Menjaga anak penuh antisipasi dan proaktif
  • Menyelesaikan masalah anak dengan perpektif jangka panjang
  • Cenderung membatasi anak dari pengaruh luar
  • Menyeleksi teman-temannya

Pendekatan Intervensi

  • Memberi perhatian yang besar untuk program aktivitas anak
  • Siap mengurus anak hingga lelah lahir batin
  • Bersedia mengeluarkan uang hingga batas kemampuannya demi keberhasilan anak
  • Menjaga kualitas hubungan dengan anak sebaik-baiknya

Pembiaran

  • Membiarkan anak mengurus sendiri program aktivitasnya
  • Tidak mau dibuat lelah lahir batin dengan urusan anak
  • Belanja untuk kebutuhan anak bukan prioritas nomor satu
  • Hubungan dengan anak berjalan alakadarnya
  • Melepas masa pertumbuhan lebih dini meskipun anak belum matang

Coba deh, Moms and Dads mau pilih pendekatan yang mana? Kalau saya sih memilih pendekatan terdesain dan intervensi. Nggak apa-apa deh, disebut rempong, yang penting putra-putri terarah kan, ya? Semoga nggak salah memilih dan yeay! Menurut Miss Hiday, pilihan yang sangat disarankan memang pendekatan terdesain dan intervensi. Dapat hadiah nggak, nih? Eh, ternyata nggak. Coba ya, kalau ada workshop dapat hadiah apa gitu. Kan saya semangat kalau mau jawab-jawab pertanyaan. #Nyengir

Buat yang belum tahu buku I Know You, boleh yuk menyimak ulasan yang pernah saya tulis.

Review Buku; I Know You Karya Miss Hiday; Mengenali Bahasa Cinta Orang Tercinta

Nah, bagaimana memilih parent leader? Ayah atau ibu, nih? Tentunya seorang parent leader haruslah orang yang memiliki pengaruh besar di dalam keluarga. Bisa merancang dan menjalankan pendekatan intervensi dan terdesain tadi dengan penuh jiwa raga. Siap berlelah-lelah banget, deh. Kalau versinya Miss Hiday, ini yang namanya Sense of Giving. Iya, seorang parent leader harus mempunyai Sense of Giving yang luar biasa. Kayaknya saya cocok deh, nih #PedeAbis.

Idealnya, parent leader itu adalah sosok ayah. Tapi ayah yang katanya sibuk di kantor, jadwal rapat merayap, sanggup nggak hayooo ditelepon istri di rumah untuk urusan printhilan, “Hai, boss ayah, adek minta dibelikan mainan, nih. Kasih, nggak?”

Saya kok nggak yakin yaaa, kebanyakan ayah sanggup dijejali urusah remeh-temeh di sela-sela rapat negosiasi dengan klien? #MaafkanKetidakpercayaanSaya

Tugas Parent Leader Itu Apa, Sih?

Sudah ngobrol sana-sini soal parent leader, lalu kami belajar lebih jauh tentang tugas seorang parent leader. Begitu tahu tugasnya segambreng, kepala saya jadi tang ting tung teng tong. Banyak beneeer! Nggak ada bayaran uang, pula #Oups … Jadi orangtua harus ikhlas, harus ikhlaaas …

Ini dia tugas utama parent leader:

  1. Menentukan arah
  2. Membangun tim
  3. Membuat keputusan strategis

Sampai di bagian ini, terdengar oleh saya suara lebah-lebah berdengung para ayah dan ibu yang sibuk diskusi siapa parent leader di dalam keluarga mereka nanti. Sehubungan saya berstatus sebagai single mom, sudah jelas parent leader ada di kendali saya. Tapi, bapak ibu saya suka begitu, tuh, meruntuhkan istana republik kamar saya dengan membolehkan yang saya bilang nggak boleh. #HaduhCurhatLagi.

Siapa saja boleh kok, sepanjang itu tadi ya, mempunyai Sense of Giving. Asaaal jangan diserahkan ke mbak pengasuh di rumah ya, Moms and Dads. Nanti ditanya Allah bingung lho, hihihi … LPJ alias Laporan Pertanggung Jawaban sebagai orangtua gimana, hayooo?

Atmosfer Sesuai Parent Leader

Waktu terus berjalan, hujan sudah berhenti, materi workshop semakin serius saja. Miss Hiday kok malah jadi mengajak kami para orangtua belajar IPA begini, ya? Bawa-bawa atmosfer segala. Olala, ternyata atmosfer ini maksudnya suasana pengasuhan yang nyaman agar parent leader bisa menjalankan tugasnya dengan optimal. Kan parent leader pun punya perasaan ya, bisa marah, kesal, sedih, jadi kehilangan mood, deh.

Salah satu yang bisa dilakukan agar menemukan atmosfer yang nyaman yaitu dengan cara memilih parenting style yang paling sesuai. Seperti biasa, pastinya disesuaikan juga dengan bakat alaminya. Saat materi ini, kepala saya langsung berpikir nih, anak-anak saya begini dan begitu, jadi cocoknya yang mana, ya?

Miss Hiday memaparkan parenting style yang tersedia dan mana-mana saja yang bisa dijadikan alternatif pilihan bagi parent leader. Sehubungan saya adalah seorang Sensing yang belahan otak dominannya ada di limbik kiri, saya punya pilihan untuk menerapkan daya pengasuhan model kiri, gaya bawah, dan gaya produksi. Saya memilih gaya produksi karena anak-anak suka membuat ini itu dan saya tipe orangtua yang kalau mereka membuat sesuatu, nggak pernah saya bilang jelek. Semua bagus yang penting mereka berani melakukan sesuatu. Eh, ini udah betul belum, ya? Wkwkwk #Galau

Ini dia pilihan parenting style yang bisa kita pertimbangkan. Apa tuh, pakai gaya-gayaan? Memangnya mau berenang? Tenaaaang … Detilnya ada kok di buku I Know You. *kedipkedip

Gaya Kiri

Gaya Kanan

Gaya Atas

Gaya Bawah

Gaya Organisasi

Gaya Produksi

Langkah Parent Leader dalam Membawa Anak pada Kesuksesan

Katanya kan STIFIN Parenting itu bertujuan mengantarkan setiap anak menuju keberhasilan. Nah, caranya bagaimana? Ini mungkin menjadi pertanyaan para orangtua yang hadir di lokasi. Tenang, Miss Hiday sudah menyiapkan semua jurus-jurusnya. Ada yang namanya aksi sukses parenting ala STIFIn dengan mengaplikasikan Teori Sirkulasi STIFIn dan mengombinasikan hubungan parent leader dengan anak berdasarkan mesin kecerdasannya. Semuanya diulas lengkap di acara workshop ini.

Workshop ini merupakan yang kedua di tahun ajaran 2018-2019. Sesi pertama dulu saya nggak sempat mengulas karena datang terlambat #MintaDijewerBanget.

Sebenarnya, konten dari workshop ini sendiri dikupas lengkap di dalam buku I Know You. Sudah pada punya, beluuum? Hihihi … Mulaiiik. Meskipun saya sudah membaca sampai akhir, tapi rasanya berbeda kalau bertemu ahlinya langsung. Apalagi buat saya yang kalau belajar tanpa melihat gurunya tuh terasa ada yang kurang. Soalnya saya biasa mengingat dengan memerhatikan gesture-nya guru tersebut.

Workshop STIFIn Parenting ini isinya bermanfaat banget. Seperti biasa, interaksi antara pembicara dengan peserta berjalan seru. Panitia juga membagikan kertas untuk diisi oleh kami para orangtua. Ini semacam program parent leader yang ingin kami terapkan di rumah. Jadi nggak ada tuh yang namanya belajar sambil jenuh atau mengantuk. Apalagi setiap mengisi acara, Miss Hiday pasti menyempatkan diri menyanyikan sebaris dua baris lagi dengan suara merdunya. Kurang sih, sebetulnya. Kenapa sih nggak satu album sekalian, ya kaaan? #MulaiMintaDipites

Akhirnya, acara selesai dengan saya yang sibuk mereka-reka, mau menempel ini itu di dinding kamar, diwarnai, biar jadi pengingat kalau khilaf. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama daaan foto-foto. Saya dan teman-teman, siiih …

Jadi, sudah siap membawa putra-putri ke tercinta gerbang keberhasilan kan ya, Moms and Dads? Siapkan diri kita sebagai orangtua dulu, yuk. Sampai jumpa di workshop STIFIn berikutnya.

The Happier Me,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

10 Comments

  • Haeriah February 6, 2019 at 9:19 am Reply

    Masya Allah, jadi pengen ikut workshopnya. Jadi orang tua itu memang tidak mudah *hufh, melirik 5 anak-anakku.
    Semoga kita diberi kekuatan dan kemudahan untuk menjadi orang tua-orang tua shaleh dan membawa anak-anak kita menjdi anak-anak yang sholeh dan sholehah.

    • melinase February 6, 2019 at 7:49 pm Reply

      Saya aja ketagihan sesi-sesi berikutnya, Bunda. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Sungguh tugas mendidik amanah-amanah ini tidaklah mudah karena surga balasannya, InsyaAllah.

  • Dian Restu Agustina February 6, 2019 at 3:52 pm Reply

    SAlfok sama makanannya.
    memanrik nih STIFIN Parenting. Jadi tambah ilmu saya.
    Semoga kita makin semangat bersiap diri mengantar putra-putri ke gerbang kesuksesan ya Mbak

    • melinase February 6, 2019 at 7:50 pm Reply

      Bacanya pas waktu makan siang kayaknya, nih, hahaha …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terus belajar kita sebagai orangtua ya, Mbak.

  • Ninin February 7, 2019 at 9:57 am Reply

    Ak blm jadi org tua, baca ini jd deg2an bisa jd org tua yg baik gak yaa….

    • melinase February 7, 2019 at 4:17 pm Reply

      Nah belajar jadi orangtua sebelum menikah, Mbak. Udah on the track ini, kan? Semoga didekatkan, yaaa … Aamiin.

  • Nyk note February 8, 2019 at 7:02 am Reply

    Saya setuju pendekatan terarah dan intervensu mb. Sebab mnurutku lebih terencana hingga bs memghasilkn apa yg kita inginkn. So infonya lenfkap detil terinci fan bth waktu mmbaca pelan-pelan untuk memahaminys. Mksh ya atas ulasannya yg bermnfaat bnget…

    • melinase February 8, 2019 at 7:39 am Reply

      Rempong sekarang nggak apa-apa ya Mbak, daripada repot saat mereka dewasa.

      Yuhuuu … Sama-sama, yaaa …

  • STIFIn Learning Workshop; Menemukan Kunci Kebutuhan Agar Belajar Terasa Asyik - Melina Sekarsari February 12, 2019 at 9:08 am Reply

    […] STIFIn Parenting Workshop; Sudah Sejauh Mana Orangtua Siap Mengantarkan Putri-Putrinya ke Gerbang Ke… […]

  • Menulis Seputar Parenting Terus? Ada Alasan dan Tips Buat Diintip, Lho ... - Melina Sekarsari February 15, 2019 at 3:04 pm Reply

    […] STIFIn Parenting Workshop; Sudah Sejauh Mana Orangtua Siap Mengantarkan Putri-Putrinya ke Gerbang Ke… […]

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.