STIFIn Learning Workshop; Menemukan Kunci Kebutuhan Agar Belajar Terasa Asyik

"Mas, Adek, jam 5 kita belajar, ya ...."

Tepat pukul lima, kami bertiga sudah duduk bersama. Mulai belajar? Nggak. Oiya, berdoa dulu, ya?

Itu sih wajib. Tapi bukan itu, ada yang lain.

"Pensil aku nggak ada."

"Penghapus aku nggak ada."

"Rautan aku nggak ada."

Dan saya akhirnya berkata sambil merapatkan gigi, "Cari!"

Itu terjadi setiap kali anak-anak mau belajar. Saya nggak paham kenapa mereka begitu ceroboh dalam menyimpan perlengkapan belajarnya. Saya maunya mereka seperti saya yang semua perlengkapan belajar ada di dalam satu tempat, mulai dari pensil, pulpen, penghapus, rautan, spidol, paper clip, binder clip, stapler dan staples-nya.

Hi Moms and Dads,

Pernah mengalami hal serupa?Mungkin nggak benar-benar mirip seperti itu. Saat anak sebenarnya sudah mau belajar tapi konsentrasinya terganggu karena urusan remahan seperti mencari pensil yang menghilang.

Permasalahan orangtua dalam mengajak putra-putrinya belajar tentu berbeda-beda. Mungkin ada yang putra-putrinya sulit sekali diajak belajar karena maunya bermain terus, kecanduan gadget, asyik nonton televisi, maunya belajar bareng teman, atau sudah murung duluan saat mendengar kata ‘belajar’.

Bagi yang putra-putrinya sudah suka belajar tanpa orangtua harus mengeluarkan kalimat dengan oktaf beberapa kali lebih tinggi, bersyukurlaaah, huehehehe …

Source: Pixabay

Di rumah saya, anak-anak sangat mudah diajak belajar bersama. Selama ditemani mamanya, mereka nyaman belajar. Soalnya kalau belajar, mamanya kebanyakan bercerita. Jadi belajar rasa didongengin. Tapi setiap kali belajar, saya seringkali manyun. Mau mulai belajar saja mesti mencari pensil, penghapus, rautan, macam-macam, deh. Semangat belajar yang tadinya mengembang seketika mengempis manakala mereka nggak mendapati peralatan tulis di dalam kotaknya. Salah siapa? 

Saya seringkali merasa bingung, kenapa sih yang namanya pensil, penghapus dan rautan pensil itu begitu sering hilang? Nantinya bakal ketemu, sih. Tahu, kapan? Saat saya bersih-bersih rumah. Semuanya akan ditemukan diii … kolong tempat tidur. Yes, bahkan bukan hanya tiga benda keramat yang sering hilang itu. Ada krayon, bricks, sisir, sapu kasur, buku, kertas warna, kaos kaki, karet rambut, dan uang recehan.

Sebegitu hebatnya kah kemampuan menghilangnya pensil, penghapus, dan rautan pensil dalam menurunkan minat belajar anak?

Jangan salah, bisa banget. 

Sekolah Islam Ibnu Hajar dan STIFIn; Dua Berkah Luar Biasa

Kenapa sih dulu saya memilih menyekolahkan anak-anak di Sekolah Islam Ibnu Hajar? Jangan diketawain, ya. Alasannya karena tetangga-tetangga saya juga menyekolahkan anak-anaknya di sana. Ya Tuhan, bahkan urusan menyekolahkan anak pun saya nyontek sama tetangga. Nggak apa-apa, yang penting jaman sekolah saya nggak pernah nyontek, kok. Bahkan se-nggak bisanya saya mengerjakan ulangan Bahasa Sunda dulu, saya tetap mengisi secara penuh tanpa ada ruang kosong. Katanya nggak bisa? Kok bisa jawabannya panjang? Ya, jadi jawabannya terdiri atas Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, dan Bahasa Inggris. Daripada nyontek, kan? #NekatBanget

Saat mendaftar, ternyata sekolah ini menggunakan konsep STIFIn. Wah, ini sih bagus banget. Sejak lama saya belajar STIFIn – kira-kira tahun 2013. Bahkan tim kerja saya dulu juga ikutan tes, lho.

Lebih enak lagi, di sini bukan hanya anak-anak yang belajar. Orangtua pun sama. Ini seperti jadi penawar dahaga buat saya yang suka banget belajar. #EmakRajinMahGini

Suasana kebon jati yang adeeem ...

STIFIn Learning; sebab Orangtua Harus Tahu Kebutuhan Belajar Anaknya

Berkaca ke cerita tentang anak-anak saya yang langsung murung saat nggak menemukan alat tulisnya, sebagai orangtua kita mesti kenal banget nih kebutuhan belajar anak-anak sebenarnya seperti apa. Kali ini, saya bersama orangtua murid yang lain kembali berkumpul untuk belajar dalam STIFIn Learning. Siapa pembicaranya? Masih bareng Miss Hiday, dong.

Jadi, ini merupakan kelas orangtua yang ketiga untuk tahun ajaran 2018-2019. Ulasan dari kelas sebelumnya di dua minggu lalu, sudah baca? Ada di sini, ya.

STIFIn Parenting Workshop; Sudah Sejauh Mana Orangtua Siap Mengantarkan Putri-Putrinya ke Gerbang Kesuksesan?

Ini adalah kelas yang istimewa banget buat saya. Jadi begini, tanggal 9 Februari semestinya saya berangkat ke Yogyakarta dalam rangka bekerja. Tapi ternyata sejak sebulan lalu saya nggak ingin terbang. Nggak tahu kenapa. Seperti ditahan untuk tetap di Bogor. Ternyata salah satunya karena seminggu sebelum itu, saya malah dapat undangan dari sekolah untuk hadir di workshop ini. Acara diadakan pada hari Sabtu, 9 Maret 2019. Allah luar biasa banget ya, mengatur semuanya. 

Lewat workshop ini juga saya jadi memahami bahwa kebutuhan belajar setiap anak itu berbeda. 

Itu sebabnya orangtua mesti memahami anak-anaknya dari A-Z sebelum belajar. Daaan, karena ini workshop-nya STIFIn, sudah tentu menyesuaikan dengan potensi genetik. Masih pada ingat kan, potensi genetik putra-putrinya apa saja? Kalau saya sih ingat banget. Kali ini bukan karena saya diberi kelebihan memori yang kuat, tapi karena kami Sensing semua! Horeee …

Source: Ketemu Miss Hiday lagi ...

Seperti pada workshop sebelumnya, kami para orangtua diberikan beberapa lembar worksheet untuk dikerjakan, menyesuaikan dengan tahapan materi yang disampaikan. Setiap orangtua diminta menuliskan tantangan belajar seperti apa sih yang sering dihadapi di rumah.

Kebutuhan Belajar Apa Saja Sih yang Perlu Orangtua Ketahui?

Banyak orangtua yang ingin putra-putrinya ke depan menjadi orang hebat. Ada yang sudah menentukan putra-putrinya mau dijadikan apa – ini seperti mewariskan paksa cita-cita orangtua yang kandas, membolehkan putra-putrinya memilih dan orangtua sekadar mendukung dan mengarahkan, atau ada juga yang membebaskan putra-putrinya memilih yang penting sukses. Padahal sih kadar sukses setiap orang bisa berbeda, ya.

Apapun itu, tentu mereka harus dipersiapkan dari sekarang dong, ya. Salah satunya dengan giat belajar. Tapi orangtua sudah tahu belum sih, kebutuhan belajar masing-masing putra-putrinya di rumah? Kalau kebutuhan belajar saya sih gampang. Selama berada di tempat yang lengang dan perut terisi, saya sudah bisa konsentrasi belajar. Cukup terisi, jangan sampai kenyang. Perut kenyang selalu membuat saya ngantuk, huehehehe …

Di STIFIn Learning ini, saya dan orangtua murid lainnya belajar bagaimana mengetahui kebutuhan belajar putra-putri kami sesuai dengan potensi genetiknya. Jadi STIFIn ini istimewa sekali. Bisa digunakan untuk mengenali diri sendiri dan orang-orang tercinta di sekitar kita. Termasuk kebutuhan belajar juga dibahas. Kebutuhan belajar putra-putri kita di rumah berbeda-beda lho, Moms and Dads.

Apa saja sih kebutuhan belajar yang harus kita ketahui?

A. Persiapan

Di workshop kemarin, tiba-tiba Miss Hiday melemparkan sebuah benda ke arah salah satu orangtua. Beliau nggak sempat menangkapnya, jadi membiarkan benda tersebut jatuh ke atas karpet. Kenapa beliau membiarkan benda tersebut jatuh? Tak lain karena nggak ada persiapan. Beliau nggak menyangka dengan lemparan yang tiba-tiba tersebut.

Demikian juga kita dalam kehidupan sehari-hari. Saat memiliki tujuan tapi nggak ada persiapan, kira-kira tujuan tercapai sesuai harapan atau nggak? Bahkan merencanakan liburan pun selalu dengan persiapan, ya kan? Apalagi ini, mengantarkan putra-putri ke gerbang kesuksesan di masa depan.

Miss Hiday mengarahkan agar kami para orangtua melakukan persiapan sebelum putra-putri kami belajar. Ada dua macam persiapan, yaitu:

Persiapan Internal

  1. Sebagai anak Sensing, putra-putri saya harus disiapkan fisiknya agar siap belajar. Sudah mandi, wangi, bersih, dan segar. Jangan harap anak Sensing bisa belajar dengan nyaman saat mereka baru bangun tidur, masih rembes, ileran, dan tubuhnya bau kecut.

    Ini saya banget, lho, pernah baca nggak tulisan saya tentang persiapan saya saat bekerja dari rumah supaya tetap nyaman? Baca di sini, ya.

    Working Mom Memutuskan Bekerja dari Rumah? Baca Ini Dulu, Yuk

Persiapan Eksternal

Anak Sensing harus diberikan fasilitas perlengkapan dan peralatan belajar yang memadai. Jangan harap mereka bisa belajar dengan nyaman saat menemukan ada satu saja barang yang hilang. Seperti cerita saya di awal tulisan ini, kan?

Anak Sensing juga bisa diajak belajar dengan iming-iming imbalan. Kalau sudah belajar, boleh bermain, boleh menonton Youtube – sulung sedang keranjingan nonton wildlife conservation gitu, dan bungsu boleh tampil – nah kalau ini sedang keranjingan nyanyi sambil main gitar dan semua penghuni rumah dipaksa nonton.

Source: Pixabay
Source: Shutterstock

Sebenarnya, saya selalu membelikan peralatan belajar lengkap buat anak-anak. Secara berkala pun mengecek apakah peralatan mereka masih lengkap atau nggak. Mereka memang sering lupa di mana meletakkannya. Kadang nih, ya, sulung iseng banget meletakkan pensil di antara dua gagang pintu lemari. Jadi palang pintu, gitu. Kalau bungsu, entah kenapa, hobi banget memasukkan banyak barang ke kolong tempat tidur.

Kesalahan saya adalah marah saat mengetahui ada barang-barang yang hilang, bukannya memfasilitasi. Sensing seharusnya begitu. Orangtua menyediakan fasilitasnya. Sepertinya gaya peraturan menyimpan barang model lama mesti saya terapkan kembali nih, supaya putra-putri di rumah lebih disiplin. Apakah itu? Satu barang hilang, nggak dapat uang jajan seminggu. Baru dua hari ini peraturan tersebut saya lepas karena sedang merapikan kamar.

B. Cara Belajar

Dulu semasa kuliah, di tempat kost saya adalah penghuni yang paling rajin. Bangun sebelum Subuh, mencuci pakaian, menjemur, lalu mandi. Air di tempat kost saya dulu, keluarnya hanya sedikit, jadi saya siasati dengan bangun paling pagi supaya kebagian air. Menjemur juga duluan supaya dapat posisi yang dekat matahari. Tujuannya supaya pakaian saya yang itu-itu lagi bisa cepat kering, bisa dipakai lagi, wkwkwwk …

Saat penghuni lain baru bangun, saya biasanya tengah sarapan atau menyetrika. Semua pekerjaan di atas kecuali mandi, saya lakukan sambil komat-kamit macam dukun. Menghapal sejarah Inggris, karya-karya sastranya bangsa Inggris, budaya di Indonesia, sejarah kebudayaan di Indonesia, dan itu saya lakukan setiap hari.

Tanpa saya sadari, ternyata itu adalah cara belajar terbaik yang paling cocok untuk seorang Sensing. Hasilnya, saya bisa menyelesaikan 3,8 tahun masa kuliah di jurusan yang saya nggak suka.

Jadi cara belajar setiap orang itu berbeda-beda. Termasuk putri-putri kita di rumah ya, Moms. Buat yang Sensing, ini dia cara belajar yang paling asyik:

  1. Menghapal

Seperti cara yang sejak dulu kala saya lakukan, menghapal. Dulu telinga saya sering dicekoki bahwa cara belajar yang baik untuk bukan dihapalkan tapi dipahami. Nah, tapi buat yang punya kekuatan di menghapal, kenapa nggak dimanfaatkan saja kekuatan untuk hasil belajar terbaik. Ya, kan?

  1. Mencontoh

Dasarnya Sensing ini memang mencontoh orang di sekitarnya. Seperti saya yang memilih sekolah anak-anak dari hasil mencontoh tetangga. Cung! Mana yang tetanggan sama saya? Nah, makanya nih saya harus memberi contoh yang baik kepada putra-putri di rumah agar mereka hanya mencontoh bagian baiknya saja. Contoh baiknya apa, ya emaknya yang rajin belajar ini. Sayangnya, saya nggak rajin memasak, wkwkwk …

  1. Latihan

Ini betul sekali. Banyak melakukan latihan soal akan membuat anak Sensing menjadi terbiasa dengan soal. Sensing suka dengan pengulangan. Sebagai orangtua Sensing saya merasakan banget.

 

C. Kaliberasi

Moms and Dads, pernah nggak mendapati buah hati kita yang sudah nyaman belajar lalu di tengah jalan mogok? Bisa jadi karena ananda jenuh. Saya pun belajar berjam-jam bisa jenuh. Itu sebabnya putra-putri kita membutuhkan kaliberasi untuk mengembalikan lagi mood-nya agar kembali bersemangat. Nah, STIFIn sudah punya nih kaliberasi yang tepat buat putra-putri kita. Lagi-lagi, disesuaikan dengan potensi genetiknya, ya.

Source: Pexels

Untuk anak-anak Sensing, berkeringat atau bermain, adalah kaliberasi yang tepat. Saat mereka jenuh belajar, beri mereka waktu untuk melakukan aktivitas fisik agar berkeringat atau bermain. Kalau saya pribadi, main dumbell sampai berkeringat manjur sekali mengembalikan tubuh kembali berenergi.

D. Penyakit Belajar

Saat belajar, setan seringkali datang mengganggu. Mau rajin belajar eh nanti-nanti karena pakai alasan toh nanti bisa begini, toh nanti bisa begitu. Tapi kasihan setan ya, kalau disalahkan melulu.

Penyakit belajar bisa terjadi pada siapa saja. Termasuk saya juga, nih. Punya deadline mengumpulkan tugas tanggal sekian tapi seringkali punya alasan untuk mengerjakan nanti. “Banyak kok yang telat juga.” Kurang lebih begitu.

Tapi Moms and Dads, tentunya ini bukan kebiasaan baik, ya. Makanya, kita mesti mengenali nih penyakit belajar apa sih yang rentan menghinggapi putra-putra kita di rumah. Bagi anak Sensing, ini ada dia dua penyakit belajar yang kerap muncul.

Source: Shutterstock

Kompensasi

Ini merupakan penyakit yang membuat Sensing mengompensasikan ketidakinginan untuk belajar ke hal lain, misalnya:

“Kalau nggak belajar kan nggak bisa nyontek.”

Atau;

“Kalau nggak belajar kan bisa tanya teman.”

 

Inferiority

Ini merupakan penyakit yang berawal dari rasa tidak percaya diri, anak menjadi cemas, takut, bingung, gelisah, serba nggak tenang.

Pada anak Sensing, inferiority bisa muncul manakala dia belum memahami materi yang dimaksud sedangkan besok harus presentasi, misalnya. 

 

E. Mengantisipasi Penyakit Belajar

Menurut saya sih penyakit belajar itu manusiawi banget, tapi bukan berarti bisa kita persilakan datang tanpa melakukan apapun. Sama seperti kondisi lingkungan kita saat ini, deh. Merasa nggak nyamuk-nyamuk mulai berdatangan? Lingkungan setempat pun sudah mulai saling berkirim pesan mengenai wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Masyarakat diminta melakukan tindakan antisipasi dengan melakukan 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.

Kalau tindakan antisipatif sebelum penyakit belajar datang apa ya, Moms and Dads?

Source: Pexels
Source: Pixabay

Mengantisipasi penyakit belajar berupa kompensasi pada anak dapat dimulai dengan mengajarkan kejujuran dan sportivitas pada anak. Bertanya dan bekerjasama saat belajar harian itu bagus karena putra-putri kita dapat belajar mengeluarkan pendapat. Tetapi, tanamkan di dalam benak buah hati kita bahwa bertanya dan bekerjasama nggak patut dilakukan saat tengah mengerjakan ujian.

Teman-teman yang lain atau ibu guru mungkin nggak melihat. Tapi Allah selalu melihat setiap tingkah laku kita. Ada dua malaikat yang setiap saat melihat dan mencatat setiap perbuatan baik dan buruk kita. InsyaAllah, ananda bisa, ya. Mari orangtuanya anak-anak Sensing …

Jadi, pastikan Moms and Dads mendampingi putra-putri kita belajar supaya tahu ananda memiliki kelemahan di bagian apa agar mereka bisa menyiapkan diri dengan lebih baik.

Dukung putra-putri kita dan berikan keyakinan bahwa mereka bisa.

Saya juga seringkali merasa gugup saat harus membahas apa-apa yang saya nggak paham. Tapi belajar lebih giat bisa menjadi tindakan antisipatif. Oiya, kalau saya, berkeringat dingin duluan hasilnya malah lebih bagus dibandingkan saat tenang-tenang saja ternyata kacau, wkwkwkwk …

Menciptakan lingkungan rumah yang kondusif sangat baik tentunya untuk mendukung kegiatan putra-putri kita dalam belajar. Membuat putra-putri nyaman bersama kita, mau mendengarkan dan mengikuti nasehat untuk jujur, dan terbuka mengenai hal-hal yang membuat mereka nggak percaya diri. Kalau istilah Miss Hiday, tingkatkan kondisi positif, minimalkan kondisi negatif. Catet nih ya, Moms and Dads.

Source: Pexels

Ada pesan juga nih dari Miss Hiday agar kita sebagai orangtua senantiasa rajin mengecek TANGKI CINTA kita. Bagaimana caranya?

Tanyakan kepada putra-putri kita di rumah. “Sayang sama Mama dan Papa nggak, sih?”

Belajar dari orangtua saya yang memang nggak pernah mengekspresikan perasaan sayang, saya sih rajin banget mengungkapkan betapa saya sayang sama unyil-unyil di rumah. Mereka juga terbiasa mengekspresikan perasaan mereka pada saya. Tapi seusai workshop, kok penasaran ya jadi ingin bertanya lagi.

“Sayang sama Mama nggak, sih?”

Jawabannya sama nih antara kakak dan adik. “Sayang, dong ….”

Tapi alasannya berbeda-beda, nih.

Versi kakak: “Karena mama adalah mamaku yang aku sayang banget, banget, banget.”

Versi adik: “ Karena kita keluarga, mana mungkin nggak sayang?”

Versi Sensing-nya nggak muncul, sih. Tapi jawabannya oke dong, ya.

Sudah siap memenuhi kebutuhan belajar putra-putri kita, Moms and Dads? Tuliskan tantangan belajar putra-putri di rumah selama ini, buat persiapan, arahkan cara belajar yang paling asyik, kenali penyakit belajar yang mungkin timbul, dan lakukan langkah antisipatif.  Tentunya, sesuai dengan potensi genetik ya, Moms and Dads.

Buat yang belum tahu potensi  genetik itu apa, bisa dibaca di buku I Know You. Ulasannya ada di sini. 

Review Buku; I Know You Karya Miss Hiday; Mengenali Bahasa Cinta Orang Tercinta

Terima kasih banyak untuk Miss Hiday dan Sekolah Islam Ibnu Hajar. Satu workshop lagi. Semoga semakin banyak orangtua yang menemukan kunci belajar asyik bagi putra-putrinya. 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

8 Comments

  • dita February 13, 2019 at 4:07 pm Reply

    eh iya lho,
    kenapa banyak bocah yang hobinya mencari pensil atau penghapus yang menghilang sebelum dia belajar.
    kalo aku dulu pas belajar sering direcokin sama kucing. doi tiba-tiba bawa kabur penghapus atau maen sepak bola pake pensil. hihihi
    kalau cara belajarku dulu sukanya sambil corat coret, soalnya susah banget menghafal dan aku kuliah di jurusan yang embuh banget alias salah jurusan. kalo lagi rajin ya belajarnya gegap gempita, kalo males ya nggak belajar, meski besok ujian. hahahhaa

    • melinase February 13, 2019 at 5:28 pm Reply

      Suka-suka ya yang penting cum laude wkwkwwk …

  • Himawan Sant February 13, 2019 at 5:35 pm Reply

    Luapan bentuk kecemasan tiap anak berbeda satu sama lain ya, kak … kalau anak-anaknya kak Melina tanpa sadar lupa menaruh dimana peralatan tulis milik mereka, keponakanku pasti terkena diare sewaktu dia cemas sebelum mengerjakan ujian pelajaran sekolah yang dirasa sulit dikerjakan.
    Mau ngga mau, mamanya selalu sibuk ngadem2in dengan berbagai cara agar ponakanku rileks.

    • melinase February 14, 2019 at 3:26 am Reply

      Itu bagian dari bentuk kecemasan, ya? Wah, sudut pandang yang baru, nih. Kalau aku melihatnya mereka belum bertanggungjawab terhadap benda-benda yang mereka punya. Kalau kecemasan mereka sih beda lagi, Mas. Cemas ya cemas beneran, gelisah, nggak tenang, bisa sampai demam tinggi, lho. Itu beberapa kali kejadian saat mereka harus menghadapi situasi baru yang entahlah – di benak mereka mungkin terbayangnya nggak nyaman. Jadi, mirip-mirip dengan keponakanmu berarti ya, yang bisa sampai diare saat cemas. Mungkin keponakanmu anak Sensing juga nih, Mas, hehehe …

  • Inda Chakim February 14, 2019 at 6:44 am Reply

    Wah pengetahuan baru nih buat aku. Aku baru tau soal tipe anak sensing ini mbk. Yang ternyata punya khas tersendiri terutama dalam hal belajar. Makasih banyak ya udh share ilmu kecenya.

    • melinase February 14, 2019 at 10:07 am Reply

      Iya, Mbak. Belajar STIFIn aja. Aku nyaman banget mengasuh anak-anak dengan konsep ini. Sama-sama yaaa … Terima kasih sudah berkunjung ke rumahku ini.

  • Diah February 14, 2019 at 11:45 am Reply

    Eh saya baru dengar ini. Ilmu parenting memang berkembang terus ya. Saya mau lanjut baca artikel mbak yang lain dulu ah. Thanks for sharing ya mbak.

    • melinase February 14, 2019 at 2:15 pm Reply

      Silakan, Mbak. Menarik sekali. Saya cocok sekali menerapkan ini di dalam keluarga. Selamat membaca, yaaa …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.