Menulis Seputar Parenting Terus? Ada Alasan dan Tips Buat Diintip, Lho …

Haaai …

Belakangan ini tulisan saya di blog banyak membahas seputar parenting, ya. Apakah mau beralih menjadi parenting blogger? Nooo … Beluuum ….

Justru sekarang sedang getol-getolnya – duh, bahasa tahun berapa ini – belajar menjadi orangtua yang baik dan benar. Jadi orangtua baik sih seharusnya sudah karena sehari-hari saya baik kok sama anak-anak. Mereka saya kasih makan, saya sekolahin, dibelikan pakaian, dan lain-lain. Nggak pernah juga tuh jahatin mereka sampai mereka ketakutan. Nggak cubit-cubit, bentak-bentak, melototin, menyabet, menghajar …  Eh, nggak begini juga sih, ya? Hihihi …

Kalau jadi orangtua yang benar, gimana? Mmm … Pernah dengar istilah bahwa berbuat benar itu baik tapi merasa benar itu jangan dulu?

Source: Pixabay

Buat yang sudah pernah membaca, pastinya tahu kalau tulisan-tulisan seputar parenting dari saya di blog ini adalah ulasan dari buku dan beberapa parenting class dari sekolah yang saya dan orangtua murid lainnya ikuti. Berhubung saya doyan bercerita tapi belum tentu kalian mau mendengarkan cerita saya, jadi saya tulis saja deh. Atau, sebenarnya mau mendengarkan tapi kita terhalang jarak jadi daripada menunggu sampai ketemu ya mendingan saya tuliskan di blog saja. Siapa tahu bermanfaat dan semoga bermanfaat. Kadang-kadang saya memang suka memanfaatkan momen untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Duh, muter-muter.

Biar nggak pusing dan nyambung dengan tulisan ini, sudah pernah baca tulisan ini, belum?

STIFIn Parenting Workshop; Sudah Sejauh Mana Orangtua Siap Mengantarkan Putri-Putrinya ke Gerbang Kesuksesan?

Kenapa Memutuskan Rajin Ikut Parenting Class?

Dari dulu saya suka belajar. Sejak kecil malah. Tapi belajarnya saya dulu dan sekarang beda motivasinya. Sekarang mikirnya, makin banyak belajar, makin banyak informasi, makin banyak peluang dapat uang, wkwkwkwk …

Menjadi ibu tunggal dari dua anak, lelaki dan perempuan, rasanya luar biasa. Lelahnya double-nya. Ya menjemput rezeki, ya mengurus buah hati, belum termasuk kebutuhan saya buat manjat-manjat gunung, oups. Belasan tahun bekerja dan lebih seringnya berangkat gelap dan pulang gelap banget, saya kehilangan momen keakraban bersama anak-anak. Iya sih, beberapa kali saya masih merasakan saat pulang ke rumah dan anak-anak masih terjaga, mereka berteriak kencang memanggil, “Mamaaa …!” sambil melompat ke gendongan. Tapi saya nggak punya ikatan batin yang kuat sama mereka.

Waktu bekerja yang panjang ditambah dengan perjalanan Bogor-Jakarta-Bogor yang kerap diwarnai kemacetan, membuat saya jadi salah satu pekerja di Jakarta yang kalau kata teman-teman, hidupnya tua di jalan. Dalam hati sih saya mau bilang, nggak papa, toh sampai rumah muda lagi. Setujuuu?

Source: Shutterstock

Diskusi dengan guru, Leader, sampai Kepala Sekolah pernah saya jalani untuk sulung. Lebih tepatnya sih, beberapa kali dipanggil. Huhuhu, kalau di sekolah ada anak bermasalah, ini saya jadi orangtua bermasalah. Sampai pada satu titik, sebuah keputusan besar harus diambil. Mengundurkan diri dari pekerjaan! Merelakan jabatan, gaji, tunjangan, dan kehormatan. Haishh … Tapi serius buat yang terakhir itu. Nggak kerja kantoran kok kayaknya nggak punya gengsi, ya.

Eh, kok sampai harus mengundurkan diri, ya? Iyalah, putra saya membutuhkan kehadiran saya sebagai orangtua gitu, lho. Hadir betulan. Bukan sekadar status sebagai, “Ini lho, saya ibunya.”

Begitu juga saat ini ketika bungsu ada temuan dari sekolah dan saya lagi-lagi harus berbesar hati menyediakan waktu khusus untuknya. So, ini waktunya saya melanjutkan proses belajar menjadi orangtua. Nggak semua orangtua diberikan kesempatan seperti ini, kan?

Menyadari Diri Kita Punya Banyak Kekurangan

Teman-teman saya itu banyak dan mereka pintar-pintar. Tahu gimana rasanya berada di antara orang-orang pintar? Jiper, banget. Mikir keras, “Kok mereka pintar-pintar begitu, ya?” atau kadang pertanyaan itu saya balik, “Kok gue bego amat, ya?”

Saya meyakini mereka pintar karena mereka belajar. Nggak pernah tanya sih ke mereka. Yakin aja, gitu. Kalau kemudian saya tanya dan mereka bilang, “Gue nggak pernah belajar. Malas banget malah duduk sambil pegang buku. Bosen!”, buat saya itu nggak masalah. Toh yang namanya belajar kan nggak mesti di belakang meja. Belajar sambil tiduran bisa, sambil ngobrol bisa.

Jadi, karena saya merasa terlalu nggak tahu apa-apa, belajar adalah jalan yang harus ditempuh. Termasuk belajar menjadi orangtua yang baik dan benar. Ini pun berlaku sama kalau saya mau mempelajari bidang lain. Ya karena masih merasa kurang makanya mesti belajar.

Sepenting Apa Sih Belajar Parenting?

Kalau dibandingkan dengan teman-teman semua atau kalian yang tengah membaca tulisan ini, peran saya sebagai ibu tuh nggak ada apa-apanya. Masih jauuuh sekali. Tapi semoga kalau dimasukkan ke dalam range penilaian, nggak berada di bawah nol, ya. Minus dong kayak musim dingin, qiqiqi …

Saat konsultasi dengan psikoterapis, ditanya tahapan tumbuh kembang anak, saya menjawab pertanyaan kapan ananda bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, dan bicara, dengan jawaban “Nggak tahu” semua. Itu dia makanya saya bilang, peran saya sebagai ibu masih jauuuh sekali. 

Saya hanya ingat bahwa dulu saya harus bekerja, menghasilkan uang, setiap pulang bekerja membawa tas kotak hitam berisi berbotol-botol ASI. Rasanya sudah berasa jadi ibu hebat banget dengan oleh-oleh itu.

Source: Pixabay

Menyadari bahwa saya tengah memulai karir baru sebagai ibu dan punya anak-anak yang perlakuannya mesti istimewa, pastinya mempelajari ilmu parenting jadi suatu kebutuhan. Bukan hanya kewajiban ya, tapi sudah kebutuhan. Saya yang butuh, jadi saat yang mencari informasinya. Jadilah saya rela datang kesana-kesini, menemui ibu ini bapak itu, untuk berdiskusi.

Kalau ada yang bertanya-tanya, seistimewa apa sih perlakuan yang harus diterima putra-putri saya? Kapan-kapan diceritakan juga, ya. Kan saya hobi bercerita. Jatah 20 ribu katanya buat di postingan ini dulu, ya, wkwkwkwwk …

Bisa Belajar Lewat Apa Saja?

Percaya kan kalau nggak ada orang yang mengenal diri kita sebaik kita sendiri? Ini kalau kita menggunakan jurus kesadaran penuh, ya. Jangan banyak ngeles, “Nggak ah, aku kan begini. Nggak ah, aku kan begitu.”

Kalau saya pribadi, belajar itu bisa lewat apa saja.

  1. Membaca Buku

Pilih-pilih buku yang bagus, ya. Meskipun yang namanya bagus jelek itu relatif, sesuai pendapat masing-masing. Buat saya sih, ilmu nggak hanya diperoleh dari buku non fiksi seperti buku-buku “How to ….”. Buku-buku fiksi pun mengandung ilmu. Paling nggak saya bisa menemukan ide-ide kreatif dan kosakata yang baru dari buku-buku fiksi. Buat yang suka berimajinasi, buku-buku fiksi bisa meluaskan imajinasi kita.

Menggali informasi dari buku-buku parenting juga asyik, lho. Bedanya, kalau membaca buku, sifatnya hanya belajar satu arah. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut dari isi buku, kita nggak bisa mengajukan pertanyaan. Koreksi. Bisa sih, tapi bukunya nggak bisa menjawab. Kan nggak bisa bicara, hihihihi …

Source: Shutterstock

     2. Pelatihan

Di era digital ini, segala macam sudah tersedia secara offline maupun online. Mana yang lebih baik, hal-hal di bawah ini boleh dipertimbangkan, ya:

a. Offline

Kelebihan:

Tatap muka langsung dengan mentor tentu lebih baik. Kalau ada sesuatu yang kurang jelas, bisa kita sampaikan secara langsung. Menatap lawan bicara saat tengah bertanya atau berdiskusi pun lebih nyaman rasanya. Kalau kita ngefans, bisa ajak foto bareng juga, kan. #Eh

Saya termasuk tipe orang yang lebih suka mengikuti pelatihan secara offline. Buat saya, salah satu cara mengingat materi adalah dengan memerhatikan gesture-nya mentor itu. Kadang ada mentor yang nyeletuk, “Serius banget sih liatin saya.” Wkwkwkwk …

Kekurangan:

Harga biasanya lebih mahal. Wajar karena harus menghitung sewa tempat, transportasi mentor kalau datang dari luar kota, termasuk akomodasinya, ya kan?

b. Online

Kelebihan:

Harga lebih murah atau bahkan banyak yang gratisan. Bentuknya macam-macam, ada yang di group WhatsApp, Facebook, maupun Telegram. Ada juga yang melalui webinar maupun e-book untuk kelas yang lebih profesional. Siapapun dan dari mana saja bisa mengaksesnya selama memiliki perangkat dan koneksi internet yang memadai.

Kekurangan:

Menyulitkan orang-orang dengan karakter macam saya, wkwkwwk … Makanya kalau belajar online, otak saya rasanya butuh waktu lebih lama untuk memahami materi. Maafkan saya, para mentor, hihihi …

         3. Ngobrol dengan Orang Sekitar

Buat saya, yang namanya ilmu itu bisa kita dapat dari mana saja. Duduk-duduk di stasiun, ngobrol sama seseorang, bisa banget dapat ilmu. Sebenarnya ini kembali ke kita juga, mau menganggap penting nggak isi pembicaraan kita dengan orang lain. Saya sih sering banget mendapatkan pelajaran berharga dari orang-orang yang saya ajak ngobrol. Mau yang lebih muda, seumuran, atau yang sudah sepuh sekalipun.

Maka, ketika di sekolah anak-anak saya ada kelas wajib orangtua, saya hepi luar biasa. Ya, dong! Bisa belajar, mentornya ada, kompeten, daaan offline. Saya tinggal jemput bola ke sekolah yang jaraknya cuma 1,3 km, kalau jalan kaki melalui jalan pintas malah cuma 900 meter, dan ditempuh dengan jalan kaki butuh waktu nggak sampai 10 menit.

Perlu Menyiapkan Apa?

Putra-putri saya biasa dibawakan bekal sebelum berangkat ke sekolah, untuk snack time dan lunch time. Kalau bepergian, kami juga suka membawa bekal. Mmm, gimana kalau mau belajar? Saya sih membawa juga. Bekalnya apa, sih?

1. Kemauan

Nggak usah jauh-jauh dulu deh kita mau belajarnya itu untuk apa. Kemauan dulu. Mau datang atau nggak? Mau belajar atau nggak? Kalau sudah mau, kaki terasa lebih ringan saat dibawa melangkah. Kalau dari awal sudah nggak mau, dipaksa-paksa lalu akhirnya mau, ini pasti melangkahnya dengan berat. Nggak asyik. Ini kalau belajarnya harus datang ke suatu tempat begitu, ya.

Tapi kalau belajarnya cukup dari membaca buku saja, pastikan kita memang mau membaca buku itu.

Saat sudah mau, pasti kita tergerak untuk mengikuti langkah selanjutnya.

Source: Freepik

2. Tujuan Nggak Selalu Ada di Depan

Penting nggak sih kita punya tujuan saat mau belajar, baik dengan mengikuti workshop maupun membaca buku? Buat teman-teman mungkin harus, tapi buat saya nggak, lho.

Saya pernah jauh-jauh mengikuti workshop ke Solo. Ini pertama kalinya saya ikutan workshop saham. Bangun tengah malam demi mengejar penerbangan pukul 05.30, tiba di rumah pukul 00.05 tepat di hari berikutnya. Capek luar biasa tanpa saya tahu tujuannya apa selain disuruh teman. Tapi hati saya tergerak saja untuk hadir. Kelasnya lumayan menciptakan rasa sakit kepala, sih. Tapi jadi terbuka wawasannya soal pasar modal.

Begitu juga ketika saya ikutan workshop Suwoeng Therapy. Nggak ada tujuan, tapi memang tergerak untuk hadir. Pulangnya, nggak merasa rugi, tuh. Asyik banget malah.

3. Siap Menerima

Pernah mendengar istilah, “Kosongkan gelasmu?”

Artinya, saat mau belajar kita sudah menyiapkan ruang di hati dan pikiran kita untuk memperoleh informasi. Kalau kita datang dengan gelas penuh, informasi nggak bisa masuk karena sudah keburu luber.

Source: Freepik

Ada teman-teman lain yang suka membawa istilah, “Membawa gelas yang lebih besar.” Orang-orang yang seperti ini menganggap bahwa mengosongkan gelas artinya membuang informasi yang sebelumnya pernah masuk. Sayang dong, kalau informasi pentingnya malah dibuang. Nah, makanya mereka lebih memilih menyiapkan gelas yang lebih besar.

Kamu ada di tim yang mana, intinya, pastikan kita belajar dengan gelas yang punya ruang kosong untuk kita isi informasi.

4. Beda Pendapat Boleh, Kok

Warna rambut kita – anggaplah sesama orang Indonesia, ya – sama hitamnya. Tapi isi kepala bisa berbeda. Termasuk informasi yang disampaikan mentor juga, nih. Mungkin ada bagian-bagian yang menurut kita seharusnya nggak begitu. Nggak apa-apa. Saya meyakini setiap mentor punya informasi penting yang bisa disampaikan kepada murid-muridnya. Meskipun adakalanya, ada saja pendapat yang saya nggak merasa ‘klik’. Nggak masalah, ambil yang baiknya, tinggalkan yang menurut kita nggak ingin kita ikuti.

5. Praktekkan Segera

Sama seperti pelajaran semasa kita sekolah dulu, mengulang pelajaran di rumah akan membantu kita lebih memahami materinya. Begitu juga saat kita belajar. Mau workshop apapun itu, pastikan kita pelajari ulang lalu praktekkan. Kalau nggak begitu, yakin deh, informasinya akan menguap begitu saja. Pada akhirnya, kita malah akan meyakini bahwa mengikuti workshop itu, belajar sama mentor yang itu, nggak dapat apa-apa, nggak ada ilmunya. Nahhh … Jadi workshop dan mentornya yang disalahkan.

Nah, itu dia alasan saya belajar parenting dan tips-tips yang saya pakai saat mau belajar. Kalau teman-teman mau ikuti, pastikan berurutan, ya. Tips-tips tersebut juga bisa lho digunakan saat teman-teman mau belajar apapun. Sama saja, kan?

Jadi, sudah siap belajar apapun untuk menjadi orangtua?

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

2 Comments

  • hani February 18, 2019 at 11:43 am Reply

    Langsung praktek. Nah ini dia…suka entar-entar. Akhirnya lupa…
    Sip. Makasih remindernya…

    • melinase February 18, 2019 at 11:44 am Reply

      Sama-sama, Bundaaa …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.