Unforgettable Traveling List; and This is My List

Assalamu’alaikum … Hai teman-teman,

Siapa di sini yang suka melakukan traveling? Kegiatan satu ini memang identik dengan menyenangkan dan membuat ketagihan. Bawaannya jadi ingin menjelajahi tempat yang di sini, di sana, di mana-mana. Memang nggak bisa dipungkiri kalau traveling itu bisa menciptakan energi baru di dalam diri kita setelah beberapa waktu lamanya dilanda kebosanan dengan rutinitas. Terutama kalau traveling-nya dalam rangka liburan, ya. Wew, jangankan liburan. Saya yang dalam rangka bekerja saja, senangnya minta ampun.

Apalagi buat para mommies nih ya – yang kesehariannya berkutat dengan urusan domestik dan antar jemput anak sekolah – traveling pasti ditunggu-tunggu. Nggak usah jauh-jauh, jalan-jalan ke tempat wisata di dalam kota saja sudah hepi, lho. Pokoknya keluar dulu dari rumah deh, ya. Kalau bisa jauhan dikit keluar kota atau bahkan keluar negeri sih ya nggak menolak juga, hihihi …

Yeay! Traveling lagi ...

Sebagai orang yang sebenarnya nggak terlalu sering bepergian, yang namanya agenda traveling itu selalu butuh persiapan. Saya pribadi bukan orang yang amat sangat well prepared, ya. Biasanya saya sesuaikan dulu, nih. Kalau perginya jauh dan lama sudah pasti persiapan saya lakukan paling nggak seminggu sebelumnya. Ini belum sampai kunci koper, ya. Dicicil deh, apa-apa saja yang perlu dimasukkan. Pakaian sudah pasti masuk duluan, dong, kecuali pakaian saya. Kenapa? Soalnya pakaian saya memang cuma sedikit. Kalau seminggu sebelumnya dimasukkan koper, di rumah saya pakai apa, dong? Wkwkwkwk

Oiya, ukuran lama buat kami tuh kalau di atas tiga hari, ya. Bisa empat hari, lima hari, tapi nggak akan sampai dua minggu juga. Beuh, sekolahnya anak-anak bagaimana dan ongkos di perjalanan juga piye? Oups, mulai deh kalau urusan duit.

Source: Pixabay

Setelah selesai dengan persiapan lengkap ini dan itu, maka yang terbayang di kepala adalah traveling yang indah dan menyenangkan. Apakah selalu seperti itu? Nyatanya nggak. Apalagi kadang-kadang persiapan di luar diri sudah siap, eh saya malah sukanya mencari-cari masalah.

Ada beberapa pengalaman nggak mengenakkan tapi seru (saya mah gitu, senantiasa bersyukur) yang nggak akan terlupakan. Ada apa saja, tuh? Ini dia!

STASIUN

Stasiun menjadi salah satu tempat yang asyik buat saya. Stasiun Gambir menjadi stasiun langganan saat saya mau melakukan traveling ke Bandung, Cilacap, Purwokerto, Yogyakarta, dan Solo. Sudah sih, saya belum pernah naik kereta yang lebih jauh dari itu. Norak, ya? Biarin.

Di stasiun ini saya pernah duduk-duduk menunggu kereta sambil ngobrol dengan calon-calon penumpang lainnya. Saya suka sih mengajak orang ngobrol. Daripada jajan terus lalu uang saku habis kan, ya? Dari mereka, ada saja cerita yang saya dengar dan bisa jadi pelajaran dalam kehidupan.

Tapi, di stasiun juga ini saya pernah mengalami peristiwa yang nggak akan terlupakan.

 

  1. Perseteruan di Stasiun

Suatu hari saya melakukan perjalanan ke Bandung dari Bogor dengan menggunakan travel door to door. Rencana penjemputan di rumah saya pukul 04.00 pagi tapi ternyata sopir terlambat. Saya diminta menunggu di Botani Square. Okelah daripada menunggu lama lalu saya dan semua penumpang jadi terlambat tiba di Bandung, kan? Pukul 04.10 saya tiba di Botani Square tapi armadanya baru tiba pukul 05.00. Semula kami dijadwalkan berangkat melalui Puncak tapi entah kenapa dialihkan melalui Tol Cipularang. Sudah terbayang bagaimana kemacetan di sana. Hasilnya, kami baru tiba di Bandung pukul 11.30. Perut saya mual dan kepala pusingnya luar biasa. Pulang di hari yang sama, saya kapok naik travel lagi. Akhirnya memilih perjalanan dengan kereta.

Nasib, jadwal yang tersedia hanya di pukul 21.00 saja. Sebenarnya terlalu malam. Tapi nekat deh saya ambil juga. Kereta tiba di Stasiun Gambir pukul 00.15. Dari Stasiun Gambir nggak ada kereta menuju Bogor. Saya harus berpindah ke stasiun lain dulu. Biasanya ke stasiun Gondangdia atau stasiun Juanda. Tapi menurut petugas stasiun, kereta terpagi menuju Bogor hanya ada mulai pukul 05.00 pagi. Itu pun dari stasiun Manggarai. Mau pulang naik taksi atau transportasi online tengah malam begitu, saya ngeri juga. Akhirnya, hari itu saya duduk menunggu di stasiun Gambir sampai subuh tiba.

Rasanya biasa saja karena stasiun cukup ramai. Kalau lapar, outlet makanan semua buka. Tapi yang bikin nggak bisa tenang karena saya terlibat perseteruan. Dengan siapa? Siapa lagi kalau bukan nyamuk-nyamuk nakal. Sepanjang dini hari itu, saya tepuk tangan prok-prok terus dan berhasil membantai 30 ekor nyamuk di lantai. Sampai saya itungin, cobaaa? Yaaa, mungkin mereka tahu saya belum mandi sejak kemarin sore, wkwkwwk

Souce: Sindonews

2. Nyarisss Ditinggal Kereta

Sore itu saya dan seorang teman dari kantor mulai berkemas menuju Stasiun Gambir. Kami akan melakukan perjalanan ke Yogyakarta naik kereta pukul 18.30. Bertolak dari kantor pukul 17.30 – jangan tanya soal ijin karena ini susah, naik ojeg online di antara padatnya arus kemacetan Jakarta di sore hari, rasanya deg-degan banget. Saya lebih dulu tiba dan langsung mencetak tiket. Saat itu sudah pukul 18.10. Menit berlalu, teman saya belum muncul juga. Barisan penumpang sudah antri check in sejak tadi.

Pukul 18.25, teman saya muncul dengan wajah kelelahan. Dia pasti juga lelah berburu waktu tiba di sini. Segera kami check in lalu berlari cepat menaiki tangga stasiun. Setibanya di atas, nggak ada kereta. Hanya ada satu kereta di seberang. Begitu sadar, kami segera berlari turun lagi. Kami salah jalur!

Kaki terasa kebas dan kaku. Naik turun tangga sambil berlari bukan hal mudah apalagi dengan bawaan berat di punggung. Begitu sampai di depan kereta, petugas stasiun berteriak, “Argo Dwipangga?”

Kami mengangguk kuat. Sudah nggak ada tenaga untuk berbicara. Secepat kilat kami melompat masuk ke dalam kereta. Nggak peduli itu gerbong nomor berapa. Begitu dua kaki kami mendarat masuk ke dalam gerbong, setttt … pintu kereta tertutup. Nggak sampai tiga detik seingat saya. Legaaa rasanya. Kami berjalan menuju gerbong tujuan dengan tatapan aneh dari orang-orang. Mungkin wajah kami kelihatan jelek banget saking ngos-ngosannya.

Tahu nggak sih, lari-larian begitu saya membayangkan tengah berada di dalam film Train to Busan. Lebay! Wkwkwkwk

BANDARA

Saya menyukai bandara dengan kadar jauh di atas stasiun. Andai nggak mengejar jadwal yang serba mepet, saya rela-rela aja menunggu di bandara. Entahlah, saya suka suasananya. Duduk menunggu sambil memerhatikan gerak-gerik orang-orang di sana, saya seperti tengah merancang cerita di dalam kepala. Semoga sih nggak ada yang mengira saya mau nyopet, ya? Wkwkwkwk

Sebagai tempat favorit, so pasti di sini saya punya pengalaman heboh juga. Apa aja, hayooo?

1. Tidur di Bandara

Buat yang sudah jadi raja dan ratu traveling, tidur di bandara sambil menunggu jadwal penerbangan berikutnya mungkin bukan hal aneh. Tapi beda dengan yang saya alami. Yakin beda karena ini disebabkan oleh betapa dodol-nya saya, wkwkwwk

Jumat malam itu saya terjadwal berangkat ke Mataram dengan penerbangan pukul 20.30. Berangkat dari kantor pukul 17.00, saya bukannya langsung masuk ke dalam taksi, malah sempat ngobrol dulu sama orang-orang di lobi. Nggak bisa masuk taksi juga lha wong saya belum pesan. Cuma ada waktu 3,5 jam sedangkan saya masih harus menghitung antrian check in dan berkutat dengan kemacetan Jakarta.

Anehnya, saya malah berangkat ke pool Damri yang perjalanan kesana aja sudah macet. Tiba di sana hampir pukul 18.00 dan petugas meminta kami naik taksi saja begitu mendengar pesawat kami berangkat jam berapa. Nggak sanggup, katanya. Macetnya luar biasa.

Mendengar itu saya bengong dan mulai berpikir, “Iya, sih. Macet banget. Kok gue bego banget ya malah kesini?”

Pool DAMRI itu sendiri berada di tepi jalan Pasar Minggu yang di depan kami persis, barisan mobil nyaris nggak bergerak. Bersama dua orang lainnya yang juga mau ke bandara, kami memesan transportasi online. Tiga puluh menit kemudian mobil tiba dan kami bertiga langsung curhat tentang betapa pentingnya kami tiba di bandara sesegera mungkin. Sopir menyetir dengan sangat lihai. Was wus was wus. Saya sedikit tenang. “Bisa nih sampai di bandara on time,” batin saya.

Menjelang antrian tol Cengkareng, antrian jauuh banget. Saya mulai frustasi. Ingin rasanya turun lalu naik ojeg aja. Tapi mana bisa? Saat itu sudah pukul 20.00. Check in pun pasti sudah tutup, meskipun kadang-kadang mepet juga diperbolehkan selama nggak ada bagasi. Eh tapi saya kan bawa koper dan itu beratnya jauh di atas 7 kg. Maaak!!

Akhirnya, kami tiba di depan pintu keberangkatan Terminal 1B pukul 20.25. Check in baru saja ditutup. Biasa deh, sambil memohon-mohon saya meminta dikasih masuk. Petugas sih gesit menghubungi rekan-rekannya. Tapi sayang banget, manifestasi penumpang sudah dilaporkan dan pesawat tengah bergerak mundur. Pengen banget rasanya lari lalu dadah-dadah ke arah pilot, “Pak pilot, jangan tinggalin sayaaa …!”

Dengan langkah gontai, saya menyeret koper sambil manyun. Cek-cek penerbangan berikutnya, baru ada pukul 05.00 besok pagi. Cepat-cepat saya ambil penerbangan itu dengan membayar Rp 500 ribu dari harga tertera di OTA Rp 1,2 juta. Kok bisaaa? Bisalah, yang namanya petugas laki-laki bisa aja menolong kalau sudah melihat wajah memelas calon penumpang perempuan, wkwkwwk

Sambil mikir, sekarang sudah jam segini, kalau tidur di hotel lalu kesiangan, eh ditinggal pesawat lagi, dong. Akhirnya memutuskan duduk di bandara. Karena sedih, maunya sih tidur untuk melupakan kesedihan. Tapi gimana tidurnya, coba?

Atas bantuan petugas bandara yang baik hati, saya diberi info bahwa di atas ada Rest Area yang tempatnya lebih nyaman. Posisinya ada di sisi kanan Terminal 1B, persis sebelum Security Check Point.

Rest Area-nya nyaman. Tapi AC-nya duingin.

Malam itu saya tidur di Rest Area meskipun sebentar-sebentar terbangun. Antara ingin buang air kecil, khawatir sudah pagi, dan ngeri karena di depan kami, layar-layar televisi tengah menayangkan film G30S PKI. 

Pukul 03.00 saya sudah bangun tanpa rasa kantuk yang menempel. Begitu turun ke bawah untuk berwudhu dan sholat, antrian check in sudah panjang. Buru-buru deh sholatnya, naik lagi ke atas untuk ambil koper untuk ikut barisan. Oiya, selama saya tinggal-tinggal, koper saya titipkan ke bapak-bapak TNI yang saat itu juga ketinggalan pesawat ke Lombok. Yang ketinggalan bukan cuma saya, yeay!

Itu adalah hari di mana saya naik pesawat dengan sangat nggak pede. Belum mandi dan gosok gigi sejak semalam dan pagi itu. Minimarket di bandara belum ada yang buka. Satu-satunya perjalanan saat saya nggak ingin mengajak orang ngobrol dan berharap nggak ada yang ajak ngobrol. Ngeri kalau orangnya pingsan kebauan, wkwkwwk

2. Ngider-Ngider di Bandara

Bepergian jauh sambil membawa dua anak dan barang bawaan yang banyak mungkin nggak akan ada masalah selama semuanya dalam kondisi sehat. Tapi nggak begitu yang terjadi pada saya dan anak-anak saat liburan ke Semarang tahun lalu.

Pergi bareng dua anak yang tengah demam dan ibu yang sudah nggak bisa berjalan cepat, membuat hari itu menjadi salah satu hari yang heboh dalam hidup saya. Dengan begitu yakinnya, saya meminta taksi online menurunkan kami di depan Terminal 1A. Tapi entah kenapa saya nggak masuk, malah yakin penerbangan kami adanya di Terminal kalau nggak 1B ya 1C.

Ada saya, ibu, sulung dan bungsu yang duduk bersama barang-barang bawaan kami di dalam troli. Begitu tiba di Terminal 1C, nggak ada maskapai yang kami maksud ditanya. Saat bertanya ke petugas, rasanya mau pingsan. Seharusnya kami berangkat dari Terminal 1A. Akhirnya putar balik dan saya meminta tolong petugas mendorongkan troli sampai Terminal 1A karena saya nggak sanggup. Trolinya berat, huaaa …!

Sudah pernah baca ini?

Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1)

Barang-barang masuk bagasi, bungsu nggak mau jalan. Jadi saya menggendong dia sampai tuang tunggu.

Berkali-kali deh minta maaf sama ibu dan anak-anak karena saya bodoh banget. Begitu check in, kami terjadwal boarding dari Gate 6. Menanti di sana, sambil menunggui bungsu yang semakin anget badannya dan sulung yang mimisan, petugas menginformasikan bahwa penumpang untuk penerbangan kami dipersilakan boarding dari Gate 13! What???

Akhirnya, sore itu saya kembali menggendong bungsu untuk berpindah gate sambil menangis dalam hati. “Hiks, capeeek …!”

3. Bengong di Bandara

Lho, ngapain bengong? Liat cowok cakep? Bukaaan …!

Ini terjadi ketika saya mau berangkat umroh. Seperti yang sudah diinformasikan saat manasik, rombongan kami terdiri atas 30 orang calon jemaah. Semuanya beserta keluarga kecuali saya dan satu penumpang lain.

Saat masuk giliran check in, saya maju kemudian menyodorkan paspor. Perasaan saya saat itu sangat tenang. Saat petugas mengajukan pertanyaan pun, saya menjawab dengan sangat tenang.

“Mahromnya siapa?”

“Saya sendirian.”

“Maaf, Mbak. Mahromnya siapa?” Petugas bertanya lagi.

“Saya berangkat sendirian. Tanpa mahrom.”

Kalimat petugas berikutnya baru membuat saya sedikit panik.

“Tapi Mbak nggak bisa berangkat tanpa mahrom.”

Deg! Maksudnya apa?

“Tapi saya sudah bilang ke travelnya kalau berangkat sendirian.”

“Mbak kenal nama …?” (sambil menyebutkan nama yang benar-benar asing buat saya)

Saya refleks menggelengkan kepala, dong. Petugas itu kemudian meminta saya memanggil Tour Leader. Nggak lama kemudian Tour Leader tersebut datang dan mendekat ke petugas. Mereka berbicara tapi saya nggak bisa mendengar. Tour Leader tersebut kemudian beranjak dari meja petugas lalu berbicara pada saya.

“Mbak, mahromnya Bapak ini (menyebutkan nama asing tadi lagi) kan, ya?”

Saya memandang wajahnya dengan tatapan bingung. Sumpah, wajah saya sepertinya bego banget. Tour Leader itu lalu memanggil nama asing tadi. Laki-laki itu mendekat. Pertanyaan serupa diajukan?”

“Bapak mahromnya Mbak ini, kan?”

Wajah laki-laki itu pun nggak kalah anehnya dengan saya. Bengong, terlihat bingung tapi dia manggut-manggut aja. Deuh, nurut banget si bapak. Padahal saya saja belum memantapkan diri buat manggut-manggut. 

Setelah melihat kehadiran laki-laki yang namanya nggak saya kenal itu, petugas mengembalikan paspor saya beserta boarding pass-nya.

Source: Sebenarnya contekannya ada di sini, nih.

Jadi, saat perempuan berusia di bawah 45 tahun dan melaksanakan umroh sendirian, biasanya dari travel akan mengenakan tambahan biaya tanpa mahrom. Tanpa saya sadari, ternyata di dalam visa saya, tertera nama mahrom dadakan yang nggak lain adalah laki-laki tadi. Oalah, coba mas-mas Tour Leadernya bilang dari tadi. Kan saya bisa akting juga di hadapan petugas. Biar tampangnya nggak bego-bego amat gitu, kan? Wkwkwkwk

Saat tiba di Jeddah, saya meminta ijin untuk keluar imigrasi bersama-sama dengan laki-laki tadi dan rombongan keluarganya. Beliau berangkat bersama istri, dua anak, dan ayahnya. Saya takut nanti dicariin lagi mahromnya mana, gitu? Di negeri sendiri aja sudah deg-degan. Gimana coba kalau di negeri orang, kaaan? Saya takut ditangkap, wkwkwkwk

Itulah beberapa pengalaman heboh saat melakukan traveling. Beberapa terjadi karena kekacauan yang saya buat sendiri, sih. Kalau kamu punya unforgettable traveling list juga, share yuk di sini. Kita ketawa-ketiwi bareng, hihihihi …

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

33 Comments

  • Ratna February 17, 2019 at 4:44 pm Reply

    Mba Melina.. salam kenal.. Aku juga suka jalan-jalan. Yang sering kejadian sama aku adalah salah masuk terminal bandara dan selalu akhir waktu masuk Pesawat karena saking nyantai nya kwkkwww..

    Pernah di Bangkok mau pulang salah ruang tunggu hahaa.. setengah jam keberangkatan kita marathon 😁😀😃

    Serruuuu ya Mba.

    • melinase February 18, 2019 at 5:01 am Reply

      Hai, Mbak Ratna. Salam kenali kembali …

      Paling belakangan masuk pesawat nanti dapat tugas nutup pintu loh, Mbak, wkwkwkwk …

      Eh yang telat-telat dan mepet-mepet itu seru, lho! Sambil lari-larian gitu, kan? Adrenalin terpacu, hahahaha ..

  • dita February 17, 2019 at 7:30 pm Reply

    aku selalu suka bandara. dan paling seneng kalo ketemu petugas AVSEC yang baik & sopan. secara kebanyakan mereka jutek-jutek.

    • melinase February 18, 2019 at 5:04 am Reply

      Tosss, ah … Sesama penyuka bandara.

      Petugas AVSEC rata-rata jutek karena banyak calon penumpang yang bandel kali, ya. Jadi mereka udah pasang pagar duluan, hahaha …

  • Inka Paramita February 17, 2019 at 11:45 pm Reply

    Aku termasuk yang jarang travelling mba, karena orang yang home sweet home. Hehe kalo kisah kacau nya dulu pas masih kecil pernah sama ortu ke Colorado karena papa ada kongres disana. Trus mamaku udah beli tiket tiket wisata gitu buat disana eh pas nyampe sana salah tanggal alias udah telat karena kelupaan kalo Indo dan Amerika itu perbedaan tanggalnya ampir 24 jam. Hiikss. Syedih angus deh hehe

    • melinase February 18, 2019 at 5:07 am Reply

      Keingetannya Colorado itu tetanggaan Kecamatan sama rumah eyangnya ya, Mbak, huehehehe … Deeeuuu … Kebayang sama aku deh sudah perjalanan jauh terus nggak bisa halan-halan. Tapi masih bisa berkeliling ke lokasi lain kan, Mbak? Senangnya ya, sudah sampai di Colorado. Aku kapaaan? Huaaaa …

  • Lucky Caesar Direstiyani February 18, 2019 at 8:45 am Reply

    Sayaa juga suka travelling mbaak 😅😅 Banyak hal baru yg bsa didapatkan, kenal org” baru dan priceless banget rasanyaa cerita” berkesan selama perjalanan 😊😊 changi termasuk bandara paling enak kalau pas transit, banyak rest area yg nyamaan banget buat sejenak melepas lelah dan selonjoran 😂 tfs ceritanyaa yaa mbaak, salam kenal jugaa ☺️

    • melinase February 18, 2019 at 10:41 am Reply

      Halooo …. Aih yakin deh banyak banget orang yang suka traveling, hihihi … Setujuuu, jadi menambah teman dan pengalaman, yaaa.

      Changi sih paling enak buat pepotoan #Ehhh …

  • Sabda Awal February 18, 2019 at 10:48 am Reply

    Karena udah sering travelling banyak banget pengalaman rempong nan berharga yang dialami ya mbak…

    Eh itu soam mahram, emang boleh mahram random gitu mbak, hahahha saya kok antara ngakak sama kesel ya… tour leadernya ga ngasih pemberitahuan sebelumnya

    • melinase February 18, 2019 at 11:45 am Reply

      Aku nggak tahu juga sih aturannya seperti apa. Tapi kan nggak mungkin juga melarang jemaah berangkat sendirian. Lha kalau dananya hanya ada untuk sendiri, gimana? Hihihi …

  • Nurdiah February 18, 2019 at 8:05 pm Reply

    Mbak Melina jago banget ya travellingnya.
    Kalo saya mah belum seberani itu…jadi malah geli sendiri baca tulisan mbak Melina. Kapan kapan saya ikut jalan yaaa

    • melinase February 18, 2019 at 9:42 pm Reply

      Itu mah saya dalam rangka kerja, Mbak, bukan ongkos sendiri hihihi …

      Beneran nih mau ikutan jalan? Saya suka lari-larian, lho, wkwkwkwk …

  • Haeriah February 19, 2019 at 5:59 am Reply

    Salah satu kisah traveling yang tak terlupakan adalah saat kami ke Batam. Sebagaimana orang yg baru ke sana, pastinya kami gak berhenti jepret sana sini buat kenang2an. Dan….tepat di malam sebelum kami kembali ke malaysia keesokan paginya, si sulung lapor kalau barusan ia salah tekan kamera. Tanpa sengaja ia menekan “delete” dan…..semua foto yang ada d kamera satu2nya yang kami bawa hilang tak berbekas…….

    • melinase February 19, 2019 at 6:18 am Reply

      Huaaaa … Jadi kalau istilah netizen jaman now, perjalanan ke Batamnya hoax ya, Bun, karena No Pic Hoax, hahahaha …

      Sabar, Bundaaa … Nanti ke Batam lagi, foto-foto yang banyak, yaaa …

  • Tatiek Purwanti February 19, 2019 at 11:24 am Reply

    Hihi, seru-seru ceritanya. Komplit, euy. Kurang yang naik kapal laut, tuh. Pernah belum, Mbak?
    Begitulah, traveling emang selalu menghadirkan pengalaman tak terlupakan, yak. Kehebohannya bisa jadi pelajaran untuk tak diulangi di kemudian hari.

    Nah, kalo saya sendiri sih moda transportasi darat, laut, udara udah pernah nyobain semua. Macem2, sih ceritanya. Pernah nih pas kali pertama naik kapal laut dari Jkt ke Batam, saya sok2an: pasti bisa jalan2 keliling kapal, deh. (Soalnya pas naik Ferry dari Surabaya ke Madura sih sehat wal afiat) eh ternyata, saya kliyengan. Ombaknya gede, euy! Mual banget. Akhirnya saya mabok laut, deh. Idih, ga terbayangkan sebelumnya. Kok yg di Titanic itu bisa tenang2 aja jalan2 gitu? Hehe

    Trus saya malah penasaran tuh gimana rasanya nginep di bandara. Secara biasanya langsung atau transit sebentar aja. Blm pernah ketinggalan pesawat. Enaknya menelatkan diri kali, yak? 😀

    Setuju dg Mbak Mel nih. Enaknya kalo pas di ruang tunggu gitu ngobrol ma orang sebelah. Nambah pengalaman dari obrolan itu plus biar ponselnya istirahat bentar.

    Happy traveling, Mbak. Saya masih jarang2 nih sekarang.

    • melinase February 19, 2019 at 3:36 pm Reply

      Nah, itu diaaa. Belum pernah naik kapal. Kalau nggak salah, kapan hari ada iklan pelayaran naik kapal PELNI dari Jakarta ke Surabaya. Pengen nyobain, deh. Kayak apa sih dalamnya kapal laut itu? Berhari-hari gitu nggak, sih? Ndeso banget ya aku, hahaha …

  • Sunarti kacaribu February 19, 2019 at 11:45 am Reply

    Aku juga pernah loh, mak, hampir ketinggalan kereta, untungnya marsinisnya mau nungguin.

    Dari gerbang kereta senin, namaku dan suami udah di panggilin pake towa, kebayangkan mak, kami lari lari bawa bicah bocah plus koper.

    Gitu kaki kananku naik gerbong kereta langsung jalan huaaaa… Kenangan tak terlupakan

    • melinase February 19, 2019 at 3:28 pm Reply

      Lariii sekencang-kencangnya, hahahaha …

      Capek, deg-degan tapi seru kan, ya?

      Itu sepanjang jalan, pasti suasana perjalanannya jadi rame aja. Diinget-inget terus, dikenang-kenang selalu.

  • Ucig February 19, 2019 at 12:16 pm Reply

    Aku baru tauuu ttg mahrom. Hihii lucu dong pas bengong gitu. Bingung..
    Klo di Indonesia suka lawakin, jadikan aku mahrom 😁 lucuu pengalamannya
    Kok bisa nggak dikasi tau ya mbaaa

    • melinase February 19, 2019 at 3:27 pm Reply

      Pokoknya saat itu nggak berani ngaca deh, Mbak. Dijamin wajahku bengong bingung bego gitu, wkwkwkwk …

      Mungkin lupa juga kali, ya. Tapi nggak papa sih, lumayan kan buat jadi kenangan lucu. Kita mah gitu, bersyukur ajaaa, hahahaha ..

  • Nanik Kristiyaningsih February 19, 2019 at 6:53 pm Reply

    Hahaha, Mbak Mel emang orangnya supel. Nggak bisa lihat orang nganggur.
    Diajaklah ngobrol sampai …. 😅
    Btw saya berasa ikut keseruan yang mbak alami deh.
    Sambil bayangin karakter Mbak Mel yang seru. 😘

    • melinase February 20, 2019 at 4:01 am Reply

      Lho, orang nganggur memang mesti dikasih kerjaan Mbak, biar senang, hahaha …

      Buat orang yang well prepared, orang kayak aku nih dicap ceroboh banget kali, ya, wkwkwkwk …

  • Kajian Komite Sekolah Islam Ibnu Hajar; Mengintip Tips Menjadi Ibu Hebat untuk Generasi Kuat - Melina Sekarsari February 25, 2019 at 9:42 am Reply

    […] Unforgettable Traveling List; and This is My List […]

  • novyaekawati February 26, 2019 at 11:43 am Reply

    lucu mbak pengalaman pergi umrohnya hehehehe..tapi emang traveling itu pekerjaan yang sangat menyenangkan terlepas berkaitan dengan liburan, selama kita traveling kita berubah menjadi seorang pengamat loh (pengalaman aku siy mbak) hehehehe

    • melinase February 26, 2019 at 1:53 pm Reply

      Lucu-lucu gemes bin panik aslinya sih, Mbak, hahaha …

      Bener, traveling kemana pun itu, mesti kita jadi pengamat. Asal nggak tidur atau main gadget sepanjang perjalanan, yaaa …

  • ghina February 27, 2019 at 10:23 pm Reply

    ya Allah mbak strong super sekali ini mh. nggak kebayang riweuhnya yaa. Tapi, emang biasanya malah jadi kuat gt kalo mbarengi anak-anak mh. Kalo ada suami baru manjah2 gt. Semoga sehat selalu ya mbak biar bisa kuat jalan-jalannya. hehe

    • melinase March 1, 2019 at 4:14 am Reply

      Makanya, masih ada yang berani bilang emak-emak itu nggak bisa apa-apa? Wkwkwkwk …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Dirimu juga ya, Mbak. Siapa tahu kapan-kapan bisa jalan dan seseruan bareng? Hihihi …

  • Reyne Raea (Rey) March 1, 2019 at 3:35 am Reply

    wkwkwkwk ngakak juga bacanya.
    Pengalaman unik tapi berkesan ya mba.
    Ngomong2 saya salut ama wanita2 yang hebat berani traveling sendirian
    Kalau saya kayaknya udah nangis2 sendirian gitu hahaha

    • melinase March 1, 2019 at 4:20 am Reply

      Kalau aku nangis sedikit, cengar-cengir garuk kepalanya yang lebih banyak. Naseeeb, naseeeb … Wkwkwwk …

  • innaistantina March 2, 2019 at 11:11 am Reply

    sejak punya anak, kalo pergi pasti bawa anak, jadi kalo pas pergi sendiri, berasaaaa aneh dan ada yang kurang, malah celingak celinguk, wkwkw

    • melinase March 2, 2019 at 3:33 pm Reply

      Iyaaa … Belahan jiwa, kan? Tsaaah …

  • Tita Mintarsih March 7, 2019 at 11:48 pm Reply

    Seruuuu, pengalamannya, Mbak 😀

    • melinase March 26, 2019 at 9:51 pm Reply

      Bangeeet … Pengen deh ke Bandung lagi.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.