Kajian Komite Sekolah Islam Ibnu Hajar; Mengintip Tips Menjadi Ibu Hebat untuk Generasi Kuat

Usia sulung saat ini 9 tahun dan bungsu 6 tahun.

Sependek kurun waktu usia mereka, saya sudah nggak ingat lagi berapa jam yang saya habiskan kala mengomel atau memasang wajah murka untuk satu kesalahan yang mereka lakukan.

Lagi dan lagi, saya masih ketagihan menulis seputar parenting. Di sini, saya menuliskan ulang, memastikan diri bahwa saya masih mengingat dengan baik ilmu yang sudah saya peroleh dari pakarnya. Kalau anak-anak saja seringkali ditanya,

“Tadi belajar apa di sekolah?”

dan biasanya saya manyun kalau mereka menjawab,

“Nggak tahu ….”,

lantas bagaimana saya bisa nggak malu saat bertanya pada diri sendiri,

“Tadi kajiannya bahas apa, sih?”

lalu jawaban saya di depan cermin adalah gelengan kepala?

Well, jangan-jangan anak-anak mencontoh ibunya, ya kan? #TutupMukaPakaiKipas

Source: Pixabay

Daftar pekerjaan kantor, tulisan-tulisan, PR dari berbagai kelas online, pengaturan keuangan mulai dari cicilan KPR, pembayaran PLN, PDAM, SPP, pengeluaran remahan seperti membeli segulung solasi, hingga tumpukan pakaian yang lembap karena musim hujan, seringkali membuat kepala ini rasanya penuh sekali. Kalau sudah begitu, melihat anak lupa meletakkan piring ke kotor ke wastafel, handuk basah di atas kasur, sampai anak-anak yang disuruh mandi tapi leyeh-leyeh di depan televisi, rasanya mulut saya begitu mudah terbuka, dan sepersekian detik kemudian, nada tujuh oktaf yaring memenuhi ruangan. Mungkin tetangga sebelah ikut kebagian. Wadaw, kesian bener

Kalau saya sedang nggak capek, omelan panjang yang berseri mulai dieksekusi. Biasanya sih turut membahas masa lalu bahwa anak-anak saya kemarin juga begitu, sekarang begitu lagi, masa sampai kemudian hari masih mau begitu juga. Tapi ini bukan saya banget sebenarnya. Saya lebih sering berteriak, mengeluarkan sedikit kata saja, atau mulut yang mendesis. Cobaaa, ibu atau ular, yaaa? #TutupMukaPakaiHanduk

Terkadang saya nggak mengeluarkan satu patah kata pun, hanya tatapan mata yang tajam atau bibir manyun. Nggak akan pernah berdiri di dekat cermin karena yakin wajah saya bakal kelihatan jelek banget.

Ada yang begitu juga kah, Moms?

Source: Pixabay

Dulu saya sering begitu. Tapi semakin hari saya belajar untuk mengurangi. Apalagi setahun terakhir ini saat sedang hot-hot-nya belajar parenting. Apakah itu kesadaran pribadi? Antara ya dan nggak. Sulung yang sempat mengalami kondisi nggak mengenakkan di sekolah, membuat saya mewajibkan diri untuk belajar. Apalagi setelah sebulan lalu, ada temuan dari sekolah pada diri bungsu, belajar parenting dan mempraktekkannya di rumah sudah menjadi agenda nomor satu. 

Di tengah kesibukan mencangkul di sawah menjemput rezeki dari rumah mulai dari mengurus lembaga pelatihan bareng teman-teman, merintis bisnis ini dan itu, berjualan buku, pelatihan-pelatihan baik online maupun offline yang saya ikuti beserta PR-nya, sungguh Yang Maha Kuasa memberikan saya media belajar yang memudahkan. Yes, lewat sekolah. 

Selain sebisa mungkin hadir di parenting workshop yang diadakan oleh sekolah, kajian mengenai parenting yang diadakan oleh Komite pun nggak mau saya lewatkan. Buat Moms yang ingin tahu ulasan parenting workshop yang sudah saya ikuti, boleh baca di sini, yuk … 

STIFIn Learning Workshop; Menemukan Kunci Kebutuhan Agar Belajar Terasa Asyik.

Kajian 'Be a Happy Parent'

Hari Selasa, 19 Februari 2019, saya dan teman-teman sesama orangtua murid di Sekolah Islam Ibnu Hajar menghadiri kajian bulanan yang bertajuk “Be Happy Parent”, bagaimana melejitkan potensi anak secara Islami.

Kajian ini diisi oleh Dini Sumaryanti, seorang perempuan multitalenta. Saya mengenal beliau dulu sebagai fasilitator saat mengikuti public speaking workshop “Wanna Be Trainer” yang digawangi oleh Jamil Azzaini. Sudah lama banget. Kalau nggak salah tahun 2012 lalu. Ternyata beliau juga seorang Kepala Sekolah, trainer, dan founder dari Komunitas Ibu Hebat. Aih, sibuk banget pasti. Jadi malu sama daftar aktivitas saya yang nggak ada apa-apanya dibandingkan beliau, hihihi …

Source: Komite Sekolah Islam Ibnu Hajar

Menjadi Ibu Hebat, Yuk ...

Acara ini diselenggarakan di Aula Mesjid Sekolah Islam Ibnu Hajar. Asyik, tinggal jalan kaki juga sampai, kok. 

Ibu Dini mengajak kami para Ibu untuk menjadi ibu hebat agar mampu menciptakan generasi yang kuat. Pernah dengar nggak kalau seorang ibu itu bukan hanya melahirkan anak, tapi juga melahirkan generasi? Tapi, ibu hebat itu yang seperti apa, ya? Yuk, kita bahas di sini.

Saya ingat dulu dalam sebuah pelatihan saat ditanya, “Apa kabar?” kami wajib menjawab, “Alhamdulillah … Baik, sehat, dan bahagia.”

Secara nggak langsung mengafirmasi diri sendiri bahwa kita dalam kondisi baik, sehat, dan bahagia, sehingga semesta mendengar, mengamini, dan Allah kabulkan kemudian.

Tapi bahagia itu seperti apa, sih? Nggak pernah punya masalah? Banyak uang? Sering jalan-jalan?

Well, well, well (kayak Sherlock Holmes, hahaha …), sejatinya nggak ada orang di dunia yang nggak punya masalah. Justru masalah ada untuk membuat hidup lebih berwarna. Menurut saya sih begitu. Hidup kok datar banget ya kalau santai terus. Apalagi buat saya yang suka cari masalah, contohnya di sini, nih.

Unforgettable Traveling List; and This is My List

Menurut Ibu Dini, ibu bahagia itu adalah ibu yang pandai mengendalikan emosi. Artinya, bisa bersikap tenang dalam menghadapi kondisi apapun dan rajin mengulaskan senyum di wajahnya.

Ahahahay … Kok jadi kesenggol begini nih sayanya? Ada yang merasakan hal yang sama seperti saya? #CariTemen

Selain bahagia, ternyata seorang ibu itu juga harus produktif, lho. Saat membahas ini, saya sudah ge-er gitu. Sebagai perempuan yang memang harus bekerja karena saya seorang single mom sekaligus single fighter, masih rajin ikut pelatihan di sana-sini, masih menulis juga, dan tentunya sambil mengasuh putra-putri di rumah, boleh dong saya merasa bangga. Tapi tunggu dulu, beneran sudah produktif belum, nih?

Menjadi ibu produktif nggak sesederhana itu rupanya. Waduh, udah bangga duluan. Malu ah, perlu tutup muka lagi, nih.

Source: Pexels

Ibu produktif harus memiliki iman yang kuat, gemar melakukan kegiatan positif yang bermanfaat bagi dirinya, anak-anaknya, keluarganya dan masyarakat. Walaaah, soal iman, apalah saya ini? Masih jauuuh sekali dari sempurna. Masih tertatih-tatih memperbaiki diri, malah seringnya merayap-rayap. Kegiatan positif, sudah dijalani. Tapi benar kah kegiatan-kegiatan positif saya sudah membawa manfaat bagi anak-anak, keluarga, apalagi masyarakat? Huhuhu, sepertinya baru dinikmati oleh diri sendiri. Jadi, catat lagi karena PR menjadi orangtua semakin banyak.

Prinsip Ibu Bahagia

Bahagia itu tidak tergantung materi

Bahagia itu tidak tergantung orang lain

Cara Menjadi Ibu Bahagia

Kalau membaca prinsip bahagia, berarti bahagia itu datangnya dari diri sendiri dong, ya. Iya, ini betul banget. Nah, Ibu Dini memberikan tips-tips ini cara menjadi ibu bahagia. Kuncinya adalah 3S. Wuih, pakai kode segala, ya. Apa saja kah itu? 

A. Senyum

Senyum kalau kondisi hati kita sedang senang, rasanya pasti gampang banget. Misalnya habis gajian, nilai anak-anak baik, anak menurut, dapat proyek menulis, beli pakaian baru, habis ditraktir teman, daaaan lain-lain yang enak-enak dan nyaman. Bagaimana saat sulung menumpahkan gelas berisi air, lalu lantai tergenang, bungsu lari-larian lalu terpeleset kemudian menangis kencang? Masih kah kita bisa tersenyum? Saya sih bisa, tapi nanti, dua jam kemudian. Ups, ibu macam apa ini?

Source: Pexels

 

Senyum itu mengandung makna luar biasa, lho.

  • Bernilai Ibadah (Sedekah)

Asyik kan, tinggal melengkungkan sudut bibir kanan, kiri, dan tahan selama beberapa detik, ehhh sudah bisa bernilai sedekah bagi orang-orang yang kita temui. Kalau versinya Ibu Dini, rumus senyum itu 2-2-7. Apalagi sih ini? Dua cm ke kanan, dua cm ke kiri, dan tahan selama tujuh detik. Hayo, pada praktek cobaaa? Eits, prakteknya pas anak-anak habis numpahin apa gitu ya, Moms, biar mantul hasilnya.

  • Baik Bagi Tubuh (Sehat)

Coba deh, saat kita muram terus, pasti di badan bawaannya juga nggak enak. Nah, sekarang coba dibalik ya, senyum terus, di badan bawaannya bagaimana? Lebih enak deh, pastinya. Jadi, senyum lagi yuuuk …

  • Menjadi Jalan Keluar (Solusi)

Saat masalah sudah terlalu berat mendera baik karena alasan apapun, senyum dulu deh sebelum bereaksi. Ini jadi mengingatkan saya pada ‘perang saudara’ di media sosial kita belakangan ini. Daripada salah posting, salah berkomentar, ada baiknya kita senyum dulu sebelum bertindak atau bereaksi. Bisa jadi setelah itu kita memilih diam daripada reaksi kita memantik perpecahan.

B. Syukur

Ibu bersyukur itu yang bagaimana, sih? Di acara ini, Ibu Dini kembali mengingatkan kami para ibu bahwa bersyukur itu bukan hanya dilakukan saat senang. Setiap saat harus bersyukur. Cara bersyukurnya seorang ibu adalah pandai menemukan kelebihan diri dan anak-anaknya. Di sini, kami ditantang untuk menuliskan sebanyak mungkin kelebihan-kelebihan yang dimiliki ananda di rumah. Bagi yang terbanyak menuliskan kelebihan-kelebihan putra-putrinya, ada hadiah menarik. Wuih, sayang saya malah sibuk mikir.

Buat Moms pembaca setia blog ini – semuanya setia kan, ya? Hihihi – kelebihan putra-putri kita nggak melulu karena ranking satu, menang lomba sana-sini atau wajah yang rupawan. Percaya diri, santun, suka membantu di rumah, mudah mengekspresikan perasaan, termasuk doyan makan, juga salah satu kelebihan, lho. Dengan begitu kita jadi merasa bahwa hidup kita ini enak banget, ya? Semuanya asyik …

Source: Pexels

 

C. Sukses

Duh, kalau membahas sukses, hidup saya saat ini rasanya masih jauuuh banget. Apalagi masih ada perasaan gimana gitu karena melepaskan posisi penting di perusahaan demi bisa lebih dekat dengan sulung yang tahun lalu sangat membutuhkan kehadiran saya di rumah. Tapi ini saya nih, ya, yang apa-apa masih dihubungkan dengan jabatan dan materi serta pandangan orang. Aslinya bagaimana, sih?

Menurut Ibu Dini, menjadi ibu yang sukses adalah saat dia bisa menyelesaikan masalah di dalam diri dan keluarganya secara ikhlas dan sesuai tuntunan agama. MasyaAllah … Ternyata sederhana ya, nggak ada kaitannya dengan tiga hal yang menurut saya penting tadi.

Source: Freepik

Meskipun ikhlas sendiri sulit banget diukurnya. Ya nggak, sih? Dan seketika saya jadi ingat film religi dulu yang tokoh utama laki-lakinya belajar kesana kemari mengenai ilmu ikhlas. Ada yang ingat judulnya apa? Saya lupa, euy!

Menstimulasi Otak Berpikir Ananda

Saat seorang perempuan sudah berhasil menjadi ibu yang bahagia dan produktif, maka artinya dia sudah menyelesaikan masalah dengan dirinya sendiri. Menurut saya iya banget. Jadi, jangan dulu membahas soal putri-putri kita, tapi kita duluan nih yang bercermin lalu memperbaiki dandanan kualitas diri sebagai ibu. Kalau sudah bahagia dan produktif, nah ini dia, saatnya menjalin hubungan yang baik dengan putra-putri kita, salah satunya melalui komunikasi efektif.

Source: Bramardianto

Secara umum, belahan otak manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu:

  1. Otak Reptil; ini adalah bagian otak terkecil dan posisinya paling bawah. Mempunyai peran untuk memberikan reaksi cepat saat individu berada dalam posisi terdesak dengan cara berkelit atau menyerang.
  2. Sistem Limbik; ini berada di atas otak reptil dan membungkus batang otak. Mempunyai peran dalam mengendalikan rasa lapar, haus, mengantuk, tekanan darah, dan lain-lain. Bagian ini juga mempunyai peran dalam mengatur sensor penglihatan, perasaan, termasuk ingatan dalam jangka panjang. Biasa juga disebut dengan otak mamalia.
  3. Neokorteks; ini adalah bagian atas dari lapisan otak dan terdiri atas 80% dari seluruh materi otak manusia. Bagian ini mengendalikan proses tingkat tinggi seperti logika, penalaran, pemikiran kreatif, bahasa, dan integrasi informasi sensorik. Bagian ini juga biasa disebut dengan otak berpikir.

Lalu, hubungannya apa ya Moms, antara gambar otak di atas dan pembagian belahan otak dengan komunikasi efektif? Ada, dong. Dari seluruh bagian otak di atas, otak reptil kita ini paling mudah bereaksi. Memang tugasnya otak reptil, sih. Tapi kalau sudah menjadi ibu yang bahagia, tentunya otak reptil kita jangan sampai mendominasi diri kita ya, Moms.

Misalnya begini, ananda pulang ke rumah dengan menangis dan kondisi baju yang kotor. Otak reptil kita pasti sudah menyuruh kita untuk memarahi ananda. Tapi kalau seorang ibu sudah pandai bahagia – ingat, sudah mengendalikan emosi – maka neokorteks alias otak otak berpikir kita yang bekerja. Ananda pun saat ibunya marah, bisa jadi nggak mau bercerita yang sejujurnya, malah berkelit karena otak reptilnya memerintahkannya seperti itu. Kan, dia mencoba berkelit dari bahaya. Iya, ibu yang marah berbahaya dong buat dia. Mom becomes a monster!

Source: Pexels

 

“Kenapa menangis? Kenapa bajunya kotor? Cerita sama Mama, yuk ….”

Secara nggak langsung, ananda juga akan mengolah kemampuan berpikirnya untuk bercerita kepada kita. Apalagi kalau komunikasi dua arah terjalin dengan baik setelah itu, kosakata ananda juga akan bertambah. Buat saya pribadi, komunikasi efektif ini sangat baik lho untuk mengeratkan bonding antara ibu dan anak. Feels so romantic gitu, ya kaaan?

Acara diisi juga dengan sesi tanya-jawab. Buat penanya dan penjawab pertanyaan, ada hadiah-hadiah menarik. Saya ikutan bertanya juga dan dapat hadiah, dong. Duh, tapi nggak bisa difoto karena sedang dicuci, hihihi …

Selain itu, momen ini harus didokumentasikan dong, ya. Ini dia wajah-wajah kami para ibu yang dahaga akan ilmu #Warbyasah.

Kajian ini merupakan program bulanan dari Sekolah Islam Ibnu Hajar. Saya pribadi nggak bisa setiap saat ikut karena statusnya bekerja meskipun dari rumah. Jadi sesekali saja saya bisa ijin. Sekalinya hadir, pematerinya Ibu Dini. Wuih, senang banget. Eh, apa terbalik, ya? Datang karena pematerinya Ibu Dini? Apapun itu, buat saya mempunyai media untuk terus belajar itu menyenangkan. Terima kasih untuk Ibu Dini, Sekolah Islam Ibnu Hajar, dan ibu-ibu pejabat Komite yang terus berjuang dalam dakwah di dalamnya.

Jadi, apa kabar kita hari ini?

“Ibu Hebat, Generasi Kuat!

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

Additional Source:

  1. https://www.bramardianto.com
Facebook Comments
About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

26 Comments

  • Dian Restu Agustina February 25, 2019 at 11:12 am Reply

    Ilmu parenting yang keren..
    Aku masih lebih banyak jadi monster keknya..apalagi si sulung dah mulai remaja. Duh, egonya itu warbiyasahhh
    Hiks
    Mesti banyak belajar agar jadi happy mom nih.
    Thank you for sharing, Mbak

    • melinase February 25, 2019 at 6:31 pm Reply

      Cantik-cantik jadi monster di rumah ternyata, ya? wkwkwk …

      Beginilah dunia Ibu ya, berkembang terus, dan semestinya kitanya juga belajar terus. Sama-sama ya, Mbak. Aku juga belajar nih sama senior Dian, hahaha …

  • Haeriah February 25, 2019 at 7:49 pm Reply

    Benar banget, kalau ibunya bahagia maka kebahagiaan itu akan menular ke anggota keluarga lain, termasuk anak-anak tentunya. Sekolahnya bagus, mba. Bikin acara berkualitas secara berkala.

    • melinase February 26, 2019 at 1:47 pm Reply

      Alhamdulillah, Bun. Dipertemukan dengan sekolah ini. Sudah cocok, deh, hihihi …

  • hobiutami.blogspot.com February 25, 2019 at 8:52 pm Reply

    Terimakasih Mbak tips 3Snya. Saya catat dan akan saya lakukan. Sekali lagi terimakasih ya..

    • melinase February 26, 2019 at 1:48 pm Reply

      Halo, Mbak Nila eh atau Mbak Tami ya panggilannya? Sama-sama, yaaa … Semoga bermanfaat.

  • lisa lestari February 25, 2019 at 9:06 pm Reply

    Terima kasih diingatkan agar menjadi ibu bahagia. Semoga semakin hari semakin hilang sikap seperti monsternya. Saya biasanya suka bilang jujur kalau mau marah. Diam dulu ya, mama mau marah dulu. Dan mereka akan memyingkir sebentar sampek saya bisa membuangnya.

    • melinase February 26, 2019 at 1:48 pm Reply

      Sama-sama ya, Teh Lisa. Duh, jadi ibu yang betul-betul sabar memang nggak mudah, hihihi …

  • Budi February 26, 2019 at 1:38 am Reply

    Ternyata berat juga ya tugas dan aktifitas ibu-ibu. Butuh mental yang tangguh biar jadi ibu hebat

    • melinase February 26, 2019 at 1:49 pm Reply

      Bangeeet … Tapi bapak-bapak juga nggak boleh lengah, lho. Ibu sebagai guru, bapak sebagai kepala sekolah, dong …

  • Tatiek Purwanti February 26, 2019 at 5:04 am Reply

    Bener banget nih, Mbak. Begitu ada ilmu tambahan semacam kajian seperti ini, harus dicatat dan diabadikan via tulisan.

    Menjadi ibu bahagia mah langkah awal agar mendidik anak pun jadi enjoy. Resepnya sesederhana itu ternyata, ya. Suka dengan definisi sukses yang disampaikan Ibu Dini.

    Btw, film yg tentang ilmu ikhlas itu mah “Kiamat Sudah Dekat”-nya Andre Taulany, hehe

    • melinase February 26, 2019 at 1:50 pm Reply

      Yeay! Akhirnya ada yang mengingatkanku pada ‘Kiamat Sudah Dekat’. Dari kemarin mikir keras eh kok ya nggak nemu juga judulnya. Makasiiih …

  • Juli Dwi Susanti February 26, 2019 at 8:58 am Reply

    Kolaborasi hebat antara guru orang tua dan siswa menghasilkan mutu kualitas adab dan etika berilmu yang ciamik menghasilkan karakter hebat

    • melinase February 26, 2019 at 1:50 pm Reply

      Salam hormat. Ibu Gurukuuu …

  • Nurdiah February 26, 2019 at 9:37 am Reply

    Sampai segitunya sekolah ini mengulas parenting….keren bingits. Enggak melulu tentang kecerdasan anak tapi juga kebahagiaan anak. Jadi pengen ikut kajian…tapi saya di Jogja he he he

    • melinase February 26, 2019 at 1:52 pm Reply

      Coba kulik tempat kajian terdekat, Mbak … Hihihi, investasi ilmu InsyaAllah nggak akan rugi. Kapan-kapan ke Jogja kopdaran, yuuuk …

  • dewi apriliana February 26, 2019 at 10:23 am Reply

    Waduuh itu tetangganya jangan-jangan pada pasang headset karena nada tujuh oktaf itu hihi.. menjadi ibu pembelajar begini terasa membantu ya, mbak. Saya juga senang dengan ngumpul-ngumpul begini , kita jadi tidak berasa sendirian dalam mengusahakan yang terbaik untuk anak kita. Kuncinya yang utama adalah being grateful mom ya, mbak.. Wah, masih perlu belajar banyak nih saya

    • melinase February 26, 2019 at 1:52 pm Reply

      Jangan-jangan gitu, ya, terus mereka nanti kasih kwitansinya ke aku, wkwkwwk …

  • bunda February 26, 2019 at 12:24 pm Reply

    Keren ya mbak sekolah ananda mengadakan parenting setiap bulan. Jadi tahu ilmu parenting dan bisa menyebarkan virus good parenting untuk Indonesia yang lebih baik

    • melinase February 26, 2019 at 1:57 pm Reply

      Kajian bulanan sih lebih banyak ke tema Islami. Baru kemarin ini parenting Islaminya. Makanya catat, lalu masukkan blog deh biar banyak yang dapat informasinya, huehehehe …

  • Jeanette Agatha February 26, 2019 at 8:41 pm Reply

    pembahasannya sangat bagus sekali, mbak. Bener banget kita sebagai orang tua itu sebagai kaca buat anak2.
    Apa lagi aku pernah marah2 pada anak2 saat sedang capek, ehhh setelah berselang beberapa hari mereka jadi seperti itu, sedih banget rasanya 🙁

    • melinase February 27, 2019 at 2:49 am Reply

      Iyaaa, saat melihat wajah anak-anak apalagi saat mereka tidur dan ingat kita habis memarahi, rasanya merasa bersalah banget. Merasa nggak bisa menjaga titipan Tuhan dengan baik. Huhuhu …

  • Ajeng Natassia February 27, 2019 at 2:12 am Reply

    Belum punya pengalaman ikut acara komite sekolah nih, soalnya anaknya blm resmi sekolah :’) tapi MasyaAllah kajiannya luar biasa ya mba, menyentil relung hati dan urat yang emg msh suka kenceng ngomel ke anak 🙁 InsyaAllah dicoba praktekin ah senyum 2-2-7 nya mudah2an urat bisa jadi alusan dikit 🙂

    • melinase February 27, 2019 at 2:48 am Reply

      Bisa bertahan seharian 2-2-7 langsung minta hadiah sama Paksu, Mbak, hahaha … Ini kelihatannya sederhana, tapi prakteknya, ampuuun …

  • Gita February 28, 2019 at 10:10 am Reply

    Salah satu me time emak adalah dengan ikut kajian parenting seperti ini. Me time sekaligus dapat ilmu hehe

    • melinase March 1, 2019 at 4:18 am Reply

      ‘Me Time’ yang berkelas ya begini ya, Mbak. Meskipun kadang bisa ngebakso puedes bareng teman-teman adalah bagian dari ‘me time’-nya emak-emak yang paling sederhana, wkwkwk …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.