Anak-Anak Sering Membuat Ibu Mengomel; Yuk Coba Tips Berikut Ini

Hai, Buibu … Siapa di sini yang suka mengomel sama putra-putri tercinta di rumah? Whatttt? Iya? Ihhh … Kok sama sih seperti  saya, wkwkwk

Yaaa, gimana dong? Mengomel itu kan fitrahnya ibu-ibu. Eits, tapi percaya nggak kalau tanpa mengomel justru kehidupan seorang ibu di rumah akan menjadi jauh lebih nyaman? Iyalah, di mana-mana mengomel itu menguras tenaga kan ya, Buibu? Capek, jadi lapar, semakin doyan makan, eh nanti timbangan bergerak semakin ke kanan, lho, wkwkwk … Yah, meskipun itu nggak terjadi sama saya ya, karena bisa bertahan di angka 50 kg saja sudah bersyukur. Eits, tulisan tentang berat badan jangan di sini atuh ya, wkwkwk

Mengomel mungkin menjadi penyaluran dari seorang perempuan untuk mengeluarkan 20 ribu kata per hari. Bagi orang-orang yang suka menulis, kebutuhan tersebut bisa dituangkan ke dalam tulisan. Nah, masalahnya saat seorang ibu tengah kesal, refleks pertama yang akan dilakukan ya mengomel. Boro-boro deh sempat membuka laptop atau ponsel untuk buru-buru mengetik, “Grrr … Aku kesaaal!!!”

Untuk bisa mengelola agar kita bisa seminimal mungkin nggak mengomel, yuk kita cari tahu dulu, apa sih kebiasaan ananda di rumah yang seringkali membuat mulut para ibu-ibu begitu cepat mengomel. Ini beberapa kebiasaan itu versi saya di rumah ya, Buibu.

Nggak Membereskan Mainan

Bricks menjadi mainan yang nggak ada matinya buat anak-anak di rumah. Kalau dulu anak-anak sebatas membentuknya menjadi berbagai macam makhluk atau bangunan saja, sekarang sudah dimainkan bersama benda-benda lain di rumah. Mulai dari buku-buku, kotak susu, sendok, perlengkapan menulis, sampai tripod saya pun ikutan di sana, lho. Dulu mainnya hanya duduk diam sambil tekun merakit, sekarang heboh. Mas maupun adek sama-sama berperan jadi sesuatu. Jadi seperti tengah bermain peran gitu. Ada suara manusianya, hewannya, sampai suara peluru dimuntahkan. Bagus menurut saya, karena imajinasi, kreatifitas, dan kosakata anak-anak berkembang.

Source: Pixabay

Tapi, saat jam sholat, makan, dan mandi tiba, tentunya saya harus mengingatkan mereka dong untuk rehat dulu. Apalagi kalau waktunya sholat, ya. Kalau ditunda-tunda, waktunya sholat Dzuhur keburu masuk sholat Ashar, waktunya sholat Ashar keburu masuk sholat Maghrib. Iya sih, mereka menurut buru-buru masuk ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian sholat. Tapi setelah itu, mereka ngobrol lagi dan meninggalkan mainan berserakan di tempat bermain tadi. Saya yang melihat pemandangan itu, secepat kilat mengingatkan. Satu dua kali nggak dihiraukan, mulai deh pakai TOA, “Maaas! Adeeek! Mainannya diberesiiin!”

Dan omejkhklhklhuiohfkjsahfuiwfhifjkfhajkfh sepanjang rangkaian commuterline Jabodetabek pun meluncur dari mulut saya.

Tugas dari Sekolah yang Terlupakan

Anak-anak saya bersekolah di sekolah yang PR-nya hanya sesekali saja, yaitu mengerjakan SWP (Study With Parents). Ini semacam Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diberikan satu-dua kali dalam setengah semester. Memang harus dikerjakan bersama-sama dengan orangtua karena anak-anak ya selayaknya belajar di rumah bersama orangtua, kan? Di halaman terakhir juga terdapat lembaran untuk diisi oleh orangtua berupa saran dan masukan serta kesulitan ananda saat mengerjakan.

Source: Pexels

Tapi selain itu, ada tugas-tugas lain yang sifatnya sebenarnya hanya diminta membawa atau menyiapkan bahan mentah karena pengerjaannya akan dilakukan di sekolah. Misalnya saja diminta membawa kertas warna, kanvas, kuas, atau membuat berbagai macam bangun datar dari kardus. Nah, ini beberapa kali sulung lupa bilang. Baru disampaikan malam hari saat saya sudah mager banget buat keluar rumah.

Akhirnya, alih-alih langsung berangkat ke toko peralatan tulis untuk mencari bahan, saya biasanya lebih dulu meluncurkan omelan investigasi. “Kenapa nggak bilang dari tadi, sih? Tadi seharian ngapain aja? Kebiasaan deh, selalu begini.” Padahal ya nggak selalu begitu juga, qrkqrkqrk

Menyisakan Makanan

Saya tuh paling kesal kalau melihat anak-anak makan dengan sisa-sisa nasi di piringnya. Berasa jorok gitu dilihatnya. Soalnya saya kalau makan bersih banget. Tinggal guyur air lalu lap sampai kering juga nggak kelihatan kotornya, wkwkwk … Saking menghormati makanan sampai tulang ayam pun hancur menjadi remahan. Makanya kalau anak-anak makan dengan buliran nasi masih di sana-sini, seketika saya lahar omelan saya meluap semua. “Makannya jorok banget, sih. Dihabiskan, dong. Makan yang bersih, jangan disisain begini.”

Source: Dreamstime

Lantai Basah

Siapa coba yang anak-anaknya di rumah hobi bermain air? Sepertinya sih semua anak suka ya, Buibu. Unyil-unyil di rumah juga begitu. Alasannya sih mau mencuci sandal dan sepatu buat hari Senin. Tapi ujung-ujungnya ya bermain air juga. Bukan cuma teras, lantai ruang tamu pun ikutan basah. Apalagi sulung sedang senang-senangnya punya mainan baru berupa akuarium lengkap dengan ikan alligator dan catfish di dalamnya. Selain itu ada satu kotak lagi berisi ikan-ikan kecil untuk makanan ikan-ikan predator itu. Yang namanya akuarium kan semestinya ya memang dipandangi saja, ya? Ini tuh nggak. Sulung dan bungsu sibuk ngubek-ngubek kolam si ikan-ikan kecil. Dibuatkan istana dari bricks, ikannya dielus-elus, digiring-giring masuk ke istana, membuat ikannya kaget, kecipak-kecipuk lalu airnya menciprat ke lantai dan … basah, deh.

Kalau sudah begitu, saya langsung mengomel juga, dong, “Apa-apaan ini? Ayo, keringin cepetan!”

Itu cuma sebagian contoh nyata yang membuat ibu-ibu macam saya jadi hobi mengomel di rumah. Kalau diminta menjawab secara jujur, mengomel itu melelahkan. Ya nggak, sih? Mengomel pasti diiringi dengan ekspresi marah dan kerutan di dahi. Wadaw! Umur bolehlah menua tapi kerutan di wajah mah kalau bisa nyusul aja gitu ya, wkwkwk … Sudah begitu, yakin deh, anak-anak nggak pernah suka mendengar kita mengomel. Telinga rasanya panaaas. Seperti kalau saya mendengar ibu saya mengomel gitu tuh, wkwkwk

Tapi kan saya mengomel untuk kebaikan mereka juga. Supaya mereka disiplin, teratur, dan nggak membahayakan siapapun.

Nah, berhubung sebenarnya omelan kita itu untuk kebaikan anak-anak di rumah juga, sebenarnya ada cara-cara yang bisa dilakukan agar kita bisa sebisa mungkin mengurangi kebiasaan mengomel. Seperti apa, sih?

A.      Menjadi Ibu Panutan

Kenapa anak-anak suka abai membereskan mainan? Jangan-jangan karena kita juga nggak membereskan wajan dan perlengkapan tempur dapur lainnya usai memasak, nggak membereskan benang dan perlengkapan tempur menjahit lainnya usai membuat taplak meja, atau nggak membereskan bedak dan perlengkapan lenong make up lainnya karena buru-buru melesat ke kantor.

Anak-anak suka mengikuti perilaku orang dewasa di sekitarnya terutama orangtua kan, ya? Jadi yuk, coba deh bercermin ulang sudahkah kita memberikan contoh baik kepada mereka? Jangan sampai anak-anak diwajibkan rapi sedangkan kita ibunya malah terbiasa berantakan.

Source: Pinterest

B.      Menerapkan Kedisiplinan dengan Reward and Punishment

Daripada sibuk mengomel sepanjang waktu, kenapa nggak menerapkan kedisiplinan pada anak dengan reward and punishment? Tentunya jangan sampai reward and punishment ini membuat kantong orangtua bolong karena anak-anak jadi pribadi yang morotin orangtuanya.

Reward bisa diterapkan dengan metode akumulasi. Jadi bukan sekali berbuat baik lalu diberi hadiah. Ibu bisa menyiapkan papan di dinding. Saya punya beberapa papan dari styrofoam yang ditempel di dinding dan berisi banyak catatan termasuk reward untuk anak-anak. Saat anak-anak berbuat baik, beri satu bintang. Jika sudah terkumpul misalnya 50 bintang, maka anak-anak akan diberi hadiah es krim, krayon baru, atau ikan baru kalau buat sulung saya.

Source: Linovhr

Ini juga bisa digunakan untuk memacu semangat belajar anak-anak ya, Buibu. Beri anak-anak bintang dengan jumlah tertentu tergantung tingkat kesulitan. Misalnya hapal Pancasila dan lambangnya diberikan lima bintang, perkalian sampai dengan sepuluh memperoleh lima bintang, hapalan Juz 30 memperoleh 20 bintang, dan seterusnya.

Begitu juga dengan punishment, saat mereka nggak berbuat baik misalnya dengan membuang sampah di sudut kamar (bungsu saya dulu begini soalnya, wkwkwk), beri hukuman dengan menyapu bagian kamar, misalnya. Hukuman ini menjadi nggak menyakitkan, malah melatih ananda untuk menjaga kebersihan.

C.      Menjadi Ibu yang Luwes dan Ceria

Wuidih, rumah berantakan, tugas sekolah terabaikan, lantai basah semua, mana bisa kita bersikap luwes dan ceria? Kata siapaaa? Bisaaa banget.

Anak-anak kan suka bermain peran, ya? Kenapa kita nggak ikutan terlibat di dalamnya? Saat anak-anak sudah selesai bermain tapi nggak dibereskan, ibu bisa berpura-pura menjadi raksasa petugas kebersihan. Keluarkan suara nge-bass ala raksasa, lalu mulailah bicara.

“Aku adalah raksasa petugas kebersihan. Siapa yang mainannya berserakan di lantai, maka aku akan angkat dengan capitku sekarang juga, hohoho … Mainan kalian akan aku masukkan ke keranjang sampah lalu kuterbangkan ke luar angkasa, hohoho ...”

Anak-anak pasti suka saat ibu ikut bermain bersama mereka. Nggak mau dong kalau mainannya dibawa raksasa ke tempat sampah lalu keluar angkasa. Mereka pasti mau bergerak untuk mengambil mainannya. Meskipun yaaa, butuh kesabaran karena mereka pasti akan membereskan sambil tertawa-tawa dan lari-lari keliling ruangan, menyelamatkan diri dari kejaran raksasa. 

Percaya deh, dengan cara seperti ini, anak-anak bisa belajar tertib dan disiplin sekaligus menguatkan ikatan hati dengan ibu.

D. Beri Pengertian pada Anak

Malam hari sebelum tidur menjadi saat yang tepat untuk mengajak anak-anak bicara dari hati ke hati. Sampaikan bahwa ibu bahagia kalau anak-anak bermain dengan rukun dan ceria bersama kakak/adiknya. Tapi sampaikan juga bahwa ibu menjadi sedih saat mainannya nggak dirapikan. Ibu juga khawatir kakak/adik akan terjatuh saat lantai basah karena mereka bermain air dan nggak mengeringkannya. Jangan lupa berikan pelukan juga ya, Buibu.

Source: Parents

Itu dia tips-tips dari saya untuk mengurangi kebiasaan para ibu mengomel karena ulah anak-anak. Masa kanak-kanak mereka hanya sebentar saja. Hadapi saja dengan santai tapi tetap berusaha menerapkan aturan. Bisa jadi, saat mereka besar nanti, kita malah merindukan rumah yang berantakan, lantai yang basah, teriakan saling berebutan mainan, sampai tangisan mereka yang dulu terdengar memekakkan telinga kita.

 

Salam,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

34 Comments

  • Juli Dwi Susanti April 15, 2019 at 11:08 am Reply

    Godaan untuk marah memang kuat , tapi dengan tips ini benar-benar bisa dipraktekkan

    • melinase April 15, 2019 at 1:39 pm Reply

      Semoga aku pun istiqomah dalam melaksanakannya ya, Miss, hehehe …

  • Dwi April 15, 2019 at 6:36 pm Reply

    Whehehe belum nyobain sih trik jadi raksasa, mungkin akan berhasil walau jadinya main2 dulu bentar, qiqiqi…

    • melinase April 15, 2019 at 10:52 pm Reply

      Efektif, Mbak. Cuma memang harus sabar. Daaan, ujungnya malah asyik buat anak-anakku. Apalagi ada bungsu yang sukanya diajak, bukan diperintah. Semakin diperintah, semakin keras kepala dia, wkwkwk … Cobaiiin … Mumpung anaknya masih kecil. Kalau udah gede, raksasaaan badan anaknya, hahaha …

  • Dian Restu Agustina April 15, 2019 at 10:24 pm Reply

    Mbak kayaknya semua anak apa ya..giliran bebawaan apa ke sekolah bilangnya sudah malam, pas emaknya leyeh-leyeh, toko hampir tutup…baru bilang besok bawa ini, bawa itu huhuhuhu
    Padahal dari tadi emak ada dan enggak kemana-mana. Duh!
    Keknya ngomel memang kodrat emak..pertanda sayang anak:)

    • melinase April 15, 2019 at 10:53 pm Reply

      Iya, ya? Bikin gemes banget itu. Belum kalau hujan. Deuh, males banget keluar rumahnya. Menunggu besok, belum tentu udah buka pas dia berangkat sekolah. Wkwkwwk … Ngomel mode on jadinya ya, Mbak.

  • Evalina April 16, 2019 at 8:22 am Reply

    He he he sampai sekarang masih belum bisa berhenti mengomel, karena ketika diajak diskusi kelihatannya anak mengerti, tetapi nanti diulang lagi….

    • melinase April 16, 2019 at 8:59 am Reply

      Nggak usah berhenti juga sih, Mbak. Dikurangi aja. Emak-emak tanpa ngomel ya dunia kurang lengkap wkwkwk …

  • steffifauziah April 16, 2019 at 10:16 am Reply

    agak berat ini wkwkk, saya belum punya anak masih ngurus ponakan aja kadang suara udah 8 oktaf heu. Tapi ya itu tadi kudu belajar terus dan mencoba untuk enggak ngomel. Tipsnya oke-oke banget mba, nanti kucoba ke ponakan dulu sebelum ke anak sendiri hehe. makasih mba sharingnya.

    • melinase April 16, 2019 at 11:26 am Reply

      Sama keponakan suka ngomel, nggak? Biasanya ngomel ke keponakan beda sama ngomel ke keponakan sendiri. Kalau begitu mungkin boleh dicobain ngomelin keponakan dulu, wkwkwk … Tapi kalau emaknya ngamuk jangan minta tanggungjawab ke aku ya, Mbak.

  • ghina April 16, 2019 at 10:55 am Reply

    kalo untuk urusan main, Nahla ogah-ogahan sih mbak buat main air gitu, dia ga suka kalo sendalnya basah juga. Tapi, kalo jatuhin air paling hobby. Gimana tuh kudunya menghadapinya, hehe

    • melinase April 16, 2019 at 11:25 am Reply

      Waduh, kalau hobi jatuhin air mungkin sebenarnya dia itu pencetus ide water pool dengan guyuran ember itu, Mbak, wkwkwk …

  • Qoty Intan Zulnida April 16, 2019 at 3:35 pm Reply

    Mbak, I feel you. Hahaha aku juga ngerasain ini. Ya, sekarang sih mulai tobat, mulai narik napas dalam-dalam tiap ada keributan Biar gak ngomel gitu. Hihihihiii efektif sih, dikit. Hahahaha Kadang masih ngomel juga. Yang paling sering emang memberi reward punishment dan ikut bermain peran. It’s works.

    • melinase April 16, 2019 at 4:34 pm Reply

      Toss, ah … tapi kata teman-teman yang anaknya banyak, semakin banyak anak, merek semakin berkurang lho kadar mengomelnya. Udah lelah urus banyak anak kali, yaaa … Hihihi … Yukslah kita lanjutkan pendekatan sama anak-anak kita.

  • Tatiek Purwanti April 16, 2019 at 6:01 pm Reply

    Mengomel adalah bagian tak terpisahkan dari kita. Sebenarnya saya bisa mengontrol dengan cara ambil napaaaas trus jangan lupa hembuskaaan 😀
    Tapi jujur, kalau sedang PMS, berat juga sih. Jadi solusi-solusi dari Mbak Mel di atas bener juga, tuh. Kudu pintar-pintar menyiasati agar omelan berbuah perbuatan yg ‘lebih manis’ 🙂

    • melinase April 17, 2019 at 4:00 am Reply

      Iyae bener, Mbak. Kalau sedang PMS, sudahlah perut mulas, seluruh badan nyeri, kepala pusing, perut mual, ini sangat berat untuk nggak ngomel. Cepet banget meledaknya, ya hahaha …

  • Nanik Kristiyaningsih April 16, 2019 at 6:08 pm Reply

    Hehe, benar Mbak Mel. Pasti kangen kalau dah besar nanti.
    Seperti si kecil saya yang dah gedhe ini. Kangen banget masa-masa kecilnya dulu.
    Eman banget jika disaat kecil kita hanya menghiasi hidup mereka dengan omelan.
    Setuju tips2 dari Mbak Mel di atas.

    • melinase April 17, 2019 at 4:01 am Reply

      Kalau udah Bujang begitu masih ngomel juga sih emaknya? Pengen tahu. Apakah memang kita ditakdirkan mengomel sampai tua gitu, ya? Wkwkwkwk …

  • Lisa Lestari April 16, 2019 at 6:10 pm Reply

    Hahahaha… saya ngakak asli. Saya banget juga nih, enggak anak aja kalau kayak di atas emak ngomel, bahkan kucing pun kalau makannya berantakan saya ngomel. Dan anehnya si pus di rumah juga paham kalau emaknya ngomel mereka diem nggak jadi makan. Trus bener banget tuh yang dibilang mbak Dian. Anakku nomor dua suka banget begini. Makasih tipsnya mak, tips bermain peran sering saya terapkan saat anak-anak nggak mau ngerapiin mainannya.

    • melinase April 17, 2019 at 4:02 am Reply

      Kucing oh kucing. Kasihan sekali dirimu. Emaknya galak, ya? Hahahaha … Nggak papa, pusss, yang penting dikasih mamam enyaaak.

  • Roik April 16, 2019 at 9:59 pm Reply

    Ya, ternyata sana sini sama ya yang namanya tingkah polah anak. Menurut aku sih ada plus minusnya jadi ibu yang suka ngomel sama yang enggak. Ada lho ada ibu yang diam saja ga mau memerintah anaknya dengan omongan hanya sekedar tindakan. Eh itu anak malah ga ngerti2 juga. Kalau aku suka tipe ibu yang nuturi (memberi nasehat) dan juga memberikan teladan.

    • melinase April 17, 2019 at 4:03 am Reply

      Iya, Mbak. Nasehat tetap kuberikan sebelum tidur. Ini bisa banget menyentuh perasaan anak-anak. Nasehat panjang lebar saat mereka sedang berulah, biasanya masuk kanan terus keluar lagi dari kanan juga, wkwkwk …

  • Sunarti kacaribu April 17, 2019 at 5:10 am Reply

    Emak dimana mana sama ya. Doyan ngomel. Walau sebenarnya gak ngomel itu juga bisa selesai,cuma karena udah keburu kesel liat bocah gak dengerin emak,jadi deh nyap nyap. Hehe..
    Btw tipsnya oke nih buat di ikuti. Terutama kasih reward dan punishment itu. Saya suka. Tengkyu mak.

    • melinase April 17, 2019 at 7:13 am Reply

      Bisakah Kita sebut mengomel adalah fitrah emak-emak? Oups, bisa dimarahin Allah nanti, ya … Hihihi …

      Yuk lah cuzz kita sama-sama praktek.

  • Eva April 18, 2019 at 2:32 am Reply

    Tau dong postingan Di wall akoh…kalau Rai itu udh hafal kosa Kata apa yg Akan keluar kalau mamak nya ngomel2…qiqiqiq

    • melinase April 18, 2019 at 4:34 am Reply

      Wkwkwk … Udah hapal dia, ya? Tinggal dilanjutin aja. Eleuh, bageur dia mah. Bantuin Ibu ngomel biar nggak capek. Gotong rotong, wkwkwk …

  • Uswatun hasanah April 18, 2019 at 9:31 am Reply

    Ngomelll…. itu dulu.
    Skrg… sy mah lebih banyak diam sambil berfikir dan banyak istighfar.

    Baca blog nya keren bingit.
    Membuat ilmu baru buat sy.

    Lanjutkan mommy.
    Ibu ibu jaman now kudu semangat. Jangan kendor untuk perkembangan anak anak.
    Untuk porsi ngomelll ya mohon di tahan. Kurangi lah momm.

    Kalo mau ngomel… iringi doa yang keluar dr mulut dengan baik dan doa yg bisa diijabah oleh allah.

    Ngomel nya diperhatikan ya…

    Jangan keluar kata kata yg merusak semangat anak ya mom

    • melinase April 18, 2019 at 11:37 am Reply

      MasyaAllah … Sudah melewati fase itu ya, Mom. Kereeen … Aku masih berjibaku dan bergerilya (apa siiih?) supaya bisa memberitahu anak-anak tanpa perlu mengomel. Istighfar wae terus, ya, hahaha …

  • Eno April 18, 2019 at 11:53 am Reply

    Aku pernah tuh waktu anak2 masih kecil (sekarang udah SMA dan hampir lulus SD), main air nggak udah-udah. Akhirnya kutugasin nyikat kamar mandi aja. Mereka senang, aku senang, kamar mandi pun kinclong 😀

    • melinase April 18, 2019 at 1:59 pm Reply

      Beuh! Ini sih namanya simbiosis mutualisme. Lanjutkan lah yang model begini, sih, hahaha …

  • Eta Rahayu April 18, 2019 at 1:02 pm Reply

    Wah ini ponakan saya banget ini sering lupa ngerjakan tugas, ingatnya sehabis subuh mau berangkat sekolah. Dan kakak saya sering banget ngomelin dia, hehehe.. Coba kakakku baca tips ini.

    • melinase April 18, 2019 at 1:58 pm Reply

      Di grup orangtua murid di sekolah anak-anak, rata-rata memang begitu. Sebagian kecil aja yang inget kalau punya PR. Anakku kadang inget sih, Mbak, tapi PR-nya apa yang dia laporkan ke aku apa. Beda! Wkwkwk … Monggo, yuk, belajar menjadi orangtua yang minim mengomel, hihihi …

  • Baiq Cynthia April 18, 2019 at 5:19 pm Reply

    Benar banget, Mbak. Kadang bikin kesal dan greget. Terlebih kalau anak-anak baru mandi dan makan sambil morat-marit. Tapi, ya namanya anak-anak, dunia mereka terlalu luas dan gak bisa dibatasi. Maka wajar kalau rumah kayak kapal pecah selama punya anak.

    • melinase April 19, 2019 at 9:46 pm Reply

      Iya, hanya cukup diatur sedemikian rupa aja supaya lebih tertib, ya. Kalau dilarang bermain, wah … kejam banget kita ya, hihihi …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.