[Review Film]: Mantan Manten; tentang Bagaimana Seharusnya Bersikap pada Mantan

Siapa yang suka menonton film layar lebar Indonesia? Saya salah satunya. Tapi biasanya sih saya pilih-pilih juga, dong, siapa sih para pemainnya, hehehe …

Mantan Manten menjadi film Indonesia yang saya tonton di bioskop beberapa waktu terakhir ini. Judulnya membuat penasaran banget. Di sana, ada Atikah Hasiholan yang aktingnya selalu saya beri acungan jempol. Bagaimana dengan peran yang dibawakannya di Mantan Manten ini?

Apa yang bisa kamu ingat tentang seorang mantan? Atau malah mengingatnya pun ogah, seperti nggak ada makhluk lain di dunia ini yang cukup pantas untuk diingat, kira-kira begitu. Sadis, ya? Bagaimana dengan Mantan Manten ini?

Film besutan sutradara Farishad Latjuba dari rumah produksi Visinema Pictures ini mulai tayang di bioskop-bioskop tanah air mulai 4 April 2019 lalu. Saya baru menonton di hari Minggu, 6 April 2019. Satu studio terisi penuh. Penonton didominasi perempuan – mungkin karena ada Arifin Putra, oups, dan sayangnya sebagian membawa anak-anak. Duh 

Film ini menceritakan kehidupan Yasnina Putri atau yang biasa di sapa Nina (Atiqah Hasiholan), seorang wanita karir yang terkenal sebagai manajer investasi. Dia mempunyai segalanya. Cantik, pintar, kehidupan yang glamour, dan tunangan yang tampan dan anak konglomerat, Surya (Arifin Putra). Kehidupan dambaan setiap orang itu harus berakhir saat Iskandar (Tyo Pakusadewo) yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja, mengkhianati dan menjebaknya dalam suatu kasus di perusahaan. Seluruh harta yang dimilikinya habis disita. Nina jatuh miskin dan harus memulai semuanya dari nol. Nama baiknya pun sudah tercoreng.

Tyo Pakusadewo sebagai aktor kawakan seperti biasa sanggup membuat saya ingin mencakar-cakar wajahnya. Peran jahat yang dia mainkan dengan cara halus. Ini khasnya Tyo Pakusadewo banget, ya. Sejak awal pun Atiqah Hasiholan memerankan tokoh Nina dengan matang. Bagaimana seorang Nina yang biasa tampil glamour kemudian berubah menjadi tampak tak terurus dengan rambut berantakan, memohon pada Iskandar agar menolongnya menghadapi kasus yang tengah menimpanya.

Sebenarnya Nina masih mempunyai rumah di daerah Tawangmangu yang nggak ikut disita karena belum pindah nama. Rumah itu yang dia harapkan bisa segera dijual sebagai modal untuk membalas dendam pada Iskandar. Mulailah Nina berangkat menggunakan bus ekonomi menuju Tawangmangu.

Orang yang berusaha ditemui Nina bernama Marjanti yang oleh penduduk sekitar biasa disapa Budhe Mar (Tuti Kirana). Seorang wanita Jawa yang mengabdikan hidupnya untuk menjadi pemaes (dukun manten). Budhe Mar hidup seorang diri di rumah yang sudah dibeli oleh Nina sejak dua tahun lalu. Di sisa usianya, Budhe Mar diliputi kekhawatiran tentang siapa yang akan meneruskan tradisi menjadi pemaes karena dia dan almarhum suaminya nggak dikaruniai keturunan.

Keinginan Nina untuk memperoleh tandatangan Budhe Mar agar bisa segera mengurus perpindahan nama rumah tersebut menemui banyak rintangan. Alih-alih menandatangani surat yang diminta Nina, Budhe Mar malah meminta agar Nina tinggal bersama Budhe Mar selama tiga bulan, sebagai syarat untuk dapat memiliki rumah itu. Sampai di sini, saya kesal pada karakter Budhe Mar. “Piye tho iki? Omah-omahe sopo sing ngatur sopo?” (Gimana sih ini? Rumahnya siapa, yang mengatur siapa?)

Babak kehidupan baru Nina dimulai di Tawangmangu. Dia menjalani hari-hari yang jauh dari kehidupannya dulu di Jakarta. Mengikuti Budhe Mar menjadi pemaes, menjalani ritual yang harus dijalani sebelum menjadi pemaes, bersusah payah demi memperoleh kembali hak atas rumahnya itu.

Kehidupan memang nggak selalu bisa sejalan dengan yang kita inginkan. Seringkali berubah arah dari yang kita inginkan. Tapi selalu ada makna dan hikmah yang bisa dipetik jika kita mau merenungkannya.

Nina kehilangan pekerjaan, pernikahan yang di ujung tanduk, dan krisis kepercayaan pada orang-orang di sekitarnya karena dunia seperti menolak memuluskan jalannya untuk membalas dendam. Kenyataan selalu membawanya kembali ke Tawangmangu.

Tuti Kirana dan Atiqah Hasiholan menjadi pemeran yang sangat memberikan rasa pada film ini. Budhe Mar diperankan oleh Tuti Kirana dengan begitu hidup. Aura wanita Jawa yang masih terikat dengan tradisi tergambar jelas dari dirinya. Wanita yang sudah nggak lagi memikirkan materi. Hidupnya hanya berfokus untuk membantu para pengantin melalui upacara pernikahan dengan sesakral mungkin. Melihat ekspresi Budhe Mar, rasanya saya mendapati aura mistis yang begitu kental. Kalau bertemu langsung mungkin saya bakal merinding.

Saat memberikan penilaian pada sesuatu, bisa jadi pendapat kita akan berbenturan dengan orang lain. Jika melihat pada unsur Jawa yang cenderung begitu melekat, nggak ada perintahnya dalam agama, dan mubazir, bisa saja kita menilai film ini nggak layak untuk dinikmati. Tapi saya memilih memberikan penilaian dari sudut lain, skor 4,9/5. Ini tentang perjalanan kerasnya hidup seorang perempuan yang mempertemukannya pada kekuatan dan keikhlasan. Pesan moral yang menurut saya patut kita acungi jempol.

Film ini awalnya memang menyuguhkan keromantisan antara Nina dan Surya. Tapi hanya sebentar saja karena semakin lama isinya semakin serius. Tapi jangan khawatir karena penonton nggak akan merasa lelah dan tegang karena sosok Darto (Dodit Mulyanto) dihadirkan untuk mencairkan suasana dan sanggup membuat seisi studio tertawa.

Buat yang sudah menonton filmnya, punya pendapat apa? Bagi yang belum, kapan mau menonton?

 

 

Salam,

Melina Sekarsari

2 Shares:
28 comments
  1. Aku juga jaraaang. Ini karena hari Minggu dan anak-anak sedang diajak main aja sama Budhenya. Jadilah aku melipir ke bioskop. Nonton deh, pesan moral buat perempuannya bagus banget.

    1. Cieeeh … Senang nih ya, kawasannya dijadiin lokasi film layar lebar, hahaha … Nonton lah, Mbak. Seru tuh si Dodit. Biasa deh, tampang lugu dan polosnya itu bikin penonton gemes-gemes nyengir gitu, kan?

  2. Duuh aku galfok tadi, kenapa anak-anak pada diajak nonton film ini ya?

    Aku sih nggak gitu ngikutin mba perfilman Indonesia, mancanegara jugak sih… hehe secara aku dan suami juga gak doyan nonton bioskop… (((bioskop)))

    1. Ini karena diajakin nonton juga sih, Mbak. Baca judul dan lihat para pemainnya, baru deh aku angkat sepatu menuju bioskop, huehehe … Kalau mau coba nonton, si gadis kecil jangan dibawa, yaaa, hahaha …

  3. Aku belum nonton mbak film ini. Kalo hub ak sama mantan ada yang malah jd temenan ada 1 yang ampe sekarang hubnya jadi gak baik wkwkw aduh si mantan yah ada-ada aja

  4. jadi ingat dulu pas SMA nonton film Ghost nya Demi Moore ditemenin ayahku hahah…Kalau sekarang sudah ngga pernah nonton bioskop mbak..selain karena si krucil, sekarang film bioskop ngga usah nunggu lama, eh sudah tayang di tipi…pengennya nyoba nulis tentang review…tapi kalau ngga pernah nonton film bagaimana coba…jadi ngga nyambung hahahha

    1. Nah kadang aku juga masuk barisan nonton film bioskop di TV atau laptop, sih, wkwkwk … Jadi urusan itu bolehlah kita sama. Terus biar nyambung sama review ini, nonton hayuuuk … Huehehehee ….

  5. wkwkwk gak kebayang sih ketika mantan dateng ke acara nikahan, heu. Nanti ada yang gagal move on, wkwkwk. Entah kenapa saya kurang suka yes sama film romannya indonesia kurang greget gitu dibanding drakor *tetap, ampoon. Coba nanti saya liatnya kalo udah masuk TV aja *jangan getok saya plis wkwkwk.

    1. Nina mah keren, bukane sekedar datang. Gubrak deh kalau aku. Aku bukan penggemar drakor euy. Cuma pernah nonton Full House. Rasanya sibuk banget gitu sampai nggak sempat nonton drakor, wkwkwkwk …

  6. Saya udah lama nggak nonton film hehe cek aja ada bayi sampai balita dan seterusnya jadi lupa rasanya nonton film, hehe.. terakhir saya ajak anak2 nonton dinosaurus, 3 atau 4 tahun yang lalu hihi, yang bungsu tidur nyenyak selama film berlangsung.

    1. Ini bisa nonton karena anak-anak diajak main sama Budhe-nya. Biasanya aku nonton kalau mereka minta. Mereka nggak minta yo wis, anggap film itu nggak ada, wkwkwwk ….

    1. Lha itu juga karena anak-anakku digondhol sama Budhenya, Mbok, terus dapat kesempatan nonton. Yo mangkat laaah, wkwkwwk … Nina wis merit duluan sama Rio Dewanto, bhuahaha …

  7. Ini film emang bagus mbaa! Sepakat banget dengan reviewnya. Pertama kali tau Mantan Manten gegara Podcast di Inspigo, terus makin penasaran setelah liat trailernya dan yang main Atiqah Hasiholan, karena kualitas aktris theater itu cakep cakep actingnya. Menurutku ini salah satu film Indonesia yang bagus di 2019, mestinya bisalah Atiqah atau Tuti Kirana dapet Piala Citra.

    1. Akhirnya aku menemukan penonton yang setuju kalau film ini kereeen. Saat film ini tayang, rasanya kebanyakan teman-teman lebih memilih menantikan kehadiran Avenger. Ya nggak, sih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like