Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Keikhlasan dari Sebuah Rumah; Mengapa Saya Tidak Melakukan Hal yang Sama?

Keikhlasan dari Sebuah Rumah; Mengapa Saya Tidak Melakukan Hal yang Sama?

Saya duduk di tangga rumah itu dengan dada berdebar. Kaki kanan saya luruskan hingga menyentuh lantai ruang bawah, sementara kaki kiri ditekuk. Beberapa menit kemudian kedua kaki itu berganti posisi. Setengah menyesali diri sendiri, kenapa saya mesti ada di rumah, membiarkan laki-laki yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu memanggil saya turun. Alasannya, sesekali saya menonton televisi, bukan hanya berdiam diri di kamar.

Perasaan saya mulai nggak enak. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibirnya. Saya yang masih duduk di anak tangga, dan beliau yang duduk menghadap televisi. Benda yang menyala dan tengah menyiarkan entah acara apa itu diletakkan di rak yang sejajar dengan anak tangga tempat saya duduk. Jadi, semestinya beliau bisa melihat perubahan air muka saya di setiap pertanyaan yang dilontarkan.

Situasi ini benar-benar nggak saya harapkan. Ketika pikiran saya tengah kacau dan nggak ingin seorang pun tahu. Untuk apa? Bahkan orang-orang yang seharusnya tahu pun malah seolah nggak mau tahu. Jadi, untuk apa saya membiarkan orang-orang yang nggak tahu menahu malah mencoba mencari tahu.

Source: Dailyroar

“Bagaimana pekerjaanmu?”

“Kegiatan kantor, masih jalan?”

Pertanyaan-pertanyaan yang membuat dada saya sesak. Sampai kemudian ada yang berubah pada mata saya. Pandangan saya mengabur, mendengarkan kalimat yang terlontar dari bibirnya.

“Ibu selalu sedia beras, telur, minyak goreng, mie instant, saus, kecap. Semuanya ada di dapur. Kamu masak aja. Lapar, turun, tinggal masak. Nggak usah beli di luar.”

Sepersekian detik kemudian, bulir bening jatuh satu demi satu. Terhenyak, sedih, malu, saat beliau melanjutkan kalimatnya.

“Saya buka kamar di atas buat kost karena saya sering pergi keluar kota. Kasihan Ibu sendirian. Biar ada temannya. Kalau punya uang, kamu silakan bayar. Kalau nggak, cukup temani Ibu saja.”

Bahu saya terguncang menahan isak. Saya nggak bisa berkata apa-apa. Hanya ucapan terima kasih yang samar terdengar. Hari itu, menjadi awal bagi saya menjadi ‘putri’ bapak dan ibu di rumah itu.

Saya nggak pernah menyangka, kemudahan memperoleh pekerjaan sebelum diwisuda berakhir mengenaskan. Berpindah kota, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tempat tinggal. Di rumah itu ada kamar terbaik yang saya dapatkan. Harganya murah, lokasinya dekat dengan tempat bekerja. Ternyata apa yang saya peroleh jauh berbeda dari yang dulu dijanjikan. Gaji sebesar Rp 1,2 juta per bulan yang dijanjikan dibayar sedikit demi sedikit. Itu pun jumlahnya tidak sampai Rp 300 ribu per bulan. Bayangan membeli ini dan itu saat awal gajian, terhapus begitu saja.

Tiga bulan pertama saya mencoba bersabar. Namanya juga perusahaan baru, belum punya banyak proyek. Tapi kebutuhan mau nggak mau harus dipenuhi. Perut lapar saya harus diisi. Cukup lah dengan membeli nasi dan lauk pauknya di pagi hari kemudian saya bagi dua. Separuh untuk sarapan dan separuhnya lagi untuk makan siang. Lalu membeli nasi dan lauknya lagi di malam hari yang kembali saya bagi dua. Separuh untuk makan malam dan separuh untuk sarapan esok hari. Saya nggak menderita-menderita amat. Masih bisa makan tiga kali sehari.  

Maka ketika kemudian saya berada pada puncak karir, sepasang suami istri itu menjadi pengingat bagi saya. Tentang kepekaan pada yang membutuhkan di sekitar. Malu rasanya jika kemudian saya seolah lupa. Mengingat kembali pada sosok mereka yang mengiringi langkah saya ke Jakarta. Berawal dari lingkaran-lingkaran pada kolom lowongan kerja di berbagai surat kabar yang berserakan di lantai.

Mengapa Berbagi?

Itu hanyalah sepenggal cerita dari sebuah momen kehidupan luar biasa yang saya hadapi dulu. Saya tidak pernah bertanya alasan mereka begitu baik pada saya. Tapi rasanya semua sudah jelas karena mereka berdua juga berbuat baik pada yang lainnya. Pada pedagang nasi goreng, pedagang bakso, pedagang mie ayam, sampai pemulung. Rumah mereka lebih besar daripada rumah orangtua saya, tapi isinya jauh lebih sederhana. Tidak ada sofa, perlengkapan elektronik lengkap, maupun tempat tidur mewah. Semuanya sederhana. Tapi keduanya selalu bisa tersenyum ramah pada semua orang. Mereka selalu berkecukupan. Jika saya mau menghitung, mengira-ngira, besarnya pendapatan tidak sebanding dengan yang mereka bagikan. Tapi, bukan kah matematika langit seringkali berada di luar nalar manusia?

Di dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah (sebagian) dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS Al Hadiid: 7)

Begitu jelas perintah Allah di dalam ayat tersebut. Janji Allah untuk memberikan pahala yang besar bagi mereka yang menafkahkan sebagian hartanya. Dan bukankah janji Allah itu pasti?

Perintah menyedekahkan sebagian harta juga disebutkan pada surat yang lain di dalam Al Qur’an.

“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 261)

MasyaAllah ya, tidak heran jika orang-orang yang senantiasa bersedekah dan menginfakkan hartanya di jalan Allah, selalu saja berkecukupan. Allah lipat gandakan harta yang dikeluarkan itu. Kalau pun ada yang tetap dalam keadaan kekurangan, balasan Allah bisa saja didatangkan bukan dalam bentuk materi, misalnya saja kesehatan, keluarga yang harmonis, atau kebahagiaan di akherat kelak.

Maka, jangan takut berbagi karena khawatir akan kekurangan.

Begitu hebatnya anjuran bersedekah, hingga anak-anak pun sudah mulai dibekali dengan ajakan kebaikan ini. Saya jadi ingat pada salah satu hadits yang dihapalkan anak-anak saya di rumah sejak Taman Kanak-Kanak.

“Sedekah adalah bukti.” (HR Muslim)

Memang benar, sedekah adalah bukti tentang kebenaran keimanan seseorang. Bagaimana mungkin mengaku beriman jika bersedekah saja terasa berat. Apalagi sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Sesuai kemampuan kita, ikhlaskan karena berharap ridho Allah SWT semata.

Berbagi Itu Mudah

Kemudahan berbagi bukan hanya mengenai nominal yang tidak harus besar. Bisa dimulai dari menyantuni fakir miskin di sekitar kita dahulu. Memberikan makanan dan pakaian yang layak, membelikan perlengkapan sekolah, membuka taman bacaan gratis, hingga membuatkan sarana MCK atau bahkan tempat tinggal.

Di era modern ini, saat manusia begitu terbelenggu oleh kata bernama waktu, menjadikannya sebagai alasan sehingga tidak sempat melakukan ini dan itu, termasuk kegiatan berbagi, jangan khawatir karena teman-teman bisa berbagi melalui Dompet Dhuafa.

Seperti kita ketahui, Dompet Dhuafa merupakan Lembaga Filantropi Islam bersumber dari dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha social profetik (prophetic socio-technopreneurship).

Source: Dompet Dhuafa

Begitu besarnya manfaat berbagi bagi lingkungan sekitar yang kita bantu dan InsyaAllah pahala berlimpah dari Allah SWT, berbagi bisa menjadi kebiasaan bahkan kebutuhan. Dompet Dhuafa berperan serta dalam menjawab kebiasaan dan kebutuhan ini dengan memberikan kemudahan kepada donatur untuk berdonasi.

Di era digital seperti saat ini, seluruh aspek kehidupan masyarakat termasuk transaksi keuangan sudah semakin cepat. Dompet Dhuafa telah menyediakan layanan donasi yang memudahkan dan menyesuaikan dengan penggunaan teknologi informasi.

Teman-teman cukup mengakses donasi.dompetdhuafa.org untuk melakukan kegiatan donasi. Di sana sudah akan tertera informasi yang diperlukan mulai dari data diri calon donatur, jenis donasi dan program khusus yang diinginkan, beserta nominalnya. Dompet Dhuafa juga menyediakan isian profil donatur dan jenis pembayaran yang bisa dilakukan. Terdapat pilihan transfer bank maupun pembayaran online (internet banking). Saat ini, Dompet Dhuafa menyediakan rekening donasi di BCA, Bank Mandiri, BNI dan Bank Muamalat (metode transfer) dan CIMB Clicks, Master atau Visa, dan IB Muamalat (metode pembayaran online). Alhamdulillah, semakin mudah akses yang bisa kita jangkau untuk berdonasi. Apalagi donasi melalui Dompet Dhuafa ini bisa dilakukan mulai dari nominal Rp 10.000.

Dari pengalaman saya pribadi ikut serta berdonasi melalui Dompet Dhuafa, donatur akan memperoleh informasi melalui email mengenai laporan donasi yang sudah dilakukan dan program-program terbaru dari Dompet Dhuafa. MasyaAllah, semakin mudah dan cepat kesempatan kita untuk ikut serta berbagi, membantu orang-orang yang membutuhkan, dan meraih ridho Allah SWT, InsyaAllah …

Bagi teman-teman yang ingin ikut serta berbagi melalui Dompet Dhuafa, informasi lebih lanjut dapat diakses melalui www.dompetdhuafa.org

Saya pernah merasakan kesulitan di masa lalu. Namun, sebuah keikhlasan berbagi dari sepasang suami istri di sebuah rumah di bilangan Bekasi dulu telah membantu saya mengawali kehidupan yang lebih baik. Jika saya pernah merasakan buah dari keikhlasan berbagi itu, mengapa kini saya tidak melakukan hal yang sama?

Salam,

Melina Sekarsari

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.”

54 comments found

  1. Gak nyangka ya, kebiasaan berbagi itu bisa menular ke orang lain, gak bisa dibayangkan seandainya itu terus menerus berkelanjutan dari satu orang ke orang lain , efeknya luar biaa

  2. Inspiratif sekali kisah kebaikan bapak ibu yg sudah menolong mbak Melina. Semoga kebaikan selalu bwrsama mereka dunia dan akhirat. Sudah saya kepoin itu webnya dompet duafa. Fiturnya ternyata lengkap, informative dan mudah diakses. Berdonasi tapi dengan cara modern ya mbak

    1. Beliau sangat baik, memang. Kalau ngobrol dengan teman yang tinggal di Bekasi, selalu aku ceritakan kisah beliau berdua ini. Yuk, ikutan berdonasi lewat Dompet Dhuafa juga.

  3. Masya Allah, terima kasih remindernya. Berbagi mungkin awalnya sulit, tapi kalau mudah di mana bentuk perngorbanannya. Dan aku yakin sesuatu yang kita lakukan karena Allah, maka Allah akan mengganjarnya dengan yg lebih baik.

    1. Kadang mudah, kadang sulit. Entahlah, jiwa ini masih lemah, Mbak. Kadang terlalu memikirkan diri sendiri. Lain waktu takut di rumah nggak kebagian. Ahhh, masih sangat lemah imannya. Tapi semoga selalu berhasil menumpas rintangan dari diri sendiri itu, ya.

  4. Bener banget. Ada pepatah, indahnya berbagi. Hanya yang pernah mengalami ringan berbagi pasti merasakan kesejukan dalam hati.
    Semoga menang ya Mbak…

  5. MasyaAllau betul sedekah itu adalah “bukti”, makljeb sekali, karena memang selalu ada hikmah tersendiri ketika kita berbagi.. apalagi sekarang bisa berdonasi lebih mudah dgn Donasi online Dompet Dhuafa

    1. Ayo buktikan bahwa kita benar-benar makhluk-Nya yang beriman ya, Mbak. MasyaAllah … anak-anak kecil saja sudah belajar. Betul, Mbak. Donasi jadi jauh lebih mudah.

    1. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Banyak yang mendoakan beliau nih. Kapan-kapan harus main kesana lagi. MasyaAllah … Belajarnya dari siapa dulu, dong. Salah satunya Teh Yasintaku tersayang, hihihi …

  6. MasyaAllah kisahnya terharu mbak. Semoga yah kita dapat meneladani kisah tersebut buat gak takut untuk berbagi. Barakallah mbak

  7. banyak diperlihatkan ya bukti bagi orang-orang yang tulus berbagi justru mereka selalu berkecukupan, tidak menjadi kurang karena berbagi.

  8. Mbaa.. kok aku melu berkaca kaca ya bacanya? Awalnya kupikir ini fiksi, eh ternyata true story ya. Aku sungguh percaya kehebatan berbagi. Semoga kita dimampukan dan diberi kerelaan untuk terus berbagi ya mba. Sehat sehat dan sukses selalu! Muwaaah

    1. Ahhh … Simbok. Jangan mewek ya, nanti aku keikutan mewek lagi. Iya … True Story. Sepasang suami istri yang nggak akan pernah aku lupakan. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Sehat dan sukses selalu untukmu, Simboook … Muwah baliiik …

    1. MasyaAllah … Sekedar bercerita dan mengingat lagi kebaikan Bapak dan Ibu itu. Semoga mereka senantiasa dalam keadaan sehat. Asyik ya Mbak, bisa donasi mudah di Dompet Dhuafa.

  9. Setuju sekali dengan anjuran untuk tidak takut berbagi. Biasanya ini identik dengan rupiah, ya. Karena sesungguhnya rupiah kita cuma titipan-Nya. Kita bisa memperoleh nya juga karena nikmat sehat serta nikmat kesempatan yang diberi Allah. Maka ada hak hamba Allah lainnya di sana.
    Jika dilakukan, tak hanya pahala yg mengalir, tapi juga kisah inspiratif seperti ini yg akan selalu dikenang. Nice sharing 🙂

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.