Suatu Hari di Co-Work Space; Menyadari yang Terjadi Dua Minggu Ini

Saya tiba di tempat ini sekitar pukul 10.00 pagi. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya butuh tempat nyaman untuk itu. Kelihatannya pemilih tengah melakukan renovasi. Beberapa pekerja tampak sibuk di halaman rumah. Kedatangan saya disambut seorang perempuan berkulit putih dengan senyuman lebar. Dia yang mengantarkan saya masuk ke dalam ruangan. Meja di bagian sudut menjadi pilihan. Ada satu laptop menyala di atasnya. Mungkin pemiliknya tengah keluar sementara waktu.

Saat mengeluarkan laptop dari dalam tas, saya terhenyak. Meletakkannya perlahan lalu meraba permukaannya. Ada dua goresan di bagian tepi atas laptop. Dahi mulai berkerut, mengingat-ingat apa gerangan penyebab munculnya goresan itu. Yakin bahwa selama ini saya menyimpannya dengan begitu rapi. Tapi kenapa bisa muncul goresan, ya? Entah kenapa, melihat laptop yang tergores ini saya tiba-tiba merasa kehilangan selera untuk melanjutkan bekerja. Saya jatuh terduduk di kursi nyaman salah satu co-work space di kota hujan.

Oh My God ... Laptop barunya tergores.

Padahal, itu hanya goresan saja. Cuma di bagian luar, sama sekali nggak mempengaruhi kinerja perangkat itu sendiri. Dari jauh pun nggak akan terlihat kalau nggak betul-betul melihat dengan seksama. Tapi kok sebegininya ya mengganggu semangat untuk bekerja?

Bisa jadi sensasi yang ditimbulkan akibat laptop tergores ini adalah lanjutan dari rasa sedih dan kesal sebelumnya. Jadi selama dua minggu kemarin, saya habis kehilangan sesuatu. Benda kecil berwarna putih yang maha penting. Flash disk berwarna putih yang sudah mulai berubah ke broken white – berisi hampir 200 halaman naskah tulisan. Nyesek! Sudah mengeluarkan isi meja kerja, laci, lemari pakaian, tas, belum juga ketemu. Lalu saya ingat, kolong meja saya selama beberapa waktu bisa menjadi tempat berkumpulnya harta karun.

Entah kenapa, bungsu suka sekali memasukkan barang-barang ke sana. Akhirnya menyingsingkan lengan baju untuk mendorong tempat tidur, mencari-cari benda kecil ajaib itu. Kalau sedang sedih tuh energinya nggak sebesar biasanya. Halah, bilang aja karena massa otot turun lagi gitu, ya. Tempat tidur terasa beraaat sekali. Sampai pegal linu rasanya di badan. Hasilnya, nihil!

Source: Kolaborato

Sambil duduk termangu, saya berpikir dalam-dalam. Mengabaikan pengunjung yang baru saja bergabung di meja yang sama dengan saya. Ingin merutuki diri sendiri, sih. Sekadar menganggukkan kepala atau tersenyum, apa susahnya?

Aktivitas menulis yang notabene saya suka jadi terasa berat dan hambar. Naskah hampir 200 halaman itu usianya hampir 10 bulan. Butuh kerja keras sewaktu menuliskannya sedikit demi sedikit. Maka ketika flash disk berisi naskah itu hilang, saya seperti kehilangan isi kepala selama berbulan-bulan lalu. Ya nggak, sih? Makanya seketika cengok dan jatuh sakit akibat kepikiran naskah. Sebuah kejadian tragis bagi saya di tahun ini.

Satu jam kemudian di co-work space itu, saya kembali menyadari sesuatu yang lain. Saya ini jadi manusia kok mudah sekali ya menyalahkan keadaan?

Menginvestigasi Diri Sendiri

Semangat menulis turun karena flash disk hilang dan laptop tergores?

Yaaa, namanya juga laptop baru. Usianya baru sebulanan. Sedih sih iya, tapi kalau sampai menurunkan semangat menulis, ini hanya bagian dari kejadian lanjutan hilangnya si flash disk. Lalu kenapa flash disk tersebut bisa hilang? Awalnya karena membeli laptop baru secara tukar tambah, data saya pindahkan dari laptop lama ke flash disk dulu. Setelahnya lupa nggak saya pindahkan ke laptop baru. Eh, lupa atau terus-terusan menunda, ya? Sepertinya yang kedua lebih tepat.

Saya yang kartu ATM setahun bisa ganti lima kali karena keselip, ponsel sudah tiga kali hilang, beberapa kali meninggalkan barang bawaan di atas mesin ATM, sepertinya memang kurang layak menyimpan benda penuh rahasia bernama flash disk yang ukurannya jelas-jelas kecil. Jauh lebih kecil dibandingkan barang-barang lainnya yang pernah hilang.

Source: Pixabay

Sebenarnya itu flash disk yang usianya sudah sepantaran anak TK. Iya, makanya sampai berubah warna. Kemana-mana saya bawa. Kalau sampai hilang – selain kecerobohan sendiri, saya kok terpikir ya tentang isi flash disk itu sendiri, terutama naskah yang saya maksud.

Apa tujuan saya menuliskan naskah tersebut?

Apakah untuk diri sendiri atau untuk dipamerkan pada orang-orang?

Bagaimana isinya?

Mendatangkan manfaat atau mudharat?

Sebuah naskah novel dewasa yang kemungkinan lebih membawa pembacanya berandai-andai dibandingkan menyimpulkan pesan moral di dalamnya. Akumulasi pahalanya mungkin cuma sejumput, tapi dosanya berkarung-karung, huhuhu ….

Jadi, selama ini keinginan menulis untuk berbagi hal-hal bermanfaat, belum sepenuhnya saya lakukan. Sekedar keinginan tapi tekadnya belum bulat. Istighfar dalam-dalam dong, jadinya.

Menyelami Dalamnya Hati

Duhai … Ternyata Allah tengah mengirimkan alarm-nya buat saya. Harus sedih atau bahagia? Bahagia dong, ya.

Tapi kemudian akhirnya saya menghabiskan jam demi jam lagi di co-work space itu dengan kembali menyelami diri sendiri.

Kenapa tempat tidur itu jadi terasa berat banget? Mana mungkin bobotnya bertambah, kan? Jawabannya karena saya sudah lama nggak latihan dumbbell. Sudah tahu badan kurus, salah satu cara untuk tetap berenergi dan kuat ya latihan dumbbell seperti yang sudah-sudah. Kalau dihitung-hitung, sepertinya sudah berbilang bulan saya nggak latihan? Kenapa? Malas. Penyakit malas ini memang luar biasa pengaruhnya.

Tanpa saya sadari, tempat ini mulai ramai. Jumlah pengunjung sudah lebih banyak dari sebelumnya. Seusai meninggalkan meja untuk laporan pada Bos Besar, saya kembali ke meja dengan selera yang masih menguar. Saya malah kembali terpekur. Duduk sambil sesekali menghela napas yang terasa berat. Alangkah nggak menyenangkannya menahan batuk. Tapi suara batuk pun terdengar sangat mengganggu di ruangan yang senyap ini. Saat mata-mata pengunjungnya fokus menatap tajam pada laptop masing-masing.

Ada masa-masa ketika saya merasa begitu sehat. Badan terasa fit. Otak begitu bersemangat diajak berpikir. Dari mana datangnya kedua hal tersebut? Jawabannya karena saya rajin berolahraga, meskipun sebatas berjalan kaki dan lari pagi. Saya bukan pelari hebat juga, sih. Menempuh jarak 7 km sudah bagus. Lalu, kapan terakhir kali saya melakukannya? Di tahun 2019 ini seingat saya, baru dua kali melakukan sesi berlari. Jatuh sakit? Jelas, tubuh diajak bekerja tapi nggak diolah raganya.

Menentukan Tujuan yang Jelas

Ibarat menaiki transportasi umum di jalan, harus tahu mau kemana agar terhindar dari salah jalan, aktivitas hidup kita seperti itu juga sih, ya. Harus tahu tujuannya apa. Seperti menulis, saat nggak jelas tujuannya apa, ya sudah, akan berhenti di tengah jalan. Demi dipuji banyak orang?

Kebiasaan berolahraga juga demikian. Capek-capek berkeringat mau apa? Demi mencapai hidup sehat atau pamer sepatu baru? Oups … Jadi gampang disusupi setan-setan kemalasan. Duh, lagi-lagi setan disalahkan.

Kondisi ini saya sadari selepas Ashar waktu itu. Beberapa pengunjung co-work space tampak membenahi perangkat kerja mereka. Mencabut kabel charger dari stop kontak, memasukkan laptop ke dalam tas, beserta kertas-kertas berserak di atas meja.

Benak saya melayang pada kegiatan outdoor yang saya sukai. Bukan pendaki handal, tapi mendaki gunung memang bikin ketagihan. Sayangnya, saya nggak bisa setiap saat melakukan kegiatan ini. Waktu dan anak-anak seringkali menjadi rambu-rambu lalu lintas yang nggak bisa begitu saja saya terjang. Ada teman-teman yang tanpa latihan fisik, bisa tetap santai melakukan pendakian tanpa beban. Lelah pasti, tapi fisik tetap kuat. Kalau saya beda, harus rutin latihan fisik dulu. Mungkin salah satunya karena fisik ini sudah mengalami perjalanan hidup lengkap dengan suka dan deritanya yang cukup panjang. Halah, bilang saja beranjak menua.

Catatan pentingnya, saya sigap melakukan latihan fisik, disiplin, rutin, saat ada teman-teman yang sounding mau mengajak mendaki. Seringnya sih gagal terjadi. Mulai yang jadwalnya nggak klop sampai tutupnya kawasan pegunungan yang mau didaki. Setelah itu, saya kembali santai-santai. Seolah hidup hanya buat duduk santai di sofa ditemani iringan instrument musik, tumpukan novel, camilan, dan kopi. Lupakan hidup sehat, santai saja terus. Ogah keringetan.

Padahal, cukup dengan satu tujuan kan, ya? Bahwa itu semua dilakukan karena rasa cinta kita kepada Allah. Betapa Allah sudah menganugerahkan tubuh yang sehat dan sempurna. Menjaga kesehatan tubuh dengan membiasakan makan dan minum yang halal dan toyyib serta rajin berolahraga, bukankah itu cara menjaga amanahNya? Termasuk juga menuliskan yang baik dan bermanfaat saja.

Suara guntur memecah keheningan sore. Saya berdiri, berjalan menuju jendela yang tirainya tertutup rapat. Sekali sibak, terlihat awan mendung di luar sana. Hujan sebentar lagi turun, saya pikir. Layar Microsoft Word saya masih putih bersih. Nggak satu huruf pun tertulis di sana. Tapi tujuh jam keberadaan saya di sini nggak sia-sia. Saya berhasil menyelami diri sendiri. Menyadari bahwa semua yang terjadi dua minggu terakhir ini datang dari diri sendiri.

Saya nggak lagi merasa perlu bersedih dengan hilangnya flash disk itu, menghilangkan kesal dengan batuk yang tak juga mereda, termasuk bahwa laptop saya toh masih baik-baik saja.

Betapa selalu menyertakan dan melakukan sesuatu karena Allah nantinya akan berbuah berkah.

Salam,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

42 Comments

  • Polis ikawati May 12, 2019 at 4:42 am Reply

    Kalo bareng, mau? Jalan kaki nyok

    • melinase May 12, 2019 at 11:11 am Reply

      Kalau jalan kaki mah udah tiap hari, wkwkwk … Yuk, kemana gitu.

  • Uswatun hasanah May 14, 2019 at 9:15 am Reply

    Jadi mau jalan kaki😊
    Gkgkgkgk

    • melinase May 17, 2019 at 2:47 am Reply

      Lhah, emang nggak pernah? Hehehe …

  • Haeriah Syamsuddin May 15, 2019 at 11:39 am Reply

    Beberapa hari yang lalu, laptopku juga tergores saat mengantar anak-anak berenang. Waktu itu saya gak memperhatikan kalau meja tempat saya menaruh laptop bukanlah dari kayu tapi dari batu. Seketika mood-ku langsung hilang. Saya juga tidak henti-hentinya menyalahkan keteledoranku. Hufh.

    • melinase May 17, 2019 at 2:49 am Reply

      Kalau sudah tahunya semuanya berawal dari sini, masa mau terus-terusan menyalahkan keadaan ya, Bun? Huhuhu, biarpun sedih tapi ya sudahlah, aku melanjutkan hidup aja, hahaha …

  • dewi apriliana May 15, 2019 at 9:33 pm Reply

    Huhu saya juga sediih banget pas kehilangan flashdisk yang isinya data berkaitan kerjaan dan kelas. Sementara data di laptop amburadul entah disimpen dimana. Ada malah yg tidak di back up dimanapun. Tapi hebatnya, mbak melina malah bisa belajar dari kehilangan besar itu.
    Semoga ide nulisnya segera membaik ya mbak, dan kemudian malah bisa membuat karya yang lebih mbarokahi

    • melinase May 17, 2019 at 2:50 am Reply

      Isi kepala rasanya ikut hilang ya, Mbak. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Berkah Ramadhan nih, berusaha mencari hikmah aja dari semua yang terjadi di hidup aku. Mulai dari urusan paling sederhana.

  • hani May 15, 2019 at 10:49 pm Reply

    Iyayah…melalui kehilangan dan sedikit musibah laptop tergores, jadi merenungi diri sendiri. Benarkah langkah-langkah yang sudah ditempuh selama ini.
    Semoga bisa menuliskan novelnya dari sisa-sisa kenangan yang terserak…

    • melinase May 17, 2019 at 2:51 am Reply

      Iya, Bun. Barangkali ini cara Allah menegur makhluknya ya. Melalui sebuah kehilangan. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Sedang mencari suasana terbaik buat menulis kembali.

  • Evalina May 15, 2019 at 11:24 pm Reply

    Segala sesuatu yang terjadi selalu ada hikmahnya

    • melinase May 17, 2019 at 2:51 am Reply

      Betul banget, Bun, ini saya sedang belajar memetik hikmah itu.

  • Enni Kurniasih May 16, 2019 at 6:08 am Reply

    Aku juga sering mengalami hal seperti itu, Mbak. Kadang ada gangguan dikit aja, jadi nggak mood seharian. Terima kasih ufah menulsikannya, jadi bisa ngaca hihihi…Btw, coba simpan file-nya di drive aja. Biar lebih aman untuk kedepannya. 😘

    • melinase May 17, 2019 at 2:52 am Reply

      Iya nih, Bun. Jadi instrospeksi diri banget. Aku belum telaten meletakkan benda-benda yang begitu penting.

  • Dawiah May 16, 2019 at 7:03 am Reply

    Memang sangat perlu menentukan tujuan hidup ya mbak, termasuk tujuan menulis.
    Nulis artikel di blog untuk apa, agar disebut bloger? Ya iyalah masa sih nulis di blog tujuan mau dibilang koki, hehehe…
    Semangat Mbak, selamat menjalankan ibadah puasa.

    • melinase May 17, 2019 at 2:53 am Reply

      Iya ya, Bun. Jangan sampai kesasar karena nggak tahu apa yang mau dituju. Selamat berpuasa juga, Bundaaa …

  • Bety Kristianto May 16, 2019 at 10:29 am Reply

    Inspiratif banget mba… Aku jadi inget naskahku yang ketelen ama laptop yg rusak dulu huhuhu. Ai filyuu mbak… tetep semangat nulis yaa. Ganbatte!

    • melinase May 17, 2019 at 2:54 am Reply

      Kayaknya penulis pernah aja ya mengalami kejadian mirip-mirip begini. Thanks supportnya ya, Mbok Betty …

  • Mega May 16, 2019 at 11:01 am Reply

    Bener mbak seringkali kita ga nyadar suka nyalahin keadaan ato orang lain padahal kalo kitanya udah prepare dan gak menunda-nunda hal-hal yang gak diinginkan pasti bisa diatasi. Tapi ya kebiasaan menunda dan malas adalah godaan terbesar mbak. Nih sekarang aku lagi malas-malasnya nulis huhu

    • melinase May 17, 2019 at 2:55 am Reply

      Introspeksi adalah hal penting dilakukan sebelum menyalahkan orang lain, ya. Tapi kadang diri suka sombong juga nggak mau instrospeksi. Cara terbaik ya menyendiri dulu, merenungi, baru deh terasa kalau salahnya ada di kita. Ayok, semangat nulis lagi.

  • hikmah May 16, 2019 at 11:07 am Reply

    sip…bagus…

  • baetunaa May 16, 2019 at 2:08 pm Reply

    Terkadang, keluh kesah kita mengaburkan banyaknya nikmat yang telah diberikan-Nya.

  • Dian Restu Agustina May 16, 2019 at 2:26 pm Reply

    Jadi akhirnya gimana? enggak ketemu juga flash disknya?
    turut prihatin ya Mnak
    Tapi tetap semangat yaaa

    • melinase May 17, 2019 at 2:56 am Reply

      Nggak ketemu, Mbak. Hahaha, menerima dengan lapang dada lah ini. InsyaAllah semangat lagi, Mbak.

  • Evalina May 16, 2019 at 4:03 pm Reply

    Sabar itu mudah diucapkan, tetapi susah dilakukan….sabar dilakukan pada saat terjadinya dan berbuah manis

  • Damar Aisyah May 16, 2019 at 4:30 pm Reply

    MBak satu ini ya, mungil-mungil cabe rawit. Aku salut lho Mbak Mel ini masih rajin melakukan kegiatan fisik. Aku seminggu sekali itu wae wis cakep banget. Sekarang malah puasa letoy punya, wkwkwk. Sabar, Mbak. InsyaAllah ada rencana baik di balik semua ini. Amiin

    • melinase May 17, 2019 at 2:57 am Reply

      Puasa kali ini aku malah merasa fit banget. Tapi ya itu, selera makan turun. Akibatnya timbangan makin ngiri, haduuuh …

      InsyaAllah ya, Mbak. Mohon doanya ajaaa …

  • Tatiek Purwanti May 16, 2019 at 7:26 pm Reply

    Mbak, saya menikmati sekali tulisannya 🙂 Seakan ikut dibawa untuk merenungkan tentang tujuan sebuah aktivitas dan cara untuk kembali bangkit. Saya pun pernah melakukannya. Layar laptop pernah blank seperti itu; tanpa tulisan sama sekali. Tapi saya lebih rileks karena telah menemukan hikmah.

    Daaan… perenungan Mbak Mel yg mendalam itu sudah berbuah postingan sekarang. Baarakallah 🙂

    • melinase May 17, 2019 at 2:58 am Reply

      Malah jadi ide tulisan ya, Mbak. Hahahaha, semoga ini curhatan yang nggak nyampah. Ide memang bisa datang dari mana aja.

  • Malica Ahmad May 16, 2019 at 11:46 pm Reply

    Sabar ya, Mbak. Antara pengen ngakak dan nangis. Ceritanya seru berbalut kesedihan. Hihi

    Penasaran aku sama naskah dewasanya. Wkwkwk

    • melinase May 17, 2019 at 2:59 am Reply

      Di antara semua yang komentar, cuma kamu lho yang ngakak. Minta dicubit emang, nih. Naskahnya khusus dewasa. Kamu kan masih imut, hahaha …

  • Zulfa May 17, 2019 at 7:06 am Reply

    Wah sedih banget. Saya pernah kehilangan data di hard disk eksternal. Data 6 tahun dikumpul hilang begitu saja.
    Sedih tak terkira.

    • melinase May 17, 2019 at 8:08 am Reply

      Kehilangan datanya itu jauh lebih menyedihkan dibandingkan kehilangan barang secara fisik, ya. Gimana, ya? Hasil mikir gitu kan nggak sebegitu mudahnya direstore.

  • Sunarti kacaribu May 18, 2019 at 6:44 am Reply

    Kebayang, Mak, gimana rasanya kehilangan naskah, apalagi udah 200 halaman. Saya yang baru kehilangan 10 halaman saja, rasanya pilu… Hiks.

    Ya sudahlah, jalqni saja dengan ikhlas. Btw, sepatu barunya lihatin dong mak, kepo sayah 😅

    • melinase May 18, 2019 at 7:52 pm Reply

      Syedih sampai lubuk hati terdalam. Hati ini rasanya hancur berkeping-keping, Mak, huahaha …

      Ihhh, itu cuma satire. Aku nggak punya sepatu baru wkwkwkwk …

  • Ana May 19, 2019 at 5:58 am Reply

    Wah satu kesamaan Kita nih mbak melina, suka naruh barang sembarangan, tapi aku Paling ga suka Olahraga, gimana dong memulainya mbak? ☹️

    • melinase May 19, 2019 at 4:25 pm Reply

      Ingat Allah sih, Mbak. Menjaga amanah Allah berupa tubuh dengan rajin berolahraga dan makanan makanan bergizi. Atau ingat keluarga. Kalau badan kita sehat, bisa menjaga anak-anak. Gitu, hehehe … Kadang aku juga males, siiih …

  • kartika May 20, 2019 at 8:28 pm Reply

    Aku juga baru saja mencapai sebuah ke-mengerti-an. Bahwa jika sesuatu hal terjadi berulang kali padaku, itu adalah tanda dari semesta agar aku berubah. Karena ada sesuatu yang salah pada diriku, sehingga mengalami hal yang sama berulang kali. Well, pelajaran memang mahal harganya, tapi itulah yang membuat kita “naik kelas”. Semangat yaa nulisnya,, salam kenal 🙂

    • melinase May 21, 2019 at 3:21 am Reply

      Iya Mbak, ya. Betul sekali itu. Kita mesti peka untuk menyadari. Terima kasih sudah mampir. Terus semangat! 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.