Belajar Politik Sejak Dini, Ada Lho Cara Sederhananya

Baru semalam putra sulung saya bertanya, “Saling menghormati perbedaan dalam rangka menjaga keutuhan bangsa itu gimana sih, Ma?”

Saya yang tengah menemani anak-anak belajar sambil membaca buku, memutuskan meletakkan “Twin Universe” sambil menyisipkan pembatas buku di halaman 35. Tengah seru-serunya membaca kisah-kisah anak kembar, tapi pertanyaan sulung jauh lebih penting untuk segera memperoleh jawaban.

Sulung memang sudah memperoleh materi mengenai keberagaman di level tiga ini. Saya nggak ingat persis dulu memperoleh materi ini di kelas berapa. Yang saya dan pastinya para orangtua di penjuru negeri ini rasakan, materi putra-putri kita di sekolah sudah beberapa tahun lebih maju dalam hal penyampaian. Makanya banyak yang bilang, beban pelajaran siswa-siswi SD di jaman sekarang sudah berat. Kasihan kan emaknya anak-anaknya.

Kalau pun materi mengenai keberagaman ini disampaikan lebih awal, saya sih nggak keberatan. Malah sebagai orangtua, hal ini ini membantu saya banget. Alasannya karena anak-anak saya bersekolah di sekolah alam Islam. Selama ini mereka hanya tahu bahwa di Indonesia hanya ada satu agama saja, yaitu Islam. Melalui semboyan bangsa Bhinneka Tunggal Ika, anak-anak jadi tahu bahwa Indonesia itu kaya dengan keberagaman.

Dalam Study with Parents – semacam lembar kerja siswa anak yang wajib dikerjakan bersama orangtua gitu deh, berderet pertanyaan yang jawabannya seketika membuat saya menjadi guru PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Dulu sih namanya PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan sekarang namanya PKN (Pendidikan Kewarganegaraan).

Mulai dari cara menunjukkan rasa cinta kepada bangsa dan tanah air, cara menghormati perbedaan dalam rangka menjaga keutuhan bangsa dan negara, sampai keberagaman apa saja yang dimiliki oleh bangsa Indonesia beserta contoh daerah asalnya.

Tepatkah Materi Keberagaman Diterima Putra-Putri Kita Sejak Mula?

Buat saya sangat tepat. Jawabannya ya itu tadi, karena anak-anak saya bersekolah di sekolah alam Islam yang tahunya hanya agama Islam saja. Peran orangtua penting banget nih dalam menyampaikan informasi keberagaman ini kepada putra-putrinya di rumah. Tentunya dalam bahasa yang mudah dimengerti dan nggak terkesan menyudutkan.

“Indonesia itu kaya, Nak. Di sekolah Mas dan Adek, semua murid, guru, dan kepala sekolah semuanya beragama Islam. Tapi tahu nggak kalau di tempat tinggal kita ada juga yang beragama Kristen, Katholik, Hindu dan Buddha? Semuanya sama-sama makhluk Tuhan, jadi harus saling sayang, ya.”

Alhamdulillah, anak-anak mengerti soal ini. Pastinya sih akan banyak pertanyaan lanjutan dari mereka. Orangtua harus cerdas memberikan jawaban, nih.

Anak-anak juga belajar mengenai keragaman budaya dan adat istiadat di Indonesia. Mereka jadi tahu kan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas berbagai macam suku daerah. Setiap daerah mempunyai budaya dan adat istiadatnya sendiri. Tahu nggak sih, sulung terkesima lho waktu saya cerita keragaman apa saja yang dimiliki bangsa kita. Padahal itu kan baru sebagian keciiiil banget.

“Jadi rumah adat di Indonesia itu banyak banget ya, Ma?”

“Rumah Joglo itu kan seperti di kampong halaman Eyang Buyut ya, Ma?”

“Angklung itu alat musik tradisional dari Jawa Barat ya, Ma? Dulu waktu perpisahan TK, teman-teman main angklung lho, Ma.”

“Oh, rending yang aku suka banget itu ternyata masakan Minang ya, Ma?”

Selain itu, ada pesan moral lain yang bisa diperoleh anak-anak dari materi keberagaman ini. Sulung saya yang anaknya suka jahil tapi sebenarnya sangat perasa ini, tiba-tiba bilang, “Ma, kasihan ya saudara kita yang tinggalnya di Honai? Masih bagusan rumah kita ya, Ma.”

MasyaAllah, anak jadi pandai bersyukur dengan rumah sederhananya.

Kenapa Harus Saling Menghormati Perbedaan?

Ini menjadi pertanyaan awal sulung yang jawabannya baru saya berikan setelah berputar-putar menceritakan yang lain-lain dulu. Dasar sayanya suka bercerita, eh sulungnya juga suka didongengin. Klop, yes.

Saya nggak suka membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Tapi kalau sebagai contoh, nggak apa-apa dong, ya.

“Mas punya rambut ikal, matanya bulat, kulitnya lebih gelap dari Adek. Ya, kan? Adek punya mata yang lebih sipit, rambut lurus, dan kulit yang lebih terang. Kalian nggak pernah berantem karena itu, kan? Jangan, ya. Tahu nggak, di luar sana banyak yang berantem karena rambut, mata, dan warna kulitnya beda. “

Source: Pinterest

Sulung tampak manggut-manggut. Tampaknya dia sudah diajari di sekolah juga bahwa perbedaan fisik nggak boleh menjadikan siapapun jadi berantem. Eh, tiba-tiba saja obrolan kami melantur ke topic pesan di aplikasi WhatsApp. Bukan, bukan … Sulung belum difasilitasi ponsel. Tapi dia dapat informasi ini dari eyangnya. Urusan politik bahwa salah satu satu tokoh katanya terlibat perang politik dengan tokoh lainnya. Wah, saatnya mengedukasi nih, ya. Lanjuuut, ngajarin anaknya.

“Kalau Mas dapat beritanya yang judulnya ‘katanya’, jangan langsung dipercaya apalagi dikasih tahu lagi sama teman-teman yang lain. ‘Katanya’ itu belum tentu betul. Kalau ternyata salah, nanti dosa, lho. Mau nggak dapat dosa?”

Sulung langsung menggeleng kuat-kuat. Saya tertawa. Anak-anak tuh takut banget kalau ditakut-takuti dapat dosa. Tapi selain itu, saya juga bilang bahwa ada masalah lain yang muncul kalau langsung percaya sama berita ‘katanya’.

Nanti kalau ternyata beritanya nggak betul, yang diberitain jadi marah. Dia kesal dong diberitakan yang bukan-bukan. Jadinya apa? Berantem. Coba bayangin kalau ada banyak orang yang berantem karena itu. Bayangin kalau orang satu Indonesia yang berantem? Wah, jadi perang! Ngeri ya kalau negara kita ada perang lagi seperti jaman dulu.

Sulung langsung berteriak dong, “Aku nggak mau perang, aku nggak mau perang!”

Berawal dari sebaris kalimat pertanyaannya itu, eh siapa sangka saya jadi banyak ngobrol positif sama sulung. Ini dia poin-poinnya:

Secara sederhana, tanpa disengaja, saya tengah mengedukasi pengetahuan tentang politik, hukum, dan pertahanan nih buat sulung. Terlalu dini kah? Saya rasa nggak.  Saya berharap pembiasaan menyampaikan nasehat seperti ini bisa melekat di kepalanya dan akan dia ingat hingga dewasa kelak. Tentunya saya ingin sulung dan juga bungsu nantinya tumbuh menjadi manusia dewasa yang bukan hanya fisik tapi juga pemikiran. Menjadi pribadi yang nggak mudah terkontaminasi dengan paham-paham terorisme dan radikalisme.

Semoga saja upaya ini bisa semakin mepererat persatuan dan kesatuan bangsa di masa depan.

 

Salam,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

14 Comments

  • Reyne Raea May 23, 2019 at 2:39 am Reply

    Keren banget tuh mba, kalau saya masih males ngomongin politik *ibu males emang hahaha
    Anak saya sering tuh pulang2 ngomongin pak Jokowi, pak Prabowo.

    Saya males nanggapinnya.
    Soalnya pemahaman dia masih terlalu polos 😀
    Palingan mengajari dia tentang menghormati perbedaan ya, penting banget 🙂

    • melinase May 24, 2019 at 2:07 pm Reply

      Kalau bungsuku sering tuh membahas Jokowi dan Prabowo. Tapi sayangnya infonya nggak berimbang. Ini karena diceritain sama eyangnya mengenai salah satunya. Duh, sedih anak-anak sudah dipengaruhi biarpun sama eyangnya sendiri. Makanya, diedukasi secara sederhana dulu deh sama emaknya.

  • Uswatun hasanah May 23, 2019 at 3:38 am Reply

    Siiiippp

  • Helmiyatul Hidayati May 23, 2019 at 8:42 pm Reply

    Benar.. belajar politik itu penting. Apalagi politik Islam.. krn di dalam Islam juga mengajarkan politik.. 🙂

    • melinase May 24, 2019 at 2:12 pm Reply

      Jadi nggak boleh mengabaikan juga ya, Mbak. Menuntut ilmu itu baik, kok.

  • Blogger Menuliskan Tema Polhukam; Kenapa Tidak? - Melina Sekarsari May 24, 2019 at 11:28 am Reply

    […] Belajar Politik Sejak Dini, Ada Lho Cara Sederhananya […]

  • baetunaa May 24, 2019 at 2:56 pm Reply

    Ternyata, ada trik tersendiri untuk mengajarkan anak mengenal politik sejak kecil. Semoga kelak, anak-anak menjadi anak yang tahu menghargai dan menyikapi perbedaan yang ada di muka bumi ini.

    • melinase May 24, 2019 at 3:22 pm Reply

      Ini versi aku aja sih, Mbak. Dimulai dari cara paling sederhana, huehehe …

  • Zaki May 26, 2019 at 5:17 am Reply

    sepertinya emang harus sejak dini ya anak-anak diajarin politik, karena biar bagaimanapun manusia itu mahluk politik

    • melinase May 27, 2019 at 11:50 am Reply

      Politik jujur dan bersih pastinya, yaaa …

  • Ana May 26, 2019 at 2:48 pm Reply

    Wah bener banget mbak, cuma aku sendiri jg malas memulai hehe…
    Kecuali anak bertanya atau dia mulai membahas ttg perbedaan. Apakah agama, Ras, warna kulit atau lainnya.
    Tp betul bgt dalam Hal ini peran ortu sangat penting dalam mendampingi Dan menjelaskan👍

    • melinase May 27, 2019 at 11:50 am Reply

      Iyes, satu dari sekian banyak hal yang semestinya anak ketahui dari rumah.

  • qurratul ain nasution May 31, 2019 at 4:19 pm Reply

    Wah, jawaban emaknya keren. Boleh juga nih ditiru kalau anakku udah usia masuk SD. Sekarang anakku masih 1,5 tahun hehee. Memang anak akan lebih mengena jika dijelaskan langsung oleh orang tuanya, karena orangtua adalah pendidik sejati anak 🙂

    • melinase June 1, 2019 at 5:44 pm Reply

      Iyaaa … Jangan sampai anak bertanya orangtua malah menanggapi dengan sesukanya. Sebisa mungkin informasi diperoleh dari rumah.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.