Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Sakit atau Panik; Orangtua Anak Sensing Harus Tahu, Nih

Sakit atau Panik; Orangtua Anak Sensing Harus Tahu, Nih

“Mama, aku sakit. Besok aku nggak ikutan KE, ya?”

Kalimat serupa ini pernah tercetus dari bibir putra saya sewaktu masih duduk di Level 2 dulu. Waktu itu dia nggak mau ikutan kemping. Padahal, kedua anak saya itu penyuka kegiatan di alam bebas. Kok bisa tiba-tiba nggak mau ikutan kemping? Waktu saya tolak, dua hari menjelang kemping, badannya demam. Suhunya mencapai 39 derajat. Sedih? Sudah tentu. Orangtua mana yang nggak sedih kalau anaknya sakit, kan? Apalagi saya membayangkan dia batal bersenang-senang.

Saya masih ingat betul, waktu itu hari Rabu, putra saya demam sejak Senin. Rabu pagi, saya sampaikan kalau teman-temannya sudah berangkat. Apa yang terjadi. Dalam hitungan menit, wajahnya berubah sumringah. Suhu tubuhnya turun. Sembuh, Moms and Dads … Sulap kah?

Source: Sekolah Islam Ibnu Hajar

Kunjungan Edukasi dan Kemping merupakan beberapa program sekolah yang wajib diikuti siswa. Jenis kegiatan belajar di luar ruangan. Bagus, karena ilmu bisa diperoleh dari mana saja. Saya bekerja di antara dinding saja bisa jenuh luar biasa, apalagi anak-anak. Kunjungan Edukasi bukan hal baru bagi putra saya. Sejak TK sudah ada. Pernah rewel? Tidak. Lantas, kenapa sekarang nggak mau ikutan?

Mungkin ada orangtua yang bilang, “Siapa tahu anaknya sakit beneran.”

Dulu saya bisa langsung percaya. Sekarang, BIG NO. Bukan BIG LOYALTI ye, emangnya Now Everyone Can Fly? Oups, maaf jadi ngelantur. Begini nih kalau sudah lama nggak liburan.  

Menghadapi situasi seperti ini, saya harus melakukan investigasi lebih dulu. Ambil agenda, pulpen, dan kaca pembesar – untuk melihat ke masa lalu. Lho?

Putra saya punya riwayat demam menjelang keberangkatan ke suatu tempat. Mau tahu ceritanya dulu? Boleh lho diintip di sini Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1).

Source: freepik

Di waktu yang berdekatan, saat itu kami terjadwal berangkat liburan, selang beberapa hari kemudian sulung terjadwal ikutan kemping, dan beberapa hari berikutnya kami terjadwal berangkat ke Banjar karena ada acara keluarga besar. Saya sudah kadung kapok berlelah-lelah dengan drama liburan di Semarang yang ceritanya bersambung sampai di sini Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 2).

Menghindari kejadian serupa, akhirnya dengan berat hati saya minta izin pada guru kelas bahwa putra saya nggak ikutan kemping. Sembuh tiba-tiba, rencana ke Banjar tetap jadi, asyik! Tiket kereta pulang pergi sudah di tangan. Malam hari sebelum keberangkatan, putra saya kembali demam. Kami semua batal berangkat. Siang harinya, sembuh dong …. Sulap lagiii? Kepengen jajan banyak-banyaaaak jadinya.

Ini aneh, ajaib, nggak masuk akal, tapi saya butuh jawaban. Saya butuh bertemu dengan orang pintar. Bukan professor, bukan dukun. Maka, datanglah saya menemui Miss Hiday, konsultan STIFIn di sekolahnya putra saya. Buat yang belum pernah tahu apa itu STIFIn, silakan dibaca di sini STIFIn Learning Workshop; Menemukan Kunci Kebutuhan Agar Belajar Terasa Asyik.

Source: Sekolah Islam Ibnu Hajar

Sebagai keluarga Sensing, saya dan kedua anak memang Sensing dan bergolongan darah B semua, saya mencoba mengevaluasi kondisi diri sendiri ketika akan bepergian atau melakukan sesuatu. Saya kerapkali tiba-tiba nggak enak badan bahkan bisa sampai mulas-mulas. Tapi saya suka itu, badan terasa nggak enak, keringat dingin, apalagi sampai mulas, biasanya hasil presentasi saya bagus. Beda kalau saya merasa tenang-tenang saja. Tenang alias datar juga hasilnya. Ini teori pembenaran. Nggak usah ditiru ya, Moms and Dads.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada kami, orang-orang Sensing ini? Cung! Mana yang Sensing atau punya anak Sensing? Ikuti terus tulisan ini, ya. Buat yang masih juga bingung, don’t worry, saya pernah tulis juga di sini Review Buku; I Know You Karya Miss Hiday; Mengenali Bahasa Cinta Orang Tercinta  atau beli bukunya sekalian, yes.

Source: Sekolah Islam Ibnu Hajar

Begitu juga saat mau ke Banjar. Di sana merupakan acara keluarga besar. Besar karena anggota keluarga dari bapak maupun ibu saya sama-sama banyak. Bapak saya 11 bersaudara dan ibu saya 14 bersaudara. Belum termasuk anak-anak yang sudah menikah kemudian anaknya pun melahirkan anak-anak juga. Bisa jadi putra saya khawatir, canggung saat bertemu kerabat yang banyak banget itu. Memang sih, ini bukan momen pertama kalinya bertemu keluarga besar. Tapi bertemu orang banyak banget yang kita sendiri nggak akrab kadang-kadang memang terasa nggak nyaman. Butuh waktu untuk sampai pada titik nyaman itu.

Soal kemping, apa sih yang terjadi? Diulik-ulik dan itu baru disampaikan putra saya tepat sebelum berangkat kemping saat di Level 3 kemarin, katanya di kemping level satu dulu, dia melihat sosok tinggi besar di bawah pohon saat tengah berwudhu. Jelang sholat Maghrib pula. Takut? Pasti. Itu bukan kenangan menyenangkan. Bahkan putra saya bilang dia butuh keberanian untuk bercerita saat penampakan makhluk itu berangsur hilang dari ingatannya. Nah, kalau itu terjadi sama saya, kayaknya malah bakal keinget terus.

Satu lagi, Sensing suka dengan kenyamanan. Suka yang bersih, nyaman, cakep, enak dilihat, raja bener deh. Saat kemping level dua, ternyata dia melihat ada kotoran di dalam tenda. Itu yang membuat dia malas buat kemping lagi. Bingung, panik, lalu jatuh sakit. Ealah, belum tahu dia kalau mendaki gunung bakal ketemu banyak ranjau. Harus ditempa ini bocah, yes.

Source: Sekolah Islam Ibnu Hajar

Maka, saat di Level 4 ini putra saya kembali ngadat nggak mau ikutan KE dengan alasan sakit, inilah saatnya mengorek-ngorek. Dapat jawaban, dong. Jadi, ceritanya bapak dan ibu guru di kelas sudah memberi bocoran bahwa salah satu kegiatannya bercocok tanam di ruang terbuka. Anak Sensing yang manja dan maunya nyaman ini nggak mau kepanasan. Sesederhana itu. Jadi respon dari Mom adalah, “Tetap berangkat karena ini kewajiban. Nggak pakai alasan sakit. Panas, bawa topi. Di sana juga ada caping. Kalau masih merasa sakit, Mama titip obat ke  Bapak dan Ibu guru. Nanti ambil kalau waktunya minum.”

Ultimatum panjang lebar. Tanpa kesempatan putra saya untuk menyela. Salah sendiri lebay, ye kan?

Daaan, putra saya akhirnya berangkat KE juga bareng teman-temannya. Berangkat ceria, pulang juga ceria. Saya nggak membawakan obat karena aslinya memang nggak sakit, cuma panik.

Oiya, ada sedikit tips buat Moms and Dads yang punya anak Sensing, nih.

Khususnya saat Sensing mau melakukan hal-hal baru, ya.

Bekali ananda dengan informasi lengkap terkait kegiatan yang akan dilakukan atau tempat tujuan. Sampaikan hal-hal menarik yang akan dia lihat di sana. Visualisasi Sensing bekerja sangat baik. Dia suka tempat yang indah.

Bekali juga ananda dengan informasi apa saja yang sekiranya nggak menyenangkan buat dia. Tapi sampaikan juga bahwa Moms and Dads sudah menyediakan persiapan untuk menanggulanginya. Sensing harus diberi fasilitas untuk membuatnya nyaman beraktivitas.

Jadi, sudah tahu ya, kalau anak Sensing kita tiba-tiba jatuh sakit saat akan melakukan kegiatan atau pergi ke tempat baru, jangan buru-buru panik, Moms and Dads. Gali informasi sebanyak-banyaknya dari ananda, lalu carikan solusinya. Bersikap tegas itu wajib. Jangan biarkan anak Sensing nyaman dengan sikap manjanya. Yaaa, ini sebenernya saya sedang ngomongin diri sendiri. Sensing oh Sensing.

 

      Salam Hangat,

81 comments found

  1. Oh aku baru tahu loh istilah sensing ini. Memang sih sebelum ikut kegiatan baru, mesti kasih penjelasan dulu pada anak-anak, agar mereka punya imajinasi yang menyenangkan dari kegiatan yang akan diikutinya. Eh tapi kalo lihat orang itnggi besar gitu juga orang dewasa pun bakal trauma ya

    1. Mbak saya baru tau loh ada istilah sensing. Soalnya ada teman yang begini bawaannya parno aja kalo mw aktifitas padahal yang lain happy happy aja. Makasih mba infonya jadi tau kalo nanti anak atw keluarga mengalami hal yang sama

      1. Lebih tepatnya ini potensi genetik, Mbak, bukan istilah. Silakan lakukan tes potensi genetik ya biar tahu lebih banyak. Atau boleh baca-baca tulisan saya dulu mengenai STIFIn.

    1. Asyik, Mbak. Membantu banget. Coba kalau aku nggak paham. Main kusodori apapun sebagai penurun panas kan jadinya. Cuzzz, kontak STIFIn terdekat aja kalau mau tes, Mbak.

  2. Anak2 ku juga suka begitu sih biasanya kalau baru ketemu orang yang belum dikenal. Eh…tapi aku baru tahu lho kalau istilahnya itu Sensing. Hihihi

  3. Masya Allah, sukaak sama kisah ini. Ibu emang seharusnya jadi psikolog terbaik buat anak sendiri ya, Mbak. Saya sendiri baru tes STIFIn ini di saya dan suami, anak-anak belum. Saya dan suami sama-sama Intuiting, beda di introvert dan extrovert doang. Untuk anak-anak saya sudah indentifikasi beberapa karakternya masing-masing, mengenali bentuk kepribadian secara teori Littaeur, tapi berasa masih kurang karena belum pada tes STIFIn, hehe. Moga-moga bisa sesegera mungkin.

    1. Ibu tugasnya buanyaaak banget ya, Mbak. PR besar tapi InsyaAllah pahala sudah disiapkan Allah. Lengkapi tes STIFIn-nya, Mbak. Biar semakin nyaman berkomunikasi dan mengalirkan energi cinta … Eaaa …

  4. Toss dong. Aku sensing introvert. Aku tidak suka kotor juga ternyata ha..ha.. Dan aku suka panik gitu orangnya.

    Seru ya bun kalau sudah paham anak kita masuk yang mana, jadi ada solusi yang bisa dilakukan.

    1. Kalau berdasarkan mesin kecerdasan, Sensing memang lebih mudah panik saat akan menghadapi situasi baru, Mas. Kalau soal guru ngaji galak, muridnya bandel nggak, kaliii …. Wkwkwkw

  5. Woooo, ilmu baru nih. Anakku juga kadang begitu, nggak selalu sih, kadang aja. Memang Najwa cenderung sensing, tapi mungkin bukan tipe yang manja. Biasanya kalau kami ajak ke suatu tempat yang dia belum ada gambaran dia bakalan kurang excited. Nah, karena sudah menjadi kebiasaanku dan suami untuk describe segala hal yang akan kami kunjungi, jadi nggak terlalu bermasalah. Hm… jadi tahu sekarang kalau sensing tuh kayak gini.

    1. Iya, tapi tahunya Sensing atau bukan mesti lewat tes sidik jari, Mbak. Najwa udah pernah, ya? Itu udah sifat bawaan Sensing, sih, tapi … bisa ditanggulangi pastinya. Biar anak nyaman, orangtua tenang hahaha …

  6. Oh harus tes sidik jari dulu ya. Itu hanya berlaku u anak² kah? Adik saya dulu sih yg suka gitu. Se-olah² siap kemping, dah latihan bawa ransel. Pas harinya demam. Trus engga jadi berangkat…
    Eh…itu blm tentu sensing ya?

    1. Harus tes dulu, Bun. Kondisi seperti adiknya Bunda bisa jadi karena Sensing bisa juga bukan. Tapi buat Sensing, itu memang wajar banget terjadi. Kami ini agak panik kala harus menghadapi situasi baru, hihihi …

  7. Wah, insight baru bagiku soal sensing ini. Jadi mirip sama gejala sakit ya..hm susah pasti ngebedainnya. Aku gak tahu anakku gitu enggak. Tapi Bapakku gitu, sampai sepuh gini.
    Kalau mau pergi jauh ada aja..yang mual, sakit perut..dst dll..
    Ku coba lebih jauh inget” deh anakku ada yang gini enggak

    1. Ini kelemahan Sensing tepatnya, Mbak. Gejala sakit kurang tepat ya, lebih tepatnya gejala bahwa Sensing tengah panik. Tapi bisa diantisipasi dengan memberikan informasi lengkap. Hihihi … Aku juga biasa gitu, sih, huehehe …

  8. Kalau kita udah tau mesin kecerdasan anak-anak kita, lebih mudah ya menyikapi kalau anak-anak kita kalau ada masalah, makanya penting banget tes Stifin sekeluarga, bukan hanya anak-anak

  9. Oh, jadi tahu lebih dalam tentang si sensing, nih. Walaupun saya sendiri belum familiar dengan istilah ini untuk anak 🙂 Kalau dalam bahasa saya sih anak harus diajak untuk merasakan tantangan. Tentunya dengan sisi uniknya masing-masing. Karena Adversity Quotient-nya harus diasah, biar tidak manja dan mampu menyelesaikan masalah.
    Mirip gak, sih? 🙂

    1. Ini berdasarkan kategori mesin kecerdasan pakai metode STIFIn, Mbak. Setiap orang kekuatan dan kelemahan. Salah satu kelemahan Sensing adalah mudah panik saat akan menghadapi situasi baru. Tentu kelemahan ini bukan langsung jadi alasan, ada langkah yang dilakukan orangtua untuk mengantisipasi.

  10. Wah, jangan-jangan anakku yang cowok itu tipe sensing ya. Dia suka gitu mendadak sakit kalau bepergian ke mana pun. Hihi.. Kadang aku suka gemes. Mana aku nggak tegaan pula mbak. Langsung panik gitu p3ngen segera reda demamnya.

    1. Peran orangtua besar banget Teh, buat mengalahkan kelemahan anak-anak. Setiap orang punya kekuatan dan kelemahan. Tapi nggak berarti kelemahan diterima begitu aja kan, ya?

        1. Aih, itu salah satu pesan dari seorang kakek yang kukenal duluuu banget. Beri anak kesenangan, tapi jangan lupa ajari dia kesulitan, karena hidupnya ke depan nggak selalu menyenangkan.

    1. Betul, Mbak. Kalau semua serba dinyamankan, nanti orangtua repot sendiri. Misalnya maunya nyaman semua fasilitas lengkap dan mewah, anak jadi nggak mau berusaha. Dari sisi lain, anak harus tetap diajari tangguh, begitu.

  11. Saya baru tau soal anak sensing ini, Mbak Lina. Jadi memang hal-hal khusus bisa jadi sebabnya ya. Kurang merasa nyaman intinya. Tidak nyaman berada di kalangan baru, lihat sesuatu yang kotor, bahkan baru dengar sesuatu yang akan dilakukan.

    Terima kasih sharingnya Mbak. Membuka wawasan saya.

    1. Kalau baperan nggak sih, Mbak. Cuma cenderung panikan kalau menghadapi sesuatu yang baru. Apalagi kalau dia nggak dikasih informasi apapun soal itu. Mantapkan hati dulu, Mbak, baru ikutan tesnya, huehehehe …

    1. Kalau thermometer jadi benda wajib di rumah sih, Mas. Tapi penurun panas, nggak. Aku memang baru berikan kalau sudah tiga hari. Sebelum itu biasanya aku cari tahu dulu dari sisi lain. Menghadapinya pun cukup madu atau sari kurma aja, hihihi …

  12. jujur aku baru denger soal sensing ini, samgat membantu sekli karena aku salah satu orang tua yang suka panik klo anak tiba2 sakit atau knp2

  13. Wahahah jadi gitu ya sensing. Apa anakku ini sensing ya kalo diajak liburan jauh dikit badannya sakit tapi tetap berangkat sik soalnya ibunya butuh piknik. Makasih tipsnya yaa mbak

    1. Moody biasanya punya anak Feeling, Mbak. Tapi bisa juga tipe lain kalau golongan darahnya punya Feeling yaitu O. Bisa jadi Miss/Mstr. Drama kalau mesin kecerdasannya Feeling dan golongan darahnya O, hahahhaa …

  14. Ya ampun aku baru tahu sensing mba, aku juga golongan darah B, dan emang panikan, anakku bikin kotor sedikit aja udah pengen marah2 aja bawaannya.. Ini terjadi juga pada anakku yang pertama, awalnya juga ga mau ikut2 kemping gitu, tapi sekarang menginjak smp Alhamdulillah udah bisa berbaur dengan temanya

  15. Intinya komunikasi dengan anak itu memang penting. Orangtua harus bisa simpati bahkan empati supaya sense of belonging and sense of responsibility terhadap anaknya bisa terjaga saat anaknya sakit..

    1. Betul banget. Untuk bisa menggali informasi, butuh ketrampilan berkomunikasi dengan anak. Yakin deh, saat anak nggak terbiasa menyampaikan pendapatnya, pasti dia akan kesulitan juga kalau ternyata sedang khawatir akan sesuatu.

  16. mbak aku baru denger tentang sensing ini deh .serius
    langsung aku mau cari tau ah jelasnya tentang sensing ini
    thanks for artikel mbak , sangaat menarik sekali

  17. Mau ceritanya lebih banyak tentang tes Stiffin donk, kaka..
    Karena ada beberapa psikolog yang gak rekomen, katanya tetap yang membentuk kepribadian anak ini adalah lingkungan (keluarga) terutama..

  18. Waaaah aku baru tau arti kata sensing hehehe. Thanks Mbk ulasannya, sangat membantu sekali nih, jadi tau sekarang hehe. Orang tua memang kudu paham betul ya mbk tentang kondisi sang anak, jangan kalau terjadi apa-apa sebentar, langsung panik hehe

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.