Pengalaman Terbang Bersama Malindo Air; Perjalanan Penuh Kejutan (Part 1)

Source: Kompas

“Yang pasti, tidak ada perjalanan tanpa drama.”

Kalimat terakhir dalam status Facebook saya itu sempat dikoreksi oleh seorang teman. Dia meminta saya menghapusnya. Saya menolak karena memang perjalanan saya dari Bogor ke Solo hari itu penuh drama. Dramanya pun jenis drama lucu. Kocak sepanjang perjalanan.

Jadi, saya memilih membiarkan kalimat itu di sana.

Source: Kompas.com

Malindo Air; LCC Rasa Full Service

Siapa orangnya yang suka saat hendak terbang lalu sesampainya di bandara mendapati bahwa pesawatnya delayed? Apalagi bagi orang-orang yang jadwalnya ketat sekali.

Tapi jujur, doa agar pesawat delayed pernah betul-betul saya ucapkan sewaktu taksi yang saya tumpangi terjebak antrian panjang di pintu masuk tol bandara Soekarno Hatta. Doa yang buruk jadi pantas saja kalau nggak dikabulkan. Tiba di check in counter, petugas mengatakan bahwa pesawat sudah bergerak mundur. Malam itu, saya tidur di bandara sambil menantikan penerbangan terpagi esok harinya. Peristiwa ini terjadi dua tahun lalu.

Maka, saat hendak terbang dengan maskapai yang katanya jagonya delayed, saya menghapus kuat-kuat keyakinan itu – apalagi buat saya pribadi – urusan delayed  banyak terjadi di maskapai lainnya. Malam itu, kami bertiga tiba sangat awal di bandara. Satu orang berpindah ke Terminal 3 karena kami menggunakan maskapai yang berbeda. Saya berdua dengan seorang teman, Mbak Eka, tetap berada di Terminal 2.

Dini hari yang sibuk. Gara-gara membeli tiket promo yang bagasinya hanya separuh perjalanan, saya jadi kelabakan sendiri. Malindo Air memberikan fasilitas 0kg bagasi di perjalanan CGK-HKG dan 15kg bagasi di perjalanan KUL-HKG. Maka, sejak awal direncanakan bahwa saya akan menitipkan koper pada teman yang berangkat dari Terminal 3.

Sebelumnya, saya sudah mencari informasi juga mengenai terbang bersama Malindo Air ini. Dari beberapa review yang saya baca sih lumayan, ya. Jenis Low Cost Carrier (LCC) yang cukup nyaman. Menggunakan aircraft Boeing 737, seat layout 3-3, dan seat pitches 32 inches. Cukup lega untuk ukuran tungkai saya yang panjang.  Malindo Air juga menyediakan inflight entertainment tetapi tanpa earphone, jadi bisa beli atau bawa sendiri. Saya pribadi memang membaca buku-buku bacaan karena ingin mengistirahatkan mata dari layar.

Source: Malindoair.com

Setibanya kami bertiga dari Jogja di Terminal 2 dan teman yang satunya sudah berpindah ke Terminal 3, Mbak Eka menanyakan kenapa koper masih saya pegang. Pok! Telapak tangan langsung deh menempel ke dahi. Menyadari kebodohan saya. Pukul 01.00 pagi itu, kami berdua jalan-jalan dulu ke Terminal 3 dengan menggunakan shuttle bus bandara. Urusan titip menitip koper selesai, saya dan Mbak Eka kembali lagi ke Terminal 2.

Kejutan Pertama Dimulai

Sampai di Terminal 2 lagi, saya mengajak Mbak Eka mengecek jadwal penerbangan kami. Baru sampai urutan ketiga dari atas, mata saya berhenti di situ. Mulut saya menganga. Kok? Saya mencolek bahu Mbak Eka, memintanya membaca juga. Memastikan bahwa saya nggak salah membaca status penerbangan kami di Flight Information Display System (FIDS) itu.  OD 317 CGK-KUL  is cancelled.

Cancelled? Wah, saya buru-buru lari mencari petugas. Pintu kaca itu masuk terkunci. Saya mengetuk-ngetuk kacanya, lalu seorang petugas mendekat, dan membukakan pintu. Saya mengonfirmasi kembali informasi dari FIDS di luar sana. Petugas hanya mengatakan mungkin saja data dari maskapai belum terhubung ke FIDS-nya bandara.

Ponsel di saku jaket yang baterenya sudah tinggal 20% itu saya buka. Memeriksa email, WA, dan SMS. Sama sekali nggak ada pemberitahuan apapun dari maskapai maupun OTA tempat saya membeli tiket. Saya buru-buru menghubungi layanan Call Center Lion Air. Di Jakarta, layanan pelanggan Malindo Air memang bergabung dengan Lion Air. Sibuk terus. Berkali-kali menghubungi responnya sama.

Source: Pexels

Pukul 02.00 dini hari, saya dan Mbak Eka masih duduk santai bersila di lantai bandara. Seharusnya kami terbang pukul 05.10. Tinggal tiga jam lagi. Call center maskapai masih sibuk terus dan semua check in counter masih tutup. Tapi kami masih duduk santai. Saya malah masih sempat membuka kotak makan, menghabiskan beberapa empat potong bolu Oma Opa yang dibawakan seorang teman dari Jogja.

Teman yang berada di Terminal 3 sudah saya kabari. Responnya luar biasa, “Cari tiket baru.” Lalu, beberapa detik kemudian, bertubi-tubi dikirimkan jadwal penerbangan lain ke negara tujuan kami hari itu. Tapi saya menolak. Maskapai harus memberikan jawaban dulu, dong. Lalu, kompensasinya apa? Enak banget kalau saya tinggal terbang begitu aja dengan maskapai lain. Ini pemikiran saya dan Mbak Eka. Berhubung teman yang di Terminal 3 itu laki-laki, jadi kelihatan jelas ibuk-ibuk lebih ribet dari bapak-bapak, wkwkwk

Waktu terus bergulir. Saya masih setia menghubungi Call Center yang kayaknya nggak mau dihubungi sama saya itu. Responnya sibuk terus. Saya sambil berjalan dari ujung ke ujung buat mencari colokan.

Pukul 02.30, suasana masih sepi. Mbak Eka sempat cerita kalau dulu ada temannya yang mau terbang dan dibatalkan juga seperti ini. Alasannya, karena jumlah penumpang di bawah kuota. Saya malah baru dengar ada yang begitu. Masa, sih? Tapi mau nggak mau, kepala saya celingukan juga lihat ke kanan dan kiri. Sepi. Selain kami berdua, cuma ada satu laki-laki dan satu perempuan di sisi kiri, dan sekitar tujuh orang – sepertinya keluarga – di sisi kanan.

Saya samperin, dong. Tanya gitu mereka mau kemana. Orang-orang di sisi kiri mau ke Singapura dan yang kanan mau ke Thailand. Bukan rombongan kami. Wah, jangan-jangan betulan nih satu pesawat isinya cuma saya dan Mbak Eka? Rasanya jadi kepengen buka lowongan. Urgently required! Passenger to depart to KL this early morning. Biar kita bisa terbang, gitu.

Flight Information Display System (FIDS) Nggak Bohong

Pukul 03.00, suasana masih sama. Call center masih susah dihubungi, check in counter masih sepi. Ini orang-orang pada kemana? Masa ada penerbangan internasional pukul 05.10, eh jam segini check in counter masih tutup. Sementara di sebelah-sebelahnya, check in counter sudah buka. Padahal itu untuk penerbangan domestik. Tapi kami berdua masih menunggu sambil tetap santai. Ngobrol  lagi kesana-kemari.

Pukul 03.20, saya kembali berdiri. Capek juga duduk bersila di lantai. Dingin pula. Saya berjalan menghampiri tiga petugas yang tengah ngobrol.

“Pak, itu petugas check in dari Malindo pada kemana, sih? 90 menit lagi jadwal terbang, lho. Kok belum muncul juga, ya?”

“Tenang, Mbak. Masih ada waktu. Tuh, lihat di ujung. Itu petugasnya baru datang satu. Sebentar lagi juga dibuka.”

“Mbak kalau mau tanya penerbangan sesuai jadwal atau nggak, mendingan ke bagian ticketing aja. Tuh, yang kantornya bentuk kotak warna coklat itu.”

Kalimat dari orang pertama masih susah saya cerna karena buat saya, penerbangan internasional butuh waktu lebih lama, dong. Kalimat dari orang kedua, boleh lah. Saya melangkah cepat kesana. Petugas memastikan dengan mantap bahwa semua masih on schedule. Alhamdulillah …

Sekitar pukul 03.30, satu check in counter dibuka. Sudah ada lima orang yang berdiri di depannya. Agak heran, kapan mereka datang? Kan saya dari tadi duduk di situ dan masih sepi. Yo wislah, mungkin rezeki mereka bisa check in duluan, ya kan?

Source: Pexels

Saya dan Mbak Eka berbaris berurutan. Di dalam hati sih, agak deg-degan. Cancelled, nggak? Cancelled, nggak? Mana petugasnya lamaaa banget kerjanya. Satu orang dilayani dalam 20 menitan ada, tuh. Orang di barisan pertama dan kedua berhasil mendapatkan boarding pass. Yeay! Ternyata memang betul, datanya belum terhubung ke bandara. Orang di barisan ketiga maju. Petugasnya menerima telepon, wajahnya mendadak pias.

“Kok nggak ada yang kasih tahu? Udah ada yang aku check in-in tadi.”

Duar, weleh-weleh! Kok bisa begitu? Satu persatu petugas datang dan mereka saling mengonfirmasi soal penerbangan yang dibatalkan. Katanya memang nggak ada pemberitahuan juga ke petugas di Jakarta. Saat itulah saya cengar-cengir memikirkan nasib.  Kami, calon penumpang saling memberitahukan bahwa di FIDS, penerbangan kami memang berstatus cancelled.

Begitu saya menoleh ke belakang, beuh, ternyata antrian sudah penuh. Kok mereka tiba-tiba datang bersamaan gitu, sih? Bingung saya. Tapi nggak usah dibahas deh, ya. Mungkin mereka tetanggaan makanya datangnya barengan, wkwkwk

 

Fact Behind the Flight Cancellation

Jadi, ceritanya begini … Pesawat dari Kuala Lumpur ke Jakarta semalam nggak diterbangkan. Itu adalah pesawat yang pagi itu akan membawa kami dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Jadi, intinya kami nggak bisa terbang karena nggak ada pesawatnya.

Sebagai orang awam, pengen deh nyeletuk, “Nggak ada pesawat nganggur di parkiran, gitu?”

Akhirnya petugas berjanji akan memberikan kompensasi. Kami tinggal memilih saja, mau refund alias dana dikembalikan 100% atau dialihkan ke penerbangan lain di hari itu. Ada pilihan terbang pukul 08.45, 09.05, 09.35, 11.30 dan 14.40.

Saya dan Mbak Eka, jelas menolak refund. Iyalah, harga tiket promo kami itu sudah nggak ada artinya kalau dibelikan tiket baru untuk hari itu. Apalagi sewaktu kami cek, harga tiket yang dini hari tadi masih cantik, sekarang kelihatan jelek saking sudah naik dua sampai tiga kalinya.

Detik itu, saya dan Mbak bertekad kuat, bahwa kami harus tetap berangkat dan tiba di negara tujuan hari itu juga. Nggak bisa nggak. Ini hanya tekad ya, kami nggak sampai mengambil sumpah dan pakai saksi segala.

Saya bertanya dengan suara agak keras ke petugas, “Kalau ada connecting flight ke negara lain, gimana?”

Petugasnya bertanya balik,”Connecting flight-nya pakai maskapai apa?”

“Malindo juga.”

“Kalau masih satu maskapai, kami akan bertanggungjawab sampai penumpang mendapatkan tiket ke negara tujuan akhir.”

Okay, saya lega. Meskipun jawaban itu nggak memuaskan. Lhah, masa tanggungjawabnya kalau tiketnya satu maskapai aja? Kalau beda dan ternyata di connecting flight-nya pakai full service dan ketinggalan pesawat, kan penumpang rugi banget, ya?

Source: Pexels

Saat itu, ada penumpang –penumpang yang punya connecting flight ke Phuket, Ho Chi Minh, Mumbay, dan Hong Kong.

Layanan dalam proses transfer penerbangan itu bisa dibilang kacau banget. Pengaturan antriannya nggak jelas, petugas yang melayani cuma satu orang, kerjanya pun lamanya minta ampun. Sekitar 30 menit kemudian, ditambahkan satu petugas lagi. Antrian sudah nggak jelas deh barisannya. Semuanya menyerbu ke depan counter, minta dilayani lebih dulu. Termasuk saya yang posisinya persis di samping petugas. Jadi saya melihat dengan jelas isi layar komputer petugas itu.

Meskipun petugasnya ada dua, nama yang diinput petugas kiri dan kanan kok kelihatannya sama, ya? Ya mungkin sih tahapan satu dikerjakan kanan, tahapan dua dikerjakan yang kiri. Begitu mungkin, ya? Sambil mencari kursi untuk penumpang, petugas juga masih sambil ketik-ketik pesan di WA, telepon sana-sini, karena sepertinya kesulitan untuk mencetak tiketnya.

Suasana makin riuh. Banyak penumpang yang sudah sedari tadi menyerahkan paspor, berharap-harap cemas dapat tiket atau nggak. Saya sampai ngantuk, deh. Beneran lho, dua paspor yang saya pegang sampai jatuh karena saya ngantuk banget. Untung kepala nggak ikutan jatuh ke mejanya mbaknya, ya, wkwkwk ….

Pukul 05.15, seorang petugas menyampaikan pemberitahuan agar yang belum terlayani, mengikuti beliau. Saya berjalan setengah berlari. Biar dapat dilayani duluan, gitu.

Kami dibawa keluar dari terminal tersebut dan ternyata menuju kantor Customer Service-nya Lion Air. Di sana, sudah ada barisan panjang penumpang. Ealah, ternyata selain serombongan penumpang di sana, masih ada juga rombongan lain di sini. Ya iyalah, kan ceritanya ini isi satu pesawat, ya.

Pukul 05.20, saya tersadar belum sholat Subuh. Duh, gimana urusan mau lancar kalau sholat aja ditinggalin. Beruntung, musholanya persis bersebelahan dengan kantor Customer Service itu. Selesai sholat, berdoa dong banyak-banyak, biar dilancarkan perjalanan sampai ke negara tujuan hari ini.

Selesai sholat yang sebenarnya agak lama itu, eh ternyata antrian masih sepanjang tadi. Mulai ada satu penumpang yang marah karena merasa petugas nggak serius melayani. Tapi marahnya nggak sampai heboh seperti yang suka viral di media sosial gitu, sih. Jadi kurang seru lah kalau mau direkam, wkwkwk … Daaan, teman-teman sesama penumpang ini memang marahnya masih dalam level normal, sih. Marah karena dikhianati diabaikan itu kan wajar, ya.

Saya memilih mengambil peran berbaris di antrian dan Mbak Eka yang menjaga tas. Yang lebih muda harus tahu diri, wkwkwk

Setiap kali ada yang keluar ruangan sambil membawa tiket, selalu kami tanya, “Dapat tiketnya, Mbak, Mas?” Kalau menjawab iya, kami semua bertepuk tangan. Selamat! Ayo semangat yang lainnya! Heboh banget, biarin aja, daripada sedih dan marah-marah, kan?

Apalagi, yakin deh … para petugas frontliners juga pusing dan panik tiba-tiba harus mengurus transfer tiket sebanyak itu.

Source: Pexels

Satu persatu keluar dari ruangan sambil membawa tiket. Yel-yel dan tepuk tangan masih menemani. Sampai kemudian seorang kakek keluar dengan lemas. Katanya dia nggak dapat tiket ke Hong Kong. Adanya besok. Glek! Saya juga dong, nih. Wah, saya sih nggak mau seperti kakek itu. Saya dan Mbak Eka berpandangan. Pokoknya harus dapat. Tekad kembali membara!

Now, It is Our Turn

Pukul 07.00, saya mendapatkan giliran masuk ke ruangan. Di luar, saya lihat masih ada antrian yang baru datang. Ada dua bule dan tiga wajah Indonesia. Di ruangan itu, ada saya, Mbak Eka, dan seorang perempuan muda yang kemudian saya tahu namanya Nur. Dia berasal dari Colomadu, Karanganyar. Katanya dia pergi bersama kakeknya. Sewaktu saya lihat, eh itu kakek yang tadi sudah sempat ditolak.

Baiklah, sesama pejuang tiket ke Hong Kong, ada baiknya kami bekerjasama dengan baik. Sama seperti jawaban yang diberikan CS kepada kakek tadi. Hari ini sudah tidak ada lagi penerbangan ke Hong Kong, adanya besok menggunakan Air Asia. Saya menolak, maunya terbang hari ini. Mbak CS nggak mau kalah, menolak juga karena katanya memang sudah nggak ada penerbangan lagi hari ini.

Ini kalau direkam agak-agak lucu, sih. Saling ngotot-ngototan.

Saya mencoba bicara setenang mungkin. Selain nggak mau menghabiskan energi di sini, saya lihat Mbak CS juga sedang mengandung. Dari ukuran perutnya, sekitar tujuh bulanan gitu. Jangan sampai kan anaknya jadi mirip saya gara-gara kami berantem.

“Kami nggak ada kerjasama dengan maskapai itu, Bu.” Begitu penjelasannya sewaktu saya bilang penerbangan ke Hong Kong masih ada banyak.

“Tapi maskapai harus bertanggungjawab, dong. Gara-gara pesawat tadi pagi batal berangkat, saya jadi ketinggalan pesawat jam sepuluh dari KL.”

Ada sekitar 30 menit kami ngotot-ngototan. Saya minta dipertemukan dengan Manager on Duty, tapi katanya beliau tidak ada di tempat. Saya minta bertemu Supervisor, katanya bisa, lengkap dengan informasi bahwa jawabannya akan sama. Supervisor tersebut baru menemui kami sekitar 45 menit kemudian. Saya keukeuh tetap terbang hari itu, terserah jam berapa saja, lewat negara mana saja.

Supervisor itu lalu menyampaikan bahwa kami akan diterbangkan ke Kuala Lumpur  hari ini, disediakan akomodasi di sana, lalu diterbangkan ke Hong Kong besok pagi.

Source: Freepik

“Saya nggak butuh menginap di hotel. Saya butuh tiba di Hong Kong hari ini.”

“Tapi kami nggak bisa memberikan tiket dari maskapai yang nggak ada kerjasamanya.”

“Saya punya acara penting di sana besok pagi. Nggak bisa mundur. Saya nggak boleh terlambat.”

“Kuala Lumpur yang akan bantu ibu, nggak bisa kami. Malindo itu base-nya di Kuala Lumpur. Punya Malaysia. Kami nggak punya kuasa.”

Saya ngotot lagi. “Kalian kan satu group. Sampaikan saja kesana tolong carikan tiket untuk kami, baru kami terbang ke KL.”

“Itu semua akan diurus saat Ibu tiba di KL.”

“Jaminannya apa?”

“Kami akan keluarkan facility form untuk Ibu. Silakan dibawa lalu ditunjukkan di KL.”

Sewaktu saya baca, surat itu berisi pesan bahwa kami adalah penumpang OD 317 yang batal terbang dan ada permintaan agar kami dicarikan penerbangan ke Hong Kong. Pikiran sederhana saya sih ya begitu. Malindo di Kuala Lumpur mencarikan kami tiket dari Kuala Lumpur ke Hong Kong, lalu kabari Lion Air. Apa nggak bisa sesederhana itu, ya? Entah sih, kalau dalam bisnis penerbangan bagaimana.

“Jaminannya apa kalau kami nggak akan ditelantarkan di sana?” Akhirnya saya sedikit melunak.

“Ibu nggak akan ditelantarkan di sana. Ada Malindo Malaysia yang akan handle.”

“Handle-nya sejauh mana? Di negara sendiri aja saya terlantar begini. Apalagi di Malaysia? Anda kira saya bakal dibaik-baikin di sana? Di sini aja kami semua berdiri lama, boro-boro dikasih minum.”

“Kalau nggak dapat tiket, Ibu akan dicarikan hotel.”

“Lhoh, kok balik lagi ke hotel. Saya nggak mau menginap. Saya harus tiba di Hong Kong hari ini juga!” Wkwkwk … akhirnya tanduk saya keluar lagi.

“Ibu pilih berangkat ke KL dengan pesawat jam 09.35 yang sebentar lagi boarding, atau mau terbang jam 14.40 dengan resiko semakin kecil kemungkinan dapat pesawat ke Hong Kong?”

Source: Pexels

Saat itu pukul 08.55. Saya sudah capek banget. Akhirnya kami saya dan Mbak Eka memilih terbang ke Kuala Lumpur dengan penerbangan 09.35 itu. Perempuan muda beserta kakeknya itu ikut-ikutan juga. Sedari tadi, mereka berdua nggak bicara apa-apa. Diam seribu bahasa. Nempel terus sama kami berdua.

Akhirnya dua lembar kertas dengan nama kami berempat kami bawa lari-lari masuk ke dalam terminal. Sampai di check in counter, begitu tahu kami penumpang yang ditransfer, petugasnya lari dulu ke meja sebelah. Kami harus tandatangan dulu, paspor kami difoto dulu, baru kami diberikan boarding pass.

“Cepat ya, Bu, pesawatnya sudah mau boarding.”

Pukul 09.10. Kami berempat lari-lari menuju Imigrasi. Ya Allah, perjalanan masih jauh. Rasanya saya kepengen ada sulap, bisa nggak sih Gate 10 itu dipindahkan dari ujung sana ke ujung sepatu saya?

Begitu tiba di ruang tunggu, rasanya saya hepi banget karena ketemu colokan. Mau kasih makan ke ponsel. Kesian dia kelaparan. Tapi baru juga nyolok, eh panggilan boarding.

“Ya Allah, saya capek. Ngantuk. Kepengen tidur yang pules di pesawat nanti.”

Terkabulkah doa saya?

Tunggu Part 2 ya. Dadaaah …

 

Salam,

67 Shares:
125 comments
  1. Wah ikut deg2an saya bacanya Mbak, hahaha…berasa kayak sinetron aja ya. Gak kebayang deh gimana capeknya wara-wiri. Jadi penasaran sama kelanjutannya. Gak ketinggalan pesawat kan Mbak endingnya?? ??

  2. That’s why aku prefer nyari full service yang diskon ketimbang LCC yg harganya cantik. Walau srg tergoda kok murah bener ya.. Btw, terus semalam itu tak tidur sama sekalikaaaaah? Perjalanan penuh drama memang yah. Kira-kira bisa tidur gak ya di pesawat? Semoga bisa eaaa… Ditunggu part 2 nya.

  3. Ya Allah, kalo difilmkan ini seru banget, Mbak.

    “Handle-nya sejauh mana? Di negara sendiri aja saya terlantar begini. Apalagi di Malaysia? Anda kira saya bakal dibaik-baikin di sana? Di sini aja kami semua berdiri lama, boro-boro dikasih minum.”

    ———-> suka banget bagian ini, elegan kesannya. :*

    Partu 2-nya kapan tayangnya nih?

  4. Kupikir Malindo sama kayak Thai Lion Air..yang lebih lumayan daripada Lion Air, ternyata sama ya
    Keduanya memang kerja sama Lion Air di Malaysia namaya Malindo, di Thailand namanya Thai Lion Air.
    Tapi pengalamanku naik Thai Lion Air memuaskan. Meski anakku protes karena baru kali itu naik maskapai LCC yang ga dapatmakanan hihihi
    Jadi penasaran sama kelanjutannya

  5. Seru banget bacanya. Full of drama beneran.
    Aku belum pernah si. Paling drama cm ketinggalan flight gegara telat cek ini terus harus nunggu sharian di bandara

  6. Hehe, kisah yang seru. Bener kok bahwa setiap perjalanan itu pasti ada dramanya, baik drama yg romantis, horor, ataupun komedi. Kayak film, dong 😀

    Saya udah lama banget gak terbang, jadi baru tahu tentang Malindo ini. Hmm, salah satu resiko beli tiket promo seperti itu kah, Mbak? Cancel penerbangannya mendadak, hiks. Belum pernah ngalamin cancelled, sih. Kalau delayed mah sering, hehe. Yah, ulah maskapai LCC yg satu itu lah 😉

    Ditunggu drama selanjutnya yak 🙂

  7. Pertama saya heran dengan teman yang minta kalimat “Yang Pasti Tidak Ada Perjalanan Tanpa Drama” dihapus ya, Mbak. Padahal kenyataannya, memang setiap perjalanan itu, tidak ada yang mulus, lancar jaya. pasti ada drama. Dan saya pun mengalaminya. Misalnya saat pesawat saya diubah jadwalnya. Saya kira pukul 5 subuh, ternyata pukul 5 sore. Dan jadilah saya nunggu 12 jam di bandara hahaha.

    Seru ini ceritanya, Mbak dan penuh drama hehehe. Tidak sabar menunggu kelanjutannya.

    1. Temanku itu percaya bahwa kalimat kita itu akan didengar semesta dan dikabulkan nantinya. Jadi vibrasinya mesti dijaga yang baik-baik. Gitu, Mas. Menunggu 12 jam bisa bobo dulu tuh, Mas, wkwkwk …

  8. Hahaha.. kirain kejutan menarik. Tapi emang menarik banget. Jadi mau nunggu part 2. Saya pernah pulang dr KL ke JKT naik Malindo.pesawatnya? Wuiiih.. saking cakepnya kursinya bermotif kain robek gitu. Macam jeans2 sobek. Biar ikitan tren kali ya? Haha

    1. Wah, aku sih malah suka sama standar jarak kursinya. Paha aku panjang. Pegel kalau jarak antar kursinya pendek. Kemarin pesawatnya secara fisik baik-baik aja, sih. Non fisiknya yang bikin tegang, wkwkwk …

  9. Kebayang ini sudah kek satu scene film drama yang bikin deg-degan pemirsah, haha.
    Hidup tanpa drama seperti sayur tanpa garam. Tapi jangan kebanyakan garam juga kali ya, bisa darah tinggi.

  10. Saya sesih membaca kisah Mba. Sebagai mantan garwa penerbangan, heran kenapa Lion Air ga pernah bisa ditindak atau diksh sanksi. Pdhal berbagai kesalahan dilakukan. Begitu saktinya Lion, saya kenal pemilik Lion Air, krn dulu dia sebagai agent penjual tiket perusahaan saya. Lion yg memgacak2 peraturan penerbangan seenak udelnya, kita tau bobroknya sampai dia bisa menjual tiket begitu rendah, shg banyak yg dikorbakan kadang tanpa memikirkan safety pax & crewnya.

    Tapi ironisnya masyarakat udah tergiur dg tiket murah yg kadang harganya diluar nalar para insan penerbangan.
    Juga perlu diketahui masyarakat bahwa, tiket promo itu paling banyak dlm 1.penerbangan hanya 3-5 seats & akan seenaknya dia korban klo ada masalah.
    Bagi orang2 yg mengerti dunia penerbangan ga mau terbang dg Lion, krn beresiko namun kita kembali kan bahwa Allah penentu umur manusia.
    Waah….jadi panjang klo ngebahas Lion.
    Alhamdulillah Mba, bisa tertangani.
    Saran saya klo cari tiket promo sebisanya jangan Lion ya.??

    1. Selama ini saya tuh malah nggak pernah ada masalah berarti sama Lion, Bun. Makanya santai aja kalau pun terbang dapatnya Lion. Ini sedang ‘lucky’ banget dapat pengalaman begini, huehehehe … Maunya tiket promo dari maskapai full service lah, yaaa … hihihi …

    1. Iya, betul. Pakai maskapai besar pun pernah delay, kok. Makanya aku sih nggak gimana-gimana sama Lion atau Malindo ini. Hayo naik apa ke HK-nya? Baca aja nanti di Part 2, yaaa …

  11. Seru ceritanya. Kebayang mukanya dan mulutnya mbak Mel gimana tuh pas nanya, jaminan saya disana apa? dinegara sendiri saja sudah ditelantarkan apalagi di negara upin ipin alias malaysia, hehe kutunggu cerita par 2 nya mba. Bagus kalau ada rekaman videonya yah hihi

  12. Ngos-ngosan aku, MBak, ikut emosi, wkwkwk. Gak kebayang kalau aku pasti udah marah banget, kok bisa sih cancelled se-mepet itu. Kayta suami kalau dituntut bisa minta ganti rugi berapapun lho. Soalnya udah kejadian sih. Temen suami nangani kasus penumpang yang nuntut pembatalan jam terbang. Mepet pula, persis Mbak Mel gini. Maskapainya kalah dan doi dapat ratusan jut. Beneran ini, gak boong. Karena bener2 kesalahan di pihak maskapai.

    1. Yang mecucu tuh buanyak banget. Tapi waktu itu memang aku pun bingung bisa menahan marah. Di ruang CS baru deh tanduknya nongol. Iyakah? Wah, itu penumpang kelas bisnis kali ya, Mbak? Pakai jasa lawyer segala, huaaa …

  13. Pengalamanya bikin nyengir sambil meringis ( gimana coba wkkkk ) setelah beberapa kali delayed dan sempat terlantar 6 jam di bandara tanpa penjelasan aku tobat naik maskapai yang ituh.Pokoknya enggak mau , mending sekalian naik bis aja udah jelas 10 – 12 jam sampe tujuan .

  14. Delay yang ternyata dibatalkan karena nggak ada pesawatnya di parkiran eh, Haddeh itu mah kalau daku mungkin udah migrain kak.. Pengen nangis tapi yang ada laper dan udah nggak kepikiran dah yang namanya mau bobok dulu di hotel, lah wong belum sampe ke tujuan ?. Asik part 2 nya kek apa nih.. Udah ditulis belum yak ?

  15. Tak tahu apa yang terjadi kalau itu saya, Mbak. Mungkin menempel saja ke penumpang yang lebih berani keluar tanduk, hehehehe.
    Keren, lah, Saya baca sambil ikut degdegan. Agar tahu juga, sih, apa yang harus dilakukan.

  16. Seru nih sharing-nya, Mbak Melina. Saya sampe nahan napas pas yg lari²an ke Gate 10. Soalnya saya juga pernah hampir telat boarding pass . Trus lari² menuju gate, ngos²an. Rasanya harap² cemas banget. Okay,, ditunggu part 2 nya yaa

  17. Setiap perjalanan punya cerita dan dramanya tersendiri ya mbak. Yang penting kita tetap enjoy dan menjadikanya pengalaman hidup. Senang bisa baca pengalaman perjalanan orang lain . Thanks mbak meli

  18. Seru banget bacanya… Tahu tahu berlanjut di part 2. Pasti bakal ada drama memang mbak kalau melakukan sebuah perjalanan. Dan… Itu letak keseruannya.

  19. Waah enak yaaa, aku kmrn gagal naik Malindo hihihi. Padahal penasaran juga kyk apa rasanya naik Malindo, blm jodoh, moga next trip bisa 😀
    Iiihh gemes banget yaaa, untungnya akhirnya ada pesawatnya ya meski harus ke KL dulu pd akhirnya. Ngakak di bagian anaknya si mbak ntar mirik kalian wkwkwk 😛
    Ditunggu part 2-nya mbaaakk 😀

  20. Seru ya mba ceritanya. Kalo daku, sebagai seseorang yang jarang banget traveling, ngalamin naik pesawat itu baru beberapa kali. Dulu pernah naik maskapai penerbangan ada* air yg sekarang udah tutup. Selebihnya hanya maskapai penerbangan yang ekonomis dan standar saja

  21. Paling keheul yaa…kalo dapet maskapai model begini.
    Dari awal uda terasa janggal, seperti gak bertanggung jawab gitu…
    Tapi alhamdulillah, sense of travellingnya tinggi.
    Jadi gercep menyelesaikan masalah.

    Happy holiday!

  22. Belum pernah pakai maskapai ini tapi baca ceritanya kok aku kaki rasanya kebawa lari lari ya hahaha…benar drama ma aku dibawa alur dari pelan (nanya namya) cepat (kalian lari) hahahaha. Next partnya ditunggu deh

  23. Ikut deg-degan saya. Kalau saya di posisi itu, bisa keluar tanduk sejak jam tiga subuh. Hahaha…
    Menuju part 2 biar ga penasaran lagi nih akhir cerita perjalanannya

  24. i Feel you kak, aku sudah pernah menguras tenaga, jiwa dan waktu untuk penerbangan dengan singa ini. Akupun ikut jadi singa bersama penumpang laen. cancel pernah, delay apalagi bahkan paling sebel kalau bagasi nyasar. Duh gustttiiiii

    1. Wahahaha … Para penumpang auto mengaum ya, Kak. Kesal setengah ampun, deh. Hah? Bagasi ikut nyasar juga? Oh, tidaaak! Sering dengar pengalaman teman-teman. Kebayang ya, riweuhnya.

  25. Dahsyattt ceritanya Mba Mel. Untung aja Mba Melina-nya masih sabar ya mba. Hahaha. Kalo aku jujur, udah sejak 2014 gak pernah pakai grup maskapai satu ini. Pernah punya pengalaman yang gak enak banget dan kecewa soalnya.

    1. Aku ya nggak tahu ya bisa sesabar itu. Meskipun akhirnya keluar juga tanduknya, wkwkwk …

      Aku tuh baca review Malindo bagus. Lion-nya emang iya. Walau terus terang aku belum pernah dikecewakan, hihihi …

  26. aih dibuat penasaran wkwkw, kek cerbung aja begini haha. gemes juga ya mba, banyak hal-hal yang menyebalkan pakai malindo ini. saya pakai maskapai ini terakhir kapan ya, udah lama banget dan udah enggak mau lagi. mending pakai maskapai sebelah agak mahal gpp asal selamat, wkwkw. entah kenapa kukesal sama maskapai ini. mba mel mah bisa sabar kalau saya bisa mencak-mencak, wkwkwwk.

    1. Aku baru pertama kalinya itu. Sebelumnya baca review-review dan katanya bagus. LCC rasa full service. Belum pernah ada yang bilang dibatalkan. Ya wis, aku tergodalah buat beli, hahaha …

      Itu di kantornya Lion udah mencak-mencak, kok. Sungune mulai metu, wkwkwk ..

    1. Temanku ini memang suka mengafirmasi diri dengan vibrasi positif gitu lho, Mbak. Jadi menurutnya semestinya aku bilang, “Tiada perjalanan tanpa keindahan.” Salah satunya gitu, deh.

  27. Aku juga sering banget kayak gitu ke bandara itu lebih cepat kadang dua sampai tiga jam sebelum berangkat bagi saya lebih baik menunggu daripada ketinggalan karena sudah sering juga ketinggalan pesawat

  28. Bener2 ada aja dramanya yaaah, ikutan nggak sabar juga bacanyaah wkwkwk pengalaman yg lumayan melelahkan keinget keselnya kalau diingat XD Dan ini masih part 1 dong

  29. Ya ampuun mba perjalanan ini masih jafi bekas yang dalam ya. Moment yang bakal terus diingat sampai jadi tulisan di blog

    1. Ditunggu, yaaa … Untuk domestik Batik Air udah oke tuh karena lumayan lapang. Kalau internasional, pastinya lebih nyaman di maskapai full service, sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like