Pengalaman Terbang dengan Malindo Air; Perjalanan Penuh Kejutan (Part 2)

Kedua mata saya perlahan terbuka. Masih setengah mengantuk, jadi istilahnya mata tuh masih kriyip-kriyip. Ada kursi-kursi, banyak orang, ada perempuan-perempuan mengenakan seragam. Ah ya, saya ada di dalam pesawat. Jadi, gaya ngulet harus dikondisikan. Jangan sampai mengganggu penumpang di sebelah, wkwkwk

Jam di pergelangan tangan menunjukkan waktu pukul 10.30. Allah ternyata mengabulkan doa saya yang ingin tidur nyenyak di pesawat.

Kalau tidak pernah membaca Critical Eleven-nya Ika Natassa, saya nggak akan pernah mengenal istilah critical eleven yang sebenarnya dalam dunia penerbangan. Tiga menit pertama setelah pesawat lepas landas dan delapan menit sebelum pesawat mendarat.

 

 

Source: Detik

Memasang sabuk pengaman, membuka tutup jendela, mematikan ponsel, merupakan beberapa cara yang dilakukan untuk menghadapi  critical eleven ini. Pada saat itu, pilot akan secara intensif berkomunikasi dengan Air Traffic Controller (ATC) agar dapat mengendalikan pesawat sesuai standar operasi yang berlaku. Dilansir dari kumparan.com, statistic mencatat, 80% kecelakaan pesawat terjadi pada rentang waktu 11 menit yang dikenal sebagai critical eleven ini.

Itu sebabnya pada rentang waktu tersebut, penumpang diupayakan tetap dalam kondisi terjaga. Jika terjadi kondisi darurat, bisa cepat melakukan evakuasi, apalagi saat tekanan udara menurun. Sayangnya, saya termasuk penumpang yang kadang-kadang nggak disiplin. Bahkan pernah, saking ngantuknya, begitu duduk, saya tertidur. Baru bangun saat pesawat benar-benar sudah mendarat di Surabaya, wkwkwk Pelor, tenan! Wkwkwk

Kembali ke kabin. Satu jam berlalu sejak jadwal terbang dari Jakarta. Tinggal separuh perjalanan menuju Kuala Lumpur. Yah, meskipun nasib kami di sana belum jelas, tapi setidaknya di sana seharusnya kami akan bertemu pihak yang lebih punya otoritas dalam memberikan keputusan.

Mau kemana kami sebetulnya? Baca di sini, ya Pengalaman Terbang Bersama Malindo Air; Perjalanan Penuh Kejutan (Part 1)

Kejutan Saat Membuka Mata

Rasa kantuk masih sedikit menempel, tapi saya bisa merasakan ada sesuatu yang nggak beres. Kok pesawat serasa berjalan mundur gitu. Waktu melihat ke jendela, AllahuRabbi … Ternyata kami memang masih di Jakarta! Pesawat baru akan berangkat. Beneran deh, saya tidur pules banget. Sampai nggak menyadari kalau satu jam tadi tuh kami memang belum kemana-mana.

Jadi ya, ceritanya ada penumpang yang secara dimensi, kopernya muat masuk kabin. Tapi, beratnya sudah melebihi ketentuan. Jadilah pramugari meminta koper dimasukkan ke bagasi. Penumpang memaksa koper tetap di kabin, pramugrasi memaksa koper masuk bagasi. Ini lucu ngotot-ngototannya. Jadi mirip dengan saya yang memaksa terbang hari ini dan petugas Customer Service yang memaksa saya terbang besok.

Meskipun jadi terlambat, tapi saya salut lho sama pramugrari yang teliti dan tegas. Sering banget deh ketemu orang bawa koper yang kelihatannya berat, terus masuk ke kabin. Urusan ketegasan kru kabin dalam menangani barang bawaan penumpang, saya acungi jempol buat Malindo Air.

Sambil memandangi sekitar runway, saya jadi ingat, betapa banyak kejadian seru yang terjadi di Soekarno Hatta ini. Pernah baca ini, nggak? Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1)

Tiba di Kuala Lumpur

Perjalanan berjalan lancar lalu tibalah kami di Kuala Lumpur. Keluar dari garbarata, sudah ada petugas berseragam ungu dengan tulisan Malindo yang menunggu kami. Satu persatu dipanggil, saya, Mbak Eka, Nur, dan Opa. Eh lho, tapi kemana itu kakeknya, ya? Nur yang cucunya pun nggak tahu kakeknya di mana. Apalagi saya yang bukan cucunya, hahaha … Ya Allah, jangan sampai pusing menanti tiket, eh harus pusing juga mencari satu teman, ya. Tadi sih di pesawat saya lihat beliau duduk di kursi depan. Semestinya sih punya kesempatan keluar pesawat duluan, kan.

Syukurlah, akhirnya beliau ketemu. Cuma ke toilet, kok, wkwkwk

Petugas itu kemudian mengonfirmasi kembali bahwa negara tujuan kami selanjutnya betul ke Hong Kong. Dia akan membantu membawa kami ke layanan pelanggannya Malindo. Kami dibawa keluar melewati imigrasi. Eh, jadi dapat bonus stempel Departure dan Exit-nya Kuala Lumpur. Lumayan lah, soalnya halaman paspor saya masih banyak yang kosong, wkwkwk

Makasih ya, halaman paspornya ada cap lagi.

Opa tadi keukeuh mau menunggu kopernya di depan conveyor belt, tapi kami membujuk beliau supaya ikut kami dulu. Urusan terpenting saat itu kan tiket ke negara tujuan, ya. Selain itu, petugas Malindo yang menjemput kami bilang biar nanti koper kakek dia yang ambilkan. Nah, petugas yang ini baik dan sabar banget memang.

Mengulang yang di Jakarta

Sampai di meja Customer Service-nya Malindo, ada petugas laki-laki yang melayani kami. Sama seperti petugas Lion Air di Jakarta, katanya kami akan disediakan akomodasi di Kuala Lumpur, lalu terbang ke Hong Kong besok pagi. Jawaban saya juga masih sama, menolak. Saya mau terbang hari itu.

Sewaktu ditanya siapa saja yang mau terbang hari itu, saya dan Mbak Eka mengangkat tangan. Kepala saya menoleh ke belakang, ternyata Nur dan Opa ikut-ikutan angkat tangan. Saya nggak tahu se-urgent apa mereka harus tiba di Hong Kong hari ini. Kami belum ngobrol banyak.

Adegan ngotot-ngototan kembali terjadi. Petugas Customer Service lagi-lagi bilang bahwa mereka nggak punya kerjasama dengan maskapai yang punya jadwal penerbangan ke Hong Kong hari ini. Duh, saya capek sih sebenarnya bolak-balik menyampaikan hal yang sama. Tapi ya mau nggak mau. Kan sejak dari Jakarta, sudah bertekad, harus berjuang! Hahaha …

Source: Bisnis

Kemudian terjadi sesi tanya jawab antara saya dengan petugasnya. Dia tanya, saya tahu nggak kenapa tadi pagi kami batal terbang?

“Menurut petugas Lion Air di Jakarta, pesawat untuk penerbangan dari KL ke Jakarta tadi malam nggak berangkat. Padahal  pesawat itu yang akan membawa kami dari Jakarta ke KL tadi pagi.”

“Ibu tahu nggak alasan pesawat nggak diberangkatkan?”

“Ya mana saya tahu.” Dalam hati sih bingung. Ini kok malah jadi seperti ikutan kuis gitu. Saling tanya jawab.

“Karena alasan operasional, Bu.”

“Ya apapun alasannya, maskapai anda sudah merugikan saya. Saya nggak bisa terbang ke KL tadi pagi, dan saya jadi nggak bisa ikut pesawat dari KL ke Hong Kong jam sepuluh tadi.”

Nah, bagian ini nih yang bikin tanduk saya nongol seketika.

“Ibu pilih nggak terbang atau diterbangkan tapi pesawatnya kenapa-kenapa karena alasan operasional tadi?”

Naik lah suara saya beberapa oktaf. Kayak kalau manggil anak yang dipanggil nggak kunjung nengok gitu deh,  wkwkwk

“Saya membaca di FIDS penerbangan dibatalkan di pukul dua pagi. Nggak ada pemberitahuan lewat email, WA, SMS, apapun itu. Nggak ada orang maskapai yang bisa saya tanya. Call Centre sibuk terus. Petugas maskapai di check in counter, anda tahu datang pukul berapa? Pukul 03.30. Padahal pesawat akan berangkat pukul 05.10. Terlambat sekali bukanya. Ini penerbangan internasional, seharusnya buka lebih awal.”

Ekspresi petugasnya tuh agak kaget. Entah kaget karena ternyata kami memang diabaikan soal informasi, atau kaget karena saya nyerocos terus. Buibuk dilawan! Wkwkwk . Dan, selesai bicara itu saya merasa agak gimana gitu. Kok kayak lagi curhat ya, wkwkwk

Source: Pixabay

“Oh, jadi nggak ada pemberitahuan, ya?”

“Nggak ada.” Saya udah pasang tampang males banget nih di sini.

“Kalau begitu, begini saja, Bu. Ibu beli tiketnya, nanti reimburse ke kami.”

Mata saya langsung serasa mau loncat. Alhamdulillah, nggak ya. Serem itu, sih.

“What? Beli tiket sendiri? Kalau kami diinfo sejak awal, kami bisa cari tiket lain. Pukul dua tadi, masih ada tiket termurah dari China Airlines, cuma Rp 2,2 jutaan. Pukul empat tadi, harganya sudah jadi Rp 6 juta. Itu mahal. Saya nggak punya uang.Terus, kalau saya beli tiket sendiri, anda nanti mau ganti berapa lama? 30 hari hari?”

“Betul, Bu. Tiga puluh hari kemudian uangnya cair.” Asli lho, petugas itu menjawab begini dengan wajah penuh percaya diri, penuh senyuman, seolah-olah jawaban dia bakal menenangkan saya. Dikira 30 hari saya itu sama seperti 30 menit apa, ya? Pengen ngruwes-ngruwes, rasanya …

“Tolong panggilkan Manager anda.”

“Manager saya mobile, Bu. Nggak ada di sini.”

Kemudian saya sampaikan bahwa kami sudah mengeluarkan banyak biaya di sana. Buat ini, buat itu, buat penginapan. All have been paid.

“Anda carikan kami penerbangan hari ini, atau mau mengganti semua biaya yang sudah saya keluarkan di sana?”

Pucet deh wajah petugasnya. Kalau ngaca sih, bakal sama pucetnya seperti saya yang menahanlapar, haus, dan rasa ingin pipis sejak pagi, wkwkwk

“Okay. Supervisor anda. Saya mau ketemu.”

Akhirnya dia mengangkat telepon, menghubungi seseorang. Ada laki-laki berkemeja rapi yang kemudian datang ke meja itu. Sepertinya supervisor yang dimaksud. Dia melayani kami dengan sangat baik, kemudian bertelepon kesana-kemari. Oya, di samping kami, ada dua orang yang juga tengah komplain. Kelihatannya komplainnya cukup berat karena mereka penumpang business class. Bisa dibayangkan, mumet deh itu yang jadi petugas Customer Service.

Berulangkali saya mengucapkan kalimat yang sama. “Please help me. Tolong saya.”

 

Kabar Gembira Akhirnya Tiba ... Alhamdulillah ...

Pukul 13.00, kami belum makan, belum minum, belum buang air kecil. Yaelah, mau buang air kecil punrasanya nggak bisa tenang. Ritual di toilet itu butuh ketenangan kan, ya? Hahaha … Makanya, kami pun memberikan kesempatan pada Supervisor itu untuk menelepon kesana-kemari dengan tenang, xixixi …

Kami dipersilakan duduk dulu di kursi tunggu. Sekitar setengah jam kemudian, Supervisor tadi menghampiri kami. Katanya kami bisa terbang sore nanti. Mereka sedang dalam tahap minta persetujuan ke CEO.

Supervisor itu pergi lalu kembali beberapa menit kemudian. Semua paspor kami diminta. Katanya, kami akan diterbangkan dengan menggunakan Malaysia Airlines. Penerbangan malam, nggak jadi sore. Dalam hati saya lonjak-lonjak. Asyik-asyik, dapat ganti full service, wkwkwk

Opa tiba-tiba muncul entah dari mana dengan membawa tentengan. Beliau membelikan kami air mineral dan cemilan.

“Dari tadi kita belum ada yang sarapan. Ngemil dulu biar nggak masuk angin. Habis ini kita makan, ya.”

You know what, logat opa ini tuh nyundaaa banget. Kok cucunya itu njawa medhok, ya?

Saya ajak ngobrol, opa ternyata asli Bandung. Kok cucunya orang Colomadu, ya? Hasil investigasi karena asli saya kepo banget, ternyata mereka berdua itu kakek dan cucu ketemu di bandara, bukan kakek dan cucu betulan, wkwkwk … 

Beliau masih menggunakan nama Chinese yang kalau disingkat jadi OBH. Jadilah beliau maunya dipanggil Opa OBH. Siaaap, Opaaa …

Ready for boarding ...

Pukul 13.45, kami menerima empat tiket. Legaaa rasanya. Alhamdulillah …

Selesai sholat dan menghubungi teman-teman, kami lanjut mengisi perut. Kami makan siang yang kesorean dengan menu Tom Yam Noddle yang mangkuknya guede banget. Ditraktir lho sama Opa OBH. Kata beliau, sebagai orang yang lebih tua, beliau yang seharusnya mentraktir orang yang lebih muda. Supaya rezeki beliau nanti ikut melimpah ke kami-kami ini. Wohooo ya rame-rame kami aminkan doa itu. Aamiin …

Makan pagi dan siang yang kesorean.
Super gede mangkoknya. Kesimpulannya, kenyang.

Tips-Tips Ringan Andai Peristiwa Serupa Terjadi

Yeay! Perjalanan berantai saya kemarin itu memang susah banget dilupain. Mulai dari Bogor ke Solo, Solo ke Jogja, Jogja ke Jakarta, Jakarta ke Kuala Lumpur, dan Kuala Lumpur ke Hongkong, semua ada cerita serunya.

Sekembalinya ke tanah air, sambil mikir-mikir, sekalian introspeksi diri gitu lah, ya. Ada tips-tips buat teman-teman apabila menghadapi situasi seperti saya waktu itu.

  • Tetap tenang. Nggak perlu marah-marah, ngamuk-ngamuk, apalagi memaki-maki. Semua orang termasuk orang-orang maskapai tentunya nggak mengharapkan peristiwa buruk terjadi. Urusan seperti ini biasanya butuh waktu panjang untuk menyelesaikan, jangan habiskan energi kita di awal.
  • Berusaha sabar. Yakin deh, para petugas frontliners pasti kaget, panik, baru datang eh dapat kabar nggak menyenangkan berbonus penumpang yang protes. Kalaupun ada yang nggak marah, ya minimal pasti tampang muka jutek.
  • Berikan informasi yang padat dan akurat mengenai rencana penerbangan kita. Jangan muter-muter, karena antrian panjang, Maks!
  • Simpan tiket atau e-ticket dan paspor di tempat yang strategis. Kapan pun dibutuhkan, akan mudah diambil. Setidaknya kita bisa memperpendek waktu antrian.
  • Simpan salinan atau bukti reservasi dan pembayaran apapun di luar negeri sebagai bukti apabila kita memang betul-betul harus terbang hari itu. Seperti Malindo Air sebenarnya sudah memberikan pelayanan yang baik dengan menawarkan akomodasi dan tiket lengkap. Sayangnya, waktu saya memang nggak bisa diutak-atik saat itu.
  • Tetap berbicara dengan sopan kepada kru maskapai. Saat cara kita baik sih umumnya yang melayani senang dan malah berkenan membantu lebih. Saya jadi ingat, di Jakarta saya cuma ngomel. Di Kuala Lumpur, berkali-kali saya bilang minta tolong. Terlepas dari bahwa otoritas penuh Malindo Air memang adanya di Malaysia, ya.
  • Banyak hal tak terduga yang bisa terjadi saat melakukan perjalanan. Hati-hati dengan ucapan dan pikiran kita. Saya inget banget sempat bilang, “Yang pasti, tak ada perjalanan tanpa drama.” Kapok ah, bikin status begini.
Tidur beberapa jam, jadi masih muka bantal.

Well, nggak ada orang yang suka mendapatkan masalah tapi masalah itu sebenarnya bisa ditemukan jalan keluarnya. 

Oya, ada teman saya yang menginspirasi untuk bertindak berani dalam mempertahankan pendapat dan memperoleh hak kalau kita yakin berada di posisi yang benar. Apakah itu kamu? Huehehehe …

See you on the the next journey story!

Salam,

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

68 Comments

  • hani November 5, 2019 at 8:31 am Reply

    Weew seru kisah perjalanannya. Alhamdulillah selamat, nambah teman baru berbagi pengalaman.

    • melinase November 8, 2019 at 2:58 am Reply

      Alhamdulillah, jadi punya satu rumah lagi buat disinggahi kalau mau main ke Bandung, Bun, hihihi …

  • Farida Pane November 6, 2019 at 9:57 am Reply

    Fiuhh.. Bacanya ikut deg2an. Lega deh akhirnya dapat solusi memuaskan ya. Pelajaran banget ini.

    • melinase November 6, 2019 at 10:13 am Reply

      Akhirnya diberikan solusi yang baik sama Malindo. Aku pun legaaa … Hehehe …

  • Indrifairy November 6, 2019 at 7:54 pm Reply

    selalu seru membaca ceritamu dengan Malindo Air ini mba, jadi perjalanan yang berkesan ya seumur hidup, enggak kapok kan ya

    • melinase November 8, 2019 at 2:59 am Reply

      Berkesan banget dan pastinya nggak kapok, dong. Selalu ada pelajaran berharga, kok, hihihi …

  • dewi apriliana November 6, 2019 at 10:01 pm Reply

    Waduh kalo saya kayaknya nggak berani itu mba’ sampai sengotot itu ehehe.. Sampai ikut nahan pipis saya mbacanya. Seru bgt kisahnya. Untung bisa terselesaikan tidak terdampar lama di bandara.

    • melinase November 8, 2019 at 3:00 am Reply

      Atuuh … Mau gimana lagi? Jam 9 esok paginya kami punya acara penting, hahaha …

  • nurulrahma November 6, 2019 at 11:22 pm Reply

    Huwoooo, ini memorable trip pastinya ya Mbaaa
    Penuh dgn dramaaaa, alhamdulillah bisa happy ending! 😀
    Ga sabar menunggu tripoverseas berikutnyaaaaa

    • melinase November 8, 2019 at 3:01 am Reply

      Indeed. Memorable banget. Buat seru lah buat diceritain dan dijadikan pelajaran.

  • Ulfah Wahyu November 7, 2019 at 4:44 am Reply

    Akhirnya sampai juga ya Mbak hahaha. Ikutan tegang saya bacanya. Memang tetap ya, sikap harus dijaga. Karena itulah modal kita dalam berhubungan dengan orang. Sukses selalu Mbak.

    • melinase November 8, 2019 at 3:01 am Reply

      Iya, Mbak. Sama-sama panik pastinya kedua pihak. Jadi coba tetep adem juga deh kitanya.

  • Ria buchari November 7, 2019 at 5:31 am Reply

    Aku baca detil loh mba ternyata ya perjalanan yang sangat penuh drama tapi asyik bahasanya jd seru serasa ikut dlm perjalanan menuju Hongkong, pasti jadi memory bgt ya mba perjalanannya

    • melinase November 8, 2019 at 3:02 am Reply

      Aih … Makasiiih … Memorable banget. Tapi andai lupa, bisa diingetin lagi sama blog, hahaha …

  • Peri Hardiansyah November 7, 2019 at 6:47 am Reply

    Seru ya, dan penug pengalaman yang berharga. Jalan-jalan bukan cuma ambisi pribadi, juga merupakan media pelajaran hidup juga. Pahit manisnya gitu.

  • Rika November 7, 2019 at 7:34 am Reply

    Seru bangeeet ka perjalanannya, ah jadi pengen traveling muda”an segera ada rezekinya aminn

    • melinase November 8, 2019 at 3:03 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Perjalanan lokal aja aku bisa seru. Samaaa, lari-larian juga di bandara gara-gara salah turun terminal, wkwkwk …

  • Fenni Bungsu November 7, 2019 at 8:30 am Reply

    Akhirnya nih cerita .. Deuh mau komentar apa yak, soalnya bikin geregetan juga sih, walaupun endingnya bisa memuaskan lah ya, dan alhamdulillah bisa kembali ke rumah dengan selamat sehingga bisa membagikan cerita ini sebagai pengalaman dan hikmah ya kak.

    • melinase November 8, 2019 at 3:04 am Reply

      Alhamdulillah, Ya Allah … Ditolong banget sama Allah, Mbae …

  • Dian Restu Agustina November 7, 2019 at 11:14 am Reply

    Kurang panjang..terus dah terbang beneran di atas gimana? Sampai sana kemana aja?
    Part 3 ada kan ya?
    Memang kalau dah hak kita harus kita pertahankan untik dapatkan.
    Keren dirimu, Mbak Mel
    Ngeyel tapi bener ya gapapa to!

    • melinase November 8, 2019 at 3:05 am Reply

      Wkwkw … Udahan atuh. Ganti yang lain lagi. Terbang dengan Malindo tetep mulus-mulus aja, kok. Nyaman, kaki nggak pegel, ya urusan pembatalan itu aja yang bikin gregetan.

      Aku terinspirasi dari seorang teman. Berani karena benar! Hahaha …

  • Icha Marina Elliza November 7, 2019 at 11:28 am Reply

    Aku menunggu2, seru abis ceritanya kak me..
    tapi ini bener2 info berguna untuk traveler yang sering di php sama airlines.
    Saya akan keep tips kak me, meskipun saya gak kepengen dapet kisah sedih di bandara.. hehe

    • melinase November 8, 2019 at 3:06 am Reply

      Iyaa, semoga saat traveling kapan dan di mana aja, perjalanan kita dilancarkan, yaaa …

  • sitatur November 7, 2019 at 11:58 am Reply

    yeaaa… leganya baca tulisan ini. salut banget sama perjuangannya, kocak dan ikut ngakak sama cerita kakek-cucu di bandara, haha. dan, ini penting utntuk siapapun yang menggunakan fasilitas umum. kita punya hak, tetapi ada kewajiban menjaga etiket (etika, buka e-ticket, wkwkwk…) thanks ya mbak, nice to read this post #lopelope

    • melinase November 8, 2019 at 3:06 am Reply

      Opa oh opaaa … Pakai ilang segala pula, wkwkwk …

      Iya tuh, Mbak. Marah, ngamuk, memaki, nggak ada gunanya, kok.

  • Bety Sulistyorini November 7, 2019 at 4:59 pm Reply

    Aku mocone sambil tegang mba hahhahahha. Koyok lagi nonton film action. Tapi emang akupun suka nggak sabar gitu kalo urusan perjlananan kayak gini ya. Ahh semoga bsk gak kejadian lagi yo mba. Etapi, nggak kapok kan? Hehehehe

    • melinase November 8, 2019 at 7:41 am Reply

      Nggak sabar pun manusiawi sih kalau kondisinya seperti kemarin itu. Batal tanpa kabar, hahaha …

  • Nurul Fitri Fatkhani November 7, 2019 at 5:44 pm Reply

    Ikutan tegang baca perjalanan panjangnya. Kayaknya saya gak berani deh, kalau harus ngotot-ngotot-an gitu. Biasanya saya serahkan pada paksu aja untuk komplen hihih
    BTW Alhamdulillah bisa tiba juga di Hongkong dengan selamat ya, Mbak

    • melinase November 8, 2019 at 7:42 am Reply

      Berhubung nggak punya paksu ya sudahlah aku ngotot-ngototan sendiri, Teh, wkwkwk …

  • Ane Fariz November 7, 2019 at 7:02 pm Reply

    Aiiih seru banget perjalanannya, beneran petualangan ini mah. Alhamdulillah…. akhirnya sampai juga.

    • melinase November 8, 2019 at 7:42 am Reply

      Petualangan di bandara ya, Mbak. Diambil serunya aja, jangan nyebelinnya, hahaha …

  • Sri Rahayu November 8, 2019 at 7:50 am Reply

    Masya Allah seru banget pengalamannya. Aku ikut deg degan, emosi, yo seneng wes suksez deh tulisannya bisa bawa pembaca nyelem timbul salam kenal ya mba

  • Bambang Irwanto November 8, 2019 at 7:55 am Reply

    Saya sudah membaca part 1 kemarin Mbak Melina dan tidak sabar menunggu part 2. Dan ini memang semua penuh drama. Makanya saya juga mau mengikuti pesan sponsor di ending tulisan, jangan menulis sesuatu yang nantinya menimpa kita. Tulis saja, “semua perjalanan lancar dan menyenangkan’ hahaha.

    Tapi dari cerita Mbak Melina ini, pesannya sangat kuat. Kita memang harus mempertahankan hak kita, selama kita di pihak yang benar. Ditunggu cerita seru lainnya, Mbak Melina.

    • melinase November 12, 2019 at 9:23 am Reply

      Berani karena benar! Ya nggak, Mas? Tapi pada akhirnya Malindo Air menangani dengan baik.

      Iya tuh, tagline-nya nanti kita benerin yuk, ah, hahaha …

  • Cindy Vania November 8, 2019 at 9:52 am Reply

    Salut sama dirimu yang bisa tetap tenang saat minta hak sebagai penumpang mba. Asal bener pasti kita bisa dapat yg dimau yaa..
    Tapi pasti sempet gemes sih gila ajaaa suruh beli tiket sendiri baru di refund, kalo aku mewek kali. ga punya tabungan dan cc soalnya. HAHAHHAA

    • melinase November 8, 2019 at 1:05 pm Reply

      Harus tenang sih biar bisa berpikir jernih. Mungkin karena aku dalam posisi lelah juga karena ini perjalanan dari satu tempat ke tempat lain gitu. Jadi daripada ngos-ngosan ya mendingan tenang aja, deh, wkwkwk …

  • Kang Alee November 8, 2019 at 10:21 am Reply

    Belum pernah naik Malindo euy, hehehe. Keren juga neh mau ngotot, padahal biasanya manut aja. Seharusnya emang kayak gini jadi pelanggan biar penyedia jasa menghargai, ya.

    • melinase November 8, 2019 at 1:04 pm Reply

      Nggak punya pilihan lain, Kang. Memang kudu banget tiba hari itu. Ya sudahlah, pas juga kita di posisi yang benar, berjuang lah lewat metode ngotot, wkwkwk …

  • Nurhilmiyah November 8, 2019 at 12:45 pm Reply

    Bagus banget Mbak,, dituliskan di blog spt ni, jd bs dibaca-baca lg sambil mengenang keseruan ke HK naik Malindo Airlines. Plua do and don’t nya lg buat pembaca..te o pe begete deh

    • melinase November 8, 2019 at 1:03 pm Reply

      Buat kenang-kenangan, Mbak. Banyak pelajaran berharga malah, hahaha …. Iya. Semoga teman-teman nggak mengalami, tapi kalaupun mengalami, tetap kalem ajaaa.

  • Vivi November 8, 2019 at 2:26 pm Reply

    perjalanan yang waw sekali…
    hebat mbaknya.
    jadi si opa OBH itu, sekalian dapat service mengikuti si mbak ya?

    • melinase November 12, 2019 at 9:24 am Reply

      Sangat waw, Mbak. Hahaha iya tuh, mereka berdua nempel sama kami terus. Nggak papalah. Kan sebenarnya berhak mendapatkan kompensasi juga ya, hihihi …

  • Dyah Ummu AuRa (Author RoemahAuRa) November 8, 2019 at 4:40 pm Reply

    Duh, bacanya sampe tegang dan ikut marah juga. emang kesel kalau maskapai suka semena-mena dengan konsumen. OKelah bagi kita yang ngerti cara ngatasinya. Lah kalau yang dari desa dan gak tahu apa-apa gimana?

    • melinase November 12, 2019 at 9:25 am Reply

      Makanya itu, Mbak. Terbayang juga tuh sama aku. Tapi pada dasarnya mereka memberikan kompensasi kan dengan akomodasi di Malaysia. Sayangnya memang waktu aku mepet banget jadi nggak bisa kalau menunda keberangkatan.

  • Susindra November 8, 2019 at 8:06 pm Reply

    Kayaknya saya menunggu part 3, nih. Wkwkwkwk
    Kenapa seru amat sih, mengikuti perjalanan ini?
    Opa dan cucunya bertemu di bandara itu maksudnya gimana, Mbak? Kok jadi curiga. Karena beda suku dan baru bertemu.
    Kebanyakan curiga aja. Hahahaha

    • melinase November 12, 2019 at 9:26 am Reply

      Mbak, ini pengalaman perjalanan lho ya, bukan Cerbung, wkwkwk …

      Setelah itu masih ada sih perjalanan yang seru-seru lagi. Kapan-kapan ya aku tulis dan ceritain.

  • Andi Telaumbanua November 8, 2019 at 11:38 pm Reply

    Perjalanannya benaran penuh drama ya, tapi untung aja gak cepat ngalah sama situasi. Akhirnya bisa sampai tujuan seperti yang diharapak.

    • melinase November 12, 2019 at 9:26 am Reply

      Iyaaa, seru banget. Alhamdulillah, Allah kasih jalan buat tetap berangkat.

  • Kartika November 9, 2019 at 7:57 am Reply

    Kalo aku sih berjuang krn benar itu wajib banget. Apalagi klo berhubungan dengan rugi uang hahaha harus diperjuangkan *pengabdidiskon seruu banget mbakk ceritanyaa, sampe ikutan deg2an

    • melinase November 12, 2019 at 9:27 am Reply

      Nah ini … Sehati. Kapan-kapan jalan bareng kita, Mbak, hahaha …

  • dona November 9, 2019 at 9:25 am Reply

    yaoloh ini bener – bener perjalanan ‘dari hongkong’ alhamdulilahnya bisa sampai sana dan bisa pulang mari dengan masih waras yak .

    • melinase November 12, 2019 at 9:27 am Reply

      Hahaha … Bisa ajaaa. Alhamdulillah, pulang dengan waras akuuu …

  • April Hamsa November 9, 2019 at 2:49 pm Reply

    Aku kepohnya jd masalah selesai setelah diancam suruh ganti biaya perjalanan itu ya haha. Jd sbnrnya ya masih bisa diusahakan yaaa. AKu sendiri kalau dalam posisi gtu jg binguung mau ngapain huhuhu. Btw emang urgent banget ke HK ngapain mbak, malah nanay wkwkw. Owalah Opa dan cucu ternyata opa2an dan cucu2an hahaha, tapi mayan lha ya ditraktir makan 😀

    • melinase November 9, 2019 at 3:12 pm Reply

      Bisaaa … Sepertinya karena terkait urusan bisnis dan biaya, masih bisa diusahakan tuh, Mbak. Aku memang mau ada pertemuan di sana makanya keukeuh harus terbang. Kalau nggak ada yang menunggu sih, aku santai aja mau tinggal dulu di KL. Lumayan lah jalan-jalan. Minta aja terbang sorean gitu, hahaha … Yang penting gratis sampai ke taksinya.

      Iya, tuh. Mereka dapat gratisan karena nempelin kami berdua, hahaha …

  • April Hamsa November 9, 2019 at 2:49 pm Reply

    #nanya

  • Erfano November 9, 2019 at 5:47 pm Reply

    Ini lanjutan cerita yang kemarin. Akhirnya ada lanjutannya. Seru banget baca lanjutannya, ceritanya ngebeat, pembaca ikut terlibat juga. dan kalau ngomongin soal maskapai banyak hal sih memang. Untung maskapai Malindo mau benar2 tanggung jawab.

    • melinase November 12, 2019 at 9:29 am Reply

      Pada dasarnya memang bertanggungjawab. Sayangnya respon dari Jakarta kurang cekatan. Mungkin mereka juga panik ya, Mas. Sama-sama mencoba tenang lah jadinya.

  • Shisca Elliza November 9, 2019 at 8:57 pm Reply

    Zuperrr seru kocak plus deg-degan ini mah kak Melina. Ditanya2 macem-macem gitu ngingetin pas daku ditilang bareng adek. Dan pas dah gak kuat njawabin pak polisi, daku nangis kenceng.

    #malu

    • melinase November 12, 2019 at 9:29 am Reply

      Wkwkwk … Aku nggak mau pergi bareng kamu ah, nanti kami nangis juga, hahaha …

    • melinase November 12, 2019 at 9:29 am Reply

      Wkwkwk … Aku nggak mau pergi bareng kamu ah, nanti kamu nangis juga, hahaha …

  • Rostiny November 9, 2019 at 11:15 pm Reply

    Jadi pengen ke Hongkong juga.. Letih banget gak tuh mba perjalanan beberapa kali transit? Anyway, thanks buat tips- tips nya

    • melinase November 12, 2019 at 9:31 am Reply

      Cuma transit sebentar sebetulnya. Ini capeknya bukan karena transit. Tapi karena kurang dari 48 jam aku udah perjalanan dari Bogor-Solo, Solo-Jogja, Jogja-Jakarta, dan dilanjutkan dengan drama pembatalan tiket, huaaa …

  • Tika Samosir November 11, 2019 at 8:57 am Reply

    Aku juga pernah punya pengalaman naik pesawat dalam keadaan genting dan hampir kecelakaan saat mengudara. Dari polonia ke jakarta waktu itu. Tapi untung sigap pilotnya jadi selamat.

    • melinase November 12, 2019 at 9:31 am Reply

      Alhamdulillah ya, masih dilindungi lewat kesigapan awak kabin.

  • Nyi Penengah Dewanti November 11, 2019 at 9:21 am Reply

    Ah jadi kangen Hongkong aku mba hahahah
    Pernah idup 6ntahun di sana. Tapi aku belum pernah naik Malindo. Kepo rasanya. Makasih tips2nya ya mba semoga kapan2 bisa main ke Hongkong dalam rangka traveling heheuuem

    • melinase November 12, 2019 at 9:32 am Reply

      Oiya? Kapan ituuu? Jalan-jalan di antara demo ya begitu sih rasanya hihihi …

  • Utari ninghadiyati November 13, 2019 at 8:56 am Reply

    Outo inget kejadian dulu. Ketika tanpa pengumuman apa pun penerbangan di cancel wkwkwkwk. Padahal udah di bandara dan harus balik ke jakarta.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.