Pengalaman Terbang dengan Malindo Air; Perjalanan Penuh Kejutan (Part 2)

Kedua mata saya perlahan terbuka. Masih setengah mengantuk, jadi istilahnya mata tuh masih kriyip-kriyip. Ada kursi-kursi, banyak orang, ada perempuan-perempuan mengenakan seragam. Ah ya, saya ada di dalam pesawat. Jadi, gaya ngulet harus dikondisikan. Jangan sampai mengganggu penumpang di sebelah, wkwkwk

Jam di pergelangan tangan menunjukkan waktu pukul 10.30. Allah ternyata mengabulkan doa saya yang ingin tidur nyenyak di pesawat.

Kalau tidak pernah membaca Critical Eleven-nya Ika Natassa, saya nggak akan pernah mengenal istilah critical eleven yang sebenarnya dalam dunia penerbangan. Tiga menit pertama setelah pesawat lepas landas dan delapan menit sebelum pesawat mendarat.

 

 

Source: Detik

Memasang sabuk pengaman, membuka tutup jendela, mematikan ponsel, merupakan beberapa cara yang dilakukan untuk menghadapi  critical eleven ini. Pada saat itu, pilot akan secara intensif berkomunikasi dengan Air Traffic Controller (ATC) agar dapat mengendalikan pesawat sesuai standar operasi yang berlaku. Dilansir dari kumparan.com, statistic mencatat, 80% kecelakaan pesawat terjadi pada rentang waktu 11 menit yang dikenal sebagai critical eleven ini.

Itu sebabnya pada rentang waktu tersebut, penumpang diupayakan tetap dalam kondisi terjaga. Jika terjadi kondisi darurat, bisa cepat melakukan evakuasi, apalagi saat tekanan udara menurun. Sayangnya, saya termasuk penumpang yang kadang-kadang nggak disiplin. Bahkan pernah, saking ngantuknya, begitu duduk, saya tertidur. Baru bangun saat pesawat benar-benar sudah mendarat di Surabaya, wkwkwk Pelor, tenan! Wkwkwk

Kembali ke kabin. Satu jam berlalu sejak jadwal terbang dari Jakarta. Tinggal separuh perjalanan menuju Kuala Lumpur. Yah, meskipun nasib kami di sana belum jelas, tapi setidaknya di sana seharusnya kami akan bertemu pihak yang lebih punya otoritas dalam memberikan keputusan.

Mau kemana kami sebetulnya? Baca di sini, ya Pengalaman Terbang Bersama Malindo Air; Perjalanan Penuh Kejutan (Part 1)

Kejutan Saat Membuka Mata

Rasa kantuk masih sedikit menempel, tapi saya bisa merasakan ada sesuatu yang nggak beres. Kok pesawat serasa berjalan mundur gitu. Waktu melihat ke jendela, AllahuRabbi … Ternyata kami memang masih di Jakarta! Pesawat baru akan berangkat. Beneran deh, saya tidur pules banget. Sampai nggak menyadari kalau satu jam tadi tuh kami memang belum kemana-mana.

Jadi ya, ceritanya ada penumpang yang secara dimensi, kopernya muat masuk kabin. Tapi, beratnya sudah melebihi ketentuan. Jadilah pramugari meminta koper dimasukkan ke bagasi. Penumpang memaksa koper tetap di kabin, pramugrasi memaksa koper masuk bagasi. Ini lucu ngotot-ngototannya. Jadi mirip dengan saya yang memaksa terbang hari ini dan petugas Customer Service yang memaksa saya terbang besok.

Meskipun jadi terlambat, tapi saya salut lho sama pramugrari yang teliti dan tegas. Sering banget deh ketemu orang bawa koper yang kelihatannya berat, terus masuk ke kabin. Urusan ketegasan kru kabin dalam menangani barang bawaan penumpang, saya acungi jempol buat Malindo Air.

Sambil memandangi sekitar runway, saya jadi ingat, betapa banyak kejadian seru yang terjadi di Soekarno Hatta ini. Pernah baca ini, nggak? Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1)

Tiba di Kuala Lumpur

Perjalanan berjalan lancar lalu tibalah kami di Kuala Lumpur. Keluar dari garbarata, sudah ada petugas berseragam ungu dengan tulisan Malindo yang menunggu kami. Satu persatu dipanggil, saya, Mbak Eka, Nur, dan Opa. Eh lho, tapi kemana itu kakeknya, ya? Nur yang cucunya pun nggak tahu kakeknya di mana. Apalagi saya yang bukan cucunya, hahaha … Ya Allah, jangan sampai pusing menanti tiket, eh harus pusing juga mencari satu teman, ya. Tadi sih di pesawat saya lihat beliau duduk di kursi depan. Semestinya sih punya kesempatan keluar pesawat duluan, kan.

Syukurlah, akhirnya beliau ketemu. Cuma ke toilet, kok, wkwkwk

Petugas itu kemudian mengonfirmasi kembali bahwa negara tujuan kami selanjutnya betul ke Hong Kong. Dia akan membantu membawa kami ke layanan pelanggannya Malindo. Kami dibawa keluar melewati imigrasi. Eh, jadi dapat bonus stempel Departure dan Exit-nya Kuala Lumpur. Lumayan lah, soalnya halaman paspor saya masih banyak yang kosong, wkwkwk

Makasih ya, halaman paspornya ada cap lagi.

Opa tadi keukeuh mau menunggu kopernya di depan conveyor belt, tapi kami membujuk beliau supaya ikut kami dulu. Urusan terpenting saat itu kan tiket ke negara tujuan, ya. Selain itu, petugas Malindo yang menjemput kami bilang biar nanti koper kakek dia yang ambilkan. Nah, petugas yang ini baik dan sabar banget memang.

Mengulang yang di Jakarta

Sampai di meja Customer Service-nya Malindo, ada petugas laki-laki yang melayani kami. Sama seperti petugas Lion Air di Jakarta, katanya kami akan disediakan akomodasi di Kuala Lumpur, lalu terbang ke Hong Kong besok pagi. Jawaban saya juga masih sama, menolak. Saya mau terbang hari itu.

Sewaktu ditanya siapa saja yang mau terbang hari itu, saya dan Mbak Eka mengangkat tangan. Kepala saya menoleh ke belakang, ternyata Nur dan Opa ikut-ikutan angkat tangan. Saya nggak tahu se-urgent apa mereka harus tiba di Hong Kong hari ini. Kami belum ngobrol banyak.

Adegan ngotot-ngototan kembali terjadi. Petugas Customer Service lagi-lagi bilang bahwa mereka nggak punya kerjasama dengan maskapai yang punya jadwal penerbangan ke Hong Kong hari ini. Duh, saya capek sih sebenarnya bolak-balik menyampaikan hal yang sama. Tapi ya mau nggak mau. Kan sejak dari Jakarta, sudah bertekad, harus berjuang! Hahaha …

Source: Bisnis

Kemudian terjadi sesi tanya jawab antara saya dengan petugasnya. Dia tanya, saya tahu nggak kenapa tadi pagi kami batal terbang?

“Menurut petugas Lion Air di Jakarta, pesawat untuk penerbangan dari KL ke Jakarta tadi malam nggak berangkat. Padahal  pesawat itu yang akan membawa kami dari Jakarta ke KL tadi pagi.”

“Ibu tahu nggak alasan pesawat nggak diberangkatkan?”

“Ya mana saya tahu.” Dalam hati sih bingung. Ini kok malah jadi seperti ikutan kuis gitu. Saling tanya jawab.

“Karena alasan operasional, Bu.”

“Ya apapun alasannya, maskapai anda sudah merugikan saya. Saya nggak bisa terbang ke KL tadi pagi, dan saya jadi nggak bisa ikut pesawat dari KL ke Hong Kong jam sepuluh tadi.”

Nah, bagian ini nih yang bikin tanduk saya nongol seketika.

“Ibu pilih nggak terbang atau diterbangkan tapi pesawatnya kenapa-kenapa karena alasan operasional tadi?”

Naik lah suara saya beberapa oktaf. Kayak kalau manggil anak yang dipanggil nggak kunjung nengok gitu deh,  wkwkwk

“Saya membaca di FIDS penerbangan dibatalkan di pukul dua pagi. Nggak ada pemberitahuan lewat email, WA, SMS, apapun itu. Nggak ada orang maskapai yang bisa saya tanya. Call Centre sibuk terus. Petugas maskapai di check in counter, anda tahu datang pukul berapa? Pukul 03.30. Padahal pesawat akan berangkat pukul 05.10. Terlambat sekali bukanya. Ini penerbangan internasional, seharusnya buka lebih awal.”

Ekspresi petugasnya tuh agak kaget. Entah kaget karena ternyata kami memang diabaikan soal informasi, atau kaget karena saya nyerocos terus. Buibuk dilawan! Wkwkwk . Dan, selesai bicara itu saya merasa agak gimana gitu. Kok kayak lagi curhat ya, wkwkwk

Source: Pixabay

“Oh, jadi nggak ada pemberitahuan, ya?”

“Nggak ada.” Saya udah pasang tampang males banget nih di sini.

“Kalau begitu, begini saja, Bu. Ibu beli tiketnya, nanti reimburse ke kami.”

Mata saya langsung serasa mau loncat. Alhamdulillah, nggak ya. Serem itu, sih.

“What? Beli tiket sendiri? Kalau kami diinfo sejak awal, kami bisa cari tiket lain. Pukul dua tadi, masih ada tiket termurah dari China Airlines, cuma Rp 2,2 jutaan. Pukul empat tadi, harganya sudah jadi Rp 6 juta. Itu mahal. Saya nggak punya uang.Terus, kalau saya beli tiket sendiri, anda nanti mau ganti berapa lama? 30 hari hari?”

“Betul, Bu. Tiga puluh hari kemudian uangnya cair.” Asli lho, petugas itu menjawab begini dengan wajah penuh percaya diri, penuh senyuman, seolah-olah jawaban dia bakal menenangkan saya. Dikira 30 hari saya itu sama seperti 30 menit apa, ya? Pengen ngruwes-ngruwes, rasanya …

“Tolong panggilkan Manager anda.”

“Manager saya mobile, Bu. Nggak ada di sini.”

Kemudian saya sampaikan bahwa kami sudah mengeluarkan banyak biaya di sana. Buat ini, buat itu, buat penginapan. All have been paid.

“Anda carikan kami penerbangan hari ini, atau mau mengganti semua biaya yang sudah saya keluarkan di sana?”

Pucet deh wajah petugasnya. Kalau ngaca sih, bakal sama pucetnya seperti saya yang menahanlapar, haus, dan rasa ingin pipis sejak pagi, wkwkwk

“Okay. Supervisor anda. Saya mau ketemu.”

Akhirnya dia mengangkat telepon, menghubungi seseorang. Ada laki-laki berkemeja rapi yang kemudian datang ke meja itu. Sepertinya supervisor yang dimaksud. Dia melayani kami dengan sangat baik, kemudian bertelepon kesana-kemari. Oya, di samping kami, ada dua orang yang juga tengah komplain. Kelihatannya komplainnya cukup berat karena mereka penumpang business class. Bisa dibayangkan, mumet deh itu yang jadi petugas Customer Service.

Berulangkali saya mengucapkan kalimat yang sama. “Please help me. Tolong saya.”

 

Kabar Gembira Akhirnya Tiba ... Alhamdulillah ...

Pukul 13.00, kami belum makan, belum minum, belum buang air kecil. Yaelah, mau buang air kecil punrasanya nggak bisa tenang. Ritual di toilet itu butuh ketenangan kan, ya? Hahaha … Makanya, kami pun memberikan kesempatan pada Supervisor itu untuk menelepon kesana-kemari dengan tenang, xixixi …

Kami dipersilakan duduk dulu di kursi tunggu. Sekitar setengah jam kemudian, Supervisor tadi menghampiri kami. Katanya kami bisa terbang sore nanti. Mereka sedang dalam tahap minta persetujuan ke CEO.

Supervisor itu pergi lalu kembali beberapa menit kemudian. Semua paspor kami diminta. Katanya, kami akan diterbangkan dengan menggunakan Malaysia Airlines. Penerbangan malam, nggak jadi sore. Dalam hati saya lonjak-lonjak. Asyik-asyik, dapat ganti full service, wkwkwk

Opa tiba-tiba muncul entah dari mana dengan membawa tentengan. Beliau membelikan kami air mineral dan cemilan.

“Dari tadi kita belum ada yang sarapan. Ngemil dulu biar nggak masuk angin. Habis ini kita makan, ya.”

You know what, logat opa ini tuh nyundaaa banget. Kok cucunya itu njawa medhok, ya?

Saya ajak ngobrol, opa ternyata asli Bandung. Kok cucunya orang Colomadu, ya? Hasil investigasi karena asli saya kepo banget, ternyata mereka berdua itu kakek dan cucu ketemu di bandara, bukan kakek dan cucu betulan, wkwkwk … 

Beliau masih menggunakan nama Chinese yang kalau disingkat jadi OBH. Jadilah beliau maunya dipanggil Opa OBH. Siaaap, Opaaa …

Ready for boarding ...

Pukul 13.45, kami menerima empat tiket. Legaaa rasanya. Alhamdulillah …

Selesai sholat dan menghubungi teman-teman, kami lanjut mengisi perut. Kami makan siang yang kesorean dengan menu Tom Yam Noddle yang mangkuknya guede banget. Ditraktir lho sama Opa OBH. Kata beliau, sebagai orang yang lebih tua, beliau yang seharusnya mentraktir orang yang lebih muda. Supaya rezeki beliau nanti ikut melimpah ke kami-kami ini. Wohooo ya rame-rame kami aminkan doa itu. Aamiin …

Makan pagi dan siang yang kesorean.
Super gede mangkoknya. Kesimpulannya, kenyang.

Tips-Tips Ringan Andai Peristiwa Serupa Terjadi

Yeay! Perjalanan berantai saya kemarin itu memang susah banget dilupain. Mulai dari Bogor ke Solo, Solo ke Jogja, Jogja ke Jakarta, Jakarta ke Kuala Lumpur, dan Kuala Lumpur ke Hongkong, semua ada cerita serunya.

Sekembalinya ke tanah air, sambil mikir-mikir, sekalian introspeksi diri gitu lah, ya. Ada tips-tips buat teman-teman apabila menghadapi situasi seperti saya waktu itu.

  • Tetap tenang. Nggak perlu marah-marah, ngamuk-ngamuk, apalagi memaki-maki. Semua orang termasuk orang-orang maskapai tentunya nggak mengharapkan peristiwa buruk terjadi. Urusan seperti ini biasanya butuh waktu panjang untuk menyelesaikan, jangan habiskan energi kita di awal.
  • Berusaha sabar. Yakin deh, para petugas frontliners pasti kaget, panik, baru datang eh dapat kabar nggak menyenangkan berbonus penumpang yang protes. Kalaupun ada yang nggak marah, ya minimal pasti tampang muka jutek.
  • Berikan informasi yang padat dan akurat mengenai rencana penerbangan kita. Jangan muter-muter, karena antrian panjang, Maks!
  • Simpan tiket atau e-ticket dan paspor di tempat yang strategis. Kapan pun dibutuhkan, akan mudah diambil. Setidaknya kita bisa memperpendek waktu antrian.
  • Simpan salinan atau bukti reservasi dan pembayaran apapun di luar negeri sebagai bukti apabila kita memang betul-betul harus terbang hari itu. Seperti Malindo Air sebenarnya sudah memberikan pelayanan yang baik dengan menawarkan akomodasi dan tiket lengkap. Sayangnya, waktu saya memang nggak bisa diutak-atik saat itu.
  • Tetap berbicara dengan sopan kepada kru maskapai. Saat cara kita baik sih umumnya yang melayani senang dan malah berkenan membantu lebih. Saya jadi ingat, di Jakarta saya cuma ngomel. Di Kuala Lumpur, berkali-kali saya bilang minta tolong. Terlepas dari bahwa otoritas penuh Malindo Air memang adanya di Malaysia, ya.
  • Banyak hal tak terduga yang bisa terjadi saat melakukan perjalanan. Hati-hati dengan ucapan dan pikiran kita. Saya inget banget sempat bilang, “Yang pasti, tak ada perjalanan tanpa drama.” Kapok ah, bikin status begini.
Tidur beberapa jam, jadi masih muka bantal.

Well, nggak ada orang yang suka mendapatkan masalah tapi masalah itu sebenarnya bisa ditemukan jalan keluarnya. 

Oya, ada teman saya yang menginspirasi untuk bertindak berani dalam mempertahankan pendapat dan memperoleh hak kalau kita yakin berada di posisi yang benar. Apakah itu kamu? Huehehehe …

See you on the the next journey story!

Salam,

0 Shares:
111 comments
  1. Waduh kalo saya kayaknya nggak berani itu mba’ sampai sengotot itu ehehe.. Sampai ikut nahan pipis saya mbacanya. Seru bgt kisahnya. Untung bisa terselesaikan tidak terdampar lama di bandara.

  2. Akhirnya sampai juga ya Mbak hahaha. Ikutan tegang saya bacanya. Memang tetap ya, sikap harus dijaga. Karena itulah modal kita dalam berhubungan dengan orang. Sukses selalu Mbak.

  3. Aku baca detil loh mba ternyata ya perjalanan yang sangat penuh drama tapi asyik bahasanya jd seru serasa ikut dlm perjalanan menuju Hongkong, pasti jadi memory bgt ya mba perjalanannya

  4. Akhirnya nih cerita .. Deuh mau komentar apa yak, soalnya bikin geregetan juga sih, walaupun endingnya bisa memuaskan lah ya, dan alhamdulillah bisa kembali ke rumah dengan selamat sehingga bisa membagikan cerita ini sebagai pengalaman dan hikmah ya kak.

  5. Kurang panjang..terus dah terbang beneran di atas gimana? Sampai sana kemana aja?
    Part 3 ada kan ya?
    Memang kalau dah hak kita harus kita pertahankan untik dapatkan.
    Keren dirimu, Mbak Mel
    Ngeyel tapi bener ya gapapa to!

    1. Wkwkw … Udahan atuh. Ganti yang lain lagi. Terbang dengan Malindo tetep mulus-mulus aja, kok. Nyaman, kaki nggak pegel, ya urusan pembatalan itu aja yang bikin gregetan.

      Aku terinspirasi dari seorang teman. Berani karena benar! Hahaha …

  6. Aku menunggu2, seru abis ceritanya kak me..
    tapi ini bener2 info berguna untuk traveler yang sering di php sama airlines.
    Saya akan keep tips kak me, meskipun saya gak kepengen dapet kisah sedih di bandara.. hehe

  7. yeaaa… leganya baca tulisan ini. salut banget sama perjuangannya, kocak dan ikut ngakak sama cerita kakek-cucu di bandara, haha. dan, ini penting utntuk siapapun yang menggunakan fasilitas umum. kita punya hak, tetapi ada kewajiban menjaga etiket (etika, buka e-ticket, wkwkwk…) thanks ya mbak, nice to read this post #lopelope

  8. Aku mocone sambil tegang mba hahhahahha. Koyok lagi nonton film action. Tapi emang akupun suka nggak sabar gitu kalo urusan perjlananan kayak gini ya. Ahh semoga bsk gak kejadian lagi yo mba. Etapi, nggak kapok kan? Hehehehe

  9. Ikutan tegang baca perjalanan panjangnya. Kayaknya saya gak berani deh, kalau harus ngotot-ngotot-an gitu. Biasanya saya serahkan pada paksu aja untuk komplen hihih
    BTW Alhamdulillah bisa tiba juga di Hongkong dengan selamat ya, Mbak

  10. Saya sudah membaca part 1 kemarin Mbak Melina dan tidak sabar menunggu part 2. Dan ini memang semua penuh drama. Makanya saya juga mau mengikuti pesan sponsor di ending tulisan, jangan menulis sesuatu yang nantinya menimpa kita. Tulis saja, “semua perjalanan lancar dan menyenangkan’ hahaha.

    Tapi dari cerita Mbak Melina ini, pesannya sangat kuat. Kita memang harus mempertahankan hak kita, selama kita di pihak yang benar. Ditunggu cerita seru lainnya, Mbak Melina.

  11. Salut sama dirimu yang bisa tetap tenang saat minta hak sebagai penumpang mba. Asal bener pasti kita bisa dapat yg dimau yaa..
    Tapi pasti sempet gemes sih gila ajaaa suruh beli tiket sendiri baru di refund, kalo aku mewek kali. ga punya tabungan dan cc soalnya. HAHAHHAA

    1. Harus tenang sih biar bisa berpikir jernih. Mungkin karena aku dalam posisi lelah juga karena ini perjalanan dari satu tempat ke tempat lain gitu. Jadi daripada ngos-ngosan ya mendingan tenang aja, deh, wkwkwk …

  12. Belum pernah naik Malindo euy, hehehe. Keren juga neh mau ngotot, padahal biasanya manut aja. Seharusnya emang kayak gini jadi pelanggan biar penyedia jasa menghargai, ya.

    1. Nggak punya pilihan lain, Kang. Memang kudu banget tiba hari itu. Ya sudahlah, pas juga kita di posisi yang benar, berjuang lah lewat metode ngotot, wkwkwk …

  13. Bagus banget Mbak,, dituliskan di blog spt ni, jd bs dibaca-baca lg sambil mengenang keseruan ke HK naik Malindo Airlines. Plua do and don’t nya lg buat pembaca..te o pe begete deh

    1. Makanya itu, Mbak. Terbayang juga tuh sama aku. Tapi pada dasarnya mereka memberikan kompensasi kan dengan akomodasi di Malaysia. Sayangnya memang waktu aku mepet banget jadi nggak bisa kalau menunda keberangkatan.

  14. Kayaknya saya menunggu part 3, nih. Wkwkwkwk
    Kenapa seru amat sih, mengikuti perjalanan ini?
    Opa dan cucunya bertemu di bandara itu maksudnya gimana, Mbak? Kok jadi curiga. Karena beda suku dan baru bertemu.
    Kebanyakan curiga aja. Hahahaha

  15. Kalo aku sih berjuang krn benar itu wajib banget. Apalagi klo berhubungan dengan rugi uang hahaha harus diperjuangkan *pengabdidiskon seruu banget mbakk ceritanyaa, sampe ikutan deg2an

  16. Aku kepohnya jd masalah selesai setelah diancam suruh ganti biaya perjalanan itu ya haha. Jd sbnrnya ya masih bisa diusahakan yaaa. AKu sendiri kalau dalam posisi gtu jg binguung mau ngapain huhuhu. Btw emang urgent banget ke HK ngapain mbak, malah nanay wkwkw. Owalah Opa dan cucu ternyata opa2an dan cucu2an hahaha, tapi mayan lha ya ditraktir makan 😀

    1. Bisaaa … Sepertinya karena terkait urusan bisnis dan biaya, masih bisa diusahakan tuh, Mbak. Aku memang mau ada pertemuan di sana makanya keukeuh harus terbang. Kalau nggak ada yang menunggu sih, aku santai aja mau tinggal dulu di KL. Lumayan lah jalan-jalan. Minta aja terbang sorean gitu, hahaha … Yang penting gratis sampai ke taksinya.

      Iya, tuh. Mereka dapat gratisan karena nempelin kami berdua, hahaha …

  17. Ini lanjutan cerita yang kemarin. Akhirnya ada lanjutannya. Seru banget baca lanjutannya, ceritanya ngebeat, pembaca ikut terlibat juga. dan kalau ngomongin soal maskapai banyak hal sih memang. Untung maskapai Malindo mau benar2 tanggung jawab.

  18. Zuperrr seru kocak plus deg-degan ini mah kak Melina. Ditanya2 macem-macem gitu ngingetin pas daku ditilang bareng adek. Dan pas dah gak kuat njawabin pak polisi, daku nangis kenceng.

    #malu

    1. Cuma transit sebentar sebetulnya. Ini capeknya bukan karena transit. Tapi karena kurang dari 48 jam aku udah perjalanan dari Bogor-Solo, Solo-Jogja, Jogja-Jakarta, dan dilanjutkan dengan drama pembatalan tiket, huaaa …

  19. Aku juga pernah punya pengalaman naik pesawat dalam keadaan genting dan hampir kecelakaan saat mengudara. Dari polonia ke jakarta waktu itu. Tapi untung sigap pilotnya jadi selamat.

  20. Memang terkadang saat traveling itu suka ada kejadian yang membekas diingatan. Bisa sebel, sedih, dan senang, tapi apa pun itu pasti jadi pengalaman berharga. Suka sama tipsnya yang apapun bisa terjadi dalam perjalanan, apa yang kita pikirkan dan rasakan bisa saja kejadian, jadi positif thinking dan mental itu penting. Suka mba ☺

  21. Seru banget kisah perjalanannya, Mbak. Memang kadang banyak hal tak terduga selama perjalanan naik pesawat. Tipsnya oke banget, yang pertama jangan panik dulu, tetep jaga sikap jangan marah-marah, sip. Oh, ya, Malindo Air saya baru dengar sekarang, apa ini maskapai baru, ya? Di Bandung enggak ada kayaknya, ya?

    1. Malindo itu maskapai patungan antara Malaysia dan Indonesia, Mbak. Saham dominan dimiliki Malaysia, dan sisanya dimiliki Lion Air. Di sini mereka nggak punya customer service, jadi bergabung dengan Lion Air. Penerbangan dari Indonesia adanya ke negara-negara Asia Tenggara aja setahuku, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filiphina. Mungkin memang nggak ada yang berangkat dari Bandung, ya.

  22. Memang saat kondisi apapun, sebisa mungkin kita masih bisa jaga emosi dan bisa berbicara dengan sopan kepada petugas atau siapapun di situ.
    Di manapun, akan lebih baik kalau kita bisa bertanya dengan ramah 🙂

  23. Alhay yah mba..ikut deg2an nih saat bacanya haha..jadi lega deh setelah nya. Aku lucu tuh yg ngotot2an bagasi. Btw aku baru tahu ada Malindo air. Aku tahunya cuma armada bus nih

    1. Hihihi … Maaf ya jadi ikutan deg-degan.

      Malindo itu maskapai patungan antara Malaysia dan Lion Air. Hihihi, kapan-kapan ikut terbang juga, ya. Semoga bisa keliling nusantara dan dunia. Aamiin.

  24. Hahaha ibu ibu dilawan ….
    Suer mbak, saya baru denger ada armada penerbangan namanya Malindo Air, kudet ya saya?
    bahkan ke luar negeripun belum
    Semoga yang pertama adalah tanah suci, amin

  25. Wah wah seru juga ya..
    Meski sedikit menegangkan, tapi akhirnya bisa selesai dgn baik..
    Akhirnya jadi pengalaman yg berkesan ya

  26. benar kata orang. tiap perjalanan itu ada kisahnya masing2. saya belum pernah naik pesawat, baca ini setidaknya membuat saya lebih tahu hal apa yg terjadi, masa kritis 11 menit dan juga memilih maskapai yg tepat

    1. Betul, Mbak. InsyaAllah nanti bisa terbang keliling nusantara dan dunia ya, Mbak. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

      Betul, untuk perjalanan dengan pesawat, mesti dipertimbangkan baik-baik soal pemilihan maskapai. Tergantung nih jarak jauh atau dekatnya.

  27. Duuh ga kebayang mesti ada drama dulu karena pesawat batal terbang karena operasional. Tapi bersyukur akhirnya bisa tiba juga di tempat tujuan
    Memang mesti lebih teliti untuk cari maskapai yg kredibel supaya ga banyak kekecewaan nanti nya

    1. Iya, kalau panik nggak bisa berpikir jernih, Kak.

      Aduh, dijambret ya? Huhuhu … Negara maju apalagi di Eropa memang rawan penjambret dan pencopet tuh, ya.

  28. Pengalaman yang sulit untuk dilupakan pastinya ya mbak. Btw kapan ya bisa perjalanan jauh lagi kayak gini. Semoga pandemi berakhir dan kita bisa jalan2 lagi ya mbak.

  29. aku ngakak di part si petugasnya terdiam karena mba nadanya naik berapa oktaf dan nyerocos ala emak2 kalo lagi ngomelin anaknya hahahahha, duh drama penerbangan kaya gini semoga semakin minim yaa, plus safety number 1 lah

    1. Aku pun sebenernya pengen ketawa loh lihat ekspresi dia. Kasihan juga gitu. Antara pengen membantu penumpang + terjepit kebijakan perusahaan.

      Resiko terbang tuh ya gini. Coba waktu itu pakai asuransi. Dapat duit deh, hahaha …

  30. Aku paling nggak suka rembuse tiket. Malas ngurusnya. Pernah tiket yg ke Aceh lebaran tahun lalu punya temen saya kita yang urus. Duh lama.

    Btw aku aku critical eleven malah dari film . Hahaha

    1. Reimburse tiket pesawat tuh kalau nggak salah 30 hari gitu, ya. Kalau kereta api 45 hari. Kadang lebih cepet, sih. Tapi kan kondisinya memang nggak mau reimburse tiket, hahaha …

  31. ih aku bacanya gemes banget wkwkwk. saya seneng kalo ada emak-emak tegas pas begini wkwk. Alhamdulillah tapi enaknya tetap bisa terbang yaa ke HK. makasih mba sharingnya.

    1. Harus. Emak-emak gitu, loh. Jangan berani-berani melawan, wkwkwk … Alhamdulillah banget akhirnya jadi. Allah kasih jalan, Mbak. Semoga tips-tipsnya bermanfaat, yaaa …

  32. Segitu dramanya ya mak klo penerbangan transit lcc malindo. Saya yg baca juga tegang. Nguras energi kayaknya harus memperjuangkan hak kita.saya juga sedang nunggu refund malindo ke bangkok karena mereka ubah jadwal sehingga dari jakarta ke kl ga konek dari kl ke bangkok.udah hampir 3 bulan nunggu.

    1. Wah … Refund terkait wabah ini sepertinya memang antri banget, Kak. Teman-teman banyak yang punya pengalaman serupa. Ada yang cepat, ada yang lama. Semoga bisa segera selesai, ya. Sayang juga sih dananya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like