Tujuh (7) Pelajaran Luar Ruang dari Perjalanan Menggunakan Kereta Api

"Mama, aku ingin suatu hari nanti nggak ada teknologi. Semua kembali ke alami."

Itu adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh Nona Kecil belum lama ini. Saya terkejut, dong. Di saat semua orang menggembor-gemborkan kecanggihan teknologi digital, eh dia malah berharap ke depan teknologi itu nggak ada lagi. 

Ada alasan khusus Nona Kecil bisa bilang begitu. Tak lain karena saya yang banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Ya kerja, mengetik tulisan, bermedia sosial, sampai jualan online. Kegiatan tersebut membuat Nona Kecil merasa kecanggihan bernama teknologi itu menjauhkan saya dari dia, anak-anak dari ibunya, seorang teman dari teman-temannya. Eng ing eng

Memberikan Pengertian

Langkah pertama yang saya lakukan tentunya memberikan pengertian kepada Nona Kecil bahwa teknologi itu memberikan kemudahan. Saya bisa bekerja tanpa harus datang ke kantor yang berada di luar kota. Saya juga bisa berjualan tanpa mempunyai toko fisik. Selain itu, saya juga bisa haha hihi bareng teman-teman jaman sekolah lewat media sosial. 

Puaskah dia? No, no, no, wkwkwk …

Yang terlintas di kepalanya masih sama. Teknologi menjauhkan orang-orang yang disayang. Oh, baiklah. Saya berpikir bahwa putri saya itu harus ditunjukkan bukti yang nyata.

Kalau melihat ke mesin kecerdasannya, anak Sensing memang nggak bisa dirayu dengan gambaran yang masih di awang-awang, harus dibuktikan. 

Tulisan mengenai mesin kecerdasan, bisa dibaca di sini, ya Mengenali Diri Sendiri dan Buah Hati Lewat Workshop;Mengenal Mesin Kecerdasan

Suka menggambar, tapi nggak mau ikutan belajar animasi karena nggak suka teknologi. Duh ...

Saatnya Membuktikan

Dalam beberapa kali perjalanan, saya berkesempatan pergi berdua saja dengan Nona Kecil. Jadi terpikir tuh, kenapa coba nggak saya tunjukkan saja sama dia bahwa teknologi juga memudahkan perjalanan kami? 

Nah, akhir Oktober lalu, saya punya jadwal bepergian ke Jatinangor, Sumedang, dalam rangka mengikuti pelatihan pengobatan. Sehubungan di sana ada sesi pengobatan juga, saya lagi-lagi mengajak Nona Kecil turut serta. Ada sedikit gangguan kesehatan yang harapan saya bisa disembuhkan, salah satunya alergi berlebih terhadap cokelat.

Nona Kecil saya libatkan sejak dari awal. Mulai dari reservasi tiket sampai ke pembayaran, langkah-langkah yang harus dilakukan begitu kita tiba di stasiun, sampai hal-hal kecil yang mungkin nggak terpikirkan dalam kehidupan saya sehari-hari. 

Apa saja yang saya tunjukkan ke Nona Kecil? Yuk, ikuti terus perjalanan pembelajaran luar ruang kami ini. Belajar nggak harus di dalam ruang, kan?

1. Mau Kemana, Naik Apa, Turun Di Mana?

Langkah pertama adalah mengajak Nona Kecil berselancar di internet. Sebelumnya, saya sudah banyak tanya ke teman-teman – terutama yang tinggal di Bandung – mengenai alternatif transportasi apa saja yang bisa membawa kami ke Jatinangor. Ada pilihan dengan bus, travel, sampai kereta api.

Pada perjalanan terakhir kami berdua ke Solo beberapa bulan lalu, kami juga memanfaatkan transportasi bus. Tapi bus yang kami pilih tergolong bagus dan mempunyai fasilitas lengkap, jadi Nona Kecil nyaman-nyaman saja duduk selama belasan jam. Saat itu pun kami terbilang beruntung karena hanya mengalami kemacetan sebentar banget di sepanjang Bekasi-Cikarang. Tahu kan ya, kemacetan di sana itu bisa dibilang ditinggal merem eh pas bangun masih di situ-situ juga, wkwkwk

Kalau mencari informasi lewat mesin pencarian sih dia sudah tahu. Lha wong kalau ada pertanyaan dia yang saya nggak tahu jawabannya, tanyanya ke Google kok, wkwkwk

Melalui mesin pencarian, Nona Kecil jadi tahu bahwa teknologi itu memudahkan kita untuk mencari alternatif alat transportasi yang akan kita gunakan, waktu tempuh yang diperlukan, berikut biayanya. Nah, jadi terbuka deh wawasannya bahwa teknologi itu memang memudahkan.

Pelajaran luar ruang pertama di sini, ya …

Source: Google

2. Oh, Begini Ya Cara Mereservasi Tiket Kereta Api?

Kami menggunakan salah satu aplikasi Online Travel Agent (OTA) langganan untuk memesan tiket kereta api ini. Nona Kecil belajar mengetik sendiri stasiun keberangkatan pilihan kami, stasiun tujuan, jumlah penumpang, dan tanggal keberangkatan. Lamaaa, tapi nggak papa, dong. Namanya juga sedang dalam proses belajar.

Matanya membelalak takjub saat melihat ada begitu banyak perjalanan kereta yang bisa kami pilih. Berhubung Nona Kecil termasuk kategori anak yang doyan begadang dan susah bangun pagi, saya agak riskan nih kalau mau memilih kereta pagi. Akhirnya, diputuskan untuk memilih keberangkatan dari Stasiun Gambir di pukul 07.50. Kami menggunakan kereta Pangandaran, biasanya Argo Parahyangan. Sekalian icip-icip, nih.

Dia pun senang saat kami sampai pada tahapan memilih kursi. Kami memilih kursi di barisan tengah dan sudah pasti dong harus bersebelahan.

Lagi-lagi Nona Kecil terpana sewaktu kami sampai di tahapan pembayaran yang bisa kami selesaikan kurang dari satu menit.

Wah! Keren! Tiketnya sudah kita terima, nih.
Yeay! Sampai tujuan, sudah tinggal gogoleran ya, Nak.

“Iya, Nak. Berkat kemajuan teknologi, kita bisa membeli tiket kereta api meskipun masih di rumah. Bayarnya juga cukup dari rumah. Asyik, kan?”

Nona Kecil mengangguk-angguk. Oya, kami juga sekalian memesan akomodasi selama di Jatinangor nanti.

Nah, pelajaran luar ruang dari mereservasi tiket kereta api dan akomodasi. Tinggal tunggu tanggal keberangkatan, nih. Tapi sebelum itu, pastinya saya mau kami bergotong-royong menyiapkan barang bawaan. Biarkan dia memilih sendiri pakaian mana saja yang mau dibawa, termasuk sepatu dan jaketnya.

Saya sampaikan juga bahwa kami bisa melakukan hal yang sama untuk reservasi tiket pesawat atau bus.

Pelajaran luar ruang kedua nih, ya. Yuk, kita lanjut lagi.

3. Harus Bagaimana Ya Setibanya di Stasiun?

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba! Yeay! Karena perjalanan ini saya ibaratkan sebagai petualangan kami berdua, saya menghindari membawa koper. Carrier yang biasa dibawa saat naik gunung yang menjadi pilihan. Nona Kecil membawa tas sendiri yang diisi cemilan untuk di perjalanan nanti.

Kami memulai perjalanan dengan memesan ojek online dari rumah ke Stasiun Bogor. Ini saya pesan sendiri berhubung waktu kami sudah mepet. Baru memesan di pukul 05.10. Lima menit kemudian, driver tiba. Kalau naik Commuterline, Nona Kecil sudah khatam, deh, cara-caranya. Jadi saya nggak perlu mengajari dia lagi, ya.

Pukul 07.35, kami tiba di Stasiun Gambir. Nona Kecil yang saya minta untuk melakukan proses mencetak boarding pass. Dia antusias banget. Apalagi sewaktu bunyi krek krek keluar lalu alat di bawahnya menyembul kertas yang semakin lama semakin panjang.

Cetak boarding pass sendiri, lho ...

“Ayo, Dek. Ambil boarding pass-nya.”

Dia bersorak waktu berhasil menarik boarding pass tersebut. Kami lekas melakukan proses check in lalu naik ke lantai satu. Di sana, sudah ada petugas yang berteriak, “Pangandaran, lewat sini! Pangandaran, lewat sini!”

Waktu sudah mepet, tapi saya masih sempat mengajari Nona Kecil membaca posisi gerbong kami sambil membandingkan  boarding pass dan tulisan di dinding luar gerbong. Hap! Masuklah kami ke dalam gerbong. Lagi-lagi, Nona Kecil mencari sendiri kursinya sesuai boarding pass. Berhasil! Okay, simpan carrier di atas, duduklah kami berdua sambil menikmati perjalanan.

Oya, sewaktu proses check in saya menunjukkan KTP kepada petugas. Nona Kecil sempat bertanya, “Aku pakai apa?”

“Pakai modal wajah mirip kita, Dek. Jadi tahu kalau kita ini ibu dan anak.”

Wkwkwk … Jawaban ngawur yang saya lontarkan dengan penuh kesadaran. Meskipun anaknya cakep, emaknya nggak. Sesekali jadi ibu gaje tuh nggak papa, kok. Biar dunia parenting lebih hidup, wkwkwk

Pelajaran luar ruang yang ketiga sudah selesai, nih. Setelah ini kita mau apa, ya?

4. Bagaimana Bersikap di Dalam Gerbong Kereta?

Bersikap di dalam gerbong, ada kaitannya nggak sih dengan kecanggihan teknologi? Yaaa, buat saya sih diada-adain saja, wkwkwk …

Contohnya begini, oke ya yang namanya anak-anak tuh suka deh nonton YouTube. Minimal tayangan favorit mereka macam Nussa Rara, Upin Ipin, ya kaaan?

Nah, saat sudah duduk manis di dalam gerbong ini lah masa-masa saya sebagai orangtua menjelaskan bahwa di sini lho tempat yang tempat untuk menyembunyikan ponsel. Bisa ngobrol-ngobrol sambil melihat-lihat pemandangan di luar jendela.

Menikmati perjalanan berkereta yang menyenangkan

Dijamin deh, lebih asyik ngobrol-ngobrol, bersenda gurau sambil memeluk Nona Kecil dibandingkan sibuk dengan ponsel. Ini sekaligus menunjukan kepada Nona Kecil bahwa keberadaan teknologi itu nggak selalu merusak hubungan dengan orang yang dia sayang, kok. Ya kan, ya kaaan?

Berhubung saya agak ngantuk, sodori buku saja deh buat menemani perjalanan dia. Saya juga membawakan kertas bekas, pensil warna, dan pulpen. Cemilan di dalam tas pun sudah siap kalau sewaktu-waktu butuh ngemil.

Oiya, di sini cocok juga mengajari anak-anak mengenai adab berada di fasilitas umum. Salah satunya duduk dengan sopan, berbicara dengan pelan, membunyikan volume ponsel dengan pelan juga atau mengenakan earphone.

Pelajaran luar ruang keempat, selesaaai. Yuk, kita lanjut lagi.

5. Komunikasi dengan Orang-Orang Sekitar Itu Penting

Nah, merespon pendapat Nona Kecil mengenai teknologi di kepalanya itu, saya juga mengajarkan kepadanya bahwa teknologi nggak boleh membuat kita menutup diri dari berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Bahkan, adakalanya informasi yang lebih akurat kita peroleh dari hasil berkomunikasi dengan orang-orang tersebut.

Contohnya, nih, sewaktu kami tiba di Stasiun Bandung. Saat itu pukul 11.10 dan kami masih harus melanjutkan perjalanan lagi menuju Stasiun Rancaekek. Informasi yang saya dapat dari seorang teman, kereta ini menggunakan bahan bakar berupa diesel.

Dari hasil bertanya melalui akun Twitter @KAI121, katanya tiket dapat dibeli di aplikasi KAI Access. Saya pernah menggunakan aplikasi yang sama untuk memesan tiket kereta Joglosemar dari Stasiun Solo ke Stasiun Yogyakarta.

Oke, dua hal tersebut Nona Kecil lagi-lagi belajar bahwa teknologi itu memudahkan. Saya tunjukkan juga penampakan aplikasinya seperti apa dan pembayarannya bagaimana. Tapi menurut bocah yang maunya serba praktis ini, proses pembayaran pembelian tiket KRD Bandung Raya ini ribet. Soalnya memang nggak bisa dengan kartu debet, jadi harus menginstall aplikasi lain lagi, gitu. Ya sudahlah, yang penting tiket kereta sudah diamankan, ya.

Nah, berkali-kali ke Bandung atau berangkat dari Bandung menggunakan kereta, saya selalu masuk atau keluar lewat Pintu Selatan. Jadi, siang itu saya mengajak Nona Kecil keluar lewat Pintu Selatan juga. Di sini saya sampaikan kepada Nona Kecil bahwa saya nggak tahu kami nanti naik keretanya lewat jalur yang mana, “Yuk, kita tanya ke petugas aja, Nak.”

Sehubungan KRD Bandung Raya akan berhenti di jalur yang dekat dengan Pintu Utara, maka kami diarahkan untuk menyeberangi jalur-jalur kereta menuju arah Pintu Utara. Saya lupa tepatnya di jalur berapa. Maaf, ya, wkwkwk

Jadwal keberangkatan kami masih di pukul 11.45, masih ada waktu buat Nona Kecil jajan dulu, setelah itu saya ajak dia duduk-duduk dan ngobrol dengan calon penumpang yang duduk di sebelah.

Lewat obrolan itu kami jadi tahu bahwa KRD Bandung Raya ini sangat membantu mobilisasi dari Kota Bandung ke Kabupaten Bandung, dari pintu mana arah penumpang naik dan turun, kursi yang bisa ditempati siapa saja karena pakai asas first come first sit, termasuk bahwa ternyata tiket bisa dibeli secara manual juga di loket-loket di setiap stasiun.

“Tuh, Nak. Meskipun sudah ada gadget, komunikasi dengan orang-orang sekitar sangat membantu kita mendapatkan informasi, lho.”

Tapi tentunya, ada pesan juga bahwa komunikasi ini nggak boleh sembarangan. Selama Nona Kecil pergi bareng mama, cukup mama saja yang membuka komunikasi dengan orang lain. Nona Kecil ini kadang suka sok akrab gitu sih sama orang, kan saya khawatir juga dan mesti waspada dong ya sama tindakan kejahatan.

Pelajaran luar ruang kelima sudah kami peroleh. Setelah ini apalagi, hayo?

6. Mengenalkan Tempat Baru dan Apa Saja yang Ada di Sana

Itu adalah pertama kalinya saya maupun Nona Kecil pergi ke Jatinangor, Sumedang. Dulu, tahunya Jatinangor itu masuk wilayah Bandung, ternyata bukan, ya. Mungkin sama seperti saat saya kecil tahunya bapak kerja di Jakarta, nggak tahunya di Tangerang, wkwkwk

Lagi-lagi hasil ngobrol sama orang-orang di sekitar, saya jadi tahu lalu mengenalkan tempat yang baru kami kunjungi tersebut kepada Nona Kecil. Cerita bahwa kami turun di Stasiun Rancaekek yang masih masuk wilayah Kabupaten Bandung, lalu di tengah perjalanan kami sudah tiba di Jatinangor. Saya ceritakan juga bahwa di tempat ini ada banyak perguruan tinggi – tempat sekolahnya kakak-kakak, yang bagus-bagus.

Saya juga tunjukkan ke Nona Kecil perbedaan suhu udara di kota tempat kami tinggal dibandingkan dengan Jatinangor melalui aplikasi ACCU Weather di ponsel. Sama seperti membaca suhu pada Air Conditioner (AC) di rumah, semakin kecil angkanya, semakin rendah suhunya, semakin dingin udaranya. Memang sih, di tengah kemarau panjang saat itu, suhu rata-rata di Bogor mencapai 34-35°. Di Jatinangor, suhunya hanya di kisaran 28-29°. Terasa sejuuuk. Mataharinya cerah banget, sih, tapi udaranya sejuk.

Menara Loji; di kampus ITB

Di sini juga saya bisa menceritakan bahwa kemungkinan suhu di sini dulunya lebih rendah lagi. Pasti dulu tempatnya dingin seperti di daerah Puncak. Sayangnya, daerah Puncak pun sekarang mulai panas juga. Nona Kecil jadi belajar nih soal menjaga lingkungan agar suhu bumi kita nggak semakin panas.

Oya, pelajaran luar ruang kelima juga saya berlakukan begitu kami tiba di penginapan. Komunikasi penting banget karena kami berdua butuh informasi tentang fasilitas kamar, tempat mencari sarapan, pukul berapa saja angkot beroperasi, berapa tariff angkotnya, termasuk pertanyaan kepo soal penginapan tersebut kost-kostan mahasiswa atau bukan. Soalnya, saya lihat kebanyakan penghuninya anak-anak muda gitu. Di sinilah saya sadar kalau sudah tua, wkwkwk

Pelajaran luar ruang keenam yang sangat Nona Kecil suka karena dia memang suka mendengarkan cerita. Lanjut, yuk …

7. Oleh-Oleh Khas dan Tempat Membelinya

Pergi ke tempat baru, rasanya kurang komplit kalau nggak membawa buah tangan. Yah, minimal buat anggota keluarga di rumah, ya.

Berhubung waktu kami serba mepet di sana, dan sebagian besar peserta juga berasal dari luar kota, maka memanfaatkan mesin pencarian adalah langkah yang paling masuk akal. Nona Kecil jadi tahu bahwa kita juga bisa mendapatkan informasi oleh-oleh khas suatu daerah dari internet which is menggunakan teknologi juga.

“Wah, Mama hebat ya. Tahu beli oleh-olehnya di mana.”

Wkwkwk … Kok jadi mama yang hebat?

Pelajaran luar ruang ke tujuh selesaaai. Saatnya pulang. Sebenarnya saya maunya kami berdua pulang naik bus saja. Supaya ada pengalaman baru lagi. Eh, ternyata Nona Kecil maunya naik kereta lagi supaya bisa cetak boarding pass lagi. Lho, malah ketagihan.

Saya termasuk tipe orangtua yang enggan banget membuat anak meninggalkan jam pelajarannya di sekolah kalau bukan alasan penting, seperti sakit. Ada banyak pelajaran yang saya sadar betul belum mampu untuk menggantikan peran guru di sekolah, terutama dalam hal agama. Tapi, saat kondisi memang mengharuskan anak-anak dibawa bepergian di hari-hari sekolahnya, saya nggak perlu khawatir juga.

Ada banyak pelajaran luar ruang yang tetap bisa orangtua berikan.  Perjalanan seperti ini malah membuat hubungan orangtua dan anak menjadi lebih berkualitas. Apalagi saya tengah belajar banget menjadi orang pertama yang akan selalu menjadi tempat anak-anak bertanya dan bercerita.

 

Pesan ibu guru, hapalannya tetap jalan, ya.

Kalau anak-anak sudah terbiasa seperti itu, untuk hal apapun, orangtuanya akan tahu lebih dulu. Harapannya begitu, ya. Yuk, kita siapkan pelajaran luar ruang untuk anak-anak kita di manapun berada.

Bagaimana dengan Moms and Dads sekalian? Share di sini yuk, pelajaran luar ruang yang Moms and Dads bagikan kepada anak-anak di rumah.

 

Salam,

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

65 Comments

  • hani November 11, 2019 at 10:11 am Reply

    Bagus yah pelajaran ruang luarnya. Memang sih, anak² sekarang krn selalu pegang gadget, giliran ketemu orang beneran malah gagu. Dua²nya seimbang, komunikasi via teknologi bisa, verbal dengan orang juga bisa…

    • melinase November 12, 2019 at 9:04 am Reply

      Iya ya, Bun, menyeimbangkan teknologi dan komunikasi verbal.

  • Ulfah Wahyu November 11, 2019 at 11:35 am Reply

    Keren Mbak. Bisa memberikan pelajaran luar ruang secara menyenangkan. Saya juga sudah mulai membiasakan anak laki2 saya naik grab kalau kami pas tidak bisa antar/jemput. Sekalian dia belajar cara memanfaatkan teknologi.

    • melinase November 12, 2019 at 9:05 am Reply

      Ini nanti aja kalau dia udah gedean dikit. Kalau sekarang, saya khawatir anak-anak pada order Go Food, hahahaha …

  • Icha Marina Elliza November 11, 2019 at 4:20 pm Reply

    Saya pernah saat mengajak anak naik kereta api dan juga bus. Semua tahapannya saya ajarkan mulai dari apa itu stasiun, apa itu loket, reservasi, cetak tiket, dan lain sebagainya. Bener kak me, hal seperti ini membuat ibu dan anak semakin dekat,

    • melinase November 12, 2019 at 9:06 am Reply

      Nah, cakep iniii … Anak-anak tuh suka lho ya kalau dikasih tahu ini dan itu. Perjalanan jadi nggak membosankan.

  • Gita Siwi November 11, 2019 at 5:34 pm Reply

    Wah perjalanan yang asyik nih. Saya jadi ingat almarhum ayah dimana saat saya kecil bertanya tentang ‘kereta beloknya gimana ya ayah” hahaha..nice info kak . Enjoy ya

    • melinase November 12, 2019 at 9:07 am Reply

      Wadaw, kalau anak saya tanya, dijawab apa ya, Mbak? Beloknya ngikutin arah rel gitu aja apa, ya? Wkwkwk …

  • Aini November 11, 2019 at 5:46 pm Reply

    Suka deh sama cara mbak meli menanggapi reaksi nona kecil terhadap sesuatu. Apalagi sampai rela pergi jauh naik kereta api. Hihi seru ya quality time sama anak

    • melinase November 12, 2019 at 9:07 am Reply

      Mengingat masa kecilku nggak begitu, jadi aku belajar deh, hihihi ….

  • Ully November 11, 2019 at 6:05 pm Reply

    Jujur kak,kalau aku takut bangt bawa si kecil naik kereta api,padahal kadang pingin bngt ngajak dia jalan-jalan naik kel,tapi dengan kk share ini aku jadi g takut lagi dan bisa bermanfaat sekali ini buat aku , thank you kk sharing nya🤗

    • melinase November 12, 2019 at 9:08 am Reply

      Ehh, kenapa takut? Sebagian besar anak kecil setahuku lebih suka naik kereta daripada bus. Ajak aja, sepanjang keamanan tetap diperhatikan. Selamat mencoba ya, Mbak …

  • Nurhilmiyah November 11, 2019 at 8:36 pm Reply

    Seneng banget kl bisa outing berdua si kecil. Kesempatan kita mengajarinya banyak hal. Saya aja kl ke gerai fotocopy dekat rumah aja, misalnya, selalu ngajak2in anak. Nah, sambil jalan barengnya itu saya diskusi deh ttg hal2 yang kami lihat bersama, do and don’t bersikap di depan umum, dsb. Insyaallah apa yg diajarkan ibunya lebih melekat kuat ketimbang yg lain, scr kita madrasatul ula kan ya Mbak, hehe. tfs yaa, salam buat Nona Kecilnya ^^

    • melinase November 12, 2019 at 9:09 am Reply

      Cakeeep. Termasuk jangan sembarangan nyender di etalase tokonya. Biasanya yang punya toko manyun, hahaha …

  • febridwicahya November 11, 2019 at 10:31 pm Reply

    Kereeeeen banget pembelajarannya 😀

    saya pas kecil, malah ditinggal gitu di kereta asem wgwgw :’) jadinya sempet takut naik kereta, dan baru naik kereta lagi pas kuliah semester akhir kemarin 😀

    ternyata, seru 😀

    • melinase November 12, 2019 at 9:10 am Reply

      Waduh, kok bisa ditinggal? Kamu bobok manis yaaa? Hahaha … Tapi nanti kalau berkereta, jangan sampai ninggalin juga yak, hihihi …

  • Resi Prasasti November 12, 2019 at 12:18 am Reply

    Duhduh mamah jangan kelamaan depan laptop ya. Waktu tidak bisa diulang kembali. Banyakin quality time sm anak penting ya mumpung msih mau nempel nanti klo udah remaja sibuk sndiri anak2

    • melinase November 12, 2019 at 9:11 am Reply

      Iya nih, Ateu. Mamanya semangat 45 gali tambang emas. Sampai diprotes deh jadinya.

  • diane November 12, 2019 at 5:06 am Reply

    wah kereta emang pilihan paling asik untuk perjlanan bawa anak2 ya.. didukung kecanggihan sistem jadi makin aman dan nyaman

    • melinase November 12, 2019 at 9:16 am Reply

      Paling enaknya karena nggak ada sensasi bikin mabok gitu ya, Mbak.

  • nurulrahma November 12, 2019 at 5:20 am Reply

    Ish, nona kecil pinter sekaliiiiii
    TabarokAllah ya Nak, semoga tumbuh jadi anak yg baik, cerdas dan shalihaat

    • melinase November 12, 2019 at 9:17 am Reply

      MasyaAllah … Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doanya, Ateu. Shalihat kita semua hingga ketemu di surga, yaaa. Aamiin.

  • Vivi November 12, 2019 at 6:35 am Reply

    Perjalanan yg bermanfaat sekali ya..
    Dan nona kecil pintar sekali, punya pemikiean yg unik ttg teknologi.
    Berarti nona kecil gak suka gawai ya..
    Wah senangnya

    • melinase November 12, 2019 at 9:18 am Reply

      Nona Kecil suka banget. Tapi adakalanya dia pun nggak selera lihat gawai. Membosankan gitu kayaknya, ya.

  • Bambang Irwanto November 12, 2019 at 6:36 am Reply

    Seru sekali ceritanya, Mbak Melina. Dan saya pribadi saat bersyukur dengana adanya teknologi, karena sangat membantu kita. Contohnya tadi, dari butuh info tinggal google, butuh jadwal kereta sampai mau beli tiket kereta, tinggal online. Dengan adanya mesin cetak tiket kereta, tidak perlu pakai lama lagi. Begitu juga dengan pesan transportasi. Pokoknya asal digunakan benar dan bijak, sangat membantu.

    Dan ini keren penerapannya pada si Nona Kecil, Mbak. Jadi langsung diperlihat, bagaimana teknologi membantu kita. Karena kebayang, mau beli tiket kereta, harus ke stasiun terdekat dulu hehehe.

    • melinase November 12, 2019 at 9:19 am Reply

      Lha iya, Mas. Nggak kebayang ya kalau masih seperti jaman dulu. Berapa banyak tuh waktu yang terbuang. Mesti ada hari khusus kali ya buat cuti demi menyelesaikan urusan pertiketan, hahaha …

  • Selvijua November 12, 2019 at 6:48 am Reply

    Teknologi bisa membuat sikecil trauma, tapi cara memberi pengertiannya yang seru sambil jalan-jalan.

    • melinase November 12, 2019 at 9:19 am Reply

      Ini seperti membayar utang sama anak, huhuhu …

  • Kartika November 12, 2019 at 8:39 am Reply

    Waw keren ya petualangannya. Bagi anak kecil itu macam main film petualangan Dora, mainnya sama mama lagi. Seru banget. Setiap kegiatan dijelaskan detil dan langsung praktik. Ntar aku contek deh sama anakku kelak. Keren Mom!

    • melinase November 12, 2019 at 9:20 am Reply

      Woiya, jadi keingetan Dora juga.

  • Dyah Ummu AuRa (Author RoemahAuRa) November 12, 2019 at 8:41 am Reply

    MasyaAllah mengajari tanpa menggurui. keren nih caranya kk. Yap, sebenarnya teknologi itu bisa jadi teman, bisa juga jadi mush. Yang terpenting adalah kita. KIta yang memegang kontrolnya dengan bijak dalam menggunakan teknologi. InsyaAllah teknolohi itu bisa membantu aktivitas kita.

    • melinase November 12, 2019 at 9:21 am Reply

      Betul ya, Um. Teknologi toh buatan manusia juga. Masa kita mau diperbudak sama buatan manusia ya, Um?

  • Erfano November 12, 2019 at 9:55 am Reply

    Aku juga begitu tapi kadang sih, merasa teknologi itu malah menjauhkan yang harusnya dekat. Cuma tergantung kitanya juga sih ya dalam menyikapinya….
    Aku nungguin anakku gedean dikit terus ngajakin dia melakukan sebuah perjalanan . Banyak belajar dari hal hal selama perjalanan, ngobrol banyak tentang apa saja.

    Kegiatannya keren, mbak. Menginspirasi. Tfs 😊

    • melinase November 13, 2019 at 6:09 am Reply

      Iya, Mas. Banyak pelajaran berharga dari setiap perjalanan yang kita lalui.

  • Mega November 12, 2019 at 9:55 am Reply

    MasyaAllah bunda Mel, ilmu banget buat aku kelak kalo aku udah punya anak, membiasakan anak untuk komunikasi biar mereka gak melulu sibuk sama gawai. Pencerahan banget buat aku kelak, makasi bunda Mel

    • melinase November 13, 2019 at 6:10 am Reply

      MasyaAllah … Makasih, sayaaang. Allah tahu kapan waktu yang tepat menitipkan apapun pada hamba-Nya. Sabar, yaaa … Nikmati dulu honey moon-nya, hehehe …

  • Si Klimis November 12, 2019 at 1:09 pm Reply

    Wah asyik nih, pelajaran langsung dari kehidupan nyata dan ini sangat efektif memberikan ilmu yang langsung bisa dipraktikkan

    • melinase November 13, 2019 at 6:10 am Reply

      Biar langsung dibuktikan, jiahahaha …

  • Ovianty November 12, 2019 at 4:41 pm Reply

    Waah.. nona kecil memang pinter, mamanya sibuk mulu sama gadget, hehe.. Masya Allah ya, kalau punya anak yang menyadarkan kita. Jadi setidaknya kita bisa sadar mengurangi ketergantungan dengan teknologi. Itu jalan-jalannya berdua aja naik kereta api?

    • melinase November 13, 2019 at 6:11 am Reply

      Mamanya sibuk nyangkul cari harta Karin, wkwkwk …

  • Siti Nurjanah November 12, 2019 at 5:00 pm Reply

    Berkat kemajuan teknologi, segalanya jadi mudah pun demikian dalam hal transportasi, aku juga suka melakukan perjalanan via kereta api. Sekarang lebih mudah karena bisa di akses melalui online tanpa harus cape antri

    • melinase November 13, 2019 at 10:55 pm Reply

      Iyaaa, nggak harus ke stasiun yaaa. Kebayang dong kalau mesti wara-wiri.

  • Erny Kusuma November 12, 2019 at 5:25 pm Reply

    Pelajaran luar ruang efektif ya mb soale teori langsung praktek. Mantappp deh…dan pasti membekas di pikiran dan hati. Jadi berkesan deh…

    • melinase November 13, 2019 at 10:55 pm Reply

      Biar langsung keinget, yaaa. Kita sekolah teori melulu pun ngantuk kan, hahaha …

  • Dhenok November 12, 2019 at 6:17 pm Reply

    waaaahhhh.. anaknya kereeeeeen!!! asik, bisa diajak jalan dan berkelana.

    bagus catatannya, mbak. buat emak2 yg masih khawatir untuk explore luar ruang. salam buat si kecil yg keren.

    • melinase November 13, 2019 at 10:56 pm Reply

      Anak-anak sih pasti seneng diajak jalan-jalan, hahaha … Kebetulan doi biasa diajak yang repot-repot, jadi terbiasa. Salam kembali dari Nona Kecil, Ateu …

  • Sitatur Rohmah November 12, 2019 at 8:13 pm Reply

    Nona kecil sangat beruntung memiliki mama pembelajar. Semoga kelak tercapai cita-citamu ya, Non. Kelak kau akan tahu lebih banyak lagi yang dilakukan oleh teknologi

    • melinase November 13, 2019 at 10:57 pm Reply

      MasyaAllah … Alhamdulillah … Makasih, Mbakku …

  • andyhardiyanti November 12, 2019 at 10:53 pm Reply

    Salah satu impian saya kalau punya waktu liburan yang cukup lama di Pulau Jawa tuh ya ini, bisa naik kereta api bareng anak-anak. Sampai usia segini cuma lihat gambarnya doang wkwkk, belum pernah naik langsung. Penasaran euy!

    • melinase November 13, 2019 at 10:59 pm Reply

      Kalau jadi liburan ke Jawa, naik keretanya naik barat sampai timur ya, Kak, biar puas, hihihi …

      Iya sih ya, transportasi baru maksimal di Pulau Jawa aja. Semoga nantinya berkembang juga ya di daerah supaya akses antar kota jadi lebih mudah.

  • Faisol Abrori November 13, 2019 at 5:44 am Reply

    Duh…. bener banget, harus ada penjelasan ke anak bahwa teknologi itu baik, namun ya menurut saya family time ya juga harus berjalan di waktu yang senggang, saat berkumpul bersama misalnya. Keren terus lah…. Saya belajar banyak dari postingan ini

    • melinase November 13, 2019 at 11:00 pm Reply

      Iya, Mas. Maklum ibu pekerja aku, sibuk menggali lubang cari berlian, hahaha …

      Alhamdulillah, makasih ya sudah mampir …

  • Syarifani Mulyana November 13, 2019 at 5:21 pm Reply

    Memang keberadaan teknologi membuat hidup lebih mudah saat ini, yang kadang bikin waktu berkualitas bersama anak jadi berkurang. Ini hambatan terbesarnya jadi IRT sekaligus kerja. Yang aku pernah denger dari by.puty tips supaya sukses kerja di rumah ya, mau ngga mau anak harus ada yang handle, supaya mereka ngga ngerasa dicuekin. Sebab IRT bukan wonder woman yang bisa ngerjain semuanya sendiri

    • melinase November 13, 2019 at 11:01 pm Reply

      Setuju! IRT bukan wonder woman. Makanya nih, begitu ada kesempatan pergi bareng anak, aku manfaatkan deh sebaik-baiknya.

  • April Hamsa November 13, 2019 at 8:58 pm Reply

    Eh ternyata bisa go show ya mbak pindah dari stasiun ke stasiun lain di Bandung?
    Menarik juga nih ngajarin anak perjalanan ttg kereta api, mungkin krn si anak dah agak gedean dan udah bisa paham fungsi transportasi/ teknologi gmn jadi sekalian belajar ya. Anak2ku msh sekadar penikmat pemandangan utk saat ini, walau ya sangat excited sekali kalau ke stasiun dan naik kereta 😀
    Duh jd pengen ke Bandung

    • melinase November 13, 2019 at 11:02 pm Reply

      Ternyata bisa. Jadi pas pulangnya aku beli go show aja. Nggak khawatir nggak kebagian tempat duduk karena perjalanan kereta banyak dan kapasitas kursi pun banyak juga.

      Iyaaa, disesuaikan dengan usia. Nona Kecil November ini sudah delapan tahun. Jadi sudah bisa deh diajak ngobrolin yang rada ribet dikit, hihihi …

  • Susindra November 13, 2019 at 9:48 pm Reply

    Swear, ga kepikiran tentang 7 pelajaran yang didapatkan dari naik kereta api. Anak-anak tahunya beres, saja. Orang mungkin bilang krn mereka anak laki-laki. Tapi… rasanya ada yang kurang dari didikan yang mereka terima. TFS ya

    • melinase November 13, 2019 at 11:03 pm Reply

      Kalau mereka dikasih tahu, malah pada excited itu … Takjub-takjub gitu, hahaha …

      Nah iya, anak lelaki pun cuek bebek. Yang penting berangkat, wkwkwk …

  • Lasmicika November 14, 2019 at 9:50 am Reply

    Wah, asyik ya bisa pergi bareng nona kecil.
    Kalau saya ke mana-mana selalu diantar sama ayahnya anak-anak. Jadi pelajaran luar ruangnya nomor satu: seberapa besar sayang ayah sama ummi, kakak, dan adik? Hehe…

  • Fionaz isza November 14, 2019 at 11:58 am Reply

    Senang ya mom bisa traveling bareng anak. Aq juga gitu, kalau ada event pas hari libur ya anak aq ajak dan bekal di perjalanan nya pun hampir sama cemilan dan alat tulis. Karena kakak Rere lagi hobi matematika nih jadi aq disuruh buat soal ntr dia yang jawab..
    Apapun kegiatannya kalau bareng anak tuh bawaannya ribet tapi seru ya..

    • melinase November 27, 2019 at 4:59 am Reply

      Wah, Kakak Rere keren banget tuh hobinya sama matematika. Iya, Mbak, perjalanan itu membawa banyak pelajaran, kok.

  • lendyagasshi November 18, 2019 at 4:51 am Reply

    Belajar yang keren ini sambil jalan-jalan kaya gini yaa..
    Ada banyak hal yang bisa secara gak langsung anak-anak pahami. Gak hanya teori belaka, tapi langsung practically.

    • melinase November 27, 2019 at 3:44 am Reply

      Iya, Mbak, kalau teori melulu pasti anak-anak cepet bosan, ya …

  • Beton December 4, 2019 at 1:45 pm Reply

    Nice post! Terimakasih ya mbak sudah berbagi pengalaman 🙂

    • melinase December 5, 2019 at 11:18 pm Reply

      Hai … Sama-sama, ya. Terima kasih sudah berkenan singgah :).

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.