Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Review Buku Diary Introvert Karya Hardy Zhu

Review Buku Diary Introvert Karya Hardy Zhu

Salah satu hal nggak menyenangkan ketika menjadi ibu yang bekerja dari rumah adalah minimnya pertemuan saya dengan orang lain. Apalagi saya banyak bekerja di balik dinding rumah, menghadap laptop dari pagi sampai sore hari. Keluar dari ruangan, yang saya temui anggota keluarga yang itu lagi, itu lagi. Kalau dipikir-pikir, lebih enak punya warung gitu, deh. Setiap kali ada pembeli datang, saat itu juga saya bisa melihat orang dengan wajah yang berbeda-beda. Yaaah, meskipun nggak menutup kemungkinan kalau yang saya bakal temui adalah tetangga yang itu lagi, itu lagi, huehehe …

Sebegitu pentingnyakah pertemuan dengan orang bagi saya? Orang yang seperti apa? Sekaligus banyak dalam satu waktu dan tempat? Sedikit tapi datang silih berganti? Atau, sekedar berpapasan di jalan, bertegur sapa, dan mengobrol seadanya?

Well, jadi berpikir juga sih, betul nggak ya sebenarnya saya bahagia berada di antara banyak manusia? Kalau iya, kok sering juga tuh saya kepengen nyanyi Kosong-nya Dewa?

“Di dalam keramaian aku masih merasa sepi …”

Apa saya ini orang introvert, ya? Lantas, kalau ternyata benar saya adalah seorang introvert yang katanya cenderung tertutup, susah bergaul, nggak punya banyak teman, salah kah?

Tentang Karakter Introvert

Menurut CG Jung lewat tulisan yang dimuat di Psyline, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang memiliki orientasi subyektif secara mental dalam menjalani kehidupannya. Ditambahkan juga bahwa seorang introvert cenderung menyukai kondisi yang tenang, suka melakukan aktivitas yang bisa dilakukan seorang diri, dan lebih suka mengulangi kegiatan yang sama dibandingkan berinteraksi dengan kegiatan yang belum pernah dicoba.

Source: Pixabay

Diary Introvert

Judul Buku: Diary Introvert

Penulis: Hardy Zhu

Penerbit: Transmedia, Cetakan Pertama – 2019

Jumlah Halaman: 150 halaman

ISBN: (13) 978 623 7100 17 1

Punya jiwa yang terbuka, sangat mudah akrab dengan orang-orang yang baru pertama ditemui, bisa mengobrol apa saja dengan siapa saja, hidup kok rasanya jadi mudah dan indah banget, ya?

Tapi kalau sebaliknya, apakah bisa begitu saja disimpulkan kalau kita itu bukan orang yang menyenangkan? Padahal, nggak ada yang salah dengan perbedaan. Justru itu menjadikan kehidupan pertemanan menjadi lebih berwarna, bukan menyebabkan bencana.

Hardy Zhu menceritakan kisah seorang introvert di dalam buku ini. Keresahan, kegalauan, ketidaknyamanan, dan berbagai usaha agar bisa diterima oleh orang lain.

Source: Freepik

… aku tidak bisa memilih menjadi seorang introvert atau bukan. Tapi, bukan berarti menjadi introvert adalah bencana (Hal. 2)

Bagi seorang introvert, nggak muda merasakan kenyamanan di tengah lingkungan yang baru. Orang-orang yang baru di kenal, tempat yang baru disinggahi, termasuk obrolan yang terlahir di dalamnya. Tapi seberapa besar sih orang-orang di sekitar kita berhak memberikan rasa nyaman atau nggak nyaman di dalam diri kita? Nggak satu persen pun, kan? Jadi, kita adalah satu-satunya orang yang berhak untuk memutuskan kondisi seperti apa yang membuat kita nyaman.

Menjadi introvert bukanlah bencana. Selama kita tahu apa yang harus dilakukan. (Hal. 18)

Kalau katanya orang introvert lebih nyaman berada di lingkungan yang tenang, mungkin rumah menjadi tempat ternyaman pertama. Di sana nggak ada kekhawatiran akan bertemu dengan orang baru. Selain tamu tentunya, ya.

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang senantiasa butuh berinteraksi dengan manusia lainnya. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Apalah arti hidup kalau kita nggak membawa manfaat bagi manusia lainnya, kan?

Tapi, kalau lebih sering berada di dalam rumah, bagaimana bisa memberikan manfaat bagi orang banyak?

Nyatanya Diary Introvert ini menghapus teori bahwa seorang introvert hanya hidup untuk dirinya sendiri tanpa bisa membawa manfaat untuk orang banyak. Itu sama sekali nggak benar. Bisa banget lho seorang introvert ikut memberikan kontribusi tanpa harus hadir di tengah keramaian.

Ayolah, sekarang sudah eranya digital. Pemikiran, ide-ide, semua bisa disampaikan melalui bantuan teknologi. Membuatkan slide dalam bentuk power point, misalnya.

Lho, saya jadi membela karakter introvert itu, ya? Jangan-jangan, saya seorang introvert juga?

Kesan Setelah Membaca Diary Introvert

Pertama kali melihat sampul Diary Introvert, saya mengira ini adalah sebuah novel. Warna biru mudanya, pemilihan font-nya, sampai pemilihan gambar pada sampul, sama sekali nggak menunjukkan bahwa ini adalah sebuah buku bergenre non fiksi. Oke, saya sempat tertipu di awalnya.

Kemudian membaca halaman demi halaman, buku ini menarik juga. Ini dia kesan-kesan saya setelah membaca Diary Introvert:

  1. Layaknya sebuah diary, buku ini sepertinya menjadi catatan hati penulis tentang karakter dirinya yang introvert. Buat saya, sebuah buku yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, isinya akan jauh lebih mengena kepada pembaca.
  2. Buku ini ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana. Kenapa mesti dibawa kemana-mana? Lanjut aja deh ke poin berikutnya.
  3. Membaca buku ini mengingatkan saya pada modul yang biasa saya terima saat mengikuti latihan pemberdayaan diri atau public speaking. Tersedia halaman semacam lembar kerja yang diperuntukkan diisi oleh pembaca. Saat merasa langkah kaki kita macet, butuh banget lho bertanya pada diri sendiri, kondisi kita seperti apa, maunya bagaimana, dan kemudian kita seperti menemukan jawaban. Saat tengah melakukan perjalanan ke suatu tempat, butuh menunggu, dijamin waktu luang sementaramu akan menjadi lebih berkualitas dengan bertanya pada diri sendiri lewat buku ini.
  4. Penulis mengangkat kelemahan sekaligus kekuatan yang bisa ditumbuhkan seorang introvert. Jadi, nggak ada yang salah dengan terlahir sebagai introvert.
  5. Seberapa besar kekuatan yang ingin ditumbuhkan seorang introvert, dia tetap harus menjadi dirinya sendiri. Sebuah pesan yang sangat bagus karena siapapun karena terjebak di dalam karakter orang lain sama sekali nggak akan membuat kita nyaman.

Jadi, saat saya suka bertemu orang banyak, bosan kalau sendirian, tapi tiba-tiba gagap saat masuk ke dalam obrolan, saya sebenarnya introvert atau bukan?

Kalau kamu seorang introvert juga dan merasa nggak nyaman dengan diri sendiri, Diary Introvert ini bisa menjadi salah satu alternatif bacaanmu.

 

Salam

44 comments found

  1. Reviewnya sangat menarik. Jadi pengen baca bukunya juga. Intevert itu memang suka suasana tenang, dan bekerja sendiri juga pekerja keras. Meski orang lain sering melihatnya diam, mereka juga punya kelebihan. 🙂

  2. Ulasan yg menarik、bikin penasaran pingin cari bukunya. Saya selama inj mengira diri saya adlh seorang Ekstrovert、tp smakin dewasa saya menyadari byk sisi diri saya adlh jg Introvert

  3. Wah saya Juga seneng dikeramaian, ngga bisa sendiri, sukanya banyak temen, tapi terkadang kalo masuk lingkungan baru suka bingung Dan pilih mundur terkadang.. Kalo gitu apa ya? Kadanga Ada introvert nya kadang Ada ekstrovetnya. Hehe.. Tapi baca buku begitu memang asik ya, Kita jadi paham lebih dalam tentang introvert sehingga tidak asal judge

    1. Nah, sama. Lingkungan baru seringkali bikin kita kikuk. Lingkungan saat ini tapi kalau bahasannya aku nggak mudeng pun aku nggak pede sih, hehehe … Setuju, banyak membaca membuat pemikiran kita lebih terbuka.

  4. Cung aku juga introvert nih. Bukan membela diri ya, tapi aku juga bukan anti sosial ya. Cuma emang gak se-supel temen2 ektrovert. Kalau baru kenal masih malu2 dan jaga jarak. Nah kalo sudah nyaman baru deh keliatan aslinya yang juga sanguin, rame bingo ??

  5. Saya kadang merasa diri introvert, saya suka keheningan, saya selalu membayangkan liburan asyik di kamar berAC dengan suhu sejuk, ditemani laptop, koneksi internet, TV dan DVD, novel, camilan dan minuman 🙂

    Hal itu hanya pernah saya dapatkan sewaktu single dulu, saya senang di waktu weekend 😀

    Btw, keren juga buku ini ya, jadi pengen baca 🙂

    1. Kalau saya nggak pernah membayangkan ingin sendirian, justrunya kepengennya kumpul rame-rame. Tapi ya itu, begitu kumpul, eh merasa asing, hahaha …

      Keren, Mbak. Tersedia di toko buku besar di Indonesia, kok.

  6. Kak me, suamiku introvert. Aku nya extrovert.
    Ternyata setelah 15 tahun kami kenal, 10 tahun dalam rumah tangga, semakin kemari kami saling mempengaruhi. Dia menjadi lebih terbuka, aku nya jadi lebih kalem.

  7. Introvert memang buka sebuah bencana, Mbak. Memang sesuatu bawaan, yang menurut saya bisa diatasi, baik oleh diri sendiri ataupun dengan orang lain. Jadi saya pun pernah membaca kisah seorang Introvert. Jadi dia memaksakan dirinya untuk keluar dari zona. Misalnya, saat berada di lokasi baru, dia berusaha tersenyum dan menyappa duluan orang sekitar. Dari situ dia menyadari, kalau dirinya bisa, hanya harus memaksakan untuk mulai. Kemudian juga, bisa memang sering-sering berkumpul dengan orang lain, karena pengaruh lingkungan juga. Bergaul dengan orang yang terbuka, ceria dan sebagainya, maka akan lama-lama mejadi terbuka juga.
    Dan ini bukunya menarik ya, Mbak. Orang-orang perlu baca , agar tidak langsung menilai salah seseorang yang Introvert.

    1. Nah, bisa juga terjadi karena suatu sebab ya, Mbak. Tapi buku ini memang mengulas juga bagaimana seorang introvert harusnya bisa membuka diri dan mengembangkan kapasitasnya.

  8. Dulu saya mikirnya diri saya introvert karena nggak gampang berteman. Tapi makin kesini, banyak orang bilang kalo saya itu fleksibel, bisa masuk ke mana aja. Sok idealis nya tetep.. Jadi intro atau ekstrovert diri seseorang tidak salah, hanya cara pengembangan dirinya saja yang berbeda.

  9. Nah jadi kk interovert apa bukan nih? Hehehe.
    Klo saya, saya akui introvert ya dengan ciri2 yang kk tulis di atas. Kadang ada rasa ingin membaur dengan mudah dengan orang2 baru dikenal atau bisa cepat akrab tapi kaya ada yang nahan gitu lho. Gw ga bisa kaya gitu, ya pada akhirnya klo ketemu orang baru atau teman lama yang baru ketemu lagi lebih banyak diam nya, bingung mau ngobrol apa.

  10. Wah aku jadi pengen baca bukunya mbak. Bsok kalau ke toko buku cari ah. Aku orgnya soalnya gak gampang ngrasa nyaman sama org, kali abis baca nbuku ini bisa kasi solusi gmn caranya menjalin relasi sama org lain tanpa bikin org lain gak nyaman krn akunya agak membatasi haha 😛

  11. Aku pernah lihat buku ini di Gramedia. Tapi belum berminat untuk beli. Habis baca review di postingan ini jadi pengen beli.
    Ngomongin soal introvert. Aku tipikal introvert cuma karena di lingkungan membutuhkan sedikit keterbukaan bisa sih menyesuaikan. Cuma kalau lingkungan ramai, aduh rasanya pengen kabur. Pusing…
    Kalau soal kerjaan emang pengennya dikerjakan sendiri.

    Tfs…ya mbak.

  12. Kurasa saya juga termasuk introvert. Tapi kok menurut saaya introvert saya ini perlu diubah. Singkatnya, saya harus bisa lebih menempatkan diri. Dan kini semuanya seperti terbaik, saya senang menjadi introvert. Dan untuk kondisi tertentu saya masih butuh sifat introvert. Gimana ya jelasinnya… hehe

  13. Saya juga merasa kosong di keramaian, Mbak. Juga tiap hari di rumah madep laptop atau anggota keluarga. Sesekali keluar berkomunitas. Kalau sudah keluar, saya malah percaya diri, helpful, suka bicara, suka mendengar dan berbinar-binar. Apa mix, ya?

    Yg jelas saya suka berkebun di pagi dan sore hari untuk membuat jiwa dan raga sehat.

  14. Aku juga merasa sulit bergaul, pendiam dan gagap. Sebenarnya dalam hati ini pengin banget bisa berbaur dengan orang-orang. Kesepian kalo sendirian. Tapi selalu takut. Ketika aku melakukan kesalahan di depan orang banyak, pasti kepikiran terus. Tapi Alhamdulillah akhir-akhir ini aku mencoba mengembangkan diri dengan belajar menulis, seperti Mbak ini, tulisannya bagus dan menginspirasi

    Thx 🙂

    1. Introvert bukan halangan untuk sukses, kok. Pasti bisa. Temukan kelebihan kita dan perjuangkan habis-habisan. MasyaAllah … Terima kasih, yaaa.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.