Review Buku Diary Introvert Karya Hardy Zhu

Salah satu hal nggak menyenangkan ketika menjadi ibu yang bekerja dari rumah adalah minimnya pertemuan saya dengan orang lain. Apalagi saya banyak bekerja di balik dinding rumah, menghadap laptop dari pagi sampai sore hari. Keluar dari ruangan, yang saya temui anggota keluarga yang itu lagi, itu lagi. Kalau dipikir-pikir, lebih enak punya warung gitu, deh. Setiap kali ada pembeli datang, saat itu juga saya bisa melihat orang dengan wajah yang berbeda-beda. Yaaah, meskipun nggak menutup kemungkinan kalau yang saya bakal temui adalah tetangga yang itu lagi, itu lagi, huehehe …

Sebegitu pentingnyakah pertemuan dengan orang bagi saya? Orang yang seperti apa? Sekaligus banyak dalam satu waktu dan tempat? Sedikit tapi datang silih berganti? Atau, sekedar berpapasan di jalan, bertegur sapa, dan mengobrol seadanya?

Well, jadi berpikir juga sih, betul nggak ya sebenarnya saya bahagia berada di antara banyak manusia? Kalau iya, kok sering juga tuh saya kepengen nyanyi Kosong-nya Dewa?

“Di dalam keramaian aku masih merasa sepi …”

Apa saya ini orang introvert, ya? Lantas, kalau ternyata benar saya adalah seorang introvert yang katanya cenderung tertutup, susah bergaul, nggak punya banyak teman, salah kah?

Tentang Karakter Introvert

Menurut CG Jung lewat tulisan yang dimuat di Psyline, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang memiliki orientasi subyektif secara mental dalam menjalani kehidupannya. Ditambahkan juga bahwa seorang introvert cenderung menyukai kondisi yang tenang, suka melakukan aktivitas yang bisa dilakukan seorang diri, dan lebih suka mengulangi kegiatan yang sama dibandingkan berinteraksi dengan kegiatan yang belum pernah dicoba.

Source: Pixabay

Diary Introvert

Judul Buku: Diary Introvert

Penulis: Hardy Zhu

Penerbit: Transmedia, Cetakan Pertama – 2019

Jumlah Halaman: 150 halaman

ISBN: (13) 978 623 7100 17 1

Punya jiwa yang terbuka, sangat mudah akrab dengan orang-orang yang baru pertama ditemui, bisa mengobrol apa saja dengan siapa saja, hidup kok rasanya jadi mudah dan indah banget, ya?

Tapi kalau sebaliknya, apakah bisa begitu saja disimpulkan kalau kita itu bukan orang yang menyenangkan? Padahal, nggak ada yang salah dengan perbedaan. Justru itu menjadikan kehidupan pertemanan menjadi lebih berwarna, bukan menyebabkan bencana.

Hardy Zhu menceritakan kisah seorang introvert di dalam buku ini. Keresahan, kegalauan, ketidaknyamanan, dan berbagai usaha agar bisa diterima oleh orang lain.

Source: Freepik

… aku tidak bisa memilih menjadi seorang introvert atau bukan. Tapi, bukan berarti menjadi introvert adalah bencana (Hal. 2)

Bagi seorang introvert, nggak muda merasakan kenyamanan di tengah lingkungan yang baru. Orang-orang yang baru di kenal, tempat yang baru disinggahi, termasuk obrolan yang terlahir di dalamnya. Tapi seberapa besar sih orang-orang di sekitar kita berhak memberikan rasa nyaman atau nggak nyaman di dalam diri kita? Nggak satu persen pun, kan? Jadi, kita adalah satu-satunya orang yang berhak untuk memutuskan kondisi seperti apa yang membuat kita nyaman.

Menjadi introvert bukanlah bencana. Selama kita tahu apa yang harus dilakukan. (Hal. 18)

Kalau katanya orang introvert lebih nyaman berada di lingkungan yang tenang, mungkin rumah menjadi tempat ternyaman pertama. Di sana nggak ada kekhawatiran akan bertemu dengan orang baru. Selain tamu tentunya, ya.

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang senantiasa butuh berinteraksi dengan manusia lainnya. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Apalah arti hidup kalau kita nggak membawa manfaat bagi manusia lainnya, kan?

Tapi, kalau lebih sering berada di dalam rumah, bagaimana bisa memberikan manfaat bagi orang banyak?

Nyatanya Diary Introvert ini menghapus teori bahwa seorang introvert hanya hidup untuk dirinya sendiri tanpa bisa membawa manfaat untuk orang banyak. Itu sama sekali nggak benar. Bisa banget lho seorang introvert ikut memberikan kontribusi tanpa harus hadir di tengah keramaian.

Ayolah, sekarang sudah eranya digital. Pemikiran, ide-ide, semua bisa disampaikan melalui bantuan teknologi. Membuatkan slide dalam bentuk power point, misalnya.

Lho, saya jadi membela karakter introvert itu, ya? Jangan-jangan, saya seorang introvert juga?

Kesan Setelah Membaca Diary Introvert

Pertama kali melihat sampul Diary Introvert, saya mengira ini adalah sebuah novel. Warna biru mudanya, pemilihan font-nya, sampai pemilihan gambar pada sampul, sama sekali nggak menunjukkan bahwa ini adalah sebuah buku bergenre non fiksi. Oke, saya sempat tertipu di awalnya.

Kemudian membaca halaman demi halaman, buku ini menarik juga. Ini dia kesan-kesan saya setelah membaca Diary Introvert:

  1. Layaknya sebuah diary, buku ini sepertinya menjadi catatan hati penulis tentang karakter dirinya yang introvert. Buat saya, sebuah buku yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, isinya akan jauh lebih mengena kepada pembaca.
  2. Buku ini ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana. Kenapa mesti dibawa kemana-mana? Lanjut aja deh ke poin berikutnya.
  3. Membaca buku ini mengingatkan saya pada modul yang biasa saya terima saat mengikuti latihan pemberdayaan diri atau public speaking. Tersedia halaman semacam lembar kerja yang diperuntukkan diisi oleh pembaca. Saat merasa langkah kaki kita macet, butuh banget lho bertanya pada diri sendiri, kondisi kita seperti apa, maunya bagaimana, dan kemudian kita seperti menemukan jawaban. Saat tengah melakukan perjalanan ke suatu tempat, butuh menunggu, dijamin waktu luang sementaramu akan menjadi lebih berkualitas dengan bertanya pada diri sendiri lewat buku ini.
  4. Penulis mengangkat kelemahan sekaligus kekuatan yang bisa ditumbuhkan seorang introvert. Jadi, nggak ada yang salah dengan terlahir sebagai introvert.
  5. Seberapa besar kekuatan yang ingin ditumbuhkan seorang introvert, dia tetap harus menjadi dirinya sendiri. Sebuah pesan yang sangat bagus karena siapapun karena terjebak di dalam karakter orang lain sama sekali nggak akan membuat kita nyaman.

Jadi, saat saya suka bertemu orang banyak, bosan kalau sendirian, tapi tiba-tiba gagap saat masuk ke dalam obrolan, saya sebenarnya introvert atau bukan?

Kalau kamu seorang introvert juga dan merasa nggak nyaman dengan diri sendiri, Diary Introvert ini bisa menjadi salah satu alternatif bacaanmu.

 

Salam

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

42 Comments

  • Fenni Bungsu December 18, 2019 at 4:03 pm Reply

    Kalau menyelami lebih dalam orang introvert sih tetap ada sisi positifnya, sama dengan yang introvert. Tinggal bagaimana diri kita menyikapinya

    • melinase December 19, 2019 at 6:58 am Reply

      Betul ya, Mbak. Hidup di belakang layar tetap bisa bisa sekeren dan bermanfaat layaknya mereka yang tampil di panggung, kok.

  • Moiismiy December 18, 2019 at 10:27 pm Reply

    Reviewnya sangat menarik. Jadi pengen baca bukunya juga. Intevert itu memang suka suasana tenang, dan bekerja sendiri juga pekerja keras. Meski orang lain sering melihatnya diam, mereka juga punya kelebihan. 🙂

    • melinase December 19, 2019 at 4:06 am Reply

      Betul, Mbak. Balik lagi, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, ya. Cuzzz yuk ke toko buku langsung aja.

  • ira lathief December 19, 2019 at 6:02 am Reply

    Ulasan yg menarik、bikin penasaran pingin cari bukunya. Saya selama inj mengira diri saya adlh seorang Ekstrovert、tp smakin dewasa saya menyadari byk sisi diri saya adlh jg Introvert

    • melinase December 19, 2019 at 6:41 am Reply

      Iya betul, Mbak. Semakin kesini saya lebih mirip seorang introvert, deh.

  • Helma Vania December 19, 2019 at 10:49 am Reply

    Wah saya Juga seneng dikeramaian, ngga bisa sendiri, sukanya banyak temen, tapi terkadang kalo masuk lingkungan baru suka bingung Dan pilih mundur terkadang.. Kalo gitu apa ya? Kadanga Ada introvert nya kadang Ada ekstrovetnya. Hehe.. Tapi baca buku begitu memang asik ya, Kita jadi paham lebih dalam tentang introvert sehingga tidak asal judge

    • melinase December 19, 2019 at 12:46 pm Reply

      Nah, sama. Lingkungan baru seringkali bikin kita kikuk. Lingkungan saat ini tapi kalau bahasannya aku nggak mudeng pun aku nggak pede sih, hehehe … Setuju, banyak membaca membuat pemikiran kita lebih terbuka.

  • Ade UFi December 19, 2019 at 12:01 pm Reply

    Loh ya introvet juga bisa bermanfaat untuk orang banyak kok, Mba. Buktinya dengan menulis Blog ini. Kan skrg org banyak mencari i formasi lewat inet. ^_^

    • melinase December 19, 2019 at 12:45 pm Reply

      Betul, Mbak. Kembali ke diri sendiri ya karena kekuatan kita hanya kita sendiri yang tahu.

  • Dyah Ummu AuRa (Author RoemahAuRa) December 19, 2019 at 5:45 pm Reply

    Sebenernya baik introvert maupun ektroprt ada plus minusnya. Salah satu plus orang introvert gak perlu banyak omong sehingga lebih sedikit melukai orang dengan lisan. Cakep nih bukunya biar bisa banyak tahu tentang introvert

    • melinase December 19, 2019 at 7:15 pm Reply

      Wah, opini ini malah nggak terlintas di benak saya sebelumnya. Makasih lho, jadi ada pemikiran baru, hihihi …

  • Vivi December 19, 2019 at 8:29 pm Reply

    saya ini introvet atau ekstrovert ya?
    sepertinya kombinasi.
    ehh emang ada yang kombinasi?
    hehehehe…
    kayak kulit wajah aja kombinasi

    • melinase December 20, 2019 at 1:33 am Reply

      Kombinasi itu biasanya ada di roti sobek Mbak, hahaha …

      Tapi kadang memang galau gitu sih, aku pun sama nih.

  • Kartika December 19, 2019 at 10:07 pm Reply

    Cung aku juga introvert nih. Bukan membela diri ya, tapi aku juga bukan anti sosial ya. Cuma emang gak se-supel temen2 ektrovert. Kalau baru kenal masih malu2 dan jaga jarak. Nah kalo sudah nyaman baru deh keliatan aslinya yang juga sanguin, rame bingo 😅😅

    • melinase December 20, 2019 at 1:33 am Reply

      Cek-cek kondisi sekitar dulu ceritanya ya buat memanaskan mesin, hahaha …

  • Reyne Raea December 20, 2019 at 12:19 am Reply

    Saya kadang merasa diri introvert, saya suka keheningan, saya selalu membayangkan liburan asyik di kamar berAC dengan suhu sejuk, ditemani laptop, koneksi internet, TV dan DVD, novel, camilan dan minuman 🙂

    Hal itu hanya pernah saya dapatkan sewaktu single dulu, saya senang di waktu weekend 😀

    Btw, keren juga buku ini ya, jadi pengen baca 🙂

    • melinase December 20, 2019 at 1:32 am Reply

      Kalau saya nggak pernah membayangkan ingin sendirian, justrunya kepengennya kumpul rame-rame. Tapi ya itu, begitu kumpul, eh merasa asing, hahaha …

      Keren, Mbak. Tersedia di toko buku besar di Indonesia, kok.

  • Icha Marina Elliza December 20, 2019 at 1:15 am Reply

    Kak me, suamiku introvert. Aku nya extrovert.
    Ternyata setelah 15 tahun kami kenal, 10 tahun dalam rumah tangga, semakin kemari kami saling mempengaruhi. Dia menjadi lebih terbuka, aku nya jadi lebih kalem.

    • melinase December 20, 2019 at 1:31 am Reply

      Wah, seriusan? Alah bisa karena biasa sih, ya. Namanya jadi orang terdekat. Bawa pengaruh banget ternyata, hihihi …

  • Bambang Irwanto December 20, 2019 at 7:37 am Reply

    Introvert memang buka sebuah bencana, Mbak. Memang sesuatu bawaan, yang menurut saya bisa diatasi, baik oleh diri sendiri ataupun dengan orang lain. Jadi saya pun pernah membaca kisah seorang Introvert. Jadi dia memaksakan dirinya untuk keluar dari zona. Misalnya, saat berada di lokasi baru, dia berusaha tersenyum dan menyappa duluan orang sekitar. Dari situ dia menyadari, kalau dirinya bisa, hanya harus memaksakan untuk mulai. Kemudian juga, bisa memang sering-sering berkumpul dengan orang lain, karena pengaruh lingkungan juga. Bergaul dengan orang yang terbuka, ceria dan sebagainya, maka akan lama-lama mejadi terbuka juga.
    Dan ini bukunya menarik ya, Mbak. Orang-orang perlu baca , agar tidak langsung menilai salah seseorang yang Introvert.

    • melinase December 20, 2019 at 12:37 pm Reply

      Dimulai dari diri sendiri ya, Mas. Menarik banget itu kisah temannya. Memang pada dasarnya kita yang lebih mengenal diri sendiri.

  • donasaurus December 20, 2019 at 8:33 am Reply

    mungkin tidak serta merta orang jadi introvet seperti cerita hardy zhu ada sesuatu dimasa lalu yg membuat introvert merasa aman nyaman sendiri.

    • melinase December 20, 2019 at 12:35 pm Reply

      Nah, bisa juga terjadi karena suatu sebab ya, Mbak. Tapi buku ini memang mengulas juga bagaimana seorang introvert harusnya bisa membuka diri dan mengembangkan kapasitasnya.

  • Devi December 20, 2019 at 11:32 pm Reply

    Dulu saya mikirnya diri saya introvert karena nggak gampang berteman. Tapi makin kesini, banyak orang bilang kalo saya itu fleksibel, bisa masuk ke mana aja. Sok idealis nya tetep.. Jadi intro atau ekstrovert diri seseorang tidak salah, hanya cara pengembangan dirinya saja yang berbeda.

    • melinase December 21, 2019 at 3:32 am Reply

      Ternyata ada ambivert lho di antara introvert dan extrovert. Hihihi … Baru tahu saya. Mungkin kita berdua masuk kesana tuh, Mbak.

  • Hida December 21, 2019 at 3:32 am Reply

    Ternyata orang intovet itu mempunyai jiwa ramah dan senag berinteraksi/ ngobtol dengan orang lain yac.

    • melinase December 21, 2019 at 3:33 am Reply

      Selama dia merasa nyaman terutama dengan topik yang dibahas, orang introvert bisa jadi orang yang menyenangkan banget, lho.

  • Siti December 21, 2019 at 6:03 am Reply

    Nah jadi kk interovert apa bukan nih? Hehehe.
    Klo saya, saya akui introvert ya dengan ciri2 yang kk tulis di atas. Kadang ada rasa ingin membaur dengan mudah dengan orang2 baru dikenal atau bisa cepat akrab tapi kaya ada yang nahan gitu lho. Gw ga bisa kaya gitu, ya pada akhirnya klo ketemu orang baru atau teman lama yang baru ketemu lagi lebih banyak diam nya, bingung mau ngobrol apa.

    • melinase December 21, 2019 at 8:37 am Reply

      Sama, iihhh … Saya juga gitu, kaaan?

  • Tia Marty December 21, 2019 at 12:49 pm Reply

    Kayaknya harus baca buku ini ya, kalau pas mau nulis karakter novel yang tokohnya tuh introvert, soalnya banyak banget yang salah kaprah mengenai sosok introvert ini.

    • melinase December 21, 2019 at 12:50 pm Reply

      Yuuk … Bisa dibeli di toko-toko buku kesayangan, yaaa …

  • April Hamsa December 21, 2019 at 3:19 pm Reply

    Wah aku jadi pengen baca bukunya mbak. Bsok kalau ke toko buku cari ah. Aku orgnya soalnya gak gampang ngrasa nyaman sama org, kali abis baca nbuku ini bisa kasi solusi gmn caranya menjalin relasi sama org lain tanpa bikin org lain gak nyaman krn akunya agak membatasi haha 😛

    • melinase December 23, 2019 at 1:21 am Reply

      Cuzzz Mbaaak … Bisa ke toko-toko buku kesayangan di Indonesia, yaaa …

  • Suzannita December 21, 2019 at 3:30 pm Reply

    Buku ini sepertinya menarik untuk dibaca pasti ada banyak pesan moral yang bisa diambil ya

    • melinase December 23, 2019 at 1:21 am Reply

      Buku yang bagus memang seperti itu ya, Mbak …

  • Erfano December 21, 2019 at 6:03 pm Reply

    Aku pernah lihat buku ini di Gramedia. Tapi belum berminat untuk beli. Habis baca review di postingan ini jadi pengen beli.
    Ngomongin soal introvert. Aku tipikal introvert cuma karena di lingkungan membutuhkan sedikit keterbukaan bisa sih menyesuaikan. Cuma kalau lingkungan ramai, aduh rasanya pengen kabur. Pusing…
    Kalau soal kerjaan emang pengennya dikerjakan sendiri.

    Tfs…ya mbak.

    • melinase December 23, 2019 at 1:22 am Reply

      Ternyata banyak yaaa, yang karakternya mirip-mirip sama aku, hihihi … Cuzz dibeli dan dibaca, Mas …

  • sugatangguh December 21, 2019 at 8:43 pm Reply

    Kurasa saya juga termasuk introvert. Tapi kok menurut saaya introvert saya ini perlu diubah. Singkatnya, saya harus bisa lebih menempatkan diri. Dan kini semuanya seperti terbaik, saya senang menjadi introvert. Dan untuk kondisi tertentu saya masih butuh sifat introvert. Gimana ya jelasinnya… hehe

    • melinase December 23, 2019 at 1:22 am Reply

      Jangan menyerah pada keadaan yaaa …

  • Susindra December 21, 2019 at 9:54 pm Reply

    Saya juga merasa kosong di keramaian, Mbak. Juga tiap hari di rumah madep laptop atau anggota keluarga. Sesekali keluar berkomunitas. Kalau sudah keluar, saya malah percaya diri, helpful, suka bicara, suka mendengar dan berbinar-binar. Apa mix, ya?

    Yg jelas saya suka berkebun di pagi dan sore hari untuk membuat jiwa dan raga sehat.

    • melinase December 23, 2019 at 1:23 am Reply

      Wuih … Berkebuuun. Aku belum pernah nyobain karena merasa tanganku nggak dingin gitu …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.