Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Dunia Satwa Kesayangan Anak dan Peran Orangtua di Dalamnya

Dunia Satwa Kesayangan Anak dan Peran Orangtua di Dalamnya

Hello Moms and Dads, putra-putri di rumah ada yang punya hewan peliharaan, nggak? Kucing, anjing, burung, kura-kura, ikan, atau yang lainnya?

Kali ini saya mau cerita tentang putra sulung saya yang punya ketertarikan besar pada dunia satwa. Bungsu juga suka, sih. Tapi sebatas suka. Dia belum paham mendetil seperti kakaknya.

Permintaan Hewan Peliharaan yang Nggak Bisa Saya Penuhi

Kesukaan sulung pada dunia satwa dimulai saat kelas 2 SD. Dulu saya belikan kura-kura dan ikan cupang tapi semuanya mati, huhuhu … Dia cuma suka, tapi belum cinta, eaaa

Saat liburan kenaikan dari kelas tiga ke kelas empat, mulai nih merayu minta dibelikan hewan peliharaan. Berhubung sudah mulai besar juga, saya mau dia berkomitmen bukan hanya punya tapi juga merawat. Kasihan kalau cuma dibeli tapi nggak dirawat dengan baik, kan? Dia setuju.

Pilihan pertama jatuh kepada biawak. Apaaa? Biawak? Iya. Beneran dia minta biawak. Oh, tidak! Apa nggak berbahaya gitu ya memelihara biawak? Pemakan daging kan, ya? Biarpun kurus begini, dia bakal tergoda nggak ya buat memangsa saya?

Apalagi di rumah ada yang takut sama reptilia. Bisa jejeritan kalau lihat biawak. Permintaan pertama ini saya tolak.  Wajahnya kecewa. Sedih sih lihatnya, tapi gimana atuh?

Source: National Geographic

Permintaan pertama masih menyisakan kekecewaan, tapi sulung akhirnya beralih ke permintaan berikutnya.

Ular.

Saya bengong lagi. Kok sukanya hewan yang buas-buas, ya? Berhubung ini bakal jadi penolakan kedua yang bakal dia terima dan pasti ujungnya sedih juga, saya coba ajak dia ngobrol dulu soal alasan ingin memelihara ular dan di mana kami akan memberinya tempat tinggal. Kami nggak mungkin membiarkan dia berkeliaran begitu saja di dalam rumah. Kalau ini sih saya yang stress, hahaha … Masa iya, mau mandi, mau masak, mau nyetrika, ketemu ular terus, wkwkwk

Masih terus negosiasi dong dia, katanya “Ularnya bisa kita taruh di dalam kamar aja, Mama.”

Mendelik lah saya. “Enak aja. Mama nggak mau tidur sama ular.”

Anak sulung malah tertawa-tawa. “Bukan, Mama. Jadi kan di kamar kita ada laci tiga susun itu. Ularnya dimasukin kesana aja.”

Dahi saya rasanya panas kebanyakan saya tepokin, wkwkwk … Usaha bener nih bocah.

Saya juga sampaikan dong bahwa ular butuh tempat terbuka, bersentuhan langsung dengan tanah, rumput, dan ada pepohonan. Bisa stress dia kalau dikurung di tempat sempit begitu.

Source: Detik Travel

Eh, sulung masih gigih lho. Katanya, ularnya bisa dibiarkan di teras aja. Kalau dia kepengen jalan-jalan, bisa menyusup lewat bawah pagar. Lalu dia juga menghubungkan pentingnya ular demi keberlangsungan hidup para kucing. Jadi, entah bagaimana, rumah kami itu jadi tempat persinggahannya para kucing. Adaaa saja kucing datang, pergi, lalu datang lagi. Ada yang melahirkan di teras, ada juga yang melahirkan entah di mana lalu anak-anaknya dibawa ke teras. Dua anak saya suka kucing semua. Mereka sedih banget sewaktu ada anak kucing baru lahir yang mati karena dimakan tikus got. Ihhh, ini saya sebel banget karena pagar kami sempat rusak, ada lubang besar, lalu tikus bisa masuk.

“Tikus kan makanan ular ya, Mama. Nah, kalau ada ular, tikusnya nggak akan berani masuk.”

Saya bengong. Iya sih, tikusnya nggak berani masuk. Tapi siapa yang menjamin kalau ularnya nggak akan makan anak kucing. Ya kan, ya kan?

Ikan Air Tawar ... Here We Go!

Pilihan ketiga lalu jatuh ke ikan air tawar. Ini sih saya setuju banget. Melihat ikan warna-warni berenang kesana kemari itu kan bikin mata rileks, ya. Menenangkan, gitu. Tapi ternyata saya salah. Sulung mintanya alligator. Sewaktu dia tunjukkan gambarnya, olala, itu ikan atau buaya? Saya rayu agar membeli ikan kecil warna-warni saja tapi bocahnya nggak tertarik.

Pada akhirnya, kami berangkat ke toko ikan hias juga, sih. Meskipun sesampainya di sana, saya sibuk menunjuk ikan warna-warni ini dan itu dan gagal, wkwkwk

Ikan alligator ternyata harganya lumayan murah, Rp 30 ribu saja. Berhubung murah, saya tawarkan beli ikan lain. Pilihan jatuh pada seekor redtail catfish. Keduanya jenis ikan predator yang makanannya adalah ikan kecil-kecil. Sulung sudah berjanji, kalau saya nggak punya uang untuk membelikan ikan mas kecil, diam mau memancing sendiri di danau ujung jalan dekat rumah. Itu betul-betul dia lakukan. Kan terharu saya, ihiks

Ikan Alligator (Source: Bacaterus)
Redtail Catfish (Source: Nakama Aquatics)

Akhirnya dua ekor ikan tersebut kami bawa pulang. Keduanya hidup rukun dan damai di akuarium mini yang ada. Sampai suatu ketika saat liburan sekolah berakhir dan anak-anak sedang berada di sekolah, si ikan alligator loncat, jatuh ke lantai, dan langsung mati diterkam kucing yang sedang masuk rumah. Dia tewas dengan luka mengerikan. Huhuhu … Buru-buru deh, dibelikan alligator baru sama eyangnya. Khawatir pulang sekolah dia sedih lalu menangis. Anak sulung saya ini memang gampang nangis kalau ada hewan terluka atau tersakiti, eaaa

Kehilangan Itu Selalu Menyisakan Luka

Kehidupan berjalan lancar seperti biasa, ikan-ikan tersebut – Allie dan Catty – tumbuh sehat, makannya lahap dan ukuran tubuhnya sudah lebih besar. Sampai kemudian datang peristiwa yang saya yakin kita semua pun nggak suka. Mati listrik, Moms and Dads! Ingat nggak saat mati lampu yang lama banget itu? Di rumah saya saat itu listrik mati selama 22 jam. Batere laptop, ponsel, internet mati semua. Emergency lamp sampai mati juga karena nggak bisa bertahan selama itu. Lilin habis, lilin di warung pun habis juga. Jadi, kami melalui jam demi jam bagaikan tinggal di hutan.

Begitu menyala, Catty sudah mengambang. Dia kehabisan oksigen. Sulung menangis sampai matanya bengkak. Hari itu saya mintakan ijin ke gurunya untuk nggak sekolah. Kami berdua menguburkan ikannya di tepi danau di ujung jalan dekat rumah. Sampai sore, masih juga sesenggukan. Allie aman karena dia bisa tetap hidup tanpa oksigen tambahan.

Ikan Golsom (Source: Ekor 9)

Sebagai penawar kesedihan, saya tawarkan beli redtail catfish yang baru. Dia menolak, minta ganti saja. Begitu sampai ke toko ikan, ternyata yang dibeli adalah golsom dan gabus, ealah …

Golsom kami namai Goldy dan Gabus kami namai Gaby. Biar gampang, wkwkwk … Gaby nggak bertahan lama karena dilukai oleh Goldy. Padahal Goldy ini ompong lho, sama seperti Catty. Akhirnya, digantilah yang baru. Kali ini belida. Sama nasibnya, belida dilukai juga oleh golsom, lalu mati. Sejak saat itu saya ultimatum, nggak ada beli ikan lagi. Dua saja sudah cukup.

Namanya anak-anak ya, rasa ingin tahunya itu besar banget. Setelah tahu bahwa Allie kuat hidup di kolam tanpa aerator, dites lah golsom tanpa aerator juga. Awalnya biasa saja, lama-lama tubuhnya naik ke permukaan. Wah, alamat nggak tahan nih, pikir saya. Akhirnya, saya minta saja sama sulung supaya lekas memasang pompa aerator lagi.

Tiba-tiba sulung nyeletuk, “Kalau gitu, kita perlu beli aerator yang pakai batere, Mama. Supaya kalau mati listrik lagi, ikanku nggak mati kayak redtail catfish dulu.”

Saya bilang iya-iya tapi nggak langsung beli. Bukannya saya pelit sih, tapi hari itu saya mau pergi dan pulangnya malam, nggak sempat deh pergi ke toko ikan dulu. Sesampainya di rumah lagi, ternyata sudah ada aerator yang pakai batere. Hasil dibelikan Budhe-nya yang tentunya sih harus saya gantiin, huehehe

Esok harinya, saat anak-anak masih berada di sekolah, eh komplek kami mati listrik cukup lama. Alhamdulillah banget, aerator manualnya sudah dibeli. Wah, sepertinya insting sulung terhadap hewan peliharaannya sudah muncul, nih. Coba kalau belum beli, Goldy bisa mengambang juga nih sama seperti Catty.

Selamat jalan, Allie ...

Kabar duka terakhir datang beberapa hari yang lalu. Alllie ditemukan mati mengambang. Tubuhnya sudah kaku. Sepertinya dia mati sejak sehari sebelumnya. Allie ini ikan yang paling disayangi sulung. Kali ini sedihnya bikin sedih banyak orang. Murung terus. Menguburkan Allie pun nggak mau jauh-jauh, cuma di taman kecil depan rumah. Mana setiap hari dia sirami air katanya biar Allie tahu dia tengokin, huhuhu … Beberapa kali sulung pun bertingkah konyol. Bukan dia banget. Sewaktu saya tegur, dia bilang, “Aku lagi menghibur diri sendiri, Mama.”

Mamanya pun bengong dengan mulut mangap.

Manfaat Mendukung Anak di Dunia yang Disukainya

Pada dasarnya, saya menyukai dunia satwa tapi nggak punya keinginan untuk punya hewan peliharaan. Buat saya ribet. Urusan memberi makan dan minum sih gampang, ya. Tapi kan memelihara berarti harus bertanggungjawab sepenuhnya, termasuk memastikan kesehatannya, membersihkan tubuhnya, dan membersihkan kotorannya. Haduh, rasanya sudah terlalu sibuk buat melakukan semua itu. Daaan, jijik juga, wkwkwk

Tapi berhubung semua tanggungjawab itu akan dilakukan oleh anak sulung, ya saya sih tinggal bilang iya saja. Mama cukup memberikan dukungan permodalan dan waktu buat mengantar kesana kemari membeli ini dan itu.

Kalau yang saya rasakan, memberikan dukungan kepada sulung di dunia yang disukainya untuk punya manfaat besar, lho. Ini dia manfaatnya versi saya:

  1. Menumbuhkan rasa empati sulung terhadap satwa. Mereka juga bagian dari makhluk ciptaan-Nya kan, ya?
  2. Menumbuhkan rasa tanggungjawab sulung. Seperti kesepakatan kami di awal, sulung benar-benar melaksanakan perannya sebagai penyayang hewan. Dia benar-benar memerhatikan makanan ikannya, kebersihan air dan tempatnya, filternya ada benda asing nyangkut atau nggak, bahkan ikannya ada setitik noda mencurigakan pun dia tahu ada sesuatu yang nggak beres alias ikan sedang sakit. Urusan tanggungjawab ini juga lambat laun akan menular ke urusan tanggungjawab dia yang lainnya di rumah.
  3. Mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Kami sering berbincang, berdiskusi, dan terasa sekali kebahagiaannya saat saya juga ikut peduli terhadap hewan peliharaannya. Dukungan positif selalu akan memberikan dampak positif. Sulung pun semakin bersemangat untuk belajar mengenai ikan-ikan kesayangannya lebih banyak. Wawasannya jadi semakin luas. Kalau bercerita mengenai ikan-ikan tersebut, wuih … dia bicara penuh percaya diri.

Soal wawasan mengenai ikan-ikan, kapan-kapan saya ceritakan ya, bagaimana sulung saya belajar. Soalnya pinteran dia kemana-mana daripada saya, wkwkwk

Oiya, biarpun saya sudah mengultimatum agar punya dua jenis ikan saja, nyatanya dia punya tiga ekor ikan lagi di rumah. Hadiah ulang tahun dari Budhenya. Biarin, pokoknya bukan saya yang keluar uang, wkwkwk

Bagaimana dengan putra-putri Moms and Dads di rumah? Punya cerita seru apa dengan hewan kesayangan mereka?

Yuk, saling berbagi cerita di sini.

Salam,

57 comments found

  1. Duuuh…kenapa harus ular.
    Saya jejeritan saja kalau sama ular.
    Pas ke Taman Safari pernah si anak dapat kesempatan pegang ular, sayanya ketakutan.
    Cuma, kalau peliharaan belakangan dia minta ikan dan burung. Tapi, ga bisa kami turuti karena kami sudah punya kucing. Nanti bisa dilahap ikan dan burungnya, hahahaha.

    1. Biawak dan ular sama seremnya buat saya. Di rumah ada kucing tapi lewat-lewat aja, sih, bukan milik sendiri. Ikannya pun tertutup aquariumnya, biarpun kalau sudah menguras, para kucing udah lirik-lirik sambil meang-meong, hahaha …

  2. aku jadi mesem-mesem lihat anakmu pengen piara biawak, di dekat rumah budeku biawak berkeliaran bebas karena dekat kali, aku pun jejeritan saat melihat biawak jadi ga kebayang klo ada dirumah kita. Kedua anakku lagi minta pelihara kucing tapi aku belum kasih ijin, masih pikir panjang

  3. Ularnya bisa kita taruh di dalam kamar!
    Ya Allah antara ngakak sama panik bacanya, polos banget dunia anak-anak ini hihi. Tapi emang bener sih ya kita mengedukasi anak-anak sejak dini dengan mendampingi, jadi kita tahu seperti apa perkembangan anak-anak dalam belajar mengenal dunianya.

    1. Iya euy, gigih banget hahaha …

      Saat kita punya kesempatan mendampingi anak semaksimal mungkin, sebaiknya memang dilakukan. Positif buat anak dan orangtuanya juga.

  4. Dulu zaman kecil aku juga minta hewan peliharaan, Mbak. Dikasihlah kucing. Sayaaaang banget akutu sama kucingnya. Eh pas udah lama barengan, dia mati dong ketabrak motor. Rasanya hati ambyar! Abis itu trauma gamau lagi melihara apa pun. Ga siap kehilangan 🙁

  5. Huehuuu anak saya minta piara kucing belum kupenuhi mbak. Alasannya ? Saya belum siap repot ketambahan kerjaan lagi.. Egois yaa..

    Tp saya tekankan ke anak2, boleh piara kucing asalkan sudah bisa tanggungjawab sendiri.

    Yang sudah pernah piara ikan emas di akuarium. Tapi sayang, dimakan kucing liar yang masuk rumah lewat jendela. Sedihnya berharu-hari.

    1. Disesuaikan sama usia aja kali ya, Mbak. Sulung baru serius memelihara juga di kelas empat ini. Adiknya kelas dua baru sebatas senang lihat peliharaan kakaknya aja. Kalau terlalu kecil besar kemungkinan dia cuma suka sesaat. Kan kasihan juga hewannya, ya.

      Udaaah, pilih peliharaan ikan aja. Bebas kotor dan bau, hahaha …

      Tapi kalau di rumah ada kucing atau kucing-kucing lewat seperti di rumahku gitu, posisi tempat ikan ditinggikan atau ditutup gitu, Mbak.

  6. Kalau di kampung, tikus kalah sama kucing. Kalau di temoat Mbak anak kucing malah mati dimakan tikus ya? Ini bukan cerita dunia terbalik kan? Hehehe…

    Anak saya sejak kecil sudah dekat dengan binatang. Baik yang dipelihara atau enggak. Kami tinggal di kampung, saat anak lahir sudah punya ayam, ikan di kolam, kucing juga.
    Belum lagi hewan liar lain yang suka datang ke rumah, seperti burung hantu, tupai, serangga, dan lainnya. Yang mampir itu tentu selalu kami lepaskan lagi. Yang kami miliki tetap tiga, ikan ayam dan kucing

    1. Mungkin karena anak kucing baru lahir Lalu berhadapan dengan tikus got, Teh. Kalah lah dia, hap! Langsung deh digondol, huhuhu …

      Wuih … Sepertinya lingkungan sekitar masih asri banget ya, Teh. Jadi binatang masih mudah ditemui.

  7. Haha!
    Persis anak saya. Kadang saya terkaget-kaget dengan cara berpikir anak. Benar-bnar out of the box. Tapi kan ngeri pelihara biawak ular segala macem.
    Demi menyenangkan mereka akhirnya anak – anak saya izinkan pelihara kucing.
    Sekarang kucing mereka ada 7. Alhamdulillah mereka bertanggung jawab terhadap hewan peliharaannya.

  8. Baper aku bacanya mba. ? Memang ya kalau sesuatu hal yang disukai anak membuat kita jadi empati juga terhadapnya. Meskipun terkadang aneh bagi kita, tapi dukungan dari orang tua sangat perlu untuk mengembangkan hal yang disukai anak. Siapa tahu nanti si sulung jadi dokter hewan atau ahli satwa karena kecintaannya terhadap satwa.

    1. Iya, Mbak. Orangtua harus memahami juga. Kalau ada yang kita belum tahu jadi tahu, kalau ada yang berbahaya kita bisa mengingatkan, kalau ada yang kemahalan kita bisa protes duluan, hahaha …

  9. Anakku yang kecil juga sering minta dibelikan hewan peliharaan, katanya biar kayak teman-temannya punya hewan peliharaan kayak kucing, kelinci, burung atau ikan. Dan yang disetujui baru ikan hehehe

  10. Adel ini seleranya tinggi dan anti mainstream ya ? salut banget saya.. mau pelihara biawak dan ular? OMG dek.. ? kalau di Kalimantan Biawak banyak loh dek berkeliaran tanpa ada tuannya.. hihihi hebat mbak, selalu mendukung apa yg menjadi kesukaan anaknya ?

  11. Reptil2 iiihhh hewan yang paling ga aku suka, menjijikkan kayaknya… zaman duluuuu… puluhan ular masuk ke rumah mamahku, ke kamar dll. Di Jagakarsa masih alami jd banyak binatang liar. Biawak ada beberapa sempat mampir di garasi. Ular2 kobra banyak…heboh mestinya kayak zaman now beritanya ya hehehe. Kalau ikan air tawar dulu sempat pelihara juga tapi malas bersih2 akuariumnya ??

  12. Sukanya yang hewan2 unik gtu ya anaknya, biawak, ular hehe. Aku big no wkwkwk. Kalau ikan juga ku susah bersihinnya wkwkw emaknya males.
    Kalau di rumah kami pelihara kucing dan anak2 sukanya itu.
    Memelihara hewan bis amenumbuhkan kasih sayang anak kepada makhluk-Nya ya

  13. Semoga semakin tegar nanti kalau ada peliharaan yang mati lagi. Jadi ingat ponakan yang ditinggal mati kucingnya. Nangis seharian. Susah makan dan murung kayak orang lagi kasmaran patah hati. Sengaja kami biarkan. Anak-anak sekalian belajar untuk ikhlas dan mengelola kesedihannya.

  14. Senangnya liat kakak yang udah perduli dan suka dengan satwa. Oleh karenanya wajar sih sedih banget saat mesti kehilangan satwa peliharaan

  15. Hewan yang disukai anaknya kok unik unik ya mbaaaak.. Hihi. Tapi emang kehilangan tu sedih banget, apalagi kucing. Ikan aja pasti nangis ya mbak. Smga ke depannya hewan oeliharaan yg dipunyai bsa berumur panjang ya.

  16. Mohon maaf Mbk aku banyak skirp diawal2 paragraf soalnya aku phobia Ular. Membaca ini jadi serem juga hobinya haha… tapi namanya anak2 unik banget pengen melihara biawak. Anak2 sih senangnya minta izin memelihara ikan dan kucing aja, itu pun merepotkan. Kucingnya pipis di baju2 hiks…

  17. Wah seru banget hewan peliharaan. Sulungnya mbak keknya harus kenalan dengan sulung saya, kesukaannya sama persis, cita² piara ular di rumah. Kalau hewan peliharaan sejauh ini baru kucing aja yang mondar mandir kita pelihara di rumah…

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.