Empat (4) Pesan Kehidupan Lewat Aku Ingin Ibu Pulang

Source: Pixabay

Terlahir bukan sebagai anak orang berada, dulu saya mesti berpikir keras kalau ingin membeli sesuatu harus melakukan apa. Uang saku terbatas, tapi saya suka banget punya pensil warna-warni yang lucu-lucu. Sebatas itu aja sih keinginan saya waktu itu. Sederhana banget, ya? Tapi pernah juga ding kepengen punya mainan. Waktu itu, saya diajak ke rumah temannya kakak yang baru pindah ke kota kami. Anak Jakarta, rumahnya besar, mainannya banyak, dan saya terkesima dengan permainan bernama monopoli. Jualan kacang pedas ke teman-teman di sekolah, akhirnya saya bisa membeli mainan itu, hehehe …

Jadi, kalau sekarang melihat anak yang gigih berusaha tanpa menggantungkan semuanya pada orangtua, film masa kecil serasa diputar ulang di kedua mata.

Aku Ingin Ibu Pulang

Seperti sebuah film tahun 2016 yang baru saya tonton dengan judul Aku Ingin Ibu Pulang. Dikisahkan seorang anak bernama Djempol Budiman, yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia tinggal Bersama kedua orangtuanya di sebuah rumah mungil di pemukiman padat penduduk di Jakarta. Djempol anak yang pintar. Jarak antara rumah dengan sekolah jauh sedangkan dia tidak dibekali uang saku. Setiap harinya, Djempol berangkat sekolah dengan berlari kencang karena khawatir terlambat.

Suatu hari, Djempol pulang dengan wajah berbinar. Di tangannya, tergenggam sebuah amplop berisi beberapa lembar uang. Benaknya sudah dipenuhi impian jalan-jalan keliling Jakarta bersama kedua orangtuanya. Djempol sangat ingin menyaksikan pemandangan Jakarta dari puncak Tugu Monas.

Setibanya di rumah, bapaknya tengah terbaring sambal meringis kesakitan. Kakinya terluka. Ternyata, bapaknya terjatuh dari lantai dua sebuah rumah besar saat tengah bekerja. Bagus, bapak Djempol, bekerja sebagai kuli bangunan. Mandor yang mengawasi proyek pembangunan rumah tersebut tidak membawa Bagus ke rumah sakit, malah membawanya pulang ke rumah tanpa diobati.

Satri, ibu Djempol, berinisiatif memanggil tukang pijat untuk mengobati suaminya. Dia berpikir bahwa Bagus mengalami keseleo.

Source: Detik

Hari demi hari berganti, kaki Bagus belum dapat digerakkan. Padahal, tukang pijat sudah dua kali datang. Satri membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengurus suaminya termasuk memapah suaminya saat buang hajat di toilet umum. Akibatnya, dia sering terlambat tiba di tempat kerja. Satri bahkan sudah diultimatum oleh pemilik toko tempat bekerja, bahwa bulan depan Satri tidak bisa gajian karena uang gajinya habis dipotong akibat terlalu sering terlambat.

Sementara itu, Djempol terus mendesak bapaknya agar segera sembuh supaya mereka bertiga bisa pergi jalan-jalan.

Luka di kaki Bagus semakin serius. Satri sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya. Atas seijin Djempol, dia berniat membawa suaminya ke rumah sakit dengan menggunakan uang beasiswa Djempol. Tetapi Bagus menolak. Dia bersikeras bahwa pada waktunya nanti dia akan sembuh. Uang yang Bagus peroleh sebagai juara kelas dimintanya agar disimpan untuk keperluan sekolah Bagus saat liburan sekolah nanti usai.

Satri kecewa. Dia sedih melihat keadaan suaminya, sedih melihat Djempol yang setiap hari menanyakan kapan mereka pergi jalan-jalan, dan rasa cemas yang begitu besar memikirkan keuangan mereka ke depannya. 

Keadaan ekonomi yang mendesak, membuat Satri terpaksa mencuri di toko. Sekali lagi, dia mengajak Bagus untuk berobat. Dia mengaku meminjam uang pada mandor suaminya. Lagi-lagi Bagus menolak. Dia malah emosi karena Satri berani meminjam uang pada mandor yang terkenal sombong itu. Kecewa, Satri berniat mengembalikan uang yang dicurinya. Malang, niatnya mengembalikan uang curian malah membuat pemilik toko tahu bahwa Satri mencuri. Satri dipecat saat itu juga.

Bagus marah mengetahui Satri dipecat karena mencuri. Dia malu karena Satri tidak bisa menjaga harga dirinya sebagai istri dan ibu. Pertengkaran mereka tidak bisa dihindari lagi. Bagus mengusir Satri dari rumah.

Kepergian Satri meninggalkan penyesalan pada diri Bagus dan kerinduan pada diri Djempol. Tidak ada tulang punggung di keluarga, Djempol tampil sebagai pahlawan cilik. Kemampuannya berlari cepat membuat mereka berdua bisa bertahan hidup. Bayang-bayang jalan-jalan keliling Jakarta perlahan terhapus dari benak Djempol. Di kedua matanya, hanya merindukan bapaknya kembali sembuh dan ibunya kembali pulang.

Pesan dari Sebuah Film

Saya sampai dua kali menonton film ini. Anak-anak saya pun ikut menonton. Banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari film yang disutradarai oleh Monty Tiwa ini.

1. Kesabaran

Kesabaran keluarga ini memang benar-benar diuji. Bagus sebagai kepala keluarga yang baru sebulan bekerja sebagai kuli bangunan, Satri yang menjaga toko obat tradisional dengan gaji yang setiap bulannya dipotong karena suaminya lama tidak bekerja, dan Djempol yang pintar namun tidak tahu kemana masa depan akan membawanya. Jangankan melanjutkan sekolah sampai ke jenjang tertinggi, setiap hari saja Djempol harus berlari kencang ke sekolah karena uang sakunya hanya seadanya.

2. Ketulusan

Film ini menggambarkan ketulusan hati tokoh-tokohnya. Hidup dalam kesederhanaan, Satri sangat mencintai suami dan putranya. Kondisi suaminya yang lama tidak bekerja, membuat Satri rela harus berkorban lebih banyak. Saat suaminya sakit pun, Satri tidak pernah meninggalkan.

Padahal berulangkali dia sudah diberi peringatan bahwa dia tidak boleh terlambat lagi.

 

Lalu Bagus yang tidak ingin menyusahkan istri dan anaknya sehingga menolak pergi ke rumah sakit. Mereka tidak punya uang. Istrinya sudah banyak berkorban demi keluarga kecil mereka. Tidak seharusnya seorang istri bekerja di luar rumah sedemikian kerasnya demi menghidupi suami dan anaknya.

 

Bagus juga tidak ingin menggunakan uang beasiswa Djempol. Baginya, uang beasiswa itu merupakan hak putranya. Djempol sudah belajar dengan keras sehingga memperoleh nilai tertinggi.

3. Kekuatan Tekad

Djempol sudah lama sekali membayangkan jalan-jalan keliling Jakarta. Menantikan bapaknya yang tak kunjung sembuh dan tidak ada uang untuk berobat, bersama sahabatnya, Djempol bekerja sebagai badut yang berjoget di lampu merah. Dia menahan panasnya sinar matahari dari balik kostum badut yang tebal. Dia kesal tapi berusaha menerima saat hanya memperoleh bayaran sebesar Rp 13 ribu saja. Tiga ribu rupiah dia berikan pada Tiwi, sahabatnya, dan selembar sepuluh ribuan diberikan kepada ibunya.

 

Satri gembira, sedih, dan terharu. Dia bertekad akan terus menyekolahkan Djempol ke jenjang tertinggi.

4. Realistis

Jika  kesabaran, ketulusan dan kekuatan tekad mampu menyatukan sebuah keluarga sesulit apapun masalah yang dihadapi, nyatanya mereka kemudian terpecah karena satu alasan.

Kuncinya berada di tangan Bagus sebagai kepala keluarga. Kesabaran saja tanpa melakukan usaha maka akan sia-sia. Dengan berdalih bahwa dirinya baik-baik saja, akan segera sembuh dan mereka bertiga bisa pergi jalan-jalan, Bagus mendustai dirinya sendiri. Dia tidak realistis dalam menghadapi masalahnya. Luka di kakinya yang tidak kunjung sembuh dan tubuhnya yang terus melemah, seharusnya menjadi pertanda kuat bahwa dia membutuhkan pertolongan tim medis.

Ketidakrealistisan Bagus dalam menghadapi sakitnya, seolah membutakan mata dan hatinya juga saat dia tidak bisa menerima bahwa Satri telah mencuri. Mencuri meskipun dengan alasan terpaksa memang tidak bisa dibenarkan. Tapi jika Bagus realistis, dia tetap akan menerima dan memaafkan kesalahan Satri sama seperti Satri menerima dirinya yang tengah sakit berkepanjangan.

Source: Pixabay

Sebesar apapun masalah yang dihadapi, kesabaran, ketulusan, dan kekuatan tekad mutlak diperlukan. Tapi jangan lupa untuk tetap bersikap realistis. Menerima kenyataan dan menyadari bahwa diri ini sedang dalam kondisi yang tidak mudah. Sikap ini akan membuat kita bisa berpikir dengan lebih tenang dan rasional dalam memutuskan jalan keluar yang akan ditempuh. Pasrah tanpa melakukan apa-apa, sudah pasti tidak akan ada gunanya.

Aku Ingin Ibu Pulang memang film lama. Tapi saya beruntung diberi kesempatan menontonnya.

Salam,

7 Shares:
124 comments
  1. Resensinya sukses membuat saya meneteskan air mata mba . gimana kalau nonton langsung nih ..
    Film tentang kehidupan yang sarat makna. Membuat sy bercermin, kadang sudah down dengan ujian yang ternyata belum ada apa2nya dibanding orang lain.

  2. film bagus saya jd penasaran mau nyari…, realistis juga krn banyak keluarga yang berada diposisi seperti satri dan bagus, kesulitan ekonomi, punya anak cerdas tp masa dpn belum pasti, bakat tersia2kan krn keadaan, ada yang mampu bangkit perlahan dan sukses, ada yang justru jatuh semakin terpuruk…sarat makna

  3. Baca review filmnya saja sudah sedih ya kak. Terkadang kemiskinan itu memang banyak jadi sumber masalah. Justru itulah banyak diangkat jadi cerita film.

    Menurut aku film yang bagus itu yang bisa membawa suatu pesan buat penontonnya. Semoga kita bisa lebih bersyukur ya karena lebih beruntung.

  4. Banyak pesan moral yang terkandung di dalam nya.
    Jadi penasaran pengen nonton juga,apalagi sekarang libur anak sekolah.
    Waktu yang tepat untuk ditonton bersama keluarga,terutama keponakan-keponakan saya.
    Agar mereka memahami arti kehidupan

  5. Nama anakny lucu y Mb, Djempol, so antimainstream hehe
    Btw, film2 ttentang ketidaknyamanan idup kek gini cocok bwt anak2 muda biar daya juangny tinggi
    Jd pengin liat n penasaran endingny gimana

  6. Namanya sangat unik. Djempol, apalagi pakai ejaan lama ya, Mbak Melina.
    Saya jujur, lolos dari film ini, dan saya malah baru tau dari ulasan Mbak Melina ini. Soalnya di sini sudah tidak ada bioskop hehehe.

    Tapi dari ulasannya, ini film yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan memang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Makanya pesannya sangat dapat.

    Jadi penasaran dengan film ini. Nanti akan saya cari di internet.

  7. Sedih banget pas baca bagian, Satri/istrinya di usir, hiksss. Kenapa sampai diusir ya pdhl toh si suami juga belum sembuh ya. Hehehe.
    Bagus filmnya ya kak, benar2 realita banget. Jadi bisa diliat itu si anak (Djempol) dalam berjuang hidup bersama ibu nya

    1. Bagus nggak realistis menghadapi hidup, sih. Aku gemes sama dia. Bukan dalam rangka mendukung Satri mencuri, sih. Tapi seharusnya Bagus bisa mengerti kalau Satri dalam kondisi terdesak.

  8. Baru baca resensi filmnya aja aku udah mengharu-biru. Bisa dipastikan ketika beneran nonton di bioskop ntar mewek deh 🙁 Hidup memamng mesti dilalui dengan kesabaran dan tawakkal ya mbak. Bagusnya nonton bareng anak2, suami jadi biar tau perjuangan yang penuh semangat tersebut. TFS.

  9. Cerita pengantar di awal artikel ini mengingatkan pada kondisi saya juga Mbak. Saya dan adik sekolah sampai pindah pindah karena kendala ekonomi keluarga. Lulus sekolah saya langsung kerja jadi TKW, buat gajinya langsung gede. Secara kerja di kota kota, gaji habis buat makan dan sewa kost saja.

    Film ini jadi pelajaran sekaligus mengenang masa lalu kita ya…

  10. Menahan nafas saya bacanya.
    Perjuangan yg luar biasa dari seorang anak bernama Djempol karena keadaan keluarganya.
    Saya bisa merasakan karena saya juga bukan dr keluarga berada. Ga pernah tahu ada film bagus begini.

  11. Aku pernah nonton film ini, banyak nilai kehidupan yg layak dipetik. Apalagi kesabaran, hmm susah untuk mengamalkannya tapi ya namanya juga manusia harus bersabar

  12. Saya malah baru tahu ada film ini padahal filmnya sudah lama ya. Baca ulasannya sepertinya filmnya menarik apalagi banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film Aku Ingin Ibu Pulang ini.

  13. Endingnya bagaimana nih Mbak. Sedih baca review filmnya. Sarat hikmah, kesabaran, ketulusan juga kejujuran yang patut terus dijaga dalam menjalani kehidupan ini.

  14. Sepertinya ini film banyak menguras air mata.
    Sayangnya saya sdh dilarang dokter nonton yg menguras emosi hiks…

    Pdhal saya menikmati kesedihan krn film..

  15. haduh kok cerita hidup kita mirip yak tapi selalu saya syukuri hidup yang keras membuat kita tanguh dan kreatif.Semoga istri yang sedang dalam dilema seperti Satri dan suami yang sedang sakit seperti Bagus diberi kemudahan oleh Tuhan.amin

  16. Dari awal baca tulisan ini aku merasa haru dan setelah beberapa paragraf kok jadi sedih yac…, ngena banget kak tulisannya pada pembaca seperti akuhhh

  17. Ya Allah, baru baca review-nya di sini saya sudah mewek saja. Bagaimana kalau nonton langsung ya? Hiks.
    Semoga filmnya happy ending buat keluarga Bagus, Satri, dan Djempol.

  18. Lihat posternya sempat penasaran kok film ini gak masuk bioskop yaa? Soalnya lihat jadwal di XXI gak pernah lihat film ini. Padahal kan pas banget tuh dengan momen Hari Ibu. Eh ternyata emang film lama y kak, 2016.. gak lama lama amat sih. Jadi penasaran juga euy pengen nonton.

  19. Saya belum nonton, dan baru ini baca judulnya.. ya ampun, kemana aja selama ini ? jelas dari yg saya baca diatas film ini bagus banget dan syarat akan pesan moral.. harus segera nonton nih, terima kasih mbak sudah share ?❤️

  20. Bagus ya filmnya. Sangat menyentuh. Baca tulisan ini jadi ikut baper. Jenis film yang saya suka juga.

    Kadang saya berfikir, apa film seperti ini juga ditonton dan disukai orang-orang kaya, atau hanya kalangan orang yang berangkat dari ekonomi bawah seperti saya ini.
    Ah, kok baper sensiri. Kan sebenarnya saya suka semua film ^o^

  21. Merinding, bacanya.
    Film ini mengajarkan banyak sekali hal baik pada anak-anak, dan juga orangtua. Satri tak sepenuhnya salah. Bagus juga punya andil besar, karena tinggi hati.
    Kok malah gitu, ya, kesimpulanku.
    Ah, harus tonton film ini bareng anak-anak, nih, agar tidak salah memahami cerita.

  22. Filmnya bikin mewek pasti nih mba.
    Btw, aku kok kesel sama bapaknya Jempol. Padahal kalau berobat dia bisa bekerja lagi dengan cepat. Bisa segera nafkahi keluarganya lagi.

  23. Kok saya jadi pengen nonton filmnya juga ya? Bagus ceritanya mbak. Beruntung saya dan anak2 masih diberi rejeki lebih untuk pendidikan dan tidak harus melalui cerita seperti Djempol.

  24. Kok kayaknya aku kelewatan nonton film ini ya. Dan perasaan baru dengar gitu, tapi lihat para pemainnya film ini enggak main-main secara ada Nirina Zubir dan Rifnu Wikana.
    Tapi baca review ini langsung ubek ubek youtube, penasaran sama filmnya he..he…

    Soal keinginan masa kecil, keinginan yang terkesan sepele jadi kenangan di saat udah gede kayak sekarang.

  25. Kok sepertinya sekilas pernah nonton film ini ya? Udah ada di TV kan ya?
    Nonton film ini kyk miris gtu krn disadarkan ttg kemiskinan dan mungkin jg terinspirasi dari kehidupan yang sebenarnya 🙁
    Gemes sama tokoh si bapakyg keras kepala ya.

        1. Sepertinya sih nggak ikutan BPJS ya, hehehe … Gimana bayarnya? Bapaknya Djempol aja kan baru sebulan kerja setelah lama menganggur. Tapi sekarang mungkin udah daftar kali ya, hihihi …

  26. Baca Reviewnya aja terharu. Ya ampun, suka mimbik-mimbik sendiri kalau baca resensi atau nonton film drama yang mengkaitkan dengan ibu

  27. Sungguh film yang sangaz menginspirasi. Sempat menonton bersama keluarga dan sungguh film ini berhasil membuat kami termenung cukup lama. Kenyataannya berpasrah tanpa ikhtiar tidaklah berarti apa2

  28. Wah, saya jadi ingin menintin filmini, Mba. Bagus banget, penuh pembelajaran.

    Sependapat dengan opinimu, Mba, bahwa sikap realistis adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh setiap pribadi, agar mampu melangkah dalm menjalani kehidupan dan menggapai impian.

  29. Dan mata saya jadi berkaca-kaca membaca tulisan ini. Membayangkan perjuangan seorang Djempol, dan keluarganya. Jadi pengen nonton filmnya. Cari di yutup ah…. dan siapin tissue.

  30. Bener banget, kuncinya ada di Bagus. Harusnya dia lebih bijak melihat segala sesuatu. Bukannya malah marah2 sampai ngusir Satri. Lagi2 yang kecewa anak2 kan. Lah jadi marah marah sendiri hehehe

  31. Saya berkaca-kaca baca tulisan mbak. Ujian ekonomi memang ujian yang paling berat dalam kehidupan.
    Apalagi waktu baca Djempol dapat uang 13ribu, semuanya dikasih ke ibu dan sahabatnya, dia sendiri nggak dapat apa-apa. Terasa banget perihnya…
    Semoga Allah selalu memberi kesabaran untuk mereka yg sedang berjuang di luar sana.

    1. Djempol anak hebat, Mbak. Film-film seperti ini yang aku sayangkan banget kok ya dulu nggak heboh ya gaungnya. Padahal ini sangat bagus untuk pelajaran sosial kepada anak-anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like
Read More

Review Film “Mimi”

Setiap orang mempunyai mimpinya sendirinya, termasuk juga makhluk yang berjenis perempuan. Ada yang ingin mengejar karir setinggi-tingginya, ada…