Baby Blues; Ketika Kehadiran Pasangan Diperlukan Secara Nyata

Banyak perempuan hamil yang mengalami kondisi nggak menyenangkan seperti mual, muntah, lemas, sampai harus melalui bedrest di trimester pertama, bahkan ada yang harus seperti itu sampai jelang melahirkan. Saya termasuk kategori perempuan yang melalui proses kehamilan dengan sangat santai. Sama sekali nggak pernah merasakan mual. Selera makan saya sangat bagus. Malah bawaannya lapar terus. Makanan apapun juga masuk. 

Tapi kondisi pasca persalinan ternyata nggak sesantai kondisi kehamilan. Dunia baru dengan sambutan mengejutkan yang bertubi-tubi.

Kenangan Masa Kehamilan dan Pasca Persalinan Saya Dulu

Dua masa kehamilan saya lalui di waktu yang berdekatan. Selisih usia sulung (putra) dan bungsu (putri) hanya dua tahun kurang dua hari. Seperti memberikan kado ulang tahun adik bayi kepada putra saya. Kehamilan saya pun bisa dibilang kuat. Pergi dan pulang bekerja menggunakan transportasi umum, seringkali saya harus berdiri di dalam Kopaja.

Saya disarankan oleh dokter untuk diet pada dua masa kehamilan tersebut mulai usia kandungan tujuh bulan.  Hanya makan buah-buahan dan sayuran. Sayanya kurus, tapi bayinya ndut. Putra saya lahir dengan bb 3,4 kg dan berat badan saya jelang melahirkan dia hanya 56 kg. Putri saya lahir dengan bb 3,8 kg dan berat badan saya jelang melahirkan dia hanya 60 kg. Begitu mereka berdua lahir, berat badan saya susut langsung ke angka 50 kg, hehehe

Keduanya lahir melalui proses induksi. Jadi, semenjak masih di dalam perut, mereka sudah mendengar saya berteriak-teriak. Proses induksi harus dilalui karena detak jantung putra saya sempat menghilang dan kontraksi selama 2×24 jam hanya menghasilan pembukaan satu, sedangkan putri saya waktu itu nggak kunjung keluar padahal sudah ada kontraksi di 3 x 24 jam.

Rasanya pertama kali punya bayi, tentunya bahagia. Tapi bahagia itu nggak datang sendirian. Dia muncul membawa teman-teman bernama lelah, cemas, ngantuk, sedih, perasaan rendah diri nggak bisa mengurus bayi. Layaknya menghadapi rekan kerja yang terus-terusan meneror padahal tugas sedang saya kerjakan, bayi saya pun saya marahi juga karena merasa dia memaksa padahal saya juga sedang berusaha.

Source: Pixabay

Saat putra saya lahir, meskipun jungkir balik, rasanya waktu bergulir cepat. Tiba-tiba saja sudah waktunya kembali bekerja.

Setelah kelahiran putri saya di akhir Nopember, rasanya saya ingin cepat-cepat kembali bekerja. Padahal, saya masih boleh cuti sampai akhir Januari. 

Apa yang membuat saya memilih kembali bekerja lebih awal? 

Terlambat Mengenal Baby Blues

Harus diakui, di masa anak-anak kecil, saya nggak pernah belajar menjadi seorang ibu seutuhnya. Tinggal bersama orangtua, saya belajar apa yang bisa dipelajari dari ibu saya. Tapi menjadi orangtua bukan hanya harus menguasai pengetahuan seputar cara menyusui, menggendong, memakaikan popok, memandikan, membersihkan kotoran, atau semua yang hasilnya bisa dilihat berdasarkan praktek. Kondisi psikis seorang ibu yang bahagia, ini yang nggak pernah saya sadari.

Istilah baby blues baru saya dengar ketika sulung duduk di bangku TK. Dilansir dari portal online Cussons, baby blues adalah perasaan sedih yang dialami seorang ibu di hari-hari pertama kelahiran bayinya. Seorang ibu menjadi mudah menangis, mengalami perasaan tertekan, dan mudah tersinggung.

Source: Pexels

Dulu saya membayangkan, hari-hari awal menjadi seorang ibu akan selalu bahagia. Bayi yang lucu, keluarga yang menyambut kedatangan si kecil, nggak peduli sejungkir balik apapun kehidupan seorang ibu saat itu.

Setelah mengetahui tentang baby blues, ada kemungkinan saya pun mengalaminya pasca melahirkan pertama dan kedua. 

Mengingat saya yang mudah panik saat bayi menangis atau keinginan ingin segera bekerja kembali saat putri saya baru saja lahir.

Penyebab di Balik Baby Blues

Baby blues bisa dikatakan normal dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Penyebabnya tentu datang dari kondisi yang terjadi pada seorang ibu setelah proses melahirkan. Berbagai perasaan yang berkecamuk, wajar muncul karena beberapa hal berikut ini:

1. Kelelahan Pasca Persalinan

Setuju nggak kalau proses persalinan itu melelahkan? Apalagi bagi ibu yang melalui proses persalinan yang nggak mudah. Di persalinan putra saya, saya melalui 2 x 24 jam rasa mulas yang saat dicek bolak-balik ke rumah sakit, masih saja di pembukaan satu. Begitu kembali ke rumah sakit, kemudian detak jantung bayi di dalam kandungan menghilang, dokter memerintahkan teman-teman bidan agar saya melalui proses induksi.

Source: Pixabay

Menit-menit pertama biasa saja, tapi lama-lama mulasnya minta ampun. Saya berteriak kencang saat jarak antar kontraksi berlangsung pendek. Sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang dipaksa turun dari perut tapi kemudian naik lagi. Belum lagi saat proses mengejan. Saya ingat betul dokter meminta saya nggak berteriak saat mengejan karena bisa merusak otot mata. Tubuh saya bekerja keras mendorong bayi keluar, otak saya bekerja keras mengingat, “Jangan teriak, jangan angkat pantat, nanti robek, nanti jahitannya banyak, dan itu sakit banget.”

Tubuh dan pikiran sama-sama lelah. Rasa lelah ini yang kemudian saya bawa pulang, terendap berhari-hari lamanya. Tahu sendiri kan, lelah fisik saja bisa mempengaruhi emosi. Apalagi lelah tubuh dan pikiran. Rasa lelah dari tempat tidur bersalin belum usai, lelah dari harus begadang mengurus bayi datang menghampiri. Lelah bertubi-tubi yang seandainya bisa dipindahkan ke pundak orang lain sebentar saja.

2. Nyerinya Menyusui

Apa yang dirasakan seorang ibu saat pertama kali menyusui bayinya? Ngilu? Saat masih di rumah sakit, saya hanya bingung menempatkan posisi bayi ketika akan menyusu. Rasa menyakitkan di area payudara sama sekali nggak ada. Tapi begitu pulang ke rumah, beberapa kali saya harus memarahi bayi mungil saya karena gerakan mulutnya menyakiti puting saya. Oh My God, dia masih bayi dan nggak mengerti apa-apa tapi saya marahi.

Source: Pexels

Belum lagi rasa kencang dan nyeri saat saya bepergian dan belum menemukan tempat yang nyaman untuk memerah ASI. Apalagi kalau lupa mengenakan breastpad. Menahan nyeri yang diiringi rembesan ASI. Sakit, kesal, sekaligus malu.

3. Kehidupan yang Jungkir Balik

Di kantor, saya terbiasa berkomunikasi dengan orang banyak. Jari saya lincah menari di atas keyboard, sigap menyusun berbagai kertas berisi laporan dan jadwal secara rapi, dibutuhkan dan memperoleh pengakuan bahwa saya mahir melakukan tugas-tugas tersebut.

Di rumah, di hadapan seorang bayi berat tubuhnya tidak sampai 1/10 berat tubuh saya, saya seolah takluk. Siap menyusui saat dia lapar atau haus, memandikannya dua kali sehari, membersihkan kotorannya entah berapa kali sehari sekaligus menahan baunya.

Source: Pixabay

4. Tangisan Bayi yang Membuat Cemas

Bagian terberat bagi saya adalah menenangkan bayi saat dia menangis. Menangis adalah respon bayi terhadap sesuatu yang dia rasakan. Dia belum bisa bicara, maka menangis lah caranya menyampaikan.

Tapi seringkali saya juga ingin ikut menangis saat dia tidak kunjung tenang. Kadang menangisnya selesai, tertidur, lalu beberapa waktu kemudian kembali menangis. Kepanikan saya bertambah saat tangisan panjangnya berlangsung di tengah malam. Takut bayi saya sakit perut, sakit kepala, sakit apapun itu, termasuk kekhawatiran ada makhluk asing yang mengganggu. Orang-orangtua di sekitar kita kadang memberikan masukan begitu, kan?

Source: Pixabay

Saya juga takut tangisan bayi saya mengganggu waktu istirahat orang-orang di sekitar. Tapi ternyata ketakutan ini belum ada apa-apanya saat mengetahui respon dari orang yang mendengar tangisan itu.

“Kalau bayi rewel terus, ibunya berarti orang nggak bener.”

“Sudah merasa jadi orang paling bener Bu, dengan menghujat orang lain nggak bener?”

Rasanya saya ingin melempar sesuatu kepada orang itu.

Menciptakan Kebahagiaan Ibu Pasca Melahirkan

Calon ibu selalu jatuh cinta pada kebutuhan dan perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Pakaian, sepatu, topi, selimut, tempat tidur, stroller, mainan, sampai botol susu. Mungkin sama dengan saya, pasca melahirkan, semuanya akan baik-baik saja. Hanya butuh makan banyak supaya ASI lancar dan siap begadang karena bayi suka terbangun tengah malam.

Baby blues nggak pernah singgah di kepala.

Sampai sekarang, terus terang saya nggak paham apakah semua yang saya rasakan di atas benar-benar baby blues atau bukan. Tapi ada kondisi penting yang menurut saya sangat layak disiapkan melebihi persiapan persiapan berwujud fisik.

Dukungan dan bantuan dari pasangan mutlak diperlukan. Alangkah bahagianya seorang ibu baru melahirkan saat pasangannya sesekali mau membantu memandikan, membersihkan kotoran bayi, mengganti popok, menggendong, atau mengajak bayi berjalan-jalan sementara ibu bisa beristirahat meskipun sebentar. Tugas utama seorang ayah memang mencari nafkah, tapi dukungan sederhana ini akan menyelamatkan ibu baru melahirkan agar tetap bahagia.

Menyusui tentu nggak bisa diwakilkan. Tapi pasangan bisa memberikan dukungan dengan menjadi ayah ASI. Mendengarkan cerita atau malah keluhan ibu baru melahirkan, kelelahannya, kepanikannya, kekhawatirannya, lebih baik lagi kalau kalau disertai pijatan lembut di telapak kaki, bahu, atau punggung. Tentunya ini akan membuat mood seorang ibu menjadi lebih baik karena merasa nggak sendirian menghadapi perubahan.

Source: Pexels

Saat saya memutuskan kembali bekerja, menyerahkan pengasuhan anak kepada orangtua, saya dalam kondisi merasa sendirian. Satu bulan pasca persalinan yang kedua, saya dan pasangan berpisah rumah, sebelum kami resmi bercerai sembilan bulan kemudian. Mungkin ini yang menjadi alasan saya memilih kembali bekerja. 

Saya lebih memilih berada di kantor dan perjalanan dibandingkan menikmati sisa satu bulan masa cuti. Bisa bertemu orang, ngobrol, dan tertawa-tawa. Bisa marah tanpa rasa bersalah.

Tentu nggak semua orang bisa mengerti, betapa mengerikannya bertemu dengan anak dalam 24 jam sehari seorang diri. Meskipun saat anak-anak tumbuh besar, ada harga mahal yang harus saya bayar kemudian.

Itu sebabnya, dulu, setiap kali ada rekan kerja laki-laki yang istrinya akan melahirkan, saya selalu menitipkan pesan agar menjadi support system bagi istrinya. Proses persalinan itu melelahkan, perubahan dari semula hanya mengurus diri dan suami kemudian tiba-tiba mengurus bayi itu mengejutkan, dan karena itu seorang ibu baru memerlukan dukungan dan bantuan.

Baby blues mungkin manusiawi terjadi. Tapi yakinlah, kondisi itu sama sekali nggak menyenangkan. Jangan mengabaikan baby blues karena ini berpotensi menjadi lebih serius ke level depresi. Maka, siapapun laki-laki yang ingin menghadiahkan cucu kepada kedua orangtuanya, selayaknya juga mereka memastikan diri mau menjadi pasangan yang mendukung dan membantu istrinya menghadapi kehidupan baru sebagai seorang ibu.

Salam,

Melina Sekarsari

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’.

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

53 Comments

  • rahmabalci December 22, 2019 at 10:46 pm Reply

    hi mbak salam kenal:) saya juga mengalami babyblues terutama point pertama: kelelahan pasca melahirkan, krn cuma berdua sama suami, ga begitu banyak dibantu keluarganya, kita dirantau juga, badan rasanya mau remuk-.-‘ bawaannya mewek terus sampe suami bingung, kemudian googling2 lah kita, akhirnya ketemu ttg artikel babyblues ini. saya saking capeknya sampe kepikiran pgn banting bayi krn nangis trus, syukur ga sampe kejadian..astagfirulloh. Peran suami memang berefek bgt, dia smape rela jagain nyuruh saya jln sendiri refreshing, mau bagi2 tugas.mijetin juga, dan pelukan..buat saya pelukan suami serasa obat jg, perasaan dihargai tiba2 muncul dgn sendirinya, kata2 positifnya bikin saya kuat. hihi jd nebeng curhat:) abis bc ini

    • melinase December 23, 2019 at 1:24 am Reply

      Salam kenal juga ya, Mbak Rahma …

      Wah, beruntungnya Mbak Rahma sudah memperoleh support system yang benar. Sehat-sehat selalu buat Mbak Rahma sekeluarga, yaaa …

      Terima kasih sudah mampir ke ‘rumah’ saya ini …

  • Okti Li December 24, 2019 at 10:17 am Reply

    Salut dengan kondisi Mbak pasca melahirkan anak ke dua. Saya tidak bisa membayangkan andai itu terjadi kepada saya.
    Saya pernah tidak enak justru dari pihak orang tua suami, ketika saya memerlukan bantuan, secara sinis suami dan orang tuanya membicarakan saya seolah istri tidak bisa menjalankan pekerjaannya. Sampai situ saja saya sudah gak mau banyak ulah. Semua saya lakukan sendiri saja. Pun saat saya sakit

    Semoga tulisan ini dibaca para lelaki agar mereka mengerti dan memahami

    • melinase December 24, 2019 at 10:24 am Reply

      Hai, Mbak … Terima kasih banyak, ya. Secara sederhana, memang sudah seharusnya ya kita senantiasa berbuat baik terhadap siapapun orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan. Apabila dirasa belum sanggup untuk membantu, setidaknya jangan mengucapkan kalimat yang bisa membuat kondisi seseorang menjadi bertambah buruk.

      Iya nih, mesti dishare ke kaum Adam, hahaha …

    • melinase December 24, 2019 at 5:31 pm Reply

      Hai, Mbak. Terima kasih, ya. Alhamdulillah, Allah kuatkan.

      Iya nih, mesti banyak-banyak dishare ke teman-teman pria, hihihi …

  • Rina December 24, 2019 at 10:25 am Reply

    Hi mom, salut dengan perjuanganmu. Peluuk hangat dari jauh mom.

    • melinase December 24, 2019 at 5:31 pm Reply

      Hai juga, Mom. Wah, terima kasih banyaaak. Peluk hangat juga dari kota hujan.

  • Hanila PendarBintang December 24, 2019 at 11:12 am Reply

    Sepakat sekali.
    Peranan suami sangat diperlukan di masa pasca melahirkan.
    Suami saya dulu sempat marah sama atasannya pas disuruh masuk kerja di saat saya masih butuh bantuan dia buat ngapa2in.
    Saya dengar dia marah di telpon “memangnya saya lelaki apaan ibu suruh ninggalin istri saya yang baru melahirkan dan butuh saya” seklai itu denger dia ngomong kenceng.

    • melinase December 24, 2019 at 11:24 am Reply

      Nah, itu baru namanya laki-laki keren ya, Mbak. Berani berada di garda depan.

  • Sani December 24, 2019 at 12:00 pm Reply

    Orang zaman dulu blm tau ttg baby blues ini. Malah kadang di sangka stress sama keluarga. Padhal dukungan keluarga sangat penting

    • melinase December 24, 2019 at 5:32 pm Reply

      Apa orangtua baru jaman dulu nggak pernah mengalami yang dirasakan perempuan masa kini ya, Mbak? Jadi penasaran gitu.

  • fionaz isza December 24, 2019 at 12:43 pm Reply

    ya begitulah, syndrome baby blues kadang nggak di pahami sama orang sekitar. malah kang mikirnya si penderita yang kurang kuat iman. tapi semakin banyaknya artikel yang menjelaskan tentang syndrome ini di harapkan makin banyak pula pemahaman yang di dapat masyarakat umum, makasih infonya kak.

    • melinase December 24, 2019 at 5:33 pm Reply

      Setiap orang perlu belajar buat menghargai, mendukung dan membantu orang-orang di sekitarnya sih, termasuk ibu baru pasca melahirkan ini.

  • Maria G Soemitro December 24, 2019 at 12:45 pm Reply

    Untung saya ngalamin baby blues ketika hamil anak bungsu
    Kalo ngga males hamil lagi deh 😀
    Soalnya tersiksa banget ya
    Tiba tiba sedih ngga karuan. Pingin nangis
    Padahal saya termasuk Perempuan jarang nangis

    • melinase December 24, 2019 at 5:34 pm Reply

      Wah, justru di anak bungsu ya, Mbak. Baby blues memang benar-benar mengubah kita yang aslinya, lho.

  • Gina December 24, 2019 at 1:16 pm Reply

    Saya pernah mengalami baby blues, apalagi mendengar tangisan anak secara terus menerus membuat saya pribadi panik. Kalau dinget-inget jadi sedih, kok bisa ya?

    • melinase December 24, 2019 at 5:34 pm Reply

      Tangisan anak beneran bikin panik. Khawatir dia kenapa-kenapa, lebih khawatir lagi kalau aku adalah penyebabnya, huhuhu …

  • Diary Novri December 24, 2019 at 1:53 pm Reply

    Kasus baby blues kadang malah memberikan stigma buruk kepada si ibu.. Support system yg baik utk ibu baru melahirkan khususnua dari suami, sangat membantu si ibu pulih dari baby blues . moga makin banyak suami yang paham ttg baby blues

    • melinase December 24, 2019 at 5:35 pm Reply

      Dicap perempuan lemah dan payah dalam mengurus anak gitu ya, Mbak. Sedihnya …

  • Dian December 24, 2019 at 3:03 pm Reply

    Aku setuju, pasangan sangat berperan penting dalam menjaga kewarasan ibu post partum..
    Prinsip di keluargaku, “bikinnya berdua, ngurusnya juga berdua”

    Biar sama sama happy mengasuh anak

    • melinase December 24, 2019 at 5:35 pm Reply

      Nah, ini baru kece.

  • Yelli December 24, 2019 at 3:40 pm Reply

    Terima kasih banget informasinya mba. Saya sebentar lagi akan melahirkan, dan ini pula yang menjadi kecemasan saya. Apakah saya bisa melewati semua itu? Semoga tulisan dari Mba ini bisa menjadi bahan diskusi bersama suami untuk sama2 saling support.

    • melinase December 24, 2019 at 5:36 pm Reply

      Semoga persalinannya berjalan lancar ya, Mbak. Benar-benar menyiapkan diri sebaik-baiknya. Jangan lupa ajak suami untuk terus mendukung dan membantu, yaaa …

  • Priyani Kurniasari December 24, 2019 at 4:16 pm Reply

    Aku dulu juga sempat baby blues, bawaannya marah-marah, gak mau ketemu tamu dan merasa sebel sama bayi mbak..awalnya karena sering mendapat tekanan keluarga sih dulunya

    • melinase December 24, 2019 at 5:37 pm Reply

      Huhuhu … Jadi bayinya yang menjadi kambing hitam, ya. Tapi ini memang terjadi begitu saja, sih, bukan faktor kesengajaan.

  • Neng Nunung December 24, 2019 at 4:20 pm Reply

    peranan suami dan supporting system untuk membuat ibu lebih bahagia pasca melahirkan ini luar biasa penting ya mbak… kadang emang stigma masyarakat bikin baby blues makin parah

    • melinase December 24, 2019 at 5:37 pm Reply

      Masyarakat sekitar kadang terlalu kejam dalam memberikan pernyataan ya, Mbak?

  • Uchy Sudhanto December 24, 2019 at 6:54 pm Reply

    Suami itu emang support system paling deket. Apalagi kalau tinggal cuma bertiga dengan suami dan anak. Suami jaman sekarang juga harus memberdayakan diri sebagai suami dan ayah

    • melinase December 25, 2019 at 2:58 am Reply

      Betul, Mbak. Orang terdekat kita. Bagian tak terpisahkan dari putra-putri kita.

  • Alaika December 24, 2019 at 7:23 pm Reply

    Menjadi seorang ibu memang luar biasa perjuangannya, ya, Mba. Di masa melahirkan Intan, 23 tahun lalu, saya juga belum mengenal baby blues, Mba. Proses kelahiran yang sulit, 3 x 24 jam di ruang partus, dan berujung ke meja operasi karena tetap bukaan satu. Akhirnya Intan lahir via caesar karena ternyata tulang panggul saya sempit dan baby kebesaran, 3,8 kg dan panjang 52 cm. Capek, lelah, kuatir.

    Tapi untungnya, walau kami hanya berdua (saya dan suami) kami menikmati semua perjuangan dan keindahan menjadi orang tua baru. Panik, menangis bersama Intan, sering saya lalui, dan saya belum ngeh jika itu termasuk salah satu bagian dari baby blues, hehe. Alhamdulillah, semuanya terlalui dengan baik.

    Semoga tulisan ini menjadi pencerahan bagi teman-teman lainnya, utamanya para suami untuk lebih memahami kondisi sang istri paska melahirkan, ya, Mba.

    Nice post! 🙂

    • melinase December 25, 2019 at 3:00 am Reply

      What? Putrinya sudah usia 23 tahun? Mbak Al awet muda bangeeet, hihihi …

      Memang lho, menantikan persalinan yang bukaannya nggak kunjung maju itu bikin khawatir banget. Macam-macam pikiran lewat deh di kepala.

      Alhamdulillah ya Mbak, susah senangnya dijalani bersama. Seperti itulah seharusnya seorang suami terhadap istrinya.

      Thank you ya, Mbak Al …

  • Shovya December 24, 2019 at 9:52 pm Reply

    Saya sering membaca tentang baby blues dan support dari pasangan, keluarga hingga lingkungan merupakan hal yang sangat penting bagi seorang ibu yg sedang mengalami baby blues, saya hanya bisa mendoakan semoga ibu2 yg sedang berjuang membesarkan buah hati nya, sebagai istri bahkan yg sambil bekerja tetap menjadi wanita kuat 😊 semoga suatu saat saya juga diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki seorang baby dan menikmati hectic nya menjadi seorang ibu 😊 nice share mbak..

    • melinase December 25, 2019 at 3:02 am Reply

      Hi Mbak. Iya, sambil menantikan hadirnya buah hati, boleh lah ya perkaya wawasan tentang kehamilan, persalinan dan pasca persalinan dulu. Sebagai ikhtiar juga, kan?

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga Allah berikan jalan indah ya Mbak, dengan diberikan kesempatan menjadi ibu. Salam sayang …

  • Aprilia December 24, 2019 at 11:04 pm Reply

    Menjadi seorang ibu memang tidak mudah, ya. Itulah sebabnya Allah menempatkan Surga di bawah telapak kaki ibu. Terima kasih telah menulis artikel penuh manfaat ini, mom 😊

    • melinase December 25, 2019 at 3:03 am Reply

      Betuuul … Jalan menuju surga tidaklah mudah, ya. InsyaAllah, sepanik apapun kondisi pasca persalinan dulu, aku dan pastinya semua ibu di dunia, sangat mencintai buah hatinya.

      Sama-sama ya, Mbak …

  • Nurhilmiyah December 25, 2019 at 4:12 am Reply

    Full support wajib banget dilakukan dr orang yg paling dekat sm ibu br lahiran… Suami, mertua dan sahabat. Terutama dr paksu. Kl udah didukung sepenuhnya ama hubby, insyaallah ibu serasa wonder woman deh hehe

    • melinase December 25, 2019 at 7:16 am Reply

      Yes, betul sekali. Terutama suami ya, Mbak.

  • Lasmicika December 25, 2019 at 5:53 am Reply

    Saya kena baby blues pasca melahirkan anak kedua. Setiap malam menangis tanpa sebab. Saat itu sedang menjalani LDM, tapi beruntung orang tua dan keluarga sangat support sehingga BBS tak berlarut-larut.

    • melinase December 25, 2019 at 7:17 am Reply

      Huhuhu … Sedihnya … Alhamdulillah ya Mbak, lingkungan terdekat yaitu orangtua turut mendukung.

  • Shyntako December 25, 2019 at 6:32 am Reply

    Aku tuh support banget deh mba kalo ada penyuluhan tentang babyblues ini. Karena kadang celetukan-celetukan dari orang-orang sekitar yang kadang malah bikin kita drop secara psikologis.

    • melinase December 25, 2019 at 7:17 am Reply

      Nah, celetukannya suka sadis-sadis sih, yaaa …

  • Sumiyati Sapriasih December 25, 2019 at 6:47 am Reply

    Dukungan keluarga sangat diperlukan untuk menghindari Baby Blues terutama suami dan orang tua

    • melinase December 25, 2019 at 7:17 am Reply

      Betul sekali, Mbak.

  • April Hamsa December 25, 2019 at 7:49 am Reply

    Aku sempet baby blues juga krn anak pertama kecil dan susah nyusu, tapi kata bu dokter gak terlihat, mungkin krn faktor kami jauh dr ortu mertua jd bisa lebih tenang fokus ke anak, walau tetep struggling hehe. Dan suami bantuin bener.

    Beneran nih kyk silent killer buat ibu2 kalau gak segera ditemukan penyebabnya. Makanya dukungan pasangan penting ya mbak

    • melinase December 26, 2019 at 4:19 am Reply

      Sebenarnya umum banget ya Mbak, dirasakan oleh hampir semua ibu pasca melahirkan. Utamanya sih di anak pertama.

  • Malica Ahmad December 25, 2019 at 8:41 am Reply

    Ah, soal baby blues ini aku juga mengalami mbak. Dan nggak enak banget. Malah parahnya orang terdekat nggak paham dan ngejudge gitu aja. Nyesek deh.

    • melinase December 26, 2019 at 4:20 am Reply

      Gemes ya kalau orang terdekat malah jadi musuh bukan pendukung, hahaha …

  • Kartika December 25, 2019 at 11:34 am Reply

    Waktu kakakku hamil, dia balik ke rumah orangtuaku. Karena suaminya bekerja di luar kota, lebih baik tidak sendirian dan berkumpul bersama kami. Setiap hari sepulang kerja, aku selalu diingatkan oleh ibuku. “Ajak ngobrol kakak, temani di kamar, kasihan kalau kesepian gak ada teman ngobrol.” Kemudian aku baru mendengar soal baby blues. Aku langsung merasa bersyukur bisa ikut membantu (meski sedikit) mengurangi rasa sendiri kakak. Paling tidak ada suasana baru yang aku bawa, dengan bercerita tentang dunia luar (kantor). Jadi kakakku tidak melulu terkungkung dalam dunia perbayian saja.

    • melinase December 26, 2019 at 4:20 am Reply

      Wah, ibunya keren, Mbak. Mengerti banget kondisi ibu pasca melahirkan yang butuh teman, ya. Salam buat ibu ya, Mbak …

  • lita chan lai December 25, 2019 at 12:03 pm Reply

    terkadang omongan2 orang yang merasa paling bener inilah yg bikin adikku kenal Baby blues. untungnya keluarga dan pasangan adikku segera tanggap. dan membantu kembalikan dan memulihkan. thank mba, infonya sangat bermanfaat….

    • melinase December 26, 2019 at 4:21 am Reply

      Lidah itu memang beneran tajam ya, Mbak. Mesti hati-hati saat menggunakannya.

  • Nanik K December 25, 2019 at 10:09 pm Reply

    Mbak Mel … berpelukan yuk.
    Dulu aku pun di awal punya baby juga pernah merasa punya baby merepotkan. Sempat kepikir begini di kepala, duh … nih bayi kenapa be’0l lagi, nangis lg, pipis lg, hehe.
    Tp setelah si baby sakit, diriku langsung lemes mbak.
    Sejak itu semua urusan hatiku selalu ku pas-in dg mood si baby.
    Eh tapi ada masalah lg, air susuku pun lama nggak keluar2 krn tdk di massage, haduhh omongan org yg jenguk si baby itu bikin perut makin mules dan bikin emosi.

    Memang benar mb, dukungan pasangan secara nyata memang sangat dibutuhkan di masa2 sulit ini.

    Bismillah bisa bertemu pasangan hidup yang selalu membersamai hingga ke Jannah-Nya, ya mbak.

    Peluk jauh dari Sidoarjo. 🤗😘

    • melinase December 26, 2019 at 4:21 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin … Makasih banyak Mbakku, sayaaang …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.