Moms Baper; Pastikan Berhenti pada Level yang Seharusnya

Source: Pexels

“Hah? Jadi aku ini orang Jawa? Kenapa Mama nggak ajari aku Bahasa Jawa? Kenapa Mama malah ajari aku Bahasa Inggris?”

Saat Cita-Cita Ananda Tak Setinggi Harapan Kita

Saya melongo mendengar pertanyaan bernada protes tersebut dari Nona Kecil, putri bungsu saya.

Lho gimana, sih? Kok malah kepengen belajar Bahasa Jawa aja? Huhuhu … Kan bahasa asing, minimal Bahasa Inggris, menjadi salah satu kemampuan untuk bisa terjun di kancah internasional. Saya bilang kalau bisa berbahasa asing, putri saya itu nggak akan kesulitan kalau nanti akan tinggal dan bersekolah di luar negeri.

“Aku nggak mau sekolah di luar negeri. Aku mau dekat Mama aja.”

Source: Pexels

Saya tambahkan lagi, bahwa di jaman mamanya ini aja, orang yang mau bekerja itu sudah nggak bisa nggak, wajib bisa berbahasa Inggris. Bahkan sekarang malah banyak banget perusahaan yang mensyaratkan kandidat menguasai Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, atau Bahasa Korea.

“Aku nggak mau kerja kantoran. Aku mau kerja di toko aja. Kan nanti kalau uang aku udah banyak, aku mau belikan Mama toko. Nanti aku kerja sama Mama aja.”

Kemudian sang mama terbaper ria. Dulu Nona Kecil sempat punya cita-cita menjadi dokter kecantikan, guru matematika, guru bela diri, eh kenapa sekarang cuma kepengen kerja di toko?

“Hadoooh … Kan nggak kereeen ….”

Working Mom VS Stay at Home Mom

Pada suatu waktu, saya dibuat gemes oleh komentar seorang teman tentang shared post saya di sebuah media sosial. Picture-nya menggambarkan beberapa kemudharatan saat perempuan bekerja di luar rumah. Padahal di original post itu sendiri, caption-nya sama sekali nggak memojokkan peran perempuan bekerja.

Di sana dituliskan bahwa setiap perempuan juga terlahir dengan menjalankan perannya masing-masing. Ada yang harus bekerja sebab menjadi pencari nafkah bagi anak-anaknya, membantu biaya pendidikan adik-adiknya, memerlukan tambahan biaya untuk pengobatan orangtuanya, dan lain-lain. Juga, terkait dengan fakta bahwa ada orang-orang yang membutuhkan profesi yang lazimnya diisi oleh perempuan. Sebut saja profesi bidan, dokter kandungan, guru TK, dan terapis baik kesehatan maupun kecantikan.

Pada shared post, saya menambahkan sedikit caption, “Sebab hidup setiap kita tidak lah sama.”

Ada sebuah komentar yang tanpa basa-basi masuk di shared post tersebut. Perempuan nggak boleh bekerja di luar rumah karena menyalahi aturan agama, apapun alasannya. Komentator ini juga menambahkan dalil berupa salah satu surat di dalam Al Qur’an berikut artinya.

Belum berhenti sampai di sana, dia juga menyampaikan bahwa nyatanya kehidupan finansialnya baik-baik saja setelah mengundurkan diri dari perusahaan. Bersama sang suami, mereka berdua bekerja sama mulai dari urusan domestik, mengantar jemput anak-anak ke dan dari sekolah, sampai menangani urusan perdagangan dalam rangka mencari nafkah.

Selang beberapa waktu – mungkin hanya berjeda nggak sampai sebulan kemudian sejak komentar itu muncul, datang sebuah pesan di aplikasi WhatsApp saya. Dari dia. Kemungkinan itu blast message yang dikirimkan ke semua calon pelanggan. Saya nggak mau GR dengan berpikir dia khusus mengirimkan pesan itu khusus buat saya. Isinya kurang lebih begini:

“Sudah pada gajian, kan? Mau nggak nyobain produk dagangan saya …”

Saya senyum-senyum. Dalam hati kepengen membalas pesan itu tapi nggak tega.

“Oh, masih butuh perempuan bekerja ya buat jadi target pembeli?”

Ada Apa dengan Baper?

Sejak kapan sih istilah baper muncul? Awalnya saya nggak paham baper itu apa. Tapi pada saat saya tahu kalau baper merupakan akronim dari bawa perasaan, menurut saya itu wajar, sih. Ya namanya juga perasaan, datangnya dari hati, pastinya kemana-mana dibawa. Kalau perasaan itu ditinggal, jadi manusia nggak berperasaan, dong. Apa nggak jadi sadis itu?

Tapi yaaa, ngerti deh kalau yang dimaksud baper itu adalah kondisi mudah tersinggung, mudah terbawa emosi, mudah terbawa perasaan sehingga jadi sedih atau marah.

Kalau baper ini terjadi pada perempuan, sebenarnya wajar aja. Perempuan memang makhluk ciptaan Tuhan yang mengedepankan emosi saat merespon sesuatu.

Tapi, jangan dibiarkan berlarut-larut. Selayaknya kuman, dia bisa berkembang biak, lalu merugikan diri sendiri.

Terlanjur Baper, Harus Bagaimana?

Dua cerita di atas fix, berhasil bikin saya baper. Tapi, ada catatan penting yang harus dilakukan agar baper ini nggak jadi penyakit yang berkepanjangan. Kalau sayang pada diri sendiri, saya harus melakukan langkah-langkah menghadapinya:

1. Menyadari dan Mengakui

Kalimat yang tercetus dari lisan atau tulisan orang lain membuat kita terseret-seret oleh perasaan, bawaannya emosi, sedih, mau marah, akui aja.

“Aduuuh, baper banget deh sama kalimat orang itu. Nggak punya perasaan banget, sih.”

Tahu nggak, bisa menyadari dan mengakui bahwa diri kita merasa nggak nyaman dengan suatu kondisi, akan memudahkan diri kita juga dalam mencari solusi.

“Saya sedih, saya marah, saya baper. Kenapa coba? Iya, gara-gara dia, tuh …”

Sudah tahu kan, baper-nya karena kalimat yang dilontarkan seseorang. Nah, dengan begini kita bisa lebih rasional dan waras dalam mengobati baper di dalam diri.

“Dia tuh tadi ngomongnya begini. Bikin baper …

Source: Pixabay

Nah, penyebabnya baper-nya udah ditemukan. Sekarang tinggal mencari solusi. Beda lho, kalau kitanya nggak menyadari dan mengakui bahwa kita memang tengah baper. Gimana mau cari solusi kalau inti masalahnya aja nggak teridentifikasi?

Moms bisa bandingkan saat ada bagian dari tubuh kita yang sakit. Di bagian kepala, misalnya. Tahu-tahu kita datang ke dokter. Menyampaikan bahwa ada bagian di tubuh yang sakit. Lalu kita bilang bahwa cuma kepalanya yang sakit. Padahal aslinya, sakit di kepala bersumber dari perut. Asal mulanya karena kita terlalu banyak makan makanan pedas, asam lambungnya naik, lalu menjadi sakit kepala. Kalau nggak jujur, dokter pun susah dong kalau mau mengobati. 

 

2. Menyadari Bahwa Setiap Orang Berhak Mengemukakan Pendapat

Ada istilah lama yang bunyinya begini, ‘Rambut sama hitam, tapi isi hati siapa yang tahu’. Setiap orang bebas mengemukakan pendapatnya. Perbedaan pendapat terkadang bisa menjadi awal dimulainya diskusi. Tapi nggak jarang juga perbedaan pendapat memicu perdebatan. Masing-masing tetap teguh pada argumentasinya. Pemenang nggak akan dilahirkan di sini, tapi permusuhan yang kemungkinan besar malah timbul.

Jadi, kita harus menyadari bahwa setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. Soal cara berpendapat yang nggak ngenakin, ini dia yang suka bikin baper.

Source: Pixabay

3. Berpikir Positif

Pernah nggak bertemu dengan orang yang intonasinya saat bicara tuh lempeng terus macam talenan? Nggak ada nada naik, turun, bergelombang gitu, yang bisa membuat lawan bicara jadi adem? Pasti pernah, dong.

Source: Pexels

Kadang nih, yang bikin baper itu intonasinya lho, bukan isi kalimatnya. Saya pun suka kesulitan menerawang emosi seseorang kalau kalimat itu disampaikan dalam bentuk tulisan.

Pemaknaan kalimat tertulis itu sebenarnya diputuskan oleh otak kita sendiri. Lebih-lebih kalau yang melontarkan kalimat begitu royal menempatkan tanda seru berkali-kali dan di mana-mana. Serasa dibentak-bentak gitu nggak, sih?

Tapi orang-orang yang model gini memang banyak, kok.

Jadi, no baper ya, Moms. Positive thinking saja. Siapa tahu dia nggak sepatuh kita dalam mengaplikasikan tanda baca ke dalam tulisan, wkwkwk

Pastikan Baper Berhenti di Level yang Seharusnya

Kenapa sih Nona Kecil semangat banget membelikan toko buat mamanya?

Jelaslah, dia itu anak Sensing yang fokusnya memang pada sesuatu yang berwujud nyata dan menghasilkan uang. Dia belum bisa membayangkan dunia kerja ala kantoran itu bagaimana, apa yang dikerjakan, dan bagaimana bisa memperoleh uang.

Kalau yang namanya jualan, wah, dia udah paham banget deh. Ada transaksi, tukar menukar barang dengan uang, jadi deh banyak uang, hahaha

Soal anak saya malah kepengennya diajari Bahasa Jawa, ya bener juga, sih. Kan malu ya kalau meninggalkan warisan budaya asal. Apalagi nih, Nona Kecil itu memang terlihat antusias banget sama tema-tema kebudayaan. Dia suka tarian tradisional, wayang, pakaian adat, museum, lagu-lagu daerah, dan pencak silat. Mungkin benar kata salah satu teman saya, Nona Kecil cocok kalau nantinya belajar di Institut Seni Indonesia (ISI).

Jadi yaaa, saya baper soal cita-cita Nona Kecil yang rasanya kurang keren, nggak apa-apa, dong. Tapi saya nggak mau membiarkannya naik ke level berikutnya. Cukup sampai tahap, “Iya, memang saya baper. Tapi cita-cita kan anak saya yang punya. Sebagai orangtua, wajib mendukung aja.”

Source: Pexels

Soal teman saya yang keukeuh tentang betapa terhormatnya perempuan kalau tetap berada di rumah, saya memilih mengabaikan juga sih, ya. Saya jelaskan panjang lebar alasan harus bekerjanya kenapa, memangnya bakal berpengaruh? Apa pentingnya saya harus membuat orang lain paham atas keputusan yang saya ambil?

Sudah deh, saya memilih menyudahi perdebatan. Diskusi boleh, tapi kalau berdebat saya nggak suka. Perdebatan terjadi karena ada dua pihak yang teguh dengan pendapatnya masing-masing. Pemikiran sudah jelas berbeda. Kalau dilanjutkan, bisa-bisa tahu-tahu penduduk bumi sudah bisa ke planet lain tanpa saya tahu beritanya.

Lalu, boleh dong saya bilang, “Hai kamu, selamat lho udah berhasil bikin saya baper. Tapi saya bakal tetap bekerja, sih. Kalau terus-terusan menghujat begitu, memangnya kamu siap mencarikan orang yang mau menafkahi anak-anak saya dan banyak orang di luar sana yang kamu perlakukan sama?”

Wkwkwk

Belum lama sejak tulisan ini saya daur ulang, Nona Kecil sempat demam dan batuk. Begitu kondisinya membaik, dia peluk saya sambil bilang, “Mama, terima kasih ya sudah menjaga aku. Aku janji akan membuat Mama bangga. Aku akan jadi dokter hewan yang di masa depan.”

Loh, cita-cita kerja di toko tiba-tiba melesat jadi dokter hewan? Kok bisa? Aihhh, Nona Kecil bikin mamanya baper lagi.

Kalau Moms sekalian, peristiwa apa yang pernah bikin baper juga? Yuk, share di sini.

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

1 Shares:
52 comments
  1. Bukan pernah baper, tapi masih suka baper kalo dikatain anak2 saya pada kurus, gak dikasih makan ya? Ditambah lagi dilontarkan oleh orang yang seharusnya masuk support system, tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai berkurang bapernya, wes biarin aja mau komentar apa juga monggo

  2. Baper tu kalau hidup kita di compare dengan orang lain huhu
    Kadang berusaha biasa aja dan ga nampak baper, tp dlm hati baper , tapi lambat laun ilang sdiri bapernya. begitulah sifat manusia ya kan hehe

  3. Namanya manusia, aku juga pernah baper..
    Tapi klo da bisa mengatasinya, jadi sadar..
    Bahwa setiap orang punya jalan hidup masing2..
    Saat melihat orang lain, kita blh terinspirasi tdk terintimidasi

  4. Duh, Mbak. Kenapa nggak ditanggapi begini pesan itu orang:

    “Oh, masih butuh perempuan bekerja ya buat jadi target pembeli?”

    Hihihi.

    Saya setuju dengan apa yang Mbak Melina tuliskan, sebab masing-masing kita kehidupannya tidaklah sama.

    Saya sendiri sejak lulus kuliah lebih memilih menjadi stay at home mother. Jleb-nya banyak yang memojokkan saya HANYA jadi ibu RT padahal sarjana Teknik. Padahal ya itu tadi, setiap dari kita punya kehidupan yang berbeda.

    Ada orang yang memang takdir membawanya kepada kehidupan menjadi orang yang bekerja di kantoran. Lalu kalau kemudian seseorang yang resign dan mengatakan kepada orang lain bahwa hidupnya baik-baik saja kepada orang yang tak sama dengannya, apakah dia mau menjamin kehidupan orang itu kalau kemudian ternyata tak seberuntung dirinya?

    Gemes deh sama yang kayak begini.

    Haha

    Tapi ya itu memang ya pada akhirnya kita yang harus berhenti baper. Kalau tidak ya bakal rugi sendiri.

    1. Hanya berani bilang di dalam hati, hahaha … Khawatir nanti malah menyakiti dia gitu sih, Mbak. Yaaa, mungkin aja sewaktu dia kirim blast WA itu sudah punya pemikiran yang berbeda bahwa perempuan bekerja atau ibu rumah tangga itu sama mulianya, ya.

      Selamat menjalankan peran sebagai stay at home mother ya, Mbak. Apapun itu, selama kita bahagia dan bisa mengisi peran terbaik, kenapa nggak?

  5. Sebel juga sih kalau dikit-dikit dikatain “baper amat sih”, kan tujuannya curhat gitu, pengin terbuka aja, eh ternyata dikatain baper2 gitu langsung ciut nih ati. Setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda saat berada dalam kesulitan. Huhuhu jadi milih-milih teman kalau mau curhat, kan butuh didengar

    1. Curhat memang harus pilih-pilih teman sih, Mbak. Kalau aku, bukan hanya soal teman yang bisa menjaga rahasia. Pada dasarnya curhat itu hanya kepengen mengeluarkan uneg-uneg, sih. Tapi curhat ke sesama perempuan, biasanya yang ada malah jadi semakin panas, hahaha … Curhat ke teman lelaki pun segan. Jadi wis lah curhat lewat blog aja, hahaha …

  6. Menurut saya, Baper itu wajar..hanya memang kita harus tahu batasnya dan tak berlarut hingga mempengaruhi kehidupan kita. Oya, salam sayang utk nona kecil yg cerdas yaa.. senang mengetahui ada anak muda yg antusias dg budayanya..

  7. Jujur kalau baper berlebih gak bakal bisa buat diri kita maju sih,
    Kalau aku lempeng2 aja sih kak,tipekal orngnya memng didunia ini setiap orng da yng suka dan tidak suka terhadap kita tapi kebanyakan yng gak sukanya,selingkuh dari itu suami aku selalu mengajarkan Maafkan Lupakan biar hati lapang dn tidak timbul penyakit hati nnatinya ?

  8. Kadang nih, yang bikin baper itu intonasinya lho, bukan isi kalimatnya. Bener bangettttt ini. Hahaha.
    Tapi zaman sekarang mau di rumah mau di luar, setiap ibu tetap bisa bekerja (dalam arti kata: menghasilkan uang sendiri) kok mom. Malah kadang emak-emak yang bekerja dari rumah gajinya justru lebih besar dari suaminya. Hahahaha

  9. Mba, kebetulan aku belum jadi Mom dan sekarang kerja kantoran. Menurutku baper itu wajar, tapi bener jangan berlarut-larut. Manusia kebutuhannya berbeda, jadi nggak perlu membandingkan ibu bekerja dan ibu di rumah. Aku sering baca tuh tulisan-tulisan begitu. Kadang yang nulis begitu yang dulunya kerja terus ‘dipaksa’ resign karena keadaan. Aku nyebutnya ibu-ibu SJW alias Social Judgement Warrior! Haha.

    Padahal perannya masing-masing sama sebagai ibu, hanya cara memenuhi kebutuhannya kan berbeda. Harusnya bisa saling menghargai satu sama lain . Btw aku kalau udah berkeluarga pun akan tetap bekerja kok. Hahaha.

    1. Whoaaa … Aku baru denger tuh istilah SJW, hahaha …

      Bisa jadi orang-orang seperti itu pun tengah tertekan dengan dirinya sendiri, ya. Lalu dia luapkan deh ke orang lain. Sedih malahan.

  10. Saya tertawa soal cita-cita anak-anak yang memang berubah-ubah ya, Mbak Melina. Besok mau jadi ini, besoknya jadi ini, besoknya lain lagi hahaha. Tapi kelak mereka akan menemukan sesuatu yang pas untuk mereka.
    Dan kalau membahas seorang Ibu yang bekerja kantoran atau di rumah, menurut saya itu pilihan. Dan kita harus menghormati ssetiap pilihan. kalau dijadikan perdebatan, bahkan sampai sok mengajari seperti temannya yang jualan itu, sudah tidak pas. karena masing-masing kan, menjalani kehidupan berbeda.

    1. Iya e, Mas. Cita-cita pengen kerja di toko mamanya tuh terdengar amat nggak keren buat aku. Tapi ya gitu, mungkin dia merasa toko itu duitnya banyak gitu ya, hahaha …

      Iyes, kehidupan setiap orang nggak mungkin kembaran semua ya, Mas.

  11. Karena belum ganti status, daku mengingat masa kecil aja, yang sama itu suka ganti cita-cita. Hanya aja tanpa disadari pas besar sekarang malah satu per satu cita-cita daku terwujud. Haha, entah karena berubah keinginan, yang pasti sih memang rezekinya begitu.

    Jadi kalau anaknya kak Mel berubah cita-citanya, gak apa-apa juga sih menurutku, siapa tahu bisa mewujudkan nya juga satu per satu, hihi

  12. Apa yaa yg bikin saya baper….ohh ada sih hihi… Udah jelas² wassapan sama seorang teman n mencoba lbh akrab trus pas jam j suatu acara saya berharap dia mbok ya WA saya gitu,, blgin acara udah mulai.. Eh malah pesan saya itu di-read dong dan akhirnya saya telat deh huhuu… Orgnya biasa² aja gak ada merasa perlu say somethin’. Saya yg sok akrab x ya… Sungguh teganya si mbak itu.. Hiks hikss baper dehh (ambil tisu)

  13. Masalah wanita bekerja atau ibu rumah tangga biasa memang sering jadi pro kontra ya. Padahal aslinya semua kembali pada sikon masing-masing orang. Yang penting di manapun posisi kita, kita tetap menjadikan keluarga sbg yang utama. Tapu saya juga sering baper kalau ada yg tanya pekerjaan bloger itu apa?

  14. Akhir-akhir ini aku lagi baper kalo lihat postingan teman-teman yang sedang pergi berlibur, kesel sendiri karena suami lagi bnyk kerjaan dikantor dan aku lagi hamil muda. Mencegahnya ya dengan jarang buka sosmed agar hidup lebih tenang

  15. bener banget.kadang kita sebagai orangtua ini lebay. Maunya anak itu begitu begini begono, karena kita merasa tahu yang terbaik untuk anak. nah saat ada sesuatu yang tidak sesuai imajinasi kita mulai deh baperan

  16. Dulu awal2 saya memutuskan untuknjd freelancer, prnh baper juga.
    Datangnya dari kerabat dekat lagi.
    Tapi sebentar aja bapernya.
    Seperti yang dirimubkatakan mba, buat apa musingin perkataan dia itu, dia yg bikin baper ndak ada andil dalam kelangsungan hidup kita.
    Yg penting kita tidak melakukan hal yg bertentangan dgn norma, baik agama ataupun sosial

    1. Pekerjaan yang kelihatannya nggak kerja memang sering jadi cibiran sih, ya. Ah, itu sih karena mereka belum mengerti aja, sih. Jaman dulu kan nggak ada ya pekerjaan semacam blogger begini ya, Mbak.

  17. Masih mending itu keknya mau jd penjaga toko, anakku tu ditanya mau jadi apa, dia jawab gak mau jd apa2 , lha emaknya mumet haha 😛
    Aku zaman baper tu pas zaman anak pertama aja, tapi juga gak terlalu lama sih, “beruntung” jauh dari keluarga, jd gak terlalu lama bapernya.
    Kalau skrng pakai kacamata kuda soal hal yang berkaitan dengan anak, fokus ke anak sendiri 😀

    1. Wah, calon sultan berarti Mbak, hahahaha … Siapa tahu tho ntar malah jadi pengusaha yang karyawannya ribuan. Karyawannya kerja, bisnisnya jalan, eh anaknya Mbak April halan-halan.

      Hahaha … Kadang ada baiknya yang berjauhan begitu selain bisa lebih mandiri.

  18. Wkwkwk baper identik bgt sama perempuan yak wkwk semakin kesini saya justru semakin berfikir udah filter apa yg boleh dan gak boleh masuk ke dalam hati saya. Karena kalo setiap hal yg ga enak di masukin ke hati, kapan saya bahagianya? Hahahah

  19. Mba Melin, aku pernah dong baper wkwkwk baper sebel ngedumel wkwkwk komplit
    tapi kalo udah ya udah sih. Abaikan orang yang, membuat kita jadi kepikiran hal yang nggak penting
    kehidupan setiap orang soalnya berbeda.

  20. Dulu iya mbak, saya baperan. Orang ngomong apa dikit, bikin saya baper berminggu² kemudian. Sampai satu hari saya sadar, ngapain baper, wong orang² yg ngomong gitu gak ngasi uang buat makan, gak bayar sekolah anak dll…

    Alhamdulillah sekarang saya bsa lebih santai menikmati hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like