Menggenggam Tangan Buah Hati Menuju Gerbang Peradaban

Pernah ada suatu masa ketika saya berpikir sudah menjadi ibu yang hebat bagi putra-putri saya. Saat dengan sombongnya saya bisa berkata dalam hati, “Saya hebat. Saya bekerja tapi anak-anak nggak kehilangan haknya memperoleh ASI meskipun berupa ASIP saja.”

Saya sudah merasa begitu sempurna dengan mau berlelah-lelah membawa kotam hitam Medela lengkap berisi breast pump, ice gel, dan enam botol berukuran 150 ml yang seringnya saya bawa pulang dalam keadaan penuh.

Di dalam benak, saya berpikir bahwa nggak apa-apa mereka kehilangan saya selama minimal 16 jam setiap harinya, selama hak mereka memperoleh ASIP dan finansial mereka tercukupi. Toh, Sabtu dan Minggu saya berada di rumah.

Pernah ada suatu masa ketika saya berpikir saya sempurna karena bisa memenuhi kebutuhan anak-anak yang ayahnya nggak bisa memenuhi. Pakaian yang layak, makanan yang lezat, jalan-jalan yang menyenangkan, sampai pendidikan yang terbaik.

Pada akhirnya, apapun yang berenergi negatif akan selalu melelahkan, termasuk sifat sombong. Berhasil memberikan ASIP penuh dua tahun untuk putra-putri saya bukan lagi sesuatu yang bisa saya anggap prestasi besar. Bagi saya mungkin iya, tapi bagi orang lain belum tentu. Ternyata, ada perempuan yang seberapa besar mereka mencoba, ASIP tidak bisa keluar.

Menjadi single fighter bagi diri sendiri dan anak-anak kemudian juga saya coret dari daftar prestasi. Masih banyak single mom lain yang bisa melakukan lebih dan masih banyak ayah hidup terpisah dari putra-putrinya namun tetap bertanggungjawab. Saya hanya lebih beruntung karena Allah memudahkan.

Menjadi Ibu; Kemana Anak-Anak Hendak Dibawa?

Tepat dua tahun, sejak saya memutuskan mengundurkan dari perusahaan tempat saya bekerja hampir 12 tahun lamanya. Dua belas tahun kurang satu bulan. Jangan tanya bagaimana rasanya. Sangat berat. Padahal, saya seharusnya tetap bekerja, mencari nafkah.

Anak, menjadi alasan utama. Saya merasa harus bertanggungjawab mengembalikan rasa percaya dirinya setelah hari itu. Hari di saat dia berteriak di depan kelasnya, berkata kepada gurunya bahwa dia nggak tahu nama ayahnya. Semuanya berawal dari selembar kertas berisi nama kedua orangtua dan perannya di dalam rumah. Sejak hari itu, dia yang biasanya memulai pagi di sekolah dengan menggambar, hanya mau duduk sambil meletakkan kepala di atas kedua lengannya yang terlipat.

Enam bulan sejak saya mendampingi, dia mengalami perkembangan pesat. Nilai-nilainya meningkat cukup tajam tapi saya nggak terlalu peduli soal itu. Tapi mendengar bahwa dia terlihat jauh lebih bahagia, ini yang membuat saya bisa bernapas lega.

Source: Pexels

Enam bulan berlalu, sulung sudah kembali bahagia, tapi saya kembali diminta belajar lebih. Saat Nona Kecil yang cantik dan lucu dinyatakan bisa mendengar tetapi nggak bisa menyimpan. Bagaimana dia bisa belajar? Bagaimana dengan hapalan surat-suratnya? Apa salah saya sebagai orangtua? Apa yang harus saya lakukan? Tulang-tulang saya rasanya seperti diloloskan satu persatu. Saya terpukul, tapi harus mencari tahu lebih banyak.

Kalau saat ini, saya bisa terharu melihat perkembangannya, maka itu semua karena lagi-lagi Allah memudahkan.

Siapkah Putra-Putri Saya Menuju Gerbang Peradaban?

Memutuskan berlelah-lelah menghadapi tekanan yang dialami oleh putra saya, menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Nona Kecil, tak lain karena tanggungjawab sebagai ibu yang nggak bisa saya abaikan. Apa jawaban saya kalau suatu hari nanti Allah bertanya apa yang sudah saya lakukan selama menjadi orangtua?

Percaya diri merupakan salah satu bekal seorang anak untuk bisa berkembang dan siap menghadapi masa depan. Bagaimana mungkin dia siap menghadapi dunia jika dia sendiri nggak yakin pada dirinya sendiri? Dunia terus berkembang dan saya yang harus berada di dekatnya, mengantarkannya menuju gerbang peradaban.

Saya mengabaikan prestasi akademik yang gemilang padanya. Saya tahu persis dia kuat pada hapalan. Maka, saya baru akan marah jika hapalan surat, doa, dan hadits-nya tersendat. Putra saya ini bagaikan ensiklopedia berjalan. Rasa ingin tahunya terhadap alam sekitar begitu besar. Semakin dia mencari tahu, diberikan dukungan, wawasannya semakin terbuka lebar.

Anak yang senantiasa merasa cukup. Bukankah merasa cukup maka kita nanti akan dicukupkan?

Source: Joy

Untuk Nona Kecil, darinya saya banyak belajar bahwa kemampuan seseorang terkadang nggak muncul begitu saja. Tapi bukan harus dipaksakan untuk muncul. Ada upaya halus yang bisa dilakukan sampai rasa percaya diri itu datang. Saya banyak bicara dari hati ke hati dengannya.

Kemudian dia tumbuh menjadi anak yang mudah menerima perbedaan, mungkin karena merasa dia sedikit berbeda dari teman-temannya. Darinya pula saya belajar mendengarkan lebih karena dia sendiri juga melakukan hal yang sama pada teman-temannya.

Menyiapkan Nona Kecil menuju gerbang peradaban, dia mengerti bahwa perbedaan itu wajar, dia mengerti bahwa manusia harus lebih banyak mendengar. Apa jadinya bangsa kita ini nanti jika semuanya harus sama, jika terlalu banyak orang yang lebih ingin bicara?

Menyiapkan Anak-Anak Menghadapi Peradaban Dunia

Setiap orangtua selalu mempunyai cara berbeda dalam menyiapkan putra-putrinya menghadapi masa depan, termasuk menghadapi peradaban dunia, begitu juga saya.

Diberikan dua buah hati yang melalui masa kanak-kanak dengan ujian, saya merasa perlu mengokohkan psikis dan karakter mereka terlebih dahulu. Sulung yang sudah memiliki rasa percaya diri meskipun bukan jenis anak yang berani tampil di depan orang banyak karena memang dasarnya pemalu, tumbuh menjadi anak penyayang, dan bertanggungjawab terhadap apa yang dia kerjakan.

Nona Kecil yang telah berkembang pesat saat ini. Dia yang dulu kesulitan belajar auditory, nyatanya bisa menghapalkan surat demi surat dengan lancar. Bahkan hapalan surat menjadi senandungnya saat di rumah, di kendaraan, di mana saja. MasyaAllah … Dia tumbuh menjadi anak yang mau mendengar lebih banyak dan sangat fleksibel terhadap perbedaan.

Lebih utama lagi, kami harus bersama-sama mengokohkan pondasi iman, mengingatkan waktu-waktu sholat, menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup, dan menjalani hidup sesuai sunnah Rasulullah SAW.

Maka, ketika saya kehilangan masa-masa gemilang pada hampir dua belas tahun lamanya di kantor dulu, Allah ternyata menggantikannya dengan sebuah momen besar. Allah ingin saya menyiapkan mereka agar siap menghadapi dunia.

Salam,

Melina Sekarsari

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.