Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Berpelukan di Alam Kubur

Berpelukan di Alam Kubur

Langkah kaki perlahanku terhenti. Setelah menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, kubalikkan tubuh. Gadis kecil itu berdiri tepat di depanku. Rupanya sedari tadi dia terus mengikuti. Posisi kami saling berhadapan sekarang. Kuminta untuk kembali tapi dia menolak. Lewat nyala lilin yang bergoyang, kilat matanya menyiratkan kemarahan. Seperti mengatakan bahwa dia tidak ingin ditinggalkan.

Sekeliling begitu gelap. Hanya nyala lilin yang masih memberi petunjuk bahwa aku tidak sendirian. Kuberi isyarat, akhirnya gadis kecil itu membalikkan tubuh dan bergerak menuju tempat yang seharusnya. Dalam bayang gelap, sesuatu terlihat jelas di kepalanya. Rambut sebatas ketiak yang biasanya lebih sering terurai, belakangan ini kerap diikat ekor kuda dengan karet rambut berwarna ungu. Rambut ekor kuda itu bergoyang setiap kali dia bergerak.

Source: Pexels

Derit pintu diikuti liukan cahaya lilin sedikit membuatku terkejut. Angin bertiup cukup kencang dari arah jendela yang terbuka. Tatakan gelas dengan lilin yang hanya tersisa setengahnya saja kuletakkan di atas meja. Langkahku bergerak cepat menutup jendela yang hanya berjarak dua ubin dari tempat tidur. Gulita menyapa di luar sana. Ngeri, aku tidak suka kegelapan. Air dari langit masih berebutan turun ke bumi. Suara bantingan jendela bertengkar dengan guntur dan selarik kilat di langit malam.

“Aaargh!”

Leherku sakit. Rasanya seperti tercekik. Oh bukan, ada dua tangan yang memang berada di sana dan melingkari leherku begitu kuatnya. Kuletakkan kedua tanganku di sana. Berusaha melepaskan. Tenaganya kuat sekali. Aku malah nyaris terjengkang. Semakin berusaha melepaskan, semakin tubuh ini terhuyung ke belakang. Lalu benar-benar jatuh di atas tempat tidur.

Dengan cepat, dia sudah berada di atas tubuhku. Pandanganku jatuh pada wajah itu. Dia tersenyum. Dadaku tersengal, susah payah mengatur napas.

“Aku kan sudah bilang. Kita harus selalu sama-sama.”

Telunjukku mengarah ke jendela. Seperti berkata bahwa aku hanya ingin menutupnya.

“Kita ini nggak akan terpisahkan.”

Kepalanya mencari tempat yang nyaman di dadaku. Lalu membaringkannya di sana. Kedua tangannya bergerak turun dari leher. Ganti memeluk pinggangku.

“Aku kan sudah bilang, kita ini seperti magnet. Selalu menempel. Lihat ini … Kita menempel, kan?”

Kepalaku mengangguk. Melingkarkan kedua tangan di punggungnya. Tangan yang masih sedikit basah karena peluh yang menuruni pelipis tadi.

Source: Pexels

Ruangan ini semakin berkurang cahayanya. Kutolehkan kepala ke arah meja. Lilin itu sudah hampir habis. Sebentar lagi gelap akan menyelimuti. Seperti di luar sana.

“Kita nggak akan terpisahkan.”

Dia bersuara lagi.

“Sampai kita meninggal, sampai kita dihidupkan kembali.”

Dadaku terasa sedikit lega. Dia mengangkat kepalanya dari atas tubuhku.

“Bahkan kita nanti akan saling berpelukan di alam kubur.”

Dahiku berkerut.

“Nanti aku meninggalnya belakangan. Aku nanti titip pesan sama penggali kubur supaya makam kita sebelahan.”

Dahiku semakin berkerut.

“Di dalam kuburan nanti, aku akan bertingkah seperti kucing mencakar sofa.”

Ya, kucing-kucing itu suka mencakar-cakar hingga kulit sofa rusak. 

Tubuhnya bergeser ke sisiku. Kali ini dia duduk. “Aku akan mencakar dinding kuburan.” Kedua tangannya mengangkat ke atas. Kesepuluh jarinya melengkung, membuat gerakan seperti mencakar. Matanya membulat penuh semangat. “Aku cakar terus sampai dindingnya berlubang. Lubangnya tadinya kecil, lalu membesar, lalu jadi sebesar tubuhku karena aku terus mencakar.”

Tanganku bergerak menutup mulut. Tidak mengerti apa maksud semua perkatannya.

“Tahu setelah itu apa?”

Kugelengkan kepala. Sedari tadi dia mengucapkan kalimat yang tidak kumengerti arahnya.

“Aku akan masuk ke kuburan di sebelahku dan bilang sesuatu.”

“Apa itu?” Aku memiringkan kepala. Penasaran.

“Hai, Mama! Kita ketemu lagi. Ayo kita berpelukan lagi!”

Dia lalu terkikik geli dan berkata, “Tuh kan, apa kubilang? Kita nggak akan terpisahkan. Bahkan di alam kubur kita akan terus berpelukan.”

Source: Pexels

Cahaya lilin padam. Aku meraihnya cepat ke dalam pelukan. Gadis kecil yang setiap celotehannya seringkali membuat takjub. Dia yang selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Kerap menganggap kami berdua adalah magnet berbeda kutub. Gadis kecil yang sudah terlihat kecantikannya bahkan sejak dia dilahirkan dulu.

Aku memeluknya semakin erat. Menyadari sekali lagi bahwa dia benar-benar salah satu hadiah terindah. Berpelukan di alam kubur seperti yang diucapkannya, mengingatkanku tentang kerinduan yang mungkin saja dirasakan siapapun yang ada di dalam sana. Kerinduan akan keluarga dan pelukan. Menyadarkanku tentang kebersamaan sekaligus kematian. Betapa berharganya waktu bersama keluarga di dunia dan kematian yang bisa datang kapan saja.

Note:

From one of the greatest pillow talk moment with Nona Kecil.

 

Salam,

Melina Sekarsari

88 comments found

  1. Menyentuh sekali mbak..
    Kadang kalau dah berpisah baru sadar seseorang tu berarti..
    Waktu memang tak bisa diganti, tp diperbaiki dimasa yg akan datang ??

  2. Bertemu dan berpisah memang seperti itulah adanya.. Tidak ada yg tau umur manusia. Kita hanya harus bersiap-siap untuk itu.

  3. Judulnya, epic banget. Serem ya kalau mengingat kubur. Kadang emang sebagai manusia, merindukan orang-orang tersayang yang lebih dahulu berpulang.

    1. Suasana padam listrik memang suka bawa suasana jadi horor sih, Teh, hahaha …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin … Sehat-sehat juga untuk Teteh dan keluarga, yaaa …

  4. Mbak….aku speechless, ini indah banget, sumpah!

    Aku membacanya bener-bener tegang awalnya, tapi endingnya aku kaya merasa ada rasa sakit, sedih dan takut kehilangan. Enyahlah….mungkin karena aku mahluk visual yang setiap kali membaca cerita selalu membayangkannya.

    Sungguh ini mengajarkan kita menghargai waktu bersama orang terkasih.

    1. MasyaAllah … Alhamdulillah … Terima kasih yaaa …

      Aku pun sama tegangnya kok karena dia ngomong berpelukan di alam kubur pas malam-malam gitu. Merinding jadinya. Tapi setelah kupikir berhari-hari, Tuhan seperti sedang mengingatkan tentang kebersamaan sekaligus kematian. Jadi hargai waktu kita bersama keluarga.

  5. Well, pertama kali baca judul langsung terbesit donk mengenai cerita2 horor. Tapi pas ditelaah isinya, jauh banget dari kesan horor. Aku jadi terinspirasi buat puisi lagi, dah lama gak menuliskannya 🙂

  6. Kok perasaanku jadi gado2 ya baca fiksi ini. Soalnya anakku yang cewek tu gak bisa bobo kalau gak kupeluk gtu.
    Aku jadi bingung mau komen apa, cerita kematian selalu bikin deg2an, tapi berharap kelak bisa berkumpul di surga brsama keluarga khususnya anak2…

    1. Segado-gado itu juga perasaanku Mbak sewaktu Nona Kecil ngobrol begitu malam-malam. Pakai bilang di alam kubur kita akan berpelukan, huaaa … Entah apa penyebabnya dia bilang begitu. Mungkin Allah sedang mengingatkan aku sebagai orangtua ya untuk terus berbenah karena usia nggak ada yang tahu, hiks hiks …

    1. Aku tak cukup berani menulis horor, Mbakyu … Hihihi … Iya nih, celotehan Nona Kecil tuh sering bikin ibunya susah tidur. Jadilah dijadikan cerita aja. Matur nuwun … Salam sayang juga ya buat Ateu …

  7. Mbak, aku tertipu ih, kupikir yang menempel itu makhluk halus hwaaa. aku pikir ini cerita horor. Ngeri yang bagian mencakar-cakar seperti kucing. Untunglah bukan cerita horor, tapi cerita manis, sweet banget endingnya 🙂

    1. Duh, maafkan ya kalau jadi tertipu, hihihi …
      Iya, makhluk kecil di rumah memang sukanya nempel-nempel gitu sama mamanya. Mana waktu ajak ngobrol tangannya beneran nyakar-nyakar gitu, hihihi …

  8. Aku jadi ingat Keluarga Transylvania gegara openingnya.
    Memang memaknai perjumpaan itu ketika ada perpisahan.
    Semoga kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya bersama orang terkasih.

  9. Jadi baper mbak bacanya. Anak-anak memang selalu berpikir, akan bersama dengan kita selamanya. Kadang saya juga membiarkan hal itu. Toh dengan berjalannya waktu, semakin bertambah usia mereka, nanti mereka juga akan memahaminya. Yang penting kita tidak membiarkan sedetik moment pun untuk terus menjaga kebersamaan dengan mereka, mumpung masih bisa.

    1. Hihihi … Betuuul … Tapi anakku sudah mengerti sih bahwa nanti akan ada perpisahan. Semua makhluk akan mati. Tapi dia berpikirnya di alam kubur bisa main ke ‘rumah’ ibunya. Antara pengen ketawa dan sedih jadinya, huhuhu …

  10. Tadinya serem gimana gitu pas awal baca. Lalu terharu, lalu kebayang gimana rasanya berpisah dengan orang tersayang. Sama mungkin, agak takut juga. Alur kisahnya bagus Mbak…

  11. Terbayang nona kecil ??.meskipun pada awalnya tulisan ini tampak menyeramkan ternyata akhirnya menyejukkan . Anak tuh kadang tak terduga ya jalan pikirannya. Robbiii hablii minasholihiin

    1. Betul, Mbak Sita. Awalnya pun aku ngeri ngobrol di tengah kegelapan dan Nona Kecil bilang begitu. Tapi jadi semakin menyadari bahwa kebersamaan kami di dunia hanya sementara.

  12. Oalahh ini celoteh si kecil, toh Mbak Mel. Kukira horor, hihi.
    Tiwas aku bacanya menjelang subuh, atut aku mbak say. ?

    Btw berarti si adek ini humble seperti Mb Mel, suka cerita endingnya malah berimajinasi ya mbak, mungkin habis lihat cerita apa gitu dia, ya? Pakai berpelukan di alam kubur, hehe.

    Lov u adek.

  13. Masyaa Allah, jadi mengingatkanku akan pentingnya kebersamaan dgn keluarga, sebab kita gak pernah tau kapan waktu itu akan berakhir. Smg kita dan keluarga kita selalu dalam lindungan-Nya

  14. saya jadi ikut terhanyut, terbayang kelakuan anak bungsuku yg selalu menempel dg ku & s3jak bayi sampai lulus smp selalu tidur diatas dadaku.
    Bagus Mba ceritanya…terima kasih sdh berbagi

    1. Wah, kayaknya Nona Kecil juga bakal sepertinya bungsunya Bunda. Nempeeel aja. Tapi dia masih kecil sih, Bunda. Baru kelas 2 SD.

      Sama-sama, Bunda. Terima kasih sudah membaca …

  15. Awalnya agak merinding baca kisahnya. Kirain cerita horor gitu karena ada kata kuburan di judulnya. Eh setelah baca, ternyata percakapan dengan si kecil.

    Kisahnya bagus banget mbak. Serasa membaca sastra. Hehehe

  16. Ahh, Nona kecil. Sukses bikin Bude mewek, nih. Barusan si kakak Dani juga bilang bahwa kita nggak tau sampai kapan kita bisa bersama ya, Bun. Ya Allah, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.