Berpelukan di Alam Kubur

Langkah kaki perlahanku terhenti. Setelah menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, kubalikkan tubuh. Gadis kecil itu berdiri tepat di depanku. Rupanya sedari tadi dia terus mengikuti. Posisi kami saling berhadapan sekarang. Kuminta untuk kembali tapi dia menolak. Lewat nyala lilin yang bergoyang, kilat matanya menyiratkan kemarahan. Seperti mengatakan bahwa dia tidak ingin ditinggalkan.

Sekeliling begitu gelap. Hanya nyala lilin yang masih memberi petunjuk bahwa aku tidak sendirian. Kuberi isyarat, akhirnya gadis kecil itu membalikkan tubuh dan bergerak menuju tempat yang seharusnya. Dalam bayang gelap, sesuatu terlihat jelas di kepalanya. Rambut sebatas ketiak yang biasanya lebih sering terurai, belakangan ini kerap diikat ekor kuda dengan karet rambut berwarna ungu. Rambut ekor kuda itu bergoyang setiap kali dia bergerak.

Source: Pexels

Derit pintu diikuti liukan cahaya lilin sedikit membuatku terkejut. Angin bertiup cukup kencang dari arah jendela yang terbuka. Tatakan gelas dengan lilin yang hanya tersisa setengahnya saja kuletakkan di atas meja. Langkahku bergerak cepat menutup jendela yang hanya berjarak dua ubin dari tempat tidur. Gulita menyapa di luar sana. Ngeri, aku tidak suka kegelapan. Air dari langit masih berebutan turun ke bumi. Suara bantingan jendela bertengkar dengan guntur dan selarik kilat di langit malam.

“Aaargh!”

Leherku sakit. Rasanya seperti tercekik. Oh bukan, ada dua tangan yang memang berada di sana dan melingkari leherku begitu kuatnya. Kuletakkan kedua tanganku di sana. Berusaha melepaskan. Tenaganya kuat sekali. Aku malah nyaris terjengkang. Semakin berusaha melepaskan, semakin tubuh ini terhuyung ke belakang. Lalu benar-benar jatuh di atas tempat tidur.

Dengan cepat, dia sudah berada di atas tubuhku. Pandanganku jatuh pada wajah itu. Dia tersenyum. Dadaku tersengal, susah payah mengatur napas.

“Aku kan sudah bilang. Kita harus selalu sama-sama.”

Telunjukku mengarah ke jendela. Seperti berkata bahwa aku hanya ingin menutupnya.

“Kita ini nggak akan terpisahkan.”

Kepalanya mencari tempat yang nyaman di dadaku. Lalu membaringkannya di sana. Kedua tangannya bergerak turun dari leher. Ganti memeluk pinggangku.

“Aku kan sudah bilang, kita ini seperti magnet. Selalu menempel. Lihat ini … Kita menempel, kan?”

Kepalaku mengangguk. Melingkarkan kedua tangan di punggungnya. Tangan yang masih sedikit basah karena peluh yang menuruni pelipis tadi.

Source: Pexels

Ruangan ini semakin berkurang cahayanya. Kutolehkan kepala ke arah meja. Lilin itu sudah hampir habis. Sebentar lagi gelap akan menyelimuti. Seperti di luar sana.

“Kita nggak akan terpisahkan.”

Dia bersuara lagi.

“Sampai kita meninggal, sampai kita dihidupkan kembali.”

Dadaku terasa sedikit lega. Dia mengangkat kepalanya dari atas tubuhku.

“Bahkan kita nanti akan saling berpelukan di alam kubur.”

Dahiku berkerut.

“Nanti aku meninggalnya belakangan. Aku nanti titip pesan sama penggali kubur supaya makam kita sebelahan.”

Dahiku semakin berkerut.

“Di dalam kuburan nanti, aku akan bertingkah seperti kucing mencakar sofa.”

Ya, kucing-kucing itu suka mencakar-cakar hingga kulit sofa rusak. 

Tubuhnya bergeser ke sisiku. Kali ini dia duduk. “Aku akan mencakar dinding kuburan.” Kedua tangannya mengangkat ke atas. Kesepuluh jarinya melengkung, membuat gerakan seperti mencakar. Matanya membulat penuh semangat. “Aku cakar terus sampai dindingnya berlubang. Lubangnya tadinya kecil, lalu membesar, lalu jadi sebesar tubuhku karena aku terus mencakar.”

Tanganku bergerak menutup mulut. Tidak mengerti apa maksud semua perkatannya.

“Tahu setelah itu apa?”

Kugelengkan kepala. Sedari tadi dia mengucapkan kalimat yang tidak kumengerti arahnya.

“Aku akan masuk ke kuburan di sebelahku dan bilang sesuatu.”

“Apa itu?” Aku memiringkan kepala. Penasaran.

“Hai, Mama! Kita ketemu lagi. Ayo kita berpelukan lagi!”

Dia lalu terkikik geli dan berkata, “Tuh kan, apa kubilang? Kita nggak akan terpisahkan. Bahkan di alam kubur kita akan terus berpelukan.”

Source: Pexels

Cahaya lilin padam. Aku meraihnya cepat ke dalam pelukan. Gadis kecil yang setiap celotehannya seringkali membuat takjub. Dia yang selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Kerap menganggap kami berdua adalah magnet berbeda kutub. Gadis kecil yang sudah terlihat kecantikannya bahkan sejak dia dilahirkan dulu.

Aku memeluknya semakin erat. Menyadari sekali lagi bahwa dia benar-benar salah satu hadiah terindah. Berpelukan di alam kubur seperti yang diucapkannya, mengingatkanku tentang kerinduan yang mungkin saja dirasakan siapapun yang ada di dalam sana. Kerinduan akan keluarga dan pelukan. Menyadarkanku tentang kebersamaan sekaligus kematian. Betapa berharganya waktu bersama keluarga di dunia dan kematian yang bisa datang kapan saja.

Note:

From one of the greatest pillow talk moment with Nona Kecil.

 

Salam,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

88 Comments

  • heni prasetyorini January 20, 2020 at 11:11 am Reply

    memaknai pertemuan memang paling kuat ketika mengingat perpisahan. Baik sekali cara mbak bertutur tentang hal itu di tulisan. Saya jadi ikutan larut. Makasih ya atas tulisannya

    • melinase January 20, 2020 at 4:03 pm Reply

      Betul, Mbak. Terima kasih ya sudah membaca …

  • Sani January 20, 2020 at 2:04 pm Reply

    Menyentuh sekali mbak..
    Kadang kalau dah berpisah baru sadar seseorang tu berarti..
    Waktu memang tak bisa diganti, tp diperbaiki dimasa yg akan datang 🙏😊

    • melinase January 20, 2020 at 4:03 pm Reply

      Terima kasih ya sudah membaca …

  • Leha barqa January 20, 2020 at 2:48 pm Reply

    Terpisah sementara untuk bersatu kembali selamanya…
    Bagus mbak tulisannya 😉

    • melinase January 20, 2020 at 4:03 pm Reply

      Betul, Mbak. Dunia hanya sebentar, ya. Terima kasih sudah membaca …

  • Nanik Nara January 20, 2020 at 2:54 pm Reply

    hahaha tertipu saya. Sudah tegang banget baca cerita di awal hingga pertengahan. Ternyata, ini hubungan ibu dan anak yah. Keren banget cara berceritanya

    • melinase January 20, 2020 at 4:04 pm Reply

      Hahaha … Bukan horror padahal, ya …

      Terima kasih sudah membaca, Mbak …

  • Jasmi Bakri January 20, 2020 at 3:28 pm Reply

    Bertemu dan berpisah memang seperti itulah adanya.. Tidak ada yg tau umur manusia. Kita hanya harus bersiap-siap untuk itu.

    • melinase January 20, 2020 at 4:05 pm Reply

      Betul sekali, Mbak. Tulisan pengingat ini … Terima kasih sudah membaca …

  • Intan Novriza Kamala Sari January 20, 2020 at 4:39 pm Reply

    Mbak, ku kira cerita horor, udah takut aja hehe. Kita emang harus lebih menghargai saat-saat bersama di dunia ya Mbak. Sebelum kemudian berpisah, lalu berharap dipertemukan kembali dalam keabadian 🙂

    • melinase January 21, 2020 at 2:13 am Reply

      Hihihi … Tertipu yaaa …

      Betul, Mbak. Sewaktu Nona Kecil cerita begitu, saya jadi tersadar dan kepengen tulisin dalam sebuah cerita.

  • Gina January 20, 2020 at 6:25 pm Reply

    Judulnya, epic banget. Serem ya kalau mengingat kubur. Kadang emang sebagai manusia, merindukan orang-orang tersayang yang lebih dahulu berpulang.

    • melinase January 21, 2020 at 2:14 am Reply

      Epic, ya? Hihihi … Soalnya kalimat dari Nona Kecil entah kenapa terngiang terus di telinga. Jadi memikirkan kematian gitu, huhuhu …

  • Maria G Soemitro January 20, 2020 at 6:32 pm Reply

    Hiks
    Jadi inget anak Perempuan ku sewaktu dia masih bayi
    Kalo dia sakit
    Saya pasti nangis sesenggukan di samping boksnya
    Padahal sewaktu kakak2nya sakit, saya ga pernah sentimental gitu

    • melinase January 21, 2020 at 2:15 am Reply

      Peluk, Ambuuu … Anak perempuan memang lebih mungkin membuat hati kita meleleh ya, Ambu?

  • aji setiawan January 20, 2020 at 7:14 pm Reply

    keren banget nih ceritanya, judulnya emang agak horror sih kalo belum dibaca

    • melinase January 21, 2020 at 2:15 am Reply

      Jadi, don’t judge the story from its title, ya? Hahaha …

  • Okti Li January 20, 2020 at 7:15 pm Reply

    Duh keren banget ini endingnya. Keren gaya ceritanya. Saya udah terbawa halusinasi horor saja…hahaha…sehat selalu ya ibu dan gadisnya. Semoga bahagia

    • melinase January 21, 2020 at 2:17 am Reply

      Suasana padam listrik memang suka bawa suasana jadi horor sih, Teh, hahaha …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin … Sehat-sehat juga untuk Teteh dan keluarga, yaaa …

  • Kartika January 20, 2020 at 9:30 pm Reply

    Huhuhu terharu baca endingnya. Si Nona Kecil pinter banget yaaa.. kalau sudah momen begitu bikin terharu yaaaa

    • melinase January 21, 2020 at 2:17 am Reply

      Celotehannya memang suka bikin aku mangap karena terkejut-kejut, Mbak. Wis lah, dijadikan cerita aja sekalian sama mamanya, hahaha …

  • Hanila PendarBintang January 20, 2020 at 10:28 pm Reply

    Mbak….aku speechless, ini indah banget, sumpah!

    Aku membacanya bener-bener tegang awalnya, tapi endingnya aku kaya merasa ada rasa sakit, sedih dan takut kehilangan. Enyahlah….mungkin karena aku mahluk visual yang setiap kali membaca cerita selalu membayangkannya.

    Sungguh ini mengajarkan kita menghargai waktu bersama orang terkasih.

    • melinase January 21, 2020 at 2:19 am Reply

      MasyaAllah … Alhamdulillah … Terima kasih yaaa …

      Aku pun sama tegangnya kok karena dia ngomong berpelukan di alam kubur pas malam-malam gitu. Merinding jadinya. Tapi setelah kupikir berhari-hari, Tuhan seperti sedang mengingatkan tentang kebersamaan sekaligus kematian. Jadi hargai waktu kita bersama keluarga.

  • Faradillah January 20, 2020 at 10:56 pm Reply

    Judulnya agak horor yah kak, aq kira menceritakan serem ternyata bukan. Selama masih bernafas emang kudu saling menghargai sama keluarga maupun oranglain

    • melinase January 21, 2020 at 2:19 am Reply

      Soalnya suasana setelah anakku bilang berpelukan di alam kubur juga bikin horor sih Mbak, hahaha … Jadi sangat menghargai waktu bersama keluarga, huhuhu …

  • Faradila Putri January 20, 2020 at 11:13 pm Reply

    Awalnya aku udah deg-degan aja, dikira cerita horror. Tapi ternyata ada makna lain yang bikin terharu :”)

    • melinase January 21, 2020 at 2:20 am Reply

      Aku pun nggak cukup berani menuliskan cerita horor, hahaha … Semoga kita semua bisa semakin menghargai waktu bersama keluarga ya, Mbak.

  • Nurul Mutiara R.A January 20, 2020 at 11:21 pm Reply

    Well, pertama kali baca judul langsung terbesit donk mengenai cerita2 horor. Tapi pas ditelaah isinya, jauh banget dari kesan horor. Aku jadi terinspirasi buat puisi lagi, dah lama gak menuliskannya 🙂

    • melinase January 21, 2020 at 2:21 am Reply

      Tenang … Aku cukup takut kok buat menulis genre horor, hahaha …

      Yuk, tulis puisinya. Nanti aku ikutan baca ya, Mbak …

  • Auda January 21, 2020 at 4:02 am Reply

    What a nice pillow talk, Mom.. Imaginasi si adek, cukup ok juga nih. Bisa terbaca lewat tulisan Mama.

    • melinase January 21, 2020 at 5:21 am Reply

      Anak-anak memang seringkali bahasanya jauh di luar dugaan. Ibunya sampai kebayang-bayang sampai akhirnya memutuskan dijadikan tulisan, hihihi …

  • Zefy January 21, 2020 at 5:27 am Reply

    pas baca di awal berasa baca cerita horror mbak 😀
    setelah dibaca terus eh…ternyata bukan cerita horror ya
    salam untuk anak gadis 🙂

    • melinase January 21, 2020 at 8:03 am Reply

      Iyaaa, bukaaan … Hihihi … Ini lebih ke pesan kehidupan sebenarnya.

      Siaaap, InsyaAllah disampaikan yaaa …

  • artha January 21, 2020 at 7:04 am Reply

    langsung peluk anak. gak mau kepisah sama dia. menikmati tumbuh kembangnya dg mata kepala sendiri

    • melinase January 21, 2020 at 8:04 am Reply

      Iyaaa, anak-anak memang sangat suka ya dipeluk orangtuanya. Katanya nyaman dan hangat, hihihi …

  • April Hamsa January 21, 2020 at 7:41 am Reply

    Kok perasaanku jadi gado2 ya baca fiksi ini. Soalnya anakku yang cewek tu gak bisa bobo kalau gak kupeluk gtu.
    Aku jadi bingung mau komen apa, cerita kematian selalu bikin deg2an, tapi berharap kelak bisa berkumpul di surga brsama keluarga khususnya anak2…

    • melinase January 21, 2020 at 7:55 am Reply

      Segado-gado itu juga perasaanku Mbak sewaktu Nona Kecil ngobrol begitu malam-malam. Pakai bilang di alam kubur kita akan berpelukan, huaaa … Entah apa penyebabnya dia bilang begitu. Mungkin Allah sedang mengingatkan aku sebagai orangtua ya untuk terus berbenah karena usia nggak ada yang tahu, hiks hiks …

  • Rafahlevi January 21, 2020 at 8:03 am Reply

    Bertutur tanpa mengajari.. mengingatkan dengan cara yang menyentuh. Aku sukka sekali mba.. terimakasih tulisannya yang sarat makna.

    • melinase January 21, 2020 at 8:07 am Reply

      Terima kasih sudah membaca, Mbak … Anak-anak seringkali menjadi guru buat orangtuanya, ya … hiks hiks …

  • Srijembarrahayu January 21, 2020 at 8:07 am Reply

    Aiiih kukira cerita horor. Ternyata Nona kecil. Pintar sekali dia, Mbak. Haru ya, punya nona kecil dengan cinta luar biasa. Salam sayang untuknya.

    • melinase January 21, 2020 at 8:14 am Reply

      Aku tak cukup berani menulis horor, Mbakyu … Hihihi … Iya nih, celotehan Nona Kecil tuh sering bikin ibunya susah tidur. Jadilah dijadikan cerita aja. Matur nuwun … Salam sayang juga ya buat Ateu …

  • Dian January 21, 2020 at 8:38 am Reply

    Aku uda mencekam bacanya, kukira ini cerita horor…

    Ternyata, duh mbak bagus banget twits nya

    • melinase January 21, 2020 at 8:59 am Reply

      Terima kasih, Mbak … Terinspirasi dari Nona Kecil di rumah, hihihi …

  • Nyi Penengah Dewanti January 21, 2020 at 9:55 am Reply

    Pecah mba Mel. Hahahhahah
    Kirain aku horor, apalagi bagian mencakar jari2. Opening juga menggiring ke horror eh menuju ending sweet. Keluarga menang segalanya

    • melinase January 21, 2020 at 9:57 am Reply

      Aduh aduh, maaf membuatmu terpecah … Hahaha …

      Sempat dikira monster kali ya pakai acara cakar mencakar? Hahaha …

  • Gilang January 21, 2020 at 11:15 am Reply

    Mbak, aku tertipu ih, kupikir yang menempel itu makhluk halus hwaaa. aku pikir ini cerita horor. Ngeri yang bagian mencakar-cakar seperti kucing. Untunglah bukan cerita horor, tapi cerita manis, sweet banget endingnya 🙂

    • melinase January 27, 2020 at 10:56 am Reply

      Duh, maafkan ya kalau jadi tertipu, hihihi …
      Iya, makhluk kecil di rumah memang sukanya nempel-nempel gitu sama mamanya. Mana waktu ajak ngobrol tangannya beneran nyakar-nyakar gitu, hihihi …

  • Peri Hardiansyah January 21, 2020 at 12:41 pm Reply

    Hargai apa yang kita punya sekarang, sering meilhat ke bawah agar kita tidak sombong. Thanks for sharing mbak.

    • melinase January 27, 2020 at 10:56 am Reply

      Betul, Mas. Hargai dan sayangi karena semua hanya sementara.

  • lendyagasshi January 21, 2020 at 12:48 pm Reply

    Aku jadi ingat Keluarga Transylvania gegara openingnya.
    Memang memaknai perjumpaan itu ketika ada perpisahan.
    Semoga kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya bersama orang terkasih.

    • melinase January 27, 2020 at 10:57 am Reply

      Transylvania tuh antara horor dan lucu-lucu gitu, ya.

      Aamiin … Aku juga langsung tercekat saat anak bungsu bilang begitu, huhuhu …

  • Sara Neyrhiza January 22, 2020 at 12:21 pm Reply

    aku baca pas malem jam 23.00, entah kenapa pas baca agak merinding..tapi kemudian melow, dan langsung nyusul anak bobok

    • melinase January 27, 2020 at 11:05 am Reply

      Bukan cerita horor yaaa, hihihi …

  • Ulfah Wahyu January 22, 2020 at 7:58 pm Reply

    Jadi baper mbak bacanya. Anak-anak memang selalu berpikir, akan bersama dengan kita selamanya. Kadang saya juga membiarkan hal itu. Toh dengan berjalannya waktu, semakin bertambah usia mereka, nanti mereka juga akan memahaminya. Yang penting kita tidak membiarkan sedetik moment pun untuk terus menjaga kebersamaan dengan mereka, mumpung masih bisa.

    • melinase January 27, 2020 at 11:07 am Reply

      Hihihi … Betuuul … Tapi anakku sudah mengerti sih bahwa nanti akan ada perpisahan. Semua makhluk akan mati. Tapi dia berpikirnya di alam kubur bisa main ke ‘rumah’ ibunya. Antara pengen ketawa dan sedih jadinya, huhuhu …

  • Dawiah January 23, 2020 at 3:29 am Reply

    Khayalanku sudah kemana-mana saat baca awal cerita, hii ngeri.
    Eh, pas akhir cerita kok berubah jadi manis gitu. Juara pokoknya.

    • melinase January 27, 2020 at 11:07 am Reply

      Terima kasih, Bundaaa … Anak-anak selalu memberikan inspirasi di dalam tulisan.

  • haniwidiatmoko.com January 23, 2020 at 6:37 am Reply

    Tadinya serem gimana gitu pas awal baca. Lalu terharu, lalu kebayang gimana rasanya berpisah dengan orang tersayang. Sama mungkin, agak takut juga. Alur kisahnya bagus Mbak…

    • melinase January 27, 2020 at 11:16 am Reply

      Terima kasih, Bunda. Anak-anak selalu bisa jadi inspirasi tulisan orangtuanya.

  • Bety Kristianto January 23, 2020 at 10:18 am Reply

    Duh tiwase deg degam takkiro hantu seko ndi je mba heheheh ternyata nona kecil. Nice showing mba, bikin pembaca terbawa dalam tulisan 😊

    • melinase January 27, 2020 at 11:17 am Reply

      Matur nuwun, Mbak Bety … Aku pun merinding soale sewaktu Nona Kecil bicara begitu. Pas gelap-gelap pula, huaaa …

  • Yuni Bint Saniro January 23, 2020 at 10:58 am Reply

    Judulnya membuat bergidik ngeri. Semakin dibaca lho kok begini. Ternyata oh ternyata. Dulu aku juga berpikir, nggak bisa jauh dari emak. Dimana pun aku berada harus selalu ada emak.. Hehehe

    • melinase January 27, 2020 at 11:17 am Reply

      Ternyata ini adalah rangkuman percakapan Nona Kecil dan mamanya, hehehe …

  • Titik Wihayanti January 23, 2020 at 11:47 am Reply

    Aku kira kembarannya mba pas kecil dulu ternyata anak ya. Menyentuh banget sih cerita endingnya. Jado baper aku keinget anak yang kalo tidur suka nempel terus sama emaknya hiksss

    • melinase January 27, 2020 at 11:19 am Reply

      Hihihi … Nona Kecil memang suka nempel dan bahasanya formal gitu, Mbak … Eh kok ya kemarin celotehannya sampai bikin aku nggak bisa tidur, huhuhu …

  • Qoty Intan Zulnida January 23, 2020 at 3:06 pm Reply

    Ternyata ini hasil dari pillow talk dengan nona kecil yaa. Anak-anak seringkali menakjubkan ya mbak. Ada aja celotehannya yg bikin kita melongo, tertawa bahkan sebel gitu. Hehe.

    • melinase January 27, 2020 at 11:20 am Reply

      Betul banget … Aku terkesima sewaktu dia bilang begitu. Nggak bisa tidur, akhirnya kujadikan cerita aja deh, hahaha …

  • Sitatur Rohmah January 23, 2020 at 4:54 pm Reply

    Terbayang nona kecil 😍😍.meskipun pada awalnya tulisan ini tampak menyeramkan ternyata akhirnya menyejukkan . Anak tuh kadang tak terduga ya jalan pikirannya. Robbiii hablii minasholihiin

    • melinase January 27, 2020 at 11:21 am Reply

      Betul, Mbak Sita. Awalnya pun aku ngeri ngobrol di tengah kegelapan dan Nona Kecil bilang begitu. Tapi jadi semakin menyadari bahwa kebersamaan kami di dunia hanya sementara.

  • arenapublik January 23, 2020 at 5:16 pm Reply

    Deep meaning sekali mba tulisan nya. hmm

  • Nanik K January 24, 2020 at 4:03 am Reply

    Oalahh ini celoteh si kecil, toh Mbak Mel. Kukira horor, hihi.
    Tiwas aku bacanya menjelang subuh, atut aku mbak say. 😁

    Btw berarti si adek ini humble seperti Mb Mel, suka cerita endingnya malah berimajinasi ya mbak, mungkin habis lihat cerita apa gitu dia, ya? Pakai berpelukan di alam kubur, hehe.

    Lov u adek.

    • melinase January 27, 2020 at 11:23 am Reply

      Nona Kecil kadung bikin suasana padam listrik di rumah kami jadi horor sih, Mbak.
      Yo wis lah, kujadikan tulisan aja, hehehe …

      Peluk sayang buat Budhe Nanik …

  • Elva Susanti January 24, 2020 at 6:14 am Reply

    Masyaa Allah, jadi mengingatkanku akan pentingnya kebersamaan dgn keluarga, sebab kita gak pernah tau kapan waktu itu akan berakhir. Smg kita dan keluarga kita selalu dalam lindungan-Nya

    • melinase January 27, 2020 at 11:24 am Reply

      Betul, Mbak. Banyak saling membahagiakan dan mendoakan.

  • Tanti Amelia January 24, 2020 at 7:27 am Reply

    dudududu… aku agak serem serem sedap bacanya ini.. pinter aja cari judlnya

    • melinase January 27, 2020 at 11:25 am Reply

      Judulnya sudah disediakan sama Nona Kecil di rumah, Mbak … Hehehe …

  • Srie Ningsih January 24, 2020 at 10:18 am Reply

    saya jadi ikut terhanyut, terbayang kelakuan anak bungsuku yg selalu menempel dg ku & s3jak bayi sampai lulus smp selalu tidur diatas dadaku.
    Bagus Mba ceritanya…terima kasih sdh berbagi

    • melinase January 27, 2020 at 11:25 am Reply

      Wah, kayaknya Nona Kecil juga bakal sepertinya bungsunya Bunda. Nempeeel aja. Tapi dia masih kecil sih, Bunda. Baru kelas 2 SD.

      Sama-sama, Bunda. Terima kasih sudah membaca …

  • Fania surya January 25, 2020 at 8:21 pm Reply

    Awalnya agak merinding baca kisahnya. Kirain cerita horor gitu karena ada kata kuburan di judulnya. Eh setelah baca, ternyata percakapan dengan si kecil.

    Kisahnya bagus banget mbak. Serasa membaca sastra. Hehehe

    • melinase January 27, 2020 at 11:26 am Reply

      Terima kasih, Mbak … Aku nggak menyangka juga Nona Kecil bakal mengeluarkan kalimat-kalimat luar biasa seperti itu.

  • Enni Kurniasih January 26, 2020 at 9:58 pm Reply

    Ahh, Nona kecil. Sukses bikin Bude mewek, nih. Barusan si kakak Dani juga bilang bahwa kita nggak tau sampai kapan kita bisa bersama ya, Bun. Ya Allah, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin

    • melinase January 27, 2020 at 11:27 am Reply

      Ya Allah … Anak-anak kita pun tahu bahwa kehidupan di dunia hanya sementara ya, Bun. Aamiin Ya Robbal Aalamiin …

  • Mutia Nurul Rahmah February 1, 2020 at 6:41 pm Reply

    Udah lama banget ga baca cerpen2 seperti ini, bagus penulisannya. Lanjutan mba

    • melinase February 11, 2020 at 2:09 am Reply

      Alhamdulillah … Terima kasih yaaa …

  • Andi Mirati Primasari February 22, 2020 at 11:26 am Reply

    Kisah yg menjadi pengingat agar selalu melakukan hal baik selama di dunia, takut berbuat jahat.. Maknanya sangat dalam..

    • melinase February 22, 2020 at 2:17 pm Reply

      Iya, Mbak. Juga bahwa kita nantinya akan terpisah dari keluarga jika saatnya tiba.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.