Ketan Berkualitas dari Pertanian; Tak Lepas dari Peranan Hutan Sebagai Sumber Pangan

Setiap pagi, salah satu aktivitas yang saya sukai adalah berkunjung ke pasar kecil yang berada sekitar 500 meter dari rumah. Untuk berbelanja sayuran, saya lebih suka langsung ke pasar besar atau ke warung kecil dekat rumah. Lantas, untuk apa pagi-pagi saya datang ke pasar kecil tersebut?

Alasannya adalah banyaknya penjual makanan yang setiap hari hadir di sana. Sangat mudah menemukan menu sarapan pagi di sana, sebut saja nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, ketoprak, soto mie, soto kuning, sampai bubur ayam, bubur kacang ijo dan ketan hitam. Selain itu, ada penganan tradisional yang rasanya nggak pernah membosankan. Bagaimana mau bosan kalau jenisnya teramat beragam, mulai dari kue cucur, otak-otak bakar, utri, ketan kelapa, sentiling, gethuk, bugis, lemper, klepon, kue talam, kueku isi ayam, wingko babat, dan masih banyak yang lainnya.

Sudah sarapan, rasanya kurang mantap melakukan aktivitas pekerjaan kalau nggak disertai dengan tersajinya kudapan di atas meja. Biasanya aktivitas bekerja dari rumah dilengkapi dengan secangkir kopi atau teh lengkap dengan wingko babat, lemper, atau semar mendem.

Menjelang sore seusai bekerja, mulai tergoda lagi nih untuk membeli penganan lainnya. Ada kan ya, pedagang makanan yang memang baru menggelar atau membuka lapaknya di sore hari, contohnya pedagang martabak. Ini jadi kudapan yang susah sekali membuat saya bosan. Kalau ditanya paling suka varian yang mana, maka jawaban saya adalah martabak keju ketan susu.

Wah, ada banyak kudapan di atas yang berbahan dasar beras ketan, ya. Favorit saya, tuh. Teksturnya yang kenyal memang selalu menggoda untuk makan lagi dan lagi.

Aneka kudapan berbahan dasar beras ketan

Beras Ketan Tak Hanya Lezat Tapi Kaya Manfaat

Bukan tanpa alasan saya menyukai kudapan berbahan dasar beras ketan. Banyak sekalian jenis kudapan lezat yang bisa dihasilkan dari beras ketan, bahkan hanya dikukus saja pun sudah enak, kan?

Beras ketan mengandung serat tetapi tidak sebanyak yang terkandung pada beras merah maupun beras putih lainnya. Beras ketan hampir tidak memiliki lemak dan kolesterol. Di dalamnya, terkandung protein, vitamin B, selenium, seng, magnesium, tembaga dan fosfor. Karena tidak mengandung gluten, beras ketan aman dikonsumsi oleh orang-orang yang tengah diet gluten.

Source: Klik Tani

 

Tanpa lemak atau kolesterol, beras ketan aman dikonsumsi oleh penderita tekanan darah tinggi, jantung, maupun mereka yang tengah diet karena mengalami obesitas.

Wah, ternyata beras ketan memiliki kandungan gizi yang baik. Fixed, beras ketan ternyata bukan hanya lezat, tetapi juga kaya manfaat.

Tempat Tumbuh Suburnya Beras Ketan dan Kaitannya dengan Hutan

Seperti tanaman padi-padian pada umumnya, padi beras ketan pun tumbuh di lahan pertanian. Lahan sebagian di antaranya bermula dari lahan hutan yang dibuka untuk diubah sebagai lahan pertanian. Meskipun demikian, keberadaan hutan dan pertanian sangat erat kaitannya. Hutan dan pepohonan di dalamnya memiliki arti penting bagi pertanian. Seringkali tanaman dapat tumbuh dengan subur saat lahannya berdekatan dengan hutan.

Hutan memberikan dukungan besar terhadap sektor pertanian, maka keberadaan hutan sebagai sumber pangan dari sektor pertanian ini tidak bisa kita abaikan. Berikut beberapa peran hutan terhadap kualitas pangan dari pertanian:

Source: Pexels
  • Hutan mencegah terjadinya polutan dengan banyaknya dedaunan yang menyediakan oksigen. Di saat hujan turun, hutan menyediakan pohon-pohon besar yang menyerap air di dalam akar dan tanahnya. Semakin banyak air yang terserap di dalam tanah di hutan, akan membawa kesuburan tanah pada daerah pertanian yang berada di sekitar hutan.
  • Tentunya kita sering mendengar lahan pertanian yang diserang hama. Banyak petani yang bahkan mengalami gagal panen karena serangan hama ini. Keberadaan hutan menjadi penolong karena di dalamnya terdapat banyak binatang lain yang sumber makanannya adalah hama tersebut.
  • Seperti layaknya pelajaran yang kita terima saat masih sekolah dasar dulu tentang pembuatan pupuk kompos. Keberadaan dedaunan yang jatuh ke tanah, kemudian membusuk, akan menjadi nutrisi bagi tanah tersebut sehingga menjadi subur. Tentu saja, lahan pertanian yang dibuka di sekitar hutan akan memiliki tanah yang juga subur.

Terlalu sering melihat lahan pertanian yang berada di tepi jalan tol, semakin menyempit di tengah pembangunan komplek perumahan dan industri, selama ini saya tidak menyadari hubungan erat antara keberadaan hutan dengan kualitas sumber pangan dari lahan pertanian. 

Sudah saatnya kita kembalikan fungsi hutan dan pertanian sesuai dengan yang seharusnya. Hutan menjadi sumber kehidupan dan hutan sumber pangan. Bergerak sendiri mungkin akan sulit karena kita tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi jangan khawatir, teman-teman bisa mendapatkan informasinya melalui Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Hutan yang lebat dan subur akan menjadi faktor penentu ketersediaan dan kualitas sumber pangan bagi manusia kini dan di masa mendatang. 

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

Sumber Informasi:

USAID Lestari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

92 Comments

  • Tanti Amelia February 10, 2020 at 10:39 am Reply

    Aku salut banget dengan ide kuliner kembali ke hutan ini. Begitu dibuka, aku baca banyaaak sekali referensi kuliner yang dari hutan dan aku belum pernah tau! ketan mah biasa ya, aku paling suka dikukus dan diberi kelapa ataasnya

    • melinase February 11, 2020 at 2:07 am Reply

      Tanpa kita sadari aneka bahan pangan yang biasa kita konsumsi memang berasal dari hutan ya, Mbak …

      Aku sukanya ketan diapain, ya? Diapain aja suka sih, asal jangan mentah aja, hahaha …

  • Naqiyyah Syam February 10, 2020 at 12:26 pm Reply

    Masya Allah tentang hasil hutan ya jadi kangen pada masa-masa kuliah di kehutanan dulu, aku juga suka makan ketan nih apalagi kalau dicampur kolak duren

    • melinase February 11, 2020 at 2:10 am Reply

      Wah, Mbak Naqqi anak Kehutanan, ya? Wah, seru pasti ya sering keluar masuk hutan.

      Aih, dirimu membuatku kepengan makan ketan duren. Enak banget ituuu …

    • Mutia Ramadhani February 14, 2020 at 11:23 pm Reply

      Mba Naqiyyah, salam rimbawan! Saya juga lulusan kehutanan di Bogor. Ehehe. Jangan-jangan Mba Naqiyyah senior saya nih. Salam kenal ya mba.

      Benar Mba Mel, hutan adalah sumber pangan dan pangan kita itu bukan cuma beras putih. Ada banyak pangan alternatif yang bisa menjadi subtitusi beras. Tinggal pembiasaan diri saja. Terima kasih sudah berbagi ya mba.

      • melinase February 15, 2020 at 6:10 am Reply

        MasyaAllah … Ada rekan sesama almamater di Kehutanan IPB rupanya. Semakin semangat nih menulis tentang menjaga keberlangsungan hutan.

        Iya, Mbak. Jangan lagi kita beralasan belum makan karena nggak ketemu nasi. Padahal sumber pangan lainnya sangat melimpah, ya. Sama-sama, Mbak sayaaaang …

  • Kartika February 10, 2020 at 12:33 pm Reply

    Aku juga baru sadar mbak klo ternyata banyak penganan kesukaanku yang disebut di atas terbuat dari ketan. Emang enak banget sih, dan kayaknya kurang terdengar ya dibanding beras biasa.

    • melinase February 11, 2020 at 2:10 am Reply

      Iya, Mbak. Sebagian besar terbuat dari tepung beras ketannya sih ya, bukan beras ketan langsung. Jajanan tradisional memang nggak bikin bosan.

      • Kartika February 15, 2020 at 5:50 pm Reply

        Betulll jajanan tradisional emang paling cihuy buat aku. Jajanan hits kekinian mah bosenin, manis doang wkwkw

        • melinase February 16, 2020 at 12:53 am Reply

          Aih setuju. Menang di tampilan cantik aja paling, ya. Soal rasa, makan sepotong dua potong pun biasanya sudah cukup.

  • Emma February 10, 2020 at 12:43 pm Reply

    Peradaban dimulai memang dari Hutan ya mbak buka lahan, berpenduduk, ada pemerintahan jadi kota, negeri dan negara deh.

    • melinase February 11, 2020 at 2:11 am Reply

      Setuju banget, Mbak. Makanya kita jangan melupakan hutan nih, ya.

  • Dian Restu Agustina February 10, 2020 at 1:43 pm Reply

    Salfok sama jajanannya
    Enak tenan kudapan begini sambil ngeteh atau ngopi.
    Setuju semestinya hutan dikembalikan sesuai fungsinya sebagai salah satu sumber pangan.
    Bersama kita bisa mengembalikan hutan Indonesia untuk diwariskan pada generasi mendatang

    • melinase February 11, 2020 at 2:13 am Reply

      Apalagi hujan-hujan begini ya, Mbak. Nambah teruuus …

      Mungkin kita nggak bisa secara langsung terjun ke hutan untuk mengembalikan kondisinya yang sudah banyak rusak ya, Mbak, tapi semoga langkah-langkah sederhana tapi dilakukan banyak orang bisa bermanfaat.

  • Susi Ernawati February 10, 2020 at 3:45 pm Reply

    Saya suka banget makan ketan Mbak. Mungkin sukanya lebih dari teman-teman karena menjadi kenangan indah bersama ibu saat masih berjualan ketan.
    Hutan memang punya banyak peranan dalam kehidupan, ya

    • melinase February 11, 2020 at 2:13 am Reply

      Wah, pasti keahlian mengolah ketan menurun nih sama Mbak Susi, yaaa … Biasa begitu, hihihi …

      • Susindra February 15, 2020 at 10:56 pm Reply

        Wah, hanya ketan kukus dengan kelapa Mbak. Zaman sekarang menu ketan sudah ada di kafe dengan tambahan aneka toping nan lezat. Tapi yang tradisional tetap yang paling nikmat

        • melinase February 16, 2020 at 12:54 am Reply

          Betul banget. Segala sesuatu yang berbau tradisional akan lebih lama dikenang, ya.

  • ginanelwan February 10, 2020 at 3:52 pm Reply

    kusuka ketan apalagi kue-kue berbahan ketan, kelepon, onde-onde banyak deh

    • melinase February 11, 2020 at 2:14 am Reply

      Kalau sudah bahas makanan, susah ya menyebut makanan yang nggak enak, Mbak … Huehehehe …

  • Dian Restu Agustina February 10, 2020 at 5:00 pm Reply

    Banyaknya manfaat hutan menjadikan kita mesti peduli akan keletariannya. Program pemerintah dan WALHI yang bermisi untuk generasi sekarang bertanggung jawab mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan yang lebih baik sungguh patut didukung semua pihak. Sehingga akan kembali fungsi hutan sebagai sumber pangan

    • melinase February 11, 2020 at 2:18 am Reply

      Betul, Mbak. Kelestarian atau rusaknya hutan akan berpengaruh pada kehidupan makhluk hidup ke depannya.

  • HELEN FETRIANI February 10, 2020 at 8:15 pm Reply

    Hutan adalah sumber bahan pangan sangat setuju mbak.
    Saya berharap semua pihak baik pemerintah dan pihak lainnya terkait agar selalu menjaga kelestarian hutan. Salah satu hasil pangannya ketan kesukaan saya juga he he he

    • melinase February 11, 2020 at 2:15 am Reply

      Iya ya, Mbak. Maraknya penebangan liar membuat was-was. Apalah artinya kita tanpa keberadaan hutan.

  • Maria G Soemitro February 10, 2020 at 8:31 pm Reply

    Andaikan semua warga teredukasi perihal hutan ya?
    Karena akibat karhutla , perubahan iklim benar benar mengkhawatirkan

    • melinase February 11, 2020 at 2:15 am Reply

      Betul banget, Ambu … Manusia yang merusak, pada akhirnya manusia juga yang akan terancam, hiks …

  • hani February 10, 2020 at 9:09 pm Reply

    Sungguh kaya hasil hutan dan pertanian Indonesia. Sudah saatnya kita mengembangan aneka pangan dari hasil hutan tersebut. Aku suka tuh jajanan dari ketan. Legit dan gurih. Paling suka kue bugis tuh, dalamnya unti kelapa. Syedap…

    • melinase February 11, 2020 at 2:16 am Reply

      Betul sekali. Susah deh ngitungin aneka pangan yang berasal dari hutan. Banyak banget. Bugis memang enaaak … Ditemenin secangkir teh atau kopi, yaaa …

  • Hidayah Sulistyowati February 10, 2020 at 10:28 pm Reply

    Saya dulu anggota WALHI, saat masih kuliah. Kegiatannya salah satunya adalah memungut sampah plastik saat turun dari gunung. Sampai sekarang alumni masih suka komunikasi di WAG, seru obrolannya kadang mengenang saat naik gunung dulu

    • melinase February 11, 2020 at 2:17 am Reply

      Wah, seru ya, Mbak. Kegiatannya mulai dari yang sederhana ternyata ya seperti memungut sampah plastik itu. Jadi inget kalau mendaki gunung, suka sedih ada tumpukan sampah di sana. Siapa coba yang mau disuruh untuk mengangkut ke bawah kalau bukan pendaki itu sendiri?

  • Auda Zaschkya February 11, 2020 at 2:20 am Reply

    Aku suka makanan dari beras ketan. Berarti aman dong ya untuk dikonsumsi, karena gak ada gula ?
    Btw, hutan sekarang, kebanyakan, dibuka malah jadi lahan sawit kan ya

    • melinase February 11, 2020 at 3:53 am Reply

      Iya, Mbak. Lebih aman daripada beras biasa. Huhuhu … Memang nih banyak hutan yang dibuka jadi lahan sawit. Padahal sawit juga nggak mampu menyerap hujan, ya.

  • NurulRahma February 11, 2020 at 3:56 am Reply

    Banyak kuliner lezatosss yg bersumber dari bahan pangan di hutan.
    Yum yum yuuuum, nikmaaattt
    Semoga hutan senantiasa lestari yaaa

  • Yasinta Astuti February 11, 2020 at 5:59 am Reply

    Lihat foto padi ketan aku inget masa kecil mbak, kampungku membentang pesawahan. Kalau masa panen datang, akan banyak olahan – olahan ketan. Aku paling suka ketan dibikin tape. Semoga hutan semakin terjaga ya agar ketahanan pangan bisa ditegakkan

  • gemaulani February 11, 2020 at 6:48 am Reply

    Semar mendem yang kayak gimana ya mba. Aku baru dengar. Dan aku juga suka kalau di pasar pagi-pagi banyak pedagang makanan siap makannnya. Eh ya iya juga ternyata bahan makanan itu banyaknya hasil hutan ya.

  • Aprilia February 11, 2020 at 6:55 am Reply

    Saya malah baru tahu kalau beras ketan yang suka saya makan kalau sudah jadi berbagai makanan juga berhubungan dengan hutan. Sekarang kondisi hutan di Indonesia ini sepertinya berkurang banyak ya, Mbak. Apa lagi akibat karhutla tahun lalu itu. Berapa hektar sudah hutan yang amblas.

  • Uli February 11, 2020 at 7:22 am Reply

    Wah baru tahu ketan dari hutan, aku pikir makanan hutan itu jenis tumbuhan liar. Ketan aku sukanya dibikin lemang kalo ketan item bubur deh hehe

  • Rhoshandhayani February 11, 2020 at 8:25 am Reply

    kalau kudapan beras ketan, biasanya aku cuma ambil 1.
    kenyang eh
    kenyang banget malah, hahaha

  • Ulfah Wahyu February 11, 2020 at 8:51 am Reply

    Saya juga salah satu penggemar makanan berbahan dasar ketan Mbak. Sampai suami bilang, kayak orang kuno hahaha…tapi tetap deh enak menurut saya. Memang sudah menjadi kewajiban kita bersama ya Mbak Mel untuk membatu menjaga kelestarian hutan, agar ekosistem tetap terjaga, termasuk tanaman beras ketan ini.

  • Nanik Nara February 11, 2020 at 8:55 am Reply

    wah ternyata beras ketn bagus juga ya buat diet. Saya masak ketan kalau ada acara-acara khusus aja

  • Rafahlevi February 11, 2020 at 10:03 am Reply

    Mengulik bagaimana hitan menyediakan sumber pangan. Kayanya gada abosnya makanan yang bisa kita nikmati..

    • melinase February 11, 2020 at 4:36 pm Reply

      Berlimpah banget mulai dari makanan pokok, kudapan, sampai minuman.

  • Nonz Ati February 11, 2020 at 10:51 am Reply

    Saya juga suka banget sama ketan. Apalagi kalau Emak saya udah buat olahan tradisional. Waaahhh, udah deh, itu mah pasti lupa sama makan.

    • melinase February 11, 2020 at 4:37 pm Reply

      Resep emak tuh selalu juara di hati ya, Teh …

  • Nia K. Haryanto February 11, 2020 at 11:25 am Reply

    Zaman dulu, beras ketan mungkin asalnya dari hutan ya. Tapi sekarang, sudah ditanam di sawah-sawah. Tapi memang benar, hutan sangat berperan besar di dalam dunia pangan di hidup kita

    • melinase February 11, 2020 at 4:38 pm Reply

      Iya, Mbak. Pada dasarnya semua berasal dari hutan. Budidayanya yang menyebabkan berbagai macam sumber pangan dikembangkan di tempat lain.

  • Yuni Bint Saniro February 11, 2020 at 2:14 pm Reply

    Ketan memang bahan pangan yang paling disukai. Yuni juga doyan. Dimasak biasa aja terus dikasih parutan kelapa aja sedap kok.

    #eh ngomongin makanan tu serasa pingin kalap. Hehehe

    • melinase February 11, 2020 at 4:38 pm Reply

      Legit legit nyummy, yaaa … Iya, bahas makanan mah nggak abis-abis.

  • Yeni Sovia February 11, 2020 at 3:30 pm Reply

    Iya mba melina, aku juga ikut sedih dengan hutan yang semakin sedikit dan berkurangnya sumber pangan kita. Tapi untung kita bisa ngedapetin informasi dari Lingkungan Hidup (WALHI) untuk cara menjaganya ya

    • melinase February 11, 2020 at 4:39 pm Reply

      Terus-terusan digempur dengan pembukaan lahan untuk sawit ya, Mbak. Sediiih … Sawit nggak bisa menggantikan pohon-pohon besar di dalam hutan.

  • Lisa lestari February 11, 2020 at 3:39 pm Reply

    Itu kudapannya enak semua, aku sukaaa. Hehehehe … betul banget, hutan dan pertanian saling bersinergi. Sudah saatnya kita mengelola hutan dengan bijak agar ketersediaan pangan tetap terjaga

    • melinase February 11, 2020 at 4:40 pm Reply

      Kalau bahas makanan banyak yang setuju, ya? Hahaha … Yuk, ikut jaga kelestarian hutan.

  • Rahayu Asda February 11, 2020 at 3:44 pm Reply

    saya juga pecinta kudapan, apalagi dari beras ketan yang bisa dibikin macam – macam, cocok berkawan dengan goreng pisang apalagi sama durian, lamak bana 🙂

    • melinase February 11, 2020 at 4:40 pm Reply

      Ketan durian? Ya ampuuun … Bisa kebayang-bayang terus, nih … Terus dimakan dalam kondisi dingin, nyummyyy …

  • Bety Kristianto February 11, 2020 at 4:12 pm Reply

    Kusuka ketan dimasak gitu aja kayak nasi terus dimakan anget-anget pake taburan kelapa muda parut sama tempe bacem mba. Duh auto lupa diyet hahaha. Palagi dipadu sama teh atau kopi wuih mantul.

    • melinase February 11, 2020 at 4:41 pm Reply

      Wuih, aku malah belum pernah coba lho ketan ditemenin tempe bacem. Mau nyobain, ah. Siapa tahu besok-besok dia cocok ditemenin sama ayam penyet, hihihi …

  • Damar Aisyah February 11, 2020 at 6:31 pm Reply

    Aku pernah tanya sama temenku yang petani. “Mbak, pohon A tuh asalnya dari hutan to?” dia jawab. semua pohon asale yo soko hutan, baru dibudidayakan di kebun dan lahan. Sejak itu aku baru sadar bahwa sebenarnya sumber pangan kita tuh hutan. Sekarang malah hutan beralih fungsi maka nggak heran kalau kita terancam krisis pangan. Memang sudah saatnya mengembalikan sumber pangan dari hutan.

    • melinase February 11, 2020 at 9:04 pm Reply

      Betul banget, Mbak. Budidaya aja yang berbeda-beda ya, ada yang di perkebunan atau pertanian. Makanya tanah perkebunan dan pertanian yang lokasinya jauh dari hutan tingkat kesuburannya akan berbeda dengan yang jauh dari hutan. Mungkin faktor lebih memudahkan saja ya supaya bisa menanam lebih banyak tanpa harus bersusah payah keluar masuk hutan.

  • Mugniar February 12, 2020 at 2:04 pm Reply

    Saya pun suka makanan tradisional dari beras ketan. Beberapa makanan tradisional di Makassar ada yang dari ketan, salah satunya ada yang namanya songkolo’, dimakan dengan sambel … euiih enaak.

    • melinase February 12, 2020 at 3:37 pm Reply

      Wuih, ketan pakai sambel, Kak? Sambel pedes, gitu? Otakku roaming nih membayangkan sensasi rasanya. Kaya banget ya kuliner khasnya Indonesia.

  • diane February 13, 2020 at 7:57 am Reply

    wah ternyata ada hubungannya ya kualitas ketan dengan keutuhan hutan kita… kuliner ketan kita juga banyak variasinya ya..

    • melinase February 15, 2020 at 5:59 am Reply

      Iya, Mbak. Banyak banget sumber pangan kita yang aslinya dari hutan.

  • nyi Penengah Dewanti February 13, 2020 at 8:17 am Reply

    Olahan hutan selalu bikin kita takjub ya Mba
    semua berasal dari sana dulunya, jadi kangen main ke hutan dan menikmati alam

    • melinase February 15, 2020 at 6:00 am Reply

      Jadi, nikmat mana lagi yang kan kita dustakan? Allah sudah kasih semuanya di alam semesta. Tinggal kita berbuat baik kepada alam, maka alam pun akan baik kepada kita. Aku pun kangen main ke hutan.

  • Andi Mirati Primasari February 13, 2020 at 8:29 am Reply

    kalo ngebahas ketan, aku jadi ingat makanan favoritku yang dulu sering dibuatkan nenek untukku, yakni Songkolo, nasi ketan khas Bugis Makassar, biasanya dicocol ke saos gula Jawa atau sering disebut Palopo.. enaakk..

    • melinase February 15, 2020 at 6:01 am Reply

      Wah, unik banget. Rasanya jadi seperti wajik kali ya kalau di Jawa. Ada rasa gula merahnya gitu.

  • Andi Mirati Primasari February 13, 2020 at 8:30 am Reply

    kalo ngebahas ketan, aku jadi ingat makanan favoritku yang dulu sering dibuatkan nenek untukku, yakni Songkolo, nasi ketan khas Bugis Makassar, biasanya dicocol ke saos gula Jawa atau sering disebut Palopo.. enak banget.. jadi kangen..

    • melinase February 15, 2020 at 6:01 am Reply

      Ayo Mbak, buat sendiri buat di rumah. Nanti aku berkunjung buat icip-icip, hahaha …

  • Rhoshandhayani February 13, 2020 at 8:19 pm Reply

    jadi banyak yang gak sadar ya kalau kita tuh makannya dari bahan baku yang ada di hutan
    untuk mempermudah, sama orang-orang dibudidayakan di ladang atau kebun
    iya sih, kalau sekarang ini hutan homogen banget
    padahal dulu kan hetero banget

    • melinase February 15, 2020 at 6:03 am Reply

      Iya, Kak. Kalau hutan tetap dibiarkan rimbun sih nggak papa. Sayangnya, banyak yang beralih fungsi. Menjadi perkebunan sawit, misalnya. Syediiih …

  • Reyne Raea February 14, 2020 at 7:59 am Reply

    Jadi ingat masa kecil dulu, mama saya malah masak nasi dicampur ketan, biar enak katanya, meskipun kadang malah bikin sulit BAB hahaha

    Nantilah saya ke Jawa lalu heran melihat orang-orang aneh liat saya makan pakai ketan, justru saya agak aneh liat orang-orang makan ketan dikasih gula hahaha.

    • melinase February 15, 2020 at 6:03 am Reply

      Hahaha … Beda kebiasaan ya, Kak. Ketan dan gula itu kombinasi yang sangat manis, lhooo … Hihihi …

  • Bambang Irwanto February 14, 2020 at 8:14 am Reply

    Saya termasuk yang suka ketan, Mbak. Makanya lemper dan semer mendem termasuk favorit saya hehehe. Di rumah juga sering masak ketan. Lalu dimakan dengan serundeng kelapa atau ikan. Pakai abon juga enak hehehe.

    • melinase February 15, 2020 at 6:04 am Reply

      Wah, semua yang njenengan sebutkan masuk ke dalam daftar makanan favorit saya semua, Mas. Nanti kalau saya main-main ke rumah, jangan lupa disuguhi ketan serundeng, ya. Kalau bisa dilebihin biar bisa dibawa pulang, hahaha …

  • Dyah ummu AuRa February 14, 2020 at 9:33 am Reply

    NGiler ma jajanan tradisonalnya. Itu makanan kesukaan semua. Duh, jajanan dari ketan itu emang juara deh. Makanya wajib dijaga hutan biar kudapan ini bisa terus ada.

    • melinase February 15, 2020 at 6:05 am Reply

      Iya yuk, bareng-bareng kita jaga hutan. Masa depan keberlangsungan umat manusia banyak bergantung kepada hutan.

  • Andi Telaumbanua February 14, 2020 at 10:15 am Reply

    Saya juga suka makan kudapan yang berbahan ketan. Terutama bubur ketan hitam. Rasanya nikmat sekali.

    • melinase February 15, 2020 at 6:05 am Reply

      Wah iyaaa … Enak banget. Dimakan hangat atau dingin, saya suka semuanya.

  • Nuna February 14, 2020 at 10:52 am Reply

    Nah bener banget kak, makin kesini hutan kita malah makin berkurang untuk industri dan sebagainya. Padahal hutan itu sumber pangan untuk masyarakat, lama-lama kita bisa krisis pangan kalo hutan dibabat abis.

    • melinase February 15, 2020 at 6:07 am Reply

      Betul, Mbak. Krisis pangan tinggal di depan mata kalau hutan kita semakin menyempit ruangnya. Jangan lupa juga bencana alam yang siap mengintai mulai dari tanah longsor dan bencana banjir. Ya Allah, jangan sampai terjadi.

  • wulan February 14, 2020 at 11:24 am Reply

    memang ya, lingkungan dan ekosistem itu saling berkaitan dan mesti dilaga bersama-sama supaya tetapi terjaga

    • melinase February 15, 2020 at 6:07 am Reply

      Manusia sudah disedaiakan segala macam kebutuhannya oleh Tuhan. Hanya tinggal merawatnya saja padahal. Duh, aku juga belum banyak melakukan sesuatu yang besar demi hutan, nih.

  • Nurhilmiyah February 14, 2020 at 5:37 pm Reply

    Bener banget, Mbak Melina, miris juga sih melihat keberadaan hutan yang semakin terjepit karena pembangunan di mana2…
    Mbak ketan itu emang populer banget ya di lidah bangsa Indonesia, buanyaaak cemilan terbuat dari ketan. Jadi makin mencintai hutan deh hehe

    • melinase February 15, 2020 at 6:08 am Reply

      Yuk ah, jangan sampai generasi ke depan kehilangan informasi tentang sumber pangan melimpah kita dari hutan gara-gara rusaknya hutan ini.

      Ah, pagi-pagi begini jadi pengen ke pasar beli lemper, wajik, dkk.

  • bundadzakiyyah February 15, 2020 at 3:20 am Reply

    ketan adalah makanan favorit saya dan keluarga, terutama suami saya doyan banget makan ketan yang cuma dikukus dong, ealah ternyata nurun ke anak pertama saya, hahaha. Eh, beneran ya ketan nih bisa buat diet, aku malah takut makan ketan karena kukira kayak nasi

    • melinase February 15, 2020 at 6:11 am Reply

      Nah kan ketan itu enak banget sampai bisa diwariskan, hahaha … Iya, Mbak. Sama seperti aku yang gampang ngantuk kalau makan nasi, eh makan ketan nggak, lho.

  • elva s February 15, 2020 at 3:41 pm Reply

    Jadi inget nenekku di desa,soalnya setiap kerumah oleh-oleh yang dibawa pasti kue cucur.
    Ngomongin soal ketan,emang bisa diolah menjadi makanan apa saja. Apalagi saat Idul Fitri tiba, ketan hitam menjadi primadona.
    dimana diolah menjadi makanan lemang tapai, duh… menu ini selalu dicari tapi sekarang sudah sulit menemukannya.

    • melinase February 16, 2020 at 12:51 am Reply

      Wah, Idul Fitri dimeriahkan pakai ketan hitam? Bikin tape uli kah? Dulu di Tangerang, guru mengajiku suka membuat juga.

  • Siti February 15, 2020 at 5:18 pm Reply

    Menjaga hutan emmang harus dengan banyak pihak ya kak, baik dari pemerintah dan msyrakat.
    Karena sekarang banyk hutan yang sudah jdi alih fungsi jadi tanaman sawit.
    Pertanian juga ya kak,banyak beras impor jadi petani di Indonesia mungkin merasa pesimis akan hasil nya jadi banyak dijual dan jadi perumahan.

    • melinase February 16, 2020 at 12:52 am Reply

      Itu dia … Sedih sekali. Itu memang berijin atau bagaimana, ya? Bukan kah sudah jelas dampak perluasan perkebunan kelapa sawit terhadap ekosistem? Impor pun sama. Padahal komoditas pertanian kita mestinya bisa dimaksimalkan.

  • Colorwalk February 15, 2020 at 6:29 pm Reply

    Saya juga suka ketan dalam berbagai macam olahan mbak. Soalnya emang kayak penuh citarasa gitu, manis oke, dipadu dengan masakan seperti khas jepang dan korea pun oke juga, Enak gitu, bikin nagih

    • melinase February 16, 2020 at 12:53 am Reply

      Wah, malah baru tahu makanan Jepang dan Korea juga menggunakan bahan ketan. Makanan apakah itu?

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.