Talas dari Hutan; Alternatif Diversifikasi Pangan

“Awali Hari dengan Senyuman.”

Teman-teman pernah membaca quote di atas?

Yakin pernah, mungkin malah sering. Setuju atau nggak, yuk mari kita setuju saja karena senyum adalah sedekah yang paling mudah.

Hari yang dihadapi setiap orang akan berbeda-beda. Apapun ragam aktivitasnya, pastinya kita butuh energi. Kalau mengawali hari dengan senyuman saja, kira-kira kuat nggak ya bertahan sampai sore atau bahkan malam hari?

Coba siapa di sini yang setuju bahwa mengawali hari dengan senyuman, bakalan cuma tahan sampai pukul sembilan?

Manfaat Sarapan Bagi Kesehatan

Saya termasuk salah satu orang yang memasukkan sarapan ke dalam kategori wajib. Saya memang orang yang mudah lapar dan rasa lapar ini sangat mempengaruhi performa saya dalam beraktivitas. Apalagi sarapan bukan hanya sekedar kegiatan mengunyah makanan di pagi hari sampai kenyang, tapi ada banyak manfaat di baliknya, antara lain:

  • Sumber Energi Bagi Tubuh

Dengan sarapan, tubuh akan lebih kuat sehingga tidak mudah lelah. Terisinya energi di dalam tubuh juga akan meningkatkan konsentrasi agar kita bisa berpikir, mengingat dan membuat keputusan dengan jernih.

  • Menjaga Kestabilan Berat Badan

Meskipun inti dari sarapan adalah makan, kita nggak perlu khawatir sarapan akan menaikkan berat badan. Sebaliknya, sarapan akan membantu menjaga metabolism dalam tubuh agar nggak mudah merasa lapar. Rasa lapar ini malah akan memicu kita untuk menikmati cemilan terus-menerus. Justru inilah yang menyebabkan kenaikan berat badan.

  • Mengatasi Masalah Anemia

Anemia terjadi karena tubuh kita kekurangan zat besi. Oleh sebab itu, jangan sampai melewatkan sarapan. Sangat disarankan untuk memasukkan menu buah-buahan ke dalam sarapan. Vitamin dan zat besi yang terkandung di dalamnya, sangat baik mengatasi masalah anemia.

  • Meningkatkan Kekuatan Sistem Kardiovaskular

Kekuatan system kardiovaskular tidak hanya diperoleh melalui olahraga, melainkan juga melalui asupan makanan. Menyantap menu sarapan yang mengandung serat tinggi sangat baik untuk meningkatkan kekuatan system kardiovaskular kita.

  • Menstabilkan Kadar Gula Darah

Diabetes menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia. Kita bisa melakukan tindakan pencegahan dengan rutin sarapan. Tentunya, dengan memperhatikan menu sarapan yang kaya serat. Menu sarapan pagi yang bergizi sangat baik menjaga kestabilan kadar gula dalam darah.

Talas Kukus; Sumber Pangan Lezat

Begitu pentingnya sarapan bagi kesehatan, ya. Tapi, kok selalu ada catatan agar mengonsumi makanan yang bergizi, ya? Wah, jadi sarapan pun nggak boleh seadanya, dong. Padahal saya sering sekali mengonsumsi menu sarapan dengan dalih “Yang penting bisa ngganjel perut.” 

Tubuh yang sudah dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita ini selayaknya memang dijaga, salah satunya diisi dengan makanan bergizi. Seperti orang Indonesia pada umumnya, saya belum merasa makan kalau belum bertemu nasi, baik saat sarapan, makan siang, maupun makan malam. Padahal ya, suka tersiksa juga dengan efek mengantuk setelah makan nasi.

Sampai suatu ketika, saya menghampiri salah satu gerobak penjual talas kukus di depan sebuah swalayan. Sudah sering lihat tapi mau beli ragu. Enak nggak, ya? Iseng-iseng mencoba, ternyata rasanya enak. Legit, tidak terlalu manis, dan mengenyangkan. Beberapa potong talas rasanya lebih awet kenyangnya daripada sepiring nasi. Wuih, ini sih bisa juga dong dijadikan menu pengganti nasi untuk makan siang maupun makan malam.

Umumnya, pedagang talas kukus menyediakan aneka topping sebagai variasinya, seperti parutan kelapa, parutan gula merah, parutan keju, atau kombinasi dari ketiganya. Saya lebih suka talas kukus original karena sensasi talas aslinya mudah dikenali oleh lidah. Tapi sesekali menikmati talas kukus dengan beragam topping, nggak ada salahnya untuk dicoba, lho.

Salah satu pedagang Talas Kukus di kawasan wisata kuliner Jl. Suryakencana - Bogor

Pedagang talas di Bogor dapat ditemui di sepanjang Jl. Baranangsiang, Jalan Pajajaran dan Jl. Suryakencana. Umumnya hanya menggunakan gerobak sederhana. Jangan khawatir salah gerobak. Mereka semua selalu memasang tulisan dan gambar talas kukus di gerobaknya, kok. Rata-rata talas kukus dijual dengan harga antara Rp 10 ribu – Rp 25 ribu per porsi. Semakin banyak topping, semakin mahal harganya.

Jika ingin mengolah talas kukus di rumah, tinggal bawa pulang saja umbi talas mentahnya. Mudah sekali kok menemukan pedagang umbi talas ini di sepanjang jalan. Untuk jenis Talas Ketan umumnya ditawarkan seharga Rp 40 ribu, Talas Mentega seharga Rp 50 ribu dan jenis Talas Ketan Wangi Rp 35 ribu/kg. Masing-masing ikatan berisi enam batang umbi talas.

Satu porsi Talas Kukus Original dihargai Rp 12 ribu. Cukup mengenyangkan.

Saya suka berandai-andai, meskipun nasi adalah makanan yang Indonesia banget, apa iya semua orang harus makan nasi? Bagaimana dengan orang-orang yang mudah sekali mengantuk setelah makan nasi? Seperti saya ini. Bagaimana dengan orang-orang yang tengah diet glukosa dan harus menghindari nasi? Bagaimana dengan masyarakat yang wilayah tempat tinggal mereka nggak sesuai untuk ditanami padi?

Ketersediaan talas menjadi berita baik. Masyarakat memiliki alternatif sumber pangan selain nasi. Indonesia sangat kaya dengan sumber pangan. Tahu, nggak? Ternyata selain sagu, sebagian masyarakat Papua dan Mentawai sejak dulu juga memanfaatkan talas sebagai sumber makanan pokok, lho. Mereka memasaknya dengan cara digoreng atau direbus. Di tanah Papua dan Mentawai, tanaman padi memang nggak bisa tumbuh dengan baik.

Talas; Sumber Pangan Alternatif dalam Rangka Diversifikasi Pangan

Talas merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat dijumpai di berbagai kepulauan di Indonesia. Dibandingkan sumber pangan dari umbi-umbian lainnya, talas mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah namun protein yang lebih tinggi.

Berikut perbandingan kandungan karbohidrat dan protein antara talas, dibandingkan dengan ubi jalar dan ubi kayu, yang telah lebih dulu dijadikan sebagai sumber pangan pengganti beras.

Talas
Karbohidrat 23.7%
Ubi Kayu
Karbohidrat 37.8%
Ubi Jalar
Karbohidrat 27.9%
Talas
Protein 1.9%
Ubi Kayu
Protein 0.8%
Ubi Jalar
Protein 1.8%

Diversifikasi pangan memang diperlukan dalam rangka ketahanan dan kedaulatan pangan yang selama ini selalu menjadi isu berkembang setiap tahunnya. Ketahanan pangan diartikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi masyarakat, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Sementara kedaulatan pangan secara garis besar adalah pemenuhan pangan melalui produksi lokal. Hal ini sesuai dengan UU Pangan No. 7/1996 dan PP No. 68/2002 tentang Ketahanan Pangan.

Sesuai undang-undang, ketahanan pangan mencakup empat (4) pilar, yakni aspek ketersediaan (food availability), aspek stabilitas ketersediaan atau pasokan (stability availability), aspek keterjangkauan (access to supplies), dan aspek konsumsi (food utilization)

Melalui diversifikasi pangan, masyarakat didorong untuk memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi sehingga bukan hanya terfokus pada satu jenis pangan pokok saja. Berarti langkah yang saya ambil dengan mencoba mengganti sumber makanan pokok dari beras ke talas, sudah menjadi bagian dari upaya melakukan diversifikasi pangan, nih. Yah, meskipun sesekali saya bakal makan nasi juga. Siapa coba yang kuat menahan godaan nasi panas, ikan asin, dan sambal terasi?

Kandungan gizi lainnya dari talas juga melimpah dan memberikan manfaat yang sangat baik bagi tubuh.

Mengenai aspek konsumsi, bahan pangan alternatif harus mempertimbangkan soal selera. Dari sisi konsumsi, talas dapat diolah mulai dari cara sederhana sampai yang kompleks. 

Mengenai aspek keterjangkauan, harga jual umbi talas relatif murah, sekitar Rp 4 ribu/kg di tingkat petani. Memang menjadi jauh lebih mahal saat sudah sampai di tangan konsumen, apalagi kalau sudah berwujud lain. Talas dapat dijual dalam bentuk umbi mentah yang biasanya dijual beserta batangnya, atau dijual dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi setelah melalui proses pengolahan dalam bentuk lain.

Seperti kita ketahui, komoditi selalu akan naik nilai jualnya apabila telah melalu proses pengolahan dan pengemasan yang bernilai estetika lebih dari sebelumnya. Dari sisi rasa, harus berpotensi untuk dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas. Selain itu, juga memiliki peluang besar untuk dikonsumsi secara luas oleh rumah tangga konsumen.Harga jual saat menjadi setoples kue kering berbahan dasar talas tentu akan lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk satu ikat umbi talas.

Untuk dapat diterima sebagai sumber pangan alternatif dalam diversifikasi pangan, suatu bahan pangan juga harus tersedia dalam jumlah besar di sekitar kita. Hal ini untuk memenuhi aspek ketersediaan dan pasokan.

Dulu, talas dianggap sebagai tanaman liar. Jangankan dikonsumsi, dilirik pun nggak. Sampai kemudian talas teruji memiliki rasa enak, kandungan gizi tinggi, dan nilai jual yang menjanjikan. Awalnya, talas pun sempat hampir ditinggalkan karena rasa gatal yang tertinggal di lidah setelah mengonsumsinya. Itu dikarenakan kandungan oksalat yang ada di dalam talas. Tapi jangan khawatir, lewat proses pengolahan yang tepat, talas bisa menjadi sumber pangan yang enak rasanya.

Tanaman talas dulunya berasal dari Asia Tenggara, menyebar ke Cina pada abad pertama, kemudian Jepang, dan daerah lain di Samudra Pasifik akibat terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia, di hampir seluruh kepulauan yang tersebar dari tepi pantai hingga pegunungan, dapat dijumpai tanaman talas baik yang tumbuh liar di dalam hutan maupun yang sengaja dibudidayakan.

Varietas Talas Ketan
Varietas Talas Mentega

Di Indonesia sendiri, cukup banyak wilayah yang sudah melakukan budidaya tanaman talas ini. Jadi talas bukan hanya ada di Bogor, ya. Meskipun orang-orang lebih mengenal talas sebagai oleh-oleh khas Bogor.

Di kota hujan ini, memang terdapat beberapa lokasi budidaya talas seperti di daerah Cihideung, Cigombong, dan Cijeruk. Secara morfologis, terdapat beberapa varietas talas Bogor, yaitu Talas Ketan, Talas Sutra, Talas Bentul, Talas Lampung, Talas Mentega, Talas Paris, dan Talas Loma.

Varietas Talas Ketan Wangi. Ukuran umbi jauh lebih besar dibandingkan Talas Ketan biasa.

Daerah lain juga punya talas khas daerah mereka. Sebut saja Talas Ketan Wangi dari Sumedang atau Talas Beneng dari Pandeglang.

Dengan semakin berkembangnya budidaya tanaman talas di luar habitat aslinya di dalam hutan, bagaimana hubungan tanaman talas dengan hutan itu sendiri? Masih kah hutan diperlukan untuk keberlangsungan tanaman talas sebagai salah satu sumber pangan?

Hutan Sahabat Kita

Indonesia memiliki kekayaan alam berupa hutan-hutan tropis yang begitu luas serta keanekaragaman hayati yang melimpah. Kondisi yang nggak semua negara memilikinya. Hutan memberikan pasokan udara segar dan air bersih yang berlimpah. Kawasan hutan menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi flora dan fauna. 

Selain menjadi rumah bagi flora dan fauna, keberadaan hutan juga sangat penting bagi manusia. Hutan harus senantiasa diibaratkan sebagai sahabat. Jangan memusuhinya lewat cara merusak. Ketiadaan atau rusaknya hutan dapat mengakibatkan punahnya kehidupan. Ini adalah beberapa manfaat hutan bagi alam sekitar dan makhluk hidup:

  1. Berperan sebagai pencegah erosi tanah. Hutan dengan pepohonan yang lebat dan akar kuatnya membantu menyerap air hujan agar tidak mengalir ke dataran rendah atau dataran pemukiman. Bisa kita bayangkan saat hutan gundul, nggak ada pepohonan, tanah akan menjadi kering dan membentuk pori atau rongga tanah. Rongga tanah inilah yang akan terisi oleh air hujan. Semakin deras air hujan, semakin berat rongga tanah menampung air, lalu menyebabkan pergeseran tanah dan terjadinya erosi yang berujung pada tanah longsor.
  2. Penyaring dan pengatur aliran air bersih. Hutan mempunyai kemampuan dalam menyerap air bersih dari langit. Sebagian tetap disimpan di permukaan tanah, dan sebagian lainnya mengalir ke sungai atau danau. Dari sini lah sumber air bersih digunakan dan diolah untuk kepentingan orang banyak. 
  3. Pengontrol hama dan penyakit. Saat hutan terjaga, binatang pemburu hama akan memangsa hama ini di dalam hutan. Berbeda saat tidak ada pemangsa hama karena rusaknya hutan, hama akan bergerak ke tanah pertanian, perkebunan, atau ladang, dan merusak tanaman milik petani. Siapa yang akan dirugikan saat para petani mengalami gagal panen akibat serangan hama? Tentunya kita sendiri, umat manusia.
  4. Tempat berkumpul fauna yang berfungsi sebagai pollinator (penyerbuk) dan pencegah pemanasan global dengan menyerap karbon. Penyerbukan secara alami yang dilakukan oleh fauna di dalam hutan membantu menyebarkan benih tanaman agar dapat terus berkembang biak. Perkembangbiakan flora sangat penting demi menjaga keberlangsungan flora di dalam hutan.
  5. Penyedia bahan makanan baik langsung maupun tidak langsung. Hutan berkontribusi terhadap ketahanan pangan melalui fungsinya sebagai penopang, produsen, dan sebagai pelestari keragaman potensi pangan.

Secara iklim dan geografis, hutan di Indonesia seharusnya dapat menjadi sumber pangan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk kebutuhan ekspor. Seharusnya, ya? Sayangnya kita masih dihadapkan pada krisis impor komoditas yang seharusnya tersedia dari hutan kita sendiri.

Apa yang Tuhan belum anugerahkan kepada hutan-hutan di Indonesia? Hampir semua yang kita butuhkan telah tersedia. Sungguh tepat adanya bahwa hutan memiliki kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan di negara kita. Tentunya karena melimpahnya sumber pangan yang berasal dari hutan. 

Takjub nggak sih, mendapati begitu banyak sumber pangan yang disediakan oleh Tuhan di dalam hutan? Kalau kita sedang berada di dalam hutan, mungkin hutan akan bilang, “Semua ada di sini.”

Jadi mengingatkan saya pada lagu Semua Ada di Sini-nya penyanyi cilik Enno Lerian. Ada yang masih ingat liriknya? 

Cukup ada di sini, dekat kita sendiri

Kita tinggal menikmati

Hei, Indonesiaku

Tanah subur rakyat makmur

Hei, Indonesiaku

Aku sayang kepadamu

 

Ketika Hutan Kita Berduka

Selain dikenal sebagai negara dengan luasnya hutan tropis dan keanekaragaman hayati yang melimpah, Indonesia juga menjadi negara yang rawan bencana. Saat terjadi bencana, kerusakan terjadi di mana-mana, mulai dari alam, infrastruktur sampai dengan korban jiwa. Beberapa bencana terjadi di luar kendali manusia, seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, kekeringan, dan cuaca ekstrim

Selain itu, ada pula jenis bencana yang terjadi akibar ulah manusia, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran lahan dan hutan, epidemi dan wabah penyakit, kegagalan teknologi, sampai konflik sosial.

Dari sekian banyak bencana yang terjadi karena faktor alam, manusia mempunyai peran penting untuk menurunkan akibat dari bencana tersebut. Sama seperti yang telah dilakukan oleh negara Jepang. Negara rawan bencana ini sejak satu setengah hingga satu abad yang lalu telah mempersiapkan diri terhadap terjadinya bencana, sehingga saat bencana tersebut datang dampak yang ditimbulkan bisa ditekan.

Kawasan hutan perawan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Revolusi Hijau tengah digalakkan di kawasan ini. (Sumber: Media Indonesia)

Indonesia merupakan negara dengan cakupan area hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Hampir 2/3 luas daratan Indonesia ditutupi oleh hutan. Tapi itu dulu. Saat ini luas area daratan yang tertutup hutan semakin menurun jumlahnya. Sedih, ya? Nggak heran kalau kita sering mendengar binatang buas seperti harimau yang memasuki pemukiman penduduk. Mau bagaimana lagi, habitat mereka sudah rusak sehingga kesulitan memperoleh makanan.

Dalam 50 tahun terakhir, Indonesia telah kehilangan lebih dari 40% hutannya akibat ulah manusia. Akhir-akhir ini laju penggundulan hutan terjadi sangat tinggi, yaitu rata-rata 1,9% tiap tahun. Antara tahun 2000-2005 saja, sekitar 1,8 juta hektar hutan Indonesia telah dirusak. Geram rasanya mengetahui fakta ini.

Duka hutan kita juga masih ditambah dengan dilakukannya eksploitasi hutan yang menjadi penyebab terjadinya banjir di bagian hilir, tanah longsor, dan kekurangan air di musim kemarau. Kerusakan hutan juga menyebabkan erosi tanah dan degradasi lahan yang menurunkan produksi pertanian, menurunkan kapasitas untuk menghasilkan energi melalui hydropower (produksi listrik dengan menggunakan tenaga air), serta menyebabkan air terpolusi. 

Hutan yang rusak dan gundul menjadi penyebab banjir besar di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), tahun 2018 silam. (Sumber: Antaranews/Mataram)

Kerusakan hutan akan menyebabkan dampak luas sampai ke luar hutan, bahkan cakupan satu negara. Ada yang mengalami dampak ini secara langsung ada juga yang tidak langsung. Pernah nggak terpikirkan tentang saudara-saudara kita yang tinggal di pemukiman dekat hutan? Mereka yang sehari-hari mencari sumber makanan dari sana? Mereka yang sehari-hari mengambil manfaat dari hutan seperti buah-buahan untuk dijual kembali? Kerusakan hutan bagi masyarakat sekitar akan menciptakan masalah baru, yakni kelaparan, kekurangan gizi, kemiskinan, dan bisa jadi meningkatnya tingkat kriminalitas. 

Saya, kamu, kita semua yang tinggal di perkotaan, jangan dulu merasa aman. Kerusakan hutan memiliki dampak langsung terhadap perubahan iklim karena akan menyumbang gas rumah kaca yang besar. Perubahan iklim akan mempengaruhi pola tanam di lahan-lahan pertanian dan perkebunan, lahan yang semula layak ditanami suatu jenis tanaman menjadi nggak layak, meningkatnya kumpulan hama yang menyerang tanaman, dan berujung pada kegagalan panen. Apa yang terjadi setelah itu? 

Sudah tentu, produksi pangan yang dihasilkan akan menurun sedangkan kebutuhan akan pangan nggak bisa menunggu. Langkah apa yang kemudian ditempuh? Sungguh, saya nggak ingin mendengar kata ‘impor bahan pangan’ di saat negara kita sendiri sebenarnya bisa menghasilkan dalam jumlah besar.

Bersama Kita Jaga Hutan!

Hutan kita saat ini dalam kondisi terancam. Terancamnya hutan tentu saja akan mengancam masa depan umat manusia dan seluruh makhluk hidup di dalamnya. Saya sedih, marah, dan tergerak untuk melakukan sesuatu. Namun, upaya yang bisa saya lakukan masih kecil saja. Salah satunya menjaga kelestarian hutan dengan nggak melakukan tindakan perusakan saat berada di dalamnya, seperti membiarkan pohon-pohon hidup berbahagia tanpa saya perlu mengoyak kulit pada batangnya, membiarkan tanaman tumbuh subur dan liar tanpa saya perlu mencabutinya, dan membawa kembali sampah yang saya bawa keluar dari hutan. 

Menjaga lingkungan terdekat kita juga bisa terus digalakkan, seperti menghindari membuang sampah di aliran sungai maupun selokan, menggunakan kemasan makanan yang aman bagi lingkungan, dan menghindari pengolahan sampah lewat proses pembakaran.

Tapi cukup kah itu? Tentu saja masih jauuuh sekali. 

Di tengah maraknya perusakan hutan oleh orang-orang yang nggak bertanggungjawab, masih ada orang-orang berbudi yang mencintai lingkungan dan melakukan program-program strategis dalam rangka menyelamatkan hutan. Salut buat teman-teman di WALHI  di saat saya sendiri rasanya nggak tahu harus melakukan apa.

Tapi saya bisa kok menegaskan diri berada di posisi mendukung upaya pelestarian lingkungan hidup dengan cara berdonasi dan melakukan kampanye peduli lingkungan ini. Kamu juga, ya ….

Di tengah tantangan perjuangan penyelamatan lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat yang begitu berat, dibutuhkan gerakan sosial yang kuat dan luas untuk secara bersama-sama memperjuangkan keadilan sosial, ekonomi, dan ekologis, untuk generasi hari ini dan mendatang. WALHI memastikan dirinya menjadi bagian utama dari gerakan ini.

Kita ikut serta, yuk …

Saya sangat ingin hutan kita kembali rimbun dan sehat seperti dulu. Jangan berhenti peduli kalau kita percaya bahwa kita dan anak cucu kita masih menjadikan hutan sumber pangan

Saya masih ingin menikmati talas kukus yang hangat sambil bercengkrama bersama keluarga dan sahabat. Juga ingin menyaksikan talas dan berbagai olahan sumber pangan dari hutan lainnya naik kelas dan mendunia. 

Hutan kita harus tetap lestari. Tanaman talas masih membutuhkan hutan untuk tetap hidup, masih membutuhkan air untuk tumbuh subur dan berkembang, masih memerlukan fauna di dalam hutan pemakan hama agar tanaman talas hasil budidaya terhindar dari serangan dan penyakit, juga masih membutuhkan tanah subur untuk tumbuh dari hasil jatuhnya air hujan ke dalam tanah di hutan yang membusukkan dedaunan.

Seberapa luas dan berkembangnya areal budidaya tanaman talas, iya … talas dari hutan masih memerlukan habitat aslinya tetap lestari. 

Kita akan terus membutuhkan hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

“A nation that destroys its soils, destroys itself. Forests are the lungs of our land, purifying, the air and giving fresh strength to our people.” – Franklin D. Roosevelt

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

~Tulisan ini diikutsertakan dalam Forest Cuisine Blog Competition~

#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries

 

Referensi Tulisan:

  1. https://walhi.or.id/visi-dan-misi
  2. https://www.lestari-indonesia.org/id/keanekaragaman-hayati/hutan-dan-air/
  3. Aneka Ubi Unggul (Ubi Kayu – Ubi Jalar – Talas) diterbitkan oleh Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia
  4. Statistik Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2018, diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
  5. Agroforesty Sebagai Langkah Pelestarian Sumber Pangan dari Hutan, Hasil Penelitian Badan Litbang dan Inovasi, diterbitkan oleh Perpustakaan RI Ardi Koesoema Badan Litbang dan Inovasi 2020
  6. Pemikiran Guru Besar IPB, Tantangan Generasi Muda dalam Pertanian, Pangan, dan Energi, diterbitkan oleh IPB Press

Sumber Foto Khusus Talas:

Koleksi Pribadi IG: @yyonadab

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

150 Comments

  • Nanik Nara February 18, 2020 at 2:15 pm Reply

    Ada sereal talas juga ya, belum pernah nyicipi.
    Saya kalau ngolah talas, paling di kukus atau di goreng aja. Belinya yang udah di kupas dan dipotong-potong. Kadang-kadang juga beli keripik talas.

    • melinase February 18, 2020 at 2:24 pm Reply

      Nah itu dia, Kak. Banyak yang belum tahu ada talas flakes. Unik, yaaa …

    • Emma February 18, 2020 at 4:41 pm Reply

      Hutan memang sumber pangan terbesar di bumi ya mbak, aku juga suka talas klo dikukus trus pakai kelapa parut + kopi deh mantap?

      • melinase February 18, 2020 at 7:08 pm Reply

        Wah, sekalian dong ditambahi dinikmati saat gerimis mengungkung, hahaha …

    • Alvianti Alvianti February 23, 2020 at 5:27 pm Reply

      Kayaknya saya cuma pernah coba keripik talas aja deh. Pengen coba yang sereal, penasaran rasanya gimana.

      • melinase February 23, 2020 at 7:31 pm Reply

        Talas flakes-nya saya juga belum coba nih, Mbak. Kudu banget cobain. Sewaktu pergi ke toko oleh-oleh, stoknya pada kosong, huhuhu …

  • athrikasih February 18, 2020 at 2:55 pm Reply

    Hai mbak,

    Talas sama keladi sama kan ya? Kalau nenek biasanya direbus terus dikasi taburan parutan kelapa dan gula diatasnya. Tapi aku lebih suka di masak asam pedas sih. Menu masakan yang hanya familiar bagi orang-orang melayu di Riau pesisir. Duh jadi pengen makan asam pedas keladi.

    • melinase February 18, 2020 at 3:33 pm Reply

      Hai juga, Mbak. Beberapa sumber menyatakan sama, tapi beberapa lainnya nggak. Tapi sekilas memang mirip sih, ya.

      Wah, yang dimasak asam pedas bagian batangnya kah, Mbak? Kalau di sini dibuat sayur lodeh, hihihi … Serba bermanfaat sih tanaman ini.

  • Triani Retno February 18, 2020 at 2:57 pm Reply

    Aku termasuk yang nggak kuat kalo mengawali hari cuma dengan senyum 😀
    Btw, baru ngeh kalau jenis talas itu macem-macem. Selama ini taunya talas doang, nggak tau itu jenis talas mentega, talas ketan, atau yang lainnya.

    • melinase February 18, 2020 at 3:34 pm Reply

      Toss dulu, ahhh …

      Iya, jenis talas itu banyak banget. Segitu varietas di Bogor aja, ya. Belum lagi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Kaya banget kan ya kita.

  • ginanelwan February 18, 2020 at 4:12 pm Reply

    talas kukus klo di manado, kampung saya biasa dimakan pake sambal. Haha, aneh ya? orang manado apapun disambalin hihihih

    • melinase February 18, 2020 at 7:07 pm Reply

      Yang bener, Kak? Sambalnya pedas pula gitu? Hmmm … Biarkan aku saya membayangkan dulu, kira-kira sambal apa yang cocok untuk talas kukus, hihihi …

  • Dyah ummu AuRa February 18, 2020 at 4:54 pm Reply

    Aku kemarin dibawain suami waktu ke ibukota yaitu bolu keju berbahan tepung talas dari bogor. Enak banget mbak. Emang ya hutan itu banyak menyimpan bahan pangan jadi memang sebaiknya kita jaga.

    • melinase February 18, 2020 at 7:09 pm Reply

      Nah, bolu kukus selalu jadi favorit untuk buah tangan. Bentuk lain dari talas dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi, ya.

      • Dyah ummu AuRa February 20, 2020 at 3:25 pm Reply

        Bener banget mbak. Dan sebenarnya pake tepung talas jauh lebih sehat dibanding pake tepung terigu kan.

        • melinase February 20, 2020 at 11:57 pm Reply

          Betul banget. Bebas gluten soalnya.

  • Dian Restu Agustina February 18, 2020 at 5:03 pm Reply

    Aku kalau sarapan dengan senyuman bisa pingsan, Mbak Mel kwkw
    Dan beruntung jadi orang Bogor, beli talas gampang..mau mentah maupun mateng
    Aku inget Ibuku sering ngukus talas buat kudapan sore tapi bukan sarapan
    Tapi sma-sama enaknya ah
    Aku jadi pengin talaaaaas!!!

    • melinase February 18, 2020 at 7:12 pm Reply

      Sama, Mbaaak … Pingsan sebelahan kita ya, wkwkwk …
      Buat kudapan atau makan berat sama mantepnya. Kalau habis makan talas tuh aku rasanya udah nggak kepengen ngemil. Cocoknya buat yang mau diet ini sih ya, hahaha …

  • Sinta Legian Wulandari February 18, 2020 at 5:51 pm Reply

    Mantap nih. Talas dikukus. No gluten, gak digoreng pula. Sehat banget nih. Enak lagi ya. Udah lama gak makan talas kukus. Biasanya sih ditaburi kelapa parut. Wah, jadi pengeeeeen..

    • melinase February 18, 2020 at 7:13 pm Reply

      Iyaaa, kandungan gizinya tinggi, lho. Hayuk balik lagi makan talas. Sini aku traktir, seporsi cukup laaah. Cepet kenyang kok, wkwkwk …

  • NurulRahma February 18, 2020 at 7:55 pm Reply

    Nyam nyaaammm, talas kukus tuh endeusss banget!
    Bergizi, banyak manfaat, MURAH (kudu capslock nih!), dan engga ngebosenin.
    Semoga SDA hutan tetap terpelihara dgn baik yaaa

    • melinase February 18, 2020 at 8:33 pm Reply

      Setujuuu … Setuju juga soal capslock-nya, hahaha …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Yuk kita jaga hutan bersama-sama.

  • Reyne Raea February 18, 2020 at 8:33 pm Reply

    Talas ini juga banyak di tempat ortu saya, tapi saya sering gatal-gatal kalau makan talas.
    padahal enak sih, kalau dibikin cake lebih enak ya, gluten free dan sehat banget.

    • melinase February 19, 2020 at 3:05 am Reply

      Wah, gatal di lidah kah, Mbak? Sudah coba merendam talas dulu di dalam air? Ada yang bilang itu salah satu caranya. Ada juga yang bilang nggak usah dicuci karena merangsang getah keluar.

      • Reyne Raea February 21, 2020 at 7:57 am Reply

        hihihi tepatnya yang masak mama saya sih 😀
        Iya Mba, mama saya dulu kalau ga salah bahkan direndam di air garam dong, tetep gatal.

        Makanya jarang bikin, padahal enak, lebih empuk dibanding ubi jalar ya?
        Dibikin kolak juga enak tuh 😀

        • melinase February 21, 2020 at 12:54 pm Reply

          Owh, apa jenis talasnya bukan untuk yang umbinya bisa dimasak kali, ya? Soalnya varietas talas nih banyak banget. Tapi yang dijual hanya beberapa varietas aja.

          Kalau dikolak menurutku bakal jadi lembek ya, karena teksturnya lebih lembut dibandingkan ubi jalar atau ubi kayu. Dicobain kali ya biar tahu. Mumpung hujan, enak makan kolak, hahaha …

  • Shovya February 18, 2020 at 10:02 pm Reply

    Di Banjarmasin atau Kalimantan juga populer nih si talas, selain di kuius juga bisa di goreng seperti ubi goreng.. cocolannya biasanya gula pasir. Enak deh ?❤️

    • melinase February 19, 2020 at 3:06 am Reply

      Iya, talas bisa tumbuh di mana saja soalnya. Di banyak daerah di Indonesia banyak banget. Berarti kebayang ya, berapa varietas talas yang dimiliki oleh Indonesia? Bogor saja udah ada tujuh, lho.

  • Maria G Soemitro February 19, 2020 at 12:00 am Reply

    Walau cuma dikukus, talas tuh enak banget, tapi saya lebih suka digoreng
    Konsekuensinya, karbonya nambah ???

    • melinase February 19, 2020 at 3:04 am Reply

      Aku tetap golongan talas dikukus, Ambu.

      Nah itu dia, minyaknya nggak nahan, hahaha … Etapi aku memang lebih suka ala kukusan sih daripada gorengan. Selera sih ya, Ambu …

  • Okti Li February 19, 2020 at 1:38 am Reply

    Talas sengaja kami tanam di kebun belakang rumah karena memang banyak disukai keluarga. Selain dikukus, diiris lalu digoreng juga sudah jadi teman nonton tv yang bisa sekaligus habis. Daunnya saya suka untuk disayur buntil.

    • melinase February 19, 2020 at 3:03 am Reply

      Wah, malah punya tanaman talas sendiri ya, Teh. Daun, batang, dan umbinya memang bisa dimanfaatkan semua. Jadi kayak pohon pisang gitu ya, Teh.

  • Maliha February 19, 2020 at 2:39 am Reply

    Setuju banget kalo talas sumber pangan yang baik banget buat kesehatan, aku sih suka talas apapun di bikin apa, dan tiba2 kok jadi pengen makan talas rebus campur Parutan kelapa,sedapp betul

    • melinase February 19, 2020 at 3:07 am Reply

      Kandungan gizinya banyak banget ya, Mbak.

      Aih, kayaknya enak nih sarapan talas kukus hangat. Whoaaa, belum jam sarapan padahal.

  • Komi Kendy February 19, 2020 at 5:58 am Reply

    Sangat banyak sekali tanaman yang bisa menjadi sumber makanan kita ya mbak. Sangat eprlu kita ikut berpartisipasi untuk ikut serta menjaganya. Kalo di kampung saya di Jawa, sarapannya rebusan ubi dan talas udah jadi santapan rutin.

    • melinase February 19, 2020 at 10:41 am Reply

      Betul, Mbak. Makanya habitat aslinya jangan sampai rusak.

      Wah, salut! Makanan tradisional memang harus dilestarikan, ya.

  • Fenni Bungsu February 19, 2020 at 7:08 am Reply

    Duku waktu almarhumah mama masih ada kalau ke Bogor selalu menyempatkan membeli talas Bogor. Terus pas di rumah, dikukus plus kasih garam deh. Kadang tinggal makan gitu aja, kadang juga dikasih toping gula. Memang lumayan ngganjel perut baik itu sarapan maupun saat sore hari, cuma ya tetep dakunya makan nasi juga ?

    • melinase February 19, 2020 at 10:39 am Reply

      Al Faatihah untuk almarhumah Mama ya, Mbak …

      Talas ternyata punya kenangan indah ya bareng orang terkasih.

  • Ida Raihan February 19, 2020 at 7:26 am Reply

    Kalo ke bogor pasti belinya talas ya. Bisa dikukus aja, bisa disayur, dan bikin kue. Mantaap. Suka makan talas.

    • melinase February 19, 2020 at 10:40 am Reply

      Jadi bahan pangan yang wajib dibeli ya, Kak. Mau buat makanan pokok, cemilan, disayur, bisaaa …

      • Ida Raihan February 22, 2020 at 9:03 am Reply

        Betul sekali. Dibikin keripik, sambel orak, pokoknya serbaguna talas mah.

  • Nia K. Haryanto February 19, 2020 at 8:05 am Reply

    Wah, salah satu makanan dari hutan yang jadi favorit aku nih. Enak dan unik rasanya. Mana sekarang udah banyak diolah jadi lebih modern ya. Kandungan karbonya cocok banget deh buat jadi pengganti nasi.

    • melinase February 19, 2020 at 10:37 am Reply

      Iya, Mbak. Karbohidratnya cocok lah buat pengganti nasi. Jangan lupa juga kandungan gizi lainnya. Lengkap!

  • Lasmicika February 19, 2020 at 8:25 am Reply

    Salah satu makanan favorit Bapa ini. Serba guna pokoknya. Sayur lompong kami menyebutnya untuk sayur batang pohon talas. Nikmat dimakan dengan nasi jagung dan ikan asin.

    Talas juga bisa dibuat keripik ya, bisa disajikan dalam berbagai rasa. Saya paling suka keripik talas pedas manis.

    • melinase February 19, 2020 at 10:37 am Reply

      Wah, ada nama lain lagi ya ternyata. Sayur lompong. Sip, semakin bertambah deh wawasan kuliner nusantaraku ini.

      Iya, keripik talas enak, gurih dan renyah.

  • Mutia Ramadhani February 19, 2020 at 8:38 am Reply

    Saya langsung tertarik itu sama sereal talas, kalo beneran ada sungguh menarik banget buat bahan MPASI si kembar. Soalnya pengolahan talas saat masih mentah kan cukup merepotkan karena gatalnya itu kan mba? Hehehe. Tapi sebanding dengan kandungan gizi dan nutrisi yang didapatkan.

    • melinase February 19, 2020 at 10:36 am Reply

      Ada Talas Flakes, Mbak. Kemarin aku mau foto di beberapa tempat pusat oleh-oleh stoknya kosong. Katanya paling bagus dinikmati bareng kacang-kacangan dan potongan pisang.

      • Mutia Ramadhani February 21, 2020 at 8:07 am Reply

        Waduuuu udah ada produknya rupanya. Makin kepo ini saya nanti nyarinya di Bogor.

        • melinase February 21, 2020 at 12:52 pm Reply

          Iyes, Mbak. Aku masih penasaran dan nanti mau cari lagi, hihihi …

  • Rosanna Simanjuntak February 19, 2020 at 8:56 am Reply

    Aku pernah BW ke artikel tentang lapis talas Bogor.
    Warnanya ungu, plus topping keju, fix, sungguh mencaplok hatiku!
    Aku sepenuhnya setuju, sudah saatnya untuk diversifikasi pangan ya, mba

    • melinase February 19, 2020 at 10:35 am Reply

      Cerah ceria sekali ya, Kak. Betul, apalagi hasil olahannya tuh banyak banget, lho. Dari sisi ekonomi, tentunya lebih menguntungkan kalau dijual dalam bentuk cake atau bolu talas.

  • Rhoshandhayani February 19, 2020 at 10:02 am Reply

    ooooh
    aku sering sih nemu wujud itu di pasar
    tapi aku gak tau kalau itu adalah talas
    kupikir talas yang bentuknya kayak singkong
    ternyata kayak sereh tapi besar banget dan bagian bontotnya keras banget
    hooho

    • melinase February 19, 2020 at 10:34 am Reply

      Bisa dibilang ini sereh versi raksasa. Eh tapi sereh nggak ada umbinya kan, ya? Hehehe …

  • Titis Ayuningsih February 19, 2020 at 10:03 am Reply

    Talas ini bisa diolah dengan berbagai macam varian, pastinya banyak manfaatnya

    • melinase February 19, 2020 at 10:34 am Reply

      Betul. Semakin banyak penelitian dilakukan untuk melihat potensi pasarnya, Mbak.

  • Nia Nurdiansyah February 19, 2020 at 12:55 pm Reply

    Enaak banget yaa berbagai macam olahan talas yang disebutkan di atas, langsung auto ngiler… Selama ini taunya cuma tales kukus sama lompong aja, ternyata bisa dibikin macem2

    • melinase February 19, 2020 at 1:03 pm Reply

      Semakin banyak penelitian dilakukan, ternyata semakin beragam ya hasil olahan makanan yang bisa dikonsumsi.

  • Ulfah Wahyu February 19, 2020 at 3:03 pm Reply

    Sedih ya Mbak Meli, mengetahui fakta bahwa hutan kita banyak yang tidak lagi terjaga dan bahkan beralih fungsi. Semoga masyarakat semakin sadar untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan. Ngomong-ngomong masalah talas. Itu makanan favorit aku juga Mbak. Dibikin perkedel talas enak juga lho.

    • melinase February 19, 2020 at 3:12 pm Reply

      Betul, Mbak. Setiap orang harus pegang peran meskipun sederhana saja.

      Wah, talas ternyata jadi makanan favorit banyak orang, yaaa …

  • Hanni Handayani February 19, 2020 at 5:11 pm Reply

    jadi inget pas ke bogor. disana banyak talas dan ternyata variannya juga banyak jadi bisa dipilih biar ga gatel pas dimakan

    • melinase February 20, 2020 at 8:23 am Reply

      Iya, Bogor dan talas memang bagaikan amplop dan perangko, hihihi …

  • Gita Siwi February 19, 2020 at 6:11 pm Reply

    Hahaha itu kan ungkapan kak, agar jangan bete ngawalin hari yang penuh berkah kan salah satunya masih di kasih nafas dan makanan. Salah satunya hasil bumi seperti talas ini. Enaaaakkkkk!

    • Titik Wihayanti February 19, 2020 at 9:16 pm Reply

      Pas benget baca tulisan Mba Meli. Aku lagi pengen turunin BB mba. PR paling sulit itu ganti sarapan nasi. Susah banget karena dari kecil terbiasa sarapan nasi. Udah coba ganti buah-buahan tapi masih sering lapar. Mau coba ganti pakai talas ah.

      • melinase February 20, 2020 at 8:12 am Reply

        Ternyata jerat nasi begitu kuat membelengggu kita, ya? Hahaha …

        Yuk lah, mulai mencoba sumber pangan lain. Banyak banget lho yang mengandung karbohidrat dan kaya serat seperti talas ini.

    • melinase February 20, 2020 at 8:21 am Reply

      Hiyak … Makanya aku pun setuju dengan quote itu meskipun tetap dilengkapi awali hari dengan sarapan, hahaha …

  • Titik Wihayanti February 19, 2020 at 9:13 pm Reply

    Pas benget baca tulisan Mba Meli. Aku lagi pengen turunin BB mba. PR paling sulit itu ganti sarapan nasi. Susah banget karena dari kecil terbiasa sarapan nasi. Udah coba ganti buah-buahan tapi masih sering lapar. Mau coba ganti nasi pakai talas ah.

    • melinase February 20, 2020 at 8:20 am Reply

      Hayuuuk dicoba. Kuatkan tekad, hahaha …

  • Ully February 20, 2020 at 1:04 am Reply

    Berarti talas itu banyak macem nya ya kak,serius aku baru tau kk dn setiap talas beda2 manfaatnyaa,,,wow sharing nya sangat berguna sekalian kak

    • melinase February 20, 2020 at 8:10 am Reply

      Iya, ragamnya buanyaaak. Belum lagi talas yang dibudidayakan di daerah lain di Indonesia, ya. Bisa jadi semakin banyak lagi varietasnya.

      Alhamdulillah … Sama-sama. Terima kasih sudah mampir ke rumah ini, hihihi …

  • Yasinta Astuti February 20, 2020 at 4:00 am Reply

    Aku paling suka makan talas kukus pake keju ahh enaknya, sumber pangan dari hutan banyak banget ya ragamnya. Aku sendiri punya tanaman talas nih mbak di belakang rumah, masih pada kecil. Kalau udah gede mau panen sendiri ahh dan dibikin sendiri, sambil ngajarin anak-anak pentingnya jaga lingkungan

    • melinase February 20, 2020 at 8:10 am Reply

      Dimakannya selagi masih hangat gitu ya, Teh … Whoaa sedaaap!

      Asyikkk … Kabarin ya kalau panen. Aku berkunjung buat nyicipin talas kukus bikinan Teh Sintha, hahaha …

  • HELEN FETRIANI February 20, 2020 at 5:05 am Reply

    Empat tahun selama di Bogor suka menikmati olahan Talas ini. Kukus atau goreng semua suka. Dan kebayang juga ya mbak kalau hutan kita sampai gundul, duuuh banyak dampak yang bakal kita hadapi. Salah satunya hasil pangan dari hutan ini bakal gak bias kita nikmati juga. Semangat menjaga hutan untuk kehidupan yang lebih baik buat masa kini dan masa akan dating.

    • melinase February 20, 2020 at 8:08 am Reply

      Wah, sekarang sudah nggak di Bogor lagi kah?

      Talas semakin lama semakin tinggi nilai ekonomisnya. Seiring dengan kepedulian pihak terkait melakukan uji penelitian manfaat, kandungan gizi, dan olahan apa yang bisa dibuat. Semoga juga bisa diaplikasikan ya ke sumber pangan dari hutan lainnya.

      Yuk, bareng-bareng jaga hutan kita.

  • Yuni Bint Saniro February 20, 2020 at 9:58 am Reply

    Berasa ngos-ngosan. But I can’t stop for read this article until the last word. Keren, Mbak. Olahan talas yang paling yuni doyan adalah kripik talas. Rasanya lebih gurih dan enak saja ketimbang keripik lainnya. Hehehe

    • melinase February 20, 2020 at 10:02 am Reply

      Terima kasih sudah berlari marathon, Mbak Yuni … Panjang, yak? Nulisnya juga ngos-ngosan, hihihi …

      Kripik talas sepertinya memang jadi yang paling disukai, lho.

  • Hasiah February 20, 2020 at 11:19 am Reply

    Anakku yang bontot ini pola makannya “bule” mbak, dia ga doyan nasi. Tapi singkong, kentang, ubi, labu, talas, semua doyan. Jadi setiap hari selalu ada umbi2an ini, makannya kaya makan nasi, pake sayur dan lauk pauk. Hahaha, orang lihatnya kadang heran, kok bisa ga makan nasi tapi badannya tetap ginuk-ginuk. Tapi beneran, dengan mengenal aneka pangan alternatif anak2 jadi survive makan apapun dimanapun oke aja.

  • Pone syam February 20, 2020 at 12:11 pm Reply

    Masya Allah bergizi banget talas itu ya mbak. Terima kasih infonya.
    Saya penasaran gimana rasanya talas itu. Seumur hidup belum pernah mencobanya.

  • diane February 20, 2020 at 12:36 pm Reply

    salah satu makanan favorite ku juga nih.. bisa diolah berbagai macam makanan… termasuk. kripik.. hehe

  • Bety Kristianto February 20, 2020 at 1:15 pm Reply

    Wah talesnya gede-gede ya mba Mel.. puaaas makannya ehhehehe. Kalo ke Bogor slalu beli ini. Di Bandung juga banyak tukang jual tales gini. Tapi pas udah di Jogja jarang nemuin euy. Jadi kangen. Ternyata banyak banget ya manfaat tales ini mba.. nggak salah dijadikan sebagai alternatif sumber pangan yang OKE punya pastinya.

    • melinase February 20, 2020 at 3:11 pm Reply

      Iya, jenis yang gede nih, Mbak Bety …

      Mungkin di Jogja bukan salah satu daerah budidaya talas, ya. Kalau Bogor area budidayanya banyak, sih. Jadi wis pas lah, kalau di kota ini olahan dari talas banyak ditemukan.

      • Bety Kristianto February 25, 2020 at 6:51 pm Reply

        Iya kalo di sini lebih femes telo hahahaha. Ahhh jadi ngiler makan tales kaaan huhuhu. tanggung jawab mba Melllll

        • melinase February 25, 2020 at 7:01 pm Reply

          Aku tanggungjawab belikan dan Mbok Bety tanggung ongkir, yak. Hahaha …

  • Damar Aisyah February 20, 2020 at 2:27 pm Reply

    Tiap ke Bogor pasti beli ini donk, meskipun nantinya cuma tak kukus, hahaha. Aku emang gak kreatif dan gak terlalu bisa mengolah talas. Menurutku dikukus itu cara paling aman dan mudah karena rasanya nggak berubah dan nggak ada penambahan bahan apapun.

    • melinase February 20, 2020 at 3:06 pm Reply

      Samaaa … Aku juga lebih suka talas kukus. Rasanya ya rasa talas itu sendiri. Emang ya aku ini nggak neko-neko orangnya, hahaha …

  • Tatiek Purwanti February 20, 2020 at 6:05 pm Reply

    Saya dong yang lebih memilih makan talas daripada makan nasi 😉 Kalau udah makan umbi-umbian seperti ini ya udah, ga pengen nasi lagi. Saya paling suka talas kukus dan keripik talas kalau pas pengen ngemil. Jadi kepo dengan sereal talas nih. So, diversifikasi pangan memang harus kita dukung dengan mengubah kebiasaan, ya. Sekalian melindungi hutan juga ternyata, ya. Sip.

    • melinase February 20, 2020 at 11:57 pm Reply

      Seratnya memang bikin awet kenyang sih, Mbak.

      Iya, ternyata talas bisa berubah menjadi talas flakes lho. Selama ini tahunya corn flakes aja kan, ya?

  • Enni Kurniasih February 20, 2020 at 6:30 pm Reply

    Aku juga suka talas, tapi belum bisa ngolah dari mentahannya, Mbak.
    Sementara ini terima matangnya aja, deh hihihi…

    • melinase February 20, 2020 at 11:56 pm Reply

      Mentah atau matang, saya menerima dengan ikhlas, Bun … Hihihi …

      • Enni Kurniasih February 25, 2020 at 6:34 pm Reply

        Hahaha…Iya juga, sih. Enak soalnyaa ?

  • Nurul Fitri Fatkhani February 20, 2020 at 6:37 pm Reply

    Saya juga suka talas kukus. Ditaburi kelapa dan gul lebih nikmaat!

    • melinase February 20, 2020 at 11:55 pm Reply

      Sangaaat! Mari kita makan hahaha …

  • Baiq Rosmala February 20, 2020 at 7:55 pm Reply

    Aku suka makan talas tapi baru tahu kalau kandungannya se-komplit itu. Biasa makan talas dikukus aja, jadi penasaran dengan talas yang dijadikan sereal. Pasti enak!

    • melinase February 20, 2020 at 11:55 pm Reply

      Iya, Mbak. Luar biasa ya sumber pangan yang sudah disediakan untuk kita.

  • Vivi February 21, 2020 at 6:39 am Reply

    Saya belum pernah makan talas kecuali udah dijadiin bolu mba ?
    Nanti kalo ada kesempatan ke Bogor lagi mau dunk saya nyobain talas yg dijual di gerobak pinggir jalan itu.

    • melinase February 21, 2020 at 6:48 am Reply

      Wah, harus nyobain. Enak lho, Mbak. Aku masih hunting talas flakes-nya, nih. Penasaran juga.

  • Devi February 21, 2020 at 1:20 pm Reply

    Kalo ke Bogor pasti belinya cake talas. Padahal banyak hasil olahan talas lainnya yang belum saya tau. Ternyata kandungan gizi talas juga cukup tinggi ya.

    • melinase February 21, 2020 at 1:55 pm Reply

      Cake talas, bolu talas, ini terkenal banget memang. Mochi pun isiannya talas juga, hihihi …

      • April Hamsa February 22, 2020 at 7:42 pm Reply

        Beli mochinya di mana? hehe

        • melinase February 23, 2020 at 1:46 am Reply

          Namanya Mochibo alias Mochi Bogor. Ini pusatnya di Nasi Tutug Oncom dekat Jl. Binamarga.

  • Taumy February 22, 2020 at 7:50 am Reply

    Saya juga kalau lagi maen ke Bogor, pasti beli brownies talas. Jadi ga melulu dari tepung biasa. Rasanya juga enak. Memang perlu jadi alternatif pangan sih talas ini, agar tidak selalu harus nasi.

    Ya kan, habis makan nasi bisa ngantuk.

    • melinase February 22, 2020 at 2:16 pm Reply

      Betul, Mas. Ada banyak sekali ya alternatif sumber pangan lain dari hutan kita. Semoga bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap beras atau nasi.

  • Nur Husna Annisa February 22, 2020 at 2:15 pm Reply

    Kalau di kampung saya gorontalo, disana talasnya direbus baru makan dengan ikan atau pake kelapa parut.

    • melinase February 23, 2020 at 1:49 am Reply

      Wah, unik sekali. Jadi beneran seperti pengganti nasi gitu, ya. Aku jadi kepengen cobain deh makan talas kukus bersanding sama sayuran dan lauk pauk, hihihi …

  • Bambang Irwanto February 22, 2020 at 2:39 pm Reply

    Saya suka talas, Mbak. Selalin yang dikukus, saya suka kripik talas. dan untungnya di sini ada hahaha. Kalau pas adik saya ada urusan ke Bogor, pasti bawa talas. Ini enak juga disantap dengan parutan kelapa muda, Mbak Melina. Temannya teh hangat manis hahaha.

    • melinase February 23, 2020 at 1:44 am Reply

      Wah, nanti kalau lewat ke Kebumen saya bawain juga ya, Mas. Mohon pasang kuda-kuda buat nangkepnya, hahaha …

  • April Hamsa February 22, 2020 at 7:41 pm Reply

    Saya tahunya ya tepung talas yang dijadikan kue itu mbak kalau di Bogor.
    Wah ternyata di Surken ada yang jualan talas ketan ya? Penasaran seperti apa rasanya. Yg pasti emang sebagai pengganti nasi sih bisa ya mbak? Soalnya pas suamiku rajin diet dulu dia suka nguus talas haha. Kalau gak salah di depan st Bogor juga suka ada yang jualan kan ya? Yg namanya talas emang berlimpah di Bogor 😀

    • melinase February 23, 2020 at 1:45 am Reply

      Varietas talas ketan wangi, Mbak. Lembut banget. Iya, nggak jauh dari toko Jaya Makmur, tuh. Rame terus waktu saya kesana. Depan Stasiun Bogor malah nggak tahu. Soale biasanya langsung lewat pintu buat nggojek, hahaha …

  • Ilham Sadli February 22, 2020 at 7:48 pm Reply

    Ngomong soal talas, kemaren sempat viral talas yang ternyata bisa dijadikan banyak hal termasuk makanan dan bahan kosmetik. Dan seorang petani mengembangkannya, dengan memanfaatkan lahan di hutan. Banyak sekali manfaatnya

    • melinase February 23, 2020 at 1:43 am Reply

      Betul, Mas. Bisa untuk obat-obatan juga. Semua yang kita butuhkan, ternyata benar sudah disediakan di alam.

  • Susindra February 22, 2020 at 8:56 pm Reply

    Wah, saya suka banget sama talas. SUka banget, sampai-sampai makanan ini dibanned oleh suami. Wkwkwk. Ga dibolehin beli. Alasannya karena makan tetap 3x, tapi talas kukus sekilo dimakan sendiri.

    • melinase February 23, 2020 at 1:42 am Reply

      Wahahaha … Berbahaya untuk ketahanan ekonomi ituuu …

  • Nurhilmiyah February 22, 2020 at 10:29 pm Reply

    Bener banget Mbak Melina… UU Ketahanan Pangan kita menyebutkan demikian. Maka jelas kaitannya kan antara ajakan selamatkan hutan, pangan dari hutan, dg peraturan di negeri ini. Coba kalau food availability nya terancam aduhh berarti terancam pulalah ketahanan pangan kita yaa..

    • melinase February 23, 2020 at 1:42 am Reply

      Ngeri ya, Mbak? Itu sebabnya nggak salah kalau WALHI mengajak kita untuk bersama-sama peduli lingkungan, termasuk menyelamatkan hutan.

  • Desy Yusnita February 23, 2020 at 10:16 am Reply

    Baru tau saya kalau talas bisa dipolah semua bagian. Taunya cuma bagian bonggolnya yang enak untuk di kukus aja.

  • Shireishou February 24, 2020 at 5:35 am Reply

    Wow shirei ga pernah nyangka taras begitu hebatnya dan bs menjadi aneka produk. Terima kasih insightnya

    • melinase February 24, 2020 at 6:02 am Reply

      Asyik … Sekalian berbagi info nih ya sama teman-teman. Thanks Mbak Shirey sudah mampir.

  • Kang Alee February 24, 2020 at 10:57 am Reply

    Waduh, lihat talas rasanya pengin nyomot dan ngabisin sendiri deh. Saya salah satu penyuka talas, kalau udah musim talas di Bandung banyak yang jualan, jadi tiap musim aja neh bisa makan talas.

    • melinase February 24, 2020 at 2:03 pm Reply

      Monggo, Kang. Silakan dinikmati sepuasnya, hahaha …

      Di Bogor ada terus, Mas. Nanti saya ekspor ya ke Bandung.

  • steffifauziah February 24, 2020 at 3:12 pm Reply

    aku sukaa kripik talas, enaaak. hehe. belum pernah nyoba versi lain sih. aku tuh baru tahu loh talas bentuknya kalo belum diolah begitu. jadi pengen nyoba nih. hihi. makasih mba infonya. hutan itu memang sumber pangan banget ya. suka sedih juga kalo sampe kebakaran hutan, huhu. jadinya tukang jajanan berkurang kan singkong dan talas dari sana asalnya *eh

    • melinase February 24, 2020 at 4:15 pm Reply

      Ternyata bentuknya ginuk-ginuk ya, Mbak … Hehehe …

      Mari kita jaga hutan agar persediaan jajanan kita tetap bertahan.

  • Imawati Annisa February 24, 2020 at 10:19 pm Reply

    Hutan memang salah satu sumber penghasil makanan bagi manusia yang terbesar ya. Kayaknya kalau mau coba untuk mengolah sumber daya yang ada dihutan hampir semua bisa jadi bahan makanan manusia ya, apalagi orang indonesia bisa makan segalanya. Haha..

    Saya juga salah satu penikmat talas, paling sering sih dijadiin gorengan (favorite orang indonesia) lol.

    • melinase February 25, 2020 at 3:17 am Reply

      Betul. Semua kebutuhan manusia, rasa-rasanya sudah tersedia di dalam hutan. Tinggal kitanya saja yang harus tekun dan kreatif serta bijaksana dalam mengolahnya.

      Aih, kamu mah ngomongin aku nih soalnya aku tipe pemakan segala, wkwkwk …

  • Andina February 25, 2020 at 6:39 am Reply

    Wah saya jadi mikir mau ganti ke Talas untuk sarapan. Memang nasi itu overrated ya di kalangan kita, padahal kandungan gulanya bisa berbahaya kalau terlalu banyak dikonsumsi. Thank you mba artikelnya. Kita memang perlu perluas wawasan soal kandungan gizi demi menjaga kesehatan tubuh kita.

    • melinase February 25, 2020 at 6:53 am Reply

      Iya, Mbak … Ngantuk berat saya tuh kalau makan nasi. Yuk, sedikit-sedikit kita beralih ke sumber karbohidrat lain.

      Sama-sama, Mbak. Terima kasih ya sudah berkenan singgah.

  • Deris Afriani February 25, 2020 at 9:52 am Reply

    Keren ey artikelnya. Lengkap banget. Semoga menang ya Mbak.

    Aku setuju sih dengan quote “Awali harimu dengan senyumam” tapi harus ditambah: “Awali harimu dengan sarapan ubi talas” biar kenyang dan sehat. Senyum aja bisa kelaparan he he he.

    • melinase February 25, 2020 at 10:06 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih dukungannya ya, Mbak … Terharuuu …

      Weits, cakep. Coba kemarin usulannya disampaikan sebelum diposting, Mbak. Eh belum tahu mau posting, yak? Hahaha …

  • Dian Restu Agustina February 25, 2020 at 6:12 pm Reply

    Sayur lodeh batang talas aku belum pernah nih..Dan ternyata kubaru tahu betapa banyak manfaat talas buat kita. .

    Lapar jadinya baca artikel ini

    • melinase February 25, 2020 at 6:34 pm Reply

      Aku juga belum pernah, Mbak. Wajib dicoba nih, ya. Ah, Aku ikutan lapar jugaaa …

  • dewi apriliana February 25, 2020 at 6:22 pm Reply

    Lengkap sekali nih infonya tentang manfaat hutan. Ternyata bukan hanya sekedar pencegah banjir yaa
    Semoga hutan kita lestari

    • melinase February 25, 2020 at 6:33 pm Reply

      Alhamdulillah … Terima kasih, Mbak … Semoga semakin banyak yang tahu ya manfaat hutan bagi ketersediaan pangan kita.

  • Febri February 25, 2020 at 6:27 pm Reply

    Saya tahunya talas dibikin kripik. Ternyata jadi sumber karbo alternatif juga. Nice info, mbak…

    • melinase February 25, 2020 at 6:35 pm Reply

      Kebanyakan orang tahu dan suka banget sama keripik talas, ya. Memang enaaak. Tapi dijadikan makanan pokok pun mengenyangkan, lho …

  • Wiwid Vidiannarti February 25, 2020 at 7:12 pm Reply

    Talas juga bisa dibuat bolu, enaaak. Aku suka.
    Asal mau sedikit kreatif, kita bisa dapat makanan yang lezat dan sehat yang bersumber dari hutan ya, mbak. Keren…

    • melinase February 25, 2020 at 7:15 pm Reply

      Bolu dari tepung talas memang enak banget. Lebih sehat juga karena tepung talas bebas gluten. Betul ya, alam sudah menyediakan semuanya, tinggal kita olah dengan bijaksana.

  • Renny February 25, 2020 at 9:52 pm Reply

    Paling suka keripik talas, temen ngunyah saat nonton film favorit, hehehe

    • melinase February 26, 2020 at 1:49 am Reply

      Lanjutkan! Tahu-tahu dua kantong habis, yak? Hahaha …

  • Renny Risa February 25, 2020 at 9:54 pm Reply

    Paling suka keripik talas, temen ngunyah saat nonton film favorit, hehehe
    Belum pernah coba talas dalam bentuk lainnya..

    • melinase February 26, 2020 at 1:48 am Reply

      Bisa susah berhenti sih ya kalau makan keripik talas yang memang enak itu, hiyaaa …

  • Alfa Kurnia February 26, 2020 at 9:40 am Reply

    Hutan memang penyedia semua kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lain ya, Mbak. Berperan sebagai sumber oksigen, sumber air, penyerapan air, penyeimbang ekosistem sampai penyedia bahan pangan. Dengan kampanye seperti ini semua semakin banyak yang sadar untuk ikut membantu Walhi menjaga hutan, demi kelangsungan hidup kita sendiri.

    • melinase February 26, 2020 at 9:51 am Reply

      Betul banget. Paket komplit ya hutan kita. Makanya mesti dirawat dan dilestarikan dengan sebaik-baiknya.

  • hani February 27, 2020 at 7:56 am Reply

    Hutan harus kita jaga bener nih. Banyak sumber pangan justru tumbuh di hutan. Kayunya saja diambil, sampai hutan gundul. Btw…aku jadi ingat masakan Eyang Putriku, sayur lodeh batang talas, Jangan Lompong. Enaaa banget…Udah lama engga menikmati lodeh talas. Umbinya dikukus pun enak banget…

    • melinase February 27, 2020 at 8:20 am Reply

      Betul sekali, Bunda. Kita sendiri yang akan menderita kalau hutan rusak. Nah, aku mau cobain tuh lodeh batang talasnya. Dipedesin gitu kayaknya mantap sekali, hihihi …

  • Nunu Amir February 27, 2020 at 12:13 pm Reply

    saya penyuka talas… apalagi kalau direbus. terus di makan sama sambel enakkkk #orangtimur

    • melinase February 27, 2020 at 1:10 pm Reply

      Toss yuk, Mbaaak … Whoaaa … Belum pernah makan talas pakai sambel, hihihi …

  • Rani February 28, 2020 at 7:12 am Reply

    Talas emang enak & mengenyangkan. Cuma karena sudah dianggap sebagai oleh-oleh khas, saya malah jarang mengkonsumsi talas. Padahal praktis & mengenyangkan ya. Harus mulai nyoba dibiasakan nih. Thanks for sharing

    • melinase February 28, 2020 at 9:50 am Reply

      Tinggal di Bogor kah, Mbak? Biasanya yang tinggal di sini jadi nggak menganggap talas istimewa lagi, ya. Terus terang saya lebih suka makan talas kukus dibandingkan nasi. Gampang ngantuk euy kalau kekenyangan nasi, hihihi …

  • Ayubith March 1, 2020 at 6:31 am Reply

    Talas, aku lebih suka dibuat kolak, tapi klo ke bogor bolu kukusnya gak boleh ketinggalan

    • melinase March 1, 2020 at 7:11 am Reply

      Wah, aku harus cobain juga nih kolak talas. Bolu kukus memang selalu jadi favorit tuh buat oleh-oleh …

  • Nyi Penengah Dewanti March 7, 2020 at 11:03 am Reply

    Talas aku to sering bikin buat dimasak kolak, enak soalnya kak
    untungnya keluargaku pada demen makan talas

    • melinase March 10, 2020 at 5:03 am Reply

      Belum pernah ngolak talas, euy. Malah keduluan sama dirimu, hahaha …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.