Tujuh (7) Hal yang Harus Menjadi Perhatian Single Mom

Februari 2012, pagi hari saya waktu itu masih dilalui dengan langkah-langkah panjang yang disertai dengan rasa deg-degan luar biasa. Apalagi saat tiba di depan bangunan kantor, menengok ke balkon di lantai dua, dan mendapat atasan saya sudah duduk di sana. Seringnya hanya memandang dengan tatapan datar atau sesekali dengan gelengan kepala. Mungkin beliau kesal, saya terlambat lagi dan lagi. Terlambat 5-10 menit mungkin masih bisa ditoleransi. Tapi terlambat sampai hampir satu jam? Masih bagus waktu itu saya nggak dipecat, wkwkwk

Keriuhan Sejak dari Rumah

Percayalah, saya bukan seorang pemalas yang hobi bangun kesiangan. Justru saya sudah bangun pagi-pagi sekali. Rata-rata pukul 03.00 dini hari. Iyalah, siapapun perempuan yang pernah punya bayi pasti akan terbiasa bangun sepagi itu. Malah bisa lebih pagi lagi kalau bayinya melek padahal baru pukul satu pagi. Masa iya mau dimarahin? Bayinya sih anteng, paling hanya menyusu. Tapi bahaya juga kalau saya sampai ketiduran dan tubuh saya menimpa si bayi. Makanya sekuat tenaga selalu saya coba untuk tetap terjaga.

Sering terlambat tiba di kantor, memangnya bagaimana sih cara saya mengatur waktu? Mungkin banyak orang bertanya-tanya.

Jadi, saya tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta. Jam operasional perusahaan dimulai pukul 07.30. Setidaknya saya harus berangkat pukul 05.00 dari rumah, kadang lebih sedikit. Saya masih membutuhkan waktu dari rumah menuju ke terminal, menghabiskan berjam-jam duduk di dalam bus, sebelum melanjutkan ke kantor dengan naik ojek. Kenapa nggak naik kereta saja supaya bebas dari kemacetan? Hohoho, saya sudah sangat kurang tidur, Buibuuuk. Kalau naik bus, saya punya waktu buat memejamkan mata dulu. 

Sebelum berangkat, sudah bangun pagi, saya masih harus pumping untuk persiapan ASIP anak bungsu saat seharian saya tinggal bekerja. Masih ada anak sulung yang waktu itu usianya baru 2,2 tahun. Sama-sama butuh perhatian, kan?

Ditambah lagi, saya menangani mereka sendirian. Ada kedua orangtua, tapi saya nggak punya pasangan untuk berbagi tugas. Kami berpisah, hanya satu bulan sejak anak kedua lahir. 

Sudah ya, jangan membahas apa yang terjadi di balik itu karena nanti nyasar jauh dari judul, wkwkwk

Tentang Menjadi Single Mom

Memasuki tahun ke-8 menjadi single mom, saya belajar banyak hal. Menjadi tangguh meskipun di dalamnya rapuh. Sesering mungkin membuka mata dan telinga lebar-lebar, namun di waktu yang sama harus sanggup menutupnya rapat-rapat

Menjadi single mom karena perpisahan saat pasangan berpulang pada Tuhan atau karena ketuk palu hakim di pengadilan, rasanya akan sama ngilunya. Nggak perlu dibandingkan-bandingkan mendingan yang mana, ya. 

Beberapa waktu lalu banyak postingan atau komentar di media sosial bahwa artis kita BCL masih beruntung ditinggalkan suami dalam keadaan punya pekerjaan  bagus dan punya harta terlimpah. Ini tulisan yang buat saya jahat karena bagi pasangan dalam pernikahan yang bahagia, momen kebersamaan nggak bisa digantikan dengan uang. Setuju, nggak? 

Tapi bagi seorang single mom, kepastian ekonomi jelas penting. Sepenting apa dibandingkan urusan pelik lain yang juga harus dipahami dan dilakukan? 

Saya mau cerita sedikit, ya. Khususnya bagi single mom karena perceraian. Lagi-lagi, sesuai judul. Biar pembaca nggak bingung, penulis juga nggak bingung. Masa mau menuliskan pengalaman yang nggak pernah dirasakan? Xixixi

Tujuh (7) Hal yang Harus Diperhatikan

1. Menerima Status Baru

Menyandang status baru sebagai seorang janda kerapkali menimbulkan efek psikis yang nggak menyenangkan. Stigma di dalam masyarakat tentang buruknya status ini selalu membayangi. Itu sebabnya, saya lebih suka menyebut diri sebagai ibu tunggal atau single mom. Semoga kamu yang membaca tulisan ini setuju. Kalau nggak setuju, awas ya nanti dicegat di pengkolan, wkwkwk

Mau nggak menerima ya sudah terjadi. Butuh waktu untuk terhenyak, bersedih, marah, kecewa, silakan saja. Tapi jangan lama-lama. Jangan membuat orang lain memandang iba pada diri kita. Percayalah, dikasihani itu rasanya sangat nggak menyenangkan. 

Bagi saya yang waktu itu punya bayi berusia satu bulan lebih, terlalu lama bersedih berpotensi membuat bayi rewel. Tahu sendiri kan, saat bayi rewel, biasanya bukan hanya karena dia lapar, buang air,diganggu makhluk halus, tapi juga karena sang ibu tengah rusuh hatinya. 

Jadi, terima saja ya bahwa kondisi sudah berbeda dari sebelumnya. Setelah itu, lanjutkan hidup.

 

2. Menciptakan Kesibukan

Mengurus kantor yang saat itu tengah goncang, satu balita, satu bayi, sibuk menerima telepon dari klien di perjalanan yang kata orang bikin tua di jalan, ampuh sekali membuat saya cepat bangkit dari keterkejutan dengan status baru. Jadi, selelah apapun saat itu, saya harus bersyukur Tuhan memberikan saya kesibukan yang luar biasa.

Source: Pexels

Tentunya ada dampak negatifnya juga dari kesibukan tersebut. Saya menjadi pribadi yang terlalu serius, susah banget bercanda, terlalu sensitif, menganggap orang-orang yang hidupnya santai itu sebagai orang-orang yang nggak menghargai waktu. 

Tapi tenang, itu dulu. Kalau sekarang berteman dengan saya, nggak semengerikan itu kok, huehehe

Jadilah sibuk, terutama di awal-awal perceraian. Jangan biarkan ada ruang kosong yang terlalu luas. Rugi!

3. Memiliki Pekerjaan/ Menciptakan Penghasilan

Memiliki pekerjaan penting bagi seorang single mom. Biaya hidup kita nggak 100% ditanggung oleh negara, ya kan? Apalagi kalau ada anak-anak yang kebutuhannya harus dipenuhi. Mereka membutuhkan tempat tinggal, makanan bergizi, pakaian yang layak, dan pendidikan yang baik. 

Mungkin akan sedikit menjadi ringan kalau anak-anak memperoleh tunjangan dari ayahnya. Tapi siapapun tahu, banyak ayah yang kemudian lalai memberikannya. Dengan kondisi diberikan tunjangan pun, seorang single mom juga harus memenuhi kebutuhannya sendiri, kan?

Maka, bekerja mutlak dilakukan. Kalau situasi nggak memungkinkan untuk bekerja di luar rumah, misalnya nggak ada yang menjaga anak-anak, masih ada cari lain. Memperoleh penghasilan toh bisa juga dilakukan dari rumah. Sepanjang kita mau berusaha, sepanjang pekerjaan tersebut halal. 

Jangan lupa, seiring berjalannya waktu, kebutuhan anak-anak akan meningkat dari sisi nominal. Siap-siap untuk mengencangkan ikat pinggang. Ini sebenarnya tjurhatan dari lubuk hati, woy

4. Memprioritaskan Kepentingan Anak

Sesibuk apapun seorang single mom di tempat bekerja, setinggi apapun jabatannya, setibanya di rumah, dia tetaplah seorang ibu. Meluangkan waktu bersama anak-anak dengan bercanda, bermain, memeluk dan mencium mereka, akan membuat kehadiran kita terasa istimewa. 

Setiap harinya hanya melihat sosok ibu, maka berikan mereka kenangan yang indah tentang sosok ibu. Jadikan mereka bahagia dengan ibunya. Jangan sampai mereka mempunyai kenangan buruk tentang kedua orangtua. Ayah yang menghilang dan ibu yang sibuk dengan dunianya.

Sesibuk apapun saya di kantor, saya akan berada di rumah manakala anak-anak jatuh sakit. Kadang harus betul-betul meminta kebijakan dari perusahaan untuk cuti mendadak beberapa hari. Anak-anak, apalagi bayi, nggak otomatis sembuh dalam sehari, kan?

5. Membangun Rasa Percaya Diri Anak

Hidup hanya bersama seorang ibu, nggak akan mudah bagi anak-anak korban perceraian. Saya bisa bersikap sangat santai dengan status saya di hadapan orang-orang. Tapi, jauh di lubuk hati, semakin anak-anak beranjak besar, mulai masuk dunia sekolah, maka ini adalah dunia yang menyenangkan sekaligus mengerikan.

Kenapa?

Otak saya sibuk berpikir, bagaimana kalau nanti anak-anak diminta menggambar tentang keluarga. Idealnya ada ayah, ibu, dirinya sendiri, atau mungkin bersama adik dan kakak. Jantung saya rasanya mau copot setiap kali membayangkan ini. 

Mungkin akan menjadi lebih mudah bagi anak-anak yang hubungan dengan ayahnya baik-baik saja. Sayangnya, kondisi anak-anak saya nggak begitu. Mereka nggak pernah bertemu atau berkomunikasi. Hilang ditelan bumi. 

Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk membangun rasa percaya diri pada anak-anak saya di rumah. Cuzzz ya disimak baik-baik teman-temanku tercinta … Kali butuuuh …

5. a. Bersikap Jujur Kepada Anak-Anak

Menceritakan dengan jujur kondisi kedua orangtua kepada mereka. Soal ini, saya nggak belajar sendiri. Sampaikan bahwa mereka adalah anak-anak baik yang kehadirannya sangat diinginkan. Mereka sama seperti anak-anak lain yang nggak mungkin lahir tanpa adanya ayah dan ibu. Mereka juga lahir dari pernikahan, sama seperti teman-teman yang lain.

Butuh keberanian untuk menceritakan kepada anak-anak tentang darimana mereka ada dan konsep pernikahan. Bisa menggunakan cara membandingkan dengan keluarga utuh di sekitar mereka. Dari keluarga dekat, tetangga, atau teman-teman yang mereka kenal.

Sampaikan juga, bahwa ada kondisi yang mengharuskan kedua orangtuanya nggak bisa lagi hidup bersama. Itu bukan masalah. Ada teman-teman mereka yang juga hanya hidup bersama ibunya saja, ayahnya saja, atau kakek dan neneknya saja. 

Intinya, mereka tetap anak-anak yang pantas dicintai dan dibanggakan. Semua kejujuran ini harus disampaikan perlahan. Besar kemungkinan anak-anak akan banyak bertanya dan menuntut jawaban. Sampaikan saja, tanpa harus dibumbui kebencian. Saat anak-anak merasa nyaman tinggal bersama ibunya, percayalah, mereka akan berhenti bertanya untuk sementara waktu. Ada masanya di rentang usia tertentu mereka akan kembali bertanya, di saat itu, seiring bertambahnya usia, kita bisa menjelaskan lebih panjang lagi.

5. b. Bekerjasama/Meminta Bantuan Pihak Lain

Semestinya keluarga terdekat adalah orang-orang yang bisa membantu single mom dalam membangun kepercayaan diri anak-anak. Tapi seringkali hal itu sulit diwujudkan karena mereka kerap menjadi bagian dari yang belum bisa move on dari perceraian kita. 

Jangan khawatir, kesempatan membangun rasa percaya diri ini bisa melibatkan unsur penting lain, yaitu sekolah. Guru-guru di sekolah akan menjadi orang yang dekat dengan mereka selama beberapa jam, tanpa kehadiran kita.

Sejak anak-anak masuk ke Playgrup sampai sekarang sulung duduk di Level 4, saya selalu menyempatkan bertemu kepala sekolah dan guru kelas. Kalau kepala sekolah masih sama, saya hanya akan menemui guru-guru kelas saja. Bersilaturahmi sekaligus menitipkan anak-anak pada mereka, tak lupa saya menyampaikan kondisi keluarga kami. 

Saya menceritakan dengan lengkap termasuk bahwa anak-anak nggak pernah bertemu dengan ayahnya. Saya sampaikan bahwa saya berharap, apabila terjadi sesuatu di sekolah, guru-guru kelas bisa mengambil tindakan bijaksana dalam menanggapi. 

Oya, saya pernah mengalami momen gagal sebagai ibu saat sulung menghadapi masalah psikis serius di sekolah. Kala itu, seluruh siswa memperoleh selembar kertas yang harus diisi dengan nama kedua orangtua dan perannya di rumah. Sulung berdiri dan berteriak bahwa dia nggak tahu nama ayahnya.

Tapi guru kelas berhasil meredakan suasana kelas dengan kalimat bijaksana. Bahwa mungkin saja teman-teman di kelas juga nggak tahu nama lengkap orangtuanya karena selama ini hanya memanggil ayah ibu, mama papa, ayah bunda, dan sebagainya. 

Nah, nggak rugi kan meminta bantuan dari guru-guru dan sekolah? 

5. c. Fokus pada Kelebihan Anak

Apa sih yang membuat seseorang menjadi percaya diri atau tidak percaya diri? Menyadari bahwa dia memiliki kelebihan dan kekurangan, kan?

Jadi, saya memilih fokus pada kelebihan anak-anak. Sulung mempunyai kemampuan mengingat yang sangat baik. Saya mendorongnya untuk terus melatih hapalan suratnya agar semakin baik dari hari ke hari. 

Memberikan pujian pada anak juga bisa membangkitkan rasa percaya dirinya. Dia mungkin nggak lahir dari keluarga berkecukupan, orangtua yang lengkap, bisa selalu jalan-jalan, bisa menikmati fasilitas lebih, bisa ikut beraneka macam les di luar sekolah, tapi saya sangat bangga padanya.

Karena apa? Karena dia adalah anak baik, suka membantu ibunya, sangat menyayangi ibunya, dan itu sudah membuat saya sangat bangga sebagai orangtua. 

6. Memastikan Kelengkapan Dokumen Anak

Dulu saya mengira bahwa Akta Kelahiran saja sudah cukup untuk anak-anak. Ternyata saya salah. Sebagai single mom dari perceraian, semestinya saya mempunyai Surat Hak Asuh Anak. 

Merujuk pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 105, anak yang belum berusia 12 tahun adalah milik ibunya. Setelah usia tersebut, anak diberi kebebasan untuk memilih ikut ayah atau ibu. Saat perceraian anak-anak saya memang masih di bawah umur. Jadi, masih risaukah saya soal hak asuh ini?

Saya nggak perlu khawatir kalau tiba-tiba ada pihak yang ingin mengambil alih hak asuh anak-anak, sih. Tapi ternyata Surat Hak Asuh Anak tersebut bagaikan berlian dalam membawa anak-anak saya menjelajahi dunia

Yes, right. Surat Hak Asuh Anak mutlak ditunjukkan pada saat pengajuan paspor bagi anak-anak dari orangtua yang bercerai. Dalam hal ini Imigrasi bukan ingin menentang isi Kompilasi Hukum Islam Pasal 105, tetapi mereka juga harus berhati-hati saat menerbitkan paspor. Mereka nggak pernah tahu masalah di balik perceraian sebuah keluarga. Bagaimana kalau ternyata anak dibawa oleh salah satunya dalam rangka tujuan negatif? Perdagangan anak, misalnya. Selain itu, meskipun hak asuh anak di bawah umur ada pada ibu, siapa yang tahu kan kalau ternyata saat terjadi perceraian, posisi ibu yang bersalah. Misalnya saja, terlibat narkoba. 

Jadi, pastikan single mom punya dokumen ini. Seluk beluk pengurusannya, nanti saya bagikan dalam postingan terpisah deh, ya.

7. Jangan Takut atau Malu Meminta Bantuan pada Konsultan atau Teman

Menjadi single mom sama artinya memikirkan segala sesuatu dengan kepala sendiri. Nggak ada teman untuk berdiskusi. Menyadari bahwa saya punya batasan juga baik dari sisi wawasan, saya nggak perlu merasa malu meminta bantuan pada konsultan atau teman.

Beruntung, saya mempunyai psikolog andalan di sekolah anak-anak. Beliau lah yang selama ini membantu saya menghadapi problem psikis yang dihadapi anak-anak, termasuk sulung saat menyadari bahwa dia ‘berbeda’ dari teman-temannya. 

Terbuka memberikan informasi akan membantu psikolog dalam memberikan solusi. 

Kehadiran teman-teman di sekitar saya juga sangat membantu. Sedikit nasehat, masukan, kritikan, atau terkadang hanya kedua telinga yang setia mendengarkan. Tapi pada dasarnya, saya bukan termasuk perempuan yang suka curhat panjang lebar ke teman, sih. Kalau curhat lewat tulisan begini, baru baru doyan. 

Lumayan, dapat ide materi buat diposting, wkwkwk

**********

Susah dan berat menyandang status sebagai single mom? Kadang terasa berat, kadang ringan, kadang biasa saja. Tergantung sih ada masalah apa sewaktu ditanya, wkwkwk

Sssttt … Ini sebenarnya tulisan curhatan saya yang tengah gelisah mengurus dokumen anak-anak. Jalannya berliku penuh onak duri dan bebatuan gitu, sih. Halah. Kalau saya kira-kira, butuh sekitar 1,5 tahun gitu deh sampai semuanya selesai.

Nah, daripada saya sakit kepala sendirian, mendingan saya tulis aja ya biar berbagi sama kalian semua, xixixi

Eh, tapi semoga tulisan ini ada manfaatnya, ya? Terima kasih banyak sudi mampir. Kalau sido mampir rada-rada mirip warung bakso gitu, soale … Wkwkwk

Salam setrong!

Melina Sekarsari 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

59 Comments

  • Mutia Ramadhani February 25, 2020 at 11:54 am Reply

    Salam setrong Mba Melina. Insya Allah ibu manapun yang berjuang untuk anaknya akan selalu dalam lindungan Allah. Nice artikel dan sangat menginspirasi.

    • melinase February 25, 2020 at 6:02 pm Reply

      Salam setrong kembali, Mbaaak …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih dukungannya, yaaa …

      • Mutia Ramadhani February 28, 2020 at 10:28 am Reply

        Perempuan itu secara fisik boleh saja lebih lemah dibanding laki-laki. Tapi, kalo secara mental, perempuan juaranya. Kita tetap bisa senyum walau terluka, tetap bisa kuat walau sesungguhnya penat, tetap bahagia walau sedang kecewa. Pokoknya insya Allah Mba Melina bisa melalui semuanya.

        • melinase February 28, 2020 at 10:32 am Reply

          Aduh, terharu akuuu … Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih, Mbak …

  • Sani February 25, 2020 at 5:25 pm Reply

    Semangat, semua ada solusi. Sudah jalannya. Tips2 tadi tentunya sangat bermanfaat ya, buat pejuang keluarga ini. Tq dah share

    • melinase February 25, 2020 at 5:54 pm Reply

      InsyaAllah ada, Bang. Harus semangat. Jadi bisa berbagi tips malahan, kan? Hahaha …

  • Maria G Soemitro February 26, 2020 at 12:08 am Reply

    Perempuan hebat
    Saya bertahan walau harus menerima kdrt, hingga anak anak lulus kuliah

    • melinase February 26, 2020 at 1:48 am Reply

      MasyaAllah, Ambu … Justru itu yang membuat salah satu yang membuat saya akhirnya mengiyakan. Semoga kita senantiasa dikuatkan ya, Ambu. Peluuuuk …

  • niaharyanto February 26, 2020 at 4:51 am Reply

    Hmm… nambah wawasan buat saya. Banyak yang saya gak tahu ternyata dari menjadi single mom. Salut banget dengan para single mom, seperti Mbak. Jadi ibu sekaligus ayah. Pastinya beban yang dipikul sangat berat. Semangat, mbak! 🙂

    • melinase February 26, 2020 at 5:03 am Reply

      Hai, Mbak. Semoga bermanfaat dan bisa dibagikan ke teman-teman single moms lainnya, ya. Kadang berat, kadang ringan, kadang biasa aja. Hihihi …

      InsyaAllah terus semangat!

  • Siska Dwyta February 26, 2020 at 8:29 am Reply

    Baru tahu kalau Mbak Meli ini seorang single mom. Baca tulisan di atas jadi kebayang betapa tangguhnya Mbak masih harus bekerja sambi ngurus bayi dan balita saat itu. Pasti berat banget ya Mbak tapi syukurlah Allaah kuatkan Mbak 🙂

    • melinase February 26, 2020 at 8:37 am Reply

      Iya, Mbak. Aku seorang single mom. Jungkir balik sih waktu anak-anak masih kecil banget, hahaha … Tapi semakin kesini justru tantangannya semakin besar. Urusannya sudah how to deal with kiddos agar mereka tetap happy.

      Alhamdulillah … Jadi sarana belajar hihihi …

  • Lasmicika February 26, 2020 at 8:31 am Reply

    Menjadi orangtua selalunya tidak akan pernah mudah, terlebih single mom. Harus ekstra perhatian, ekstra kerja keras, ekstra sabar, dan ekstra-ekstra lainnya. Love you mom!

    • melinase February 26, 2020 at 8:35 am Reply

      Tugas orangtua memang belajar terus ya, Mbak. Alhamdulillah, Allah kuatkan. Love you too, Mom. Terima kasih sudah memberi dukungan, yaaa …

  • Dyah ummu AuRa February 26, 2020 at 8:39 am Reply

    Keep Strong ya mbak.. #peluk. Ibu saya jadi single Mom sejak aku kelas 6 SD karena ayah meninggal. Dari beliau aku banyak belajar. Jadi single Mom itu sangat banyak cobaannya.

    • melinase February 26, 2020 at 9:01 am Reply

      Peluk kembali, Mbaaak … MasyaAllah … tapi nyatanya Ibunda bisa membesarkan putri sehebat dirimu, Mbak …

      • Dyah ummu AuRa February 28, 2020 at 5:52 pm Reply

        Alhamdulillah mbak, semoga anak-anak mbak juga jadi anak yang berbakti dan sukses dunia akhirat.

        • melinase February 28, 2020 at 6:16 pm Reply

          Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Hatur nuhuuun …

  • Aisyah Dian February 26, 2020 at 8:53 am Reply

    Tantangan menjadi single moms seberat ini ya Allah, baru baca saja rasanya sudah nggak kuat. MasyaaAllah sekuat ini mbak hebaat deh

    • melinase February 26, 2020 at 9:00 am Reply

      Percayalah … Tantangan terbesarnya adalah menghadapi anak-anak dan masalah psikis yang mungkin muncul, huehehe …

      Alhamdulillah, masih setrong meskipun kadang miring sedikit, hahaha …

  • gemaulani February 26, 2020 at 9:28 am Reply

    Aku terharu bacanya mba, mba Melina seorang single mom yang strong. Ngurus anak, berangkat kerja beda kota setiap hari dan naik angkutan umum. Bener sih di bus bisa tidur kalau di kereta belum tentu kalau enggak kebagian tempat duduk. Makasih sharing, walaupun ku belum menikah, tapi aku jadi punya banyak pengetahuan soal seluk beluk pernikahan termasuk jadi single mom. Jadi tahu kalau Surat Hak Asuh Anak juga penting untuk orang tua yang bercerai.
    .
    Sehat dan bahagia selalu untuk mba dan anak-anak. Bener sih walaupun BCL ditinggalkan dalam karir dia yang bagus dan hartanya banyak tetep aja kehilangan pasangan yang dicintai gak bisa diganti dengan harta. Nyesek

    • melinase February 26, 2020 at 9:35 am Reply

      Hai, Mbak. Terima kasih sudah berkenan membaca, ya. Banyak perempuan yang takut soal status saat menjadi single mom. Padahal tuh ada hal lebih besar yang harus disiapkan, khususnya anak-anak. Aku jadi belajar banget. Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman single mom yang lain.

  • Dian Restu Agustina February 26, 2020 at 9:52 am Reply

    Allah memberikan beban pada hamba-Nya sesuai kemampuannya
    Semangat dan selalu sehat Mbak Mel..Semoga diberi kekuatan dan kelancaran dalam membersamai anak-anak hingga nanti. Dimudahkan dan dilancarkan urusan dokumennya. Serta diberi keberkahan atas segala perjuangannya.
    Btw, kalau sido mampir itu warung mie ayam wonogiri di dekat rumahkuuu kwkwwk

    • melinase February 26, 2020 at 10:05 am Reply

      Iya ya, Mbak. MasyaAllah, kurus begini setrong rupanya, hahaha …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin … Matur nuwun doa dan dukungannya ya, Mbak. Yuk, habis ini kita makan mie ayam. Kalau dari Wonogiri udah pasti enyak, lho.

  • Amalia Cesaerini February 26, 2020 at 11:19 am Reply

    Walaupun belum jadi mom, tetapi liat perjuangan nya apalagi jd single mom sungguh luar biasa ya dan menginspirasi mom

    • melinase February 26, 2020 at 11:36 am Reply

      Hai, Mbak … Semoga nanti dirimu dipertemukan dengan jodoh terbaik menurut Allah, yaaa … Aamiin

  • Mugniar February 26, 2020 at 11:32 am Reply

    Terbayangkan perubahan status itu pada kondisi psikologis seorang single mom mana harus mengasuh anak-anak pula. Alhamdulillah Mbak Melina berbagi di blog ini supaya mereka yang sedang dalam keadaan yang sama dan browsing bisa menemukan ini dan mendapatkan motivasi. Baarakallahu fiik, Mbak.

    • melinase February 26, 2020 at 11:35 am Reply

      Justru yang menguatkan anak-anak sih, Mbak. Kalau lelah, malas, dan nggak pengen ngapa-ngapain, mereka jadi pemacu semangat. Jadi kami bersimbiosis mutualisme, hahaha …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Doa terbaik untuk teman-teman yang mendukung dan mendoakan.

  • Rina Maruti February 26, 2020 at 4:39 pm Reply

    Ahhh mba Mel, dirimu memang luar biasa. Sudah lama terpikir oleh saya pengen nulis juga tentang single mom, tapi masih ragu. Sukses selalu yaaa….

    • melinase February 26, 2020 at 4:47 pm Reply

      Teteh … Iya, nih. Rasa-rasanya kepengen berbagi ke teman-teman sesama single mom. Terutama yang masih baru dan masih banyak bersedih. Semoga bermanfaat nantinya. Sukses juga buatmu, Teteh sayaaang …

  • Mechta February 26, 2020 at 5:01 pm Reply

    Salam setrong, mbaaa.. Salut sekali aku membaca kisahmu ini. Terus semangat ya mba..semoga keberkahan selalu melingkupi mbak sekelg.. Aamiin..

    • melinase February 26, 2020 at 5:05 pm Reply

      Salam setrong kembali, Mbaaak …

      Terima kasih dukungan dan doanya ya, Mbak. Aamiin Ya Robbal Aalamiin …

  • Ane Fariz February 26, 2020 at 5:35 pm Reply

    Allah tak akan salah memilih hamba terbaik untuk menjalankan peran dari skenario-Nya. Salut akutuuuuh sama strong woman seperti dirimuh. So inspiring

  • Suci February 27, 2020 at 3:44 pm Reply

    Menuju 6 thn being single mom. Stay strong and stay health …

    • melinase February 27, 2020 at 3:50 pm Reply

      Hai, Mom. Aamiin Ya Robbal Aalamiin … Saling mendukung dan menyemangati, yaaa …

  • Nerianda February 27, 2020 at 4:04 pm Reply

    ka e ke er e re en
    Kerennnnn …
    Warbiasyah tak semua orang mampu

    • melinase February 27, 2020 at 4:40 pm Reply

      Keren! Sampai berhasil mengundang Pak Haji berkunjung kesini. MasyaAllah … Hatur nuhun. Doanya ya supaya dilancarkan semuanya.

  • Nanik K February 28, 2020 at 6:50 am Reply

    Keep Strong, Mak!
    Alhamdulillah sdh terlewati masa sulit itu, ya mbak.

    Tulisannya sangat menginspirasi, bukan hal mudah pastinya mengarungi bahtera kehidupan tanpa pendamping.
    Tapi bagi saya pribadi satu hal yg sungguh luar biasa Alloh Swt titipkan ke mbak, ayah ibu yg kuat dan selalu membersamai mbak dg cinta.
    Krn saya yakin nggk semua jg bs mendapatkannya.

    Mksh sharingnya mbak maniez, moga lain waktu bs ketemu lg kita, yak.
    Salam hangat dari jauhh .?

    • melinase February 28, 2020 at 9:51 am Reply

      InsyaAllah setrong, Mak! Hahaha …

      Masa sulit sedang dilewati sih tepatnya. Belum selesai, hahaha … Tapi dijalani aja. Kalau dibilang sulit nanti jadi berat, hohoho …

      Kangen ih, kapan-kapan kalau ke Surabaya pengen bawa apaaa gitu buat Mbak Nanik.

  • Devi February 28, 2020 at 12:02 pm Reply

    Tetep kuat ya mbak. Semoga kelak anak-anak bisa mengerti akan pilihan mbak dan bisa membanggakan mbak dengan prestasi mereka. Jadi teringat temen saya yg sedang dalam proses perceraian. Semoga sekuat mbak juga.

    • melinase February 28, 2020 at 12:39 pm Reply

      InsyaAllah, Mak. Anak-anak sudah mulai aku jelaskan sejak dua tahun lalu. Diajarin caranya sama psikolog, hehehe …

      Pasti di awal berat, Mbak. Tetap dirangkul ya, temannya …

  • Kartika February 28, 2020 at 3:57 pm Reply

    Mbak Mel, semangat terus yaaa ?? Aku belum menikah, tapi aku tau perjuangan Ibuku sbg single mom karena Ayahku pergi. Alhamdulillah kami anak2 juga mengerti perjuangan Ibu, jadi gak pernah tuh kepikiran mau nakal yg aneh2, karena gak pengen menambah beban pikiran Ibu.

    Kadang aku bersyukur juga hidup bersama Ibu yang setrong dan bermental baja. Perempuan itu tangguh secara mental. Tak terbayang kalau aku ikut Ayah, pasti kami bertiga tercerai berai. Aku juga pingin jadi perempuan yang tangguh kelak biar anak2ku juga bangga sama aku, seperti aku bangga banget sama Ibuku ??

    • melinase February 28, 2020 at 4:27 pm Reply

      InsyaAllah, Mbak Tika sayang … Terima kasih dukungannya, ya …

      MasyaAllah, salam sungkem untuk Ibunda. Sehat-sehat dan bahagia selalu, semoga diberikan menantu yang baik menurut Tuhan sebagai pasangan hidupmu kelak ya, Mbak. Aamiin.

  • Reyne Raea February 28, 2020 at 10:02 pm Reply

    Ya Allah, wanita setrong Mba.
    Semoga selalu diberi kebahagiaan dan kekuatan.
    Hidup dengan lebih baik lagi, membersamai buah hati sampai nanti 🙂

    • melinase February 29, 2020 at 12:16 am Reply

      MasyaAllah … Alhamdulillah. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.Terima kasih doa dan dukungannya, Kak Reyna.

  • Elva Susanti February 29, 2020 at 3:59 pm Reply

    Menjadi single mom pastinya tdk mudah, namun insyaa Allah bisa dilalui. Keep semangat mbak dan smg sehat selalu agar dpat membersamai anak2 selalu

    • melinase March 1, 2020 at 4:04 am Reply

      InsyaAllah, Mbak. Menerima peran ini dan terus maju. Tentu ada hikmah di balik semua peristiwa. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doa dan dukungannya. Semoga dirimu dan suami awet bahagia dan terus bersama hingga ke surga-Nya ya, Mbak.

  • Susindra February 29, 2020 at 5:03 pm Reply

    Wanita yang sangat tangguh! Yang rela bekerja saat matahari masih enggan menyapa.
    Kamu hebat Mbak. APalagi status single mom tak membuatmu berhenti “keluar” memancarkan bahagia dan semangat bagi perempuan yang senasib.
    Berbahagia selalu ya Mbak.
    Peluk cium dari Jepara

    • melinase March 1, 2020 at 4:01 am Reply

      MasyaAllah … Kehadiran anak-anak itu jadi penguat banget, Mbak. Apalagi ada keluarga dan teman-teman tersayang. Menulis dan membaca tulisan teman-teman tuh jadi healing banget, lho. Terima kasih banyak doa dan dukungannya, yaaa … Peluuuuk …

  • Bambang Irwanto February 29, 2020 at 6:48 pm Reply

    Wah.. itu endingnya kok ada warung bakso, Mbak Melina. Jadi pengin bakso pas hujan lagi hahaha.
    Tetap semangat Mbak Melina. Insya Allah dua buah hatinya Mbak Melina akan terus jadi penguat dan penyemangat Mbak Melina. Insya Allah semuanya akan bisa dihadapi dan teratasi. Aamiin.

    • melinase March 1, 2020 at 3:58 am Reply

      Sengaja, Mas. Biar kalau Mas Bambang baca, saya diajak makan bakso gitu, hehehe …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doa dan dukungannya, Mas. Semangat terus, InsyaAllah … Apalagi banyak-banyak menulis, jadi healing banget.

  • Bunsal March 2, 2020 at 11:12 am Reply

    Great sharing mbak.

    Salam kenal dari Lombok.
    7 tipsnya inshaAllah aplikatif-able.
    Tinggal dilakukan sesuai urutan dan sisanya Lillahita’ala.

    • melinase March 3, 2020 at 4:51 am Reply

      Hai, Mbak. Terima kasih sudah mampir.

      Iyes, jangan lupa bahwa hasil akhirnya ada di tangan Allah. Tugas kita berikhtiar dulu.

  • Novri - diarynovri- March 10, 2020 at 9:02 am Reply

    Aku terharu di bagian 5.b mbaa. Masyaa Allah. Tulisanku mengingatkanku untuk lebih bersyukur… keep strong, ya mba. Semoga Allah senantiasa memudahkan urusanmu ..

    • Novri - diarynovri- March 10, 2020 at 9:03 am Reply

      Typo, maksudku : tulisanmu

    • melinase March 10, 2020 at 9:24 am Reply

      MasyaAllah … Terima kasih atas doa dan dukungannya ya, Mbak …

  • Menjawab Pertanyaan Anak-Anak Tentang Ayah Pasca Perceraian Orangtua - Melina Sekarsari March 13, 2020 at 3:37 pm Reply

    […] waktu lalu, saya sempat menuliskan Tujuh (7) Hal yang Harus Menjadi Perhatian Single Mom. Menuntaskan masalah dengan diri sendiri dulu itu penting karena ada tugas besar lain yang harus […]

  • Tujuh (7) Hal yang Harus Menjadi Perhatian Single Mom – Blogger Perempuan March 17, 2020 at 8:26 am Reply

    […] Baca Selengkapnya […]

  • Membahas The World of the Married Couple dari Sisi yang Berbeda - Melina Sekarsari May 22, 2020 at 12:44 pm Reply

    […] selesai menulis Tujuh (7) Hal yang Harus Menjadi Perhatian Single Mom, saya ingin sekali menuliskan tulisan yang sama dari sudut pandang seorang anak yang tumbuh dari […]

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.