Empat Tahun Jejak Kebaikan Insan Bumi Mandiri

Piring ceper itu masih menyisakan sepotong pizza yang sudah dingin. Saya nggak terlalu suka pizza dengan roti tebal. Apalagi kalau sudah dingin seperti itu. Jadi saya menggelengkan kepala sewaktu laki-laki di sebelah saya mengingatkan untuk menghabiskannya.

Tanpa dinyana, tangannya bergerak cepat mengambil garpu, lalu memasukkan pizaa tersebut ke dalam mulutnya. Piring itu kini bersih. Hanya tersisa remah-remah kecil saja. Lalu saya diingatkan untuk nggak membiasakan diri menyisakan makanan. Duh, malu rasanya. Janji sama diri sendiri pokoknya.

Kesehariannya sebagai relawan membentuk pribadinya menjadi kokoh namun tetap rendah hati. Kami berbincang hampir dua jam lamanya tentang Yahukimo. Tapi kemudian saya mendapatkan bonus cerita beliau selama bertugas di banyak medan kemanusiaan, mulai dari banjir di Jakarta, tsunami di Aceh, gempa bumi di Nias, erupsi Merapi di Yogyakarta, termasuk juga medan perang di tepi barat. 

“Tahu nggak Mel. Waktu pesawatnya mau mendarat, saya berdoa banyak-banyak. Ya Allah, ini bisa mendarat dengan selamat, nggak?”

Dahi saya berkerut. Apa mungkin mesin pesawat yang membawa beliau saat itu bermasalah?

“Tempatnya nggak banget buat mendarat, Mel. Kamu jangan bayangin mendarat mulus di runway-nya bandara macam Soekarno Hatta, ya.”

Owh, mungkin bandaranya kecil, pikir saya.  

“Kita nggak mendarat di bandara, Mel. Di atas tanah berumput. Berbatu pula.”

Saya masih menyimak sambil mencatat.

“Ini pemukimannya di balik pegunungan, Mel. Dari pusat kota terdekat di Wamena, kalau jalan kaki makan waktu paling cepat tiga hari. Itu penduduk lokal yang fisiknya lebih bagus dari kita dan sudah hapal jalan, ya. Kalau kita sih, kayaknya jalan kaki bisa sampai tujuh hari. Itu juga kalau nggak nyasar di lebatnya hutan.”

Seperti itukah medan menuju daerah pedalaman?

 

Sumber Foto: Badan Penghubung Daerah Provinsi Papua

Cerita berikutnya membuat saya meringis. Kehidupan yang serba sederhana. Tempat tinggal berupa honai beratap daun rumbia dan beralaskan tanah. Masyarakat hanya mengolah kebun dengan menanam ubi jalar dan buah merah. Saat musim hujan, hasil kebun mereka busuk tapi tetap dimakan. 

Dulunya nggak ada sekolah. Hanya ada tentara kita yang datang untuk mengajari anak-anak belajar membaca. Ada klinik seadanya dari papan tapi tenaga kesehatan jarang datang. Sebab memang nggak setiap saat juga pesawat perintis terbang dari Wamena ke Yahukimo. Masyarakat nggak terbiasa hidup bersih. Miris, mereka pun nggak tahu gunanya mencuci tangan sebelum makan. 

Sanitasi buruk, tempat nggak layak, daerah perkebunan, membuat mereka mudah sekali terjangkit malaria. Minimnya layanan kesehatan membuat pasien malaria diabaikan. Pediiih sekali sewaktu tahu bahwa pasien malaria yang sudah parah, oleh penduduk setempat akan dibungkus menggunakan tikar lalu dibiarkan begitu saja.

“Biar saja. Sebentar lagi juga mati.”

Nelangsa kan, ya?

Tantangan Kehidupan di Daerah Pedalaman

Peristiwa itu diceritakan pada saya di tahun 2014 silam. Tentunya berdasarkan kejadian bertahun-tahun sebelum itu. Saya berharap Yahukimo saat ini sudah jauh lebih maju dibandingkan saat kawan saya datang kesana dulu. 

Daerah pedalaman memang kerap kali tertinggal dalam memperoleh layanan publik. Beberapa kendala utama yang dihadapi seperti di bawah ini:

1. Jauhnya jarak dari pemukiman penduduk ke pusat kota.

2. Medan yang masih berupa hutan atau infrastruktur yang belum memadai.

3. Ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai berimbas pada belum memungkinkannya penyediaan sarana transportasi umum.

Ketertinggalan dalam layanan publik tentunya berpengaruh pada kualitas kehidupan penduduk di daerah pedalaman tersebut, antara lain:

Padahal, setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memperoleh layanan publik yang di atur dalam UUD 1945. Pasal 31 Ayat 1 mengatur hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak. Pasal 34 Ayat 3 mengatur tanggungjawab negara dalam memberikan fasilitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

UUD 1945 berlaku bagi setiap warga negara, bukan hanya warga negara yang tinggal di perkotaan saja. 

Setiap orang dapat menjadi agen perubahan termasuk kita. Perubahan ke arah yang lebih baik semestinya dilakukan mulai dari diri sendiri dan saat ini juga. Bagaimana ya dengan agen perubahan terkait pelayanan kesehatan di daerah pedalaman?

Mari kita berkenalan dengan Pak Syafril, satu dari beberapa tenaga kesehatan di Kampung Baku, Desa Sumi, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Saya pernah dua kali berkunjung ke Nusa Tenggara Barat, namun hanya sebatas di kota Mataram dan beberapa tempat wisata saja. Ketika itu, saya dan teman-teman menginap di Jl. Langko. Jaraknya dari hotel ke bandara dan sebaliknya ditempuh dalam waktu masing-masing sekitar 1 jam 15 menit tanpa macet sama sekali. Termasuk jauh, ya. Lalu, di manakah Kampung Baku, Desa Sumi itu?

Benar adanya Kampung Baku berada di daerah pedalaman. Jaraknya dengan pusat kota Bima kurang lebih seperti jarak antara Bogor dan Karawang.

Fasilitas kesehatan yang sangat minim di Kampung Baku membuat Pak Syafril harus pergi ke kampung seberang manakala membutuhkan sesuatu. Selama enam tahun, beliau mengendarai sepeda motor tuanya, menempuh jarak tersebut, dengan medan jalan yang terjal dan berbatu. Mesin sepeda motornya pun kerap mati di tengah jalan. Oleh karena itu beliau kerap terlambat tiba di rumah pasien atau saat harus mengambil obat.

Kehadiran Insan Bumi Mandiri

Pengabdian Pak Syafril terhadap tugas dalam melayani masyarakat menjadi perhatian dari Insan Bumi Mandiri, lembaga filantropi yang bergerak untuk membangun pedalaman Indonesia. Mereka percaya, bahwa langkah kecil yang dijejakkan bersama-sama akan membawa kebaikan bagi saudara-saudara kita di daerah pedalaman. 

Beragam persoalan yang menghadang saat akan membangun daerah pedalaman seperti infrastruktur, transportasi, kesehatan, dan kesehatan bisa dibenahi bersama.

 

Insan Bumi Mandiri juga percaya bahwa kita semua pun bisa bersama-sama membantu Pak Syafril agar dapat memiliki sepeda motor baru. Diharapkan, sepeda motor baru nanti dapat memudahkan mobiliasi beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pedalaman di Kampung Baku.

Sampai dengan saat ini, donasi dalam rangka  membeli sepeda motor baru untuk Pak Syafril telah mencapai Rp 13.864.091. Baru terpenuhi 46.21% saja Akan semakin cepat terlampaui jika kita bersama-sama turut serta berdonasi. Metode pembayarannya bisa melalui transfer bank dengan menggunakan rekening BCA, BNI, BSM, Mandiri, BRI, Gopay, dan OVO. 

Insan Bumi Mandiri; Empat Tahun Melangkah

Empat tahun sudah Insan Bumi Mandiri bergerak di bidang kemanusiaan untuk masyarakat pendalaman. Banyak program kerja yang telah dimulai. Syukur Alhamdulillah, langkah bersama teman-teman yang peduli membuahkan hasil, di antaranya:

Pembangunan pondasi mushola Al Ikhlas untuk warga Sungai Napal, Kec. Suku Tengah Rakitan Ulu Terawas, Kab. Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

Sumber Foto: www.insanbumimandiri.org

Penyaluran sembako dan pemeriksaan kesehatan Pak Muhtar di RSUD Mataram mulai dari pemeriksaan darah, jantung hati, dan paru-paru. Beliau mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan tubuhnya sering jatuh tiba-tiba. Kondisi ini turut menurunkan produktivitas beliau dalam bekerja.

Sumber Foto: www.insanbumimandiri.org

Pengecoran lantai dua Mesjid Baitul Akbar di Dusun Teka Sire, Desa. Teka Sire, Kec. Manggelawa, Kab. Dompu, Nusa Tenggara Barat

Sumber Foto: www.insanbumimandiri.org

Masih ada program-program lain yang telah mulai dilaksanakan. Selain itu masih banyak lagi program kemanusiaan yang tengah dibuka dan masih membutuhkan dukungan dari Sahabat Pedalaman. Mulai dari program kesehatan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan berobat dan operasi karena kanker, tumor, sampai facial cleft, program pendidikan berupa pembangunan sekolah, pembuatan sumur air bersih, serta pembangunan tempat-tempat ibadah. 

Insan Bumi Mandiri baru melangkah selama empat tahun. Namun sudah banyak program diwujudkan secara nyata. Masih banyak mimpi yang ingin digapai. Semoga akan tetap melangkah lebih panjang, lebih jauh, dan menciptakan sebanyak mungkin jejak kebaikan bagi saudara-saudara kita di pedalaman. Jangan biarkan Insan Bumi Mandiri melangkah sendiri, mari kita mengiringi.

Insan Bumi Mandiri

Jl. Setra Dago Barat No. 25, Antapani Kulon, Antapani, Bandung, 40291

Telp: (022) 205 251 84

HP: 0813 2460 7225

 

Salam,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

95 Comments

  • Satria Mwb February 28, 2020 at 11:13 am Reply

    Bikin terharu kisahnya..??

    Sebuah daerah perdalaman yang seolah terasing dari kehidupan yang sesungguhnya.

    Anehnya lagi terkadang hasil buminya saja yang diambil sedangkan infrastruktur lingkungan daerah pedalaman dibiarkan sunyi senyap hampa. ??

    Apakah mereka berbeda??? Tentu tidak..

    Lalu…?????

    • melinase February 28, 2020 at 11:34 am Reply

      Nah ituuu … Tega sekali ya kalau hanya mau mengeruk tapi enggan memberdayakan. Semoga kita dijauhkan ya dari sifat suka merusak dan merugikan orang lain.

  • Mutia Ramadhani February 28, 2020 at 11:57 am Reply

    Yahukimo, itu benar-benar seperti di negeri antah berantah ya mba, padahal masih di Indonesia. Ceritanya menarik sekali. Saya salut sama volunteer-volunteer Insan Bumi Mandiri yang mau berdedikasi demi kemajuan Indonesia, khususnya di pedalaman.

    • melinase February 28, 2020 at 12:41 pm Reply

      Iya, Mbak. Susah sekali mencapai kesana.

      Makanya, saya kebayang juga deh dengan upaya teman-teman Insan Bumi Mandiri ini. Pastinya akses masuk ke daerah pedalamannya juga sulit. Mungkin nggak selalu berhutan lebat ya, tapi medan yang terjal berbatu kan menyulitkan juga. Semoga tetap dikuatkan dan amanah.

      • Mutia Ramadhani March 1, 2020 at 4:25 pm Reply

        Jadi relawan itu pahala akhiratnya besar, kalo penghasilan di dunia mungkin gak seberapa. Memang mereka yang bergabung di Insan Bumi Mandiri ini betul-betul insan pilihan.

        • melinase March 2, 2020 at 1:36 am Reply

          MasyaAllah ya, Mbak. Dunia cukup di genggaman saja, nggak perlu sampai ke hati.

  • Maria G Soemitro February 28, 2020 at 4:18 pm Reply

    Salut banget pada Insan Bumi Mandiri dan mereka yang jadi relawan
    Mereka benar benar all out.
    Semoga berkelanjutan dan memberi banyak asa ya

    • melinase February 28, 2020 at 4:26 pm Reply

      Betul, Ambu. Berani mengesampingkan keinginan diri sendiri. Hidupnya adalah untuk kebermanfaatan bagi orang banyak. Semoga terus menginspirasi.

  • Wiwid Vidiannarti February 28, 2020 at 7:20 pm Reply

    Masya Allah merinding aku bacanya, mbak. Keren banget ya, baru 4 tahun sudah banyak program jadinya. Salut juga sama volunteer kece itu …

    • melinase February 29, 2020 at 12:14 am Reply

      Iya, Mbak. Insan Bumi Mandiri berkomitmen tinggi. Tugas kita bersama-sama peduli, ya.

  • Dian Restu Agustina February 28, 2020 at 8:20 pm Reply

    Daerah pedalaman seringkali terabaikan padahal mereka warga Indonesia juga. Bersyukur ada lembaga seperti Insan Bumi Mandiri yang peduli akan perbaikan nasib mereka.Dan memang seharusnya kita berjalan bersama mengulurkan bantuan untuk saudara-saudara kita di pedalaman sana

    • melinase February 29, 2020 at 12:15 am Reply

      Setuju banget, Mbak Dian. Segala sesuatu akan menjadi lebih mudah jika dilakukan sesegera mungkin dan bersama-sama.

    • Wiwid Vidiannarti February 29, 2020 at 5:23 pm Reply

      Nah itu, bener, mbak. Kadang merasa seperti bukan bagian dari Indonesia.

      • melinase March 1, 2020 at 3:59 am Reply

        Saking terpencilnya ya, Mbak. Tapi InsyaAllah, Insan Bumi Mandiri siap turun ke pedalaman untuk mengentaskan masalah pendidikan dan kesehatan. Yuk, kita turut menjadi Sahabat Pedalaman.

        • Dian Restu Agustina March 2, 2020 at 11:29 am Reply

          Yes..memang harus ada lembaga non pemerintah yang ikut peduli dan turun tangan seperti Insan Bumi Mandiri ini. Dan kita yang tak bisa langsung ke pedalaman punya cara mudah untuk membantu lewat berdonasi

          • melinase March 3, 2020 at 5:16 am

            Nggak perlu mengandalkan satu pihak saja ya, Mbak. Kita pun bisa turut bersama-sama membantu.

  • Ipeh alena February 28, 2020 at 8:43 pm Reply

    Ya ampun, aku bacanya sampe nahan haru. Bayangin aja naik motor dengan jarak yang cukup jauh demi antar obat. Bersyukur banget ada lembaga volunter yang mau turun tangan jadi penyalur bantuan yang tepat sasaran gini. Semoga semua timnya sehat selalu

    • melinase February 29, 2020 at 12:16 am Reply

      Sedih, terharu sekaligus bangga dengan sosok Pak Syahril ini. Makanya, Insan Bumi Mandiri menaruh perhatian dan ingin membelikan hadiah sepeda motor untuk beliau. Semoga dimudahkan, ya.

      • Ipeh February 29, 2020 at 3:17 pm Reply

        Aamiin. Iya kak, orang yang peduli seperti pak Syahril ini harus dibantu. Apalagi sudah jelas ya, kalau bentuk bantuannya pun tepat guna. Jadi, ngga sekadarnya aja. Semoga lancar untuk tim Insan Bumi Mandiri

        • melinase March 1, 2020 at 4:06 am Reply

          Iyes, kelihatannya sederhana. Cuma sepeda motor. Tapi bayangkan berapa banyak penduduk yang terbantu jika mobilisasi beliau dimudahkan dengan kendaraan baru yang lebih layak. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga semakin banyak Sahabat Pedalaman yang ikut berkontribusi bersama Insan Bumi Mandiri, ya.

  • Dawiah February 28, 2020 at 10:40 pm Reply

    Yahukimo, nama daerah ini masih asing buat saya dan sungguh miris membaca kisah mereka, beruntunglah ada tangan-tangan penuh pahala dari Insan Bumi Mandiri yang mau membantu. Sukses ya.

    • melinase February 29, 2020 at 12:18 am Reply

      Yahukimo ini cerita lama yang pernah diceritakan teman saya, Bun. Makanya sewaktu tahu kalau Insan Bumi Mandiri menaruh kepedulian pada masyarakat pedalaman, aku jadi teringat sama cerita temanku itu. Semoga Insan Bumi Mandiri bisa bergerak lebih luas lagi dengan semakin banyak Sahabat Pedalaman yang turut serta.

      • Dawiah March 1, 2020 at 3:25 pm Reply

        Aamiin. Dan melihat kinerja dan keikhlasan Insan Bumi Mandiri, saya percaya akan banyak lagi daerah pedalaman yang bisa tersentuh oleh “tangan-tangan” kreatif mereka.

  • Dwi February 29, 2020 at 6:02 am Reply

    Masya Allah insya Allah keberkahan buat Insan Bumi Mandiri dan semua yang terlibat. Aku juga sering lihat campaign2nya IBM dan progress pembangunannya yang transparan. Semoga terus amanah membantu negara memajukan Indonesia supaya semua penduduknya Makmur sejahtera, Aamiin.

    • melinase February 29, 2020 at 7:23 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga kita juga diluaskan rezekinya ya Mbak, untuk turut serta membantu dalam bentuk donasi dan doa. Turun langsung pun kapasitas kita terbatas.

  • Shovya February 29, 2020 at 6:50 am Reply

    Yaa Allah, saya sedih mengetahui kondisi seperti ini di pedalaman Papua ? medan yang berat, jauh dari kota, sampai pelayanan medis yang sangat minim membuat mereka sampai berpasrah seperti itu saat terkena malaria ?

    Semoga kedepannya mendapat perhatian lebih dari pemerintah untuj dapat memaksimalkan pelayanan masyarakat di sana khususnya untuk kesehatan.

    Untuk Pak Syafril, saya salut dengan pengabdian dan pengorbanan Pak Syafril, semoga semua keinginan beliau terwujud secepatnya.

    • melinase February 29, 2020 at 7:22 am Reply

      Iya, Mbak. Semoga kondisi seperti yang pernah diceritain oleh teman saya itu nggak terjadi lagi.

      Pak Syafril bertugasnya di pedalaman NTB. Beliau inilah salah satu tenaga kesehatan yang tengah masuk dalam program Insan Bumi Mandiri agar dibelikan sepeda motor baru.

      Yuk, kita ikutan berdonasi juga.

  • Triani Retno February 29, 2020 at 6:54 am Reply

    Kalo lihat kehidupan sodara2 kita di pedalaman (di kota juga banyak sih yang sengsara, terutama di wilayah slum), rasanya bersalah banget karena nggak bisa berbuat banyak untuk mereka.

    • melinase February 29, 2020 at 7:20 am Reply

      Di perkotaan, kalau mau membantu aksesnya lebih mudah. Bisa ditangani oleh pemerintah pusat dengan cepat. Di pedalaman ini yang sulit ya, Mbak.

  • artha February 29, 2020 at 7:21 am Reply

    ternyata ada ya yg sangat peduli dg mereka di pedalaman. kiprahnya kudu diboomingkan lg nih, saya ajah baru kenal insan bumi mandiri padahal sudah ada sejak 4 th lalu. pembangunan masjid, bantu mereka yg kekurangan…ah mulianya

    • melinase March 1, 2020 at 4:07 am Reply

      Iya, Mbak. Saya masih sebatas iba, Insan Bumi Mandiri sudah bergerak kemana-mana. Semoga rekan-rekan di sana senantiasa disehatkan dan dimudahkan jalannya untuk membantu sesama. Semoga kita juga tergerak untuk turut berkontribusi menjadi Sahabat Pedalaman, ya.

  • bundadzakiyyah February 29, 2020 at 11:53 am Reply

    Inspiratif sekali kisahnya mbak Mel.
    Alhamdulillah ya ada insan bumi mandiri sehingga saudara-saudara kita di pedalaman bisa merasakan kebahagiaan. Semoga Insan Bumi Mandiri sukses selalu dan lebih banyak lagi orang-orang yang peduli dengan saudara-saudara di perbatasan, amiin

    • melinase March 1, 2020 at 4:06 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Itu yang kita butuhkan, Mbak. Bersama-sama peduli dan berkontribusi. InsyaAllah akan lebih mudah jika kebaikan dilakukan bersama-sama.

  • Enni Kurniasih February 29, 2020 at 4:58 pm Reply

    Suami sempat lama tugas di Papua gunung, tapi karena anak-anak masih kecil, kita tidak ikut. Banyak cerita dari beliau saat tugas di sana. Tentang anak-anak yang kesulitan sekolah, tentang cukong tanah yang mengelabui penduduk setempat, dan sebagainya. Semoga Insan Bumi Mandiri bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Aamiin

    • melinase March 1, 2020 at 4:03 am Reply

      MasyaAllah … Suami menyaksikan sendiri ya, Bun. Semoga langkah bersama-sama kita bisa membantu memperbaiki semuanya.

      Insan Bumi Mandiri juga semoga semakin kokoh dalam membantu saudara-saudara kita di daerah pedalaman. Indonesia Barat dan Tengah pun banyak banget daerah pedalaman yang masih membutuhkan perhatian.

  • Malica Ahmad February 29, 2020 at 5:21 pm Reply

    Mbak, dari awal baca sudah terenyuh. Saya jadi inget cerita pas KKN dulu. Tinggal di pedalaman memang suka banyak tantangan. Tapi seru sih jadi banyak kenangan dan pengalaman ya mbak.

    • melinase March 1, 2020 at 4:00 am Reply

      Kadang kepengen banget ikutan kesana untuk melihat keadaan saudara-saudara kita. Tapi di lain waktu tahu diri, kapasitas kalau seorang diri itu terbatas banget. Makanya, mesti bergerak bersama-sama.

  • muna February 29, 2020 at 9:28 pm Reply

    meleleh air mata kalau baca kisah-kisah seperti ini mbakk
    kaya apa ya, kita masih bisa hidup enak dan masih suka ngeluh, padahal saudara setanah air kita mengalami hal yang jauh lebih menyedihkan huhu
    semoga lembaga filantropi insan bumi mandiri ini terus diberkahi, aamiin

    • melinase March 1, 2020 at 3:56 am Reply

      Nah, kadang kita suka mengeluh sama fasilitas yang kurang ini kurang itu ya, Mbak.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga semakin banyak juga Sahabat Pedalaman yang ikut berperan.

  • Anak Desa March 1, 2020 at 11:12 am Reply

    Dengan kalimat lain, pemerintah, baik pusat hingga desa, tidak akan mampu bekerja maksimal tanpa adanya peran aktif masyarakat seperti Insan Bumi Mandiri. Semakin banyak organisasi non profit yang terlibat dalam pembangunan pedalaman, saya kira akan semakin lebih baik.

    Kira-kira demikian, Mba? Salam…

    • melinase March 1, 2020 at 11:34 am Reply

      Betul, Kak. Selagi kita bisa, mari lakukan dari diri kita sendiri. Kalau diri kita sendiri belum bisa juga, bisa ikut bekerjasama dengan teman-teman lembaga filantropi seperti Insan Bumi Mandiri ini.

  • Nanik Nara March 1, 2020 at 5:08 pm Reply

    Kalau menyimak kisah di daerah pedalaman itu selalu bikin pengen nangis, jadi pengingat juga untuk selalu bersyukur.

    Semoga makin banyak daerah pedalaman yang mendapat sentuhan dari insan bumi mandiri

    • melinase March 2, 2020 at 1:37 am Reply

      Setuju … Mereka juga berhak kan ya memperoleh fasilitas sama seperti kita.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga rekan-rekan di Insan Bumi Mandiri senantiasa dilancarkan jalannya.

  • Ari Santosa Pamungkas March 1, 2020 at 5:46 pm Reply

    Program, perencanaan hingga eksekusi kegiatan dari Insan Bumi Mandiri untuk peningkatkan kualitas masyarakat di pedalaman ini membuat aku salut. Semoga semakin meningkatkan pemerataan ekonomi di seluruh kawasan Indonesia. Aamiin.

    • melinase March 2, 2020 at 1:38 am Reply

      Sama, aku pun salut sekali sama teman-teman di Insan Bumi Mandiri.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Yuk, jadi bagian dari Sahabat Pedalaman.

  • Bundasaladin March 1, 2020 at 8:45 pm Reply

    Yakuhimo terpencil banget ya. Kudu nangis baca awal tulisan ini. Hiks. Semoga di sana sekarang udah lebih maju.

    • melinase March 2, 2020 at 1:39 am Reply

      Betul, Bun. Tapi semoga layanan kesehatan dan pendidikan sudah masuk kesana, seperti juga layanan pendidikan dan kesehatan masuk ke pedalaman NTT dan NTB berkat kepedulian dari Insan Bumi Mandiri.

  • steffifauziah March 2, 2020 at 6:47 am Reply

    Masyaallah berasa bersyukur banget ya kita tinggal di kota, gak bayangin mereka yang dipedalaman hidup serba terbatas, ikutan sedih denger kisahnya. untuk ada insan bumi mandiri ya, Alhamdulillah infrastruktur di pedalaman mulai dibenahi. semoga mereka selalu bersabar. aamiin.

    • melinase March 2, 2020 at 7:49 am Reply

      Betul banget, Mbak. Itu sebabnya aku tersentuh banget dengan kehadiran teman-teman dari Insan Bumi Mandiri yang begitu peduli.

  • Kornelius ginting March 2, 2020 at 7:07 am Reply

    Baru 4 tahun tetapi programnya sudah berjalan dan dinikmati penduduk sekitaran..tetap semangat berbagi insan bumi mandiri…

    • melinase March 2, 2020 at 7:50 am Reply

      Usia balita tapi sudah berbuat banyak ya, Bang. Patut kita jadikan teladan.

  • Nomsaa March 2, 2020 at 8:51 am Reply

    Pemerataan insfrastruktur dll emang ngga mudah. Tapi beruntung sekali ada bantuan dari lembaga lain jadi daerah pedalaman bisa berkembang dan dapat fasilitas yang lebih baik

    • melinase March 2, 2020 at 9:14 am Reply

      Betul, Mbak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan juga saat akan melakukan pembangunan, ya. Alhamdulillah, Insan Bumi Mandiri hadir untuk bergerak bagi saudara-saudara kita di daerah pedalaman.

  • Ane Fariz March 2, 2020 at 10:51 am Reply

    Dalam 4 tahun sudah begitu banyak jejak kebaikan yang dibuat Insan Bumi Mandiri. Baakallah

    • melinase March 3, 2020 at 4:50 am Reply

      Semoga akan semakin banyak lagi jejak kebaikan yang ditinggalkan ya, Teh.

  • Bayu Fitri March 2, 2020 at 12:58 pm Reply

    Terharu baca cerita relawan..sptinya jiwa relawan itu ada di setiap orang..tinggal mau menggunakan apa engga…salut sama Insan Bumi Mandiri..memanusiakan manusia dalam arti sesungguhnya

    • melinase March 3, 2020 at 4:51 am Reply

      MasyaAllah … Yuk terus kita dukung kegiatan positif Insan Bumi Mandiri dengan menjadi Sahabat Pedalaman.

  • Vivi March 2, 2020 at 1:02 pm Reply

    Ini kali kedua saya membaca tulisan berkenaan dengan Insan Bumi Mandiri.
    Dan dua-duanya bikin saya terharu.
    Terimakasih kepada Bumi Insan Mandiri yang sudah bekerja keras untuk membuat kemajuan di pedalaman Indonesia kita.

    • melinase March 3, 2020 at 4:52 am Reply

      Saya juga, Mbak. Hidup mereka bukan lagi tentang mengejar mimpi diri sendiri. Tapi, bisa jadi impian mereka memang membahagiakan banyak orang, ya.

  • Fadli Hafizulhaq March 2, 2020 at 1:47 pm Reply

    Saudara-saudara kita di pedalaman memang sangat butuh uluran tangan. Alhamdulillah ada Insan Bumi Mandiri yang sejak 4 tahun ini menjembatani kita untuk membantu saudara-saudara kita di pedalaman itu

    • melinase March 3, 2020 at 5:01 am Reply

      Betul, Bang. Alangkah baiknya kita pun turut membersamai mereka dengan menjadi Sahabat Pedalaman.

  • kangamir.com March 2, 2020 at 2:13 pm Reply

    Melihat warga Yahukimo sungguh miris ya. Karena kondisi yang begitu terpencil, membuat warganya hidup dalam kemiskinan. Semoga saja masalah ini cepat terselesaikan dan mereka mendapatkan hidup yang layak

    • melinase March 3, 2020 at 5:02 am Reply

      Aaamiin, Kang.

      Jangan lupa juga, Insan Bumi Mandiri juga tengah fokus pada saudara-saudara kita di daerah pedalaman NTT, NTB, dan Sumatera.

  • Mechta March 2, 2020 at 5:31 pm Reply

    Terima kasih sdh berbagi kisah ini Kak.. Semoga denga uluran tangan2 berbudi pemerataan kesejahteraan benar2 terwujud ya..

    • melinase March 3, 2020 at 5:08 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Yuk lah bergabung menjadi Sahabat Pedalaman.

  • Icha Marina Elliza March 2, 2020 at 6:07 pm Reply

    Kak Me keren, udah sampe ke Papua.
    Penyakit malaria memang masih banyak sekali mewabah di sana ya kak..

    Syukurlah sekarang insan bumi mandiri sudah banyak program, salah satunya ya berguna banget untuk masyarakat yang tinggal di pedalaman. Semoga semakin banyak manfaat untuk setiap pelosok masyarakat di tanah air kak.. Aamiin

    • melinase March 3, 2020 at 5:15 am Reply

      Haish … Belum. Itu obrolan sama relawan yang pernah kesana, hihihi …

      Alhamdulilah, Kak. Yuk mulai bergabung menjadi Sahabat Pedalaman.

  • Taumy Alif March 2, 2020 at 7:49 pm Reply

    Kisah pedalaman memang selalu membuat orang sedih. Hidup serba terbatas. Tetapi sebenarnya bukan jadi alasan untuk tetap maju.

    • melinase March 3, 2020 at 5:09 am Reply

      Selalu ada jalan ya, Bang. Baik dari diri sendiri, pemerintah, maupun organisasi seperti ini.

  • abdul aziz March 3, 2020 at 12:31 am Reply

    Salut banget dengan Insan Bumi Mandiri yang ikut turut membangun negeri ini. Semoga menginspirasi pihak-pihak lain untuk melihat saudara-saudara kita yang ternyata masih banyak membutuhkan.

    • melinase March 3, 2020 at 5:10 am Reply

      Saya pun salut, Bang. Yuk kita bersama-sama menjadi Sahabat Pedalaman.

  • Rizki March 3, 2020 at 5:19 am Reply

    Berdaya bareng bangun bareng.. keren neh insan bumi mandiri programnya..

  • www.fennibungsu.com March 3, 2020 at 6:23 am Reply

    Kalau ada agen perubahan seperti ini sangat positif untuk kita dukung, karena dia sebagai penggerak untuk mengajak warga sekitar dapat berubah menjadi lebih baik. Dengan begitu akan banyak dukungan lagi datang dari luar berkat informasi yang diberikan oleh agen perubahan. Semoga terus berkelanjutan

  • elva s March 3, 2020 at 9:24 am Reply

    Adikku tinggal di daerah perdesaan bukan pedalaman, tapi akses jalan dan sebagainya juga sama kurang baiknya.
    Akses jalan jika jalan mulus bisa ditempuh hanya 30 menit berhubung medan nya sulit bisa 1 jam lebih tuk ke jalan utama.
    Untuk pendidikan dan kesehatan tentu juga seadanya.
    Semoga didaerah adik perempuanku juga ada Insan Bumi Mandiri tuk perubahan yang lebih baik

    • melinase March 4, 2020 at 4:11 am Reply

      Wah, di daerah mana, Kak?

      Infrastruktur di negara kita memang masih banyak yang harus dibenahi, ya. Dengan semakin banyak yang menjadi Sahabat Pedalaman, semoga semakin banyak lagi daerah yang dapat dijangkau oleh Insan Bumi Mandiri.

  • lendyagasshi March 4, 2020 at 8:10 am Reply

    Wah..lokasinya dekat sekali dengan rumahku.
    Senang rasanya banyak kebaikan yang tersebar melalui Insan Bumi Mandiri.

    • melinase March 4, 2020 at 2:08 pm Reply

      MasyaAllah … Bisalah ya sesekali mampir kesana buat ngobrol sama teman-teman dari Insan Bumi Mandiri. Biar tahu lebih banyak.

  • Dhenok Hastuti March 4, 2020 at 11:42 am Reply

    memang, salut..angkat topi utk mereka yg berkarya di pedalaman.

    btw, insan bumi mandiri selain pembangunan infrastruktur dan charity, ada pendampingan karya sosialnya juga? mgkn bisa dilengkapi infonya kalau ada.

    • melinase March 4, 2020 at 2:09 pm Reply

      Sejauh ini aku tahunya mereka fokus di pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, ibadah, pengobatan, penyediaan fasilitas, tapi untuk pendampingan karya mungkin aku belum menemukan. Coba ya nanti aku tanya ke teman-teman di sana. Bagus juga kalau ini diadakan, ya.

  • kartika March 4, 2020 at 12:29 pm Reply

    Kalau baca kisah begini, rasanya bersyukur sekali ya tinggal di Jawa dengan segala kenyamanannya. Untungnya Insan Bumi Mandiri bergerak di bidang pemerataan kesejahteraan di luar pulau Jawa ya. Andai sosialisasi lebih masif mungkin bisa lebih didengar dan banyak yang akan berpartisipasi

    • melinase March 4, 2020 at 2:07 pm Reply

      Yuk, kita yang sama-sama mengajak teman-teman untuk menjadi Sahabat Pedalaman.

  • kartika March 4, 2020 at 12:31 pm Reply

    Semoga ke depan Insan Bumi Mandiri bisa lebih fokus bergerak karena penggalangan dana sudah berjalan lancar, aminnnn

    • melinase March 4, 2020 at 2:07 pm Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga akan semakin banyak Sahabat Pedalaman yang bergabung agar manfaat yang diberikan semakin luas ya, Kak.

  • Oji Faoji March 4, 2020 at 4:29 pm Reply

    wah bagus sekali ini programnya, semoga bisa bermanfaat bagi umat sesama yang membutuhkan bantuan orang-orang yang baik.

    • melinase March 4, 2020 at 4:33 pm Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Yuk, kita dukung terus ya teman-teman di Insan Bumi Mandiri, Bang.

  • Sapti nurul hidayati March 4, 2020 at 6:09 pm Reply

    Salut dengan mereka-mereka yang mempunyai panggilan untuk rela berjuang di daerah pedalaman. Kehadiran insan bumi mandiri harus didukung. Agar kita bisa membantu relawan dan juga mewujudkan fasilitas yang memadai untuk warga pedalaman. Kalau bersama-sama, pasti kita bisa..

    • melinase March 5, 2020 at 2:29 am Reply

      Setuju! Yuk kita dukung sama-sama dengan menjadi Sahabat Pedalaman, Mbak.

  • Nurhilmiyah March 4, 2020 at 7:34 pm Reply

    Salut dengan teman² Insan Bumi Mandiri ini ya,, dedikasinya buat saudara² kita di pedalaman amat sangat perlu diteladani. Memang tantangan pembangunan SDM kita ada di pemerataan dan keadilan sosial ya Mbak…

    • melinase March 5, 2020 at 2:28 am Reply

      Betul sekali ya, Mbak. Apalagi secara geografis Indonesia ini negara kepulauan sehingga saling terpisah-pisah. Semoga saja semakin banyak Sahabat Pedalaman yang berpartisipasi.

  • Susindra March 4, 2020 at 10:13 pm Reply

    Saya selalu salut pada relawan yang bersedia datang ke tempat yang rsanya jauh dari peradaban seperti di Yahukimo. Lokasinya sulit dijangkau, sehingga kemajuan ekonomi dan pendidikan juga ikut terhambat.

    Keren sekali, Insan Bumi Mandiri….

    • melinase March 5, 2020 at 2:29 am Reply

      Sama, Mbak. Saya pun begitu. Yahukimo dulu ditangani oleh kawan saya dari lembaga filantropi lain.

      Bumi Insan Mandiri sendiri fokusnya memang khusus di daerah pedalaman. Sama-sama menghadapi tantangan yang besar. Tapi InsyaAllah bisa selama bergerak bersama-sama.

  • Kurnia amelia March 5, 2020 at 6:21 pm Reply

    Aku berharap banget semoga pembangunan di Indonesia timur sama seperti di Jawa. Infrastructure dan pembangunan juga secepatnya bisa lebih baik lagi.

    • melinase March 6, 2020 at 8:57 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Agar tercipta pemerataan pembangunan ya, Mbak.

  • mutia nurul rahmah March 6, 2020 at 12:33 pm Reply

    kebaikan yang mesti banget diteruskan pergerakkannya, semoga pembangunan indonesia cepat merata

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.