Percaya atau Nggak, Anak-Anak Memahami Sikap Baik Ini Tanpa Kita Duga

Hari itu saya sengaja duduk di barisan depan. Memang sih, kalau datang ke acara, saya lebih suka duduk di bagian depan. Biar bisa kena jepret kamera fotografer acara bisa menyimak materi dengan lebih jelas dan leluasa kalau mau bertanya. Kan posisi saya di depan, masa iya kalau tunjuk tangan nggak kelihatan?

Maka, saat waktunya masuk ke sesi tanya jawab, cepat-cepatlah saya angkat telunjuk. Siap bertanya banget. Iya dong, saya datang ke acara tersebut memang bukan hanya untuk belajar tapi untuk bertanya juga. Pertanyaan sudah dibungkus cantik banget deh dari rumah.

“Miss, gimana sih cara mengajari anak berkata ‘tidak’ ke temannya?”

Maka, mengalir lah cerita saya hari itu. Tentang Nona Kecil, anak bungsu di rumah yang mauuu aja disuruh ini itu sama teman-temannya. 

Kan, saya gemes dan jadi terlempar-lempar ke masa lalu.

 

Masa Kecil Saya, Dulu ...

Masa kecil saya (baca: Sekolah Dasar) identik dengan anak bawang. Punya badan kecil, cengeng pula. Kalau main karet, saya cuma kebagian megangin karetnya, nggak pernah dikasih kesempatan melompat. Mungkin karena itu sampai sekarang saya nggak bisa main lompat karet, wkwkwk

Mereka mendekat kalau mau nyontek. Kan nyebelin. Untungnya, urusan contek-menyontek, saya termasuk golongan anak pelit. Mau bisa mengerjakan soal ulangan atau PR, ya belajar dong! Ecieee … Bangga saya bisa melakukan penolakan.

Setelah itu teman-teman saya ya kembali seperti biasa. Nggak mau ajak saya main bareng. Oups, diajak sih tapi buat jaga. Anak bawang banget pokoknya. 

Kalau ini terjadi karena hukum sebab akibat, saya nggak tahu deh mana yang lebih dulu terjadi. Mereka nggak mau ajak saya main secara wajar karena saya pelit kasih contekan, atau saya yang nggak mau kasih contekan karena mereka nggak mau ajak bermain secara wajar?

Ya sudahlah ya, nggak usah dipikirin. Ditemukan jawabannya sekarang juga nggak ada gunanya, wkwkwk

Putri Saya, Saat Ini ...

Begitu jadi ibu-ibu, jadilah saya membesarkan anak-anak dengan ‘rencana besar’. Pokoknya mereka nggak boleh secengeng saya, harus lebih berani dari saya, jangan diinjak-injak sama teman-temannya. Anak-anak dibentuk seperti maunya saya.

Pas banget kemudian dipertemukan dengan momen yang bikin jiwa saya sebagai orangtua semakin terusik. 

Nggak setiap saat saya bisa menjemput anak-anak ke sekolah. Seperti bertahun-tahun sebelumnya sejak anak-anak di Play Group dan TK, Eyang Kakung yang berangkat, hehehe

Anehnya, saat saya yang menjemput, adaaa saja kejadian yang membuat dahi saya berkerut, otak sibuk menginvestigasi macam detektif, “Apa yang terjadi di balik ini semua?”

Seperti siang itu saat sulung sudah siap menghampiri saya di pintu gerbang tapi Nona Kecil masih sibuk ngorek-ngorek tanah. Haduh … Bolak-balik saya melirik jam tangan. Mau balik kerja ini …

Saya tanya ke sulung adiknya sedang apa, eh ternyata dia bukan sedang bermain tanah. Tapi sedang mencari uang temannya. Jadi, ceritanya ada temannya yang titip uang. Sewaktu mau diambil, uangnya hilang. Nona Kecil lupa tadi menaruh uang di mana. Temannya marah, lalu minta anak saya mencari uang itu. Waktu saya tanya uangnya berapa, ternyata Rp 1.000 saja. Buru-buru deh, keluarin Rp 1.000 dari kantong lalu membawa mereka pulang.

Lain hari, di bawah rintik hujan, giliran saya menjemput lagi ke sekolah. Sulung sudah ada di dekat saya tinggal Nona Kecil sedang berjalan menuju ke arah kami. Seragam putih merahnya kelihatan bersih, termasuk kerudung. Tumben, biasanya musim hujan begini seragam anak-anak bagaikan diolesi selai cokelat.

Begitu kerudungnya diangkat, mata saya mendelik. Saku seragam putihnya berwarna cokelat pekat. Isinya kaos kaki penuh lumpur. Di hari Senin, biasanya anak-anak hanya mengenakan kaos kaki saat upacara bendera saja. Selebihnya mereka mengenakan sandal. Tapi kok ya tumben seragam bersih, kaos kaki penuh lumpur? Mana disimpan di kantong pula. Maaak!

Usut punya usut, ternyata itu kaos kaki temannya. Ngapain coba bawa-bawa kaos kaki kotor punya temannya?

Lain hari, Nona Kecil jadi begitu penakut. Kemana-mana nggak mau sendirian. Ambil minum di dapur harus ditemani, mandi pintu kamar mandi dibuka, bahkan mau ambil pakaian di lemari pun harus ada orang di dekatnya. Ini apa-apaan, sih?

Hasil penelusan Mom Investigasi, Nona Kecil merasa ketakutan karena habis mendengarkan cerita tentang Annabel dari temannya. Duh, orangtua mana sih yang membiarkan anaknya nonton Annabel? Saya pun takut, hihihi … 

Anak-Anak Terganggu atau Nyaman-Nyaman Saja?

“Anaknya merasa nyaman, nggak?”

Itu pertanyaan yang diajukan konsultan sekaligus guru kami tersebut. Dilanjutkan lagi oleh beliau, terkadang orangtua hanya mengasumsikan apa yang dilihat secara visual. Padahal anaknya sendiri pun sebenarnya merasa baik-baik saja.

Bahkan, ada anak-anak yang memang senang kalau bisa membantu teman-temannya. 

Lalu yang saya lakukan saat itu adalah memutar kembali memori ketika bertanya kepada Nona Kecil, mengorek informasi yang mungkin berguna untuk menentukan langkah selanjutnya. Weits, ini seperti mau melakukan upaya balas dendam ya, wkwkwk

Dua Sikap Positif yang Membuat Haru dan Bangga

Maka, kemampuan saya dalam mengingat peristiwa pun bekerja kembali.

Waktu itu, Nona Kecil sedang bermain bersama teman-temannya. Salah satunya menitipkan uang. Sewaktu ditanya alasannya, Nona Kecil bilang, “Temanku kasihan, Mom. Dia nggak punya kantong di baju atau celananya.”

Lalu soal kaos kaki juga sama. Dia mau dititipi kaos kaki karena temannya mau bermain di tanah tapi nggak punya tempat menyimpan kaos kaki karena nggak punya kantong di baju maupun celananya.

Begitu juga saat dia sebenarnya nggak mau mendengarkan cerita Annabel. Dia mau mendengarkan karena nggak ada teman yang mau mendengarkan. “Kasihan Mom, dia mau cerita tapi nggak ada yang mau dengar.”

Oalah … Anakkuuu …

 

Sesudah semua peristiwa itu, saat kami bertemu di rumah, Nona Kecil bilang mau cerita sesuatu. Saya pikir dia mau cerita soal kehujanan karena memang kota kami sedang rutin diguyur hujan. Tapi nggak, tuh. Dia malah cerita kalau dia habis bantu temannya bawa barang-barang. Curiga lagi deh saya. Diapain lagi nih bocah.

“Memangnya temannya bawa apa, sih?”

“Aku nggak tahu karena aku nggak lihat isinya.”

“Temannya Adek minta dibantuin bawa?”

“Nggak, Mom. Tapi aku lihat dia kesulitan bawa. Jadi aku tawarin dia buat bantuin bawa. Lagipula tubuh dia lebih kecil dari aku.”

Nyesss … Sekarang saya mengerti maksud dari jawaban konsultan sekaligus guru kami waktu itu. Saya jadi menyadari kalau Nona Kecil memang punya satu kelebihan. Dia suka menolong Dia mau dititipi kaos kaki kotor karena dia kasihan melihat temannya yang ingin main di tanah berlumpur. Dia mau dititipi uang karena temannya nggak punya kantong di baju maupun celana. Dia mau mendengarkan temannya cerita soal Annabel karena teman-teman lain nggak mau mendengarkan. 

“Kan sedih, Mom, kalau nggak ada yang mau bantu kita.”

Sayangnya, sudut pandang suka menolongnya itu saya anggap sebagai dianggap anak bawang seperti saya dulu, huhuhu … Apa yang dipikirkan Nona Kecil ternyata lebih hebat dari yang saya rencanakan. Dia tengah menolong, bukan tengah disakiti.

Tentunya saya juga menambahkan, bahwa sangat baik kalau dia menolong temannya. Mom bangga juga. Tapi, kalau dia sendiri merasa nggak nyaman, boleh kok ditolak baik-baik. Tapi jawabannya malah bikin saya melongo.

“Yaaa, aku sih senang kalau bisa bantu teman-teman. Kan sedih, Mom, kalau nggak ada yang mau bantu kita.”

Moms and Dads pernah mengalami cerita serupa tentang ananda di rumah? Coba yuk, mulai berpikir positif bahwa mereka tengah belajar berempati terhadap kondisi teman-temannya dan hanya ingin membantu mereka.

Mereka tengah berempati, bukan disakiti.

 

Salam,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

16 Comments

  • Triani Retno March 2, 2020 at 1:04 pm Reply

    Menarik, Mel. Terutama ketika banyak orang sekarang (anak-anak dewasa) tak bisa lagi berempati pada sesama dan lebih suka membully.

    Anak sulungku juga sering jadi tempat curhat temen2nya. Dan sekarang dia lagi berusaha supaya bisa kuliah di Psikologi ?

    • melinase March 3, 2020 at 4:54 am Reply

      MasyaAllah … Semoga ananda tetap menjadi anak baik bagi dan disenangi lingkungannya.

      Wah, semoga tercapai cita-citanya ya, Kakak. InsyaAllah menjadi psikolog yang hebat! Aamiin.

  • Kartika March 2, 2020 at 5:14 pm Reply

    Hihi tadinya udah mau emosi ya mbak. Ternyata sebenarnya itu pilihan baik dari si adek. Emang sebaiknya harus dilihat lagi dan ditanya ke anaknya ya. Soalnya ada aja kan emang anak2 yang dominan dan nyebelin, yg sukanya nyuruh2 temannya, eh kok jd curhat jaman dulu ? kalau alasannya memang sedang berempati, keren deh adek dari kecil EQ nya sdh terasah, mungkin juga dia lihat contoh dr bundanya lho ?

    • melinase March 3, 2020 at 5:07 am Reply

      Iyaaa, kan aku pernah jadi anak yang disuruh-suruh melulu sama teman. Jadi sudah parno aja nih kalau bungsu mengalami nasib serupa, hahaha …

      Alhamdulillah, ternyata anak-anak lebih menakjubkan dari yang kita bayangkan.

  • Sani March 2, 2020 at 7:37 pm Reply

    Jarang loh anak yg suka menolong.
    Biasanya akan di rindukan kawan2nya hehe???

    • melinase March 3, 2020 at 5:08 am Reply

      MasyaAllah … Meskipun bungsu masih susah nih akrab sama teman-temannya, hihihi …

  • Sumiyati Sapriasih March 2, 2020 at 8:05 pm Reply

    Biarkan anak ber-ekspresi ya mom agar anak bisa ber-empati terhadap sesama temannya

  • Maria G Soemitro March 3, 2020 at 3:03 am Reply

    Kalo saya sih gara gara gak pernah dikasih jajan ama Ibu
    Trus ada yang mau ngasih uang asal saya ngasih contekan
    Saya kasih deh, ternyata dia boong..
    Ngga bayar.. hu..hu..hu
    Sedih banget

    • melinase March 3, 2020 at 5:11 am Reply

      Waduh, tega sekali temannya Ambu … Minta dicubiiit …

  • Nurhilmiyah March 3, 2020 at 4:56 am Reply

    Nona kecil punya empati yg luar biasa ya Mbak….salut masyaallah… Scr empati kan salah satu aspek kepribadian yg idealnya hrs dimiliki kl seseorang mau jd pribadi yg baik. Sehat selalu yaa Nona Kecil yg cantik dan baik hati.
    Kalau anak saya, yg nomor 3 empatinya insyaallah lumayan bagus. Ngertiin banget dg keadaan di sekelilingnya. Gak banyak menuntut macem² jg. Malah sy kadang yg suka mancing biar egonya muncul, hehe…. Nice info mbak Melina, tfs yaa

    • melinase March 3, 2020 at 5:14 am Reply

      MasyaAllah … Padahal ibunya sudah berprangka yang bukan-bukan, nih.

      Salam buat buah hatinya ya, Mbak …

  • Nefertite Fatriyanti March 3, 2020 at 10:28 am Reply

    Menyayangi siapapun bisa menjadi nilai dasar bagi kita dan anak-anak untuk menjauhkan diri dari sikap ingin membully.
    Memupuk rasa sayang memang jadi penting ya

    • melinase March 4, 2020 at 4:10 am Reply

      Betul banget, Kak. Kerapkali kita malah belajar dari anak-anak.

  • Harum March 3, 2020 at 8:05 pm Reply

    Wuah ini nih yang saya suka. Jiwa-jiwa penolong dengan ikhlas. Semoga saja selalu dipertemukan orang yang baik-baik.

    • melinase March 4, 2020 at 4:09 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga kita senantiasa juga menjadi orang yang peduli pada sekitar ya, Kak.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.