Forest Cuisine Blogger Gathering; Mengenal Hutan Tak Hanya Lewat Tulisan

Wajah empat perempuan yang duduk berdampingan di depan itu sama sekali nggak akrab di netra saya. Rasa-rasanya kami belum pernah berjumpa sebelumnya. Mungkin karena mereka berada di dunia yang berbeda jauh dari dunia yang sehari-hari saya geluti. Tapi perjumpaan kami hari itu, membuat ingatan saya mencatat dan mengingat baik-baik keberadaan mereka.

Pernah ada masa-masa nyaris dua minggu lamanya ketika saya berkutat dengan informasi seputar pangan dari hutan dan kondisi hutan di Indonesia. Sudah tentu, di era digital internet akan menjadi sumber informasi tercepat yang bisa diperoleh. Selain itu, bertumpuk-tumpuk buku dan jurnal dari sebuah perpustakaan turut membantu memberikan informasi. Tak lupa, hasil ngobrol santai bersama beberapa pedagang talas turut mewarnai perjalanan penulisan.

Tapi masih ada rasa belum puas yang bolak-balik berlarian di kepala. 

Andai saya bisa mewawancarai langsung narasumber yang bersinggungan langsung dengan hutan. Seperti dulu saya mewawancarai relawan yang pernah terjun ke daerah bencana sebelum daerah tersebut di kemudian hari tercetak dengan saya sebagai nama penulisnya.

 

The Gathering Day

Hari masih pagi, saat langkah kaki saya tiba di Almond Zucchini, Jakarta Selatan. Di sisi kanan setelah pintu masuk, saya menghampiri meja registrasi untuk memasukkan data-data sebelum memasuki ruangan. Di sisi kiri pintu masuk, ada meja yang tengah ditata. Sebelum memasuki ruangan, di sisi kiri dan kanan pintu disiapkan masing-masing satu buah standing banner dengan logo WALHI, lengkap dengan informasi mengenai hutan kita. Warnanya hijaunya tampak segar di mata, seolah menggambarkan hutan sebagai sumber kehidupan.

Ruangan semakin bertambah ramai. Seiring semakin lengkapnya kehadiran 30 finalis Forest Cuisine Blog Competition yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Tiba saatnya acara dimulai oleh Mbak Ocha, MC cantik yang sejak awal membuat acara menjadi segar. Baru dimulai, sudah dimulai dengan ice breaking yang membutuhkan daya ingat dan kecepatan kita. 

Peserta diminta menyebutkan ‘ho’ untuk kata hutan, ‘hi’ untuk kata talas, dan ‘ho’ untuk kata rotan. Kalau berurutan sih nggak masalah, ya. Tapi ketika dibolak-balik dan lebih dari satu kali, mulai deh nggak jelas ‘hihaho’ menjadi ‘hahiho’ atau ‘hohahi’. 

Seru! Suasana menjadi hidup, penuh tawa. 

Apalagi setelah itu, beliau siap-siap melemparkan pertanyaan kepada kami lengkap dengan hadiah. Duh, baru mulai sudah ditawari hadiah, ya siapa sih yang bisa menolak? Semua antusias untuk menjawab.

Tapi canda tawa tersebut berubah menjadi kemuraman ketika sebuah video diputar.

Trenyuh rasanya menonton video tersebut. Harus diakui, seperti itulah wajah bumi kita saat ini. Pencemaran di mana-mana, mulai dari laut, tanah, dan udara, hingga tingkah laku manusia yang berdampak pada perubahan iklim. Padahal, semuanya merusak bumi kita dan kita sama-sama tahu nggak ada tempat tinggal lain bagi kita selain bumi. 

Dari sinilah, perjumpaan kami semua dengan empat perempuan tersebut dimulai. Satu persatu kalimat mengenai hutan kita mengalir di sini. Adakalanya saya terpukau, lalu terhenyak karena sedih, terharu, lalu beberapa detik kemudian seperti memperoleh suntikan energi untuk mulai berbenah secepatnya.

Hutan adalah Ruang Hidup dan Identitas

Dua kata kunci tersebut disampaikan oleh Khalisa Khalid, Perwakilan Eksekutif Nasional dari WALHI. Perempuan yang akrab disapa Mbak Alin ini dengan bercerita banyak tentang apa sebenarnya fungsi hutan bagi kita. 

Sebelum itu, ada kalimat awal yang disampaikan oleh beliau, yakni bahwa selama ini ada kesesatan berpikir dari banyak orang mengenai hutan. Masih banyak orang yang menganggap bahwa hutan nggak lebih dari tumpukan onggokan pohon. Padahal, hutan punya peranan besar dan jauh lebih luas dari itu.

Ada alasan tersendiri saat beliau sampaikan bahwa hutan adalah ruang hidup. Hutan merupakan satu kesatuan ekosistem yang di dalamnya menjadi tempat tumbuh yang luar biasa bagi pohon, satwa, tanaman yang dimanfaatkan untuk obat-obatan dan sumber pangan, dan menjadi pusat kebudayaan.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, hutan menjadi identitas mereka. Rusak dan hilangnya hutan akan berpengaruh pada rusak dan hilangnya pula identitas masyarakat adat tersebut. 

Bagi mereka, hutan juga menjadi apotek hidup, supermarket, sekaligus dapur. Memang betul ya, disebut sebagai apotek karena hutan menyediakan obat-obatan. Nggak ada masyarakat adat yang sakit lalu harus pergi ke rumah sakit dulu untuk berobat. Mereka pasti mencari obat-obatan alami dari hutan. Disebut supermarket pun tepat karena hutan menyediakan apapun yang kita butuhkan. Apalagi disebut sebagai dapur, ini nggak bisa diragukan lagi. Semua makanan kita asalnya kan dari hutan. Fungsi hutan ini tentunya dapat dirasakan juga oleh masyarakat perkotaan mengingat apa yang kita konsumsi sebenarnya memang berasal dari hutan. 

Seberagam itu ya isi dari hutan? Memang hutan seharusnya beragam. Kalau seragam namanya bukan hutan!

Saat beliau pada sampai kalimat ini, seketika saya teringat pada aneka hutan yang sudah dinamai sesuai dengan jenis tanaman yang ada di dalamnya, seperti hutan karet, hutan pinus, hutan kelapa sawit. Jadi selama ini saya pun turut salah dalam memaknai hutan. Dueng! 

“Jangan mentang-mentang hijau lalu kita sebut hutan. Hutan itu beragam!”

Jadi ya, semua yang saya pikirkan di atas itu lebih cocok kalau disebut sebagai kebun. Mari kita catat baik-baik.

Lebih lanjut, Mbak Alin juga mengingatkan kaitan erat antara hutan dan perempuan. Dikatakan oleh beliau bahwa perempuan mempunyai peranan besar dalam pengelolaan hutan. Tangan-tangan terampil mereka berhasil mengolah sumber pangan dari hutan menjadi makanan lezat yang dapat dinikmati oleh keluarga di meja makan.

Sudah banyak pula cerita yang membuktikan kegigihan perempuan dalam mengelola hasil dari hutan dari bahan mentah menjadi produk yang bisa mempunyai nilai jual lebih tinggi, misalnya rotan, yang dibuat menjadi kerajinan tangan. Peran perempuan di sini semakin bertambah karena artinya mereka juga menjadi roda penggerak perekonomian dari hutan. Tuh, perempuan kita memang keren!

 

"Kalau Ada yang Membakar Hutan Kami, Akan Kami Kejar!"

Kalimat tersebut secara berapi-api disampaikan oleh Ibu Sri Hartati, salah seorang WALHI Champion, manakala kami semua usai menyaksikan video tentang keadaan bumi yang beberapa saat lalu diputar. Beliau nggak bisa menahan air mata. Sedih menyaksikan hutan yang dirusak. Tapi di sisi lain beliau bahagia karena hutan di lingkungan tempat tinggal beliau di Sumatera Barat dalam keadaan lestari.

“Hutan kami bagus ….”

Beliau, yang menempatkan diri sebagai bundo kanduang, bersama-sama dengan para pemuda, dan bapak-bapak, bersama-sama turut menjaga hutan. MasyaAllah, keren sekali Ibu Tati ini.

Kehadiran beliau menjadi bukti nyata tentang peran penting perempuan dalam mengelola kelestarian hutan seperti yang disampaikan oleh Mbak Alin tadi. Siapa sih sebenarnya beliau ini?

Saat ini Ibu Tati aktif di dalam program pengelolaan hutan di Sumatera Barat bersama WALHI. Beliau memanfaatkan perkebunan pala untuk diolah dagingnya menjadi sirup buah pala, selai pala, dan minuman pala segar. Sayangnya, untuk bisa diproduksi dalam kapasitas besar, selai pala dan minuman pala segar nggak memungkinkan. Ini terkait dengan keawetan produk yang hanya bertahan paling lama satu minggu. Apalagi produk buatan kelompok mereka sama sekali nggak menggunakan bahan pengawet. Terima kasih ya Bu, telah menyajikan sumber pangan sehat.

Khusus untuk sirup buah pala, bisa tahan antara enam (6) bulan. Inilah yang saat ini rutin diproduksi oleh beliau dan teman-temannya. Keberadaan WALHI sangat penting bagi Ibu Tati. Sebelum ini, mereka hanya memanfaatkan biji tanaman pala saja untuk dijual sebagai bumbu masakan. Dagingnya dibuang begitu saja karena belum tahu cara mengolahnya. Ternyata, kemudian beliau diberitahu bahwa daging buah pala pun dapat diolah menjadi produk pangan. Diakui oleh beliau, kegiatan memproduksi dan memasarkan sirup buah pala ini mengangkat perekonomian masyarakat sekitar

Salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh beliau adalah menyatukan misi dari kurang lebih 100 orang anggota hingga kini hanya bertahan menjadi 66 orang saja. Hampir berkurang setengahnya, tapi menurut saya ini adalah orang-orang terbaik yang bisa saling mengukuhkan misinya.

Distribusi sirup buah pala ini juga sudah merambah ke sektor pariwisata dan perhotelan. Buat teman-teman yang berkunjung ke Sumatera Barat, kalau kalian menginap di Hotel Bumi Minang di Padang, pasti akan menemukan sirup buah pala ini sebagai welcome drink. Di Bogor juga banyak sirup buah pala, tapi sepertinya masih sebatas di toko pusat oleh-oleh, sih. 

"Kalau Nggak Punya Sawah Sendiri, Itu Namanya Bukan Petani!"

Kehadiran Tresna Usman Kamaruddin, Amd, salah seorang WALHI Champion lainnya, turut memberikan warna betapa perempuan punya pengaruh besar dalam kelestarian hutan. Perempuan yang akrab disapa Mbak Tresna ini berasal dari Sulawesi Tenggara. Beliau berdomisili di Depok dan berprofesi sebagai pengusaha kopi. 

Lahir dan tumbuh besar di Kelurahan Sakuli, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Mbak Tresna sebagai cucu petani ini bergerak untuk melakukan perubahan. Beliau memperjuangkan izin dari pemerintah daerah setempat agar mengizinkan warga sekitar mengelola hutan mereka sendiri. 

Mbak Tresna bercerita bahwa semangat mengelola lahan dan menjadi petani masih bergelora di jiwa para pemuda di kampung Sakuli. Sayangnya, mereka nggak punya lahan untuk diolah. Tanpa kita sadari, banyak sekali petani yang nggak memiliki sawah sendiri. Mereka hanya bekerja di persawahan milik orang lain. Hmm, saya jadi bertanya-tanya, persawahan di tepi jalan tol yang sering saya saksikan itu kira-kira milik siapa, ya?

“Kalau nggak punya sawah sendiri, itu namanya bukan petani. Itu namanya buruh tani atau petani gurem!”

Harus diakui oleh Mbak Tresna, salah satu tantangannya sendiri adalah akses untuk memasuki wilayah hutan mereka. Ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan masyarakat adat. 

Satu hal yang membuat terharu, Mbak Tresna bercerita bahwa dirinya adalah seorang cancer survivor. Dia merasakan betul bahwa dia masih bertahan hingga saat ini karena mengonsumi apa yang disediakan oleh alam, memanfaatkan segala sesuatu yang serba alami. Itu sebabnya, beliau ingin terus melestarikan alam dan mempertahankan kearifan lokal. Alam sungguh telah memberinya kehidupan. Salut buat Mbak Tresn

"Hutan Membuat Saya Menjadi Diri Sendiri"

Di antara narasumber lainnya, mungkin Windy Iwandy atau yang akrab disapa Mbak Windy ini, satu-satunya perempuan yang sehari-hari nggak berkecimpung dengan hutan. Beliau adalah seorang selebgram dari @FoodDirectory

Diakuinya, sumber pangan dari hutan itu rasanya enak. Favoritnya ternyata adalah makanan berbahan dasar sagu. Mmm, seketika ingat pada papeda, ya. Banyak orang bilang rasanya memang enak. Saya sendiri belum pernah mencoba, sih.

Ada satu cerita menarik darinya mengenai hutan. Beliau pernah berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Ini memang bukan hutan dalam arti yang sebenarnya karena lebih mirip kawasan wisata. Tapi Mbak Windy merasa miris karena sebagian besar pengunjung adalah wisatawan mancanegara. Sekilas saja, bisa dilihat bagaimana ketertarikan masyarakat lokal kita terhadap wisata hutan.

Ada pengalaman menarik sewaktu dirinya berada di sana. Buah-buahan yang jatuh dari pepohonan di hutan dapat dikonsumsinya tanpa merasakan sakit perut. Mungkin karena semuanya masih segar dan alami. Satu kalimat menarik darinya bahwa hutan membuatnya menjadi diri sendiri

Ketiadaan sinyal selular membuatnya tenang. Nggak ada keinginan untuk update status di media sosial. Ahay, benar juga, sih.

 

Waktunya Kita Masak

Sedari awal semua peserta sudah diberitahu sih bahwa akan ada acara cooking demo. Tapi saya lumayan deg-degan nih, waduh masak apa, ya? Apalagi sewaktu undangan 30 finalis ini diterima di inbox dan lokasinya berada di Almond Zucchini yang merupakan studio masak. Wah, masak beneran!

Setelah selesai mendengarkan banyak kisah menarik dari para narasumber, kami berpindah ke lokasi bagian kitchen area. Dapurnya keren! Acara memasak kali ini dipandu oleh Chef William Ghozali yang baik hati dan sabar banget menghadapi kami yang ramainya minta ampun. 

Hari itu menu yang akan dimasak bersama-sama adalah Fetuccini Mushroom Rogut. Sehubungan temanya adalah pangan dari hutan, Fetuccini Beef Rogut-nya diganti ya menjadi Fetuccini Mushroom Rogut, alias dagingnya diganti dengan jamur. Wah, tetap enak dan sehat pastinya.

Kami dibagi menjadi lima kelompok. Saya kebagian di kelompok lima (5). Masing-masing kelompok menentukan sendiri tugas dari anggotanya. Saya ambil yang mudah saja deh, yaitu memotong sayuran. Ada yang bertugas cuci-mencuci dan dua orang bertugas di depan kompor. Urusan mencicipi, disepakati akan menjadi tugas bersama, ehm.

Bahan-bahannya sendiri simpel banget, terdiri atas pasta, daun bawang (dicincang halus), daun kuchai (dicincang halus), bawang putih (dicincang halus), jamur kancing (cincang juga), krim cair, dan bubuk keju. Tentunya tinggal ditambahkan garam dan lada sesuai selera, ya.

Cara memasaknya juga mudah, kok. Ecieee … Senang saya soalnya bisa mengulang sendiri di rumah. Pertama-tama, daun bawang dan daun kuchai dicincang halus, lalu dipanaskan dalam wajan yang sudah diberi sedikit minyak. Setelah berubah warna seperti bawang goreng, kami mulai menuangkan bawang putih cincang dan jamur cincang ke dalamnya. Kalau sudah berubah warna, saatnya menuangkan krim cair. Saatnya memasak pasta. Menurut Chef William sih jangan terlalu layu karena ini bukan mie instant, hehehe … Siaaap!

Pasta yang sudah empuk kemudian dituangkan ke wajan yang berisi daun bawang dan kawan-kawan. Aduk perlahan supaya pasta nggak rusak atau putus. Selanjutnya tinggal ditambahkan garam dan lada sesuai selera. Lalu taburi bubuk keju deh di atasnya. Fetuccini Mushroom Rogut sudah siaaap!

Duh, tapi menurut Chef William, hasil masakan kami sedikit kurang seasoning. Tapi menurut kami tetap enak, kok. Buktinya dimakan ramai-ramai sampai habis.

WALHI Champion

Dari tadi saya menyebutkan dua narasumber sebagai WALHI Champion, kan? Nah, sebenarnya apa sih WALHI Champion itu? 

Jadi, WALHI Champion adalah orang-orang yang sukses memberikan kontribusi nyata dalam dalam melestarikan hutan di daerah aslinya. Hmm, betul juga sih, ya? Ibu Tati berkontribusi melestarikan hutan di daerah aslinya di Sumatra Barat dan Mbak Tresna turut melestarikan hutan di kampung halamannya di Sulawesi Tenggara. 

Ingat nggak waktu saya bilang di awal kedatangan saya ke Almond Zucchini ada meja yang tengah dibenahi? Nah, ternyata itu adalah meja WALHI dengan beragam produk dari alam yang bisa kita beli. Pastinya semuanya alami dan menyehatkan. Macam-macam, lho. Saya sampai bingung mau membawa pulang alias membeli yang mana.

 

 

Berhubung anak-anak di rumah adalah penggemar roti, jadi saya membawa pulang sebotol selai markisa. Rasanya enaaak, tapi aseeem. Cocoknya buat saya sih yang doyan makanan pedas dan asem ini. Sebenarnya sih, saya masih terbayang-bayang sebotol garam herbal yang kemarin sewaktu saya hirup, aromanya enak banget. Daun jeruknya tuh segarnya sampai ke paru-paru. Sepertinya setelah ini mau kontak teman-teman WALHI deh buat pesan. 

Akhirnya, tuntas juga acara hari ini. Kami pulang dengan wawasan yang semakin bertambah, perut kenyang, dan tentengan. 

Rasa penasaran saya terpuaskan sudah. Berhasil memperoleh informasi mengenai peranan hutan dari narasumbernya langsung. Malah saya sangat beruntung karena memperoleh empat (4) narasumber sekaligus. Apalagi saya nggak perlu mewawancarai karena mereka sendiri yang bercerita. Akhirnya, saya bisa mengenal hutan, bukan hanya lewat tulisan di situs internet, jurnal, maupun buku. 

 

Ayo terus kita jaga dan lestarikan hutan kita. Salah satunya dengan bijak memilih produk yang akan kita pakai atau konsumsi, mulai dari pemilihan minyak goreng, produk pengemasan makanan, sampai ke produk kosmetika. Jangan sampai ya kita masih aktif mengonsumsi produk yang menggunakan bahan-bahan dari apapun yang merusak hutan, termasuk kelapa sawit. 

Saya mau mengingatkan lagi nih pesan dari video yang tadi sudah diputar. Menjaga hutan artinya kita menjaga masa depan kita untuk terus tinggal di bumi. Sampai saat ini nggak ada planet lain yang layak kita tinggali selain bumi. Kamu masih mau tinggal di bumi? Yuk, lakukan perubahan.

Salam Adil dan Lestari!

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

61 Comments

  • haniwidiatmoko.com March 8, 2020 at 10:20 am Reply

    Asiknya bias gathering dengan pakar-pakar, mulai dari lingkungan hingga masak. Aku kepo ih dengan tepung all purpose yang gluten free tsb. Bisa dong bikin kue tanpa was-was. Apalagi terigu kan kita impor bahan bakunya.

    • melinase March 10, 2020 at 5:02 am Reply

      Iya, Bun. Bahannya bermacam itu yang gluten free. Harus mulai mengubah nih untuk kesehatan anggota keluarga.

  • Triyatni March 8, 2020 at 1:26 pm Reply

    True banget ini. apa yang kita pakai dan beli sekarang meski kecil dapat berdampak besar pada kelestarian hutan. Masih perlu belajar agar tidak asal beli tapi paham dampak-dampaknya

    • melinase March 10, 2020 at 5:02 am Reply

      Aku pun masih terus belajar, Mbak. Selama ini nggak sadar bahan-bahan kosmetika ternyata ada yang merusak lingkungan.

  • Muhammad Nur Ardi Handayat March 8, 2020 at 2:29 pm Reply

    Wah keren banget tulisannya kak, semoga saja dengan tulisan ini para pelaku yang sering merusak hutan bisa sadar bahwa menjaga hutan itu penting banget, karena artinya kita menjaga masa depan kita untuk terus tinggal di bumi, sepertinya yang disebutkan di atas.

    • melinase March 10, 2020 at 5:01 am Reply

      Terima kasih, Mas. Kalau mereka belum sadar, mari kita yang masih sadar saja yang bergerak, hehehe …

  • Tanti Amelia March 8, 2020 at 3:12 pm Reply

    salut pake banget emang sama para penjaga hutan yang sesungguhnya ini, mereka konsisten dan tidak terprovokasi dengan keinginan dunia

    • melinase March 10, 2020 at 4:58 am Reply

      Sepakat. Memikirkan kepentingan masyarakat luas di atas kepentingan diri sendiri.

  • Diah Woro Susanti March 8, 2020 at 3:12 pm Reply

    Jujur membayangkan orang utan yang dibakar beberapa waktu lalu bikin saya sedih banget. Padahal orang utan itu pasti bingung mau tinggal di mana lagi secara hutan tempat habitat nya dibabat terus menerus. Belum lagi bencana longsor . Sudah semestinya hutan Kita jaga kelestariannya.

    • melinase March 10, 2020 at 4:58 am Reply

      Nah, saat mereka kehilangan tempat tinggal lalu turun ke pemukiman penduduk, kemudian mereka dianggap mengganggu ya, Mbak. Padahal, bukan mereka yang memulai.

  • Tanti Amelia March 8, 2020 at 3:13 pm Reply

    eh kurang kalimatnya

    maksudnya tidak terprovokasi dengan keinginan duniawi sehingga gampang menyampah – gampang membuang barang – gampang menebang hutan .. demi apa? Demi sebuah kata : serakah

    • melinase March 10, 2020 at 4:57 am Reply

      Serakah. Ini kalimat yang pas banget memang. Aku pun setuju.

  • Titis Ayuningsih March 8, 2020 at 3:30 pm Reply

    Semoga tidak ada lagi pembakaran hutan ya mak, sedih deh asapnya menyiksa. Acara beginj bagus deh buat edukasi tentang hutan dan manfaatnya.

  • Amel March 8, 2020 at 3:32 pm Reply

    Semoga hutan kita terus lestari ya, sehingga anak cucu kita bisa terus mengambil manfaatnya.

    • melinase March 10, 2020 at 4:57 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terus dukung kelestarian hutan kita, yuuuk.

  • Nanik Nara March 8, 2020 at 5:36 pm Reply

    Selamat ya mbak termasuk 30 finalis lomba blog pangan dari hutan, dan berkesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh yang bergelut dalam upaya pelestarian hutan. Senang tentunya mendengar penuturan langsung dari mereka. Saya pun senang karena mbak Melina membagikannya di sini

    • melinase March 10, 2020 at 4:56 am Reply

      Terima kasih, Mbak. Alhamdulillah, diberikan kesempatan. Acaranya bagus banget. Sayang sekali kalau nggak dibagikan ke teman-teman semuanya. Semoga bermanfaat, ya.

  • YSalma March 8, 2020 at 6:14 pm Reply

    Saya termasuk masa kecilnya dihabiskan di hutan dan sangat berharap bahwa hutan masa kecil itu tetap terjaga.
    Semoga semangat bu Tati dan yg lainnya menular ke masyarakat di daerah.

    • melinase March 10, 2020 at 4:55 am Reply

      Apalagi kalau punya pengalaman pribadi ya, Mbak. Pasti rasanya sedih sekali melihat hutan rusak.

  • Nurul Rahma March 8, 2020 at 7:28 pm Reply

    Mba Melina selamaattt ya jadi finalis, daku berdoa dirimu bisa jadi Juaraaa

    Artikel ini bernas dan enaakkk bgt dibaca. Insightfull bangett

    • melinase March 10, 2020 at 4:55 am Reply

      MasyaAllah … Terima kasih banyak doa dan dukungannya ya, Mbak. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

  • Andi Telaumbanua March 8, 2020 at 7:52 pm Reply

    Walhi ini memang sangat fokus terhadap isu – isu yang berhubungan dengan hutan ya. Acara yang mereka selenggarakan juga sangat menarik

    • melinase March 10, 2020 at 4:54 am Reply

      Betul, Mas. Yuk, kita ikut memberikan dukungan. Masa depan hutan adalah masa depan kita semua.

  • Luluk SobaRi March 8, 2020 at 8:04 pm Reply

    Hutan ya beragam, kalau seragam bukan hutan.

    Petani harus punya sawah sendiri. Kalau tidak punya sawah sendiri namanya buruh tani.

    Duh makjleb banget dua kalimat ini.

    • melinase March 10, 2020 at 4:54 am Reply

      Aku pun terbengong mendengar dua kalimat itu. Betul juga ya, Mbak.

  • Siti Nurjanah March 8, 2020 at 11:38 pm Reply

    Miris dan menyesakan mba melihat kondisi hutan saat ini
    Padahal negeri kita salah satu yg memiliki hutan hujan tropis terluas tapi banyak yg gundul (hikkksss)
    Padahal hasil hutan itu memiliki beragam manfaat bagi kehidupan hayati di bumi

    • melinase March 10, 2020 at 4:53 am Reply

      Sedih banget. Banyak pihak nggak bertanggungjawab yang hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya ya, Mbak.

  • Maria G Soemitro March 9, 2020 at 2:35 am Reply

    Senangnyaaaa..
    Perut kenyang, dapat ilmu bergizi, pulang bawa oleh oleh
    Jadi semakin paham tentang fungsi hutan ya?
    Sebagai ekosistem yang di dalamnya menjadi tempat tumbuh yang luar biasa bagi pohon, satwa, tanaman yang dimanfaatkan untuk obat-obatan dan sumber pangan, dan menjadi pusat kebudayaan.
    Waw banget…

    • melinase March 10, 2020 at 4:52 am Reply

      Komplit banget, Ambu. Wawasan semakin bertambah pokoknya. Bahagia banget bisa dapat kesempatan hadir di sini.

  • Ida March 9, 2020 at 6:53 am Reply

    Wah acara keren nih beruntung banget bs ikutan acara gathering ini..selamat ya Mba..

    • melinase March 10, 2020 at 4:51 am Reply

      MasyaAllah … Terima kasih ya, Mbak. Nimba ilmu lagi, hihihi …

  • Dian Restu Agustina March 9, 2020 at 7:02 am Reply

    Setujuu..enggak ada planet lain yang bisa kita tinggali selain bumi, maka kita mesti peduli untuk menjaga keberlangsungan hidupnya termasuk hutan di dalamnya yang punya banyak manfaat bagi kehidupan kita. Acara yang keren ya Mbak Mel:)

    • melinase March 10, 2020 at 4:51 am Reply

      Keren bangeeet. Sukaaa sekali dapat kesempatan hadir di sana.

  • Bety Kristianto March 9, 2020 at 8:55 am Reply

    Serious pasti acarnya ya mba. Kebayang pas disuruh bilang hahiho pasti banyak yang salah ya hahahah… Tapi emang bener ya yang namanya ngejaga hutan itu wajib banget. Palagi baca-baca referensi katanya hutan di Indonesia udah mulai berkurang. Hiks hiks. Jangan sampe anak cucu kita cuma tau dari buku doang ya

    • melinase March 10, 2020 at 4:50 am Reply

      Iyaaa, lidahku kepeleset-kepeleset dong saking keburu njawab, wkwkwk …

      Iya betul, Mbak. Sedih kalau sampai anak cucu kita nggak pernah melihat hutan. Terbayang juga gimana kehidupan manusia saat itu. Apa nggak mengerikan, ya?

  • Aisyah Dian March 9, 2020 at 9:03 am Reply

    Sedih ya mbak, melihat keadaan bumi kita saat ini. Beberapa tempat di kalimantan juga Berubah, banyak hutan yang hijau tapi di pinggir saja. Di dalamnya sudah gundul rata

    • melinase March 10, 2020 at 4:49 am Reply

      Huhuhu … Iyaaa. Banyak yang sudah beralih fungsi, Kak. Saatnya kita bergerak bersama, nih.

  • Putu Sukartini March 9, 2020 at 11:47 am Reply

    Suka sekali baca liputannya mbak
    Ini benar-benar lengkap, semua unsur terlibat
    Ya, urusan menjaga hutan memang harusnya jadi tanggung jawab bersama
    Semoga kita bisa mewariskan hutan yang hijau untuk anak cucu
    Semoga kita bukan menjadi generasi terakhir yang melihat hutan

    • melinase March 10, 2020 at 4:48 am Reply

      Terima kasih, Kak …

      Aamiin. Menyadari bahwa hutan adalah untuk kepentingan bersama ya, Kak.

  • Ari Santosa Pamungkas March 9, 2020 at 12:02 pm Reply

    Mengenal hutan, selain untuk menjaga dari kerusakan, juga merupakan cara untuk menjaganya agar dapat dinikmati oleh cucu kita.

    • melinase March 10, 2020 at 4:47 am Reply

      Betul sekali. Apa coba hal baik yang bisa kita tinggalkan untuk mereka?

  • gemaulani March 9, 2020 at 12:10 pm Reply

    Seru banget acaranya bertabur motivasi dan informasi untuk menjaga, melestarikan hutan. Apalagi di awal ada ice breaking yang itu, aku ngebayangin serunya saat harus cepat dan ditukar posisinya hehehe. Aku salut banget sama adanya WALHI ini, juga Ibu Sri dan mbak Tresna. Apalagi mbak Tresnanya survivor cancer. Hutan memang perlu dijaga supaya masa depan juga terjaga. Kalau hutan rusak nanti mau tinggal di mana. Muka Bumi jadi mengerikan kebayang gak ada atau kekurangan oksigen hiks

    • melinase March 10, 2020 at 4:47 am Reply

      Ice breaking memang ampuh ya buat memanaskan suasana, hahaha …

      Banyak tokoh inspiratif. Malu kalau masih suka memikirkan diri sendiri, huhuhu …

  • Supadilah March 9, 2020 at 12:58 pm Reply

    Videonya membikin merinding. Kebakaran hutan itu melibatkan banyak pihak. Biasanya da bekingnya. Orang besar. Mampukah membuat mereka jadi tersangka. Entahlah. Hehhe

    • melinase March 10, 2020 at 4:46 am Reply

      Itulah dia. Orang-orang bermodal besar, ya.

  • Bayu Fitri March 9, 2020 at 6:16 pm Reply

    Ditengah makin padatnya penduduk memang dibutuhkan orang-orang penggiat yg peduli lingkungan spti WALHI ini ..krna mereka bisa disebut agen perubahan untuk menjadi inspirasi bnyk orang supaya peduli lingkungan khususnya menjaga hutan seisinya…maju dan sukses terus untuk WALHI

    • melinase March 10, 2020 at 4:42 am Reply

      Betul sekali, Kak. Terima kasih dukungannya, ya.

  • Annisa Tang March 10, 2020 at 8:40 am Reply

    Jadi ingat kalau dulu pernah menjadi bagian dari Pencinta Alam, waktu SMA. Thank you sudah menginspirasi kembali.

    • melinase March 10, 2020 at 9:25 am Reply

      Wah, boleh nih kapan-kapan mendaki gunung bareng … Hihihi …

      InsyaAllah para pecinta alam sudah terbiasa menjaga hutan saat pendakian ya, Mbak.

  • Dyah ummu AuRa March 10, 2020 at 10:19 am Reply

    Keren banget acaranya ya kak, komplit. Ulai dari mengenal hutan sampai dengan masak-memasak. Moga nanti bisa ikutan acarnya dari walhi yang begini lagi.

    • melinase March 10, 2020 at 10:20 am Reply

      Seru banget. Komplit, deh. Aamiin. Semoga semakin banyak ya kesempatan bergabung di acara bermanfaat seperti ini.

  • Kang Syahri March 10, 2020 at 11:11 am Reply

    Kesadaran akan pentingnya menjaga pelestarian hutan dan habitat didalamnya sangat lah penting. Terlebih hutan termasuk sumber pangan bagi masyarakat terlebih untuk masa depan anak cucu kita kelak agar dapat menikmati nya

    • melinase March 10, 2020 at 11:28 am Reply

      Sepakat, Kang. Jangan sampai hutan tinggal kenangan.

  • BeHangat.Com March 12, 2020 at 6:28 am Reply

    kegiatan yang positif, aku suka.dan aku kasih jempol untuk para penjaga hutan dan untuk semua orang yang sudah menjaga hutan agar tidak rusak. Semoga orang-orang yang sadar tentang pentingnya fungsi hutan semakin bertambah setelah membaca artikel ini. salut mbak pokoknya mantap

  • arenapublik March 12, 2020 at 4:42 pm Reply

    acaranya sangat bermanfaat sekali mba, menumbuhkan cinta alam. keren

    • melinase March 13, 2020 at 11:45 am Reply

      Kalau cinta pasti peduli kan, yaaa …

  • Sukman Ibrahim March 12, 2020 at 10:57 pm Reply

    Ngomong-ngomong, ngomongin hutan di kota ya? Hehe…Mari main ke tempat ku Kakak, di desa. Dikelilingi, hutan dan sungai.

    • melinase March 13, 2020 at 11:44 am Reply

      Wah, mau banget! Di manakah itu?

  • artha March 13, 2020 at 6:04 am Reply

    konsumsi makanan asli hutan memang yg terbaik ya sejatinya. demi kesehatan kita jg. ada yg dijual di pasar san berharga murah lah yg sejauh ini saya konsumsi. tapi masaknya gaknseperti menu yg diajarkan chef sih

    • melinase March 13, 2020 at 11:44 am Reply

      Sumber pangan dari hutan memang bisa beragam pengolahannya. Mau dikonsumsi secara sederhana atau dimasak ala chef, pasti sama enaknya.

  • ZEEVORTE March 14, 2020 at 11:48 pm Reply

    saya sangan mengakui tanpa adanya hutan kita tidak bisa menghirup udara segar dan menemukan banyak tumbuhan atau hewan lainnya karena bagi saya hutan adalah paru” dunia.. namun manusia yang merusaknyaa sungguh prihatin 🙁 semoga dengan tulisan ini bisa menyadarkan kita betapa pentingnya hutan yg ada di dunia ini

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.