Menjawab Pertanyaan Anak-Anak Tentang Ayah Pasca Perceraian Orangtua

Dunia taman kanak-kanak selayaknya menjadi lingkungan yang menyenangkan. Lupakan sejenak tentang kerumitan bahwa setiap anak wajib bisa membaca, menulis, dan berhitung, sebelum nantinya masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu sekolah dasar. Kenyataannya, membaca, menulis, dan berhitung, bagi sebagian anak memang terasa ‘wah’ saking susahnya. 

Mari kita mengingat yang asyik-asyik saja. Tentang dunia bermain, menggambar, dan mewarnai. Mau seperti apapun hasilnya, anak-anak umumnya menyukai kegiatan menggambar dan mewarnai ini. 

Tapi bagi saya, menggambar dan mewarnai di sekolah anak-anak adalah dua kegiatan yang kerap membuat deg-degan.

“Akan kah anak-anak saya menyukainya? Bagaimana jika guru-guru di kelas meminta mereka menggambar tentang profil keluarga?”

Kehidupan Buah Hati Pasca Perceraian

Saya mengenal beberapa pasangan yang akhirnya bercerai tapi kehidupan mereka setelah perceraian tersebut bisa dibilang baik-baik saja. Mereka tetap bisa menjadi partner dalam membimbing dan mengasuh anak-anak. Malah ada yang bilang hubungan mereka pasca bercerai baik-baik saja. Pada kondisi ini, bisa jadi anak-anak dari orangtua yang bercerai sedikit lebih aman. Saya nggak mau bilang kondisi mereka akan baik-baik saja. Perpisahan kedua orangtua tentunya akan meninggalkan luka di hati anak-anaknya.

Tapi harus diakui, kondisi tersebut jauh lebih kecil resikonya dibandingkan dengan orangtua yang kerap mengalami konflik pasca perceraian. Apalagi kalau perseteruan terjadi di depan anak-anak. Atau, tanpa konflik sama sekali karena memang sudah nggak ada komunikasi. 

Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan Tujuh (7) Hal yang Harus Menjadi Perhatian Single Mom. Menuntaskan masalah dengan diri sendiri dulu itu penting karena ada tugas besar lain yang harus ditangani segera. Apalagi kalau bukan anak-anak?

Source: Pexels

Soal bahwa anak-anak selalu akan menjadi korban, itu sudah jelas. Dilansir dari id.theasianparent.com, setidaknya ada sembilan (9) dampak perceraian orangtua bagi perkembangan psikis anak, yaitu:

1. Prestasi yang buruk di bidang akademik.

2. Hilangnya minat dalam kegiatan sosial.

3. Kesulitan beradaptasi terhadap perubahan.

4. Sensitif secara emosional.

5. Kemarahan atau iritabilitas.

6. Perasaan bersalah.

7. Menyebabkan perilaku merusak.

8. Peningkatan masalah kesehatan.

9. Kehilangan kepercayaan akan pernikahan

Kelihatannya menyeramkan sekali, ya? Apakah semua anak korban perceraian akan mengalami kondisi-kondisi di atas? Bisa ya, bisa nggak. Ada kondisi-kondisi yang secara alami akan terjadi namun bisa dicarikan jalan keluar. Namun ada pula kondisi-kondisi yang dapat dicegah agar nggak pernah terjadi. 

Siapa orang penting yang bisa membantu agar upaya pencegahan dan penyelesaian masalah bisa dilakukan? Tentu saja kita, sebagai ibunya. 

Ini dengan kondisi bahwa anak-anak berada dalam pengasuhan ibu dan sama sekali nggak ada komunikasi dengan ayah. 

 

Tumbuh Tanpa Pendampingan Ayah; Apa yang Akan Terjadi pada Anak Pasca Perceraian?

Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi. Berawal dari munculnya pertanyaan, “Bagaimana anak-anak tumbuh tanpa pendampingan ayah? Apa yang akan terjadi nanti?”

Seperti yang saya sampaikan di awal, akan menjadi lebih mudah jika kedua orangtua masih ikut berperan dalam pengasuhan. Tapi jika kondisinya hanya salah satu saja, dampak psikologis akan lebih besar. 

Harus diingat kembali, besar kecil, ringan berat, mudah rumitnya suatu masalah, tergantung dari cara kita menghadapi masalah tersebut. Begitu juga dengan perceraian. Alih-alih sibuk menyesali penyebab terjadinya perceraian, tugas kita adalah menyembuhkan diri sendiri dan mengatur strategi langkah-langkah yang harus dilakukan agar anak-anak tetap dalam kondisi stabil.

Saya pernah membaca di lebih dari tiga artikel bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa pendampingan ayah, cenderung menjadi anak dengan rasa percaya diri yang kurang baik. Betul atau nggak, ya?

Source: Pexels

Pada kasus yang terjadi pada keluarga kami, jawabannya adalah ‘ya’. Dilansir dari Nakita, timbulnya penurunan rasa percaya diri ternyata juga dipengaruhi oleh usia berapa orangtua bercerai. Penurunan rasa percaya diri ini paling banyak terjadi pada anak yang berusia bayi hingga lima (5) tahun saat perceraian terjadi. Perasaan ini akan membuat anak menarik diri dari lingkungannya. 

Apakah ini juga terjadi pada anak-anak saya? Jawabannya ‘ya’. Tentunya mereka nggak benar-benar menarik diri dengan cara ogah berteman, ya. Tapi implementasinya ke arah lebih sering merasa nyaman sendirian dibandingkan bergabung bersama teman-temannya. 

Kenapa? 

Karena merasa bahwa dia berbeda dari teman-temannya. 

“Kenapa teman-teman bisa ke sekolah bareng ayah bundanya, mama papanya, ibu bapaknya, atau umi abinya? Kenapa aku cuma sama mama atau eyang?”

“Kenapa di gambar atau foto teman-teman, ada ayah? Kenapa aku nggak?”

Cepat atau lambat, pertanyaan tersebut akan tercetus dari bibir mungil anak-anak. 

Tugas sebagai Single Moms pada tahapan ini adalah memberikan jawaban terbaik kepada anak-anak tentang ayahnya. Jawaban ini akan menjawab rasa ingin tahu anak, sekaligus menumbuhkan kembali rasa percaya diri mereka. 

Apa kira-kira kaitannya?

Menjawab Pertanyaan Anak-Anak Tentang Sosok Ayah

Harus diakui, ini adalah masa-masa terberat saya menghadapi ketidaknyamanan anak terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Apalagi, satu kesalahan besar yang saya buat pasca perceraian adalah nggak pernah menyiapkan penjelasan kepada anak-anak.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Lantas, apa yang harus dilakukan seorang ibu?

Yuk, kita kembali ke pertanyaan yang umum dilontarkan anak-anak. 

“Kenapa teman-teman bisa ke sekolah bareng ayah bundanya, mama papanya, ibu bapaknya, atau umi abinya? Kenapa aku cuma sama mama atau eyang?”

Atau;

“Kenapa di gambar atau foto teman-teman, ada ayah? Kenapa aku nggak?”

Sadar nggak, kalau pertanyaan inti di sini hanya satu, yaitu:

“Apakah aku punya ayah?”

Jawabannya sudah jelas. Semua anak di dunia ini punya ayah. Tapi jangan senang dulu, anak-anak selalu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Percayalah, jawaban singkat tersebut akan beranak-pinak menjadi pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

“Kenapa ayah nggak tinggal sama kita?”

“Siapa ayah aku?”

“Di mana ayah aku?”

Tulisan ini diperuntukkan bagi orangtua yang sudah bercerai dan hubungan ayah-anak nggak terjalin dengan baik. Ada Single Moms yang memilih menutup mulut dibandingkan terbuka kepada anak-anaknya saat mereka menanyakan sosok ayah. Bisa jadi karena konflik yang berkepanjangan atau peran ayah yang hilang, mulai dari abai memberikan nafkah untuk anak, enggan menjalin komunikasi dengan anak, atau malah berebut hak asuh. 

Jadi, sebaiknya bagaimana, dong?

Source: Pixabay

Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut adalah jawaban dapat diberikan kepada anak-anak.

  1. Sampaikan bahwa semua anak di dunia ini memiliki ayah. Jangan berhenti sampai di sini. Lanjutkan dengan kalimat berikutnya. Katakan kepada mereka, bahwa anak-anak kita pun sama seperti teman-teman lainnya. Mereka ada karena kedua orangtua yang saling mencintai, menikah, lalu kemudian mereka hadir. Mengerti bahwa mereka dicintai adalah poin penting di sini.
  2. Sampaikan bahwa ada takdir yang seringkali mengubah kehidupan yang kita rencanakan. Katakan kepada mereka bahwa ini bukan masalah besar. Ada anak-anak yang oleh Tuhan, mereka ditakdirkan hidup bersama kedua orangtua, hidup bersama satu orangtua saja, nggak punya kakek nenek, nggak punya adik atau kakak, bahkan ada yang ditakdirkan hidup hanya bersama kakek dan neneknya saja. Katakan sekali lagi bahwa intinya, keluarga yang ada bersama mereka saat ini, sangat mencintai mereka.
  3. Sampaikan saja siapa nama ayah mereka, apa pekerjaan mereka, bagaimana rupa mereka. Akan lebih baik jika anak-anak bisa melihat foto ayahnya. Tapi kalau nggak memungkinkan, kita bisa sampaikan bahwa ada bagian dari tubuh anak-anak kita yang mewarisi ciri fisik ayahnya. Nama belakang juga bisa diceritakan. Percayalah, ini akan membuat anak-anak sedikit lega sekaligus bangga karena mereka benar-benar mempunyai ayah dan ada jejak dari sosok ayah yang melekat pada diri mereka.
  4. Sampaikan terus terang jika tahu keberadaannya atau sebaliknya. Jika memang nggak punya informasi, sampaikan bahwa ibu mereka siap selalu berada di sisi mereka. 
  5. Memperkenalkan kerabat dari keluarga ayah. Jika memungkinkan, perkenalkan juga. Bisa kakek, nenek, paman, bibi, atau yang lainnya. Anak-anak akan senang kalau tahu mempunyai keluarga. 

Do's dan Don'ts Saat Anak-Anak Bertanya Tentang Ayahnya

Wah, sudah dapat ‘contekan’, nih. Tinggal praktek saja, dong. 

Sesederhana itu? Well, bisa jadi ya, bisa jadi nggak. Setiap anak tentu berbeda responnya. Jangan anak-anak Single Moms di luar sana, dua anak saya saja punya respon yang berbeda.

Putra saya nyaris nggak bereaksi apa-apa. Datar saja. Satu kalimat saja yang terucap, “Aku mau sama Mama aja.”

Beda dengan reaksi putri saya yang seperti kejatuhan bintang. 

“Jadi, aku punya ayah?”

Matanya membulat lebar sewaktu memastikan itu. Sepertinya, ada satu pertanyaan besar di kepalanya yang sudah terjawab. Dia punya ayah, sama seperti teman-temannya. 

Kelihatannya sederhana tapi prakteknya susahnya minta ampun. Trust me. Selain itu, ada kondisi yang boleh dan nggak boleh kita lakukan, ya. 

Source: Pexels

Do's

Menceritakan panjang lebar tentang sosok ayah yang nggak pernah dilihat atau sudah nyaris terlupa dari ingatan anak-anak, tentu kita membutuhkan persiapan matang. Ada beberapa tips yang bisa diikuti:

  1. Pilih lokasi dan waktu yang tepat. Bukan soal lokasi yang mewah, tapi lebih kepada tempat yang tenang. Single moms bisa mengajak anak-anak pergi ke suatu tempat demi misi ini.
  2. Pilih kata-kata yang mudah dimengerti. Jangan berputar-putar dan membuat anak-anak kebingungan. Seperti contoh sebelumnya, sampaikan penjelasan sesuai dengan pertanyaan anak-anak.
  3. Membawa media pembantu. Single moms bisa membawa foto pernikahan (kalau masih ada), atau mengajak teman yang sudah berkeluarga dan memiliki anak di acara berlibur tersebut. Pastikan keluarga ini beranggotakan orang-orang yang dikenal baik oleh anak-anak kita. Gunanya untuk apa? Mengenalkan konsep pernikahan dan contoh keluarga utuh kepada mereka. 
  4. Menerima jika anak marah atau bersedih. Seperti penjelasan saya sebelumnya, respon setiap anak akan berbeda-beda. Jika mereka bersedih atau marah, terima saja. Jangan lupa berikan pelukan hangat. Posisikan diri sebagai ibu yang akan selalu ada bersama mereka. 
Source: Pexels

Don'ts

Selain tips yang bisa diikuti, ada juga lho hal-hal yang nggak boleh kita lakukan. Ini dia ya, Single Moms.

  1. Marah saat anak-anak bertanya tentang ayahnya. Jangan biarkan anak-anak bertanya-tanya kenapa ibunya marah dan kemudian menyimpulkan sendiri bahwa kehadiran mereka nggak diinginkan.
  2. Memberikan jawaban palsu. Jangan lupa ya Single Moms, bahwa anak-anak adalah peniru ulung. Saat masa kecil mereka merekam bahwa ibunya pernah berbohong dalam memberikan informasi, maka saat itu juga mereka berpikir bahwa mereka juga boleh melakukan hal yang sama. Ingat, bahwa setiap anak berhak mengenal orangtuanya.
  3. Mengganti peran keluarga lain di rumah. Jangan pernah mengenalkan bahwa kakek, paman, atau laki-laki dewasa lain di rumah sebagai ayah mereka. Anak-anak harus mengenal silsilah dalam keluarga seperti yang seharusnya. 
  4. Memumpuk rasa benci tentang sosok ayah. Seburuk apapun hubungan single moms dengan ayah dari anak-anak, jangan pernah menumbuhkan bibit kebencian di dalam hati anak-anak. Biarkan mereka tumbuh sebagai anak-anak penyayang. Tunjukkan bahwa mereka dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai mereka. Saya sendiri percaya, hidup dengan rasa benci itu berat banget.

Mungkin ada pertanyaan lain yang terbersit di benak Single Moms. Di usia berapa anak-anak bisa melalui tahapan mengenal sosok ayah tersebut. Saya melakukannya saat sulung berusia delapan tahun dan bungsu enam tahun.

Sebelum melakukannya, saya berkonsultasi dengan seorang konsultan terlebih dahulu. Waktu itu sempat bertanya juga sih, memangnya anak-anak sudah mengerti?

Jangan salah ya Single Moms, anak-anak sudah bisa menerima penjelasan panjang lebar sejak usia lima tahun, lho.

Anak-anak selalu membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Kondisi yang berbeda seringkali membuat anak-anak jatuh rasa percaya dirinya. Dengan berbesar hati mengenalkan sosok ayah akan membuat anak-anak lebih percaya diri dan bangga bahwa ternyata mereka sama seperti teman-temannya.

Bagi orangtua yang terlambat menyampaikan ini kepada anak-anaknya, seperti saya, bisa jadi anak sudah dalam kondisi yang sudah lemah secara psikologis. Perubahan besar terjadi, seperti menjadi nggak bersemangat dan menjauh dari ibu padahal biasanya dekat. Kalau sudah demikian, jangan memaksa anak untuk kembali riang seperti biasanya. Saya bahkan merelakan diri meninggalkan pekerjaan, hidup dengan tabungan, demi memulihkan kondisi anak. Rasanya seperti memulai mengenal anak dari nol lagi. Kalau ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan, setiap keluarga pasti berbeda-beda. Saya sendiri membutuhkan enam bulan sampai melihat anak kembali ceria.

Adakalanya perceraian nggak bisa dihindari. Jangan lupa untuk bangkit. Menyelesaikan masalah dengan diri sendiri, lalu fokus pada kebahagiaan anak-anak kita. Yuk, kita tunjukkan kepada dunia bahwa anak-anak yang menjadi korban perceraian tetap bisa menjadi anak-anak penyayang yang cerdas dan membanggakan.

Salam Setrong,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

68 Comments

  • Gioveny March 16, 2020 at 1:17 pm Reply

    Aku jadi ingat temanku yg pernikahannya hampir sering dia curhat sedang diujung tanduk. Tapi dia selalu mengurungkan niat dan bertahan di pernikahannya karena khawatir efek negatif yg akan berpengaruh pada anaknya. Badai pasti berlalu ya mbak, semoga si kecil tumbuh sehat dan menerima keputusan ortunya

    • melinase March 17, 2020 at 5:07 am Reply

      Kondisi di setiap keluarga beda-beda ya, Mbak. Aku nggak pernah berani menyarankan teman yang curhat untuk memutuskan cerai atau bertahan. Ya itu tadi, kondisinya beda-beda. InsyaAllah tetap berusaha yang terbaik, Mbak. Terima kasih, yaaa …

  • ginanelwan March 16, 2020 at 3:01 pm Reply

    Puji Tuhan, keluargaku masih utuh ibu dan bapak walaupun ibu sudah almarhumah. Dan kuterapkan di pernikahanku, yang sudah berjalan 9thn. Doakan selalu langgeng agar anak gak jd korban perceraian ortu

    • melinase March 17, 2020 at 5:07 am Reply

      Sehat-sehat terus ya untuk ayahandanya Mbak Gina.

      Doaku keluarga Mbak Gina tetap harmonis sampai maut memisahkan ya, Mbak …

  • Emma March 16, 2020 at 5:19 pm Reply

    Yang kuat dan sabar ya mbak badai pasti berlalu nanti juga semua baik-baik saja, Kalau aku sih tipe yang membicarakan Hal Baik atau buruk pada anak karena anak pasti merasa adanya ketidak sempurnaan pada orang tua nya, shock pasti tapi seiring berjalannya waktu anak pasti menerima.

    • melinase March 17, 2020 at 5:08 am Reply

      Iya, Mbak. Anak-anak bisa menerima tapi orangtua juga harus berusaha menjelaskan. Jangan membuat mereka mengambil kesimpulan sendiri.

  • Mugniar March 16, 2020 at 6:20 pm Reply

    Masya Allah. Kita tak bisa mengubah takdir yang sudah berjalan tapi kita bisa memilih menjalani hidup lebih baik.
    Semoga anak2 Mbak Melina benar-benar bisa menerima ketentuan ini dengan ikhlas dan tumbuh menjadi anak2 yang percaya diri.

    • melinase March 17, 2020 at 5:08 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doa dan dukungannya ya, Mbak.

  • Mugniar March 16, 2020 at 6:55 pm Reply

    Hal yang bisa dibilang sulit melakukannya, menjawab beberapa pertanyaan itu kepada anak-anak.

    Kalau baca point-point DON’TS di atas, nah itu semua tuh yang bikin anak justru tambah bermasalah. Ada orang tua yang memeng kekeuh menyembunyikan soal ayah si anak. Entah kenapa 🙁

    • melinase March 17, 2020 at 5:10 am Reply

      Mungkin ada kondisi yang berat ya Mbak kalau sampai ada ibu yang menyembunyikan identitas ayah dari anak-anaknya. Aku nggak bisa menyalahkan mereka juga karena kondisi di setiap keluarga berbeda-beda. Tapi semoga dengan menuliskan ini, teman-teman single moms masih bisa mempertimbangkan kembali.

  • Mporatne March 16, 2020 at 7:01 pm Reply

    Sedih ketika anak berbeda dengan teman nya. Jawaban yang benar, bijak dan tanpa dendam bisa membuat anak bisa tumbuh mandiri walaupun orangtua cerai.

    • melinase March 17, 2020 at 5:10 am Reply

      Iya, Mbak. Tentunya butuh proses panjang. Diusahakan saja dulu.

  • Juli Dwi Susanti March 16, 2020 at 7:08 pm Reply

    Barokallah ya mbak aku pernah merasakan posisi itu tapi aku bertahan karena mereka memang tidak pernah kehilangan sosok ayahnya, dengan membiarkan aku yang hancur seperti lilin, karena itulah yang aku takutkan terjadi

    • melinase March 17, 2020 at 5:11 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin … Semoga kita senantiasa ditunjukkan arah yang baik dalam menjadi ibu ya, Miss.

  • Didik March 16, 2020 at 10:02 pm Reply

    Benar banget nih dampak negatif perceraian orangtua kepada anak. Aku sering ketemu anak-anak seperti ini. Mereka butuh pendamping hidup, baik hanya untuk sekadar curhat. Kalau ada teman spt ini, jangan ragu utk merangkul ya.

    • melinase March 17, 2020 at 5:11 am Reply

      Penguatan memang harus dari keluarga ya, Mas. Lingkungan terdekat punya peran besar. Jangan sampai mencari kebahagiaan di luar rumah.

  • Mirza March 16, 2020 at 10:10 pm Reply

    Setuju, banyak yg takut kasih info ke anak soal perceraian, akupun jujur dari awal dan jelasin ke anak alasannya, untung anakku terima. Aku sih selalu salut ma yg single mom. Banyak single mom yg sukses.

    • melinase March 17, 2020 at 5:12 am Reply

      Kekhawatiran soal cara menyampaikan dan mengetahui reaksi anak biasanya ya, Mbak. Semoga kita sama-sama dikuatkan, ya.

  • artha March 16, 2020 at 10:35 pm Reply

    saya punya kerabat yg cerai. sejauh ini anaknya seperti tak terpengaruh oleh perceraian sebab diasuh oleh nenek pihak ayah. ayahnya kerja jauh, ibunya juga. mereka jarang bersua. entah si kecil mengerti apa arti perceraian atau tidak

    • melinase March 17, 2020 at 5:13 am Reply

      Pengaruh perceraian sih aku yakin selalu ada. Semoga baik-baik saja karena sudah diemong secara baik oleh lingkungan terdekatnya ya, Mbak.

  • Okti Li March 16, 2020 at 11:17 pm Reply

    Kep setrong Bunda. Saya percaya anak anak akan bahagia dan menjalani hari tanpa beda jika memiliki seorang ibu yang mengerti betul kondisi anak nya seperti Bunda Meliana.
    Semoga semuanya sehat selalu ya…

    • melinase March 17, 2020 at 5:13 am Reply

      InsyaAllah, Teh. Terus berusaha. Terima kasih doa dan dukungannya ya, Teh …

  • Maria G Soemitro March 17, 2020 at 2:52 am Reply

    Nggak ada jawaban terbenar jika menyangkut pasangan suami istri yang selalu konflik ya?
    Bertahan atau bercerai ada plus minus nya

    • melinase March 17, 2020 at 5:14 am Reply

      Betul, Ambu. Kondisi setiap keluarga berbeda-beda. Lebih baik kalau kita nggak ikut memberikan komentar yang nantinya malah menyudutkan.

    • April Hamsa March 17, 2020 at 8:48 am Reply

      Emang tergantung kasus ya bun. Soalnya ada kalau liat berita gtu pasangan yang keknya bakalan nyakitin anaknya, itu perlakuannya juga butuh khusus ya. Mungkin bisa konsul dengan psikolog atau bahkan pengacara.
      Tapi semoga semuanya bisa mementingkan kebutuhan anak, krn mereka gak salah apa2

      • melinase March 17, 2020 at 8:55 am Reply

        Iya, konsul pada orang yang tepat itu penting. Bukan hanya curhat pada orang-orang yang ujungnya hanya manas-manasin, waduuh …

  • Sumiyati Sapriasih March 17, 2020 at 2:59 am Reply

    Sebenarnya memang kita sangat sulit menjelaskan tentang perceraian, namun apa harus dikata kenyataan pahit memang harus diungkap atau diceritakan pada anak walaupun pahit apapun

    • melinase March 17, 2020 at 5:15 am Reply

      Betul banget, Mak. Ditimbun lama-lama nanti malah menjadi bumerang.

  • Novri - diarynovri- March 17, 2020 at 3:08 am Reply

    Mba. Mel…
    Perasaanku campur aduk baca artikel ini. Bahkan mataku menghangat, basah oleh air mata.
    Menjadi single mom pastinya tidak mudah. But you did it!
    Keep strong ya mba..

    • melinase March 17, 2020 at 5:16 am Reply

      Hai, Mbak … Hihihi … Segala peran di dunia dijalani saja. Masing-masing ada perjuangannya, kok. Terima kasih doa dan dukungannya, ya.

  • Siti Nurjanah March 17, 2020 at 4:32 am Reply

    Tentu bukan perkara mudah, menjalani kehidupan berkeluarga tanpa sosok seorang ayah. Seperti yang disampaikan dalam artikel kerap ada segala sesuatu yang terjadi di luar kehendak
    Semoga..mba dan anak-anak tetap bisa berbahagia

    • melinase March 17, 2020 at 5:16 am Reply

      Iya, Mbak. Harus berperan ganda, hihihi … Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih atas doa dan dukungannya, ya.

  • Nurhilmiyah March 17, 2020 at 5:09 am Reply

    Bener banget Mbak Melina, bagaimanapun anak² berhak tahu mengenai ayah mereka sebab secara hukum hal tersebut adalah hak perdata. Btw saya suka banget dg strong mom kaya Mbak Melina ini, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan kekuatan ya Mbak,, sehat selalu Mbak Melina say….

    • melinase March 17, 2020 at 5:17 am Reply

      Iya, Mbak. Nasab juga nggak boleh kita abaikan, ya. MasyaAllah, setrong karena dikuatkan Allah. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doa dan dukungannya ya, Mbak …

  • Fenni Bungsu March 17, 2020 at 6:02 am Reply

    Kuat selalu untuk Kak Mel, dan hubungan tetap terjaga dengan baik, semoga anak-anak kak Mel selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt serta tidak berkurang dalam mendapatkan kasih sayang orangtuanya.

    • melinase March 17, 2020 at 8:01 am Reply

      InsyaAllah, Mbak Fenni … Hubungan sih nggak terjaga baik. Tapi aku berusaha mengenalkan bahwa anak-anak punya ayah ke mereka.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih banyak doa dan dukungannya, Mbak …

  • NurulRahma March 17, 2020 at 6:37 am Reply

    Dirimu setrooongg Mbaaaa
    Kuat kuaatt tangguh!
    Btw, gabung di Single Moms COmmunity juga kan Mba?
    Yg dikomandani mba Maureen Hiptiew?

    • melinase March 17, 2020 at 8:03 am Reply

      Dikuatkan Allah, Mbakkuuu … Hihihi …

      Sudah gabung Mbak, banyak sharing juga sama teman-teman di sana.

  • gemaulani March 17, 2020 at 7:26 am Reply

    Aku cuma ingin bilang semangat dan kuat untuk mba dan anak-anak 🙂 Aku belajar banyak dari tulisan ini 🙂

    • melinase March 17, 2020 at 8:03 am Reply

      Aamiin … InsyaAllah, Mbak. Semoga bermanfaat nantinya buat teman-teman yang membutuhkan.

  • Menjawab Pertanyaan Anak-Anak Tentang Ayah Pasca Perceraian – Blogger Perempuan March 17, 2020 at 8:31 am Reply

    […] Baca Selengkapnya […]

  • April Hamsa March 17, 2020 at 8:33 am Reply

    Yang penting urusan anak no 1, jangan sampai salah satu mebuat sosok mantan pasangannya dibenci sama anaknya, krn anak tetep anak gak akan berubah sampai kapan pun. Kalau masih kecil gtu kyknya blm paham ya, tapi begitu mereka paham konsep perceraian emang sebaiknya harus dijelaskan bahwa ada batasan antara ayah dan ibunya.

    • melinase March 17, 2020 at 8:48 am Reply

      Yes, betul Mbak. Dengan bercerita pada anak, mereka bisa belajar mengetahui bahwa kondisinya sudah berbeda.

  • Faradila Putri March 17, 2020 at 8:44 am Reply

    Ini kadang masih jadi dilema yaa kapan waktu dan situasi yang tepat. Apa anaknya bakal ngerti atau nggak. Regardless, semoga yang harus tinggal berpisah karena perceraian bisa terus akur dengan ayah dan juga ibunya.

    • melinase March 17, 2020 at 8:54 am Reply

      Idealnya, mulai usia TK sudah diperkenalkan, Mbak. Tapi aku pun terlambat dan keburu anaknya kena masalah di sekolah. Buruk atau baiknya hubungan orangtua, anak-anak selalu berhak mengenal kedua orangtuanya.

  • Sani March 17, 2020 at 9:24 am Reply

    Berat sekali sptnya ya, kadang kan anak pun kita ga tau sebenarnya mreka trima atau ga, apalagi usia masi kecil. Semoga yg dapat ujian dapat mengatasi dengan baik.

    • melinase March 17, 2020 at 9:32 am Reply

      Betul, Bang. Tapi menyadari bahwa anak-anak berhak tahu itu penting banget.

  • Rachmanita March 17, 2020 at 10:10 am Reply

    Sebenarnya emang perceraian ini berat banget ya mba apalagi buat anak yang sudah besar dan ngerti perlu adanya penjelasan seperti ini

    • melinase March 17, 2020 at 12:43 pm Reply

      Mau usia berapa saja, sama susahnya pasti. Ada tantangan tersendiri. Kalau anak sudah besar, lebih berani mengungkapkan emosi. Kalau anak yang masih kecil, tanda tanyanya malah sejak kecil.

  • Peri Hardiansyah March 17, 2020 at 11:33 am Reply

    Jadi lebih baik jujur walaupun agak susah dipahami pada awalnya ya.

    • melinase March 17, 2020 at 12:42 pm Reply

      Soal susah, jadi tugas orangtua untuk menjelaskan. Minta bantuan ahlinya jika dirasa nggak sanggup. Konsekuensi dari perceraian, kan?

  • Zefy Arlinda March 17, 2020 at 11:56 am Reply

    Memang terkadang dibuat bingung ya, terkadang takut anak kepikiran dan murung jika kita jujur.

    • melinase March 17, 2020 at 12:42 pm Reply

      Reaksi setiap anak akan berbeda-beda sih, Mbak. Dua anak saya juga beda, hehehe …

  • Wiwid Vidiannarti March 17, 2020 at 1:25 pm Reply

    Oh Tuhaaan … kenapa aku nyesek gini baca artikel ini. Bayangan wanita hebat selalu terlintas setiap inget kamu, mbak.

    • melinase March 17, 2020 at 3:06 pm Reply

      MasyaAllah … Hebat berhasil membuatmu nyesek, hihihi …

      Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman single moms di luar sana ya, Kak.

  • Yuni BS March 17, 2020 at 2:55 pm Reply

    Saya pernah menemukan single moms yang boro-boro ada untuk anaknya dan menjelaskan bagaimana sosok ayah mereka. Si ibu bahkan ikut-ikutan pergi meninggalkan anak demi dalih mencari biaya untuk anak. Sementara si anak dibiarkan dirawat oleh orang lain. Mesti itu keluarga sendiri tetap saja akan berbeda kan jika dirawat oleh sang ibu.

    Ah sepertinya dia harus membaca artikel ini deh.

    • melinase March 17, 2020 at 3:07 pm Reply

      Kondisi setiap keluarga berbeda-beda, Mbak. Aku pun nggak bisa menyalahkan. Bisa jadi ibunya memang berniat mencari nafkah untuk anaknya, kan? Harus diakui, biaya rumah tangga itu banyaaak.

      Monggo, silakan dishare ya, Mbak …

  • Steffi Budi Fauziah March 17, 2020 at 3:53 pm Reply

    Masyaallah, baca ini banyak bangeeet pelajaran mengenai broken home. Emang pasti banyak yg bilang anak korban. Tapi keputusan berceraikan bukan hal yg mudah jg untuk orangtuanya. Semoga anak-anak yg diasuh single parent, selalu Allah mudahkan segala urusannya dan ibunya selalu kuat untuk mengasuh anak-anaknya. Aamiin

    • melinase March 18, 2020 at 8:42 am Reply

      Iya, Mbak. Tentunya semua orang melalui begitu banyak pertimbangan sebelum membuat keputusan besar.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

  • Erny Kusuma March 17, 2020 at 4:54 pm Reply

    Intinya hrs ada komunikasi yg baik y mbak dgn anak. Juga keterbukaan dgn bahasa yg sederhana pd anak.

    • melinase March 18, 2020 at 8:42 am Reply

      Betul banget, Mbak …

  • Dhika Suhada March 17, 2020 at 6:08 pm Reply

    Luar biasa bahasan kali ini. Salut untuk para single moms. Memang diperlukan penjelasan yang baik saat anak bertanya sejarah keluarga ya. Peluk erat untuk paa single moms. Semoga selalu diberikan kekuatan mendampingi buah hatinya. #autoterharu

    • melinase March 18, 2020 at 8:43 am Reply

      MasyaAllah … Ujian setiap manusia berbeda-beda ya, Mbak.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih atas doa dan dukungannya.

  • Nonz Ati March 17, 2020 at 6:26 pm Reply

    Memberi penjelasan itu sudah keharusan, tapi harus sesuaikan juga dengan usianya. Tak akan ada ada istilah broken home pasca perceraian jika kedua orang tua tetap bertanggung jawab terhadap anak-anaknya secara lahir dan batin.

    • melinase March 18, 2020 at 8:44 am Reply

      Betul, Teh. Tanggungjawab orangtua meskipun mungkin harus banyak mencoba dulu.

  • Nurul Fitri Fatkhani March 17, 2020 at 6:37 pm Reply

    Kadang perpisahan orang tua memang tidak bisa dihindari. Bahkan dalam beberapa kasus malah lebih baik berpisah daripada menimbulkan dampak negatif pada anak.
    Namun meskipun telah ebrpisah, seharusnya pengasuhan anak dilakukan oleh kedua orang tua ya…

    • melinase March 18, 2020 at 8:44 am Reply

      Setuju Teh, sebab nggak ada mantan anak, ya.

  • nyi Penengah Dewanti March 20, 2020 at 4:25 am Reply

    Siapapun tidak ingin berpisah dengna orang yang kita cintai ya Kak.
    Tapi kalau memang sudah takdirnya dan tidak ada jalan keluar untuk berpisah harus bisa menyikapi bijak
    apalagi ada anak, jadi membayangkan pada posisi tersebut jadi begitu tekniknya hehehe.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.