Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Kehadiran Virus Corona; Pentingnya Bersikap Mawas Diri

Kehadiran Virus Corona; Pentingnya Bersikap Mawas Diri

Sabtu malam itu, saya bersama Nona Kecil menghabiskan waktu berjam-jam dengan bermain Islamologi Kid Land. Berkali putaran, hasilnya sama dong. Saya kalah melulu. Yaaa, nggak papa. Kalau anak lebih jago dari ibunya, berarti sang ibu berhasil. Halah, berhasil apa? Ngajarin main Islamologi Kid Land itu aja belum pernah, hehehe

Beruntung malam itu saya masih menyempatkan diri bermain bareng anak. Besok sorenya,  badan saya mulai terasa nggak enak. Greges-greges. Hidung terasa gatal. Sepertinya sebentar lagi bakalan pilek.

Nggak pakai lama, Minggu malam, air bening terus saja ngocor dari kedua lubang hidung. Kalau sudah begitu, tahu kan ya, pusing banget rasanya. Telinga, mata, tenggorokan, ikutan sakit.

Senin pagi, saya mengabari rekan-rekan kerja kalau mau ijin istirahat dulu. Saya bilang kalau badan saya rasanya nggak enak. Pusing, pilek, dan sakit tenggorokan. Salah satu rekan kerja saya kebetulan berlatar belakang medis. Dia menyampaikan sebuah pesan.

“Berhubung ada sakit tenggorokan dan sekarang sedang ada virus corona, nggak ada salahnya langsung periksa ke dokter.”

Dalam hati saya sih menolak. Sebagai orang yang nggak gampang datang ke dokter, rasa ingin menyembuhkan diri sendiri rasanya meronta-ronta. Santai lah, nggak usah ke dokter. Tapi, beberapa hari kemudian akhirnya rasa khawatir itu datang juga.

Kenapa coba?

Cuma Pilek, Kenapa Harus Khawatir?

Pilek itu sakit yang biasa banget buat saya. Kena debu di rumah maupun jalanan, gampang banget jadi pilek. Bersih-bersih kertas bertumpuk, barang-barang, menyapu, dijamin sekali bersin, ngocor terus. Semudah itu saya terserang pilek. Banyak minum air putih hangat dan madu, nanti juga sembuh sendiri.

Bisa jadi lama kalau pileknya karena flu. Ini biasanya dimulai dari bersin, hidung ngocor, pusing, sakit tenggorokan, batuk kering, kemudian berubah menjadi batuk berdahak, dan tahapan terlamanya adalah menyembuhkan batuk berdahak ini. Menurut teman lain yang bekerja di bidang medis juga, obat batuk memang normalnya baru akan membuat batuk mereda dalam dua minggu. Jadi, bukan soal obatnya nggak cocok. 

 

Maaf kalau nggak menyertakan gambar pribadi. Pilek berat, boro-boro mau berfoto ria (Source: Pixabay)

Mungkin saya akan bersikap seperti biasa andai saat ini dunia sedang adem ayem tentrem tanpa adanya wabah corona di mana-mana. Jadi, kondisi seperti ini saya meyakini kalau mawas diri itu penting. Mawas diri berarti bisa menganalisa sendiri gejala yang dialami, perjalanan yang sudah dilakukan, dan tindakan yang bisa dilakukan secepatnya.

Maka, di hari pertama sejak teman saya mengingatkan itu, saya mencoba menganalisa kondisi diri sendiri. Gejala-gejala yang saya rasakan waktu itu, seperti berikut:

  1. Pilek cair, berlangsung sampai hari ke lima. Nyaris sepanjang waktu. Lupa deh habis berapa kotak tisu waktu itu. 
  2. Pusing. Ini efek pilek pastinya. Pilek cair selalu bikin sakit kepala.
  3. Sakit tenggorokan mulai Senin pagi. Tanpa batuk. Tapi tenggorokan sakit banget.
  4. Sering menggigil tapi tanpa demam. Hampir setiap jam saya mengukur suhu tubuh dengan menggunakan thermometer. Hasilnya, suhu tubuh tertinggi hanya di kisaran 35 derajat saja. Berarti sama sekali nggak demam, kan? Tapi kok kedinginan terus? Duh, jangan-jangan thermometer di rumah rusak.
  5. Tubuh lemas dan lesu. Ini bikin saya nggak bisa beraktivitas dengan baik. Baru berbalas pesan di ponsel, rasanya capek. Baru berdiri sebentar, bawaannya lemes. 

Selain itu, saya juga mencoba menelusuri jejak perjalanan diri sendiri. Ini juga bikin khawatir:

  1. Sehari sebelum jatuh sakit, saya pergi ke suatu acara, bertemu banyak orang, dan kondisi saat itu sedang capek karena banyak begadang. Saya nggak dalam kondisi sakit, sih. Tapi kalau kelelahan, daya tahan tubuh turun, mungkin banget, kan?
  2. Menuju ke acara tersebut, saya menggunakan moda transportasi commuterline. Tanpa mengenakan masker mulut, tanpa membawa hand sanitizer

Mulai waspada dong jadinya. Tapi tetap nggak boleh panik.

Langkah-Langkah yang Dilakukan

Sadar kalau tubuh sedang dalam kondisi nggak sehat, saya melakukan langkah-langkah berikut sebagai upaya penyembuhan:

Mengonsumsi Jamu

Kalau sedang masuk angin, biasanya saya cocok banget minum wedang uwuh. Ini adalah minuman tradisional khas Jawa yang berupa rebusan air dengan aneka rimpang-rimpangan seperti daun cengkeh, kayu manis, jahe, kayu secang, dan pemanisnya menggunakan gula batu. Rasanya segar banget. 

Kalau kondisi sehat, diminum dingin pasti segar rasanya. Tapi kalau sedang masuk angin ya biarkan dihidangkan panas-panas saja, ya.

Nah, ibu saya di rumah tuh rajin banget membuat jamu sendiri. Makanya, sewaktu seliweran berita bahwa rimpang-rimpangan baik untuk menjaga imunitas tubuh dari virus corona, beliau berinisiatif membuatkan jamu. Jadi kalau ke rumah, isi panci kami itu jamu ya, bukan sop iga, gulai kambing, soto ayam, apalagi kolak pisang, hihihi

Penampakan jamu buatan ibu saya tercinta

Jamu versinya ibu saya, campuran antara kunyit, kencur, jahe, asem jawa, temulawak, dan gula merah. Rasa jamu hari ini bisa berbeda dengan besok. Pernah suatu kali, rasa temulawak lebih kuat jadi lumayan pahit. Ini tandanya stok bahan lain habis, yang sisa banyak cuma temulawak, wkwkwk

Saya nggak mau protes. Lha wong tinggal minum juga, hihihi

Banyak Minum Air Putih

Kondisi sehat saja kita disarankan minum minimal gelas air per hari. Kalau sedang drop, nah jangan sampai kurang dari itu. Saya sih lebih memilih air hangat ya karena bisa sedikit mengurangi rasa sakit pada tenggorokan. 

Kalau kita sedang demam, selalu disarankan untuk banyak minum air putih untuk menurunkan demamnya. Nah, kalau saya banyak mengonsumsi air putih supaya jangan sampai demam, hehehe

Olahraga Ringan dan Berjemur

Hari pertama sampai keempat, saya cuma mlungker di tempat tidur. Mulai hari kelima, akhirnya saya keluar dari sarang. Mengantar anak-anak ke sekolah dengan berjalan kaki, lalu pulangnya berjemur di sekitar kompleks. 

Sambil berjemur, sesekali jalan-jalan mondar-mandir tanpa mengenakan alas kaki. Pilek, ketemu sinar matahari, MasyaAllah … Rasanya enaaak banget. Rasa menggigil pun enyah sudah.

Mengenakan Masker Mulut

Ada banyak anggota keluarga di rumah yang bisa tertular pilek kalau saya bersikap sembrono, salah satunya nggak menutup mulut dan hidung padahal tengah pilek. Makanya, saya tetap mengenakan masker mulut meski berada di dalam rumah. Anak-anak juga sebisa mungkin nggak dekat-dekat saya dulu. Miris sih sewaktu anak-anak bertanya.

“Mama, kapan sembuh?”

“Mama, kapan mama boleh cium aku?”

Huaaa … Di masa jelang Penilaian Tengah Semester (PTS), saya maunya mereka tetap sehat dong, ya. Nggak apa-apa deh, peluk ciumnya nanti dirapel, hihihi

Meminimalkan Kontak dengan Orang Banyak

Di empat hari pertama, saya memang lebih banyak di rumahnya karena lesu banget. Tapi di hari-hari berikutnya, saya sengaja meminimalkan bepergian keluar rumah, apalagi di acara kumpul-kumpul. Kasihan kan kalau ada yang tertular pilek juga?

Jadi, saya meminimalkan bertemu banyak orang sebagai tindakan mawas diri, menjaga diri dari tertular dari orang lain karena daya tubuh tengah turun, sekaligus menghindarkan diri dari menulari orang lain karena pileknya lumayan berat.

Ada sih hari-hari saat harus ke suatu tempat yang memang harus saya hadiri. Alhamdulillah, saat itu pileknya saya sudah jauh berkurang. 

Konsultasi ke Dokter

Sudah melakukan banyak cara, tapi saya memutuskan tetap menemui dokter. Situasi seperti saat ini, nggak bijak rasanya kalau menyimpulkan sehat tanpa berkonsultasi dengan ahlinya

Syukur Alhamdulillah, menurut dokter, di saluran pernapasan bersih. Tapi tetap dong diberikan obat. Begitu ambil obat di apotek, langsung manyun. Obatnya banyak, huaaa … Saya nggak demam sih, tapi dokternya bilang tetap memberikan parasetamol kalau-kalau nanti saya demam.

Apalah daya, harus meminum obat-obat ini

Jadi, selama ini alasan saya malas ke dokter kalau sedang nggak enak badan tuh ya obat. Jangan berpikir saya tipe orang yang sebisa mungkin meminimalkan obat berbahan kimia, saya nggak sebegitunya. Tapi saya malas minum obat karena rasa pahitnya. Coba manis, asem atau asin. Pasti saya mau, deh … Wkwkwk  

 

Alhamdulillah ... Membaik

Alhamdulillah, dengan upaya keras dari diri sendiri sekaligus memikirkan efeknya ke orang-orang sekitar, di hari ke-6, sakit tenggorokan, lemas, dan lesu menghilang. Pilek sudah berkurang juga di hari ke-7. Tapi baru benar-benar nyaman dan segar di hari ke-14.

Bertepatan dengan kondisi tubuh saya yang sudah kembali segar, ternyata pemerintah mengumumkan working and study from home. Yo wis, saya pun manut juga untuk meminimalkan bepergian kemana-mana. Acara kumpul teman termasuk arisan juga saya hindari.

Sikap waspada yang harapannya turut dilakukan oleh banyak orang ini semoga dapat meminimalkan resiko penularan virus corona. 

Sudah banyak korban, jadi waspada itu harus. Mulai dari diri sendiri. Setiap tindakan, pikirkan dampaknya untuk diri sendiri dan orang lain.

Semoga kondisi ini segera usai. Sehat kembali semuanya. Makanya, yuk saling bekerjasama.

 

Salam Sehat,

Melina Sekarsari

71 comments found

  1. Alhamdulillah kalau sekarang sudah lebih baik kondisinya. sedang mewabah corona apa apa jadi serba sensitif jadinya. Hehehe. Tapi memang lebih baik mencegah daripada mengobati ya

  2. Masker masih susah didapat. Sekarang jaga dirinya dengan cara olahraga, minum air putih, dll. Semoga virus covid 19 bisa ditangani, dan hilang deh :((

    1. Betul, Mbak. Aku pun kemarin sempat pakai tisu basah yang digunting hasil nonton tutorial di Youtube. Mau gimana lagi kan, ya? Yang penting kalau bersin nggak kemana-mana dulu.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Yuk, upayakan daya tahan tubuh yang baik dulu aja.

    2. Bener masker penting ya. Walau masker ini disarankan untuk orang sakit. Cuma masalahnya orang-orang sakit ada yang nggak mau pake masker. Antara ga punya atau emang nggak niat. Sebelnya ama orang yang nggak niat. Kan bisa nularin kita. Jadi mau nggak mau harus kita deh yang pakai masker ya

  3. Semoga wabah ini segera berakhir ya mbak. Aku pun suka rada jadi parno kalau udah agak pilek, kuncinya emang waspada ya tapi tetep ga boleh berlebihan. Stay safe yaa kita semua

    1. Setidaknya kita mawas diri menjaga kesehatan dan patuh untuk melakukan distancing ya, Mbak. Aku pun ragu mengenai lockdown karena masyarakat berpenghasilan harian akan paling menderita kerugian. Sudah kah pemerintah kita siap dengan segala sesuatunya?

  4. Virus corona ini emang bikin panik satu dunia ya. Keliatannya kecil tapi banyak yg meninggal. Kita harus lebih jaga imun & mencegah. Semoga sehat terus ya buat kita semua

    1. Andai dapat terlihat dari kejauhan kita bisa lari tunggang langgang ya, Mbak. Tapi faktanya nggak. Makanya, mesti mawas diri aja menjaga imunitas diri. Ikhtiar dulu sebelum pasrah soal takdir hidup kita.

    1. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga senantiasa dalam perlindungan Allah ya, Mbak.

      Alhamdulillah yang masih bisa bekerja dari rumah. Kalau yang harus turun ke jalan itu yang mengkhawatirkan, dan jumlahnya banyak. Menyangkut pendapatan juga kalau mereka nggak bekerja.

    1. Hahaha … Mau nggak mau ada kekhawatiran juga, Ambu. Tapi melakukan tindakan preventif tentunya lebih baik, ya. Masalahnya resiko bukan hanya ditanggung diri sendiri tapi juga orang banyak.

  5. Aku itu lama-lama stres bukan karena virus coronanya mba. Tapi aku stres ama orang-orang yang seenaknya nggak mawas diri, ama orang-orang yang sombong tapi nanti itu, itu orang-orang seperti itulah yang nularin penyakit krana virus corona ke orang-orang. Gemes banget aku mba. Ngomong-ngomong barusan aku liat gambar jamu. Jadi pengen jamu juga aku hihihu

    1. Nah kaaan, bener banget. Makanya aku bilang, mesti mawas diri. Jaga diri sendiri dan lingkungan. Jangan seenak-enaknya begitu, ya. Kan orang lain pastinya beresiko juga untuk dirugikan, huhuhu …

      Ayooo, minum jamu … Di rumahku ada nih setiap hari, hehehe …

    1. Alhamdulillah, Kak … Mawas diri lah. Khawatir kan wajar, ya. Tapi jangan sebatas khawatir tanpa melakukan apa-apa juga, hihihi …

      Kapan-kapan aku ceritain ya cara mainnya.

  6. Ada atau engga ada wabah corona, aku seneeengg banget minum jamu.
    Biasanya sih beli jadi 🙂 Kapan hari ibu mertua saya bikin homemade jamu, from scratch, suegerrrr bgt!
    Semoga semuanya sehaaatt y mbaaa

    1. Jamu tuh bikin segera kan, yaaa? Wah, senangnya ada ibu mertua yang rajin bikin jamu juga. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga yang sehat tetap sehat, yang sakit segera diberikan kesembuhan. Aamiin.

  7. Aamiin… semoga kondisi ini segera usai. Semoga kita semua diberikan kesehatan.
    Saya juga sudah 3 hari ini batuk dan tenggorokan sakit. Tapi tetap nggak tahan buat ciumi anak-anak hehehe….

  8. Sekaranga apa-apa emak jadi parno ya mba. Dulu kalo batuk flu pilek dikit aja santaiiiii. Kalo sekarang serba curiga, serba waswas, jangan-jangan terpapar si corona. Duhduh. Sekarang lebih mawas diri dan lebih mengikuti anjuran kesehatan, minimal rajin cuci tangan dan memperkuat daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi, termasuk minum jamu itu mba.

  9. Bener sih Mbak. Kita nggak boleh panik jika kebetulan daya tahan tubuh sedang down. Tapi alih-alih bersikap jumawa, lebih baik memang mawas diri. Dan konsumsi-konsumsi minuman herbal yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh kita. Mbak Melina emang the best.

  10. Virus Corona ini memang dahsyat sekali ya, Mbak. Makanya saya mau tak mau ikut mawas diri juga. Saya usahakan tidka keluar rumah kalau tidak perlu sekali. Termasuk menjaga asupan makanan.
    Harapannya memang semoga segera berlalu, karena mulai pengaruh ke perekonomian. barang-barang mulai naik juga.

    1. Iya, Mas. Sedih deh, tadi ada perlu keluar rumah dan lihat jalanan sepiii. Terbayang tersendatnya roda perekonomian.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga lekas berlalu.

  11. Wah, antisipasi dan kesadarannya keren tuh. Memang ya virus Corona ini menjadi semacam peringatan bagi kita: jaga kesehatan! Waspada! Jadi orang jangan sombong, kalau sudah sakit bla…bla…bla! Kira2 begitu ya 😉

    Alhamdulillah, ibu saya pun suka bikin jamu macem itu. Saya juga termasuk penyuka jamu. Pahit tapi menyehatkan.

    Semoga kita sehat selalu ya, Mbak. Kalaupun harus sakit, semoga lekas sembuh dna sabar menghadapi karena Insyaallah jadi penggugur dosa.

    1. Semoga jadi kebiasaan baik untuk seterusnya nih, Mbak. Kan biasanya sakit pun masih suka abai. InsyaAllah ada hikmah dari setiap musibah, ya.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin …

  12. Beberapa hari ini, saya juga batuk berat. Udah dua kali ke dokter, tapi rasanya obat yang diberikan hanya memperburuk kondisi batukku. Ya udah, saya hajar aja dengan mengonsumsi rempah2 serta memperbanyak makan sayur dan buah. Alhamdulilah, ini udah baikan. Sebelumnya, sempat horor juga dengan gejala seperti ini.

    1. Setahuku obat batuk kimia memang akan merangsang batuk lebih intens untuk bisa mengeluarkan dahak. Makanya terasanya semakin parah padahal itu proses. Terus terang, obat batuk pun kerap nggak ramah di lambungku ini, Mbak. Jadi rempah-rempat jadi alternatif banget, deh.

  13. Sharing nya bagus sekali kak, yng terutama kita jangan panik dn tetep jaga kesehatan ya mba,Bismillah semoga kita semua dalam Lindungan Allah SWT *aamiin*

  14. Pernah suatu kali, rasa temulawak lebih kuat jadi lumayan pahit. Ini tandanya stok bahan lain habis, yang sisa banyak cuma temulawak, wkwkwk … Astaga ketawa bgt pdhl dr awal udah serius baca. Alhamdulillah sudah sembuh ya mbak. Semoga sehat selalu.

  15. Kami sekeluarga juga sedang flu nih Mbak. Jadi benar-benar memperhatikan setiap gajala yang tampak. Meminimalisir kontak dengan luar juga.
    Nutrisi juga diperhatikan.

    Stay safe stay at home.

  16. Bener Mba, dengan kehadiran virus corona penting diri kita untuk mawas diri. tidak cukup hanya dengan do’a saja tapi juga ikhtiar lahir menghindari kontak dengan sesama dan juga selalu jaga pola hidup sehat.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.