Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Pengalaman Menunaikan Ibadah Umroh Tanpa Mahram

Pengalaman Menunaikan Ibadah Umroh Tanpa Mahram

Tanah suci Mekkah selalu menjadi destinasi impian setiap muslim dan muslimah dalam rangka menggenapkan rukun Islam yang ke-5. Bagi yang masih memiliki keterbatasan, umroh atau haji kecil biasa dilakukan sebelum melakukan ibadah haji. Dari sisi waktu, durasinya lebih pendek. Dari sisi nominal, biaya yang dibutuhkan juga lebih murah.

Jangankan berhaji, mempunyai kesempatan berumroh saja bahagianya pasti luar biasa. Orang-orang bilang, tanah haram selalu dirindukan oleh setiap muslim dan muslimah. Baik yang belum pernah datang atau yang sudah pernah datang, karenanya ingin kembali lagi dan lagi. MasyaAllah …

Tetap melakukan social dan physical distancing dengan tetap #DiRumahAja, nostalgia lagi ah sama perjalanan-perjalanan yang pernah dilalui. Menghibur hati sekaligus doa supaya bisa balik lagi.

Kesempatan Menunaikan Ibadah Umroh

Setelah satu tahun menabung, akhirnya kesempatan menunaikan ibadah umroh itu datang juga. Rencananya, saya akan berangkat satu tahun sebelumnya. Tapi waktu itu galau berat, anak-anak masih kecil banget. Sulung baru berusia lima tahun dan bungsu tiga tahun. Rasanya nggak tega meninggalkan mereka sekecil itu.

Meskipun setiap hari juga menitipkan anak-anak ke eyangnya karena saya bekerja di Jakarta, nggak enak juga kalau total menitipkan anak-anak selama sembilan (9) hari penuh saya jauh dari rumah. 

Waktu itu, saya ingat kalau ibu belum pernah menunaikan ibadah umroh. Beberapa bulan lagi beliau berulangtahun ke-58. Tiba-tiba saya kepikiran buat menghadiahkan paket umroh tersebut buat beliau. Saya pergi tahun depannya aja. Mumpung beliau juga dalam keadaan sehat, kan? Kalau saya bisa berangkat tahun depannya, paling nggak saya bisa lebih tenang menitipkan anak-anak karena beliau sudah pernah kesana. 

 

Ibu tersayang ...

Maka, tahun itu beliau berangkat umroh. Sendirian. Perjalanan pertama kali beliau keluar negeri. Bapak saya nggak mau karena katanya belum siap. Ya sudah …

Setelah berhemat ria, ditekan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah, saya nyaris gagal berangkat. Waktu itu pembayarannya memang dalam USD. Pihak travel umroh berbaik hati memberikan saya kesempatan mengangsur sampai banyak kali. Baru lunas dua minggu sebelum keberangkatan. Duh, banyak-banyak terima kasih sama mereka pokoknya.

Maka, setahun setelah ibu saya menunaikan ibadah umroh, giliran saya pun tiba. Rasanya bahagiaaa banget.

Hari H - Kedatangan yang Terlalu Dini

Kayaknya memang sejak dulu saya ditakdirkan dapat pengalaman menegangkan saat traveling. Begitu juga sewaktu berangkat ke tanah suci ini. Kejadiannya di bandara lagi, bandara lagi. Entah kenapa ya, bandara selalu punya pesona magis yang bikin saya jadi punya banyak cerita. Seperti waktu saya traveling ke Hong Kong lalu terdampar di Soekarno Hatta dan KLIA mulai tengah malam sampai malam keesokan harinya. Belum lagi cerita lain lagi saat salah turun terminal sampai ketinggalan pesawat dan terpaksa tidur di bandara.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Siang itu saya berangkat menuju bandara Soekarno Hatta dengan hati yang sedikit ngedumel. Bayangin aja, pesawat baru terbang pukul 20.00, tapi saya sudah disuruh berangkat dari rumah sejak pukul 10.30. Jarak Bogor-Jakarta memang nggak dekat. Tapi ya nggak sejauh itu juga, hahaha

Penyebab saya berangkat kepagian adalah bapak saya. Beliau yang paksa-paksa berangkat awal. Waktu itu memang berbarengan dengan jelang liburan Natal dan Tahun Baru. Jadi ceritanya beliau khawatir bakalan ada antrian panjang di jalan tol menuju bandara. Saya yang dulu terbiasa menangani pekerjaan expatriates di Indonesia, tahu banget lah kalau mereka bakal ramai-ramai mudik buat merayakan Natal setidaknya dua minggu sebelumnya. Bukan pas mepet Natal seperti tanggal perjalanan saya. 

Saya tiba di bandara pukul 12.30. Suasana sepi pi pi pi. Kebangetan deh sepinya. Saya udah coba banyak gaya, deh. Geret koper kesana kemari, pindah-pindah tempat duduk, ke mushola, balik lagi, eh masih sepi juga. Bagus banget deh dipakai buat foto-foto. Sayangnya waktu itu belum kenal tripod, wkwkwk

Satu persatu calon jemaah tiba ba’da Ashar. Belum pernah kenal sebelumnya sih, tapi kan kelihatan ya dari seragamnya, hihihi … Tim dari travel umroh juga sudah hadir. Ada Tour Leader (TL) juga di sana. Kami melaksanakan sholat Ashar dulu dan bersiap-siap. Kami dikumpulkan untuk diberikan informasi apa-apa saja yang sekiranya diperlukan. Paspor kami juga dibagikan di sana. Saya buka buat cek visa, ada, masukkan lagi ke dalam tas., 

 

Saudara seperjalanan

Rombongan kami kecil aja. Hanya bertiga puluh. Selain saya dan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, semua adalah rombongan keluarga. Ada yang pergi bersama keluarga inti aja, ada juga yang mengajak keluarga adik atau kakaknya. Ada keluarga dokter dari Jawa Timur, mereka berlima. Ada keluarga dosen dan psikolog dari Jakarta, mereka berempat. Ada keluarga pengacara dari Jakarta, mereka berempat. Ada dua keluarga kakak beradik dari Jakarta, mereka bertujuh. Ada dua keluarga kakak beradik dari Sulawesi, mereka bersembilan. Sisanya saya nggak hapal karena ngobrolnya sama sebagian aja.

Belum merasa nyaman karena agak susah masuk ke obrolan yang di dalamnya adalah keluarga, jadilah saya ngacir duluan. Sampai ke check in counter pun duluan. Di sinilah drama itu dimulai. Jreng jreng jreng …

Begini Rasanya Berangkat Umroh Sendirian

Suasana sepi. Nggak ada antrian panjang, yippi! Rombongan satu grup kami pun masih di belakang. Asyik, dapat giliran pertama, pikir saya. Paspor saya keluarkan dari tas, menyodorkannya ke petugas. Sebentar kemudian, petugas melemparkan pertanyaan.

“Mahramnya mana?”

“Saya berangkat sendirian,” jawab saya dengan penuh rasa percaya diri.

“Sendirian?” Petugas itu seperti meyakinkan diri. Saya udah GR duluan nih. Saya kita dia takjub saya berani berangkat sendirian. 

“Iya. Sendirian.” Mantap banget jawaban saya.

“Tapi Mbak nggak boleh berangkat umroh sendirian.”

Rasa-rasanya saya mau tepok jidat saat itu. Kenapa nggak boleh? Kan udah bayar. 

“Oh, saya berangkat dengan travel umroh. Tapi saya sendirian. Tanpa mahram.”

Harapan saya, petugas mengerti apa yang saya maksud.

“Coba tolong panggilkan orang ini.”

Petugas itu membalik paspor dengan halaman visa ke arah saya. Jarinya menunjuk ke sebuah nama yang tertera di sana. Bola mata saya langsung membulat. Lho, siapa ini? Kok ada nama orang lain di paspor saya? Pikiran saya langsung berlarian kemana-mana. Jangan-jangan Kedutaan salah kasih stiker visa?

“Saya nggak kenal orang ini. Kok bisa ada di visa saya, ya?” 

Melihat saya yang mulai bingung, dia meminta saya memanggilkan Tour Leader (TL) ke check in counter. Celingukan deh kesana kemari mencari mas-mas TL tadi. Mana saya lupa pula sama wajahnya. 

 

Saya dan Mbak Nadia, istrinya Bapak X.

Akhirnya, setelah tanya sana-sini, ketemu juga mas-mas yang masih muda banget itu. Dia berbicara dengan petugas. Lumayan lama. Saya nggak bisa nguping dengan jelas. Sempat cemas sih, jangan-jangan disuruh pulang lagi. Pembicaraan antara TL dan petugas selesai. TL itu kayaknya tengah mencari seseorang. Wajahnya berubah cerah lalu meninggalkan saya di counter. Kembali lagi, dengan seorang laki-laki. Saya nggak kenal orang itu. Dalam hati sih mikir keras. “Urusan saya belum selesai, kok malah bawa calon jemaah lain buat check in? Kan tadi saya duluan yang sampai sini.”

“Ini Pak X, mahramnya Mbak Melina,” katanya kepada petugas. Nah loh, gimana ceritanya? Saudara bukan, kenal aja nggak. Ini apa maksudnya, sih?

Petugas itu meminta konfirmasi dari saya. Karena bingung, ya saya menoleh ke mas-mas TL.

“Iya betul kan ya, Bapak ini mahramnya Mbak Melina? Betul ya, Mbak?”

Mas-mas TL itu menoleh ke saya dan Bapak X tadi bergantian. Saya bingung, Bapak X bingung, tapi kami berdua main angguk-angguk kepala aja. 

Lalu proses check in pun selesai. Boarding pass sudah di tangan. Masih penasaran, saya kejar mas-mas TL tadi buat tanya maksudnya apa. Ternyata pemerintah Arab Saudi memang mewajibkan calon jemaah wanita di bawah usia 45 tahun menunaikan ibadah umroh bersama mahram. Kalau nggak ada, maka ada biaya khusus untuk mahram. Jadi, pihak travel umroh menggunakan nama calon jemaah lain untuk dijadikan mahram – sebatas pencantuman nama sebagai mahram di visa.

Saya ingat sih, memang di rincian harga untuk paket umroh, ada biaya mahram untuk calon jemaah wanita usia di bawah 45 tahun yang bepergian tanpa mahram. Rupanya, itu biaya untuk pencantuman nama mahram di stiker visa. Itu sebabnya, ada nama Bapak X di dalam visa saya sebagai mahram. 

Mendengar penjelasan mas-mas TL itu, saya ber’o’ panjang. Tapi kemudian saya protes kecil ke TL itu. Coba ya, kami berdua tuh diberikan briefing dulu agar lancar berbicara di hadapan petugas. Soalnya Bapak X tadi juga kelihatannya nggak tahu apa-apa. Makanya wajah kami berdua sama bengongnya. 

“Dijelasin dari awal dong, Mas. Jadi kan saya bisa akting di depan petugas. Nggak pasang muka bego kayak tadi.”

Lalu saya pun minta ijin ke keluarga tersebut supaya saya tetap bareng-bareng sama mereka saat nanti tiba di Jeddah. Di negara sendiri aja mahram saya diminta nongol di check in counter. Bisa jadi dong di negara tujuan bakal ditanya juga. Kan ngeri kalau kenapa-kenapa di negara orang. Lagian nggak boleh jauhan lah, kan saudaraan, wkwkwk ..

Catatan untuk Calon Jemaah Perempuan Tanpa Mahram

Saya nggak tahu apakah ketentuan untuk calon jemaah umroh tanpa mahram masih seperti itu atau sudah ada perubahan. Di tahun 2019 lalu, saya pernah membaca sebuah artikel bahwa pemerintah Arab Saudi tengah mempertimbangkan penghapusan aturan wajib didampingi mahram bagi calon jemaah wanita di bawah usia 45 tahun. Pengesahannya belum pernah saya temukan, sih. Kalau sudah fix disahkan, silakan abaikan tulisan di bawah ini. Tulisan di atas, anggap aja saya berbagi pengalaman sekaligus curahan kerinduan kembali ke tanah suci.

Andai masih sama, pengalaman dari saya mungkin bisa dijadikan catatan ya, teman-teman.

Tanyakan ke pihak travel umroh mengenai implementasi dari biaya mahram yang timbul. Jadi jangan main iya-iya aja seperti saya dulu. Saya nggak sebutkan nama travel umrohnya ya karena pada dasarnya pelayanan mereka bagus. TL aja yang mungkin terlupa menjelaskan ke saya. Apalagi waktu itu saya ngacir duluan

Cek paspor, tanyakan nama mahram kepada TL termasuk apa yang mungkin terjadi di check in counter. Waktu itu, paspor kami dibagikan di bandara. Saya hanya cek visanya sekilas. Jadi memang terkejut sewaktu ada nama orang lain muncul di sana. Jangan lupa, nanti nama ‘mahram’ ini dicek juga, ya.

Tanyakan juga ke TL, adakah hal penting lain yang harus diperhatikan terkait ‘mahram’ ini setibanya di Arab Saudi. Waktu itu saya nggak ditanya apapun pleh petugas terkait mahram setibanya di Imigrasi Jeddah. Tapi who knows, kan?

Meskipun awal perjalanan sudah diwarnai ketegangan, Alhamdulillah perjalanan kami lancar. Mbak Nadia, istri Bapak x itu, malah akhirnya jadi salah satu teman saya saat pergi kemana-mana. Bapak X itu seorang dokter dan Mbak Nadia seorang bidan. 

 

Udara dingin dan angin yang bertiup kencang dari Jeddah sampai Madinah

Beliau yang bolak-balik ke kamar saya untuk membawakan obat sekaligus melakukan tato koin alias kerokan (wkwkwk …) setibanya kami di Madinah. Kedatangan kami di Jeddah memang disambut udara dingin dan angin yang lumayan kencang. Suhu mencapai 9-11 derajat waktu itu sedangkan mantel saya ada di koper. Pantesan masuk angin ya, wkwkwk

Buat saya, menunaikan ibadah umroh sendirian itu rasanya beda dengan jalan-jalan sendirian. Saat umroh, pikiran kita ya fokus untuk ibadah, maka sendirian pun nggak masalah. Tapi kalau jalan-jalan, kita kan bersenang-senang ya, nggak enak banget kalau sendirian. Kepikiran, saya senang-senang, makan enak, pergi ke tempat bagus, lalu anak-anak di rumah lagi pada ngapain, ya?

Maka, tentunya saya juga kepengen dong bisa menunaikan ibadah bareng keluarga juga. Semoga nantinya diberikan keluasan rezeki lagi agar bisa kembali ke tanah suci bersama-sama dengan keluarga. Bareng kedua orangtua, anak-anak, kakak-adik, para keponakan, seperti rombongan keluarga yang bareng di grup saya waktu itu. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

 

Salam,

Melina Sekarsari

104 comments found

  1. Seru pengalamannya ya kak Me. Btw, aku udah pernah tau soal mahram ini. Tapi lucu juga kalo si TL gak ngasih tau.. jadinya kan ada awkward moment gitu pas di depan petugas. Syukurnya aman damai sentosa ya kak.
    Doakan lah daku bisa nyusul melihat Kakbah ya kak.

  2. Lha, deg-degan bener pastinya, udah tinggal berangkat ini. Dalam bayanganku mahramnya tuh dari pihak biro lho. Misal ya TL atau pembimbing umrohnya. Ternyata orang yang tak dikenal. Weh, perlu banget dicatet buat yang berangkat sendiri.

  3. Waah mba Melina aku baru kalau ibadah umroh itu harus ada mahramnya, kirain boleh aja karena udah sama travel umroh gitu. Makasih ya mbak infonya, doakan juga ya saya bisa segera berkunjung ke tanah suci. Ingin sekali

    1. Khusus perempuan memang begitu, Teh. Mungkin sama seperti anjuran bahwa perempuan nggak boleh bepergian jauh sendirian. InsyaAllah Teh Sintha nggak berangkat sendirian nanti, ya. Bakal bareng keluarga juga. Aamiin.

  4. Seru membaca pengalaman ini saya juga lagi mengumpulkan banyak referensi tentang haji dan tentang Mekah dan sekitarnya saya sangat ingin bisa pergi ke sana bersama dengan suami dan anak-anak

    1. Iya, mengumpulkan informasi dan menabung dulu ya, Mbak. InsyaAllah, setiap muslim dan muslimah dimudahkan Allah datang ke tanah suci. Mbak Milda semoga bisa kesana bareng keluarga ya … Aamiin.

  5. Wuah dramanya ada aja ya mba, eh tapi aku baru tau lho. Yg berangkat umroh di bawah 45 harus dengan mahrom. Itu bisa siapapun kan ya ? Misalnya ibu/saudari lainnya ?
    Alhamdulillah sudah pernah menjejak di tanah Nabi. Saya pun berharap suatu hari nanti kan dapati kesempatan itu

  6. seru banget mbak Mel pengalamannya, lucu juga pas diperiksa tentang Mahwam itu, hehehe. Tapi mbak Mel keren juga ya berani berangkat sendiri kalau saya udah gemeteran tuh karena emang jarang sekali bepergian jauh sendirian. Beda dengan mbak Mel yang udah melalang buana seluruh Indonesia ya

    1. Waktu kejadian sih serem, Mbak. Saya takut disuruh balik kanan, angkat koper, dan pulang, wkwkwk … Tapi kalau diinget-inget lucu juga. Ya Allah, perginya cuma kesitu-situ lagi, Mbak. Ke Malang aja belum, hahaha … Aamiin Ya Allah, bisa keliling Indonesia.

  7. iya bener mba mel emang agak ribet kalo gak ada mahram meski sebenarnya boleh aja umroh tanpa mahram hehe, soalnya dulu ada yang begitu juga lama di check ini boarding karena masalah ini. tapi Alhamdulillah bisa juga keluar setelah panjang sekali urusannya haha. Masyaallah semoga setelah ini bisa berangkat haji ya mba. jadi kangen mekkah madinnah hihi.

    1. Dulu aku tahunya bisa aja. Kan sudah diurus sama travel umroh dengan biaya itu. Eh, ternyata nama mahram itu nempel ya di visa, hahaha … Jadi gimana gitu. Kenal aja nggak.

      Mekkah Madinah memang selalu bikin rindu ya, Mbak Steff. Semoga bisa kesana lagi, Ya Allah. Aamiin.

  8. Jadi pergi umroh harus bermahram ya mbak? Setahuku kemarin mertua perempuanku gak papa. Karena beliau dapat kesempatan umroh hadiah dari bupati. Nah, kalau naik haji memang sama bapak mertua.

  9. Harusnya memang sejak awal dijelaskan ya, Mbak. bahkan saat menambahan uang Mahram itu. Jadi Mbak Melina sudah paham, dan memang bisa pasang akting ke petugas hehehe.
    Tapi itulah pengalaman, Mbak. Setiap perjalanan, pasti ada ceritanya.

    1. Betul, Mas. Waktu itu saya pun tenang banget main iya-iya aja. Nah, penting kan ya bisa pasang akting dulu. Jadi wajahnya nggak polos-polos amat, hahaha …

  10. Aku bacanya pun ikut deg-degan.
    Karena mahram ini wajib hukumnya jika safar, kemanapun…
    Semoga bisa segera umrah kembali bersama keluarga yaa, kak…

    Barakallahu fiik~

  11. Salah satu keuntungannya berangkat umroh usia diatas 46 tahun adalah tak perlu repot cari mahram, dan saya alamin banget itu. Lah sudah setengah abad juga hihihi

  12. Kebetulan saya ikutan di beberapa group umroh mandiri, meski belum pernah ikut umroh. Di sana memang senantiasa dijelaskan kalau calon jamaah umroh yang berumur di bawah 45 tahun dan gak ada mahromnya akan dikenakan biaya tambahan. Nah, pihak travelnya mungkin lupa ngejelasinnya karena gak ditanya. Kan, ada tuh sebagian orang yg gak ngasih info kalau gak ditanya, padahal kita mana tahu ada yang beginian.

    Alhamdulillah, mba udah menjalankan ibadah umroh. Jadi kepengen juga…

  13. Kayaknya pemberlakuan setiap jamaah harus ada mahromnya, masih berlaku, deh!
    Soalnya keluarga saya kemarin juga punya niat berangkat, terus waktu ibu mertua adik mau ikut, kami ditanyakan soal mahrom-nya.

  14. Wah jadi smakin gede nih keinginanku buat ke tanah suci. Apalgi hbs baca kisah mb Melina. Bismillah…smg disegerakan ya…

  15. MasyAllah mba hebat ikh udah ada niat buat umroh dan udah bisa berumroh. Doakan semoga aku dan suami bisa segera menyusul ya. Amin. Untuk sementara ini kami baru berencana nabung buat haji. Doakan semoga dimudahkan ya

  16. Wah, seru juga ya umroh sendirian. Jadi leluasa untuk beribadah. Aku kalau mau umroh pasti rempong, euy. Ada bayi soalnya. Hahaha. Tunggu gedean dikit, ah. Biar bisa ibadah dengan tenang.

  17. Membaca artikel Mbak Melina ini saya jd merenung, kebijakan pemerintah Arab Saudi itu memang perlu dikaji ulang, mewajibkan perempuan di bawah usia 45 tahun didampingi mahramnya. Kl ga ada nah tuh bs pinjem mahram orang lain kan. Anyway, saya terkesan ama mulianya Mbak Melina mendahulukan ibunya dulu yg berangkat duluan, Masyaallah tabarakallah ^^

    1. Sebenarnya ini sejalan dengan perintah agar perempuan nggak melakukan perjalanan lebih dari 1×24 jam sendirian. Cuma karena keadaan, aku sering banget sih pergi kemana-mana sendirian. Alhamdulillah, saat ini diringankan Allah, Mbak. Berusaha dan berdoa aja aku mah.

  18. Semoga saya dan keluarga juga diberi kesempatan untuk bisa pergi umroh bersama.
    rezeki sehat, rezeki financial, berangkatttttt
    Aaamin ya Allah..

  19. Iya ya. Kalau wanita sendirian ingin umroh memang perlu mahromnya. Sepertinya, ini ada missed di Travelnya yang tidak kasih kabar atau brief. Tapi jadi cerita seru malah.

    1. Sebenarnya nggak ribet sih, Mbak. Hanya saja perlu diberi penjelasan di awal gitu biar bisa menyesuaikan dengan kondisi dan nggak bengong plus bingung, hihihi … Semoga nantinya dimudahkan datang ke tanah suci bersama keluarga ya, Mbak …

  20. Seru banget nih mbak pengalamannya. Semoga ada rezeki bisa umroh bareng keluarga. Saya juga berencana buat umroh bareng istri, tapi nabung dulu. Insyaa Allah tahun 2021 bisa terwujud.

    Pas ibuku umroh tahun 2018 gak perlu mahrom ternyata umurnya di atas 45 tahun…

  21. KEnapa nggak dijelasin dulu sama Mas TL ya. Wkwkwk. Maaf saya geli membaca adegan sama-sama bengong itu/ Saudaraan kok gak kenal. Piye toh.
    Alhamdulilah umrohnya lancar ya Mbak.

  22. Kayaknya aku bakal sendiria juga nih tahun depan. Insya Allah corona udh beres ya, aminnn. Pengalamannya memorable banget ya mbak Mel , aku juga baru ngerti nih soal wajib ada mahram hihihi

  23. Sebelumnya mau ngasih selamat dulu ke kak Me,
    Barakallah ya kak, semoga umroh nya mabrur.
    Jadi auto enceeeeesss pengen bisa ke Haramain deh aq nya.
    Anyway itu mahrom pengganti nya udah berkeluarga belum kak?

    Hehehe, siapa tau jodoh

  24. sepertinya pengalaman mbak Melina bisa nih saya simpan dan sy share karena banyk tmn2 single yg ingin pergi umroh tapi mereka terkendala mahram ternyata bisa dibantu ya di agen travelnya.. mksh sharingnya mbak

    1. Bisa, Kak. Di setiap travel selalu ada catatan kok tertera biaya mahram. Ini ditagihkan ke calon jemaah perempuan usia 45 tahun yang berangkat tanpa mahram. Sama-sama, yaaa …

  25. Hihihi dramanya ya ampun. Tapi seru ya.
    “Dijelasin dari awal dong, Mas. Jadi kan saya bisa akting di depan petugas. Nggak pasang muka bego kayak tadi.” ….. mau tanya si Mas TL gimana ekspresinya waktu Mbak Melina bilang begitu? 😀

  26. Semoga bisa ke sana lagi ya, mba bersama keluarga juga, aamiin yang kenceng. Biar saya juga begitu ?. Semoga 15 tahun lagi insyaAllah bisa berangkat bersama keluarga, aamiin.

  27. Aduh, ngiriiii……
    Saya udah nabung, tapi kok ya kepake lagi kepake lagi hiks
    Eniwei jadi tahu darimana kecantikan mbak Melina
    Salam takzim untuk ibunda ya

    1. MasyaAllah … Ambu rajin nabungnya. InsyaAllah, kalau udah waktunya datang akan Allah mudahkan ya, Ambu … Aamiin.

      Makasih, Ambu. Ibuku cantik banget. Aku mah dapat nol koma sekian persennya aja, wkwkwk …

  28. Ikut deg-degan baca cerita tentang mahram ini, iya lah pasti bingung karena nggak kenal dengan nama yang ditulis ya. Saya juga pengen balik ke tanah haram, rencana akhir tahun ini semoga jadi. Udah kangen setelah haji tahun 2014 dulu, kepengen ngajak anak-anak

    1. Betuuul … Bingung, wkwkwk …

      MasyaAllah, semoga keadaan sudah kembali normal ya. Setiap yang pernah kesana pasti rindu ingin kembali lagi ya, Mbak …

  29. Kebayang mbak bingung banget ya pas ditanya mahram…hihi. BTW, saya juga berangkat sebelum Dhuhur ke bandara meskipun pesawat kami berangkatnya malam. Karena ramai-ramai sama keluarga di Jakarta plus dari Malang, jadinya nggak berasa. Sengaja pada berangkat lebih cepat biar lebih tenang sambil leyeh-leyeh di hotel ramai-ramai 😀

    1. MasyaAllah … Senangnya ya bisa rame-rame bareng keluarga, Mbak. Lah, saya mah ba’da Dzuhur udah di bandara, coba. Mana sendirian pula. Makanya bingung mau ngapain di sana, hahaha ..

  30. *ketawa dulu ah* Aku pas mau berangkat umroh kemarin, nanya ke travel dong soal mahram ini. Tapi malah dijawab, “Sekarang udah lebih longgar kok. Tenang aja.” Sampe bolak-balik mastiin nih Mel. Soalnya males aja kalo kejadiannya kayak kamu gitu 😀

    1. Monggo … Sini aku temenin, wkwkwk …

      Semoga sudah lebih longgar ya, Mbak. Andai masih sama, lebih baik kalau kita diberi penjelasan lengkap dulu supaya nggak terjadi adegan bengong sepertiku, hihihi …

  31. Masyaallah pengalaman berkesan dan pasti diimget terus,ya. Baru tahu saya kalau usia 45 tahun ke bawah harus dengan mahramnya. Saya sih pengennya bareng suami malah kalau sendiri belum berani meski ada travel juga, hehe … Saya enggak bisa berangkat sendiri kalau jauh soalnya. Kalau masih di Bandung, sih, it’s oke tinggal naik motor aja ke mana-mana. meski g ada yang nemenin. Makasih sharingnya Mbak Melina.

    1. Aamiin. Semoga dimudahkan datang ke tanah suci bersama suami ya, Mbak. Tentunya lebih nyaman kalau begini. Hihihi … Aku biasa kemana-mana sendirian soale.

  32. Saya belum pernah umrah mbak dan baru tau juga soal kewajiban mahram untuk perempuan di bawah usia itu.
    Tapi ya perjalanan mbak sering mendebarkan gitu ya.. hehe

  33. Kalau sendirian pasti merasakan sepi ya mbak, tapi alhamdulillah bisa berangkat umroh, saya blm pernah. Smg suatu saat bisa berangkat juga bareng suami. Aamiin

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.