Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
School from Home Terasa Sulit; Kenapa?

School from Home Terasa Sulit; Kenapa?

COVID-10 outbreak di awal Maret lalu masih seperti mimpi buat saya. Ini beneran? Kaki berulangkali dijejakkan ke lantai, cubit-cubit pipi, jewer-jewer telinga, hasilnya sama. Ini nyata! Mungkin kalau saya ikutan jedutin kepala bakal makin terasa nyata. Halah, benjol deh yang ada.

Tapi saat anak-anak harus bersekolah dari rumah, buat saya sih nggak apa-apa. Diterima saja karena memang kondisinya lebih aman seperti itu. Sebagai ibu, mendampingi anak-anak belajar adalah tugas yang tak terelakkan. Toh, saya punya pengalaman mengajar juga. Apalagi, guru-guru di sekolah pasti juga sudah menyiapkan materi untuk disampaikan kepada orangtua. Apa susahnya? #SombongModeOn

Itu di pekan pertama, sih. Pekan berikutnya saya mulai ngoceh sama diri sendiri, “Mateng deh gue!”

Ada yang sama?

School from Home Bikin Orangtua Sakit Kepala

Yakin deh, saya bukan satu-satunya orangtua yang sakit kepala menghadapi momen school from home ini. Mau di group ibu-ibu, alumni jaman sekolah, alumni jaman kuliah, sampai berbaris-baris kalimat di media sosial, mengeluhkan hal yang sama. Repot banget deh menghadapi school from home ini!

Padahal awalnya saya justru lebih mengkhawatirkan nasib pekerjaan di kondisi ini dibandingkan sekolahnya anak-anak. Duh, gimana nih sama kerjaan? Sebagai orangtua tunggal, kondisi ekonomi yang goyah begini rasanya lebih menyita pikiran, kan?

Entah berapa ratus kali saya membaca bahwa ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya. Lantas, kok bisa ya ‘sebuah sekolah’ malah mengeluhkan peserta didiknya sendiri?

Jadi, sebenarnya ‘sekolah’ yang salah atau gimana, sih? Lah, kalau ‘sekolah’ yang salah, saya salah dong. Kan saya ibunya anak-anak. 

Tantangan yang Dihadapi dari School from Home

Saya pernah punya pengalaman mengajar meskipun sebentar banget. Sekitar empat tahun saja. Tapi cukup bisa merasakan bagaimana sih tantangan menjadi guru. Segitu saya nggak menjadi guru di sekolah formal, tapi di lembaga bahasa. Jumlah murid dalam satu kelas jelas lebih sedikit dibandingkan di sekolah. Paling banyak 10 orang saja.

Perbedaan rentang usia siswa pun bisa jadi beda tantangannya. Dulu, saya pernah mengajar anak-anak usia 6-17 tahun. Kalau ditanya mana yang lebih menyenangkan, semua sama. Tapi kalau ditanya mana yang paling nyaman, menurut saya sih di rentang usia 9-11 tahun. Ini fase saat bermanja-manja sudah usai dan fase suka semaunya ala remaja belum tiba. 

Mungkin ini sebabnya, buat saya mengajar sulung di rumah jauh lebih mudah dibandingkan bungsu. Tapi senyaman-nyamannya, kok saya tetap kewalahan, ya? Pekan ke-1 santai, pekan ke-2 dan ke-3 oleng, pekan ke-4 mulai berpikir keras mengatur strategi, pekan ke-5 strategi macam-macam gagal terus. Ini akibat dari #SombongModeOn di awal. Rasain deh, ya.

Langkah terbaik adalah berhenti dulu, tarik napas, embuskan perlahan, lalu mulai berpikir. Why does the sun go on shining? Eh, why school from home feels really hard?

Itu bacanya sambil nyanyi lho, ya. Tahu nggak iramanya? Lagu jadul gitu sih, wkwkwk …

Transfer Ilmu, bukan Hanya Menyuruh Baca Buku

Orang pintar di dunia ini tuh banyak banget. Kalau mau kembali ke masa-masa sekolah dulu, pernah nggak ketemu teman yang pintar tapi pelit ilmu? 

Coba diingat-ingat lagi, bisa jadi loh mereka itu pintar tapi nggak menguasai jurus mentransfer ilmu. Kepalanya banyak isinya, tapi bingung cara menyampaikannya ke kita. Jadi bukannya pelit, ya. Memang sih ada yang betulan pelit juga. Dulu saya juga pelit banget. Tapi kalau ujian. Yakali saya belajar sampai tengah malam terus orang lempar kertas minta jawaban saya iyain gitu aja? 

Menjadi guru itu harus bisa mentransfer ilmu. Kalau sebatas menyuruh peserta didik membaca buku lalu mengerjakan tugas, ya bukan guru namanya. Pernah sih punya guru seperti ini. Nyebelin banget rasanya. 

Di sinilah salah satu tantangannya. Para orangtua di rumah bisa jadi paham materinya, tapi nggak paham cara mentransfer ilmunya. Makanya kelimpungan. Anyone agree wants to raise your hand?

Pertanyaan buat saya, “Masih inget nggak gimana cara mentransfer ilmu ini?”

 

Materi yang Susul-Menyusul

Gimana sih enaknya persiapan mengajari anak itu? Boleh dong saya minta ada satu buku panduan yang bisa saya baca dari awal sampai akhir dulu, lalu bisa saya atur sendiri mau menyampaikan materi yang mana dulu. Kadang saya begitu sih kalau belajar. Bagian mudah dikerjakan duluan.

Hei, bukankah dalam bekerja kita juga punya to do list dan mengerjakan mulai dari yang termudah?

Tapi kan kondisinya nggak begitu. Sehari-hari juga memang nggak pakai buku. Jadi soal keinginan diri sendiri ini dicoret aja, ya.

 

Di awal, materi memang diberikan sedikit demi sedikit. Wajar sih karena semuanya serba mendadak. Butuh adaptasi bagi guru-guru untuk mempertimbangkan mekanisme penyampaian materi yang paling tepat kepada orangtua.

Saya sempat kelimpungan juga. Duh, bisa nggak sih materinya diberikan sekalian aja?

Materi yang susul menyusul sebenarnya tetap bisa diakali, kok. Toh, guru-guru di sekolah juga sudah mengaturnya dalam folder terpisah, sesuai pekan kesekian. Di dalam folder mingguan tersebut dibagi lagi sesuai tanggalnya. 

Perangkat yang Dibutuhkan

Orangtua mungkin sangat akrab dengan gadget, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pekerjaan. Bisa jadi, ada orangtua yang menyediakan perangkat belajar berupa Personal Computer (PC) atau laptop di dalam rumah. Tapi nggak semua, kan?

 

Ini adalah salah satu tantangan juga. Termasuk saya yang ikutan kelimpungan karena laptop dan gawai selalu aktif saya gunakan untuk bekerja dari pagi sampai sore. Bukan hanya itu, malam dan dini hari pun saya pakai juga. Itu gadget atau perasaan sih ya kok dibawa-bawa terus? Wkwkwk

Lantas, kapan dong anak-anak belajarnya? Garuk tembok, garuk kepala, lama-lama garuk jerawat juga, nih. 

Orangtua Belum Melek Teknologi

Terbiasa dengan sistem belajar konvensional, bisa jadi orangtua belum melek teknologi digital. Kalau bukan orang-orang yang sehari-harinya memanfaatkan teknologi digital ini, mungkin merasa nggak perlu juga bersentuhan, kan?

Saat tiba-tiba harus berubah karena kondisi wabah, mau nggak mau setiap orang harus bergerak untuk menyesuaikan. Membiasakan diri dengan file management, membuat photo collage, merekam dan mengedit video, demi mengumpulkan tugas anak-anak harus dipelajari. Butuh waktu? Tentu. 

Makanya, telat-telat mengumpulkan tugas masih wajar lah. Eh, ini sih saya yang tengah mencari pembenaran.

Tapi urusan digital saya mudeng, kok. Namanya juga suka ngeksis di media sosial, wkwkwk

 

Orangtua Punya Tugas Lain di Rumah

Apa sih yang biasa orangtua lakukan saat anak-anak berada di sekolah? Ada yang sibuk memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyetrika, mengurus tanaman, sebagian melakukannya sambil menangani bisnis dari rumah. Bagi ibu bekerja, tentu waktu-waktu tersebut digunakan untuk fokus pada pekerjaan.

Lantas, ketika tiba-tiba harus menjadi guru dadakan di tengah kesibukan pekerjaan, siapa yang nggak sakit kepala? Siapapun tahu, tugas ibu rumah tangga itu nyaris tanpa jeda. Suatu hal yang wajar jika tiba-tiba banyak yang mengeluh kelelahan atau kerepotan. 

Begitu juga dengan ibu bekerja. Ngantor dari rumah itu nggak mudah, lho. Rumah didesain sebagai tempat beristirahat, terlepas dari rutinitas di kantor, dan bercengkrama bersama keluarga. Maka, ketika harus ngantor dari rumah, motivasi bisa saja turun. Eh, ditambah lagi na-ni-nu harus jadi guru ala-ala.

Dan ini saya banget. Saya kan harus kerja, cari uang. Gimana ceritanya tumpuk-tumpukan harus ngantor sekaligus jadi guru dadakan?

Komunikasi Antara Orangtua dan Guru yang Tersendat

Dalam hubungan apapun, menjalin komunikasi yang harmonis itu penting. Persoalan rumit bisa menjadi lebih mudah jika dikomunikasikan. Urusan school from home apakah rumit juga? Iya, dong.

Makanya, masih terkait dengan keluhan orangtua pada poin sebelumnya, keluhan disampaikan ke ranah yang tepat atau nggak? Hayo, pilih curhat ke sesama orangtua di grup, media sosial, atau langsung diskusi ke guru saja?

Orangtua juga harus menyesuaikan. Curhatnya jangan kepanjangan. Dikira guru nggak punya aktivitas lain? Guru pun begitu. Nggak boleh pelit menjawab pertanyaan. Dikira orangtua lega dengan jawaban ‘ya’ atau ‘nggak’ aja? 

Kalau saya, gimana? Sebagai makhluk doyan curhat dalam bentuk tulisan, cukup lah saya curhat panjang di rumah sendiri ini, hihihi … 

Komunikasi saya sama guru-guru sih baik-baik aja. Iyalah, soalnya jarang banget berkomunikasi. Saya sibuk sama pekerjaan. Paling Ibu guru yang tang-ting-tung tanya kabar anak-anak lalu mengingatkan tugas yang belum dikumpulkan. Parah deh saya, nih.

Bergulat dengan Sulitnya School from Home; Sampai Kapan?

Siapapun berharap kondisi ini segera usai. Semuanya kembali normal secepatnya. Tapi saya juga harus realistis bahwa kondisi mungkin masih akan berlangsung lama. Kecuali kalau Yang Maha Kuasa memberikan keajaiban, ya. Ini lain cerita.

Maka, yang bisa dilakukan saat ini adalah terus bergerak menyesuaikan. School from home mungkin di awal terasa sulit, tapi seiring berjalannya waktu, kita pasti akan terbiasa. Bukankah kita selalu butuh waktu untuk beradaptasi pada setiap perubahan?

Semester dua sebentar lagi usai. Lagi-lagi, saya mencoba realistis. Bisa jadi tahun ajaran baru pun anak-anak masih akan bersekolah dari rumah. Meskipun semoga saja nggak. Jika ya, sekarang bukan saatnya lagi membuat daftar alasan mengapa school from home terasa sulit. Toh, daftar ini saya buat dalam rangka berpikir untuk menentukan strategi. Saya kok lebih suka menyebut tantangan school from home dibandingkan kesulitan school from home, ya?

 Jadi, para orangtua sudah harus menjawab tantangan agar school from home tetap menyenangkan. Bagi anak-anak maupun orangtua. Ya iyalah, masa yang senang cuma sebelahnya. Jomplang, dong!

Saya cerita lagi nanti, ya. Tentang gimana anak-anak sekolah dari rumah macam karyawan pabrik yang pakai shift-shiftan, huehehe … Loh kan yang penting kegiatan belajar tertunaikan. Segini anak hanya dua, gimana yang anaknya lima? Gustiii …

 

Salam,

Melina Sekarsari

19 comments found

  1. Iya, kawan saya yg sebelumnya pengen di rumah didik anak anak, sekarang kebalik, ampun pengen kerja di kantor, soalnya makin riweh haha

  2. Bener-bener rempong ya mba aku ngebayanginnya anak-anak sekolah di rumah dan kita juga belum tentu bisa menguasai semua materi. Belum lagi tugas-tugas sekolahnya dan faktor-faktor yang disebutin di atas. Makin rempong ya ?. Soalnya aku banyak baca curhatan ibu-ibu di medsos kalau mereka stres anak-anak sekolah di rumah ya. Emang nggak mudah ya dan perlu adaptasi. Semangattt mba say ?

    1. Materinya sebenarnya mudah sih, Mbak. Kita perlu baca-baca dulu aja sebelum ngajarin. Biar nggak gagap, wkwkwk …

      Kalau pada curhat sih wajar. Namanya juga mendadak, hihihi … Asal jangan berkepanjangan aja, yaa.

  3. Akhirnya pandemi ini lagi-lagi mengajarkan kita untuk selalu beradaptasi ya mba.. btw, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya, kalau ga keliru ‘hanya’ pepatah Arab. Tugas sebagai guru ga bisa dibebankan pada satu pihak aja.

  4. Nah, tuh. Kadang saya heran gimana belau-beliau yang anaknya lebih banyak dari saya malah bisa memanage shcool from home anak-anak mereka dengan lebih baik. PR banget sih, buat saya, huhu…

    1. Iyaaa … Tapi katanya sih ya, semakin banyak anak, stok kesabaran tuh semakin besar. Pengalaman dari teman-teman yang punya anak banyak begitu, hihihi …

  5. Anaknya dua aja penuh tantangan ya Mbak Mel..apalagi kalau lebih ya. hiks!
    Hikmahnya, orangtua jadi belajar lagi. Dan kembali ke fitrah…jadi madrasah utama putra-putri tercinta…Eaaa. Semnagat kita ya!!

  6. Setelah school from home libur Ramadan, berganti dg sibuk submit pengingat ibadah anak² ke Google Form, Mbak Melina, hehe… Remvong deh emak² mendampingi anak² ibadah trus abis itu entry laporannya ke guru.

  7. Saya kerap baca tulisannya kang Hasan, sosok ini sangat keren (beliau nulis di kolom detik)

    dia berprinsip bhw guru hanya dapat titipan, orang tua lebih berperan penting, karena itu setiap harinya dia menyisihkan waktu untuk belajar bareng anak anaknya

    1. Nah, ini betul banget, Ambu.

      Mungkin karena biasanya pada hari-hari biasa, kegiatan belajar ada di sekolah lalu tiba-tiba berpindah ke rumah, membuat para orangtua terkejut.

  8. Aku berharap pandemi ini berakhir mbak. Jadi kita kembali ke rutinitas awal seperti biasa. Dulu, kita mikir melek teknologi bakal memudahkan semua ya. Nyatanya sekarang dituntut untuk melek digital, kita rempong. Mungkin sebenarnya bukan nggak sanggup. Belum terbiasa aja kali ya

    1. Iya, Mbak. Dasarnya jam-jam segitu ada aktivitas lain. Eh, sekarang jadi ngajarin. Ini soal waktu sih. Semoga besok-besok lebih lancar lagi belajarnya.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.