Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Begini Praktek School from Home di Rumah Kami

Begini Praktek School from Home di Rumah Kami

Kalau sakit kepala biasanya dibawa ngapain, Mommies?

Mungkin ada yang dibawa tidur, minum obat sakit kepala, jalan-jalan cari udara segar, atau nonton drakor, mungkin? Khusus yang terakhir, nggak nendang buat saya. Minum obat sakit kepala lalu tidur, itu langkah terbaik.

Ya nggak masalah. Setiap orang berhak dan tentunya lebih tahu langkah-langkah dalam menghadapi permasalahan dengan dirinya sendiri. Yang pasti, nggak ada yang tinggal diam kan, ya? Yakin deh nggak ada yang akan kuat duduk atau berdiri diam sambil menahan sakit kepala itu.

Begitu pula dengan sakit kepala akibat school from home. Sepusing-pusingnya para orangtua, nggak mungkin akan diam aja. Begitu pula dengan saya. Apalagi, pendidikan buat saya tuh penting banget. 

Setelah Berhenti Sejenak, Berpikir, Lalu Apa?

Baru kemarin akhirnya saya membuat pengakuan tertulis di rumah ini tentang kesulitan yang saya rasakan soal sulitnya menghadapi school from home. Di sana, saya buat juga daftar kesulitannya tuh apa aja, sih.

Oya, membuat daftar masalah yang kita punya tuh bukan bagian dari merutuki nasib. Buat saya sih, suatu keberuntungan karena saya justru bisa memetakan permasalahan yang dihadapi kemudian mencari solusi untuk mengatasinya. Kepala saya sih sukanya mikir begitu.

Nah, setelah tahu masalahnya apa saja, penting buat saya mengucapkan syukur dulu. Ternyata, hidup saya sebagai orangtua yang menghadapi school from home tuh nggak menderita-menderita amat. 

Saya bersyukur pernah menjadi guru. At least, saya tahu apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi guru. Seperti saat saya mau meeting dengan klien dan mewajibkan diri mempelajari materi terlebih dahulu, menjadi guru pun seperti itu. Saya harus membaca materi yang akan dibahas pada hari itu. Mencari-cari referensi jika ada bagian yang lupa (maklum ya, masa-masa SD kan udah puluhan tahun lalu juga) dan memastikan bahwa saya sudah memahami materi yang akan disampaikan

 

Ketersediaan perangkat seperti laptop, ponsel, koneksi internet, dan melek teknologi digital. Saya bersyukur hidup sebagai penulis. Makanya yang namanya laptop, ponsel, dan koneksi internet memang tersedia di rumah dalam rangka bekerja. Meskipun anak-anak harus rela mengantri dan bersabar sampai saya selesai bekerja, paling nggak perangkat ini sudah menunjang, toh? Meskipun belakangan kerja ponsel saya lumayan berat. Nge-hang melulu, haduh …

Mempunyai guru-guru yang pro aktif dan pengertian. Banyaknya urusan di kepala, kerap membuat saya lupa kalau ada tugas sekolah yang belum dikumpulkan. Dikerjakan aja belum, apalagi dikumpulkan, hihihi … Sepertinya guru-guru pun memahami bahwa banyak orangtua yang bekerja dan mungkin saja ada kegiatan anak yang terlewatkan. Aktif mengingatkan orangtua melalui grup kelas atau dijapri langsung. Terima kasih, Ibu guru …

 

Sekarang, satu-satunya masalah yang saya punya waktu adalah yang berbenturan. Senin sampai sorenya saya yang susah diganggu dan sekolahnya anak-anak. Maka, manajemen waktu ini yang harus betul-betul saya miliki. 

Jadwal Muroja'ah, Hadits, Doa, dan Mengaji Ummi pada Ba'da Subuh

Sehubungan anak-anak punya jadwal muroja’ah di sekolah beserta hapalan hadits dan doa, kegiatan ini saya tempatkan di waktu pagi usai sholat Subuh. Alhamdulillah, Ramadhan benar-benar memudahkan saya. Soalnya, di bulan ini bungsu yang biasanya susah banget bangun pagi, kok ya tiba-tiba bangunnya gasik terus. 

Sulung sudah sampai di Juz 29 tapi juga harus tetap menghapal Juz 30. Jadi, saya bisa barengkan dengan bungsu. Mereka bisa saling menyambung ayat saat di Juz 30 itu. Hapalan hadits dan doa juga begitu. Untuk yang hadits dan doanya sudah diajarkan di kelas bungsu, saya minta mereka membaca bersamaan. 

 

Enaknya, waktu bisa lebih efisien. Saya kan juga nggak ada kegiatan masak pada jam-jam tersebut. Tapi, ada nggak enaknya juga. Membaca bersama-sama itu kan mestinya kompak, ya. Kecepatan harus sama. Nah, ini nggak. Sulung sukanya ngebut sampai saya kebingungan bacanya sudah sampai ayat berapa. Sementara bungsu, kalau sudah dilibas begitu, suaranya tuh jadi pelan, makin pelan, lama-lama mungkin cuma bisa kedengeran sama semut, huaaa … Jadilah setiap kali mereka berdua muroja’ah bareng, saya pakai aba-aba.

“Jangan ngebut, Mas! Jaga kecepatan, Mas! Perhatikan makhraj, Mas!”

“Suaranya, Dek! Ayo, jangan kencengan teriak daripada ngajinya!”

Sambil tangan mengangkat ke atas macam polisi pengatur lalu lintas, wkwkwk … Totalitas deh pokoknya ibu mereka ini.

Biasanya kegiatan ini selesai antara pukul 06.00-06.30. Siapa yang selesai duluan, mandi duluan. Oiya, dua pekan kemarin saya melewatkan tugas mengirimkan tugas hapalan bungsu dalam bentuk rekaman suara atau video, jadilah mengulang lagi deh. Nggak papa, biar makin lancar ya, Nak. #PembelaanDiriModeOn

Pembahasan Materi Sekolah Antara Waktu Dhuha dan Sebelum Masuk Kerja

Siapa yang mandi lebih dulu, artinya bisa sholat Dhuha lebih dulu juga. Saya punya waktu sekitar 1-1,5 jam untuk mendampingi anak bersekolah sebelum waktu bekerja dimulai. Biasanya sih sulung yang duluan belajar. 

Kadang sambil menunggu saya mandi, sulung saya minta untuk membaca materinya terlebih dahulu. Jaman saya sekolah juga begitu, sih. Selesai belajar, giliran waktu saya bekerja. Nggak boleh diganggu! 

Selama saya bekerja, anak-anak ngapain? Sulung biasanya melanjutkan mengerjakan tugas dari pembahasan materi hari itu. Setelah itu mereka bebas deh mau ngapain aja. Mau membaca buku, bermain, menonton, biarkan aja. Yang penting buat saya satu. Akur! Nggak pakai berantem. Saya sebel banget soalnya kalau sedang bekerja lalu diganggu suara berantem. Pelototin satu-satu nih, wkwkwk

Pembahasan Materi Sekolah pada Waktu Istirahat

Waktu istirahat juga saya manfaatkan untuk mendampingi anak-anak bersekolah. Biasanya ini waktunya untuk bungsu. Mepet sih waktunya karena hanya satu jam, sedangkan dipotong dengan waktu sholat. Kemungkinan memang materi sekaligus mengerjakan tugas belum selesai dengan waktu semepet ini. Jadi, nanti bungsu belajarnya lanjut di lain waktu. 

Kegiatan saya dalam rangka mencari sumber penghasilan tuh harus dimaksimalkan, makanya waktu yang ada mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Pembahasan Materi Sekolah Usai Sholat Tarawih

Berhubung anak bungsu susah tidur di awal dan sulung susah menahan kantuk, jadilah jadwal sekolahnya bungsu lanjut ke kelas karyawan malam. Mengerjakan tugas juga di waktu-waktu ini. 

Loh, kenapa nggak sekolah sore aja selepas Ashar? Yeee, dikira kite kagak masak buat buka puasa gitu? Duile ya, dapur udah menanti lengkap beserta sayuran dan kawan-kawan. 

Kami selesai sholat Tarawih sekitar pukul 20.00. Ditambah waktu saya menemani sulung yang mau tidur. Dia memang harus ngobrol dulu sama mamanya sebelum bisa tidur. Ngobrolin apa aja, nanti lama-lama merem sendiri. Jadilah, bungsu mulai sekolah lagi sekitar pukul 20.20. Belum terlalu malam sih buat belajar. Selain bungsu betah melek, entah ya, saya masih suka mengaitkan dengan bagaimana dulu saya belajar. Ya di jam-jam segini juga. 

Mendampingi bungsu belajar itu butuh waktu lebih lama. Mood-nya naik turun. Pujian harus diberikan jauh lebih banyak dibandingkan kakaknya. Dia juga nggak suka menulis, sukanya menggambar lalu diberi tulisan. Semacam komik. Makanya kalau ada worksheet dan tulisannya panjang, saya betul-betul harus menyemangati sampai dia mau selesai mengerjakan. Kalau tulisannya makin lama makin guede, itu tandanya dia sudah bete, wkwkwk … Nah, ini tandanya dia harus diajak bermain dulu. Kalibrasi istilah kerennya.

“Bu guru, anak saya sukanya mengerjakan tugas di Google form. Boleh nggak sih, worksheet diperbanyak di situ aja?” Hihihi

Memfasilitasi Anak-Anak Sensing Sebelum Belajar

Sekolahnya anak-anak menggunakan konsep STIFIn dalam menemukan potensi genetik. Waktu awal-awal kesulitan mendampingi anak-anak sekolah karena harus berebutan laptop, saya baru ingat kalau setiap anak kebutuhan belajarnya berbeda. Dulu saya pernah menulis STIFIn Learning Workshop; Menemukan Kunci Kebutuhan Agar Belajar Terasa Asyik.

 

Punya anak-anak Sensing, tugas saya sebagai orangtua kan memfasilitasi mereka. Baru ingat deh. Akhirnya, saya memilih mengumpulkan materi setiap pekan, lalu dibawa ke tempat fotokopi untuk dicetak. Dengan begini anak-anak lebih siap belajar. Materi ada ditangan, pensil, penghapus, rautan, penggaris, pensil warna, binder clip, paper clip, semua siap di depan mata.

Di awal-awal saya ogah nge-print karena nggak mau juga sering-sering keluar rumah. Anak-anak mengerjakan tugas di buku tulis dengan melihat soal dari laptop. Sungguh, ini nggak efektif untuk anak-anak saya.

Kalau lupa gimana harus menangani anak-anak, rasa-rasanya kepengen ketemu guru saya di sekolah anak-anak buat ngobrol. Tapi kondisi begini harus ditunda dulu dong keinginan itu. Alhamdulillah, ada buku I Know You Karya Miss Hiday yang bisa saya baca-baca untuk membantu mendampingi anak-anak belajar.

Tambahan Waktu di Luar Hari Sekolah

Jadwal sudah dibuat seketat mungkin, kok masih butuh tambahan waktu di luar hari sekolah? Memang sepadat itu ya tugas sekolah anak-anak? Nggak juga sih. Khusus tugas dalam bentuk video, memang saya baru bisa kerjakan di luar hari sekolah alias akhir pekan. 

Rasa-rasanya nggak puas gitu kalau mengirimkan video yang belum melalui proses editing. Apalagi sejak school from home ini, saya baru menyadari banget kalau anak-anak tuh ternyata sangat antusias bicara di depan kamera. Terutama sulung yang sehari-hari lumayan pemalu. Panjaaang banget jadi kalau dikirim seadanya lewat pesan WA atau email terlalu besar ukurannya. 

“Ma, aku mau ngomong begini. Ma, aku belum ngomong begitu.”

Wah, bisa nih diasah jadi youtuber, wkwkwk …

Meminta Informasi dari Anak Tentang Guru Mereka

Ih, kayak detektif aja. Tapi serius, saya melakukan ini. Di awal school from home, ada pesan dari guru-guru, kalau bisa kegiatan anak-anak di sekolah tetap sama sebagaimana keseharian mereka di sekolah. Saya setuju sih, jangan sampai mereka berasa liburan padahal nggak.

Tapi terkait dengan waktu, saya nggak bisa mengikuti itu. Menghasilkan uang jauh lebih penting buat saya saat ini. Saya nggak punya sawah yang padinya bisa dipanen buat menghasilkan beras, nggak punya kebun sayur mayur, nggak punya kolam ikan, nggak punya pabrik tahu dan tempe, dan saya juga nggak punya pohon uang. Hidup harus realistis dong, wkwkwk

Anak-anak mungkin belum nyaman dengan teman-teman mereka di sekolah, tapi mereka sangat nyaman dengan bapak dan ibu guru. Nah, sebisa mungkin saya harus mengimbangi cara mereka mengajar juga. Jangan sampai nih, nanti ada yang nyeletuk.

“Mama kok ngajarinnya begini. Kalau sama Ibu atau Bapak ini begitu.”

Maaf ya, ibunya ini nggak suka dibanding-bandingkan, wkwkwk … Jadi ya, salah satunya jalan adalah tanya sama mereka.

“Ibu dan Bapak guru kalau ngajar seperti apa, sih?”

“Mas dan Adek sukanya pelajaran apa? Sukanya diajarin kayak gimana?”

Evaluasi Diri

Kadang tuh nggak pede lho mengajar anak-anak biarpun anak sendiri. Sekali lagi, saya masih saja suka khawatir, “Cara mengajar saya sudah seperti Bapak Ibu guru di sekolah atau belum, sih?”

Tentu nggak akan pernah mirip. Tapi sebenarnya bukan kemiripan itu yang saya cari, melainkan anak-anak bisa belajar dengan nyaman bareng ibunya senyaman belajar di sekolah bersama guru-guru mereka.

Makanya, selesai sekolah saya suka tanya, “Menurut Mas dan Adek, tadi Mama ngajarnya gimana?”

 

Sengaja saya ajukan pertanyaan yang jawabannya bukan hanya ‘ya atau nggak’ atau ‘oke atau nggak’.

Hasilnya oke, dong … “Aku suka belajar sama Mama!”

Alhamdulillah … Yeay! Gegulingan bahagia. Meskipun ada tambahan dari bungsu, sih.

“Kalau sama Bu Guru, muroja’ah ada yang lupa, katanya nggak papa. Ayo nanti dicoba lagi. Kalau sama Mama dimarahin.”

Wkwkwkwk … Jadi kayaknya guru-guru di sekolah tuh nggak pernah marah, ya? Baiklah, nanti ikutan juga. Lumayan, menunda kehadiran keriput di wajah, wkwkwk

School from Home; Saatnya Orangtua Saling Mendukung, Saling Menyemangati

COVID-19 outbreak ini memang membawa wajah baru di bumi kita sekaligus pada diri kita sendiri. Banyak hikmah yang bisa dipetik, banyak pelajaran yang bisa diambil.

School from home sebagai tindakan mengantisipasi perluasan penyebaran virus, semestinya juga bisa menjadi sarana para orangtua untuk saling mendukung dan menyemangati. Nggak semua orang bisa menjadi guru karena nggak semua orang bisa mentransfer ilmu, termasuk kita para orangtua. Kesulitan dan kehebohan di awal pasti ada. Kurang heboh gimana coba saya dan anak-anak? 

Dengan jadwal baru ini, saya harus bangun tengah malam karena butuh berjam-jam untuk menulis artikel. Sebelum waktunya bertabrakan dengan jadwal bertemu Bos Besar dan mulai nguplek di dapur. Ditanya capek, pasti capek. Tapi balik lagi, nggak mau capek nggak usah punya anak, hohoho

Barangkali protes terhadap guru dan sekolah juga ada. Tapi semua sama-sama tengah beradaptasi. Daripada sibuk melayangkan protes, kenapa nggak mencoba menemukan cara terbaik untuk keluarga kita sendiri? Setiap rumah punya kehidupannya masing-masing. Nggak akan pernah sama. Ada orangtua yang working from home, ada yang tetap bekerja di luar rumah, ada yang ibu rumah tangga tapi anaknya banyak, macam-macam. Maka kita sendiri juga yang semestinya bisa menemukan solusi untuk permasalahan yang dihadapi.

Melihat kondisi dunia, lagi-lagi saya harus realistis bahwa kondisi ini masih akan terus berlanjut. Keajaiban dari Allah yang akan membuatnya berhenti seketika. Semangat terus menjadi guru bagi putra-putri kita. Semoga Allah mudahkan.

Di luar kehebohan ini, saya bersyukur banget merasakan masa-masa school from home ini. Betul-betul bersyukur. Kenapa? Saya cerita di postingan selanjutnya, ya.

Salam hangat,

Melina Sekarsari

99 comments found

    1. Bener banget mbak, kemarin kau baca berita seorang guru SD ngajar muridnya door to door karena di desa jangankan internet, hp saja banyak orangtua muridnya gak punya. Hiks sedih banget.

  1. Ternyata ibu di rumah lebih galak wkwkwk
    Alhamdullilah ya bisa ngajarin anak dan beradaptasi dengan cara mereka Belajar
    Saya juga kayanya bakal lebih pilih ibu di rumah dibanding bu guru ???

    1. Ibu di rumah sebentar-sebentar naikin volume suara, Ambu … Wkwkwk …

      Iya nih, bolak-balik atur strategi akhirnya inilah yang paling cocok buat kami.

  2. Saat ini jadi banyak “guru dadakan” di rumah ya. Kalau aku serahin tugas anak ke suami, aku cuma mantau grup WA sekolahnya aja. Untungnya enggak ada tugas yg terlalu sulit juga sih.

  3. Memang bagus klo paham typs kepribadian anak, jd ortu paham cara belajar yg efektif. SFH bener2 menguras energi dan pikiran orang tua khususnya emak2. Semangat terus yes.

  4. Kyknya dengan School from home ini, peran guru sudah bisa digantikan dg ortu. Kalo orang tua mau, bisa langsung diadaptasi jadi homeschooling.
    Tugas2 yg ada bisa lebih disesuaikan kadarnya. Dan bisa lebih fokus pada passion anak.

    1. Sepertinya begitu. Tapi mungkin hanya bisa jika orangtua memang berada di rumah tanpa kegiatan bekerja. Bagi yang bekerja, rasa-rasanya kurang maksimal ya. Tapi aku sangat menikmati sih peran baru jadi ibu guru ini, hihihi …

  5. kebalikan anakku, ga mau direkam kamera, jd klo ada tugas yg hrs rekam dia suka ga pede gtu, jadi kudu byk bujuk rayu deh hahaha…

  6. Di rumah kami belum terpasang wi-fi jadi kondisi saat sekarang internet Memang agak boros tapi asik aja lah toh bisa dikurangi dari penggunaan bensin untuk mengontrol anak-anak belajar karena santai ya ikutan Santai juga tapi prinsipnya semua tugas harus selesai sebelum zuhur itu aja sih Mbak Kalau kami

    1. Aku sehari-hari nggak pakai bensin juga karena bisa jalan kaki kalau ke sekolah, hihihi …

      Tapi tugas selesai sebelum Dzuhur sungguh tak terkejar. Kalau hanya kakaknya saja mungkin bisa. Adiknya harus betul-betul didampingi karena belum lancar membaca.

      Orangtua menikmati peran ini dulu aja sih ya, Mbak, jangan dibawa stress terlalu lama.

  7. Ah dikau keren banget sih, mba Mel.. jujur aku udah pengen kibar bendera putih menyoal tentang school from home ini.. tapi mau gimana lagi ya, outbreak masih belum selesai juga.. kayaknya harus atur strategi biar lebih semangat lagi nih..

    1. MasyaAllah … Ini udah semaksimal yang kubisa saat ini, Mbak … Mana setor tugas telat melulu. Masa udah satu setengah bulan baru nemu atur waktu yang pas, wkwkwk …

      Kayaknya outbreak masih lama meskipun pengennya cepat selesai. Ayoo, semangaaat!

  8. Tulisannya keren sekali ini. Sebagai guru mengajar itu memang perlu persiapan ya materi, ya cara mengajar, ragam kegiatannya dll. Dan itu asyik sebenarnya…
    Banyak lho mbak ortu di sekolahku yang sudah mulai nyerah. Tapi sekolahku bikin startegi strategi pembelajaran jarak jauh yag semenarik mungkin. Sudah mau tiga minggu ini, sekolah membuat berkebun sekeluarga. Jadi kami bagi2 benih, tujuannya supaya semua orangtua terlibat dan paham di pandemi begini, ketahanan pangan itu penting.
    Banyak lagi sih kegiatan2 inovatif dan nggak melulu cuma ngerjain soal.

    1. Adaptasiku juga lumayan lama, Mas. Pekan ke-7 lho baru bisa nyaman, hihihi … Semoga nggak papa ya daripada nggak ada usaha sama sekali.

      Wah, asyik itu. Jadi nanti bisa saling info ya perkembangan kebun masing-masing seperti apa, Mas. Setuju ketahanan pangan itu penting. Aku kepengen banget bisa punya taman kecil buat menanam lidah buaya, lidah mertua, daun pandan, jeruk nipis dan cabe. Kan lumayan daripada beli terus.

  9. ” … membuat daftar masalah yang kita punya tuh bukan bagian dari merutuki nasib” .. saya setuju nih. Sebab banyak orang yang bermasalah tapi gak bisa mengurai apa masalahnya, dengan menuliskannya kita sudah membantu diri kita menguraikan masalah dan mencoba mencari jalan keluar karena situasi ini tidak mudah buat semua orang.

  10. Saya itu back to pondasi dasar dirumah yaitu ibu yang memang madrasah buat anaknya. Jadi anggap aja yang ngantorpun dengan time management yang baik saat pandemi ini bukan tidak mungkin menciptakan kegiatan belajar mengajar yang asyik bagi anak anaknya. Sehat selalu mba

    1. Nah, apalagi ibu tuh sekolah pertama anak-anaknya ya, Mbak. Makanya, aku kok merasa berdosa kalau benar-benar menyerah. Apalagi hambatan terbesarku sebenarnya hanya soal waktu.

  11. Dalam setiap kesulitan. pasti ada kemudahan.. termasuk membantu belajar anak2 saat SFH ya.. Alhmdulillah sih kalo aku gak ada kesulitan.. apalagi SFH nya pada santuy nih..

    1. InsyaAllah kalau mau berusaha pasti ada ya, Mbak.

      Wah, MasyaAllah … Keren nih ibu satu ini. Nggak pakai acara kelimpungan kayak aku, hihihi …

  12. Sebenarnya kalau sekolah di masa-masa WFH emang kudu banyak peran kita sebagai orangtua ya mbak. Hanya saja kendala tiap wilayah beda2. Kalau di tempatku, sinyal dan kepemilikan ponsel msh jadi kendala

  13. Keren nih jadwal school from homenya mbak Melina, boleh ikutan beberapa tipsnya ya.
    Kalau aku, hanya si bungsu Tio yang benar-benar harus didampingi, dua lainnya sudah SMK dan kuliah, lebih mandiri.

    1. MasyaAllah … Saling berbagi tips ya, Mbak. Prakteknya di rumah masing-masing bisa jadi beda. Saatnya para orangtua saling menyemangati nih.

      Hihihi … Aku nyengir kemarin baca ceritanya Tio. Salam kenal ya Kak Tio dari adik-adik di sini.

  14. Ah..kita tentu berharap Pandemi ini lekas berakhir dan segalanya kembali normal seperti sedia kala (Amiiin)
    Saya juga sering dengar di beberapa medsos keluhan akan orang tua ketika harus mengawasi anak-anak nya belajar dari rumah
    Pastinya memiliki tantangan tersendiri misalnya juga bagaimana untuk disiplin dengan waktu.

    1. Harapan semua manusia di muka bumi ya, Mbak. Kita berserah sama Allah sajalah.

      Awalnya pasti repot karena perubahan yang tiba-tiba. Tapi InsyaAllah bisa kalau mau berusaha.

  15. Masyaallah saya seneng bacanya. Memang enggak mudah mendampingi anak sekolah di rumah. Kita memang harus banyak belajar juga sebagai orang tua. Penting banget bersinergi antara ibu dan ayah buat ngebimbing anak belajar. Makasih sharingnya Mbak

    1. Ilmu baru, Mbak. Merayap-rayap nih belajarnya. Semoga kita para orangtua dimudahkan ya, Mbak. Anak-anak nggak tinggal bareng ayahnya. Jadi aku harus memastikan semua lancar nih.

  16. Alhamdulillah dari awal kami memutuskan anak2 untuk Homeschooling berasa bersyukur banget saat ini.
    Padahal dulu kami termasuk sering menerima cibiran,
    ‘eh, anak kok gak disekolahkan? Ngirit ya? Gak pinter ya, dll’.

    Hehe, kini mereka yang pernah mencibir baru tahu rasa, bukan apa sih.
    Karena setiap keputusan selalu ada alasan.

    Btw, keren nih plan nya,
    Bisa jadi buat konten YouTube loh anak2

    1. Aku perlu belajar darimu nih mengenai home schooling. Salah satu anak nggak mau balik ke sekolah, dududu …

      Iya, aku sedang kepikiran bikin konten. Hihih, doakan ya lancaaar …

  17. Bener juga ya, Mbak. Di rumah juga laptop nggak harus rebutan sama ayahnya karena saya sendiri punya dan biasa digunakan untuk menulis naskah atau ngeblog. Sejak menulis buku, internet juga selalu tersedia. Jadinya, waktu anak-anak harus sekolah di rumah, mereka bisa pakai tanpa menunggu ayahnya kelar kerja, biasanya saya ngalah supaya anak kelarin tugasnya dulu.

    1. Semua sudah lengkap, tinggal strateginya aja yang disiapkan ya, Mbak. InsyaAllah aku sudah mulai menikmati rutinitas baru ini. Senaaang bisa mendampingi anak-anak belajar lebih banyak.

  18. Duh… ya ampun kesibukan di rumah 😀 Anakku udah remaja jadi alhamdulillah nggak serepot ini. Yang satu lagi kesel aja karena tiba-tiba lulus SMA padahal belum USBN. Boro-boro ada acara wisuda dan perpisahan 😀

  19. Banyak yang mengeluhkan praktek school from home ini. Sebenernya asal kita bisa mengatur kesepakatan waktu belajar dan bermain anak-anak insyaAllah lebih mudah ya mbak. Keren deh mbak melina, bekerja tapi masih bisa mendampingi anak-anak belajar dari rumah.

    1. Lagi-lagi soal waktu ya, Mbak. Riweuh di awal nggak papa. InsyaAllah sekarang lebih lancar.

      MasyaAllah … Segini aku nggak banyak pegang kerjaan domestik. Kebayang deh teman-teman IRT apalagi kalau anaknya banyak.

  20. Awal-awal kegiatan belajar di rumah ini, akupun keteteran buat bagi-bagi kerjaanku yg juga WFH dan kegiatan belajarnya anak2. Memang dasarnya ada di manajemen waktu

    1. Sepertinya wajar ya Mbak, di awal para orangtua mencoba beradaptasi. Semoga sudah lebih lancar agar hak anak-anak menerima pendidikan tertunaikan. Di semua sendi kehidupan manajemen waktu betul deh penting banget.

  21. Aku mesti banyak belajar sabar darmu Mbak Mel kwkwwk. Keren dirimu!
    Awal school fro home aku lumayan mesti adaptasi…dua orang anak laki-laki, dan brudulan tugasnya datang di WAG. Syukur itu enggak lama. Karena yang kelas 9 begitu enggak ada UN (cuma US saja) tinggal kerjain dan bahas soal saja…Yeay
    Sekarang yang kelas 9 cuma setor hapalan dan bikin ringkasan kultum dari guru, tiap pagi tadarusan di zoom sama walas. Sesudah itu beres. Jadi…bisa bantuan Ibunya ngajarin adiknya hihihi

    1. Kuwalik. Pasti Mbak Dian jauh lebih sabar ki dari aku. Kalau anaknya udah gedean rada enak ya, Mbak. Bisa mandiri belajarnya. Wis, dinikmati aja suka-dukanya. Buat kenang-kenangan juga. Ini kakaknya bisa bantu nyimak hapalan adiknya, tapi adiknya bilang, “Mas galak, Mom.”

      Wkwkwk …

  22. Saya bersyukur banget bisa membersamai anak-anak dalam School From Home. Sayanya happy anak-anak juga. Gak terlalu meminta lebih siih…hanya selang-seling. Kadang main, lalu balik lagi kerjain worksheet atau tugasnya.

    Dicicil sedikit-sedikit.

    Semangat adiik…ngajinya mashaAllah~

    1. MasyaAllah nih Mbak, kalau sudah menemukan waktu nyamannya. Belum sempurna. Masih jauh. Tapi aku sudah menikmati banget. Mereka pun juga.

      Doakan istiqomah kami semua dalam hapalan ya, Ateu …

  23. Menurut saya, belajar di rumah ini memang lebih berat dibandingkan belajar di sekolah ya, Mbak Melina. Karena para oran tua sibuk juga mengajari anak dan membantu tugas anak hehehe. Tapi tetap disyukuri. Dan saya pun bersyukur, karena fasilitas intenet dan laptop sudah tersedia. Jadi istilahnya krucil numpang di fasilitas menulis saya hehehe. Dan semua bisa disesuaikan dan disiasati ya, Mbak Melina. Jadi belajar di rumah, lambat laun bisa biasa dan jadi menyenangkan juga.

    1. Iya, Mas. Saat anak-anak di sekolah, orangtua sehari-hari ada aktivitas lain. Sekarang harus menangani anak-anak sekolah juga.

      Wis, keadaan yang ada disyukuri aja. Alhamdulillah, masih bisa memperoleh hak belajar ya, Mas.

  24. Bagus ini manajemen waktunya, anak jadi terbiasa tertib ya melakukan aktivitas hariannya ya. Butuh komitmen yang kuat baik dari orang tua maupun anak dalam mematuhi jadwal yang sudah disepakati

  25. Kebayang banget mbaak gmana riweuhnya buat tetep balance ketika school from home dan WFH jadi satuu. Huhuu perlu time management yg baiik dan tentunya support anak dan suamii jugaa ya mbak biar keduanya berjalan lancar. Semogaa pandemic segera berakhir, aamiin. . soalnya beberapa terakhir ponakan yg juga sekolah dr rumah uda kangen sekolah katanyaa. . .

    1. Hahaha … Riweuh, heboh, tapi seruuu! Ehhh, sakit kepala juga ding di awalnya, wkwkwk …

      Betul, Mbak. Time management harus baik. Kuncinya di sini. Berhubung aku single mom, jadi ya dijalani bertiga aja deh nih perjuangannya.

      Aamiin. Pandemik segera berakhir. Itu harapan kita semua ya, Mbak …

  26. Betul banget k, problem aku pun pada time management apalagi kalau sedang lemes puasa. Ya Alloh ujiannya ya hihi tapi harus cepet semangat lagi karena tugas anak-anak banyak banget selama school from home.

    1. Saking padatnya kegiatan sampai nggak berasa puasanya. Tapi ya memang suka lemes sih kadang-kadang. Apalagi kalau anak-anak sedang susah diajak kerjasama, huhuhu …

  27. Mbaaak, keren amat bisa jadwalin waktu begini. Bungsu kelas berapa ya? Aku masih amburadul nih ama bocah. Bisa ditirulah teknik mbak Melina. Cuma bedanya aku kerjanya fleksibel. Bocah mainnya lebih lama juga dibanding belajar. Wkwkkw.. Maklum anak TK ama kelas 1.hihi

    1. Bungsu kelas dua, Mbak. Ini tertib tapi menyesuaikan keadaan lah. Semoga semuanya sehat terus biar bisa kerjasama, hihihi …

      Ini aja kirim tugasnya jadi malam. Masih TK mah santai dulu aja, Mbak. Wis, ben dolanan was, wkwkwk …

  28. Belakangan ini saya malah santuy kok Mbak sm school from home anak². Ga mau dibawa stress. Sebab mesti dimaklumi jg, anak² msh bingung membedakan mana school from home dan yg mana liburan ahaha

  29. Masya Allah aku tuh suka baca gaya bertutunya mba Mel di blog, hahaha… Seru-seru gimana gitu.

    Btw, kami pun secara biasa menggunakan perangkat elektronik untuk tugas sehari-hari jadi SFH ini nggak banyak beda sih, karena kuota internet sudah terbiasa tersedia. Dan bersyukur lho anakku nggak bosan di rumah. Haha malah keasikan main sama Bundanya.

    1. Namanya curhatan tulus dari hati Mbak, wkwkwk …

      Alhamdulillah ya, ada kelebihan ini. Wah, ananda di rumah kesenengan ya dekat-dekat Bunda terus. Anakku yang kecil udah nggak mau balik sekolah, nih ….*GarukPala

  30. Ternyata memiliki pengamalan mengajar bisa diterapkan sama anak saat School From Home ya mba.
    Tapi mungkin sang anak agak sedikit bermalas malasan karena yang ngajarin ibu nya sendiri, jadi mesti banyak strategi dan akal ya.
    Semangat mba, semoga pandemi ini segera berakhir.

  31. Ini kebalikannya ma aku mbak wkwkkw, karena aku guru yang notabene harus ngajar online juga. Sebenarnya sama2 ga enaknya kok, guru juga dituntut mengatur waktu seperti di sekolah,
    Semangaaaat ya Mba, pasti bisa lewati ini ya meski ga punya pohon uang juga sih ahaha

  32. Nah bener nih school from home harus pintar atur jadwal ya mbak. Apalai anak2 kalau tdk dudampingi ketika belajar dngan e-learning jd tdk fokus mengerjakan tugasnya. Semangat ya mbak

  33. Betul sih. Semua hanya masalah bagaimana kita mengatur waktu dengan baik. Jadi akan berasa cukup.

    Sekalinya kita nggak bisa mengatur waktu, maka nggak heran jika 24 jam saja nggak cukup.

    Keren pengaturan waktu sekolah di rumahnya, Mbak.

    1. Iya. Time management ini tuh kunci banget. Tapi memang nggak mudah juga sih buat mengubahnya di awal. Perlu penyesuaian banget. MasyaAllah, doakan lancar ya, Mbak …

  34. Masyaallah, semangat selalu jadi guru dadakan di rumah mba. Emang bener sih ibu di rumah tuh kalo ngajar jadi galak. Inget ibu aku pas dulu suka nanya PR. Diajarinnya sambil gemes karena saya gak paham-paham haha. Alhamdulillah ya mba selalu ada hikmah di balik pandemi ini ?

    1. Iya, guru ala-ala sih untuk saat ini. Tapi Alhamdulillah, anak-anak semangat belajar sama mamanya. Meskipun lebih galak daripada ibu guru di sekolah katanya, wkwkwk …

      Betuuul. Sungguh hikmah yang luar biasa.

  35. Saya percaya selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Termasuk school from home. Alhamdulillah, meski ada beberapa kendala tapi saya termasuk menikmatinya. Meski dg jadwal kerja saya yang tidak teratur, tapi insya Allah saya bisa mengatasi semua kendala.

    1. Iya Mbak, aku sekarang sangat menikmati peran baru ini. Sungguh kenikmatan tersendiri punya waktu lebih banyak bersama anak-anak.

      MasyaAllah, keren nih Mbak Emmy! Time management-nya pasti bagus.

  36. Aku geli itu…kalo berantem, pelototin satu² nih…Manjur beut kalo udh gitu. Suka duka mendampingi anak² belajar di rumah jadi kenangan manis kalo kondisi udah normal lagi ya…

    1. Dipelototin aja mereka memang udah takut sih Bun, wkwkwk … Jadi nggak perlu bawa sabetan, wkwkwk …

      Iya Bun, kenangan tak terlupakan ini mah.

  37. Hahahahahaha. Saya ngakak sendiri baca bagian si kakak dan adek kebut-kebutan baca hapalannya. Lucu-lucu anaknya mba. Semoga tumbuh menjadi putera puteri soleh soleha kebanggaan keluarga.

    1. MasyaAllah Mbak, kadang lucu, kadang bikin gemes, kadang bikin pengen nggigit, wkwkwk …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Doa yang sama ya untuk kakak dan dua adik kembar di rumah. Salam sayang …

  38. Alhamdulillahnya, njenengan termasuk ortu yang bisa ngasih edukasi dan waktu ke anak2. Nah, kalau Sekolah di rumah kayak gini, kasihan banget si anak kalau ortunya sibuk kerja, soalnya ada ortu yg sibuk walaupun kerja di rumah. Sedih sih

    1. Iya, Mbak. Aku di rumah kerja juga. Anak dua pun terasa capeknya. Anggap lah ibu berstatus IRT, tapi kalau anaknya banyak kan puyeng juga bagi waktunya, ya?

    1. Eh kalau nggak salah ada yang bagi gratis gitu. Pernah lihat flyer-nya. Entah betul atau hoax? Hahaha …

      Makanya itu, Mbak, kita kayaknya masih gagap juga untuk belajar daring. Wong belum terbiasa juga.

  39. Emang ya mba sepertinya harus stock kesabaran kalau lagi masa dirumah aja hahah, jadi ibu kalau dirumah aja kadang udh pusing dengan urusan kerjaan, rumah anak dll jadi wajr lah ya kalau volum emak2 dirumah udh kek speker yng kenceng hahahah

    1. Beda, Bang. Kalau home schooling aku belum mampu. Nggak ada yang jadi penanggungjawab di rumah soale. Ini kewajiban aja karena nggak berangkat ke sekolah terkait COVID-19, hehehe …

  40. Selama 3 bulanan ngajarin anak SFH, lumayan juga ya. Jadi rspect sama Guru. Aku juga dulu sempat jadi guru, sekitar 12 tahun. Sekarang, nemenin belajar anak aja capeknya bukan main lho

    1. Wah, lama banget pengalaman mengajarnya, Mbak. Aku nggak ada apa-apanya, nih. Memang SFH ini jadi tantangan buat semua pihak, sih. Ya guru, ya orangtua, anak-anak pun sama.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.