Pertama Kalinya Merasakan Aksi Demonstrasi di Negara Orang

Tahun 2019 lalu, Hong Kong diwarnai dengan aksi demonstrasi. Kalau nggak salah, sejak bulan Juni. Saya berencana kesana di bulan Oktober untuk sebuah pertemuan. Waktu terus berjalan. Setiap harinya, teman-teman di sana memberi kabar mengenai kondisi terkini.

Agenda tetap tertera, tapi saya menahan diri untuk melakukan reservasi, baik tiket maupun akomodasi.

Aman; Mari Kita Pergi

Saya berencana kesana di bulan Oktober untuk sebuah pertemuan. Waktu terus berjalan. Setiap harinya, teman-teman di sana memberi kabar mengenai kondisi terkini.

Kabarnya, demonstrasi memang rutin dilaksanakan. Tapi berbeda dari aksi demonstrasi di Indonesia. Di Hong Kong, aksi demonstrasi ini sudah terjadwal dan dipublikasikan sejak sebulan sebelumnya. Aksi demonstrasi dilakukan hanya selama maksimal satu (1) jam saja. Murni aksi protes dalam bentuk kalimat yang disuarakan atau ditulis dalam spanduk. Tidak ada tindakan perusakan atau kekerasan terhadap orang-orang di sekitar.

Hingga bulan Agustus, berita yang turun masih sama. Dengan rasa lega, saya berani membeli tiket langsung pulang pergi. 

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, aksi demonstrasi kemudian berubah. Mendekati jadwal keberangkatan, aksi demonstrasi di sana terkadang menjadi anarkis. Mungkin karena permintaan mereka yang nggak dikunjung digubris setelah aksi berbulan-bulan itu. Atau alasan lain, saya nggak tahu.

Sebagian bilang perjalanan dibatalkan saja, sebagian lagi bilang lanjut. Atas bantuan seorang teman, kami dicarikan akomodasi yang jauh dari pusat demonstrasi. Aman, katanya. Dia pun sering bepergian kemana-mana dan aman-aman saja kok.

Tiba di Hong Kong

Sabtu, 6 Oktober 2019 tengah malam, saya dan tiga teman mendarat di Hong Kong International Airport. Sebenarnya, dari Yogyakarta, kami cuma berangkat bertiga. Seorang teman berangkat dari Terminal 3 Soetta karena berbeda maskapai. Saya berdua Mbak Eka berangkat dari Terminal 2. Jam keberangkatan kami sama-sama di Sabtu pagi, selisih satu jam saja. Kami bertiga sama-sama terjadwal tiba di Hong Kong pada Sabtu siang sekitar pukul 14.00.

Lalu, kenapa tiba-tiba kami sampai di Hong Kong berempat? Kenapa juga tiba di tengah malam, bukan sekitar pukul 14.00 sesuai jadwal? Dua teman lagi dan perpanjangan waktu ini adalah bonus, wkwkwk … Nggak pernah kami minta tapi malah diberi sama Allah. Bonus kan ini namanya? 

Kami dipertemukan di ruangan Customer Service Lion Air di Terminal 2 Soetta dan akhirnya sama-sama merasakan Pengalaman Terbang Bersama Malindo Air; Perjalanan Penuh Kejutan (Part 1). Tak lain tak bukan, tentu karena tujuannya memang mau sama-sama ke Hong Kong. 

 

Nggak dapat arrival stamp, tapi dapatnya ini.

Selesai mengisi departure card, kami berdua ikutan berbaris. Antrian mengular panjang. Senangnya, di sini petugas sangat aktif bekerja. Kalau ada yang lowong, segera meminta pengantri lain untuk mengisi. Tertib sekali. Petugasnya pun semua sudah berusia lanjut. Mereka masih sangat sehat. Saya membayangkan kalau seusia mereka nanti, maunya tetap sehat dan bisa produktif seperti itu. Aamiin.

Keluar dari antrian, kami berpisah, saling bersalaman, mengucapkan terima kasih, dan mendoakan supaya perjalanan semuanya dilancarkan. Seorang pergi lanjut naik kereta, seorang lagi dijemput temannya, sedangkan saya berdua teman yang asli (wkwkwk …) dijemput seorang teman. Namanya Mbak Ana. Dia yang sangat berjasa membantu mengurus akomodasi dan segala keperluan selama kami di Hong Kong.

Kami dipilihkan akomodasi di daerah Mong Kok. Jarak tempuh menggunakan taksi sekitar satu jam. Penampilan taksinya lucu, jadul gitu. Sayang, saya nggak foto. Sudah kepengen  buru-buru mandi setelah perjalanan estafet sejak Kamis siang dari Bogor ke Solo, Solo ke Yogyakarta, Yogyakarta ke Jakarta, lalu ke Hong Kong.

Badan sudah lengket banget. Kami tiba di penginapan Minggu dini hari. Sementara saya terakhir kali mandi pada Jumat sebelum Subuh di Solo. Pakaian saya sejak Jumat pagi itu juga belum ganti, wkwkwk … Jangan tanya kok nggak nyempetin ganti baju di bandara, ya? Kalian nggak tahu kan, koper saya tuh dibawa sama teman yang terbang lewat Terminal 3. Soalnya saya nggak dapat jatah bagasi, wkwkwk

Koper oh koper. Dia tiba lebih dulu dari pemiliknya.

Sarapan Pagi Pertama di Hong Kong

Pertemuan kami diselenggarakan pada hari Senin pukul 09.00-16.00. Kami berangkat pukul 08.00 dari penginapan dengan menggunakan taksi. Lagi-lagi dijemput oleh Mbak Ana. Eh lalu saya lupa lagi mau foto taksi jadul itu, hahaha

Selama di perjalanan, Mbak Ana cerita dan menyayangkan banget kami nggak bisa mencoba MRT-nya Hong Kong. MRT di sana disebut MTR. Semua stasiun MTR ditutup karena aksi demonstrasi belakangan ini sudah menjurus ke anarkis. Jadi, ada stasiun yang menjadi sasaran perusakan dan kondisinya cukup parah. 

Sebelum dijemput Mbak Ana, kami bertiga sempat sarapan pagi dulu di jembatan penyeberangan Mongkok. Makan ayam bakar yang montok banget. Penjualnya warga negara Indonesia yang dari ceritanya, katanya sudah 20 tahun tinggal dan bekerja di Hong Kong. Wuih! Bisa lupa pulang ini, sih.

 

Ayam bakar menu sarapan kami. Montok, kan?

Ada kejadian lucu. Saya tuh jarang banget ya makan pakai sendok dan garpu. Pokoknya pakai tangan wis yang paling nikmat. Apalagi kalau menunya ayam, ikan, ada sambelnya. Kan lebih bebas ngrikitin ya kalau pakai tangan. Daaan, sambalnya bisa dijilatin sampai jari-jari balik licin. Nggak mau rugi, wkwkwk

Nah, pagi itu kami bertiga celingukan, kok nggak nemu mangkuk kecil buat kobokan. Ya sudahlah, merelakan beberapa mililiter air mineral buat cuci tangan. Sambalnya enak banget, pedasnya mantep! Kami makan dengan lahap. Penjual ayam bakar itu dan beberapa yang lain merhatiin kami sambil senyam-senyum. Mungkin mereka heran, kayak baru pertama makan ayam bakar. Semangat gitu.

Selesai makan, baru kami sadar. Penjualnya sejak tadi sudah meletakkan tiga sarung tangan plastik di samping piring rotan kami. Di sana orang-orang yang makan nasi memang mengenakan sarung tangan plastik. Jadi nggak ada yang butuh cuci tangan sebelum dan sesudahnya. 

Oya maaf, biasanya pakai tangan telanjang, sih. Kami bertiga meninggalkan jembatan penyeberangan itu sambil ngakak, wkwkwk

City Trekking; Menyusuri Jalanan Kota, Menghindari Arus Demonstrasi

Pertemuan kami di hari pertama berjalan lancar. Masih ada pertemuan di hari ke dua sebelum kami bertolak pulang pada Rabu siang. Selesai acara, nggak ada agenda lain, cuaca cerah, kami memutuskan jalan-jalan dulu. Mbak Ana dan Mbak Eka pergi jalan-jalan ke tempat lain. Saya dan satu teman segroup dan dua orang teman lainnya di Hong Kong, jalan bareng sore itu. Jadi kami jalan berempat. 

Tujuan utama, menikmati keindahan Avenue of Stars di Tsim Sha Tsui . Kalau memungkinkan, maunya sih hang out di sana sampai malam. Mau menikmati Symphony of Light yang dimulai pukul 20.00. Padahal aslinya, jam segitu saya udah bobo malam, wkwkwk … Sok-sokan emang, sih. 

Kami jalan kaki dari lokasi pertemuan ke Avenue of Stars ini. Dibilang jauh ya jauh, dibilang dekat ya dekat juga. Mungkin karena memang saya suka jalan kaki, ya. Nggak ada masalah jadinya. Apalagi fasilitas pejalan kaki mendukung banget. Trotoarnya bersih, rapi, dan luas. Tapi langkahnya mesti panjang atau cepat supaya nggak ditubruk sama pejalan kaki yang di belakang, huehehe

Oya, sore itu nggak ada jadwal demonstrasi. Siangnya ada. Sewaktu mau sholat Dzuhur di Islamic Center, ada rombongan demonstran yang berjalan kaki. Istilahnya long march gitu, ya? Mereka mengenakan kostum hitam-hitam, jas hujan dan payung. Damai-damai aja, sih. Sama sekali nggak ada aksi anarkis. Oleh seorang teman yang mengantar, saya cuma diberi pesan, “Jangan lihat ke arah mereka.”

Nurut deh pokoknya.

Sore itu di Avenue of Stars, sedang asyik-asyiknya jalan-jalan sambil berfoto ria, eh rintik hujan turun. Berhenti, lalu gerimis. Sampai kemudian seorang teman bilang.

“Wah, ada demo nih di Mongkok.”

Wah, itu kan daerah tempat kami menginap. Gimana, nih? Tapi kami ditenangkan, karena aksi tersebut hanya akan berlangsung sebentar saja. Kami lanjut jalan-jalan di sana. Sayangnya, beberapa menit kemudian kami dikabari kalau sarana transportasi umum nggak beroperasi. Khawatir terjadi aksi anarkis lagi seperti perusakan di stasiun-stasiun MTR. 

Satu teman pulang ke rumahnya. Tinggal saya dan teman segrup bersama Mbak Wiji. Dia lah yang nanti banyak membantu kami berdua, para tamu yang kebingungan dalam menghadapi aksi demonstrasi, hahaha

 

Avenue of Stars; Rencana nonton Symphony of Light yang gagal

Kami meninggalkan Avenue of Stars sekitar pukul 18.00. Berjalan mlipir-mlipir. Melewati bagian belakang gedung, bagian bawah jembatan, pokoknya mencari tempat yang sep dari keramaian massa. Kadang ada beberapa orang lain yang berjalan bersama kami. Kadang ada yang memisahkan diri. Mungkin tujuannya memang berbeda. Hari mulai gelap. Gerimis mulai turun lagi. Berubah menjadi hujan.

Kami celingukan. Hujan. Kerudung dan baju mulai basah. Perjalanan masih jauh dan kami semua membawa laptop. Khawatir basah kemudian rusak. Huaaa, jangan sampai. Tapi hanya ada satu dua mobil pribadi yang melintas. Taksi sesekali saja terlihat. Bus sama sekali nggak ada. Baiklah, kami memang harus melanjutkan berjalan kaki.

Langkah kaki dipercepat. Kami sama sekali nggak berhenti. Soalnya, perjalanan masih jauh, kan? Menaiki tangga yang ampun deh banyaknya, menuruni tangga lagi, melewati jalanan menurun, melewati jalanan menanjak. Ini namanya city trekking apa, ya? Wkwkwk

Akhirnya, setelah berjalan kaki sekitar dua jam, kelihatan juga plang jalan bertuliskan ‘Mongkok’. Yeay! Harapan banget. Menuju Mongkok, mulai terlihat ramai. Orang-orang tumpah ke jalanan. Di trotoar pun banyak yang berlalu-lalang.

Ada yang mengenakan outfit putih-putih, ada juga yang hitam-hitam. Kalau nggak salah, yang putih-putih itu pro pemerintah, hitam-hitam itu pro demonstran. Makanya, sebelum kesana, diberi pesan jangan bawa pakaian berwarna keduanya itu biar aman. Tapi kalau saya perhatikan sih bukan sembarang putih-putih atau hitam-hitam, ya. Tapi kaos tanpa kerah putih dan kaos tanpa kerah hitam. Kayaknya sih gitu. 

Wis, pokoknya pakaian yang saya bawa batik warna-warni semua, wkwkwk

 

Suasana Mencekam Itu Terjadi di Sini

Semakin dekat ke daerah penginapan, semakin ramai dengan kerumunan. Oleh Mbak Wiji, kami diajak berbelok-belok ke jalan lain untuk menghindari kerumunan itu. Tapi ada satu titik yang mau nggak mau kami nanti harus melalui titik aksi demonstrasi tersebut. Ada aksi pembakaran di sana. Sepertinya ada yang terluka juga karena sudah ada mobil polisi dan ambulance berderet-deret.

Suasana ramai banget. Saya berusaha tenang dan memang merasa tenang banget, sih. Padahal biasanya kerumunan orang begitu tuh bikin saya deg-degan, loh. Di tanah air begitu. Meskipun ternyata sewaktu dideketin ternyata eh kerumunan orang antri sembako, wkwkwk

Oleh Mbak Wiji, tangan saya digandeng erat. 

“Tetap pegang tanganku, ya.”

Saya mengangguk. Pokoknya menurut aja sama dia.

“Jalan biasa aja. Jangan pernah lihat ke arah sana. Jangan merhatiin orang-orang juga. Jangan keluarin HP. Jangan moto atau merekam.”

Semuanya saya catat banget di kepala. Hostel tempat saya menginap ada di jalan sebelah. Kami sempat duduk-duduk bareng banyak banget orang di sebuah halte. Jadi ya, banyak banget orang itu nggak semuanya pendemo. Ada banyak banget orang-orang seperti kami yang memang tengah dalam perjalanan. Terjebak nggak bisa pulang gitu ceritanya.

Sambil duduk-duduk, kami mikir keras bagaimana caranya sampai di sana. Kok gitu? Iya, soalnya kami harus jalan lurus sekitar 20 meter, belok kiri, lalu belok kiri lagi. Setelah itu tinggal lurus saja menuju ke hostel. Masalahnya, di belok kiri yang pertama itu lah titik aksi demonstrasinya. Berjalan persis di sisi titik aksi demonstrasi kan agak gimana gitu, ya?

Tapi beneran, saya masih tenang. Waspada iya, tapi panik sama sekali nggak. Akhirnya, karena hari sudah semakin malam dan baju basah pula, kami memilih melanjutkan perjalanan. Berkali-kali Mbak Wiji mengingatkan.

“Jangan lepasin tanganku. Jangan lihat ke arah pendemo. Lihat lurus ke depan aja. Jangan keluarin HP, moto, apalagi merekam.”

Sekali lagi, pesan-pesan itu saya catat di kepala. Digandeng Mbak Wiji, kami berjalan dengan langkah normal, seperti nggak ada apa-apa. Jalanan lurus sudah tiba di ujungnya, lalu kami berbelok ke kiri. Nyala api dan asap putih terlihat. Suasana ramai mencekam. Teriakan rusuh terdengar. Tangan Mbak Wiji menggenggam tangan saya semakin erat.

Sedang berusaha tenang berjalan melihat lurus ke arah depan, eh mata saya tergoda melirik ke sisi kiri. Ada seorang perempuan, entah tunawisma atau apa, yang tengah berbaring di trotoar. Tubuhnya terbungkus berlapis-lapis kain. Lah, saya nggak salah lihat, nih? Suasana ramai mencekam begini, dia bisa-bisanya tidur di situ? Jadi kami jalan di trotoar. Nah, aksi demonya di tengah jalan. Itu kan dekat banget. Asli, saya melongo merhatiin perempuan itu.

Tiba-tiba …

“Doorrrr!!”

 

Angkutan kotanya. Jadul-jadul gitu kan, ya?

Pegangan tangan Mbak Wiji terlepas. Saya ngacir. Lari kenceng banget berbalik ke arah halte tadi. Di belakang, Mbak Wiji mengejar. 

“Mbak! Mau kemana?”

Begitu dekat, Mbak Wiji tanya. “Mbak, kamu takut, ya? Ayo, tetap gandengan sama aku.” Wajahnya terlihat khawatir.

Begitu sadar, saya juga heran. Kok saya lari ngibrit gitu, ya? Wkwkwk … Kayaknya sih karena kaget. Gara-gara melongo lihat orang tidur nyenyak di tengah aksi demonstrasi, eh lalu dengar suara tembakan. Ngibrit, deh. Lupa kalau lagi sama teman. Kan tengsin, dari tadi bilang nggak takut, tapi ngibrit. Mana tadi larinya kenceng banget pula, wkwkwk

Akhirnya, kami kembali lagi ke rute tadi. Berjalan seperti nggak ada apa-apa. Melewati jalan yang tadi, saya sempetin dong melihat ke arah perempuan yang tidur itu. Masih nyenyak, lho. Kelihatan damai banget malah. Makin heran, dia nggak kaget apa dengar suara tembakan tadi?

Sampai ujung jalan, kami belok ke kiri. Ahhh, legaaa rasanya. Arah hostel kami sekarang berada di arah berlawanan dengan titik demonstrasi itu. Baru berjalan beberapa langkah, saya merasa aneh.

Napas saya rasanya putus-putus. Sesak banget. Padahal nggak merasa capek meski habis berjalan jauh. Duh, kenapa ini? Mata saya lalu terasa perih, kedua lubang hidung juga sama, perih yang bercampur panas. Saya nggak bisa menghirup udara. Kulit wajah serasa ditusuk-tusuk, tenggorokan panas. Rasanya seperti terbakar. Di sini lah saya mulai panik. 

Jarak hostel kami sudah dekat. Mungkin sekitar 200 meter saja. Tapi boro-boro mau melanjutkan perjalanan. Berdiri pun rasanya susah. Badan sudah mau ambruk. Mbak Wiji menyadari sesuatu. Dia membuka tas, mengeluarkan sebotol air mineral, lalu meminta saya minum yang banyak dan membasuh wajah. Dia sendiri juga melakukan hal yang sama.

“Mbak, aku kenapa ini? Nggak bisa napas.” Saya bicara sambil tersengal.

“Kena gas air mata, Mbak.”

Ya Allah, begini deh kalau jaman mahasiswi memang sama sekali nggak pernah ikutan aksi demo. Sibuk bekerja dan bikin tugas. Sampai nggak tahu rasanya kena gas air mata tuh semenyakitkan itu. Kami sempat singgah di sebuah kedai, membeli air mineral lagi. Minum lagi. Memang cuma begitu cara menetralisirnya. 

Akhirnya, setelah berjalan sejauh hampir tujuh km, kami tiba juga di kamar. Mbak Eka dan Mbak Ana sudah sampai duluan. Rupanya, efek gas air mata itu luar biasa, ya. Teman saya sampai menutup lubang pendingin udara karena gas tersebut ikut masuk ke dalam kamar. Padahal kamar kami terletak di lantai enam, lho. Katanya, gas air mata di sana itu dicampur bubuk merica jadi rasanya lebih panas.

Pengalaman pertama kali ke Hong Kong. Luar biasa. Banyak pelajaran berharga yang saya dapat. Mulai dari perjuangan hingga kami akhirnya bisa terbang ke Hong Kong dan orang-orang yang saya jumpai di sini. Kenapa sih, memangnya? Yakni bahwa masyarakat di sana terbiasa hidup jujur, bersih, dan disiplin. Tahu nggak, kabarnya mesin-mesin ATM banyak yang dirusak, uang-uang berhamburan, tapi nggak ada yang ambil, loh. Iya, mereka memang nggak ada tuh keinginan mengambil hak milik orang lain. Aksi demonstrasi dilakukan ya karena persoalan lain soal negeri itu yang belum kunjung selesai.

Selain itu, titik aksi demonstrasi sesuai dengan jadwal. Seperti yang saya ceritakan di atas, nggak jauh dari titik itu, saya sempat singgah ke sebuah kedai untuk membeli minuman, kan? Nah, memang di luar titik tersebut, kehidupan ya berjalan normal. Toko-toko buka, orang masih lalu-lalang dengan santai. Apalagi Mongkok itu kota yang kehidupannya berjalan 24 jam. Coba kalau di sini, langsung tutup semua pastinya. 

Terima kasih banyak buat Mbak Ana dan Mbak Wiji, teman-teman baik hati di sana.

Nostalgia dulu, sebelum doa semua makhluk di bumi ini dikabulkan Tuhan. Agar COVID-19 segera pergi. Perekonomian pulih lagi, keuangan sehat lagi, jiwa raga tetap sehat, kembali menabung, supaya bisa pergi-pergi lagi. 

Kamu, pernah pergi kemana dan dilanda kepanikan macam begini nggak, sih? Yuk, cerita-cerita …

Salam,

Melina Sekarsa

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

94 Comments

  • Dyah May 12, 2020 at 1:51 pm Reply

    Waduh, serem banget ya ngalamin demo di negeri orang. Apalagi sampai merasakan gas air mata. Saya sih, nggak pengin. Pas tahun 98 saya juga memilih di kampus aja. Semoga nggak perlu ada lagi demo dan huru-hara di Indonesia.

    • melinase May 12, 2020 at 3:24 pm Reply

      Iyaaa. Dipikir-pikir memang seram. Jangan lagi-lagi, deh.

      Aku juga merasakan demo tahun 1998. Eh tapi waktu itu baru kelas tiga SMP, hahaha …

  • Tariita May 12, 2020 at 2:36 pm Reply

    Aku belum pernah naik pesawat nih.. Apalagi keluar negeri. Seru sekali membaca artikel dan pengalaman mbak. Serasa ikut merasakan tiap hal yg dilalui.

    • melinase May 12, 2020 at 3:23 pm Reply

      Semoga nanti diluaskan rezeki ya, Mbak. Dapat kesempatan terbang keliling nusantara dan dunia.

      Hihihi … Makasih ya sudah mampir. Semoga nanti perjalanannya seru dan nyenengin.

  • Nurul Sufitri May 12, 2020 at 7:54 pm Reply

    Wah, jadi kostum demonstrasinya pakai serba hitam gitu ya, berjas hujan dan payung? Trus kalau misal kita lihat ke arah mereka, bakalan marah apa ya? Hihihiih..anteng tapi bikin deg2an ya. Eskplorasi di Mongkok dll bisa malam2 terus dampai dini hari tuh, tapi mbak Melina bbonya cepet sih ya wkwkwkwkw.

    • melinase May 12, 2020 at 8:07 pm Reply

      Nggak ngerti sih bakalan apa. Tapi nurut ajalah ya. Takuuut, hihihi …

      Mongkok itu hidup banget 24 jam. Enak buat nyobain street food. Sayang aku nggak biasa bobo malam waktu itu.

  • Cempaka Noviwijayanti May 12, 2020 at 8:05 pm Reply

    Saya bacanya tegang banget mbak. Zaman mahasiswa juga enggak pernah ikut demo. Tapi, gara-gara ngalamin hal kayak gini, jadi punya pengalaman menarik ya mbak. Walaupun pengalamannya nyeremin.

    • melinase May 12, 2020 at 8:07 pm Reply

      Jadi pengalaman banget, Mbak. Tapi kalau bisanya sih jangan terulang lagi, ya. Waktu itu ada teman yang memang tinggal di sana. Lah, kalau nggak kenal siapa-siapa, gimana? Kayaknya aku bakal nangis, deh, hahaha …

  • Eka May 12, 2020 at 9:33 pm Reply

    Wuih serem banget, mana sampai kena gas air mata pula. Duh, untung jatungnya sehat. Apapun kondisinya ya mbak, pengalaman seperti berada di tengah-tengah demo begitu bener-bener bikin syok.

    • melinase May 12, 2020 at 10:04 pm Reply

      Semoga nggak pernah menemukan kejadian yang sama di kemudian hari, Mbak. Cukup sekali, hihihi …

  • Ratna Kirana May 13, 2020 at 2:04 am Reply

    Ngeri2 sedap yaa mbak terjebak di demonstrasi, sudah gitu di negeri orang lagi.. Alhamdulillah selamat dan sehat semua ya 🙂

    • melinase May 13, 2020 at 6:19 am Reply

      Alhamdulillah, Mbak. Mereka juga tergolong tertib sih demonya. Nggak ada penjarahan gitu. Tapi kalau mengalami lagi ya jangan sampai, hahaha …

  • Maria G May 13, 2020 at 3:10 am Reply

    Hihihi dari ayamm montok ke demonstran
    Kebetulan saya pernah baca tentang demo yang berjilid jilid ini tapi mereka tertib kok
    Ngga memaksakan kehendak seperti disini
    jadi, harusnya ya aman

    • melinase May 13, 2020 at 6:18 am Reply

      Yes, tertib Ambu. Mereka konsisten titik demo sesuai jadwal. Jadi nggak jauh dari sana, toko-toko tetap buka. Mesin ATM dirusak tapi uang nggak ada yang ambil.

  • Lucky Caesar Direstiyani May 13, 2020 at 12:34 pm Reply

    Pengalaman luar biasa banget mbaak, gak bsa bayangin berada ditengah demonstrasi begitu. Kalau aku juga pasti kaget dan mungkin latah sambil lari pas denger bunyi tembakan huhu serem mbaak. diluar ada aksi demonstrasi, hongkong indah juga yaa mbaak pemandangan di malam harinya. Semoga bisa kesana suatu hari nanti, aamiin ?

    • melinase May 13, 2020 at 12:53 pm Reply

      Sangat luar biasa, Mbak. Meskipun demonya ada perusakan dan bakar-bakaran, tapi nggak ada penjarahan. Mereka nggak mau ambil yang bukan hak mereka. Hong Kong rapi dan bersih. Makanya enak dilihatnya. Transportasi publik juga tertata semua.

  • diane May 13, 2020 at 1:25 pm Reply

    wah serem juga ya pengalamannya.. aku belum pernah sih ke tempat yang pas lagi ada huru hara/demo semoga gak perlu mengalami.. hehe

    • melinase May 13, 2020 at 1:30 pm Reply

      Tapi jadi tahu sih Mbak, pengalaman banget. Di sana aksi demonstrasi tuh nggak ada penjarahan.

  • Gita Siwi May 13, 2020 at 5:21 pm Reply

    Ini menguji adrenalin tanpa sengaja ya hahaha…tapi bayanginnya nggak yang anarkis gitu ya kak. Pengalaman luar biasa deh.

    • melinase June 8, 2020 at 8:01 am Reply

      Ujian besar dan dadakan ya, Mbak? Hahaha …

  • Mugniar May 13, 2020 at 6:37 pm Reply

    Ya Allah, Mbak Mel, ini tuh sudah bisa jadi buku. Tegang deh membacanya. Tapi bbrp kali saya ngakak, terutama di bagian makan ayam bakar hahaha. Anak saya lagi pake earphone sampai nengok nanyain mamanya kenapa. ???

    • melinase May 13, 2020 at 11:09 pm Reply

      Hahaha, seru ya, Kak? Alhamdulillah, bisa bikin Kak Mugniar ketawa, wkwkwk …

      Bilang aja, ada teman mamanya yang rada norak di negara orang, hahaha …

  • Siti Nurjanah May 13, 2020 at 11:36 pm Reply

    Pasti menegangkan ya.. perjalanan perdana mesti ngadepin suasana yang collaps. Demonstran yang terjadi tahun lalu di Hongkong cukup parah juga aku sempet liat di berita

    • melinase May 14, 2020 at 4:54 am Reply

      Di awal-awal damai, Mbak. Lama-lama mungkin mereka sudah berubah ya. Lelah mungkin demo berjilid-jilid.

  • Juli Dwi Susanti May 16, 2020 at 1:21 am Reply

    Lengkap ceritamu mbak, semoga Allah lengkapi hidupmu dengan sehat dan bahagia ya mbakkuh

    • melinase May 16, 2020 at 1:15 pm Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Doa yang sama untuk Mis Juli, yaaa.

  • Yuni Bint Saniro May 16, 2020 at 6:54 am Reply

    Nggak dimana-mana, kalau demonstrasinya anarkis suka mencekam ya mbak. Andai bisa diminta mah, barangkali kita mintanya nggak usah pake anarkis. Demo ya demo aja gitu. Yang rapi. Eh…

    Anyway, lain wilayah memang lain kebiasaan ya Mbak. Yuni juga lebih seneng makan pake tangan. Tanpa harus pake sarung tangan plastik atau apalah.

    Menurut yuni kok ya malah ribet kalau begitu. Hehehe

    • melinase May 16, 2020 at 1:17 pm Reply

      Iya, mencekam tapi stabil. Nah gimana itu, ya? Hihihi …

      Samaaa, aku pun sukanya pakai tangan. Lebih mantep!

  • Nurhilmiyah May 16, 2020 at 10:36 am Reply

    Pengalaman yang seru yaa Mbak Melina… pingin hang out ke Hong Kong kebetulan ada demonstrasi pula ya, hihi. Bagus nih dituliskan jadi tau juga kan ya beda demo di sana dg di Indonesia. Btw, kalau gak salah isu demonya ttg RUU Ekstradisi ya. Orang HK yg asal Tiongkok gak mau diekstradisi ke sana… lebih milih di HK yg relatif lebih punya kebebasan berpendapat ketimbang China daratan. Nice share, Sis

    • melinase June 8, 2020 at 8:02 am Reply

      Betul, Mbak. Terkait RUU Ekstradisi itu. Masih panjang sih ya keinginan mereka untuk bisa benar-benar independen.

  • Dian Rahayu Permanasari May 16, 2020 at 1:08 pm Reply

    Hhhh …. tahan napas saya baca ini. Seru dan lumayan mencekam. Nggak bisa bayangkan kalau saya yg mengalami ini. Sungguh pengalaman tak terlupakan. Saya tertegun dengan tulisan: ada ATM rusak, uangnya berhamburan, tp tak ada yg mengambil. Luar biasa.

  • Dian Restu Agustina May 16, 2020 at 1:31 pm Reply

    Ayam bakarnya itu seperti bukan di Hongkong ya…menggoda banget sambalnya, montok pula ayamnya
    Aku deg-degan bacanya. Belum pernah ngerasain sendiri gas air mata..duh, mencekam pasti di tengah suasana demo di negeri orang pula. Tapi bagusnya memnag mereka demonya elegan ya, benar-benar sesuai yang dituntutnya. enggak kayak di negara kita tercinta, nuntut apa demonya apa bonus ngerusak pula

    • melinase May 16, 2020 at 3:07 pm Reply

      Mungkin karena yang jual orang Indonesia, ya, jadi yo wis ayam bakar Jawa Timuran hasilnya.

      Iya, Mbak. Awalnya aku tenang, eh akhirnya panik juga begitu dengar bunyi tembakan, wkwkwk …

      Salut loh, mereka komitmen dengan tujuannya memang.

      • Dian Restu Agustina May 16, 2020 at 7:18 pm Reply

        Dan,,akupun mungkin juga sama, denger Dooor, pasti spontan ngibrit kayak Mbak Mel…hihi. Ya ampun itu untungnya sama Mbak Wiji yang tenang bener orangnya. Dan kebayang itu jauhnya jalan. Pulang dari Hongkong pasti pijet #eh

        • melinase May 16, 2020 at 8:53 pm Reply

          MasyaAllah deh, Mbak Wiji itu tenang dan pemberani banget. Wis, nempel aja aku sama dia, hehehe …

          Oh, sudah pasti. Langsung telepon tukang pijet, wkwkwk …

  • Mutia Ramadhani May 16, 2020 at 2:55 pm Reply

    Wkwkwk. Saya liputan unjuk rasa itu udah kayak makanan tiap hari pas awal-awal jadi reporter. Emang sengaja anak-anak baru yg dikirim ke lapangan. Pernah juga liputan bom di Puspiptek Serpong, dan bom gereja di Tangerang. Udah kayak pasrah gitu aja deh, dan harus setia menunggu pak polisi untuk wawancara. Untungnya baik-baik aja yaa Mba Meliina, alhamdulillah. Di balik kenangan gak enak, pastinya lebih banyak kenangan enaknya ini di Hong Kong.

    • melinase May 16, 2020 at 3:08 pm Reply

      Betul, Mbak. Hidup memang begitu, ya. Enak nggak enak harus dinikmati dalam satu paket, hihihi …

      Oiyakah? Jadi kalau waktu itu Uni ikutan aku ke Hong Kong barangkali bakal biasa aja waktu dengar tembakan. Nggak ngibrit kayak aku, wkwkwk …

      • Mutia Ramadhani June 8, 2020 at 10:35 am Reply

        Udah bisa dengar suara senapan, suara orang-orang teriak di tengah jalan, suara orang-orang merintih karena kena gas air mata. Suara bom pun sudah pernah. Huhuhu. Mengerikan dan memang sangat hororrrrr.

        • melinase June 8, 2020 at 12:01 pm Reply

          Mentalnya udah kuat ya, Uni. Kalau waktu itu pergi bareng aku, mungkin aku bisa ngumpet aja di belakang Uni, wkwkwwk …

  • Tatiek Purwanti May 16, 2020 at 3:08 pm Reply

    Aih seru ceritanya. Inj mah gak sekadar traveling tapi traveling plus-plus. Pas banget gitu pas ke sana pas ada demo. Saya sempat denger sekilas beritanya sih. Walaupun ada anarkisnya tapi masih bisa jujur gitu yak. Salut.
    Duh, Mbak. Kok jadi ngerasain engap juga pas Mbak Mel nyeritain kena gas air mata. Saya pernah ikutan demo, pernah juga nonton demo. Belum pernah ngerasain itu sih. Gak pengen juga, hehe.
    Yups, berharap pandemi ini segera berlalu trus kita bisa jalan-jalan lagi dan dapet pengalaman baru ya

    • melinase May 16, 2020 at 8:50 pm Reply

      Iya, Mbak. Tapi memang kebiasaan orang sana tuh sebagus itu, sih. Hebat, ya.

      Huhuhu, sakit rasanya, Mbak. Perih dan sesak banget gitu. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Semoga situasi kembali pulih di waktu yang tepat menurut-Nya ya, Mbak.

  • Bety Kristianto May 16, 2020 at 3:24 pm Reply

    Duh mba aku kok melu deg-degan bacanya .. kebayang deh paniknya kek gimana di sana. Untung udah jadi cerita ya.. hehehe.. akupun kangen berat pengen jalan-jalan lagi. Semoga pandemi segera berakhir yaaaa

    • melinase May 16, 2020 at 8:51 pm Reply

      Deg-degan tapi syukurlah diberikan perlindungan dari Tuhan, Mbak.

      Iyaaa, kangen ya ngebolang lagi. Semoga Tuhan berkenan kembalikan bumi kembali normal. Aamiin.

  • Selvijua May 16, 2020 at 3:38 pm Reply

    Memang agak serem juga ya, jangankan di negara orang, demonstrasi di indonesia aja aku merasa ngeri. Btw si Hongkong ada juga ayam bakar yang enak, sambalnya itu bikin ngiler liatnya.hehehe

    • melinase May 16, 2020 at 8:52 pm Reply

      Itu ayam bakar yang masak dan jual wong Madura, Kak. Ya memang Indonesia banget sih, hihihi …

  • Rini Hidayati May 16, 2020 at 7:58 pm Reply

    Astaghfirullah… Pasti mencekam banget. Ngga kebayang kalo’ aku juga disana, soalnya aku orangnya suka panikan. Ya Allah, alhamdulillah nggak kenapa-napa ya mba’

    • melinase May 16, 2020 at 8:53 pm Reply

      Alhamdulillah … Diberikan keselamatan sama Allah, Mbak. Dipertemukan dengan teman-teman yang baik juga.

  • BayuFitri May 16, 2020 at 8:49 pm Reply

    wah kalo cerita terjebak demo sy pernah tuh 98 sy saksi hidup pas di kampus ada aksi dar der dor trus besoknya kerusuhan wuih sy ngungsi ke lat 12 gedung teratas kampus ..malem jam 12 baru pulang pake jln kaki puluhan kilo baru nemu bus kota.. tapi klo pas traveling trus kena huru hara jng sampe deh..

    • melinase May 16, 2020 at 8:55 pm Reply

      Kerusuhan 98 udah di kampus ya, Mbak? Waktu itu hari terakhir aku ujian nasional, masih SMP, hahaha … Masih imyut, tapi aku lihat juga rusuhnya kayak gimana. Makanya takut kalau lihat kerumunan. Langsung deg-degan deh.

  • Erfano May 16, 2020 at 10:44 pm Reply

    Saya selalu suka dengan caramu menceritakan detail demi detail kisah serunya di negeri orang. Sebagai pembaca, saya terlibat dalam adegan demi adegan…. Jiaah…

    Tapi beneran lho mbak, gayamu bercerita dalam bentuk tulisan itu asik, mengalir dan seru. Dan untungnya aaya gak pernah terjebak pada saat demo karena pas zaman kuliah saya adalah pelaku demonya ha..ha..ha…

    • melinase May 16, 2020 at 11:07 pm Reply

      Wajahnya kalem tapi ternyata mantan pelaku demo. Benar-benar menipuh, hahaha …

      MasyaAllah … Terima kasih, Mas. Semoga terhibur yaaa.

  • Vivi May 16, 2020 at 11:12 pm Reply

    Saya belom pernah mengunjungi negara lain yg sdg ada demo gitu mba.
    Saya baca cerita mba jadi tegang sendiri. Mencekam ya..

    • melinase May 16, 2020 at 11:46 pm Reply

      Hihihi … Lumayan menegangkan situasinya. Semoga nggak mengalami ya, Kak.

  • Reyne Raea May 17, 2020 at 12:01 pm Reply

    Ikutan degdegan bacanya Mba, kerasa banget bagaimana ketegangan di sana.
    Bahkan liat di berita saja udah lumayan degdegan apalagi berada di tengah-tengah seperti itu.
    Alhamdulillah nggak kenapa-kenapa Mba.
    Btw itu ayamnya kok bikin gagal fokus ya 🙂

    • melinase May 18, 2020 at 7:51 am Reply

      Iya, kenangan tak terlupakan pokoknya ditulis aja, hahaha … Alhamdulillah, dalam lindungan Allah, ya.

      Ayamnya montok abis, wkwwkk …

  • bunda sugi May 17, 2020 at 8:09 pm Reply

    Mbak pengalamannya seru ya … aku ikutan tegang bacanya. Asli takut juga .. hhehe … Baru tau kalo gas air mata juga bikin napas sesak ya …

    • melinase May 18, 2020 at 7:58 am Reply

      Aku pun baru tahu. Dulu kukira gas air mata tuh ya cuma air dan bikin perih yang biasa banget. Ternyata sesakit itu. Pantesan massa kalau disemprot gas air mata bisa langsung pada kabur bubar, ya.

  • Haeriah Syamsuddin May 18, 2020 at 5:57 am Reply

    Jadi ingat zaman kuliah dulu juga sempat terjadi demonstrasi besar-besaran. Berhubung, saya mahasiswi manis jadinya gak pernah ikut demo. Padahal, beberapa orang sahabatku ikut demo dan sempat merasakan perihnya gas air mata. Dari cerita mba Mel saya jadi teringat waktu sahabat-sahabat saya bercerita tentang gas air mata tersebut.

    • melinase May 18, 2020 at 8:04 am Reply

      Aku nggak sempat merasakan demo juga, Bun. Kayaknya sih memang di jamanku nggak ada demo deh, hahaha … Eh atau ada tapi di Jakarta, ya?

  • Susindra May 21, 2020 at 5:22 pm Reply

    Sarapannya mantap Mbak. Nggak di Indonesia nggak di negeri orang tetap bisa ketemu ayam geprek bahkan lebih montok daripada di sini. Hehehhe

    Tapi kalian hebat, punya pengalaman asyik, jalan-jalan saat ada demonstrasi.

    • melinase May 21, 2020 at 5:28 pm Reply

      Padahal di sini sarapannya nasi goreng atau uduk tanpa ayam – apalagi ayam montok, hahaha …

      MasyaAllah … Jadi pengalaman berharga. Semoga Mbak Susi travelingnya nanti aman dan nyaman ya, Mbak …

  • Belgie May 22, 2020 at 9:14 pm Reply

    Jadi nambah pengalaman ya kalau gini, kepingin deh ke Hongkong jg, belum pernah, tp semoga ga ada demo nih pas kesana, hehe

    • melinase May 30, 2020 at 3:52 am Reply

      Mau kemanapun, semoga perjalanan aman, bahagia, dan menyenangkan ya, Mbak. Itu doa kita saat mau bepergian. Eh tapi kapan perginya ini? Wkwkwkw …

  • Dewi indria May 26, 2020 at 11:35 pm Reply

    Wow….. Pengalaman yang menyeramkan pakai dor dor an kalau aku udah nangis sepanjang jalan tuh

    • melinase May 30, 2020 at 4:10 am Reply

      Kalau aku sendirian, pasti bakal nangis juga, hahaha …

  • Neni Heryani Schmitz May 27, 2020 at 2:50 am Reply

    Wah serem juga deg-degan orang tv saja liatnya serem demonstrasinya ya. Tapi jadi pengalaman hidup yang gak terlupakan. Ingat makan pakai sarung tangan plastik jadi ingat waktu ke Cina saya. Waktu itu saya hampir minum teh yang buat cuci piring, karena kalau di Cina sebelum makan piring nya dicuci dulu dengan teh panas biar higienis. Saya main teguk aja eh taunya air teh buat piring bukan buat minum

    • melinase May 30, 2020 at 4:11 am Reply

      Wahahaha … Di China gitu ya? Baiklah, ini saya catat baik-baik biar nanti nggak salah teguk, hahaha …

  • Ratu Kemala May 27, 2020 at 4:05 pm Reply

    Makan pake tangan memang the best wkwkwk
    Pemandangan malamnya indah banget yah

    • melinase May 30, 2020 at 4:13 am Reply

      Sambil dijilat sampai bersih, hahaha … Nikmat sekali ituuu …

      Iya, rapi banget soalnya.

  • Malica Ahmad May 30, 2020 at 11:05 am Reply

    Mbaaaaak, seru banget artikelnya euuy. Aku patut acungi jempol travelingnya mbak mel. Meski awalnya jalan buat kerja, tapi bisa merasakan pengalaman semenarik ini. Keren dah… Bisa buat cerita ke anak2 ya mbak.

    • melinase June 1, 2020 at 4:43 am Reply

      Hahaha … Seru banget. Alhamdulillah ya dapat pengalaman berharga.

  • Jihan June 6, 2020 at 1:22 pm Reply

    Ya ampun mbaa bacanya ikut deg-deg kan. Gas air mata kan perih ya, untung mba Mei ga kenapa2 ?? Tapi seru juga yaa, kalo ngga mengalami itu semua, ngga akan jadi cerita?

    • melinase June 6, 2020 at 2:09 pm Reply

      Iya, Mbak. Antara sedih dan senang dapat pengalaman itu, hehehe ….

  • Andayani Rhani June 7, 2020 at 3:50 am Reply

    Ceritanya seru, menarik, dan mencekam jadi satu. Salut sih mba bisa punya pengalaman di negeri orang apalagi sampai kena gas air mata, semoga cepat sembuhnya. Ceritanya bagus, sayang kurang visualisasinya jd saya cuma bisa membayangkan hehehe

    • melinase June 7, 2020 at 5:01 am Reply

      Visualisasinya nonton berita demonstrasi di sana aja ya, say. Soalnya nggak boleh ambil gambar apalagi video, kan? Nurut saja aku mah, apalagi cuma tamu, hihihi …

  • Asih Mufisya June 7, 2020 at 5:09 am Reply

    Bacanya saja sudah ikutan bikin tegang Mbak. Bagaimana yang mengalami ini secara langsung ya.
    Iiii takut juga. Apalagi ini ada di negeri orang. Jadi pengalaman berharga banget.

  • haniwidiatmoko.com June 7, 2020 at 5:32 am Reply

    Aku yaaa pasti ngibrti juga lah denger “DOR” gitu, atau malah jongkok ketakutan? Bacanya jadi ikut deg-degan. Baru tahu lho, demo cuma boleh sejam. Di sini mah berjilid-jilid…wkwkwk…Yang demo tuh rata-rata siapa ya Mbak Mel…

    • melinase June 7, 2020 at 12:03 pm Reply

      Hahaha … Ternyata sama ya, Bun, ngibrit juga.

      Di sana berjilid juga kok. Tapi dalam satu hari, maksimal satu jam aja.

  • Hppnin June 7, 2020 at 10:08 am Reply

    Perjalanan yang seru sii apalagi berada di tenggah- tengah demostran di negeri orang rasanya gimana gitu…

    • melinase June 7, 2020 at 12:02 pm Reply

      Rasanya pengen ditulis di blog biar nggak lupa, hihihi …

  • Helmiyatul Hidayati June 7, 2020 at 10:17 am Reply

    Baiklah saya galfok ama ayamnya mbakk.. berasa ayam geprek di Indonesia yaa.. hehe btw, aq blm pernah ke Hongkong, tapi pernah ikut demonstrasi damai. Asalkan ga ada yang anarkis sih menurutku aman2 aja ?

    • melinase June 7, 2020 at 12:02 pm Reply

      Ayamnya bohay ya, wkwkwk …

      Betul, menyuarakan pendapat boleh dong, asal jangan anarkis.

  • Fide June 7, 2020 at 1:57 pm Reply

    Ngakak baca cerita ayam montoknya. Kebiasaan kita beda dgn org luar ya kak. Ceritanya campur aduk, senang, sedih, menegangkan… Pa lagi menyaksiin demo dpn mata…

    • melinase June 7, 2020 at 7:04 pm Reply

      Ayam montok dan sepasang sarung tangan plastik. Mestinya itu dibikin cerita sendiri ya, wkwkwk …

  • Nanik Nara June 8, 2020 at 9:41 am Reply

    Makan pakai sarung tangan plastik itu nggak nikmat. Nikmatnya emang pakai tangan langsung, apalagi ayam dengan sambat diatasnya sangat menggoda gitu

    • melinase June 8, 2020 at 10:13 am Reply

      Betuuul … Alhamdulillah ya di sana bisa makan langsung tanpa sarung tangan plastik itu, hihihi …

  • Bang Iyus June 8, 2020 at 11:04 am Reply

    Jadi ingat kerusuhan mei 98.. ngeri.. orang pada ngejarah…lari larian ga jelas… sempat ikut ngeronda jaga kampung..karena panik jaga.. 2 hari tahan pada ga tidur.. pas dibilang keadaan udah aman… baru ngeletak tidur semua.. hehehe

    • melinase June 8, 2020 at 11:59 am Reply

      Aku juga selalu ingat kerusuhan 98 itu, Bang. Waktu itu aku masih SMP. Pulang sekolah, rame banget. Makanya kalau ada kerusuhan rasanya dag dig dug banget.

  • Supadilah June 8, 2020 at 12:23 pm Reply

    Tulisannya lengkap. Hehe…padahal ada sarung tangan plastik y. Eh tapi tetap nikmat pakai tangan asli dong. Hehe..

    • melinase June 8, 2020 at 2:06 pm Reply

      Sudah tentuuu … Huehehe …

  • Triani Retno June 11, 2020 at 6:56 am Reply

    Temenku yang mantan wartawan pas lagi di Hong Kong juga pas demo itu. Dan dia malah semangat banget nyari berita. Lupa kalo udah bukan wartawan lagi 😀

    • melinase June 11, 2020 at 7:07 am Reply

      Wah, jiwa jurnalisnya masih mengalir ya Mbak, hahaha …

  • Irsyad (irsyadmuhammad.com) June 12, 2020 at 11:25 am Reply

    Tp pasti ini pengalaman yang nggak akan dilupakan juga. Ngerasain aksi demo di negeri sendiri mah mungkin biasa, tp ini di negeri orang loh, mungkin banyak jg pelajaran dan hal baru yg ditemukan

    • melinase June 12, 2020 at 11:47 am Reply

      Di negeri sendiri aja ingatnya pas jaman tahun 1998 itu, Bang. Itu pun hanya lihat sisa-sisa. Jadi nggak kebayang juga sih kalau berada di tengah demo di negara sendiri, hahaha …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.