Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Kenangan Enduring Love, Sampai Pertanyaan Terakhir di Ruang Sidang

Kenangan Enduring Love, Sampai Pertanyaan Terakhir di Ruang Sidang

Hari ini, 15 tahun yang lalu, adalah momen wisuda sarjana saya. Tepat di usia saya yang ke-22. Dinyanyiin lagu Happy Birthday dong sama sepenjuru kampus yang ada di upacara wisuda itu?

Ya nggak lah, siapa gue? 

Wisuda ini hadiah istimewa untuk kerja keras selama 3,8 tahun. Masih ingat jelas bagaimana saya pergi sendirian untuk mendaftar ke perguruan tinggi swasta tersebut setelah nama saya nggak ada dalam barisan yang diterima dalam UMPTN. Sedih? Sangat.

Hari itu, di Patas 74 jurusan Cimone – Kp. Rambutan, saya duduk sebelahan sama laki-laki yang ngakunya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Nggak yakin juga dan saya nggak peduli.  Habis, orangnya cerewet, ngomong melulu. Namanya juga saya tengah patah hati karena nggak lulus UMPTN, jadinya kecerewetan orang itu bikin saya sakit kepala. Apalagi penampilannya nggak banget. Rambutnya nggak gondrong tapi berantakan.

Saya akan turun di halte bus UKI dan dia turun di Pancoran. Entah muka saya yang teramat imut atau malah culun, sebelum turun dia mengatakan sesuatu. 

“Aduh, gue nggak punya oleh-oleh nih buat adik kecil,” katanya sambil meraba-raba saku jaket. “Tapi gue kasih lo oleh-oleh nasehat aja, deh” lanjutnya.

“Kalau nanti lo mulai kuliah, belajar yang bener ya sejak semester awal. Makin nambah semester, mata kuliah yang lo temuin bakal makin kompleks. Kalau lo terlalu santai di awal, bakal susah ngejarnya di akhir.”

Saya menyimak baik-baik kalimatnya. Tuh, buktinya sampai sekarang masih inget, kan?

“Jangan kayak gue. Udah semester sepuluh, seminar aja nggak kelar-kelar. Temen-temen gue udah pada kerja,” katanya lagi.

Jadi mikir. Orang yang penampilannya nggak banget ini, iya sih ngakunya mahasiswa Unpad, tapi nggak lulus-lulus, nasehatnya harus saya dengerin nggak, sih?

Tapi justru, kalimat dari orang nggak meyakinkan itu yang selalu mampir di telinga setiap kali saya males belajar. Nggak inget wajahnya, nggak tahu namanya, eh kok ya malah suaranya mampir melulu di telinga.

 

Jadi Mahasiswi Sastra, Susahnya Minta Ampun

Dari judulnya, kayaknya jadi mahasiswi jurusan Sastra itu udah santai banget. Nggak perlu mikir berat macam teman-teman yang kuliah di Fakultas Teknik. Kata siapa? Sesusah apapun kalau sesuai passion pasti bikin hepi, bebas air mata. 

Masih terbayang rasanya mengamati satu demi satu mata kuliah yang buat saya berat sekali. Semua yang berkaitan dengan sejarah dan sastra membuat saya pusing duluan. Di SMA saja, saya sering ketiduran waktu mata pelajaran Sejarah. 

Makanya, saya ekstra banget belajarnya. Dulu teman-teman mengira saya mahasiswi pintar karena IPK selalu bagus. Mereka nggak tahu, saya harus mau melakukan lebih. Tidur lebih malam karena menghadap buku atau catatan, sementara teman-teman satu kost ngobrol atau nonton Meteor Garden.

Bangun lebih awal, mencuci, menjemur, menyetrika, semua saya lakukan sambil menghapal. Komat-kamit terus menghapalkan sejarah dan karya sastra. Kalau yang nggak tahu isi hapalan itu, mungkin dikira saya lagi baca mantra. Mau melet siapa, emangnya hah?

Teman-teman saya cuma tahu, menjelang ujian, catatan saya bisa dipinjam dan diperbanyak. Dulu pernah takjub, waktu melewati koridor, lho kok kanan kiri pegang fotokopian yang sama, ya? Tulisan tangan saya, wkwkwk

 

Jembatan di Terminal Baranangsiang yang dulu bisa tiap hari saya lewati jaman masih kuliah.

Masa-Masa Skripsi

Maka, ketika mata kuliah Seminar selesai dan saatnya menyiapkan skripsi, saya senang banget. Apalagi mendapatkan dosen pembimbing yang saya suka sekali. Ada Ibu Agnes – sekarang beliau menjabat sebagai Dekan di sana. Beliau orang yang murah senyum. Seingat saya nggak pernah melihat beliau marah. Jangankan marah, pasang wajah muram pun nggak pernah. Senyum sepanjang hari deh pokoknya. 

Tapi justru beliau ini menjadi dosen yang disegani. 

 

Selama menjadi pembimbing, lumayan susah untuk menemui beliau. Giliran saya bisa, eh beliau nggak bisa. Tapi ini sih jamak banget ya dialami mahasiswa yang mau bimbingan. Apalagi waktu kuliah saya kerja juga kemana-mana. Jadi sering nggak klop. Mana nggak punya HP, jadi nggak bisa janjian.

Dosen pembimbing kedua  adalah Pak Teguh. Setiap bimbingan, saya selalu harus ke rumahnya. Lumayan jauh dan nggak hemat di ongkos. Buat anak kost sih yang bekerja tapi gajinya cuma cukup buat beli kertas, tinta printer, dan jajan tipis-tipis, lumayan bikin menderita.

Saya selalu diminta datang sore. Nanti di sana disuguhi kue kering di dalam stoples. Sampai maghrib, diajak sholat bareng dulu sama keluarganya. Lalu makan dulu dan beliau cerita-cerita juga soal anak-anaknya. Baru deh bimbingan. Kebapakan banget. Beliau sudah berpulang kini. Tahun lalu kalau nggak salah. Al Faatihaah …

Berburu Bahan Penelitian

Mahasiswa Sastra, maka bahan penelitian ya nggak jauh-jauh dari karya tulis. Kami bisa memilih novel, puisi, atau drama. Sampai saat ini saya nggak pernah bisa klik dengan puisi. Selama kuliah, mata kuliah Drama bikin mata saya berkunang-kunang. Sinau opo tho iki? Jadi, novel adalah pilihan yang paling pas.

Berhubung program studi yang diambil adalah Sastra Inggris, maka novel yang akan dibaca juga harus berbahasa Inggris. Waktu kakak sulung saya SMA, dia suka pergi British Council Library. Untuk keperluan skripsi, ini menjadi salah satu tempat belajar, selain Perpustakaan Universitas Indonesia. British Council Library itu dulu akhirnya menyatu dengan Perpustakaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Nggak tahu ya sekarang. Saya masih mengalami belajar di sana waktu masih independen.

Beli novelnya, sesuai saran dari kakak-kakak kelas, QB World Book atau Kinokuniya bisa jadi pilihan. Bareng teman-teman, pergilah kami kesana dengan menggunakan commuterline

Teman-teman kuliah yang masih akur. Kalau kumpul bawa anak.

Ada cerita miris tapi lucu sewaktu kami ke Kinokuniya di Plaza Indonesia. Baru masuk, sudah ilfeel duluan. Orang-orang dibukakan pintu oleh satpam, kami nggak. Kan ‘anak-anak kecil’ ini cemburu. Pada baperan emang, wkwkwk

Buku nggak ada yang cocok, kami meninggalkan tempat itu. Buat saya pribadi sih, karena sudah nggak enak duluan. Ya gara-gara nggak dibukakan pintu itu, hahaha … Nggak suka ah, sama yang suka pilih kasih, wkwkwk

Lalu kami ke QB World Book di belakang Sarinah. Tempatnya lumayan besar dan luas. Bukunya bagus-bagus, sayang banyak cerita yang menarik buat saya tapi harganya di luar anggaran. 

Sampai kemudian saya menemukan novel berjudul Enduring Love karya Ian McEwan. Buku ini sempat saya baca, lalu tinggalkan. Teman-teman pulang sudah dengan novelnya masing-masing, saya belum. Lain waktu, saya kesana sendirian. Masih memegang novel yang sama. Bolak-balik, akhirnya saya bawa pulang juga. Mau memastikan banget bahwa hati saya sudah terkunci sama novel itu, eaaa

Sayangnya, QB World Book di belakang Sarinah itu sudah  ditutup waktu sekitar tahun 2007 saya kesana. Diganti Total Buah Segar atau All Fresh, gitu. 

Enduring Love Karya Ian McEwan

Pernah nggak, kamu jatuh pada seseorang lalu kamu yakin orang itu jatuh cinta juga sama kamu? Nggak peduli bahwa kalian bahkan nggak pernah saling bicara, bahkan malah nggak saling kenal. Nggak peduli juga bahwa orang itu sudah punya pasangan atau belum, nggak peduli juga orang itu berjenis kelamin yang sama denganmu atau nggak?

Semoga nggak pernah, ya. Ngeri banget ini. 

Novel bergenre psychological thriller ini menceritakan tentang pasangan suami istri bernama Joe dan Claire yang hidup bahagia.  Kehidupan mereka berubah sejak piknik menaiki balon udara. Di sana, terjadi kecelakaan yang menimpa seorang anak kecil. Joe menolong anak itu, bersama beberapa orang lain, di antaranya Jed. 

Sejak interaksi mereka pada insiden balon udara itu, Jed terus-menerus meneror Joe. Dia menelepon Joe, mengawasi rumah Joe dari tepi jalan, dan membuntuti kemana saja Joe pergi saat keluar rumah. Awalnya, Joe berusaha menegur baik-baik alasan Jed melakukan itu. Dia terkejut saat Jed mengungkapkan perasaan cinta pada Joe. Ungkapan perasaan yang diabaikan Joe karena merasa Jed hanya main-main.

 

Lambat laun, teror yang dilakukan Jed semakin membuat Joe terganggu. Apalagi saat Jed mengatakan bahwa Joe tidak perlu terganggu karena Jed tahu bahwa Joe juga mencintainya. Joe menjadi uring-uringan dan mudah sekali marah. Kondisi ini menyebabkan hubungannya dengan Claire memburuk.

Joe menceritakan tentang Jed kepada Claire tetapi istrinya itu malah tertawa dan menganggap Joe tengah berkhayal tentang tokoh dalam novel yang ditulisnya. Joe semakin frustasi karena tidak memperoleh dukungan. Dia bingung harus melakukan apa terhadap Jed karena benar-benar terganggu sekaligus takut. Apalagi kemudian Jed mulai berani meneror Claire dan berupaya melakukan percobaan pembunuhan.

Di situ Claire baru percaya dan akhirnya berpikir mereka berdua harus melakukan sesuatu.

Sidang Skripsi

Susah payah menyusun skripsi dengan banyak coretan di sana-sini dan koreksi terus menerus, akhirnya pengajuan skripsi itu diterima. Lega banget. Mengingat saat itu saya juga bekerja kemana-mana. Yang ada di pikiran saya adalah, cepat sidang, cepat lulus, kerja, cari uang yang banyak. Indah banget dunia ya, wkwkwk

Jadi, gimana sidangnya? Mari saya cerita sekalian, ya.

Bangun pagi, eh malah nggak bisa tidur ding malamnya. Deg-degan, gemeteran, panas dingin, mules, campur aduk. Mana kebagian masuk ke ruang sidang di awal-awal pula. Eh, mending begini, ya? Semakin lama nunggu malah semakin menjadi tuh komplikasi masuk angin tapi bukan.

Satu jam berada di ruang sidang. Bisa dibilang saya sukses mempertahankan analisa yang diajukan. Berhubung novel yang ditelaah bergenre psychogical thriller, maka saya juga ikut meneliti unsur psikologis tokohnya di sana. Dalam hal ini tokoh antagonis, Jed, yang menderita Syndrom D’Clerambault atau disebut dengan Erotomania. Ini adalah gangguan delusional yang menyebabkan penderitanya meyakini bahwa ada orang yang jatuh cinta mati-matian kepadanya. Dia bisa meneror, menyakiti, bahkan membunuh. Ngeri, ya?

Keluar dari ruang sidang, saya lega tapi bingung. Dosen-dosen penguji sudah menyatakan sidang selesai. Sebelum meninggalkan ruangan sidang, salah satunya mengajukan pertanyaan yang nggak bisa saya jawab. Tapi dosen penguji itu juga sepertinya nggak berniat meminta jawaban dari saya. Waktu saya tanya balik, “Maksudnya bagaimana ya, Pak? Apa itu nama sindrom juga? Mohon maaf saya belum meneliti mengenai itu.”

Beliau cuma senyum-senyum lalu mempersilakan saya keluar karena sudah selesai. Nggak suka deh, ada satu pertanyaan yang belum kelar. Meskipun sebenarnya sidangnya sendiri sudah selesai, ya.

Ini Dia yang Bikin Sidang Skripsi Itu Tak Terlupakan

Sesampainya di luar, dikerubutin dong sama teman-teman. Gimana? Ditanya apa?

Ngapain juga mereka tanya, skripsi kami kan beda, ya?

Saya bilang sih kalau semuanya lancar. Plus bocoran juga lah ditanya apa aja sih di dalam ruang sidang sana. Tapi saya juga cerita kalau masih ada yang menggantung di kepala. Tanpa banyak mikir, saya sampaikan dong sama teman-teman.

“Gue tadi ditanya, apa bedanya Erotomania sama Mak Erot?”

Di luar dugaan, eh malah mereka ketawa ngakak. Malah ketawa, bukannya bantu jawab. Bertahun kemudian, baru deh paham. Tapi jadi ngakak sendiri kalau ingat saya sempat tanya balik ke pengujinya, “Itu nama sindrom juga, Pak?”

(((sindrom)))

 

Ketemuannya kami ya begini. Kumpul di rumah siapa. Bawa makanan yang banyak. Ngobrol sampai sore atau malah malam.

Meskipun ini bukan kampus idaman, nyatanya saya bahagia kok di sana. Dapat banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Teman-teman kuliah pun sampai sekarang hubungannya baik.

Jadi, jangan pernah ya mengabaikan di manapun Tuhan menempatkanmu untuk bertumbuh. Juga jangan pernah mengabaikan nasehat berharga dari siapapun itu. Nggak peduli rambutnya berantakan dan kuliahnya nggak lulus-lulus. Orang itu akhirnya yang berjasa banget bikin saya terbakar semangatnya buat belajar. 

Sampai sekarang saya nggak pernah ingat loh wajahnya kayak gimana. Pastinya udah di atas 40 tahun. Lah, saya lulus SMA aja dia udah semester 10, kan?

Ayolah, sudahlah nggak masuk kampus dan jurusan idaman, masa mau dapat IPK ndlosor juga?

Momen wisuda itu selalu berkesan banget buat saya. Ya itu, karena wisuda pas ulang tahun. Berasa istimewaaa banget.

Now, I am turning 37. Bukan anak-anak lagi, tapi masih muda as always. Tetap merasa muda aja biar terus bersemangat. Nggak mau merasa tua bukannya nggak ingat mati. Tapi memang mati bukan soal usia tua. Orang mati muda pun banyak.

Mohon doa terbaiknya ya, gaesss

Salam sayang,

Melina Sekarsari

87 comments found

  1. Pertanyaan sidang skripsinya lucunya, wkwkw.
    Jika mendapat saran dari seseorang, sebaiknya kita tidak memandang dari fisik semata, tetapi coba dicerna dengan baik dulu. Bisa jadi suatu saat bermanfaat.

    1. Sebenarnya itu bukan bagian dari pertanyaan sidang, sih. Sepertinya beliau waktu itu cuma iseng. Tapi olehku dianggap serius karena kupikir dosen pengujinya serius tanya, wkwkwk …

  2. Meteor gardennn hahaha, kita seumuran deh kayaknya Mba, saya ingat waktu Meteor Garden itu saya masih kuliah deh 😀

    Terus se kos heboh nontonnya.
    Aahh menyenangkan ya mengenang masa-masa kuliah, masa-masa skripsi yang penuh perjuangan, secara zaman dulu belum kayak sekarang yang serba online 😀

    1. Meteor Garden itu aku lupa di semester berapa. Nggak nonton soale. Kira-kira sepantaran lah ya kita ini, hahaha …

      Bener, boro-boro online. HP nggak punya. Mau ngetik pun ke rental dulu sampai malam, ya.

    1. Iya, aku sangat menikmati masa kuliahku meskipun cuma belajar dan kerja aja. Teman-temanku seru-seru banget.

      Aamiin … Nuhun doanya, Teh Eggy …

  3. Wah ternyata jurusan sastra harus banyak hafalan sejarah dan karya sastra ya? Untung saya dulu gak masuk jurusan ini, saya benci hafalan, he he . . .

  4. Ternyata lumayan rumit ya sastra Inggris?
    Hahaha saya ngeremehin anak saya yang kuliah di sastra Inggris undip karena lama lulusnya, saya pikir dia males lulus.
    Soalnya anakku santai banget, unik pokoknya
    Ternyataaaa… Hihihi maafkeun ya, mbak Melina, ntar saya mau telpon anakku tersayang ????

    1. Rumit karena bukan impian saya, Ambu. Barangkali kalau yang passion-nya di situ bisa lebih nyaman belajarnya. Kalau saya mesti kerja keras banget, hihihi …

      Hihihi, ayo Ambu. Tetap semangati anak tercintanya yaaa …

  5. Wah, samaan nih. Saat sidang skripsi juga saya pas ulang tahun. Tak banyak yang tahu tapi ketika sederet kursi panjang mengucapkan selamat dan selamat ulang tahun, rasanua memang bahagia sekali.
    Ultah kali itu juga sangat istimewa karena dosen penguji saya adalah the best dan the first profesor, dosen moderator the best runner. yah… istimewa sekali.

  6. Kak me, saya sidang 11 tahun lalu. Baca ini banyak persamaan.
    Saya saat masuk kuliah nulis surat buat diri sendiri kalo kuliah cukup 3,5 tahun. Karena dosen pembimbing kebetulan ujian akhir S3 di Malaysia akhirnya saya pun sering gak bisa ketemu beliau.
    Mana pula saat kirim bahan skripsi sempat gak terbaca karena email beliau email kampus Malaysia. Dan kebetulan saat akhir 2008 pernah down. Saya telat 2 bulan dari target. Tapi bersyukur karena bisa melewatinya dengan baik.

  7. Barakallah fii umrik..semoga berkah usia, makin bahagia, sehat senantiasa, lancar rejekinya dan selalu muda…Aamiin
    Setuju, jangan pernah mengabaikan dimanapun Tuhan menempatkan kita untuk tumbuh…juga nasehat dari siapapun. Itu bisa jadi titik tolak kesuksesan yang nanti kita genggam di tangan
    Semangat selalu yaa
    Dan tentang Kinokuniya, pernah ke sana juga ga disapa satpamnya..hahaha

    1. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Matur nuwun sanget Diane, Mbakku …

      Doa yang sama untuk Mbak Dian, nggih …

      Wah, ternyata nasib kita mirip-mirip di Kinokuniya, hahaha …

  8. Yaa ampunnn jadi inget dulu pernah ikut SPMB ngga milih Sastra Indonesia eh malah ketrima di Sasind. Wkwkwk. Akhirnya belok ke Teknik Kimia karena merasa ngga yakin bisa lanjut Sasind. Bener lho, jangan mengabaikan ‘pilihan’ Tuhan, di mana kita akan bertumbuh..

  9. Dulu saya juga sempat mau ambil jurusan sastra, tepatnya sastra indonesia di salah satu top PTN. Btw hal yg berkesan itu ketika sidang skripsi sama pas penelitian, ada suka duka trsendiri

  10. aku baca langsung inget kakakn ya adek kosku, kakaknya anak sastra jepang di UNAS yang sekarang lagi skripsian, kemaren coba bantu-bantu ternyata sulit juga ya, apalagi cari data pendukungnya duuh berat

  11. Wah, happy birthday mbaa. Saya jadi inget masa masaa skripsi juga. Alhamdulillah Allah memberi kemudahan. Meskipun sebelumnya juga banyak drama. Jadi kangen belajar di kampus nih 🙂

  12. Alhamdulillah yah mba, bisa menyelesaikan dengan baik :). Aku jadi Inget juga masa2 sidang skripsi. Punya baby usia 3 bulan..duh ga sempet belajar deh.. pasrah aja. Bersyukur masih bisa dapet nilai A.

  13. Iya, urip mung sawang sinawang. Dikiranya kuliah di sastra itu santai-santai aja, yok sama sih. Sama-sama mikirin materi, nyari sumber, dan kadang-kadang materinya absurd juga.

  14. Tos Mbak sama-sama jurusan Sastra, wkwkw. Tapi aku Sastra Jepang, dan terbagi 3 lagi. Ada yang linguistik, sastra, dan sejarahnya. Pas skripsi karena kurang suka telaah novel, aku ambil linguistik. Lebih ke penelitian lapangan gitu.

  15. semoga usianya berkah ya kak. Selalu menebar kebaikan. Memotivasi. Skripsi punya ceritanya sendiri-sendiri ya. Aku pernah nangis di depan dosen pembimbing satu gara gara sudah mau ujian. Eh, dengan pembimbing 2 tidak dibolehin. Mana kontrakan sudah habis masanya. Setidaknya sebagai pembelajaran sekarang untuk tidak mempersulit orang lain dalam mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan kita.

  16. Wkwkw seru ya kalau nostalgia kita jaman kuliah. Mulai dari berjuang masuk univnya kemudian struggle di setiap semester dan ujian skripsi kaya babak final ya. Betul tuh dmn pun tidak masalah yg penting bagaimana kamu menjalani di tempat itu

  17. Erotomania itu mengerikan bangettt emang Mba Mel. Saya pernah tuh nonton film yg mengangkat cerita tentang ini. Judulnya kalo gak salah He Loves Me, He Loves Me Not. Saya juga suka loh nontonin film psychological thriller gitu. Suka nebak-nebak endingnya. Hihihi BTW Happy Birthday Mba Mel. Taurus juga tah? Tanggal lahirnya berapa mba? Jangan-jangan samaan dengan saya. Hihihi

  18. Jadi, jangan pernah ya mengabaikan di manapun Tuhan menempatkanmu untuk bertumbuh. Juga jangan pernah mengabaikan nasehat berharga dari siapapun itu dst.. Ugh.. Kata-katanya Mba.

    Kadang kata bijak yang kelaur dari hasil pengaman sendiri jauh lebih bermakna dan meresap pada orang lain.

    Btw seru juga nih kak, Enduring love, erotomania dan…..

    Hahaha ada-ada aja si Mba.

  19. aku ngalamin mbak, diawal semester rajin nya angudubilah makin kesini makin ngawur kuliahnya gegara aktif di organisasi dan ga bsa bagi waktu. Alhasil auto tobat di semester 7 an, takut tua di kampus.. ckckkck

  20. Pernah sy ke Kinokuniya ga dibukain pintu jg sama pak Satpam kyknya tuh pak satpam lagi bnyk pikiran wkwk..ceritanya menarik..pointnya selalu bersyukur dimana pun kita ditempatkan Tuhan ya kak..krna pasti ada makna dibalik semuanya..

  21. umur itu hanya sebuah angka ya mba, tenang aje jiwa mah tetap mudah doong haha. aku dulu lulus S1 juga umurnya 22 haha. tapi emang pasnya mah kalau 4 tahun segitu ya, antara 22-23 lulus tuh, abis itu kerja dan pertanyaan kapan nikah mulai ditanyakan wkwk, untung semua itu udah lewat.

  22. Astaga. Mak erot dibawa-bawa…

    Semoga makin berkah usianya ya Mbak. Dipikir-pikir emang bener sih. Kalau di awal kuliah kita terkesan main-main, maka di belakang hari akan sulit mengejarnya.

    Yuni ada kakak kelas yang bahkan hampir DO baru bisa ngelarin skripsinya.

  23. Waahhh selamat atas gelar sarjananya say, duuuh setiap orang punya kisah yang unik-unik ya saat skripsian. But, semua itu adalah proses untuk kita agar lebih kreatif dan dewasa

  24. semoga berkah usianya ya kak, segalanya udah didapatkan ya , Lulus SMA kapan kuliah, setelah kuliah kapan kerja, setelah kerja kapan nikah setelah nikah kapan punya anak setelah punya anak wah panjang bangett rentetan pertanyaan. Selalu sehat dan bahagia dalam menjalani hari ya kak.

  25. Noted : Jangan pernah mengabaikan di manapun Tuhan menempatkanmu untuk bertumbuh. Juga jangan pernah mengabaikan nasehat berharga dari siapapun itu.

  26. Wakakaka … itulah kayaknya terlalu sibuk kerja ke mana-mana semasa kuliah jadi nggak ngeh sama Mak Erot ya, disangka nama sindroma juga haha. Pantesan dosennya gak jawab lagi ya Mbak Mel, lha pertanyaannya cuma guyon. Hahaha.

  27. Mbak kalimat “jangan pernah ya mengabaikan di manapun Tuhan menempatkanmu untuk bertumbuh. Juga jangan pernah mengabaikan nasehat berharga dari siapapun itu.” saya izin kutip ke buku diary ya. Nyes banget bacanya. Ternyata setiap orang punya cerita unik dan kesan masing” saat sidang ya? Untung saya masih 6 semester lagi hehehe

  28. Emang perjuangan kuliah seru ya mbak ngejar2 dosen pembimbing belum Dekan yang desek2 biar cepat kelar. Eh pas sidang bikin rajin ke toilet dengan jantung yang begerak terus hahhahaaa seru, aku juga jadi baper juga deh ?

  29. Nggak pernah gaul sama mahasiswa Sastra, saya jadi paham sekarang kenapa tugas akhirnya mahasiswa Sastra selalu tentang review karya tulis. Dulu saya sangka, tugas akhirnya harus membuat novel lho..

  30. Pembimbing kedua baik hati banget, bisa jadi dia dulu juga anak kost, jadi tahu lah kondisi anak kost. Makanya saat jadi pembimbing, bimbingannya di rumah aja sambil menikmati camilan dan juga makan malam.

    Kalau jaman saya, mau bimbingan dari pagi udah di kampus, nungguin di ruang dosen sampai si Bapaknya longgar, kadang udah nunggu sampai sore, eh si Bapak sibuk terus

  31. QB World Books itu dulu tempat favorit kalau berburu buku. Sayang ya sudah tutup, padahal banyak buku bagus di sana.
    Kadang, orang yang tak kita kenal dan kita ngerasa apa banget sih nih orang, malah jadi pemecut semangat 🙂

  32. Hahaha.. meteor garden jaman saya akhir2 kuliah, Mba. Dah mau lulus. Memang kadang hidayah itu datang dr hal ga kita harapkan. Macam hidayah semangat belajar nih yg dr mas2 ga jelas penampilannya itu. ^_^

    1. Mas-mas nggak jelas yang wejangannya bagaikan sihir di telingaku, hahaha …

      Ada rahasia Allah ya anak kecil itu dipertemukan sama mas-mas mahasiswa, Mbak.

  33. Selamat menapaki usia 37 semoga selalu diberi keberkahan, kemudahan dalam segala hal..
    Kampusku dl juga bukan kampus impian.. malah yang paling aku ogah pilih. Tapi atas saran ortu akhirnya daftar disitu dan keterima..dan malah punya kesan banyaaaak banget.. sampe betah 7 tahun tinggal di kota itu.. kuliah lanjut kerja

  34. jawab, mak erot sudah meninggal
    erotomania masih banyak pengidapnya

    wah ditunggu selalu kritik sastra dari para sarjana sastra di Indonesia
    terlebih yang ipknya gede

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.