Membahas The World of the Married Couple dari Sisi yang Berbeda

17 Mei, diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Rasanya kepengen narsis di media sosial dengan mengunggah foto saya yang tengah membaca buku. Candid gitu. Pasti keren. Tapi malu banget. Bukan karena malu fotonya dilihat orang banyak, kan udah jadi kebutuhan *Eh. Tapi karena saya sudah lama nggak baca buku. Yaelah, demi konten masa iya mau sok gaya rajin baca buku? *NgomongSamaDiriSendiri

Lah, ngakunya penulis. Sering bilang kalau penulis itu mesti rajin baca. Ternyata nggak ada integritasnya, ih. Ngomong doang, dikerjain nggak. 

Eh, saya setiap hari membaca, loh. Membaca tulisan teman-teman di blog, itu membaca juga, bukan? Meski nggak dalam bentuk buku. Ini salah satu kegiatan yang menyenangkan. Makanya, kadang nggak sadar bisa tulis komentar panjaaang gitu. Saya memang menikmati aktivitas ini, sih. Banyak wawasan baru yang didapat.

Tapi jujur, saya yang biasanya membaca dengan santai, kerap harus membaca dengan level di bawah santai alias pelan-pelan banget. Kenapa, coba? Gue nggak mudeng bahasannyaaa! Wkwkwk … Contohnya apa? Drama Korea.

Mana pecinta drakor? Siap ngetawain atau ngguyur? Ngguyur aja deh boleh, tapi pakai duit yak, wkwkwk

Alasan Nggak Mudeng Soal Drama Korea

Mari kita bahas alasan saya nggak mudeng sama bahasan drama Korea ini. Drama yang disinyalir berhasil membuat hati para perempuan Indonesia termasuk emak-emak tertambat di sana. 

Dua alasan ini aja sih yang bikin saya nggak mudeng:

  1. Jarang banget nonton drakor. Jarang berarti pernah, dong. Pernah, dulu yang judulnya Full House. Silakan ketawa karena pasti pada tahu itu jaman tahu berapa. Setelahnya belum pernah nonton lagi sampai kemudian hasil suka membaca blog membuat saya teracuni buat nonton Sky Castle. Baru di episode 1 dan saya suka! Temanya bagus!
  2. Kesulitan mengingat nama. Entah kenapa, mengingat nama-nama orang Korea kok buat saya susah banget. Meski nonton Sky Castle sampai tamat, saya nggak bisa ingat siapa nama tokoh-tokohnya. Jangankan sekarang, dulu semasa masih dalam masa-masa nonton episode demi episode, saya tetap kesulitan. Pokoknya yang rambutnya pendek, yang orangnya kalem, yang anaknya pinter tapi galak, gitu aja cara saya mengingat, wkwkwk … Kakak saya yang penyuka BTS sebel banget saya diajak ngobrol nggak pernah nyambung. Biarin! Hahaha

Sudah, cuma dua itu sih alasannya. Jadi solusinya gimana supaya mudeng? Ya sering-sering nonton lah. Gitu kali, ya? Aduh, ini yang susah. Nonton drakor itu menyita waktu. Buat siapapun yang suka, saya yakin setuju. Apalagi kalau ceritanya bagus, sekali nonton langsung banyak episode karena kalau ditunggu minggu depannya rasa hati nggak nyaman. Eh, apa saya doang yang begini?

Berhubung prioritas saya ke pekerjaan dan anak-anak lebih besar, maka saya memutuskan sesekali aja deh nonton drakornya. Sesekali nonton biar nggak ndeso-ndeso amat.

The World of the Married Couple

Jadi, mari kita ngobrol soal drama Korea berjudul The World of the Married Couple. Lah, katanya nggak sempat, kok nonton juga?

Sama seperti Sky Castle, saya teracuni sama teman-teman di media sosial dan blogger. Apakah kalian yang tengah membaca adalah salah satunya? Silakan angkat tangan dan saya mau mengucapkan terima kasih. Eh, mau dikasih hadiah? Ya kagak. Terima kasih doang ih, wkwkwk

Di awal, orang-orang saling pro-kontra ya soal drama Korea yang satu ini. Ramai banget karena membahas isu pelakor. Drama Korea ini juga ramai menimbulkan kontroversi soal adegan dewasanya. Di luar judul ini, ada juga yang melarang nonton dengan alasan banyak kebiasaan di dalamnya yang nggak layak ditiru, yaitu minum wine. Ya memang sih, minum wine sepertinya sudah biasa di sana. Toh saya nggak minum juga, sih. Meskipun kalau melihat, rasanya cleguk, kok kayaknya enak. *Eh

 

Source: Kompas

Lalu apa yang membuat saya teracuni nonton drama ini? Di awal drama ini kental dengan pengkhianatan Lee Tae Oh yang berselingkuh dengan Yeo Da Kyung. Seperti yang seharusnya, Dr. Ji Soon Woo sebagai istri, tentu sedih, marah, dan kecewa. Tapi saya nggak berminat membahas kisah affair ini. Sampai pada akhirnya, pasangan Lee Tae Oh dan Ji Sun Woo bercerai. Lee Joon Young, putra mereka tinggal bersama ibunya.

Lee Joon Young sejak awal menentang perceraian tersebut. Maka, perceraian kedua orangtua sangat menyakitkan untuknya. Perasaan nggak dicintai pasti meruak. Hingga hubungan Lee Joon Young dan ibunya memburuk karena sering berselisih paham dan dia memilih tinggal bersama ayahnya. Tapi keadaan nggak menjadi lebih baik. Lee Tae Oh sempat emosi karena terpengaruh oleh Yeo Da Kyung dan menampar putranya. Yeo Da Kyung pun sebenarnya nggak sungguh-sungguh menyayangi Lee Joon Young. Anak tirinya itu hanya dijadikan alat agar suaminya nggak lagi berhubungan dengan mantan istrinya.

Mengalami kekerasan fisik dan psikis, Lee Joon Young memilih tinggal bersama orang yang paling membuatnya nyaman, sang ibu. 

 

Lee Joon Young dalam Kehidupan Nyata

Berbekal informasi sejak awal tulisan ini, pasti kalian setuju kalau saya sungguh nggak kompeten dalam me-review drama Korea. Nggak tahu apa-apa. Di awal tadi saya sudah terlalu banyak bercanda. Mungkin lucu, mungkin nggak. Tapi saya mencoba tertawa dulu sebelum hati ini berguncang dengan tulisan yang semakin ke bawah akan semakin serius.

Saya ingin membahas The World of the Married Couple ini dari sisi yang berbeda. Abaikan tentang perselingkuhan, saya lebih tertarik pada Joon Young, remaja laki-laki yang dalam drama tersebut terlihat begitu menyusahkan.

Di tengah-tengah beban pikiran dan pekerjaan sang ibu, Joon Young terus-menerus membuat masalah. Mulai dari melakukan pencurian di toko sampai barang-barang milik teman-temannya, juga melakukan pemukulan terhadap teman sekelasnya hingga harus menjalani perawatan serius. Parahnya, Joon Young terlihat nggak merasa bersalah atas kelakuannya itu. 

Salah siapa sebenarnya? Jawabannya satu. Dia nggak bahagia menjadi anak broken home.

Paling nggak, saya tahu berada di posisi Joon Young sama sekali nggak nyaman. Ini yang membuat saya tertarik membahas The World of the Married dari sisi berbeda.

 

Betapa Nggak Nyamannya Menjadi Anak Broken Home

Anak dari orangtua yang bercerai, kerap disebut sebagai anak broken home, kan? Seorang anak nggak pernah meminta dilahirkan ke dunia. Dia ada karena amanah Tuhan. Maka merawat, mendidik, membesarkan dengan penuh cinta, harus dilakukan. 

Dia hanya tulus mencintai dan tentunya ingin selalu dicintai. Dia bahkan nggak  pernah membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada kedua orangtuanya. Perceraian, misalnya. Merasa kehilangan, nggak dicintai, itu pasti.

 

Source: Pixabay

Joon Young yang marah pada ibunya, memilih menyembunyikan diri di kamar, enggan berteman, dan melakukan tindakan kriminal, adalah caranya meluapkan emosi karena kekecewaan. Dia kecewa kedua orangtuanya bercerai, merasa kehilangan, merasa nggak dicintai. 

Jadi, ini wajar? Buat saya, iya. Saat perceraian terjadi dan anak mulai berulah, jangan langsung menyalahkannya karena nyatanya orangtua memang sudah gagal menciptakan kebahagiaan di dalam keluarga

Jangan Memaksa Anak Memilih Ikut Orangtua yang Mana

Bagi saya, broken home bukan hanya kondisi saat kedua orangtua bercerai. Tapi lebih dari itu, broken home juga keadaan saat sebuah rumah nggak bisa memberikan kenyamanan kepada penghuninya. Sebuah rumah yang di dalamnya kedua orangtua terus-menerus berseteru, saling menyalahkan, saling menjelek-jelekkan pasangan, dan dilakukan di hadapan anak-anaknya. Itu sudah cukup membuat seorang anak menyandang status anak broken home

Hidup bersama keluarga yang utuh tapi nggak bahagia. Ada? Banyak.

Jadi, mana yang lebih baik, tinggal bersama keluarga yang utuh tapi di dalamnya terjadi keributan terus-menerus, atau menerima perpisahan kedua orangtua dan memilih tinggal bersama salah satunya secara bergantian?

Salah besar jika pertanyaan tersebut diajukan kepada seorang anak. Dia akan memilih tinggal di dalam keluarga yang utuh dan bahagia. Tapi, masalah yang terjadi pada dua orang dewasa kerapkali nggak bisa dipahami oleh anak-anak, kan? Jangan harap juga sebuah perceraian bisa menghasilkan kata sepakat bahwa, “Anak kita seminggu tinggal sama kamu, seminggu tinggal sama aku.”

 

Source: Pexels

Mungkin bisa terjadi pada beberapa orang, tapi saya nggak. Berebut hak asuh anak, malah itu yang terjadi. Termasuk saya yang waktu itu ketakutan setengah mati karena diancam. Bersyukurnya, saat itu terjadi, anak saya belum sebesar Joon Young yang dengan mudah bisa berontak.

Saya masih bisa berargumen anak-anak masih di bawah umur dan pengasuhan harus ada pada ibunya. Saya punya dasar kuat, saya bekerja, nggak selingkuh, nggak mengonsumsi narkoba, nggak melakukan tindakan kriminal. 

Meskipun alasan ibu bekerja suatu saat bisa jadi boomerang di pengadilan. “Kalau ibunya kerja, gimana bisa mengasuh anak?”

Maka, adalah hal yang wajar jika Joon Young berontak. Dia nggak bisa memilih ikut bersama ibu atau ayahnya. Dia marah melihat ibunya bersikukuh ingin dirinya tinggal bersamanya padahal selama ini ibunya itu terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga dia lebih dekat dengan ayahnya. Dia juga sulit memilih tinggal bersama ayahnya, orang yang selama ini lebih dekat dengannya, tapi mengkhianati mereka dengan memilih perempuan lain. 

Bingung kan ya, kalau jadi Joon Young? Jangan pernah meminta seorang anak broken home memilih tinggal dengan ibu atau ayahnya. Keduanya sama-sama dicintainya, keduanya sama-sama dia harapkan juga mencintainya. Memaksa memilih sama saja dengan memaksanya melepaskan bagian dari hidupnya. Apa yang kita rasakan saat sebagian cinta kita pergi? Hidup dengan separuh nyawa?

 

Membutuhkan Figur Orangtua yang Hangat dan Diakui Keberadaannya

Apa sih yang akan terjadi saat hati yang hancur kita pukul dengan benda keras? Semakin hancur, kan? Begitu pula pada anak broken home. Hatinya sudah hancur, maka yang dibutuhkannya adalah kehangatan, bukan kemarahan. Selelah dan setertekan apapun kondisi orangtua. Menghadapi kehidupan sesaat pasca perceraian memang berat. Tapi nggak bisa menjadi alasan memperlakukan anak dengan keras karena merasa anak itu terlalu banyak menuntut dan nggak bisa memahami keadaan orangtuanya. 

Permintaan maaf, pelukan hangat, bicara dari hati ke hati, justru lebih diperlukan. Saya yang terlewat atau memang nggak ada, saya nggak melihat adegan ini di antara Ji Soon Woo dan Joon Young maupun antara Lee Tae Oh dan Joon Young. Hubungan antara orangtua dan anak yang begitu kaku. Percakapan Ji Soon Woo dan Joon Young hanya berkisar pada belajar apa, ikut les apa, semua nggak ada yang melibatkan perasaan. Hanya di bagian-bagian akhir Ji Soon Woo terlihat memeluk Joon Young.

Semarah apapun seorang anak broken home pada keputusan kedua orangtuanya, pelukan dan permintaan maaf perlahan akan menyadarkan bahwa dia nggak kehilangan cinta.

Anak-anak di rumah bisa merasakan pelukan saya puluhan kali dalam sehari. Sulung tahun ini akan berusia 11 tahun. Saya sudah mulai mengajaknya berbicara secara lebih serius dibandingkan adiknya. Nggak segan meminta maaf karena nggak bisa memberikan dia kehidupan yang sama seperti teman-temannya. Mulai mengajak dia bertukar pikiran, melibatkan dia dalam beberapa keputusan yang akan saya buat. Saya berharap ini membuatnya merasa keberadaannya saya anggap begitu penting. 

Sehancur apapun hati seorang anak broken home, dia akan merasa dihargai saat keberadaannya diakui.

Menonton The World of The Married Couple

Ada episode-episode yang membuat saya menonton tanpa berkedip. Tentunya semua yang berkaitan dengan anak. Jangankan Joon Young yang sudah remaja, putra saya pun pernah mengalami tekanan karena dia berbeda dari teman-temannya. Tentu saya berharap, anak-anak akan menjadi jauh lebih baik dari Joon Young. 

Sejak selesai menulis Tujuh (7) Hal yang Harus Menjadi Perhatian Single Mom, saya ingin sekali menuliskan tulisan yang sama dari sudut pandang seorang anak yang tumbuh dari orangtua yang bercerai. Tapi belum menemukan saat yang tepat karena itu artinya saya harus menuliskan dari sudut pandang mereka, bukan saya. Sulit menemukan waktu yang tepat karena nggak mungkin juga saya mewawancarai mereka sekarang ini.

Lantas, atas dasar apa saya bisa menuliskan ini? Kan, seharusnya apa yang diinginkan seorang anak broken heart keluar dari bibir anak-anak saya, bukan saya. 

Mengikuti drama The World of The Married Couple, menyaksikan adegan pertengkaran Ji Soon Woo dan Lee Tae Oh, mulai dari pertengkaran mulut hingga kekerasan fisik, saya seperti melihat seorang anak berdiri di sana. Anak itu adalah saya. Bukan, saya bukan anak dari orangtua yang bercerai. Tapi seperti yang saya bilang, broken home bukan hanya soal bercerai tidaknya orangtua. Ini soal hancurnya sebuah rumah di hati anak-anak karena nggak ada kebahagiaan di dalamnya.

Jadi, tulisan ini lahir dari The World of The Married Couple, hubungan saya dan anak-anak, dan tentang saya sebagai anak broken home. Ya, kenyataannya memang saya yang sudah seumur ini adalah anak broken home juga, kok. Kalau nggak menonton The World of the Married Couple, mungkin saya nggak sadar atau nggak mau mengakui. 

Suatu saat nanti, saya berharap bisa menuliskan sebuah buku tentang perjalanan single mom yang berhasil melesatkan anak-anaknya menjadi bintang dan anak-anak saya bisa menuliskan buku tentang anak-anak broken home yang telah melesat menjadi great people.  Mohon doanya, ya.

Ah iya, kok saya hapal nama-nama tokoh dalam drama ini? Berulangkali nyontek ke Google tahu nggak, sih? Wkwkwk

Jaga keluarga kalian, jaga hati anak-anak kalian. Apa yang terjadi sejak anak-anak kecil, menjadi remaja, dan mendewasa, bisa jadi akan mempengaruhi keputusan mereka di masa depan. Itu saja sih pesan saya. 

 

Salam sayang,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

28 Comments

  • Nurhilmiyah May 22, 2020 at 1:29 pm Reply

    Semoga diijabah keinginannya pingin menerbitkan buku single mom sukses melesatkan anak2nya ya Mbak. Saya terharu, pastinya Mbak Melina orangnya gigih dan pantang menyerah dalam menghadapi kenyataan hidup. Barakallah ya Mbak semoga Allah memberkahi selalu. Amin

    • melinase May 22, 2020 at 2:18 pm Reply

      Aamiin. Terima kasih banyak untuk doanya, Mbakku … Terharu akuuu …

      Banyak cita-cita yang pengen diwujudkan. Jadi harus gigih. Meskipun kadang loyo juga karena lelah, hahaha …

  • Farida Pane May 22, 2020 at 3:20 pm Reply

    Dalam setiap perceraian, yang paling merasa sakitnya memang anak. Terima kasih sudah mengingatkan, ya

    • melinase May 30, 2020 at 3:51 am Reply

      Betul, Mbak. Makanya, saat harus terjadi, anak-anak harus jadi perhatian utama. Sama-sama, yaaa.

  • Gina May 22, 2020 at 4:22 pm Reply

    Sama mbak, aku pun sering masalah mengingat nama-nama pemainnya. Pada susah-susah namanya, hahaha.

    • melinase May 30, 2020 at 3:51 am Reply

      Aih senangnya punya teman, hahahaha …

  • Mia May 22, 2020 at 9:24 pm Reply

    saya nggak nonton secara rutin drakor the world of the married couple, jadi nggak begitu ngeh ceritanya gimana hehe. Dengan baca yang mbak Melina tulis di sini aku jadi tau deh gimana nasib anak mereka yang akhirnya jadi anak broken home. So sad…

    • melinase May 30, 2020 at 3:53 am Reply

      Semoga bisa menjadi pelajaran bagi semua orangtua di dunia ini ya, Mbak.

  • Maria G Soemitro May 23, 2020 at 12:40 am Reply

    Saya ngalamin Mbak,
    Banyak ributnya daripada damainya, membuat saya harus memilih, bercerai atau terus
    Saya memilih terus dengan harapan akan membaik
    Eh malah memburuk, dan membuka kesempatan mereka meracuni anak anak agar membenci ibunya

    • melinase May 30, 2020 at 3:56 am Reply

      Peluk, Ambuuu … Perjuangan seorang ibu ya, Ambu … Kehidupan pernikahan seperti itu sih, ada yang beruntung mendapatkan kebahagiaan. Ada pula yang bahagia hidup sendiri saja. Apapun itu, semoga kita tetap bisa berdamai dengan keadaan. InsyaAllah kesabaran akan berbuah baik, ya.

  • Dyah ummu AuRa May 23, 2020 at 6:19 am Reply

    Aku suka nonton drama korea tapi ngikutin jalan ceritanya saja kalau nama mereka udah bablas aja. Hehehe… Btw emang dari perceriannya itu yang paling menjadi korban adalah anak-anak. AKu juga nonton drakor ini lebih konsen ke anaknya sih.

    • melinase May 30, 2020 at 3:57 am Reply

      Wkwkwk … Susah kan ya namanya? Toss dong, ah … Hihihi …

      Iya, soal pelakor mah biasa ya. Tapi kalau membahas anak, duh hati jadi berdesir-desir.

  • Icha Marina Elliza May 23, 2020 at 6:41 am Reply

    Semoga terwujud kak me ❤️
    Ya Allah kita punya banyak kesamaan soal drama Korea. Yang pertama saya juga gak sempat. Yang kedua saya juga sulit ngapal nama mereka.

    Nah ada lagi kekurangan saya. Muka orang Korea itu kok mirip-mirip ya kak. Hahaha
    Kadang saya salah

    • melinase May 30, 2020 at 3:58 am Reply

      Aih, kamu mah sama-samain aja, hahahaha …

      Loh ya makanya itu, lelaki Korea suka bilang orang Indonesia cantik dan wajahnya bisa beda-beda. Orang sana aja bilang gitu, hihihi …

  • Mutia Ramadhani May 23, 2020 at 7:11 am Reply

    Jangan paksa anak disuruh memilih ikut orang tua yang mana. Saya pernah masih usia 7 tahun disuruh milih, ikut ibu atau ikut ayah sekiranya keduanya harus berpisah. Yap, waktu saya 7 tahun, kedua orang tua saya berencana bercerai. Qadarullah, mediasi keluarga antara kakak adik ayah dengan kakak adik ibu saya, plus nenek kakek saya dari kedua belah pihak yang menyayangi mereka dan menyayangi kami, cucu-cucunya, alhamdulillah perceraian itu tidak terjadi.

    Anak itu bukan properti yg bisa dibagi-bagi. Salah kaprah jika anak disuruh memilih ikut ayah atau ibunya. Sama aja secara halus kita menyuruh anak kita bunuh diri pelan-pelan. Bermanfaat sekali Mba Melina. Semoga tetap semangat yaaaa.

    • melinase May 30, 2020 at 3:59 am Reply

      MasyaAllah … Keluarga besar turut peduli ya, Uni. Di keluargaku ini individual banget, hahaha …

      Doakan ya, Uni. InsyaAllah tetap semangat menjalani kehidupan bareng anak-anak.

  • Ida Tahmidah May 23, 2020 at 9:06 am Reply

    Wah semoga niat membuat bukunya bisa terealisir ya Mba untuk jadi inspirasi bagi orang2 yang memang membutuhkannya…. Banyak sepertinya yg mengalami kasus penceraian dan sulit untuk bangkit baik sebagai orangtua ataupun anak… Mba keren nih….

    • melinase May 30, 2020 at 4:00 am Reply

      MasyaAllah … Kadang kita jadi kuat karena keadaan, Kak, hihihi …

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doanya, yaaa.

  • Dian May 23, 2020 at 1:04 pm Reply

    Tetap semangat ya mbak..
    Semoga semakin produktif dalam berkarya

    • melinase May 30, 2020 at 4:02 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. InsyaAllah, Mbak. Terima kasih doa dan dukungannya.

  • Meilia Wuryantati May 23, 2020 at 1:18 pm Reply

    2 alasannya ga mudeng Drakor sama kayak aku nih hehehe. Semoga terwujud yah mba bisa menuliskan buku single Moms aamiin ? Barakallahu

    • melinase May 30, 2020 at 4:02 am Reply

      Ya ampun ternyata banyak ya yang sama, hahaha … Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Terima kasih doanya ya, Mbak …

  • Faradila Putri May 23, 2020 at 1:56 pm Reply

    Aku nonton ini sama suami loh hehehe. Soalnya kayanya banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari drakor fenomenal ini.

    • melinase May 30, 2020 at 4:04 am Reply

      Nah, bagus nih nonton sama pasangan. Bisa saling peluk dan menguatkan bahwa pernikahan penontonnya harus lebih baik dari yang ditonton, kan? Karena tahu banget, imbasnya ke anak luar biasa buruk.

  • Anggi R Dewi May 25, 2020 at 10:19 pm Reply

    Semoga segera tercapai nerbitkan bukunya ya mbaak semangaaat 😀

    • melinase May 30, 2020 at 4:09 am Reply

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Makasih ya disemangatin, hihihi …

  • Susindra June 8, 2020 at 10:03 am Reply

    2 alasan tidak paham drakor, saya juga mengalami.
    Dan saya punya alasan mengapa tak pernah menyentuh film ini meski banyak sekali rekomendasi bagus.
    Saya kira tak ada bagusnya menonton kisah di balik perselingkuhan meski alasannya agar jadi orang yang lebih baik. Tapi itu sih pendapat saya.

    • melinase June 8, 2020 at 10:12 am Reply

      Kembali ke selera masing-masing ya, Mbak. Pada dasarnya semua karya memang akan kembali ke selera yang akan menikmati.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.