Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Ini Dia Fakta-Fakta Tentang Saham di Pasar Modal

Ini Dia Fakta-Fakta Tentang Saham di Pasar Modal

Apa sih yang terbersit di pikiran teman-teman saat mendengar kata saham? 

Sejak mempelajari saham pertama kalinya di tahun 2014 lalu, saya tahu banget berbagai persepsi tentang saham banyak beredar di masyarakat.

Ada yang bilang saham itu ribet, susah, harganya mahal, hanya untuk orang-orang pintar lulusan Fakultas Ekonomi, pasti bikin rugi, dan sebagainya.

Faktanya, banyak sekali orang-orang yang sebenarnya nggak tahu apa dan bagaimana itu saham. Yuk, saya ceritakan dulu apa dan bagaimana saham secara garis besar.

Saham adalah Kepemilikan di dalam Perusahaan

Sebagai salah satu instrument investasi di pasar modal selain reksadana, obligasi, dan derivatif, saham merupakan kepemilikan kita di dalam perusahaan. Kepemilikan saham ini berkaitan dengan permodalan perusahaan pada saat perusahaan tersebut berdiri. Bisa bertambah seiring berjalannya waktu. Kan bisa saja pemegang saham mau menambahkan permodalan dalam rangka ekspansi bisnis, misalnya.

Buat teman-teman yang berstatus sebagai karyawan perusahaan swasta, sudah pasti perusahaan tersebut juga memiliki saham. Pemiliknya disebut sebagai pemegang saham. Untuk perusahaan berskala swasta nasional, kepemilikan saham biasanya dimiliki oleh salah satu atau lebih Dewan Direksi dan Komisaris. Biasanya sih paling banyak hanya ada tiga (3) pemegang saham saja.

Bagi teman-teman yang bekerja di perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing), kepemilikan saham biasanya dibagi dua, maksimal 51% dimiliki oleh pihak perusahaan asing dan sisanya dimiliki oleh perusahaan lokal. Eh, dulu semasa saya bekerja sih persentasenya segini, ya. Nggak tahu sekarang ada perubahan atau nggak.

 

Harga Saham Dihitung Per Lembar

Kepemilikan saham atau permodalan dituangkan di dalam Akta Pendirian atau Akta Perubahan Anggaran Dasar atau Pernyataan Keputusan Pemegang Saham. Di sana akan tertuang, harga saham perusahaan per lembar itu berapa dan masing-masing pemegang saham mempunyai berapa lembar saham. 

Sejauh ini, saya belum menemukan artikel atau sumber berita terpercaya yang memuat informasi alasan saham dihitung per lembar. 

Mata uang yang digunakan tergantung jenis perusahaannya, ya. Untuk perusahaan swasta nasional menggunakan mata uang Rupiah dan PMA menggunakan Dolar Amerika Serikat. 

Saham Bisa Diperjualbelikan

Kalau pemegang saham sudah nggak ingin lagi terlibat di dalam suatu usaha atau memang tengah membutuhkan dana, boleh-boleh aja mereka menjual saham yang dimiliki. 

Misalnya harga saham per lembarnya Rp 1 juta, boleh-boleh juga pemegang saham tersebut menjual sahamnya kepada pihak lain seharga Rp 2 juta per lembar. Namanya juga jual beli, kalau kedua pihak setuju ya transaksi bisa dijalankan. 

Saya coba buatkan ilustrasi kepemilikan saham di sebuah perusahaan, ya.

Jadi setelah dijual, jumlah lembaran saham perusahaan tersebut nggak akan berubah, tetap sama sebanyak 10.000 lembar. Tapi nilai sahamnya akan berubah menjadi Rp 2 milyar.

Dari transaksi jual beli saham ini, Pak Sehat sebagai pemegang saham sebelumnya memperoleh keuntungan sebesar Rp 300 juta atau 100% dari hasil penjualan sahamnya ke Ibu Sehati.

Semoga bisa dipahami, ya.

Saham di Pasar Modal Indonesia

Nah, kalau saham yang biasa didengung-dengungkan di pasar modal Indonesia itu gimana, sih? Sama nggak dengan penjelasan garis besar saham di atas tadi?

Kurang lebih sama, tapi ada beberapa perbedaan juga, ya. Yuk, sekarang saya ceritakan gimana sih fakta-fakta tentang saham di pasar modal itu.

Kepemilikan

Kalau kepemilikan saham secara garis besar tadi dimiliki satu atau lebih pemegang saham tetapi umumnya hanya tiga orang saja, nah saham di pasar modal berbeda. Kita bedakan dulu bahwa ada yang namanya private company dan public company

Kalau teman-teman bekerja di private company, merasa nyaman bekerja di sana dan ingin menjadi salah satu pemegang saham, bisa nggak? 

Jawabannya, nggak. Kita nggak bisa menjadi pemegang saham di private company.

Jadi, di perusahaan seperti apa dong kita bisa menjadi pemegang saham? 

Coba, siapa di sini yang nggak punya rekening tabungan? Pasti punya semua, kan? Minimal menjadi nasabah di satu bank, deh.

Coba deh, perhatikan gimana penulisan nama perusahaan di bank tersebut. Misalnya saja: PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk.

 

Nah, ‘Tbk’ tersebut berarti terbuka alias public company. Di perusahaan seperti inilah teman-teman bisa menjadi pemegang saham. Silakan diingat-ingat lagi nama-nama perusahaan yang ada kode ‘Tbk’ di belakangnya. Banyaaak banget. 

Saya pernah tahu ada beberapa perusahaan yang berstatus ‘Tbk’ tapi ternyata nggak terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Lebih mudahnya, teman-teman bisa cek di situs resmi Bursa Efek Indonesia di idx.co.id, ya.

Kok bisa sih, kita menjadi pemegang saham di sana? 

Jadi, karena statusnya adalah public company, maka kepemilikannya boleh dimiliki oleh masyarakat. Tentunya ada pemegang saham mayoritas atau utama. Setiap perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) akan menentukan sekian persen saham yang boleh dimiliki oleh masyarakat. Kesepakatan dalam RUPS ini akan disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia sebelum perusahaan tersebut melantai di bursa.

Harga Saham

Banyak banget yang bilang saham itu adalah areanya orang-orang berduit. Ya memang sih, nggak punya duit nggak akan bisa beli saham. Sama halnya, nggak punya duit nggak bisa beli lipstik. Sama, kan?

Loh, kok saham disamakan dengan lipstik?

Iya, karena nyatanya harga saham itu nggak semahal yang dikira banyak orang. 

Harga saham termurah ada di angka Rp 50 per lembar. Tertinggi saat ini (per 5 Juni 2020) ada di angka Rp 48.400 per lembar. Jadi, harga saham di setiap perusahaan itu berbeda-beda, ya. Tergantung apa, sih? Ya tergantung perusahaan tersebut maunya menjual saham di harga berapa per lembarnya. 

Anak-anak di rumah ada yang doyan makan sosis? Sebagai salah satu industri pakan ternak dan olahan ayam berskala besar, PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk (produsen sosis So Good), harga saham per 5 Juni 2020 adalah Rp 1.245 per lembar. Bayangkan, harga sahamnya cuma seribuan, loh. Mahal gimana, coba?

Terus, siapa di sini yang suka traveling? Maskapai Garuda Indonesia yang tiketnya tergolong mahal itu, berapa coba harga sahamnya? Yup, pada sesi penutupan bursa di tanggal 5 Juni 2020 lalu, harganya masih di kisaran Rp 276 per lembar.

Tapi, sama seperti kalau kita mau belanja sayur bayam yang nggak boleh beli per batang tapi harus per ikat, beli saham juga begitu. Minimal pembelian adalah 1 lot yang setara dengan 100 lembar saham. Jadi kalau teman-teman mau mulai berinvestasi di PT. Garuda Indonesia Tbk, minimal mempunyai dana Rp 276 x 1 lot x 100 lembar = Rp 27.600. Masih terjangkau? Banget. 

Sistem Digital

Buat teman-teman yang bertanya, terus setelah membeli saham, berarti dapat lembaran-lembaran saham, ya?

Balik lagi, teman-teman yang bekerja di private company, kepemilikan saham di sana juga nggak ada lembaran fisiknya. Melainkan hanya tertuang di dalam Akta Pendirian atau Akta Perubahan Anggaran atau Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham.

Dulunya, saham itu diberi nomor seri dan setiap pembelian ada sertifikatnya. Sekarang, teman-teman bisa melihat daftar saham yang dimiliki lewat genggaman saja alias via aplikasi. Semua transaksi dilakukan secara online dan seluruh laporan transaksi akan dikirimkan melalui email.

Sejarah perkembangan transaksi saham sejak manual menjadi scriptless dan digital pernah saya tulis ya, Mengenal Pasar Modal Indonesia.

Konvensional dan Syariah

Bursa Efek Indonesia membagi jenis saham menjadi dua, yakni konvensional dan syariah. 

Saat ini, ada lebih dari 600 perusahaan yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Lebih dari 400 di antaranya masuk ke dalam perusahaan syariah. 

Teman-teman bisa melihat daftarnya di internet dengan menggunakan kata kunci ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia). Daftar ini juga bisa teman-teman peroleh di situs resmi Bursa Efek Indonesia.

Bagi teman-teman yang memerlukan informasi syar’i terkait transaksi di pasar modal, ada 14 fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia yang bisa dijadikan referensi, salah satunya adalah Fatwa No.40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal. 

Tiga (3) poin penting terkait isi dari fatwa tersebut, adalah:

1. Membeli saham di luar perusahaan yang bergerak di industri perbankan, rokok, dan minuman beralkohol.

2. Membeli saham dengan dana milik sendiri atau nggak menggunakan dana utang.

3. Menjual saham yang memang sudah dimiliki, bukan menjual saham yang belum dibeli. Ini agak rumit. Di luar negeri ada transaksi seperti ini, tapi di dalam negeri dilarang. Kalau bingung, teman-teman bisa membayangkan seperti menjual buah mangga dengan nominal yang sudah ditetapkan padahal bunganya saja baru saja rumbuh. Padahal, belum tentu mangga berbuah baik dengan hasil yang baik pula. Kurang lebih begitu.

Kewajiban Pajak

Setiap kali melakukan transaksi jual beli saham, teman-teman akan langsung dikenai pajak. Laporan transaksi termasuk pajak akan dikirimkan melalui email setiap sore harinya apabila di hari itu ada transaksi jual dan/atau beli. 

Jadi, teman-teman nggak perlu khawatir harus membayarkan pajak kembali di awal tahun. Cukup sampaikan laporannya saja, ya.

Untung laporan SPT, teman-teman juga wajib mencantumkan saham yang dimiliki sampai dengan akhir tahun sebelumnya karena ini tercatat sebagai aset, sama seperti saat teman-teman mencatatkan kepemilikan rumah, tanah, kendaraan bermotor, perhiasan, dan lain-lain.

Biaya-Biaya

Selain membutuhkan dana untuk bertransaksi, teman-teman juga akan dikenai biaya transaksi. Loh, biaya apa ini?

Jadi, teman-teman hanya bisa bertransaksi melalui perusahaan sekuritas. Nah, biaya transaksi ini dikenakan oleh perusahaan tersebut kepada nasabahnya. Kenapa sih kok nggak gratis aja?

Bayangkan deh, teman-teman difasilitasi dengan aplikasi dan situs yang membantu dalam memantau pergerakan harga saham. Sekuritas juga yang akan melakukan pemeliharaan akun yang kita miliki, dalam hal ini mengirimkan laporan transaksi, pemberitahuan pembagian deviden, pemberitahuan corporate action, dan lain-lain.

Berbeda dari rekening tabungan, rekening investor tempat kita meletakkan dana – nggak dikenai biaya administrasi bulanan ataupun pemberian bunga. Biaya yang timbul hanya murni biaya transaksi beli dan/atau jual saja. Nggak ada transaksi, nggak ada biaya yang timbul. Biaya transaksi ini juga cukup rendah, kok. Bervariasi antara 0,2-0,3% sesuai kebijakan perusahaan sekuritas tempat kita membuka rekening.

Payung Hukum

Dari sisi hukum, transaksi saham aman karena dilindungi oleh negara, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk berinvestasi dalam bidang apapun, pastikan teman-teman tahu bahwa lembaga tempat teman-teman terlibat di dalamnya berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan ini, ya. Ini untuk menghindarkan teman-teman dari berbagai macam bentuk penipuan yang kerap disebut dengan investasi bodong itu.

Setiap transaksi akan berada di bawah pengawasan dan instruksi dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Kalau kita menyewa lapak di sebuah mall, Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa dibilang sebagai pemilik dan pengelola mall tersebut. Waktu dan ketentuan transaksi diatur oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di dalamnya, juga ada keterlibatan perusahaan sekuritas, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan bank kustodian.  

Jadi, bukan saatnya lagi ya teman-teman merasa bahwa transaksi saham di pasar modal hanya untuk golongan tertentu saja. Semua bisa, semua boleh, sepanjang sudah mempunyai e-KTP dan rekening tabungan. Tahu nggak, investor saham yang saya kenal tuh bervariasi banget, mulai dari orang-orang dari jajaran manajemen, dokter, perawat, dosen, guru, mahasiswa, profesional, petani, pedagang sayur, peternak, mahasiswa, dan pelajar pun ada.

Okay, sekian ya cerita yang bisa saya sampaikan mengenai fakta-fakta saham. Kapan-kapan, saya cerita lagi lebih lanjut bagaimana kalau mau bertransaksi, potensi dan resiko, serta hal-hal apa saja yang harus dan nggak boleh dilakukan saat bertransaksi saham.

Semoga bermanfaat, ya.

Salam,

Melina Sekarsari

127 comments found

  1. Ngomongin soal saham aku lumayan ngerti mbak, pernah belajar dan baca tentang saham. Cuma sampai sekarang aku bingung gimana cara beli sahamnya, sebenarnya gak bingung1 bingung amat sih ha..ha… Karena udah tahu kudu beli di mana sahamnya. Yang jadi persoalan terbesar adalah niat untuk berinvestasi sahamnya ini yg belum berani. Takut perusahaan yang dibeli sahamnya tiba tiba bangkrut ha..ha…
    Kalau investasi aku lebih milih investasi LM atau tanah, cuma ya itu modalnya kudu gede juga.

    1. Enaknya beli saham ya karena bisa menyicil sedikit demi sedikit, Mas, beda dari nabung properti ya. Nanti aku ulas lagi ya langkah awal kalau mau transaksi saham itu gimana.

  2. Wah saya kira harga saham mahal banget ternyata ada yang harganya 50 rupiah. Kalau begini sebenarnya cukup terjangkau ya.. Tetapi untuk berinvestasi di bursa saham memang harus benar-benar paham tentang pasar modal ini ya supaya tidak mengalami kerugian. Makasih artikelnya sangat bermanfaat sekali…

  3. Baca ini inget pelajaran zaman SMK dan kuliah. Xixixi.. tentang saham. Jika mau terjun ke dunia ini, meski banyak belajar dulu. Karena jika kita tidak pas membeli saham, uang kita bisa melayang saja.

  4. Masa pandemi ini memang harga saham lagi diobral, Mba soalnya mereka benar2 lagi collaps. Biaya produksi tetap tapi yang memproduksi ga ada org. Makanya yg mau main saham memang hr skrg belinya.

    1. Iyes, betul. Tapi pekan ini trend-nya sudah kembali bagus. Buat yang investasi, bagus kalau beli dari sekarang. Sebenarnya ada faktor lain sih yang membuat harga saham jadi murah, bukan karena kondisi perusahaan yang kolaps :).

      1. Kalo di dunia saham, bad news is good news buat kita. Ekonomi Indonesia itu selama 10 tahun terakhir itu selalu bagus. Gak pernah cerita saham bisa seanjlok sekolaps sekarang. Jadi, sesungguhnya sekarang tuh momen paling tepat kalo mau invest di saham. Beli saham waktu harganya masih murah. Nanti raup keuntungan besar kemudian.

        1. Bad news is a good news, bisa jadi seperti ini kalau kita sudah tahu banget ada apa di balik naik atau turunnya harga saham.

          Iya, harga saham di awal tahun memang turun drastis. Tapi secara fundamental masih lebih bagus saat ini. Jadi, tetap terbuka peluang investasi mumpung harganya masih pada murah.

  5. Bagus banget, kak…tulisan mengenai saham dan ini membuat kita melek akan saham dan pasar modal.
    Dulu,
    Bapak rahimahullah juga mempelajari ini dan sempat “bermain” di dalamnya.

    Sayang,
    karena ada beberapa hal…jadi malah merugi dan akhirnya disudahi saja.

    Namun kalau terus belajar, aku yakin…banyak yang sukses.

  6. Manteb banget sih penjelasannya lengkap. Nyaman juga di bacanya berasa di ajak face to face hahaha makasih infonya mba

  7. Saya sempat main saham 2013-2017, jadi investor kecil-kecilan. Waktu 2017 itu saya jual semua untuk beli rumah. Sebetulnya sayang sih, sayaaaang banget. Kalo kita main saham, itu orientasinya harus jangka panjang. Kalo cuma pengen invest 1-2 tahun doang atau kurang dari 1 tahun, ya jangan main saham, main reksadana aja, misalnya reksadana pasar uang. Hehehe. Istilahnya, kalo udah naruh duit di saham, abis invest, ya lupain. Ujug-ujug udah 5 tahun atau lebih, baru deh diingat lagi. Tahu-tahu udah gede aja. Saya dulu lumayan untungnya, bisa 2x lipat dari keuntungan deposito. Saya beli waktu itu IHSG masih di bawah 4.000, sekarang udah di atas 5.000 aja ya, itu pun karena Covid-19. Kalo gak ada Covid, IHSG kita bisa 6.000-an tuh.

    1. Wuih … Sempat lama juga dong jadi investornya. Sekarang masih, nggak? Hihihi … Waktunya bagus banget loh buat serok dari bawah.

      Investasi saham memang indikatornya banyak. Cuan puluhan persen dalam hitungan hari, minggu atau bulan pun bisa. Sekarang ini aja, dua minggu udah bisa cuan puluhan persen. Makanya, aku selalu bilang sama teman-teman yang mau coba. Pelan-pelan aja, jangan buru-buru. Pelajari, baru terjun. Sebab ada banyak hal yang bisa membuat harga saham naik atau turun. Biar nggak kaget, kan?

  8. Semakin tercerahkan setelah baca ini. Jadi saham itu berupa kepemilikan di suatu perusahaan. Dihitung per lembar, ya. Saya tahunya dulu bursa saham aja yang bisa diperjualbelikan.

  9. Daku pernah sempat ikutan seminar pelatihan saham syariah di BEJ, asli sih belajar saat itu cuma bisa bengong karena nggak paham, tapi ada keinginan pengen punya saham juga, hehe, buat tabungan gitu mbak. Walaupun sampai sekarang belum kesampaian juga, haha

  10. WAh, ilmu baru lagi nih. Ternyata ada ciri spesifik kalau mau cari perusahaan yang sahamnya dijual secara terbuka. Jadi saat lihat suatu produk dan kayaknya laris sekali, bisa dicari informasi harga sahamnya dan di mana belinya.

  11. Apa yang mbak tulis benar jadi mengesankan bahwa saham nggak serumit itu. Saya mulai beli saham awal 2019. Merasakan untung namun juga ruginya. Tapi tetap senang berinvest di saham ?

  12. Ngomongin saham, jadi ingat dulu suami pernah melamar kerja yang berhubungan dengan saham gitu. Sayangnya kok nggak sreg, karena memang nggak begitu paham. Akhirnya melamar di tempat lain

  13. Itu saham Garuda lagi anjlok ya, Mel? Cuma Rp 276 per batang eh per lembar. Gara-gara bayam nih, jadi aja per batang 😀 Aku pribadi bukan tipe high risk taker. Pernah nyoba invest di saham (via sebuah bank) trus syok dooong pas saham merosot 😀 Akhirnya balik lagi ke invest yang sesuai karakter moderate 😀

  14. Untuk mengakses suatu perusahaan benera Tbk bisa langsung ke website resminya BEI ya Mbak. Btw zaman saya kuliah dulu namanya BEJ tp krn ada insiden dulu itu sekarang jd BEI ya, nice share Mbak Melina. Kebetulan sy juga mengampu mata kuliah Hukum Dagang dan Bisnis di setiap semester genap, salah satu topik bahasannya ttg pasar modal ini.

  15. Saya awam banget soal saham, obligasi, dan invest-invest macam ini. Masih invest pakai cara lama, beli tanah, kebun, trus ditanami pohon kayu. Minim perawatan, 5 tahun panen kayu dan harga pasti naik. Mungkin karena ngga benar-benar belajar, jadi karena awam ya ngga berani coba invest saham.

  16. aku tuh waktu masih kerja pernah nih ikutan saham begini, yang jangka menengah. ada yang ngurusin sih jadi saya bayar doang. tapi ya karena enggak terlalu paham akhirnya ujung2nya duit saya cairin terus beli emas batangan yang emang menurut saya lebih jelas. apalagi dulu gak paham kalo ada saham syariah, cuma takut ggak halal aja. karena ketidaktahuan soal saham ini hehe.

    1. Mungkin reksadana ya Mbak, ini dikelola oleh manajer investasi.

      Iya, edukasi ke masyarakat juga kurang, sih. Makanya banyak yang nggak paham. Sekarang bisa belajar di Sekolah Pasar Modal (SPM).

      1. iyees reksadana bener hehe. karena emang dulu mah minim banget itu tentang saham. sok sok aja ikutan wkwkwkw. untung cairinnya gampang dan cepet coba kalo enggak bisa ngamuk-ngamuk saya haha. enak nya mah sekarang ada sekolahnya juga ya.

  17. Dulu sempat mau nyoba-nyoba terjun ke dunia saham ini, tapi belum terlalu ngerti segala macamnya jadi mikir-mikir lagi. Baca artikel ini sedikitnya menambah wawasan soal saham ini.

  18. Pengetahuan saya tentang saham, sudah mulai terbuka. Ternyata harga saham tidak semuanya mahal ya.
    Tapi kayaknya kita juga harus hati-hati dalam membeli saham ya, Mbak. Supaya bisa untung dan tidak merugi

    1. Betul, Teh. Saham harga murah kisaran ratusan rupiah sampai di bawah Rp 3.000 di perusahaan yang memang fundamentalnya bagus, ada banyak.

      Sangat, Teh. Harus hati-hati. Pelajari dulu betul-betul. Makanya aku nggak pernah agresif juga buat ajak teman-teman ikutan. Karena tahu, banyak yang setelah diajak malah nafsunya besar banget untuk segera untung.

  19. Dua hal yg pernah saya pelajari itu soal investasi, yakni saham dan forex. Tapi yang sy praktikkan forex. Beli buku ini itu, alhasil sampe sekarang blank.. Main forex pun nggak pernah dapat untung, rugi melulu hingga akhirnya berulang kali margin call. Akirnya sy hentikan dan nggak pernah lagi sampai skrg hehe.

    1. Sayang banget lebih memilih Forex dibandingkan saham. Padahal jelas, saham perusahaannya ada di Indonesia, bisa kita lihat gedungnya, bisa kita nikmati produknya. Kalau forex gimana, coba? Huehehe …

  20. Ini info yang yang saya tunggu. Pengin investasi saham, kirain mesti duit berapaan, ternyata terjangkau sekali. Apalagi sudah ada fatwa MUI jika ingin yang sesuai syariah. Lagi nunggu cara transaksi dan seterusnya nih. Lanjut ya Mbak Mel….

  21. Infonya yes banget ini. Karena hal ikhwal saham sepertinya belum tersebar luas. Padahal gen milenial perlu banget berinvestasi, bukan cuma nabung. Ya kan, Mbak? Sok iyes saya mah, haha…
    Saya sendiri pun masih ragu-ragu mau invest di saham karena emang belum ngeh bener. Baru berani invest di logam mulia.

    Mau ngikutin tulisan lanjutan dari Mbak Mel, ah. Sudah expert pastinya 🙂

    1. Betuuul … Menabung saja nggak akan cukup untuk kebutuhan jangka panjang. Lebih bertumbuh kalau diinvestasikan.

      Siaaap … Nanti dituliskan lebih lengkap lagi ya, Mbak …

  22. Semakin ke sini jadi makin paham mbak soal saham. Hihi.. Jadi tertarik buat pelajari lebih dalam deh. Kapan2 ulas langkah awal nabung saham buat pemula ya mbak. Penting banget biar nggak tersesat

  23. Dunia saham, terasa awam sekali, tapi begitu baca info di sini jadi mulai paham.
    Untuk coba dunia saham, perlu keberanian juga ya. Karena dalam jangka waktu yang panjang dan sebaiknya tidak dihitung-hitung terus, tapi dilupakan supaya hasilnya seperti surprise. hehehe.

  24. Anakku yang besar sempat bertanya soal saham. Dan saya kebingungan menjawabnya karena sama sekali nggak paham. Tapi setelah baca tulisan mbak, saya jadi lebih mengerti. Ternyata saham itu bisa buat onvestasi ya.

  25. Sebenernya saya juga lagi kepikiran mo belajar saham, tapi sekarang ini kayaknya masih bingung blum lagi keuangan masih pas-pasan. Jadi kemaren saya mencari tau tentang reksadana. Yang ternyata di salah satu aplikasi ada tiga pilihan reksadana pasar uang, saham dan obligasi. Berarti sekarang emang gak perlu susah susah lagi ya mo investasi, tinggal beli online aja. Harga dan Bayarnya pun ternyata udah gampang banget dan terjangkau, bahkan emak-emak rumah tangga pun bisa ikutan yak ??

    1. Sebenarnya kalau niatnya investasi, saham lebih direkomendasikan. Pilih saja saham yang harganya murah, Mbak. Reksadana keuntungannya nggak maksimal karena tentu harus berbagi hasil dengan perusahaan manajer investasi.

  26. Menarik juga ya, tapi saya masih tidak tertarik memutar uang disaham. Katanya beresiko tinggi harus siap ikut merugi kalau perusahaannya rugi ya. Keren mbak informasinya … jadi tahu cara menghitung saham perusahan.

    1. Yes, kalau tidak tertarik jangan ikutan ya, Mbak. Jangan sampai terpaksa ikut karena dibujuk teman. Ini nggak benar. Kita harus menjadi pemegang keputusan pertama kan untuk keputusan penting di dalam hidup?

  27. Aku termasuk orang yang nggak paham ginian, mbak. Jadi, kalau ada yang bilang saham itu nggak halal, aku iya-iya aja. Sampai akhirnya suami kuliahin aku bedanya trading saham dan investasi saham. Diceritain juga saham itu apa. Terus yang syariah gimana.

    Jadi, waktu nemu artikel ini, jadi wow banget gitu. Macam klik sama topik yang lagi hot di rumah.

    Sejauh ini sih saya belum beli mbak. Kayaknya sih nunggu gajian kelas online nanti.

  28. Ehm, pas kemarin harga saham anjlok seanjlok-anjloknya karena pandemi, aku sempat beli di salah satu sekuritas by online
    Jujur, kalau buatku pribadi saham bukan untuk jual beli, tapi lebih ke investasi
    Dan, setuju dengan yang Mbak tulis di sini yang poinnya kalau boleh kutulis adalah bahwa sebenarnya saham tidaklah se”horror” yang dibayangkan selama ini, berharap semoga masyarakat luas makin melek literasi keuangan y, Mbak 🙂

    1. Wah, beli sewaktu anjlok, pasti lumayan banget cuannya. Maniiisss …

      Tergantung kondisi individu sih, Mbak, mau trading atau investasi. Semua bisa. Tapi kalau trading memang kudu memahami ilmunya lebih jauh lagi dibandingkan investasi.

      Betuul … Kata siapa bisnis saham itu horor?

  29. Lengkap banget penjelasannya. Aku jadi paham tentang saham. Selama ini mikirnya saham mah jauh. Ketinggian. Tapi setelah baca ini malah pengen investasi saham juga. Tapi aku belum ngerti, keuntungannya di mana?

  30. Paham skemanya tapi belum memiliki keberanian untuk mecoba… secara yg sederhana seperti asuransi saja masih sering terperdaya … gmana saham. . Intinya aku masih takut utk.mencobanya sich kak

  31. Bicara ttg saham emg seru ya mba. Sdh lama sekali tdk update ttg ini. Terakhir kali sy update saham sekitar setahun yg lalu. Nimbrungin saham suami. Wkwk..

    Seru sih ya.. Apalagi kalo liat pergerakannya. Tp buat sy saham msh termasuk highrisk.. Dan sampe skrg sy blm pernah dapet banget highreturnnya.. Wkwk.. Ga rugi jg sih.. Cm ya so so aja. Mungkin belajarnya kurang dalem.

  32. Lengkap banget informasinya, Mbak. Mudah dipahami juga. Udah sejak beberapa tahun lalu pengen nyoba investasi di saham tapi masih takut. Tahun lalu aja beli reksadana rugi terus, bahkan sampai separuhnya. Pengen nangis. Padahal udah berusaha seteliti mungkin belinya huhuhu.

  33. Wah, makasih banget nih mbak infonya. Dari dulu buta soal keuangan, apalagi saham. Sekarang gara-gara covid, mulai mikir untuk investasi. Sepertinya saham menarik juga untuk dilirik, apalagi sudah ada saham syariah juga ya. Kata ustaz juga diperbolehkan kok invest saham, asal milih yang long term.

  34. Tulisan ini bikin saya mulai melek soal persahaman. Dr dulu sy tergolong orang yang menganggap saham itu hanya milik pengusaha2 berdasi. Ternyata seperti ini toh sebenarnya. Makasih mbak sdh memberi pencerahan. Jd saya gak ngasal lagi bayangin saham itu apa. Hihi

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.