Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Begini Cara Saya Nyaman Berinteraksi di Grup Alumni

Begini Cara Saya Nyaman Berinteraksi di Grup Alumni

"Kalau reuni emas, kira-kira kita semua masih sempat mengalaminya nggak, ya?"

Itu adalah pertanyaan yang terlontar begitu saja dari salah satu teman di grup alumni. Iya, saat ini saya masih tergabung di grup alumni sekolah. Masih di bulan Syawal nih, ya. Biasanya jelang Idul Fitri, timeline media sosial saya ramai dengan perbincangan soal halal bihalal sekalian reuni. Momen halal bihalal kerap dimanfaatkan untuk berkumpul teman-teman lama termasuk teman sekolah, kan? 

Saya, gimana? Ini nggak berlaku buat saya sih. Soalnya memang sudah beda kota dan provinsi. Eh, jangankan yang beda kota dan provinsi. Teman semasa SMP tuh ada yang tinggal sekomplek dengan saya dan kami berdua jarang banget ketemu, dong. Rumahnya cuma selisih tiga gang dari rumah saya. Parah, yak? Ditambah PSBB, makin nggak ketemu lagi, deh.

Tapi, di sela-sela postingan soal halal bihalal sekalian reuni tersebut, muncul komentar beraneka rupa. Ada yang setuju, ada yang nggak. Alasan utamanya karena reuni dianggap sebagai asal muasal terjadinya lagi cinta lama yang belum kelar. Lalu, komentar-komentar akan terus berlanjut dengan betapa nggak pentingnya juga bergabung di grup alumni. Alasannya mirip-mirip. Banyak yang bilang grup alumni itu lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. 

 

Ada percakapan yang seringkali nggak jelas juntrungannya, kiriman foto dan video yang dinilai vulgar, sampai bahasan yang menyerempet ke arah pelecehan. Kalau ditanya saya merasakan itu atau nggak? Jawabannya, ya. Di grup yang sedang diikuti? Jawabannya juga, ya. Memangnya nggak merasa terganggu? Banget. Loh, kok mau-maunya berada di sana? 

Well, dalam memutuskan sesuatu saya kerap mengambil secarik kertas dan pulpen. Buat garis di tengah, lalu menuliskan alasan harus melakukan dan alasan nggak harus melakukan. Termasuk juga alasan memilih tetap bergabung di grup atau meninggalkan grup.

Hasilnya, saya menemukan bahwa tetap bergabung di grup tersebut adalah pilihan saat ini. Saya ingin tetap menjalin silaturahmi dan dengan berada di sana, saya bisa tetap memperoleh kabar teman-teman. Ada teman atau anggota keluarga mereka yang sakit, meninggal, menikah, mendapatkan anggota keluarga baru, atau pun info-info pekerjaan, saya bisa tahu.

Kan bisa ikut mendoakan meskipun dari jauh. Kadang saya bisa ikutan datang, meskipun lebih sering nggak datangnya.

Satu lagi ya, kadang nggak melulu manfaat yang saya cari, tapi hiburan juga. Komunikasi saya dengan siapapun di grup nyaris semuanya berhubungan dengan pekerjaan. Sakit kepala dong hidup diisi yang serius melulu. Makanya, kalau ada yang lucu-lucu di sana bisa jadi hiburan.

Agar Tetap Nyaman Berada di Group Alumni

Saya tuh sekolah berapa tahun sih, ya? Dua tahun di TK, enam tahun di SD, tiga tahun SMP, tiga tahun di SMA, dan empat tahun kuliah. Total 18 tahun! Wow! 

Beda dari grup orangtua murid untuk dua anak saya yang terus berlanjut mulai dari playgroup, TK, SD Level 1, Level 2, Level 3, Level 4, alumni TK sulung, alumni TK bungsu, dan terus aja itu beranak pinak, grup sekolah dari alumni cuma saya ikuti dua saja. Heh, sekolah lama-lama kok ikut grupnya cuma dua?

Pertama, saya sudah nggak tahu lagi teman-teman TK saya ada di mana. Eh, itu kejauhan. Nama teman-teman TK pun nggak ada yang saya ingat. Biarlah terkubur bersama masa lalu, eaaa

Kedua, saya nggak punya teman SD yang sampai sekarang masih akrab. Ada sih teman sebangku dulu. Cuma satu itu. Ya kali grup alumni isinya cuma kami berdua, wkwkwk

Ketiga, grup alumni SMP. Nah, saya masih berada di sini. Pernah bergabung, keluar karena ngambek (wkwkwk …), masuk lagi, keluar lagi (karena marah, wkwkwk …), lalu masuk lagi sampai sekarang. Alhamdulillah ya belum pernah diusir, wkwkwk

Keempat, grup alumni SMA. Ini sudah saya tinggalkan sejak dua tahun lalu. Eh, atau tiga tahun, ya? Saya nggak pernah ngambek atau marah di sana tapi saya memutuskan keluar. Di sini saya pernah diajak gabung, lalu keluar dengan sendirinya, diajak gabung lagi, saya pergi lagi, sampai yang ngajak sedih.

Ada yang jahat, nyinyir, nyebelin? Nggak. Tapi saya memang kurang nyaman berada di sana. Rasanya nggak punya emotional bonding bareng mereka gitu.

Salah nggak, sih? Nggak, dong. Kan itu datang dari dalam. Suatu hubungan yang dipaksakan bakal bikin nggak nyaman, eaaa

Kelima, grup alumni kampus. Sepertinya ini jadi grup terimut yang saya ikuti. Wajah-wajah penghuninya sih sama sekali nggak imut. Tapi jumlah anggotanya itu, loh. Cuma sepuluh orang aja, wkwkwk … Isinya perempuan semua. Saya masih berkomunikasi baik sih dengan teman-teman alumni yang lelaki. Malah salah satunya jadi teman saya tjurhat kalau laptop rusak. Soalnya dia ini punya relasi ke tempat servis laptop yang terpercaya. Kan bisa dapat harga murah. *Penting

Terlepas dari enak nggak enaknya bergabung di sebuah grup alumni, saya punya cara tersendiri agar tetap nyaman berada di grup alumni tersebut. Apa saja, sih? Ini dia.

Hanya Bergabung di Group yang Saya Merasa 'Klik'

Nah, ini harus jadi yang pertama. Nggak merasa ‘klik’, saya memilih meninggalkan grup alumni SMA. Tanpa permusuhan, tanpa perseteruan. Interaksi di media sosial berjalan baik, chat pribadi juga nggak ada masalah.

Lagian, nggak ada gunanya juga berada di tempat yang saya nggak nyaman. Ini kan kayak ada di dalam ruangan, orang-orang bisa saling bercakap, sedangkan saya cuma duduk di pojokan. Mau ikutan nimbrung, saya nggak paham mereka ngomong apaan.

Istilah kerennya tuh ya, nggak satu frekuensi. Dah, intinya ini.

Berinteraksi Secukupnya

Intensitas berinteraksi buat saya sih secukupnya aja. Bisa bosan kalau terus-terusan nangkring di sana. Kan lebih indah ya, kalau sesekali kita rehat dulu, nanti balik lagi. Ada rindu yang disimpan sementara waktu gitu, ceileh

Berinteraksi secukupnya juga bisa mencegah saya dari membicarakan urusan yang nggak penting di waktu yang nggak tepat atau malah terjadi gesekan lalu akhirnya malah berantem. Nambahin daftar dosa yang udah segunung ini, ihiks

Lagian, siapa juga yang punya banyak waktu buat terus-terus online di grup, ya kan? Belum lagi kalau teman-teman malah jadi bosan. Saya lagi, saya lagi. Sama sih, saya juga bosan ketemu yang itu-itu lagi.

 

Diskusi Oke, Debat No Way

Senang ya kalau punya teman-teman yang sepemikiran? Eh tapi apa iya semua teman bisa begitu? Ya nggak lah. Tapi, yang namanya beda pendapat itu biasa. Bisa jadi teman-teman kita yang salah, bisa jadi kita yang benar. Eh loh, kok di enak di saya? Wkwkwk …  

Saya suka banget kalau bisa diskusi bareng teman-teman. Tukar pikiran. Harus saya akui, jarak pandang pemikiran saya itu pendek. Hanya melihat apa yang nampak di depan mata. Tapi, saya suka berpikir dari berbagai sudut pandang. Susah buat saya menghakimi ini salah atau itu salah. Kecuali kalau jelas melanggar norma agama dan peraturan perundangan, ya. Makanya, asyik kalau ketemu teman-teman yang beda. Kan bisa diskusi. 

 

Tentunya diskusi ini hanya bisa dilakukan bareng teman-teman yang sama-sama berpikiran terbuka. Mau menerima perbedaan pendapat. Kalau alot, jadinya malah berdebat. Saya sih malas ya kalau berdebat. Menghabiskan waktu dan energi. Mending buat nyobain resep baru di dapur. Cieee … Lagi rajin masak soalnya, wkwkwk

Lagipula, sebagai muslim, ada satu hadits yang mengingatkan saya tentang berdebat.

“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras berdebatnya.” (HR. Bukhari – Muslim)

Astaghfirullah … Masa iya gara-gara mempertahankan pendapat harus sampai dibenci Allah kan, ya?

Menjaga Lisan dan Tulisan

Lisan dan tulisan kita tuh nantinya bakal dipertanggungjawabkan di akhirat. Makanya, saya harus menjaganya juga meski di dalam grup yang isinya tuh teman-teman ngakak bareng. 

Bisa jadi maksud saya bercanda, tapi kalau ternyata ada teman yang sedang bermasalah atau berduka, malah jadi menyakiti. Nggak mau begitu, deh. Isu SARA harus dihindari karena anggota grup kan bermacam latar belakang, ya. Soal pornografi juga big no. Penelitian para ahli sih, katanya ini bikin otak tumpul. Nah loh, sudahlah pas-pasan kalau tumpul kapan coba saya jadi pinter? 

Oya, saya pernah membaca tulisan milik salah satu teman, bahwa otak kita membutuhkan setidaknya tujuh detik sebelum merespon secara benar. Dengan ramainya perang tulisan di media sosial beberapa tahun terakhir ini, sering ya kita mendapati kondisi saat banyak orang yang katanya jari dan mulutnya bergerak lebih cepat daripada otak. 

Nah, maksud diam selama tujuh detik itu untuk menghindari respon yang terlalu reaktif tapi merugikan tersebut. Semoga nggak ada teman tersakiti dari lisan dan tulisan saya, ya.

Menghindari Komunikasi per Telepon atau Video

Jaman sekarang, sepertinya saya nggak butuh-butuh amat sih komunikasi per telepon. Kalau urgent banget sih iya, misalnya nih janjian sama teman yang katanya ditunggu di dekat meja persegi eh sampai sana ternyata orangnya nggak ada. Baru deh teleponan. Itu juga pakai WA call sih biar gratis, wkwkwk

Nah, apalagi video call dan dari lawan jenis pulaKan males banget, ya. Sejauh ini, saya cuma video call sama teman-teman yang memang dekat banget, keluarga hanya sama kakak dan keponakan, teman-teman kerja karena selama ini kami kerjanya berjauhan, dan ikutan kelas-kelas online yang belakangan tengah marak. 

Pernah ada yang mencoba menghubungi via video call? Oh, pernah. Ada yang ijin dulu, ada yang main eksekusi aja. Yang ijin dulu kedengerannya sopan, ya. Tapi mau video call-nya di pukul 02.00 pagi, dong. Mau ngapain? Bangunin tahajud? Saya udah bangun duluan, kaleee … Kalau yang ini bukan teman satu grup, sih. 

Saya cuekin aja. Seberapa penting coba bicara sambil menatap wajah saya? Boleh juga sih kapan-kapan diterima aja kali, ya. Tapi pas saya lagi pakai masker kopi + bubuk kayu manis gitu. Biar dia kaget terus buru-buru banting HP-nya, wkwkwk

Menyadari Hak dan Kewajiban Masing-Masing

Risih dengan candaan yang melecehkan pihak tertentu atau kiriman gambar dan video yang dirasa nggak pantas? Dulu-dulu saya suka cerewet menceramahi. Maksudnya sih mengingatkan teman, ya. Tapi kemudian saya memilih diam. Kenapa? Sepertinya sih memang ini soal kebiasaan dan ketertarikan. Diingatkan pun rasanya hanya sebatas di daun telinga kanan, terus terbang lagi. Jadi nggak sempat terserap dan diproses di dalam otak, huehehe … 

Selain itu, saya juga punya hak dan kewajiban juga untuk menjaga diri saya sendiri dari segala macam hal yang nggak saya suka. Jangan paksa saya mendengar, melihat, dan menonton apa yang saya nggak suka. Untungnya sih, saya juga nggak pasang auto download. Di luar urusan belajar, pekerjaan, dan apapun yang berhubungan dengan urusan uang, saya memilih nggak mengunduhnya. 

Kalau nggak suka, clear chat aja, ganti buka chat yang lain. Gampang, kan? Tralala lala … Semudah itu. Enak nggaknya hidup bisa kita kondisikan, kok. 

Selebihnya, semoga yang suka melemparkan kalimat melecehkan dan video atau gambar nggak pantas, selekasnya insyaf. 

Mempertahankan Pertemanan

Buat saya, mempertahankan pertemanan itu penting. Meskipun saya kerap lebih suka melakukan apa-apa sendirian. Apalagi saya tipe orang yang susah banget bisa merasa nyaman dengan teman baru atau teman yang sudah lama nggak ketemu. 

Kelihatannya sombong, pilih-pilih teman, atau malah minderan. Kalau ketemu, saya memang nggak seramah dan selincah kata demi kata di kolom chatting, wkwkwk

Bapak saya pernah bilang, teman yang benar-benar akan jadi teman tuh ya teman-teman sekolah kita. Setuju nggak setuju sih. Teman-teman sekolah saya baik, tapi teman-teman di luar teman sekolah pun banyak yang baik. Balik ke kitanya kali ya, kalau diri kita baik, nanti dipertemukan dengan lingkaran yang baik juga, ehm

 

Jadi, masih tetap bertahan berteman dan berada di grup alumni yang katanya penuh dengan kekisruhan cinta lama yang belum kelar itu? Sekarang sih iya, nggak tahu ya nanti. Kan saya nggak tahu juga teman-teman nanti bakal tetap menyenangkan atau malah jadi menyebalkan. Atau, siapa tahu, nantinya malah saya yang jadi menyebalkan buat mereka. 

Tahun 2018 lalu kami sudah mengadakan reuni 20 tahun kelulusan dari SMP. Maunya nanti ada reuni peraknya juga. Berarti kira-kira tiga tahun dari sekarang, nih. Balik ke pertanyaan teman kami tadi mengenai kemungkinan reuni emas, tentu hanya Tuhan yang tahu.

Kalau kejadian, barangkali kehadiran kami bukan lagi didampingi pasangan dan/atau anak lagi, tapi juga cucu. Semoga apapun kebaikan yang kita miliki saat ini dapat terus bertahan, termasuk indahnya pertemanan.

Salam,

Melina Sekarsari

83 comments found

  1. Grup alumni saya di mulai dari kampus, smp, smu, sd pernah ada tapi kurang interaksi. Saya juga cari pertemanan yang sefrekuensi juga sih, biar nyambung juga ngobrolnya. Memang setuju juga sih, lebih baik interaksi seperlunya dan hindari debat juga.

  2. Terima kasih ulasannya lengkap banget, Mbak. Kadang merasa bersalah juga kalau harus left dari grup alumni, tapi kalau udah nggak nyaman dan nggak klik juga ngapain? Apalagi seperti yang mbak katakan, mereka ngobrol apa, kitanya nggak paham, nggak banyak interaksi juga. Sampai sekarang nggak punya grup alumni, soalnya dulu terakhir gabung sama grup alumni SMP kemudian saya keluar bersama teman lainnya. Selebihnya nggak ada yang bikin grup lagi 😀

    1. Iya, Mbak. Maksudnya teman-teman tentu baik biar bisa jaga silaturahmi. Tapi ya gitu, kok bisa nggak klik tuh aku ya bingung. Padahal ya temannya baik-baik. Beda frekuensi kayaknya ya makanya suaranya kresek-kresek. Halah, kayak radio, hahaha …

  3. Aku juga nggak gabung di WAG SMAku, udah beda frekuensi dan pergaulan menurutku.
    Suka malas kalau bahas kenangan lama, hahahaha.
    WAG alumni kuliah juga nggak ikutan, lebih ramai dan seru obrolannya di Facebook Group.
    Kalau aku, jauh di mata ya jauh di hati, lebih sering berinteraksi dengan group atau komunitas yang kita ikuti aktif sih.

    1. Susah kan ya Mbak, kalau udah beda frekuensi, hahaha … Makanya aku pun kabur melulu.

      Nah, bahas kenangan lama juga bikin males. Tapi ada aja yang usil. Padahal harus menghormati hati pasangan masing-masing – entah membaca atau nggak obrolan di grup itu.

  4. Status WA-ku dong: NO VIDEO CALL 😀
    Aku ikut 6 grup alumni: SD, SMP, SMA kelas 1 (sebelum penjurusan), SMA jurusan (kelas 2 dan 3), alumni jurusan kuliah seangkatan, dan alumni sefakultas seangkatan. Satu di antaranya aku rajin clear chat 😀 Mau ke luar sungkan, nggak keluar risih dengan seringnya share foto dan obrolan yang menjurus ke kamar tidur. Muncul berkomen paling kalo Lebaran atau ada komen “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….”

    Di WAG fakultas aku silent reader. Tekun menyimak obrolan dan info penting dan seru di sana. 😀

    1. Mantep banget ya Mbak, statusnya wkwkwk …

      Itu dia, obrolan kamar tidur buat laki-laki mungkin biasa, ya. Buat perempuan itu nggak banget. Dulu suka sok rajin ngingetin. Tapi lama-lama males, ya CLEAR CHAT aja. Sayang mata kita, hahaha …

  5. Saya ada grup SD, grup SMA, grup geng kuliah.
    Grup SD hening2, ga bunyi sama sekali. Aowkwkwk.
    Grup SMP ga ada dah..
    Ya kalau ketemu di jalan, sama beberapa teman kadang awkward sih..padahal dulu ngakak bareng,haha

    1. Jadi ada di banyak grup meskipun sepi sunyi gitu ya, Mbak, aduh juara deh kamu, hahaha …

      Iyalah, kadang suka bingung mau ngobrol apaan kalau lama nggak ketemu.

  6. Saya bacanya pelan2 bgt, suka bgt dg gaya tulisannya kak hihi ? Dannnn, saya skg malah jd pngurus aktif grup wa SMA ? Tips-tipsnya seru dan cucok kak hihi ? terima kasih ulasanny kakz

    1. Wah … Makasih banyak apresiasinya, yaaa …

      Cakep, ih. Aku mah senang masih jalin silaturahmi sama teman-teman. Tapi kalau jadi pengurus, waduh belum sanggup. Suka sok syibuuk, wkwkwk …

  7. Waw kak Meli 18 tahun mengenyam pendidikan, cakep mah itu. Daku nggak pernah duduk di bangku TK, kak langsung SD hahah, jadilah kata bocah terus melekat yang ditunjang dengan tubuh dan wajah imut, hehe..

    Kalau reunian tetep jaga hati dan diri yak, alias luruskan niat juga ya. soalnya muncul rasa CLBK haddeh atau kadang bisa kalap belanja pas ternyata ketemu temen yg dulu satu Genk haha.. katanya sih gitu, hemm

    1. Iyaaa … Tapi masa TK terlewat begitu aja. Kayaknya dulu nggak punya temen wong kerjanya nangis melulu.

      Aman lah aku mah. Nggak punya CLBK jaman sekolah. Soalnya seleranya yang tuaan, wkwkwk … Aku juga nggak doyan belanja. Jadi aman juga, wkwkwkk lagi …

  8. Sama nih dengan mba Vidyagatari
    Bacanya kudu pelan-pelan, biar greget, hihihi.

    WAG, hmmm lem me think!
    Kebanyakan WAGnya dengan blogger, bahahaha.
    WAG BW, IW, Job, giveaway endebrai, endebrai

    Untuk WAG sekolah, ada SMP, SMA dan kuliah.
    Ada juga arisan PKK serta WAG komunitas seperti Kelas Inspirasi, English Club, HPI, dll
    Lumayan banyak, hihihi.

    Namun sama kayak mba Melina, kebanyakan silent reader, sesekali saja nyeletuk.

    … dan buat anggota WAG yang tidak 1 frekuensi, prinsip kita sama juga nih.
    Tidak usah diambil hati, karena masih lebih banyak yang masih 1 frekuensi.
    YES, kalau tidak nyaman, clear chat aja!
    No big deal.

    1. Wah, kita mirip-mirip ya, Mbak … Ah, satu frekuensi nih. Baca pengalaman pribadi memang cenderung lebih butuh ketenangan sih yaaa. Kalau diburu-buru jadi kurang penghayatan, hahaha …

  9. Ulasannya lengkap dan menarik Mbak. Saya langsung ingat-ingat lagi adakah join di grup alumni.
    Ternyata adanya alumni masa kuliah saja. Itupun lebih sering jadi silent reader. Karena grupnya juga jarang aktif dan saya pun tetap bertahan karena sekalinya ada info juga membantu bukan sekedar basa basi.

  10. Saya juga tergabung dalam group WA alumni SMP dan SMA, tapi cuma yang satu kelas, bukan satu angkatan. Group wa ini sepi. Cuma ramai kalau ada yang mewartakan ada teman yang ulang tahun atau lagi kena musibah. Ucapan ulang tahun atau belasungkawa. Setelah itu, sepi lagi.

  11. Wkwkwk, tipsnya berguna sekali mba. Saya juga ini banyak banget grup whatsappnya. Seringnya jadi silent reader aja. Kalo penting dan menarik baru ikutan komen.

  12. Saya lebih nyaman jadi silent reader kalo di grup alumni. Kecuali kalo ada info urgent atau ada berita apa baru nongol. Padahal sama suami juga sealumni. Hihi.

  13. Waah sungguh indahnya persahabatan. Memang mbak tali silaturahmi jangan sampai diputus begitu saja. Semoga pengalamanmu bisa menjadi inspirasiku agar bisa nyaman bergabung di grup alumni yang saya ikuti.

    1. Senang loh punya banyak teman baik ya, Kak. Silakan dipraktekkan … Semoga senantiasa diberikan teman-teman baik yang senantiasa saling mengingatkan yaaa.

  14. Wah sama mba. Grup alumni SMA bahkan aku ngga pernah muncul, silent reader aja wkwk. Karena emang udah ngga nyambung sih obrolannya. Beda banget ama duluu. Menghindari juga sama hal2 yg kurang manfaat ya mbaa

  15. Setuju soal menjaga lisan dan tulisan. Bukan karena bakal dipertanggungjawabkan aja, tapi saya percaya kalau tabiat teman-teman lama saya tentu bakal berbeda antara dulu dan sekarang. Daripada grup alumni malah jadi grup cari musuh yekan, mending bahas yang santai dan mengutamakan pertemanan

  16. Wah senang ya kak bisa reunian sama teman-teman sekolah kita dulu. Tapi aku gk bisa ikuti gabung sama mereka karena terpisah jarak dan waktu.

  17. Jeli ya mbak Melina mengangkat tema. Persoalan yg tampaknya sepele bs dibahas detil, hehe… Sepakat Mbak berinteraksi seperlunya aja, toh kehidupan yg riil itu yg sekarang kok, bukan masa lalu

    1. Yuhuuu … Makasih, Mbak. Pas banget ada yang nyeplos begitu di grup. Wis, jadikan tulisan aja.

      Secukupnya aja. Segala sesuatu yang berlebihan pun memang nggak baik ya, Mbak.

  18. Semakin banyak teman tentu semakin beragam karakternya nya Bu. Keren nih tipsnya. Dalam memutuskan sesuatu pakai coret2 pula. Apa nggak kelamaan. Hehe… Tapi untuk hal yang penting tentang perlu dilakukan begitu ya Mbak.

  19. Kok mba nya sama kayak sayaaa. Saya join grup alumni SMP dan kuliah (tapi ini jumlah anggotanya ratusan ya gak cuma 10 ehehe), yang SMA sama sekali gak pernah join. Tapi tetep join grup kelas, soalnya, kalo angkatan kebanyakan anggota. Tapi lucunya, tiap ada grup besar, pasti ada pecahannya lagi. Soalnya tiap masuk sekolah/ kampus baru/ kelas baru, aku selalu punya teman dekat, jadi kita bikin grup dalam grup lagi wkwkwk salah gak ya ?

  20. Aku dulu banyak bergabung dengan grup alumni, tapi skrng tuh keknya agak males hahaha
    Tapi enaknya jadi bisa inget masa lalu terutama kalau liat orangnya sekrang beda banget waktu masih sekolah hehehe

    1. Iya, senangnya mengingat masa lucu jaman sekolah. Misalnya aja waktu dihukum ramean satu kelas yang bukannya sedih tapi malah ketawa-tawa, hahaha …

  21. Keren sih, emang semua tipsnya relate banget dengan kehidupan sehari-hari tapi kalau saya lebih pilih out dari semua grup alumni hehehe

    1. Siapapun bebas ya mengambil keputusan apapun dalam hidupnya termasuk mau bergabung di grup alumni atau nggak. Kondisi dan pengalaman setiap orang berbeda-beda, sih.

  22. Sebagai emak emak rumahan yang banyak ngurusin ini itu, ditelpon temen grup alumni, apalagi di video itu paling bikin jengkel. Haha. Apalagi nelponnya bolak balik, astagah. Ternyata di angkat, cuma nanya gak penting, hiks. Chat Napa, chat oi. Lu kira kita receptionis apah 🙁
    Ya begitulah, emang kudu paham etikanya dalam bergrup ya mbak. Biar sama2 nyaman. Btw aku juga udah gak punya SD, SMP, bye 😀

  23. Di grup alumni, saya sering terpeleset pada peran sebagai polisi hoax. Saya paling sebal dengan hal itu. Dan hal ini membuat saya punya musuh abadi. WKwkwk
    Sebenarnya ga nyaman, tapi kalau keluar juga dimasukkan lagi. Lagian, siapa yang nyemprit para penyebar hoax, coba…..

  24. Ya ampun Mbak Mel, ada juga yang di grup itu sudah keluar-masuk beberapa kali ya hehehe. Jadi ingat teman SMA sekelas, laki tapinya. Dia keluar karena ngambek, ditarik masuk. Eh suatu waktu keluar lagi, sudah .. gak ada yang ajak masuk lagi. Entah sampai kapan. Soalnya dia susah menerima perbedaan cara berkomunikasi di antara kami hehe.

    1. Saking pengennya teman-teman kita saling jaga silaturahmi tuh, Mbak, hihihi … Sayangnya aku tetap nggak merasa klik. Kalau sudah sering silang pendapat sih baiknya memang pisah aja. Lama-lama grup jadi nggak nyaman ya kalau terlalu sering ada adu mulut. Beda itu biasa tapi cara menyampaikannya bisa tetap menyenangkan seharusnya.

  25. Nah iyah kak, kadang udah malez duluan klo diajak join group alumni, krna pengalamannya banyak yg isinya cuma kata-kataan, becandaan jorok, pamer kesuksesan, kekayaan, dll. Tapi mmg itu balik lagi kek kita sih, klo kitanya bisa jadi agent of change di group itu sudah pasti bakalan jdi positif groupnya

    1. Agent of Change di grup tuh susah-susah gampang, ya. Apalagi dengan beragam karakter, duh … Aku sih udahan soal kasih tahu atau mengingatkan ini itu. Kalau mulai aneh-aneh, aku skip, clear chat, hahaha …

  26. Membaca postingan ini menyadarkan saya, kalau saya ga punya grup WA alumni dari zaman sekolah sampe kuliah palingan ada fanpage di Facebook itupun banyak yg vakum
    Tapi yang namanya reuni atau alumni kerap suka banyak drama dibaliknya

  27. Aku ada grup alumni tuh dari mulai SD, SMP, kelas SMA, Mapala, Fakultas, kos2an, sampai ex kantor hahha ya Allah banyak banget ya ternyata. Tapi ya itu emang harus banyak aturan yang diterapkan untuk kita sendiri.. biar di grup ttp nyaman dan santuy..

    1. Wuih! Mbak Diane juaraaak! Tahan banting banget, huehehehe … Aku cuma tahan di dua grup aja, hahaha …

      Bener, kita bikin rambu-rambu sendiri gitu ya Mbak biar nggak baperan dan tetap nyaman.

    1. Semoga nggak ada, Mbak … CLBK kalau sesama single nggak papa pastinya. Repot kalau udah berkeluarga mah. Semoga silaturahmi kami ini penuh dengan keberkahan. Aamiin.

  28. Aku termasuk yg ga aktif di grup wa alumni, baik smp maupun sma… Paling banter yg masih nyaut sesekali di grup almuni kuliah s1 dan s2 itupun jarang, kecuali memang temen yg ada masih berhub sampe saat ini

  29. saya grup TK juga enggak ada wkwkwwk. tapi dari SD, SMP, SMA, kuliah, semua masih ada grupnya. tapi ya gitu sepi banget kek kuburan wkwkwk udah jarang banget berinteraksi soalnya. hanya pas ada yang nikahan aja ramainya, abis itu sepi lagi kek kuburan haha. makasih mba mel sharingya.

    1. Aku juga secukupnya aja sih, Mbak. Soalnya member lain yang aktif tuh para lelaki. Nggak enak aja aku perempuan seorang diri yang nimbrung melulu, wkwkwk …

  30. Saya keluar dari semua grup aloemni. Beberapa teman memasukkan saya, setelah beberapa lama saya memutuskan untuk tidak ikut satupun grup alumni.

    Saya bilang kepada admin ata koordinatornya, saya tidak nyaman dan tidak pernah suka ikut grup apapun.

    Bukan berarti saya tidak mau bersilaturahmi, mereka tetap bisa mengajak saya kumpul atau ikut kegiatan apapun lewat japri, tetapi saya bilang memang saya tidak suka ikut grup.

    Kecuali grup yang tujuannya jelas, seperti grup kantor yang urusannya tentang kerjaan.

    Selebihnya, out.

    Lagipula, saya pikir grup alumni itu kadang lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya.

    Saya lebih suka berkomunikasi secara langsung, pribadi ke pribadi.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.