Menemukan Jejak Sejarah Perjuangan Bangsa di Museum Nasional

Siapa yang suka jalan-jalan ke museum?

Kalau ada pertanyaan macam begini, anak-anak saya pasti tunjuk tangan duluan. Di Bogor tuh ada banyak museum. Mereka nggak pernah bosen loh jalan ke museum lagi, museum lagi. Beberapa tahun lalu, saya punya teman yang bergabung di komunitas pecinta museum gitu. Lupa deh namanya apa. Di Bogor juga ngumpulnya. Waktu itu saya heran aja, ngapain sih suka ke museum?

Di benak saya, museum itu jadul banget. Kayaknya lebih cocok jadi tempat mainnya orang-orang sepuh biar pada nostalgia sama masa lalu. Tapi kualat, sekarang saya malah suka banget jalan-jalan ke museum. Jadi, saya dan anak-anak kompak, deh. Sama-sama museum addicted

Kenapa Sih Jalan-Jalannya ke Museum?

Jalan-jalan ke museum itu asyik, loh. Banyak banget manfaatnya. Ini beberapa alasan kami bertiga suka jalan-jalan ke museum:

  1. Sarana Edukasi Sejarah

Dulu saya memang nggak suka pelajaran sejarah. Sejak SD sampai SMA, selalu ketiduran saat pelajaran ini berlangsung. Waktu kuliah saya nggak ngantuk lagi, sih. Bukan karena jadi suka, tapi karena saya sibuk menggambar dosennya. Padahal yang ngajar bukan dosen sembarangan. Dulu saya bisa ketawa-ketawa, sekarang suka nyesel. Makanya kadang takut jadi pengajar. Khawatir dibales sama peserta didiknya. Serius.

Tapi beda loh rasanya belajar sejarah di museum. Mungkin karena kita melihat sendiri ya jejak-jejak sejarah yang ada. Apalagi museum jaman sekarang tuh canggih-canggih, udah dilengkapi dengan perangkat multimedia. Jadi pengunjung bisa belajar sambil nonton.

2. Wisata Ekonomis

Sebagian museum menggratiskan biaya masuk, dan sebagian lagi membebankan harga tiket yang murah. Biasanya berkisar antara Rp 5.000-10.000 per orang. Murah banget. Eh, kalau murah berarti bukan beban dong, yes.

Bandingkan coba dengan wisata modern ala Taman Impian Jaya Ancol dan Jungleland? Per orang tiketnya mencapai ratusan ribu. Hitung deh kalau sekeluarga jadi berapa. Belum jajannya, huaaa

Kalau mau jalan-jalan hemat, ke museum aja deh pokoknya.

3. Mengajarkan Anak Cinta pada Tanah Air

Dengan mengenal sejarah dan kebudayaan bangsa, anak-anak akan tergerak untuk lebih mencintai tanah airnya. Mereka bisa belajar memiliki sikap menyerah dengan mengetahui sejarah perjuangan para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Mereka juga bisa lebih mencintai keragaman budaya yang nggak dimiliki oleh bangsa lain. Mengenal keanekaragaman hayati di bumi Indonesia juga bisa loh memacu anak bersemangat untuk menjadi peneliti. Kalau diulik terus, bisa makin banyak deh manfaatnya.

***

Selain itu, ada sih alasan sederhana anak-anak saya suka diajak ke museum. Soalnya di dalam ruangan ber-AC jadinya adem. Mereka memang sedih banget kalau diajak jalan-jalan ke tempat yang banyak terpapar sinar matahari. Manyun aja bawaannya, wkwkwk

Beda ceritanya kalau jalan-jalan outdoor di daerah berudara sejak seperti Eco Green Park, Malang Teman saya, Bety Kristianto, waktu itu jalan-jalan kesini bareng keluarganya. 

Museum Nasional

Tahun lalu, saya dan kakak membawa anak-anak dan keponakan staycation di Jakarta. Yaelah, tinggal di Bogor tapi staycation di Jakarta apa nggak salah? Yah, anggap aja kami membiarkan warga Jakarta menikmati liburan di Bogor dengan lapang. Bogor penuh, tauuu … Wkwkwk ..

Daaan, selama tiga hari di Jakarta, semua tempat yang kami rencanakan untuk dikunjungi adalah museum. Hah? Emang iya. Kami kan memang pecinta museum. Wah, saya memimpikan banget deh bisa jalan-jalan ke berbagai museum di seluruh dunia. Apalagi museum-museum di Eropa. Kayaknya pesawatnya malah udah muter-muter di atas rumah saya, hahaha

Salah satu museum yang kami kunjungi saat itu adalah Musem Nasional. Bukan Monas, ya. Kalau itu sih singkatan dari Monumen Nasional. Kesamaannya, sama-sama berada di Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat aja, hehehe

Waktu itu kami menginap di salah satu apartemen di daerah Cinere, Jakarta Selatan. Menuju lokasi dengan naik MRT dari Stasiun MRT Lebak Bulus, turun di Stasiun MRT Bundaran HI. Kami melanjutkan perjalanan dengan feeder bus dan turun persis di depan halte Museum Nasional. Tiket feeder bus-nya gratis tapi mohon maaf saya lupa busnya nomor berapa, wkwkwk

Dari luar bangunan Museum Nasional terlihat megah. Kelihatan banget kalau bangunan ini dirawat dengan baik. Nggak ada deh kesan bangunan tua yang beraroma mistis gitu. Tiket masuk untuk anak-anak sebesar Rp 2.000 per orang dan dewasa Rp 5.000 per orang. Sementara tiket untuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 10. 000 per orang. Murah lah, ya.

Sejarah Museum Nasional

Museum ini mempunyai sejarah panjang. Diawali dengan berdirinya suatu himpunan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenschappen (BG), oleh sekelompok cendekiawan pada tanggal 24 April 1778. Di waktu yang bersamaan dengan revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) di Eropa. 

Himpunan ini difungsikan sebagai lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan ‘Ten Nutte van het Algemen’ (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

J. C. M. Radermacher sebagai salah satu pendirinya, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jl. Kalibesar, yang dulunya merupakan kawasan perdagangan di Jakarta Kota. Dia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku. Sumbangan dari Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Selama tahun 1811-1816, Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Direktur lembaga ini. Semakin lama, rumah di Kalibesar semakin dipadati dengan koleksi buku-buku dan benda budaya sehingga lama-kelamaan nggak bisa lagi menampung koleksi lainnya. Raffles kemudian memerintahkan pembangunan gedung baru yang digunakan untuk museum. Gedung baru dibangun di Jl. Majapahit No. 3, sebagai museum sekaligus ruang pertemuan untuk Literary Society (Societeit de Harmonie).

Semakin hari, jumlah koleksi semakin meningkat. Lagi-lagi, museum di Jl. Majapahit No. 3 tersebut nggak bisa lagi menampung koleksinya. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi saat ini, yaitu di Jl. Medan Merdeka Barat No. 12 (dulu disebut Koningsplein West). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung Rechst Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum (pernah dipakai untuk markas Kenpetai di masa pendudukan Jepang) dan sekarang ditempati sebagai kantor Kementerian Pertahanan. Gedung museum baru ini resmi dibuka untuk umum pada tahun 1868.

Sementara, itu gedung museum kedua yang berada di Jl. Majapahit No. 3 saat ini difungsikan sebagai kantor Sekretariat Negara. Letaknya dekat dengan Istana Kepresidenan. 

Gedung museum yang ketiga oleh kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta sebagai Gedung Gajah atau Museum Gajah. Alasannya, karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah dari perunggu, hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum ini di tahun 1871.

Pada tahun 1923, perkumpulan ini memperoleh gelar ‘koninklijk’ karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, berganti nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya, “Memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya.”

Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia, maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian berganti nama menjadi Museum Pusat. Kemudian, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 092/O/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Benda-Benda Koleksi di Museum Nasional

Per tahun 2019, Museum Nasional menyimpan lebih dari 169.376 benda-benda bernilai sejarah yang terdiri dari koleksi prasejarah, arkeologi, numismatik dan heraldik, keramik, etnografi, sejarah, dan geografi.

Komplek museum ini mempunyai dua gedung. Gedung Lama (Gedung A) digunakan sebagai tempat pameran koleksi museum. Gedung B (Gedung Arca) terdiri atas empat lantai yang digunakan sebagai tempat pameran koleksi museum, kantor, ruang konferensi, laboratorium, perpustakaan, dan lain-lain. Gedung B memang relatif lebih besar dibandingkan Gedung A. Gedung B ini dibuka secara resmi oleh Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 26 Juni 2007. 

Di Museum Nasional ini, teman-teman bisa menemukan koleksi pewayangan dari kisah Mahabharata khususnya Pandawa Lima dalam berbagai bentuk, mulai dari arca, topeng, dan relief. Khusus arca dan relief bisa dinikmati di Gedung A.

Koleksi di Gedung B jauh lebih lengkap. Iyalah, karena areanya lebih luas. Berbagai peninggalan sejarah perjuangan bisa ditemukan di sini, mulai dari persenjataan modern seperti meriam, senjata khas daerah berupa kering maupun pedang, tameng yang terbuat dari emas, hingga pelana kuda. 

Teman-teman juga bisa menyaksikan koleksi-koleksi yang diperoleh dari ekspedisi militer Belanda di berbagai daerah di Indonesia selama kurun waktu 1800 hingga 1900an. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kekuatan perlawanan di berbagai daerah. Saat itu Belanda merampas harta pusaka dan berbagai macam benda budaya di wilayah yang diserang, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi Selatan. 

Koleksi rampasan harta benda dan benda budaya tersebut bisa teman-teman temukan di sini. Bayangkan deh, teman-teman bisa menyaksikan beraneka perhiasan berusia ratusan tahun yang masih dalam kondisi baik.

Ayo Jalan-Jalan ke Museum Nasional, Sudah Buka Lagi Loh ...

Sudah tahu sejarah panjang berdirinya Museum Nasional, yuk jalan-jalan kesini. Nggak heran kalau sejak dulu museum ini kehabisan tempat untuk menampung benda-benda koleksi karena memang koleksinya banyak banget. 

Bayangkan aja, museum ini besar, loh. Luasnya 26.500 m2. Bangunan barunya pun lantai 1-4 digunakan untuk tempat pameran koleksi semua. Tempatnya bersih dan rapi. Sayangnya waktu kami kesini, lebih banyak wisatawan mancanegara dong dibandingkan wisatawan domestik. 

Ada kejadian luar biasa pula. Saat tengah melihat-lihat miniatur Candi Borobudur, ada empat orang turis bermata sipit yang ikutan melihat. Kalau lihat bentuk matanya sih sepertinya dari Korea gitu.

Tahu nggak sih mereka bilang apa?

“Is there the real one in Indonesia?” salah satunya bertanya pada temannya.

“No, it musn’t be. This is just a miniature.” Temannya yang lain menjawab.

Hah? Jadi turis-turis itu nggak tahu kita punya Candi Borobudur yang megah itu? Ihiks ihiks … Sedih sekaligus sebel. Lebih sebel lagi kenapa waktu itu saya nggak langsung aja nyamperin mereka buat bilang bahwa Candi Borobudur tuh beneran ada, bukan hanya miniatur yang dipajang di museum. Argh … Nyesel nggak berjuang menyampaikan kebenaran.

Kalau teman-teman main kesini, sebaiknya membawa barang bawaan secukupnya aja. Nantinya semua barang bawaan kita termasuk makanan dan minuman harus diserahkan ke tempat penitipan dan ruangnya itu nggak terlalu besar. Waktu itu, sampai keluar area penyimpanan barang karena museum penuh pengunjung.

Selama pandemik ini, museum buka setiap Selasa-Jumat mulai pukul 09.00-15.00 dengan memberlakukan protokol kesehatan. Jangan lupa mematuhi protokol kesehatan ini dan jadilah pengunjung yang bijak. Jangan menyentuh apalagi merusak benda-benda koleksi. Harapan dari pengelola Museum Nasional sendiri, dengan memberikan informasi latar belakang sejarah dan koleksi-koleksi benda dari masa lalu ini akan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan rasa bangga karena menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

Sumber Informasi:

Leaflet Museum Nasional

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

32 Comments

  • Efri Deplin July 2, 2020 at 2:17 pm Reply

    Museum di Bengkulu juga menarik perhatian kak, selain wisata budaya saya dapat kesempatan kesana bareng murid-murid di sekolah.

    • melinase July 2, 2020 at 4:16 pm Reply

      Wah, semoga suatu hari nanti dapat kesempatan jalan-jalan ke Bengkulu, Kak. Aamiin.

  • Jihan July 2, 2020 at 3:17 pm Reply

    Udah lamaaaa banget ngga ke museum. Kalo di Malang namanya Museum Brawijaya. Terkenal sama gerbong maut yang menewaskan 100 orang kurang lebih. Karena 1 gerbong barang yang kecil itu diisi hampir 200 orang. Kunjungan ke museum ngga pernah membosankan yaaa mba. Apalagi sama anak2.

    • melinase July 2, 2020 at 4:17 pm Reply

      Itu juga perjalanan tahun lalu, Kak. Wah, kalau ke Malang kudu isi itinerary ke museum juga, nih. Semoga nanti ketemu waktu yang pas dan aman buat semuanya, ya.

  • Lely July 2, 2020 at 3:28 pm Reply

    Waaah bikin kangen deh pingin ke sana lagi. Bener banget kak, museum itu selain tempat wisata juga tempat belajar. Belajar sejarah kan ndak harus di kelas doang yess

    • melinase July 2, 2020 at 4:17 pm Reply

      Belajar sejarah di kelas melulu mah alamat ngantuk kan, ya? Enaknya memang langsung jelajah museum gitu.

  • Nisya Setyawan July 2, 2020 at 4:52 pm Reply

    Saya juga suka jalan-jalan ke museum, bahkan sejak smp dulu.
    Kalau libur, mainnya ke museum, sepedahan atau naik bus.
    Saya tinggal di jogja, ada banyak museum yang bisa dijelajahi.
    Sayangnya dulu belum punya blog, jadi tidak menuliskannya di blog.
    Museum Nasional ini ternyata menarik banget ya, ada satu lagi list destinasi liburan di jakarta.

    • melinase July 2, 2020 at 9:17 pm Reply

      Asyik, punya teman sesama pecinta museum. Di Bogor juga banyak dan belum semuanya aku jelajahi, Kak. Aku tipe orang yang jalan-jalannya santai dan khusyuk menyimak sekitar. Makanya lama, hahaha …

  • Ovi roro July 2, 2020 at 7:34 pm Reply

    Uch jadi kesal juga aku tuhhh kak ikutan geram ini… Andai pun aku disana akan aku lakukan yang sama. Btw.. Klo museum di daerah asl saya Sumenep udah sering tapi yang di Jakarta belum. Semoga next time bisa😊

    • melinase July 2, 2020 at 9:19 pm Reply

      Kapan-kapan jelajahi museum seluruh Indonesia bahkan dunia ya. Aamiin.

  • Lidia July 2, 2020 at 8:41 pm Reply

    Aku sekeluarga ga pernah bosen balik ke Museum Nasional ini k, seruu memang lapangannya luas, anak-anak pun bisa bermain gembira banget. Meski di bagian dalam bila sedang penuh cukup pengap, tetap saja suka balik lagi untuk mengenalkan sejarah bangsa pada anak-anak.

    • melinase July 2, 2020 at 9:19 pm Reply

      Iya, luas ya, Kak. Memang cocok buat anak-anak.

  • Achdi July 2, 2020 at 9:59 pm Reply

    Sebagai orang yang bekerja di Bogor (belum ber KTP Bogor) saya minta tolong orang Jakarta liburannya ke Karawang atau yang belum terkesplor gitu, lelah hayati dengan kemacetan akibat orang Jakarta haha
    By the way, saya sudah 3 kali mengunjungi Museum ini. Biasanya selain ingin tahu, tapi sebagai tambahan referensi ketika ada tamu sekolah dari luar negeri, biasanya mereka ingin berkunjung ke Museum.

    • melinase July 4, 2020 at 11:09 am Reply

      Hahaha … Iya, mereka datang, aku kabur.

      Wah, sampai tiga kali. Musem Macan nih yang saya kepengen. Tapi transportasi umumnya kurang memadai nih di daerah itu.

  • Hastira July 3, 2020 at 3:02 am Reply

    sudah beberapa kali ke sini, jaman aku kecil, jaman anak2 kecil, wah sudah berubah belum ya

    • melinase July 4, 2020 at 11:09 am Reply

      Wow! Mantap. Bangunan barunya sudah bagus dan rapi.

  • Sulis July 3, 2020 at 5:48 am Reply

    Benar sekali mbak, meseum merupakan sarana edukasi untuk anak. Ada banyak pengetahuan yang bisa didapatkan dari sana. Sayangnya mulai jarang orang yang mengajak keluarga untuk berwisata ke museum. Harusnya kegiatan ini menjadi agenda rutin liburan keluarga. Jadi selain berwisata mereka juga mendapatkan banyak tambahan pengetahuan. Nanti saya juga mau mengajak keluarga saya untuk berwisata ke museum. Sebenarnya ingin juga berwisata ke Museum Nasional ini, soalnya sangat bagus untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air dan memperkenalkan sejarah bangsa. Tapi sayang lokasinya jauh. Semoga nanti bisa ke Jakarta dan bisa berkunjung ke Museum Nasional ini

    • melinase July 4, 2020 at 11:08 am Reply

      Makanya, pengunjung museum yang domestik malah lebih sedikit dibandingkan mancanegara. Tapi memang orang asing lebih menghargai dan tertarik pada sejarah sih dibandingkan orang-orang kita.

      Aamiin. Semoga nanti bisa kesini dan dapat pengalaman luar biasa, ya.

  • Ibrahim Dutinov July 3, 2020 at 11:31 pm Reply

    Dari Bogor, boleh tuh mampir ke Sukabumi. Ada museum namanya Palagan Bojongkokosan, enggak gede sih emang. Tapi katanya Palagan ini hanya ada dua di Indonesia, satunya lagi Palagan Ambarawa. Ke sini kalau kereta Bogor-Sukabumi sudah aktif saja ya, soalnya kalau naik angkutan beban angin, bisa2 dapet banyak kemacetan. Hehe

    • melinase July 4, 2020 at 11:04 am Reply

      Wah, aku belum pernah loh piknik ke Sukabumi. Kepengen banget. Keburu COVID, huaaa …

      Iya, memang rencananya mau keretaan tuh, Kang. Asyik banget pastinya, ya. Palagan Bojongkokosan harus masuk list, nih. Makasih infonya, ya.

  • Shafira - ceritamamah.com July 4, 2020 at 2:26 am Reply

    mbak melina ini ngajak anak-anaknya umur brp? anakku masih 4 tahun belum pernah kuajak ke museum. eh sekarang pandemi jg belum berani, dia pengen banget liat monas hehe. emaknya baru 2 kali jg sih pas udh kuliah ke sana haha

    • melinase July 4, 2020 at 11:03 am Reply

      Anak-anakku usia 8 dan 10 tahun. Tapi mulai suka ke museum sejak TK sih dan mereka memang suka.

      Huaaa … COVID bikin semua acara jalan-jalan ambyar, ya.

  • Dawiah July 4, 2020 at 7:43 am Reply

    Museum tempat kita melihat sejarah suatu bangsa, karakter, dan peradabannya. Sayangnya masih banyak yang tidak menjadikannya sebagai destinasi wisata.
    Beberapa kali ke Jakarta tapi tak pernah berkunjung ke Museum Nasional ini, nyesel mbak. Saya ke Jakarta bukan untuk wisata sih, biasanya karena pelatihan atau tugas jadi sisa waktunya untuk jalan sedikit. Semoga setelah pandemi ini hilang bisa jalan ke Jakarta dan khusus berkunjung ke sini. Iri baca artikel ini hi-hi-hi

    • melinase July 4, 2020 at 10:59 am Reply

      Bogor-Jakarta masih bisa terjangkau jaraknya. Semoga kalau kesini lagi saya bisa meluncur ke Jakarta nih buat jalan-jalan ke museum sama Bunda, ya.

  • Sani July 4, 2020 at 9:56 am Reply

    Emang sih kl ke Museum tu kadang bosan. Kecuali emang interest bgt sama sejarah n benda2 bersejarah. Tapi saya termasuk yg sering juga ke museum. Sayangnya blm pernah ke museum nasional hehe. Moga kelak bisa ksana ya

    • melinase July 4, 2020 at 10:59 am Reply

      Tenang, Bang, aku juga belum pernah melasak ke Aceh seperti dirimu, hahaha …

  • Linda Puspita July 4, 2020 at 10:01 am Reply

    Salah satu liburan edukatif yang menarik ya mbak, sayangnya rumah kami termasuk pelosok, mau ke kota masih was was sama si covid. Semoga bisa jalan-jalan ngajak anak ke Museum.

    • melinase July 4, 2020 at 10:58 am Reply

      Edukatif banget, Mbak. Semoga nanti berkesempatan ya mengajak anak-anak berkunjung ke museum.

  • Nurhilmiyah July 4, 2020 at 11:02 am Reply

    Perlu banget ini ngajak anak² ke museum, buat wisata edukasi ya Mbak Mel, saya sendiri juga suka ngajakin anak ke museum, tp sementara ke museum dalam kota aja , belum ke museum nasional yg di Bogor kayak yg mbak ulas ini. Nice share ya tfs Mbak Melina…

    • melinase July 4, 2020 at 12:24 pm Reply

      Museum Nasional di Jakarta Pusat, Mbak. Lebih dekat ya misalnya tinggal di luar kota. Semangat ya jalan-jalan ke museum.

  • Irsyad (irsyadmuhammad.com) July 4, 2020 at 11:45 am Reply

    Belum pernah ke museum nasional, semoga nanti ada rezeki berkunjung ke sana. Tp saya emang punya niat, kalau udh punya anak pinginnya sering bawa anak2 rekreasi ke museum utk menambah edukasi dan wawasan. Dr pd jalan2 ke mall doang atau main game

    • melinase July 4, 2020 at 12:23 pm Reply

      Nah iya, Kak, mall tuh sesekali ajalah. Aku kesana juga hanya buat makan. Museum malah lebih asyik. Museum sekarang bagus-bagus, kok.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.