Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Membiasakan Pekerjaan Domestik pada Anak

Membiasakan Pekerjaan Domestik pada Anak

Suatu ketika, putra sulung saya hendak pergi tidur dan mengatakan sesuatu. Lumayan bikin saya tercengang. Besok-besok, saya berjanji pada diri sendiri agar kalimat tersebut nggak pernah lagi terlontar darinya.

“Aku sedih. Hari ini Mama nggak minta tolong apapun sama aku.”

Pekerjaan Domestik; Urusan Anak atau Orangtua?

Selama menjalani school from home, anak-anak jadi banyak terlibat di dalam pekerjaan domestik. Terutama sulung, ya. Apalagi kalau diajak masuk ke dapur, wew! excited banget! Adiknya juga sama sih, tapi lebih sukanya yang bisa main air, misalnya mencuci sandal, sepatu, atau menyikat teras. Entah mau bantu, entah niat main air, wkwkwk

Sulung tuh selalu berinisiatif mau bantu setiap kali lihat saya beraktivitas di dapur.

Lihat saya motongin sayur, “Mama, aku aja.”

Lihat saya siap-siap menumis, “Mama, aku aja.”

Lihat saya menggoreng, “Mama, aku aja.”

Lama-lama, saya cuma siapin bumbu, lalu dia sendiri yang lihai mengolahnya di atas wajan. Saya tinggal bilang aja, urutan bahan yang dicemplungin, termasuk kapan garam dan kawan-kawan ikutan nyemplung.

Meminta bantuan anak tuh bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah dibiasakan sejak kecil, susah kalau dadakan sudah besar baru dimintai tolong. Eh, bisa susah juga sih kalau kita minta tolongnya di waktu yang nggak tepat atau di pekerjaan yang dia kurang suka.

Bisa menangani pekerjaan domestik tuh buat saya life skill. Anak lelaki maupun perempuan harus bisa. Saya nggak tahu sampai kapan mereka akan tinggal bareng saya. Andai nanti mereka bersekolah jauh dari rumah, bukan kah mereka harus mengurus diri sendiri? Cuci pakaian, cuci piring, memasak, membereskan barang-barang, semua bakal dilakukan sendiri. 

Buat saya, pekerjaan domestik menjadi tanggungjawab bersama. Nggak ngaruh lelaki atau perempuan. Satu keluarga, ya harus gotong-royong.

Pekerjaan Domestik dan Masa Kecil

Sejak kecil, saya dan kedua kakak, udah terbiasa membantu meringankan pekerjaan orangtua di rumah. Waktu masih tinggal di Wonogiri, which is airnya susah, kami harus pakai sumur pompa yang beratnya ampyuuun, deh. Kalau di sini nggak keluar air, kami ke rumah eyang di sebelah rumah yang punya sumur timba.

Eh, sebenarnya waktu itu kami tinggal sama eyang juga, sih, bapaknya bapak saya. Tapi di sana tuh, tetangga kanan, kiri, belakang, ya memang eyang juga namanya. Efek sekampung sodaraan semua isinya, hahaha

Buat anak kelas dua SD, kalau dipikir-pikir saya termasuk perkasa waktu itu, wkwkwk … Mesin pompa air di rumah tuh beraaat banget ditekannya. Kadang ya, pas mau diangkat, eh kejedot kena dagu. Untung nggak benjol. Terus ya, badan saya yang kecil seperti mau nyemplung ke dalam sumur waktu menarik ember berisi air. Padahal embernya kecil. 

Tapi justru ember kecilnya itu bikin nggak enak juga. Kolah alias bak mandi di rumah tuh guede. Jadinya apa, dong? Iyes, bener. Kolahnya nggak kunjung penuh. 

Selain mengisi air, kami juga masih punya tugas menyapu halaman dan mengelap meja, kursi, lemari, dan jendela. Kelihatannya sederhana, tapi bikin capek juga, loh. Lah wong halamannya luas, banyak tanaman, otomatis banyak daun berguguran yang mesti disapu. 

Meja, kursi, dan lemari, di rumah juga banyak banget. Makan waktu juga buat menyelesaikan itu. Khusus saya, ada tugas buat belanja ke warung. Dalam sehari, saya bisa bolak-balik ke warung. Saya tuh suka banget jalan-jalan meskipun cuma ke warung. Ketahuan ya, dari kecil memang suka jalan kaki.

Selesai sama pekerjaan rumah, waktunya keluar rumah buat sepedaan dan main sama teman-teman. Kalau udah main lama, jauh, dan pulang-pulang suka dimarahin, wkwkwk

Bertambah usia, saya dapat tugas baru yaitu menyetrika pakaian dan lagi-lagi menimba air. Entah kenapa ya, kami tuh dulu tinggal di daerah yang airnya susah melulu. Sekarang-sekarang ini, saya suka heran sekaligus takjub, kok dulu bisa ya mengangkat ember berisi air, bolak-balik, dan hampir tiap hari itu? Hahaha

Membiasakan Anak Melakukan Pekerjaan Domestik

Sudah jadi ibu-ibu, saya memang membiasakan ke anak-anak untuk mau ikut membantu mengerjakan pekerjaan domestik. Bisa dimulai dari yang paling mudah, sih. Misalnya aja membereskan mainan dan perlengkapan sekolah, mengelap meja, kursi, dan kaca jendela, menyapu, membersihkan teras, mencuci piring, sampai kemudian memasak.

Putra saya berusia 10 tahun dan putri saya berusia delapan tahun. Saat ini, kakaknya yang paling mendominasi urusan bantu-membantu pekerjaan domestik ini. Adiknya sih sebenarnya gampang dimintai tolong, tapi ya gitu, bangunin dia aja susah terus doi tuh kalau dimintai tolong kebanyakan ngomong. Jadi saya suka gemes, wkwkwk

Gimana caranya supaya anak mau membantu mengerjakan pekerjaan domestik? Ini ada beberapa tips dari saya ya, parents

Awali dengan Meminta Tolong

Percaya kan kalau cara kita berkomunikasi akan mempengaruhi respon lawan bicara? Demikian juga dengan anak-anak. Kalau orangtua memulai komunikasi dengan cara yang nyaman, InsyaAllah anak-anak juga akan meresponnya dengan cara menyenangkan.

Biasakan meminta tolong, bukan menyuruh. Saya pun nggak suka disuruh-suruh. Kuping dan hati tuh bawaannya panas gitu, wkwkwk

Dampingi dan Ikut Serta di Awal

Anak-anak selalu senang jika melakukan kegiatan bersama orangtuanya. Di awal, orangtua bisa ikut mendampingi anak dalam mengerjakan tugasnya. 

Kalau tugas hari itu adalah membersihkan kaca jendela, dengan mendampingi, orangtua bisa memberi tahu peralatan apa aja yang digunakan dan caranya gimana. Selain itu, saat mendampingi, otomatis orangtua ikut terjun, kan. Anak akan melihat contoh langsung, “Oh begitu ya caranya.”

Ingat bahwa orangtua tuh role model-nya anak-anak banget. Mereka akan mengikuti apa yang kita ucapkan dan lakukan. Lagipula, lebih nyaman begini loh dibandingkan mengucapkan serentetan kalimat soal instruksi. Anak belum tentu paham dan orangtua nggak kehausan karena mengulang-ngulang terus.

Perhatikan Mood dan Kondisi Anak

Tugas-tugas domestik biasa saya sodorkan di pagi atau sore hari. Pagi hari dengan kondisi school from home, ya. Habis Subuhan gitu, deh.

Di waktu pagi, anak cenderung belum ada kegiatan yang padat, misalnya belajar. Hari masih pagi, baru selesai mandi dan masih segar, mood anak lebih terjaga. Kalau dimintai tolong, pasti juga lebih bersemangat. Begitu juga di waktu sore.

Harus diingat bahwa anak-anak adalah pelajar. Maka tugas utama mereka adalah belajar. Kalau mau memberikan tugas, pastikan anak nggak sedang riweuh dengan tugas sekolahnya. Kalau sampai kejadian, bisa buyar deh semangatnya. Antara lebih bersemangat membantu pekerjaan domestik tapi udah kecapekan saat mau mengerjakan tugas sekolah, atau sebaliknya. 

Jangan begini, ya.

Berikan Pujian dan Hati-Hati dengan Kritikan

Jangankan anak-anak, orang dewasa pun senang kan kalau dapat pujian? Orangtua bisa memberikan pujian dengan berbagai cara, misalnya:

“Makasih ya, Mas, sudah bantu Mama hari ini. Mama jadi nggak terlalu capek. Sekarang bisa bantu Mas dan Adek belajar, deh.”

“Makasih ya, Nak, hari ini rumah kita jadi lebih bersih, ya. Belajar dan main di lantainya lebih enak, deh. Debunya udah pada kabur, sih.”

“Makasih ya, Nak. Duh, kalau tadi Mas dan Adek nggak bantu, pasti sekarang Mama nggak sempat kerjain PR tulisan. Padahal ditunggu banget.”

Kalau saya, biasa memberikan kritikan membangun saat kejadian, bukan di akhir. Misalnya, tempe yang digoreng anak sedikit gosong, sampaikan aja, “Kayaknya ini tadi kelamaan deh, Mas. Nanti pas masukkan tempe lagi, lebih cepat aja diangkatnya. Apinya dikecilin juga boleh.”

Saya menghindari memuji anak kemudian menjatuhkan, seperti:

“Makasih ya, Nak, udah bantu Mama masak. Yaaah, biarpun tempenya ada yang gosong.”

Apalagi kalau bilangnya di hadapan orang banyak alias nggak cuma sedang berdua. Bisa patah semangat, deh. Tegurannya cukup di saat kejadian aja, itu cukup. 

 

Manfaat Membiasakan Si Kecil Membantu Pekerjaan Domestik

Melatih Kemandirian Anak

Seperti yang saya bilang di awal, bisa melakukan pekerjaan domestik adalah life skill. Pada dasarnya orangtua tengah memberikan ketrampilan yang akan dia butuhkan untuk jangka panjang. Apalagi bagi orangtua yang berencana menyekolahkan anaknya di luar kota atau luar negeri. 

Membayangkan anak nggak ngerti cara mencuci piring atau menyetrika pakaiannya kok mengerikan ya buat saya. Memangnya mau mengandalkan siapa di sana? Mau menyediakan asisten khusus? Salah satu yang diharapkan saat anak beranjak besar tentu terbentuknya kemandirian. Kalau apa-apa dilayani terus, menurut saya sih orangtua malah berperan melemahkan kemandirian anak, loh.

Saya punya seorang teman yang sejak kecil sampai SMA, semuanya dilayani. Ceritanya memang anak orang berada. Begitu kuliah di luar kota, tiba-tiba aja dia dilepas. Awalnya kebingungan. Tapi dari situ dia jadi mandiri. Lulus kuliah, jago masak. Tapi seberapa banyak orang yang bisa begini? Bukan kah lebih mudah kalau anak udah terbiasa?

Menyiapkannya Menjadi Orangtua

Kedengerannya ini tua banget. Yah, anggap aja saya tengah berperan sebagai orangtua yang visioner ya, wkwkwk

Anak perempuan saya harus berwawasan luas dan tentunya tetap terampil dong melakukan pekerjaan domestik. Nanti menikah, punya anak, sepintar-pintarnya dia, harus tetap bisa mengurus rumah. Nah, khusus buat anak laki-laki, saya berharap dia siap menjadi kepala keluarga yang hebat. 

Hidup saya dikelilingi oleh laki-laki yang nggak pernah menyentuh pekerjaan domestik. Semuanya diserahkan kepada perempuan. Saya nggak suka begini. Suatu hari nanti, saya mau anak saya menikah dan bukan hanya berperan sebagai pencari nafkah. Dia harus bisa juga dong bersama-sama istrinya mengasuh anak-anak dan melakukan pekerjaan domestik. 

Saya nggak mau deh, kelak istrinya masih kelelahan usai melahirkan terus masih harus berjibaku dengan pekerjaan domestik tanpa dibantu sang suami.

Such a nice future plan for my kiddos, ya?

Menempatkannya Sebagai Sosok yang Dibutuhkan

Sadar atau nggak, melibatkan anak ke dalam pekerjaan domestik juga menjadi salah satu cara orangtua menempatkan anak sebagai sosok penting dalam hidupnya. Menyadari bahwa orangtuanya membutuhkan pertolongannya, sangat terbantu dengan keterlibatannya, dan mengapresiasi hasil dari pekerjaan yang dilakukan, bisa membuat anak yakin bahwa keberadaannya itu penting bagi orangtuanya.

Di rumah, Nona Kecil suka protes karena kakaknya diberi tugas sedangkan dia nggak.

“Aku juga mau. Aku ingin bantu. Mas dapat tugas, aku nggak.”

“Mama selalu minta tolong sama Mas. Padahal aku juga bisa olesin selai ke atas roti.”

“Aku juga ingin menggoreng bakwan. Aku bisa. Aku bisa berdiri pakai kursi.”

Yang terakhir itu sewaktu saya nggak pernah minta tolong adiknya untuk menggoreng sesuatu karena tubuhnya kurang tinggi. Karena mau bantu juga, akhirnya dia berdiri di atas dhingklik biar bisa ikutan menggoreng, hahaha

*****

Jadi, sampai sekarang saya masih pro menjadi orangtua yang membiasakan anak melakukan pekerjaan domestik. Baru sebentar nggak saya libatkan dalam pekerjaan domestik, sulung merasa sedih karena saya nggak meminta bantuan darinya. Memang sih, saya sedang ingin anak-anak fokus dengan sekolah di tahun ajaran baru ini. Tapi ternyata, itu malah bikin dia nggak nyaman. 

Penting banget memang memahami keinginan anak. Apalagi karakter setiap anak tuh beda-beda. Teman blogger saya Rini Rahmawati pernah mengulas Pembentukan Karakter pada Anak. Parents bisa baca juga, ya.

Kalau parents di rumah, gimana? Yay atau Nay nih membiasakan anak melakukan pekerjaan domestik di rumah? Sharing di sini, yuk.

With love,

Melina Sekarsari

57 comments found

  1. Saya setuju banget dengan membiasakan anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Mbak. Cuma belum nemu cara yang tepat supaya mereka melakukannya dengan Happy. Mungkin cara dari mbak Melina bisa saya tiru nih. Makasih sharingnya.

  2. Nah keren banget ini metodenya. Anak2 jadi terbiasa mengerjakan pekerjaan domestik di rumah. Harapannya sang ibu bisa mulai berkurang capeknya dan bisa lebih fokus dalam mengatur sistem rumah tangga yang lain.

  3. Setuju bgt nih, Mbak. Contoh nyata anak yg d biasakan mengerjakan pekerjaan domestik adalah suami saya, biar laki-laki dy gak gengsi buat ngerjain segala kerjaan rumah.

    Beda sama adik2 saya d rumah, kebiasaan ada ART jd besarnya apa2 harus dimintain tolong dulu baru gerak. Hehe..

    1. MasyaAllah … Kan senang ya Mbak, kalau pasangan bisa turut terlibat dalam pekerjaan domestik. Anak-anaknya pasti jadi ikut terbiasa juga. Itu terbawa loh sampai mereka dewasa.

    1. Betul … Dipilah-pilah tugas yang aman untuk mereka. Aku pribadi belum berani memberikan tugas menyetrika pakaian. Khawatir gosong lah, kebakar lah, kena tangan lah, huaaa … Padahal usia segitu dulu aku tiap hari nyetrika juga, hahaha …

  4. Asik banget sebenrnya ya ngajarin anak2 kegiatan bersih2 rumah dan kerjaan domestik lainnya.. Kalo dah gede mamak tinggal pantau2 aja.. semua dah diberesin bocah hehe

  5. Kakak dan Adik pintar sekali sudah bisa bantu-bantu Mama ngerjain pekerjaan di rumah. Setuju aku Mbak Mel life skill itu perlu buat anak laki-laki maupun perempuan. Jadi mengenalkannya sejak dini itu penting sekali
    Akupun diuntungkan nih anak-anak SFH, jadi ringan kerjaan ibuknya hahaha. Masalah nyapu rumah, ngepel, nyapu halaman, nyupir, asisten masak …dan lainnya ada 2 siap sedia:D

  6. Pekerjaan Domestik ; Urusan Anak atau Orang Tua.
    Kalau menurutku secara pribadi sih urusan kedua nya, baik orang tua maupun anak. Karena menurutku jika orang tua melibatkan anak dalam hal pekerjaan rumah maka secara tidak langsung anak akan terbiasa membantu.

    Ya walaupun yang orang tua suruh baru sekedar merapikan kamar dan mainan nya sendiri lama lama nanti ia terlatih.

  7. Masya Allah Tabarakallah, suka sekali bacanya kalau anak-anak sudah mau diajakin bantu-bantu di rumah. Semoga nanti caranya bisa diterapkan ke anakku juga, pasti happy

  8. Alhamdulillah kak Me, aku pun di rumah membiasakan anak punya tugas.
    Si sulung emang paling empati ya.. tugas dia segunung. Kadang mandiin adek, nyuapin, sampe jagain adek. Udah bisa masak nasi juga di rice cooker. Kalo emaknya sakit, dia yang nyeplokin telur. Emang si sulung jadi sahabat banget ya kak..

    1. MasyaAllah … Mungkin karena anak sulung gitu ya, Kak Icha. Jadi rasa ingin membantu ke orangtua jauh lebih besar dibandingkan adiknya. Semoga terus seperti ini sampai kelak dewasa dan berkeluarga.

  9. anaknya keren, mbak. sensitif.

    ingat suatu kali nginep di saudara teman. anak2nya udah gede, bahkan bangun tidur, beresin tempat tidur juga engga. bingung, apa ga diajarin sm ortunya.. membayangkan kalau suatu kali tiba2 dihadapkan pd kondisi hrs mandiri

  10. Melatih anak mengerjakan pekerjaan domestik tuh harus banget kalau kataku. Aku setuju mbak dengan cara njenengan mengajak mereka eksplorasi skill dengan cara sederhana. Akutuh pernah menemukan emaks-emaks ngelarang anaknya bantu2. Btw anaknya cowok. Si emak bilang, anak cowok gak boleh ikut2an pekerjaan rumah.

    Nah, aku mikirnya justru kalau ada anak cowok atau cewek punya inisiatif semacam itu kudunya didukung. Malah diberi stigma kalau anak cowok gak boleh bantu2. Padahal itu berguna banget kalau semisal anak2 merantau jauh dari ortu. Ehhhh malah cerita banyak jadinya ?

    1. Aku senaaang sekali kalau ada orangtua yang setuju. Yang namanya life skill kalau nggak menguasai ya nggak bisa bertahan kan, ya? Apalagi kuliah di luar negeri, mana ada istilah ART?

  11. bener bngt mba pekerjaan domestik hrs dibiasakan pd anak sejak kecil ya mau anak co ato ce hrs terbiasa..kalau sdh besar sdh susah dan jd terbiasa cuek nantinya..

  12. Setuju kalau semua urusan domestik itu urusan bersama soalnya semua orang itu membutuhkan kemampuan bertahan hidup. Seru juga ya kalau mengajak anak-anak ikut mengerjakan pekerjaan domestik

  13. Tulisan yg bermanfaat banget buat saya ini mba. Soalnya sejak sekolah di rumah, Si Kakak kerjanya nonton aja. Dimintain tolong pura-pura gak denger ampe stress sayah. Pengennya sih ngasih contoh ato ngerjain sama-sama. Tapi karena adik-adiknya ini suka bikin riweuh, ujung2nya jadi saya sendiri yang ngerjain semua. (walo sebenernya saya sangat butuh bantuan) ?

    1. Wah, ini malah sejak di rumah malah jadi gampang dimintain tolongnya, hihihi … Terbalik, yaaa.

      Semoga dimudahkan ya, Mbak. Duh, pasti ibu repot banget urus semuanya kalau nggak ada yang bantu.

  14. Alhamdulillah ya anak2 mau melakukan pekerjaan rumah. Bukan karena harus membantu kita. Tp bener2 melatih anak untuk mandiri juga nanti ke depannya..

    Aku juga gitu nih. Alhamdulillah mereka jd punya tanggung jawab dan disiplin

  15. Wuaaa jadi termotivasi dan dapat insight banget.. saya masih rada bermasalah dgn urusan ngajakin anak2 buat nyelesaikan pekerjaan domestik ini. Mungkin karena masih kecil2 ya.. tapi mba speetinya disinilah lemahnya saat saya seringkali merasa mereka masih kecil… terima kasih tulisan mencerahkannya

    1. Aku juga baru mulai saat mereka SD gitu, Mbak. Mulai pekerjaan ringan-ringan aja terus kitanya ikutan. InsyaAllah mereka senang, kok. Selamat mencoba, yaaa.

  16. Saya dulu waktu kecil nggak suka banget kalau disuruh ngerjain pekerjaan rumah begini mbak. Kalau beres tidak diapresiasi, kalau nggak beres dimaki. Akhirnya saya malas melakukannya. Waktu besar kok jadi blunder sendiri.

    Sejak itu, saya jadi pingin mengubah segalanya. Pingin belajar gimana caranya mengajarkan anak bisa enjoy mengerjakan pekerjaan rumah. Biar nanti bisa leyeh-leyeh kalau mereka besar. Hehehe..

    1. Siapapun pasti nggak suka kalau hasil pekerjaannya nggak diapresiasi apalagi malah dicaci ya, Mbak. Aku yakin begitu. Ada yang jadi termotivasi, ada juga yang malah jadi malas buat mencoba lagi.

  17. Yang pasti untuk menyiapkannya menjalani kehidupan di masa depan. Tidak selamanya kita ada. Tidak selamanya kita bisa mendampingi. Anak harus ditempa agar mereka mampu hidup mandiri.

  18. Bener mba, kalau mulai dr kecil anak membantu pekerjaan orang tua maka ketika besar mereka tak canggung lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sya aja tertawa mendengar pengakuan teman kerja yg ga bisa masak nasi. Hehehe.

  19. saya juga seperti ini mbak dirumah, terutama sama anak yg paling besar (6thn) nanti ketiga adeknya jadi ikut2an bantuin. awalnya ya repot sih, kayak nyapu malah gak bersih, karena kebanyakan becandanya heheheh.. tp lama lama mereka bisa bertanggung jawab gitu sama pekerjaannya masing2

    1. Setidaknya mereka sudah diperkenalkan dulu ya, Mbak. Anak-anak sih memang biasanya banyakan merusuhnya daripada bersihinnya, hahaha … Nggak papa, tanggungjawab akan terbentuk kok seiring bertambahnya usia.

  20. Setujuuu maksimal. Seneng biangettt ada emak2 blogger nulis soal pekerjaan domestik gak tabu buat anak laki2. Habisnya saya gemessss sama 80% emak2 disekeliling saya, sebab mentabukan anak laki2nya belanja ke pasar tradisional, memasak cuci piring en so on😁. Secara ya kan koki handal juga banyak yg laki2😄😄. Mana saya dikatain ratu tega sama anak saya cewek atu2nya lagi. Bener sayasepaham sama penulis, suka merinding disko kalau liat anak laki2 sekarang pada gagap skill domestik, sampai2 daripada kelepasan julid, sy milih berdoa smoga kelak putriku dapet suami yg skill domestiknya kayak ayahnya; pintar membantu istri urusan domestik wajan, pisau hingga panci😄😄😄. Ditunggu tulisan berikutnya 😍

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.