Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Manfaat Read Aloud dalam Memperbaiki Kekeliruan Berbahasa Anak

Manfaat Read Aloud dalam Memperbaiki Kekeliruan Berbahasa Anak

Moms and Dads, pasti senang dong ya kalau mempunyai anak yang senantiasa santun dalam berbahasa. Saya pernah bertemu dua orang anak di jalanan komplek yang gaya bicaranya bikin saya melongo. Dari seragamnya, keduanya duduk di sekolah menengah pertama. Bukan anak kecil banget dong, ya. 

Anak satunya memanggil temannya dengan sebutan yang menurut saya tuh kasar. Tapi anehnya, temannya tuh nggak tersinggung, loh. Sesudahnya temannya tersebut membalas dengan ucapan yang nggak kalah kasar. Oalah, ternyata keduanya sama saja. Kalau kamu ketemu kondisi begitu, kira-kira apa yang terpikir di kepala? Kalau saya, auto mikir, anak-anak siapa sih itu?

Terlalu Sopan atau Malah Keliru Berbahasa?

Alhamdulillah, anak-anak saya terbiasa menggunakan bahasa yang sopan. Malah kadang sopannya tuh kebangetan. Pernah loh, Nona Kecil bertanya artinya goblok itu apa. Dia dengar dari televisi dan kepengen tahu.

Memang sih ya, bahasa yang digunakan anak-anak kita tuh erat banget kaitannya dengan lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan bermain atau tetangga, dan lingkungan sekolah.

Tapi nih, saking sopannya, Nona Kecil malah jadi keliru berbahasa. Menurut saya sih ini keliru, ya. Ikutin dulu aja cerita saya ini.

Jadi … saya kan doyan jalan-jalan, nih. Selama pandemik tetap mau plesiran. Bosanlah berbulan-bulan di rumah melulu. Pergilah saya jalan-jalan ke Eropa. Kepengen banget ke Swiss, bersama anak-anak. Ceritanya pengen menikmati yang hijau-hijau, jadinya memilih ke arah pedesaan. Ini maksudnya virtual traveling alias nonton di YouTube ya, wkwkwk

Sehabis nonton bareng gitu, biasanya saya suka merangkum sambil ajak anak-anak ngobrol lewat tanya jawab. Pengen tahu, anak-anak menangkap apa sih dari tontonan tadi.

 

Source: CNN

“Tadi kita jalan-jalan kemana?”

“Swiss itu ada di benua apa, sih? Selain Swiss, ada negara apa aja di sana?”

“Penduduk di pedesaan di Swiss hidupnya kayak gimana? Mereka bikin apa aja?”

“Susu, telur, dan keju, didapat dari mana, sih? Owh, emangnya mereka pelihara hewan apa aja?”

Lalu waktu saya menyebutkan kata ayam, sapi, dan babi, eh Nona Kecil teriak, dong.

“Stop, Mama! Nggak boleh bilang gitu.”

Saya kaget, salah ngomong atau gimana ini? Menurutnya, seharusnya saya menyebut babi dengan b-a-b-i, karena kalau langsung membaca itu namanya nggak sopan. Apalagi karena babi itu haram bagi umat muslim.

Wah, saya lebih kaget lagi dengerin penjelasan dia. Well, memang ya sebagai muslim, banyak banget aturan yang harus ditaati. Termasuk larangan untuk nggak mengonsumsi babi beserta turunannya. Tapiii, yang nggak gitu juga kali. Masa kata babi seharusnya dibaca b-a-b-i?

Menurut saya ini keliru, jadi harus diperbaiki. Gimana caranya?

Kebiasaan Membaca Nyaring (Read Aloud)

Sejak kecil, saya lebih suka membaca dengan bersuara dibandingkan di dalam hati. Bawaannya ngantuk sih kalau baca sepi-sepi gitu. Lagian, urusan di dalam hati biarlah jadi bagian Dea Mirella yang tengah merasakan indah cinta itu. Yang seangkatan saya, adik kelas atau kakak kelas, mungkin langsung nyanyi, wkwkwk

Ditambah lagi, dulu banyak pelajaran sekolah yang siswanya dipaksa menghapal. Ya cocok bangetlah jadinya. 

Makanya waktu punya anak, saya suka banget bacain buku buat mereka. Mengenalkan anak ke buku, berbagai macam cerita, sekaligus memang menyenangkan diri sendiri, hihihi … 

Yang jadi buku favorit.

Anak-anak, terutama Nona Kecil, suka banget kalau saya bacain cerita. Mereka suka lihat ekspresi saya kalau sedang membaca. Kadang pasang wajah marah dengan suara mengaum atau membentak, kadang pasang wajah sedih dengan suara lirih, kadang pasang wajah cerita dengan tertawa-tawa, dan masih banyak lagi.

Ibunya nih jago banget memang jadi apa aja. Penuh totalitas, deh. Baca cerita tentang kodok, saya jongkok dan lompat-lompat. Baca cerita jadi panda, saya pura-puranya gigitin pensil. Anggap aja itu bambu. Baca cerita tentang tikus, dua tangan saya tekuk di depan dada sambil jalan cepat-cepat terus matanya tengok sana-sini. 

Nah, waktu Nona Kecil protes karena saya membaca babi bukan dengan b-a-b-i, saya ajak lagi dia buat mendengarkan sebuah cerita. Waktu itu, saya sengaja mencari cerita di internet yang ada tokoh babi di dalamnya. Ketemu dari sebuah blog bernama pasucen.blogspot.com dengan judul Kancil yang Nakal dan Babi yang Sombong. Saya nggak menemukan nama penulisnya, sih.

Sebelum membaca, saya bilang terlebih dulu ke Nona Kecil bahwa boleh aja kok menyebut babi dengan babi. Begitu juga menyebut nama hewan lain sesuai dengan namanya. Tapi, ada aturannya, nggak boleh sembarangan.

Aturannya seperti apa, Nona Kecil harus mendengarkan cerita saya dulu. Seperti biasa, saya membacakannya sambil seolah sedang bermain drama. Intonasi dan ekspresi betul-betul dimainkan.

Oiya, Kancil yang Nakal dan Babi yang Sombong bercerita tentang kehidupan di dalam sebuah hutan. Di sana, tinggal seekor babi bertubuh besar dan kuat. Karena merasa kuat, dia tuh sombong banget. Suka menindas hewan-hewan lain. Dia juga suka merusak, seperti menyeruduk pepohonan sampai tumbang dan merusak tanaman. Hewan-hewan lain takut sama dia. 

Suatu hari, seekor kancil lewat di hadapannya. Babi bertanya kancil habis dari mana. Kancil bilang habis jalan-jalan. Babi marah karena kancil pergi jalan-jalan tanpa mengajaknya. Kancil dengan santainya berkata, “Kenapa aku harus mengajakmu? Lebih enak jalan-jalan sendiri.”

Wah, Babi marah, dong. Dia bilang, “Berani-beraninya kamu bicara begitu. Kamu nggak tahu sedang bicara sama siapa? Semua hewan di hutan ini takut kepadaku!”

Eh, si Kancil malah ngeledek. “Loh, kenapa mesti takut? Kamu punya kekuatan apa memangnya? Kayaknya kekuatanmu biasa-biasa aja. Sama aja deh dengan hewan lainnya di hutan ini.”

Makin ngamuklah si Babi. Dia mendengus. “Dasar hewan bodoh! Sudah saatnya aku memakanmu!”

Digertak begitu, apakah si Kancil takut? Nggak tuh, dia malah mengajak taruhan. Nah, ceritanya sampai di sini aja. Kalau kamu mau baca, cari sendiri aja ya, hihihi

Membaca Nama Hewan Seperti yang Seharusnya Tanpa Merasa Bersalah

Dari cerita tersebut, saya tanya sama Nona Kecil, gimana ekspresi dan suara saya sewaktu berbicara menjadi kancil dan babi. Bedanya apa.

Yes, bungsu bilang kalau saat menjadi kancil, nada suara dan ekspresi saya ceria. Tapi saat menjadi babi, ekspresi saya merengut dan marah dengan nada suara yang marah juga sampai membentak-bentak. Oke, bungsu sudah bisa membaca ekspresi dan intonasi. 

Lalu saya lanjutkan bahwa, boleh kok kita membaca babi dengan babi. Begitu juga kalau membaca nama hewan lain. Tapi, kita harus tahu rambu-rambu atau tata tertibnya. Ini dia!

Tidak Ada Maksud Menyamakan Teman atau Siapapun dengan Babi

Saya bilang bahwa semua manusia nggak boleh disamakan dengan makhluk hidup lain, termasuk hewan. Jadi, kalau Nona Kecil mau menyebut babi, boleh saja, selama bukan dengan maksud menghina seseorang. Ini sama sekali nggak boleh. Nggak sopan. Tuhan nggak suka anak yang begini.

Memperhatikan Ekspresi dan Intonasi

Saya bilang sama Nona Kecil, kalau menyebut babi, ekspresi dan intonasi kita nggak boleh seperti tengah marah. Nggak boleh tuh pakai ekspresi dan intonasi seperti si Babi dalam cerita Kancil yang Nakal dan Babi yang Sombong. Nanti dikira orang kita tengah memaki mereka. Ini juga nggak sopan. 

Begitu juga kalau menyebut babi dengan intonasi mendesis. Pelan, tapi seperti tengah menyindir jadinya. Ini juga nggak boleh. Nggak sopan.

Kalau pakai ekspresi dan intonasi seperti si Kancil boleh, nggak? Jangan juga. Kancil kan iseng. Mengejek si Babi. Nanti dikira mengejek teman juga kalau ekspresi dan intonasinya begitu. Mengejek teman baik nggak, sih? Nggak, kan? Lagi-lagi, Tuhan nggak suka anak yang begini.

Saya juga memberikan contoh menggunakan nama hewan lain tapi diucapkan dengan ekspresi marah dan intonasi tinggi. Sama, hasilnya terasa nggak sopan. Jadi bukan hanya babi aja. 

 

Nah, terus gimana dong ekspresi dan intonasinya? Biasa aja. Seperti kalau sedang berkata:

“Namaku Janeeta.”

“Ini Mamaku.”

“Di sana ada seekor babi.”

“Aku punya dua ekor kucing.”

“Seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga.”

“Kambing makan rumput.”

“Harimau menerkam kerbau gemuk.”

Saya sengaja, pakai contoh nama-nama hewan juga supaya Nona Kecil tahu bahwa penyebutan nama hewan sesuai dengan yang sebenarnya tuh nggak apa-apa. 

Sebegini Efektifnya Read Aloud dalam Memperbaiki Kekeliruan Berbahasa

Sampai sekarang saya masih suka membaca nyaring (read aloud) buat anak-anak dan buat diri sendiri. Iya loh, novel bergenre romance aja saya suka pakai read aloud. Entahlah, mungkin sebenarnya saya punya bakat terpendam jadi aktris atau pemain teater gitu, wkwkwk

Tapi manfaatnya terasa banget. Kosakata anak bertambah, anak-anak suka buku, dan ya itu tadi, read aloud membantu saya menjelaskan kekeliruan dalam berbahasanya Nona Kecil. Kalau saya nggak biasa begini, gimana coba jelasinnya. 

Buat anak usia delapan tahun apalagi tipe nggak mudah puas dengan jawaban macam Nona Kecil ini, teori aja tuh nggak cukup. Dia bakal ngejar terus kenapa begini kenapa begitu. Mesti ada audio visual yang dia peroleh sebagai contoh yang bisa dirasakannya langsung.

“Oiya ya, Ma. Ternyata beda.”

Terus, terus, ada yang ajaib dong. Nona Kecil tuh nggak mau menyebut babi tapi lancar menyebut anjing. Padahal kan ya sama-sama aja buat muslim. Waktu ditanya, alasannya bikin saya ngikik.

“Soalnya anjing itu lucu.”

Jiaaah … Faktor lucu nggak lucu ternyata nyelip di sini. Nona Kecil memang suka anjing, saya juga. Sayangnya memang kami nggak diperbolehkan memelihara.

Jadi … Itu pengalaman saya soal kekeliruan berbahasanya Nona Kecil dan read aloud yang bantu saya banget meluruskannya. Makanya, saya mau terus melanjutkan kegiatan ini di rumah. Teman saya Malica Ahmad, ternyata juga punya kegiatan seru ini, loh. Versi dia gimana, kamu bisa intip nih Aktivitas Menyenangkan di Rumah ala Malica Ahmad.

Kalau Moms and Dads di rumah, punya pengalaman kayak gimana soal read aloud ini? Share ceritanya di sini, yuk.

Salam,

Melina Sekarsari

57 comments found

  1. Hihihi kalau sama aku berarti dia bakalan sukak pastinya. Soalnya aku kan lucu wkwkwkwkwk… Btw Nona kecil pandai sangad ya, kritis dan cerdas kayak mamahnya. Aku juga mau niruin deh gaya read aloud ini buat ngelatih Kevin

    1. Tentu saja. Tante Bety kan lucu dan menggemaskan, wkwkwk … Ajarin nyanyi juga ya, Tante.

      MasyaAllah … Namanya bocah ya, Mbak, ngoceh tiada henti. Nanya melulu. Satu kali jawaban nggak akan cukup, hahaha …

      Iya yuk, asyik banget read aloud itu.

  2. sekarang ini banyak media untuk belajar ya….
    Read aloud salah satu media yg sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kecerdasan anak. Ibu2 perlu banget tahu untuk anak2nya.

  3. Ternyata ya membaca dengan suara yang nyaring, apalagi dihadapan si kecil, apalagi dengan membaca buku2 itu, apalagi kalau yang baca bisa berekspresi dengan baik. Loh kok jadi cemburu sama nona kecil kenapa mamaku enggak begitu dulu. Biar adil, sepertinya teknik dan ilmu ini harus saya transfer ke anak.
    Nuhun Mbak

  4. Gimana kalau nyaksikan kami anak sumut becakap ya, bisa jantungan kalian ini hhaa
    Anak2 sini biasa berkarab2 nyapa dengan bahasa gini :
    Way njing, mo kemana klen?
    Sini ko bodo!
    Cam babi pun ko lama lama…
    Sukakmu lah longor…
    Oi lapet… Cemana nya ko main
    Pauk kali si kawan ini hahhaa
    Kl saya sih dengernya biasa hihi

    1. Abang … Aku ngakak bacanya, wkwkwk … Anakku padahal punya darah Sumut juga. Tapi iya sih, kayaknya dia bakal kaget karena memang lebih dekat ke lingkungan Jawa.

  5. Pinter yaa Nona Kecil. Bagus ya konsep Read Aloud, sambil membaca, sekaligus memperbaiki cara membaca, dan faham makna. Keren…Nah, itu babi, sebelumnya dibaca b-a-b-i, lucu juga ya. Kita terpengaruh sama lingkungan, padahal baca ya baca saja.

    1. MasyaAllah … Alhamdulillah, Bunda.

      Asyik banget ikutan membiasakan read aloud. Memainkan intonasi dan ekspresi gitu.

      Nah, padahal babi dibaca babi mah sah-sah aja kan ya, Bun.

  6. waaaaah keren, mbak. itu yg jalan2 virtual, beneran ga kebayang. secara emang ga punya anak. pembelajaran yg menarik.

    read aloud, sepakat. musti digalakkan.. setelah di masa lalu guru selalu menyuruh membaca dlm hati

  7. Saya juga senang sekaliii mbakk kalau bacain buku-buku cerita buat ponakan, sambil sekalian ngajarin baca mereka yang benarr. Sepakat banget kalau kebiasaan read aloud ini baik untuk diterapkan untuk ke anak-anak ☺️

    1. Seru kan, yaaa. Apalagi kalau jadi harimau mengaum lalu mengejar kancil. Para kancil alias anak-anak pada lari-larian sambil ketawa dikejar harimau alias emaknya, wkwkwk …

  8. Bener mbak, anakku saat usia 3 tahun tuh idah bisa menyebut dirinya saya atau aku. Bukan dede lagi. Jadi kalau bertanya ke orang-orang, tetangga jadi ketawa karena bahasanya formal berbeda dengan temannya.

    1. Hahaha … Nggak papa, sih. Itu malah bagus menurutku. Tetap santun, yaaa. Kalau sampai besar masih membahasakan diri dengan Dede rasanya kurang pas juga.

  9. Sederhana tetapi sangat bermakna. Itu lah kegiatan read aloud yang saya selalu lakukan di kelas bahasa juga mbak. Semangat terus dengan nona cantiknya, ditunggu ilmu-ilmu bermanfaat lainnya mbak. Love it!

  10. Kasus B-A-B-I ini sama kayak DUoNaj. AKu pernah dilarang bilang anjing, disuruh ganti UUK atau enggak dog. babi diganti pig. ya padahal podo bae. Astaga juga gak doibolehin karena mereka prefere astaghfiruolloh untuk orang Islam. Ya, boleh-boleh aja sih, tapi tetep kudu dibenerin. Anjing memang nama binatang, jadi boleh diucapkan, yg gak boleh digunakan untuk mengumpat. Begitu pun Babi. Astaga juga nggak apa-apa, karena itu bahasa Indonesia. Pasti kita gunakan. Tapi astaghfirulloh juga lebih baik. Tergantung konteksnya. ANak sekarang ya, kritis.

    1. Nah, aku juga nggak setuju Mbak kalau diucapkan dengan istilah lain misalnya bunyi-bunyian. Sah-sah aja kan ya dibaca secara wajar, sepanjang ada rambu-rambunya termasuk jangan mengumpat itu.

      Sebagai orangtua sih sebenarnya kita berniat meluruskan ya. Yang salah tentu harus dikoreksi. Bagaimanapun, ada kaidah berbahasa yang benar, tanpa harus mendobrak aturan agama juga.

  11. Belum punya anak, tapi bisa kusarankan untuk kakakku kak! Seru banget ini cara jalan2 virtual juga. Dan membaca nyaring itu juga bisa mengasah percaya diri sih. Siapa tahu kan nanti suatu hari disuruh baca UUD1945 pas upacara bendera 🙂 biar bangga ortu

    1. Hahaha … Hemat tapi tetap menyenangkan, kok. Sambil berdoa aja supaya bisa kesana beneran, xixixi …

      Nah iya, bener banget. Dulu aku suka banget kalau dapat tugas baca UUD 1945. Berasa gagah berani gitu, hahaha …

  12. Sukaaaa sekali bacanya
    Membiasakan untuk membacakan cerita pada anak sejak dini pastinya membawa efek positif untuknya selain memang untuk bonding anak – ortu

    Anakku aja sekarang udah 10 tahun kadang masih minta dibacain cerita lho klo lagi kimat manjanya hehe

  13. Haha lucu banget si nona kecil mba. Tapi aku juga waktu kecil begitu, ngomong ‘anjing’ dan ‘babi’ itu bagi saya haram karena ngomong kotor namanya haha. Saya takut banget nyebut kedua itu. Memang masa anak anak itu unik banget

  14. Waktu anak-anak masih kecil, saya juga sering membacakan dongeng dengan berbagai ekspresi dan intonasi supaya mereka tertarik. Tapi hanya itu aja, gak sampai mempraktekan gerakannya, Mbak., hehehe
    Ibunya Nona Kecil, totalitas, deh! Kereen!

  15. Dengan read aloud anakpun jadi lebih mengerti apa yang sedang dibacakan ya kak, dan bisa langsung menanyakan kalau ada yang ga dimengerti, sebab kalau tidak read aloud takutnya si anak malah tidur.

  16. Aih bener banget ini mbaa. Aku sendiri sudah praktik ke anak sendiri hehehe.
    Alhamdulillah kemajuannya pesaaat. Dia jg gampang memahami perintah. Bisa cerita2 sendiri meskipun pakai bahasa bayi wkwkwkw. Aku save ya mba tulisannya. Bermanfaat banget

  17. Ya Allah aku gemezz jadinya sama Nona Kecil. Pinter ini anak…Lucu banget dengernya dia kekeuh ngomong babi enggak boleh gitu harus b-a-b-i hihihi.
    Memang read aloud bisa bantu anak paham jika intonasi, ekspresi bisa membedakan arti kata ya
    Bagus nih Mbak Mel idenya
    Aku sampai sekarang sering minta anakku yang kecil baca keras biar aku benerin juga, tapi biasa di masalah pelafalannya. Terus sesekali dia akan nanya arti katanya.
    Bagus ternyata manfaat read aloud ya..:)

    1. Keukeuh banget dia, Mbak. Kan membaca sewajarnya mah sah-sah aja, ya. Bisa kok kata tersebut jadi nggak terdengar kasar. Sayang banget gitu kalau anak-anak jadi keliru membacanya.

      Read aloud memang nyenengin, sih. Efektif banget bantu asah kemampuan berbahasa anak, hihihi …

  18. Assalamu’alaikum mba melina, salam kenal

    Senang sekali rasanya saya berkunjung kesini, tulisan yg enak sekali untuk disantap
    *eh dibaca

    Saya suka dengan gaya penerangan mba ke nona kecilnya, dirasa seperti orang tua cerdas jaman now

    1. Wa’alaikumsalam, Mbak Ami. Salam kenal kembali, yaaa …

      Monggo loh ya tulisannya disantap. Hidangannya cuma itu aja. Cemilan dan kopi bawa sendiri soalnya, hahahaha …

      MasyaAllah … Masih terus belajar, nih. Punya anak banyak bertanya bikin orangtua kudu banyak belajar juga, hihihi …

      Terima kasih ya sudah mampir di sini.

  19. Ini kejadiannya sama kaya aku mba. Kalo aku oenyebutan kata anjing. Padahal ga ada yg salah. Tp kata ibuku bukan anjinh harisnya guguk. Sm anakku lgsg diprotes. Bukan nek bukan guguk. Tp anjing. Guguk itu suaranya. Hehee.. krn aku terbiasa jujur kasi tau apa adanya. Anjing ya anjing bukam guguk. Hehehe.. emg harus gitu ya mba skrg. Krn anak2 lebih kritis..

  20. wah seru ya. emaknya nih yang kudu kreatif. anak saya paling suka kalau dibacain cerita. cuman saya yang gak semangat. males malesan.hiks… jadi tersindir saya.

    1. Ayooo … Semangat. Cara mudahnya, bacakan buku cerita yang isinya nggak padat tulisan dulu. Kalau udah terbiasa, pasti lama-lama ketagihan kepengen baca yang lebih banyak lagi. Selamat mencobaaa …

  21. Read aloud juga jadi bacaan ponakan-ponakanku sejak kemunculannya. Pilihan bacaannya lumayan banyak dan bagus untuk anak-anak belajar membaca dengan baik dan benar. Semoga makin banyak anak Indonesia yang suka baca dan cinta buku ya

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.