Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Berbisnis Saham; Pilih Trading atau Investasi?

Berbisnis Saham; Pilih Trading atau Investasi?

Haloha … Bahasannya berat, nih. Trading atau investasi? 

Eh, kenapa sih ya topik trading atau investasi kok selalu diklaim berat? Yakin deh, ini bukan soal berat atau nggak. Tapi lebih karena belum kenal aja.

Buat yang baruuu banget mampir di tulisan seputar saham ini, okeee banget kalau kamu Mengenal Pasar Modal Indonesia lebih dulu. Ibaratnya kamu belajar mengenal huruf dulu sebelum bisa lancar membaca.

Pilih Trading atau Investasi, Ya?

Ada aja nih teman-teman yang bertanya.

“Mbak, saham itu buat trading atau investasi, sih?”

Selalu saya akan jawab, bisa keduanya. Suka-suka kalian aja. Yang paling penting sih bukan soal pro trading atau investasi, tapi soal sejauh mana pemahaman kita soal trading dan investasi ini.

Kalau sudah paham, otomatis tinggal menentukan mau yang mana. Salah satu boleh, dua-duanya lebih bagus lagi. 

Sekarang, yuk saya ajak kenalan dulu sama dua istilah ini satu persatu.

Trading

Trading berasal dari kata trade yang berarti perdagangan atau berdagang. Pelakunya disebut dengan trader alias pedagang. Selayaknya pedagang di pasar tradisional, kegiatan seorang trader adalah trading atau berdagang. Gimana sih orang berdagang itu? Membeli barang kemudian dijual kembali dengan harga jual yang lebih tinggi daripada harga beli. Selisih harga beli dan harga jual ini disebut keuntungan. Betul?

Bedanya, trader saham melakukan semua aktivitas trading-nya di pasar modal dan semuanya sudah terhubung dengan sistem yang dinamakan dengan online trading

Berapa lama sih seorang trader bisa menjual kembali barang dagangannya setelah dia kulakan? Bebas, bisa kapan saja. 

Dulu jaman masih ngantor di Jakarta dan sering pulang larut malam, rute pulang saya dari Stasiun Bogor ke rumah selalu melewati Pasar Bogor. Di tepi jalanan sekitar pasar itu, suasana malamnya rame banget. Mobil-mobil pick up berjejer dengan berkarung-karung sayuran di atasnya. 

Jejeran pedagang menggelar lapaknya di pinggir jalan. Aroma sayuran segar tercium sampai ke lubang hidung. Wuih! Segeeer banget. Lalu, apa hubungannya nih para pedagang sayuran sama trader saham?

Sayuran itu jenis bahan pangan untuk diperdagangkan, betul? Pedagangnya pasti ingin menjual kembali sayur-mayur dagangannya secepat mungkin. Paling-paling juga besok pagi, sudah laku terjual. Ada juga sih yang baru laku siang atau malah di waktu sore. Kalau sudah sore, harga sayuran biasanya makin murah. Iyalah, tinggal sisa-sisa. Daripada layu terus jadi busuk, ya mendingan dijual murah atau minimal impas sama modal awal.

Source: Pixabay

Nah, begitu juga dengan trader saham. Secepat mungkin dia akan menjual saham yang sudah dibeli. Saham sih nggak akan layu apalagi busuk. Tapi, seorang trader tentu maunya bisa lekas untung, uangnya diputar untuk beli saham baru lagi, lalu dijual lagi.

Trader saham bisa membeli saham di pagi hari lalu menjualnya di siang hari. Eh, nggak usah menunggu siang juga bisa. Misalnya, satu jam atau bahkan 10 menit kemudian mau dijual lagi ya bebas aja. Intinya kan mau merealisasikan keuntungan, ya.

Bisa dibilang, trader bergerak aktif. Beli, jual, beli, jual

Investasi

Dilansir dari Wikipedia, investasi merupakan kegiatan menanamkan modal atau menyimpan uang dalam kurun waktu lama untuk memperoleh keuntungan berlipat. Pelakunya disebut dengan investor

Kamu mungkin pernah dengar nama-nama investor ternama dunia seperti Warren Buffet, Bill Gates, Carlos Slim, sampai Li Ka-shing. Indonesia juga punya Lo Khe Hong yang dikenal sebagai bapak investor Indonesia. Sehari-hari beliau hidup dari hasil investasi sahamnya. Orang lebih mengenalnya dengan nama LKH.

Idealnya, investasi di pasar modal dilakukan selama setidaknya lima tahun. Kurang dari itu boleh, nggak? Ya boleh-boleh aja. Wong uang kalian sendiri. Tapi, kalau bicara idealnya, ya setidaknya ditahan selama lima tahun. 

Bagaimanapun, persentase keuntungan setiap investor itu beda-beda. Ada yang cukup puas dengan keuntungan 10% per tahun, ada juga yang maunya bisa untung sampai 100%. Nunggu lama nggak apa-apa, yang penting kamu menggunakan uang dingin.

Buat teman-teman yang menyimpan logam mulia (LM), pasti merasakan banget bahwa harga emas mengalami kenaikan signifikan beberapa bulan terakhir. Harga logam mulia dari kisaran Rp 700 ribuan per gram menembus angka Rp 1 juta per gram. Mau dijual untuk merealisasikan keuntungan atau dibiarkan dengan harapan harga emas masih akan kembali merangkak naik? 

Tentunya terserah teman-teman. 

Beberapa waktu terakhir, harga beberapa saham mengalami kenaikan signifikan, salah satunya saham PT. Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS). Nggak tanggung-tanggung, kenaikannya mencapai sekian persen. Masih berada di kisaran harga Rp 330 per lembar di awal tahun, lalu melejit ke angka Rp 600 per lembar pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu, 19 Agustus 2020.

Buat yang punya investasi di saham ini, pasti dag dig dug. Jual atau simpan, jual atau simpan. 

Balik lagi, dikembalikan ke teman-teman sendiri. Sekali lagi, persentase keuntungan atau kerugian yang bisa ditanggung oleh setiap individu itu berbeda-beda.

Loh, ini nggak sampai lima tahun udah naik pesat. Berarti bisa dong investasi sebentar aja. Haish, nggak di setiap saham kalian bisa menemukan yang seperti ini ya, teman-teman.

Plus Minus-nya Trading

Buat saya, trading itu oke buat menambah uang jajan. Saya nggak pernah ambil keuntungan terlalu besar, sih. Misalnya, ada potensi keuntungan Rp 300 ribu sudah dijual. Lumayan, bisa ajak keluarga jajan di luar tanpa mengganggu penghasilan dari gaji bulanan.

Selain itu, ya karena modalnya nggak besar-besar amat juga sih, wkwkwk

Kalau ditanya butuh modal berapa sih kalau mau trading saham?

Hmmm, nggak ada angka mutlaknya. Kemampuan keuangan setiap orang berbeda-beda. Tapi mudahnya begini aja, kalau kamu punya uang Rp 5 juta lalu di portofolio kamu punya potensi keuntungan sebesar 3%, berarti saat saham tersebut dijual pada harga tertera saat itu, kamu akan memperoleh keuntungan Rp 5.000.000 x 3% =Rp 450 ribu.

Angka tersebut harus kamu kurangi dengan biaya transaksi beli dan jual. 

Source: Pixabay

Wah, kelihatannya enak, ya. Sehari Rp 450 ribu, kalau setiap hari trading berarti Rp 450 ribu x 20 hari dong, ya. Udahlah, resign aja terus jadi trader saham. Enak, kerjanya di rumah doang.

Wkwkwk … Enak banget kalau perhitungannya bisa sepolos ini. Nggak gitu, ya. Orang dagang itu keuntungan dan kerugian adalah teman setia. Kadang bisa untung besar, kadang untung secukupnya aja. Plus, bisa rugi besar juga. Bisa jadi kemarin kamu untung 10%, hari ini bisa saja cuma 3%, besok sama sekali nggak sempat trading, atau malah lusa mengalami kerugian 5%. Mesti kuat mental menghadapi kenyataan ini.

Saat trading, jam terbang dan kedisiplinan punya pengaruh besar. Nah, yang terpikir jadi full time trader, modal harus besar. Selain itu, menjadi trader itu butuh jam terbang tinggi. Semakin sering praktek, akan semakin tajam kemampuanmu menganalisa. 

Kamu bakal butuh proses panjang untuk bisa merasakan nyaman. Pada beberapa orang, ada sih yang butuh cepat aja untuk bisa nyaman melakukan trading

 

Plus Minus-nya Investasi

Investasi saham sangat cocok buat teman-teman yang punya stok kesabaran tinggi. Loh, kan tadi saham BRIS hitungan bulan udah naik sekian persen? Iya, betul. Tapi segala proses yang membuat dia bisa naik sekencang itu sudah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya. Sudah mengalami naik turun ala naik roller coaster

Tapi, kalau kamu bersabar, hasilnya bakal maksimal, loh. Itu sebabnya seorang LKH bisa hidup dari keuntungan investasinya di saham. Cerita dari orang dekat beliau, kegiatan beliau sehari-hari ya membaca berita ekonomi, membaca laporan keuangan, that’s it. Sudah bertahun-tahun silam deh beliau nggak ada urusan pergi bekerja ke kantor.

Apalagi ya, gain dari investasi saham itu besar. Tentu harus dipastikan kalau teman-teman memilih membeli saham di perusahaan-perusahaan yang secara fundamental alias dari sisi keuangan perusahaan berstatus sehat. Penjualan jalan terus, keuntungan naik atau minmal stabil, dan nggak kebanyakan utang. 

Perusahaan punya utang itu wajar, namanya juga bisnis. Tentu utang produktif yang diharapkan. Tapi kalau dari kuartal ke kuartal utangnya menumpuk terus, berarti ada yang salah, dong. 

Source: Pixabay

Wah, harus jago membaca laporan keuangan perusahaan, dong. Duh, dulu tuh saya males masuk IPS karena ogah ketemu Akuntasi. Eh, kok sekarang malah disuruh ngitung laporan keuangan. Nyerah, deh!

Haish, dikira saya ahli juga membaca laporan keuangan perusahaan. Nggak, kok. Teman-teman bisa memperolehnya dari situs Bursa Efek Indonesia. Lalu cari saja komponen Sales dan Net Profit. Itu aja cukup, deh.

Loh, kok nggak baca utang. Gini deh, Net Profit itu sudah menghitung utang perusahaan sekalian. Kalau utangnya lebih besar daripada pendapatan, sudah pasti nggak ada keuntungan. Jelas, Net Profit bakalan minus. Tapi kalau Net Profit positif dan setiap kuartal stabil atau bahkan naik terus, berarti utangnya dalam kadar aman.

Tentuuu, berhubung idealnya disimpan setidaknya lima (5) tahun, pastikan kamu bersabar, ya. Ssstt … Nanti kamu akan mengalami sendiri, nggak mudah loh lihat portofolio ada potensi profit sampai 50% tapi pikiran tetap fokus agar disimpan aja karena memang niatnya untuk investasi. Yakin, bawaannya pasti pengen buruan jual.

****

Sekian dulu ya tulisan mengenai Trading atau Investasi ini. Buat kamu yang sudah punya rekening investor, feel free pokoknya mau trading atau investasi. Keputusan ada di tangan kamu. Meskipun, kalau bisa jalan bersamaan, akan lebih baik lagi. 

Berikutnya, nanti saya ulas deh apa saja yang sih yang boleh dan nggak boleh dilakukan saat teman-teman mau trading atau investasi saham. Ini penting banget untuk meminimalkan resiko kerugian dan memaksimalkan potensi keuntungan.

Mau nyaman berbisnis saham? Nah, makanya kudu banyak belajar dulu.

 

Happy Trading and Investing!

Melina Sekarsari

29 comments found

  1. Plus minusnya ini yg bikin mupeng tapi puyeng hehehe…
    Terimakasih sudah mengulasnya Mbak. Saya jadi dapat wawasan baru. Jaman sekarang bisnis memang penting ya.

  2. Saya melakukan trading saham dan investasi saham sekaligus. Emiten yang saya beli untuk investasi tentu berbeda dengan emiten yang saya beli untuk trading. Kalau lagi ada waktu luang, biasanya saya beli beberapa lot untuk trading. Tapi kalau minggu itu saya sedang sibuk-sibuknya, biasanya saya lepas trading-nya, dan saya cukup ambil penghasilan dari saham yang saya beli untuk investasi aja.

  3. Baca ini jadi nambah deh pengetahuan tentang trading dan investasi. Keduanya punya plus dan minus ternyata. Saya tahunya investasi, sih, ingetnya investasi emas, kalau saham belum pernah cobain.

  4. Memahami trading nih memang gak mudah ya kak. Saya beberapa kali cari info juga tapi kok kayaknya lebih mudah dipahami tentang investasi. Sebenarnya kembali ke kebutuhan masing-masing juga ya mau trading atau investasi untuk menambah pendapatan.

  5. Waaahh ulasan yang ciamik banget Mbak.

    Untuk saya pribadi sih lebih senang berinvestasi dalam bentuk logam mulia atau mata uang asing yg memiliki fluktuasi dan kemapanan yg mumpuni. Karena bisa kita dapatkan manfaatnya tidak hanya saat ini, tapi untuk masa depan, serta gampang untuk diperjualbelikan.

  6. pengen nih main saham tapi kenapa masih maju mundur mba, hehe. Ternyata trading kalo dijual lumayan juga ya hasilnya. Ah kudu belajar dikit2 nih, dan makasih sudah mengulasnya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh emak-emak mba. Komplit deh 🙂

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.